I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian HR Hati Yesus

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


HR Hati Yesus: Hos11:1-4 ; Hos11:8-9 ; Ef3:8-12 ; Ef3:14-19 ; Yoh19:31-37

“Dari lambungNya segera mengalir keluar darah dan air”

Bertahun-tahun, juga selama masa Orde Baru, derap langkah yang disebut pembangunan berfokus atau lebih menekankan pada ‘material investment’ , kurang memberi perhatian pada ‘human investment’ misalnya bidang pendidikan, apalagi ‘spiritual investment’ seperti pembinaan budi pekerti atau penghayatan hidup beriman. Dampak dari pilihan politis pembangunan ini kena juga pada keluarga-keluarga atau para orangtua, pendidik, tokoh agama dst.. Banyak keluarga/orangtua lebih mementingkan memiliki rumah bagus dengan perabotan dan sarana-prasarana atau assesori daripada membiayai pendidikan anak-anaknya; para pendidik atau pengurus sekolah lebih mementingkan gedung dan sarana-prasarana atau intelektual dan kurang perhatian pada pembinaan kepribadian, iman maupun keterampilan; demikian juga para tokoh/pemuka agama sering lebih bermental materialistis dalam pelaksanaan tugas perutusan atau panggilannya. Bahkan kalau dicermati tindakan korupsi di Indonesia ini rasanya didominasi oleh jajaran pendidikan dan agama. Nah, jika jajaran yang harus membina manusia saja korupsi kiranya dapat dimaklumi terjadinya kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan bersama sampai kini.

Mental dan sikap materialistis dalam segala bentuknya kiranya juga terjadi di dalam Gereja: pendidikan/ sekolah, sosial, kesehatan/rumah sakit, pastoral paroki dst.. Dengan kata lain di dalam pelayanan atau kerjanya kurang ‘memberi darah dan air’ kepada yang dilayani. ‘Darah dan air’ adalah symbol kehidupan dan kegairahan dan rasanya salah satu cara untuk menggairahkan dan menghidupkan sesama kita atau yang kita layani antara lain dengan/melalui ‘perhatian pribadi’/”cura personalis”, di mana terjadi perjumpaan antar pribadi yang dapat menimbulkan kemungkinan adanya konflik atau hati terluka. Dan memang di dalam setiap perjumpaan antar pribadi diharapkan masing-masing pribadi siap terluka atau terbuka hatinya, dan untuk itu dapat menyakitkan. Maka pada pesta Hati Yesus Yang Mahakudus hari ini marilah kita mawas diri melalui atau belajar dari Hati Yesus yang terluka, ditusuk oleh tombak dan mengalirkan ‘air dan darah’.

“Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air” (Yoh19:34)

Penikaman lambung Yesus sebenarnya bertujuan untuk membuktikan apakah Yesus sudah wafat atau belum, padahal saat itu Ia sudah wafat. Dari lambungNya “mengalirlah darah dan air yang melambangkan sakramen-sakramen Gereja. Oleh hati Penebus yang terbuka itu semua orang ditarik dan diundang menimba kegembiraan dari sumber keselamatan” (Prefasi Hati Yesus I).Kita, orang yang mungkin sering murung atau sedih tanpa alasan, yang percaya kepadaNya memang diundang untuk datang menimba kegembiraan atau belajar dari hatiNya sebagaimana Ia sabdakan: “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Mat11:29).

Lemah lembut dan rendah hati kiranya akan menjadi milik siapapun yang datang kepada HatiNya yang terluka dan terbuka atau berdevosi kepada Hati Yesus Mahakudus. Orang yang lemah lembut dan rendah hati juga akan menjadi sumber kegembiraan bagi yang lain atau sesamanya, sebagaimana Yesus juga menjadi sumber kegembiraan bagi siapapun yang beriman atau percaya kepadaNya. Maka marilah kita belajar atau meningkatkan/memperdalam keutamaan lemah lembut dan rendah hati dalam pelayanan, pekerjaan maupun hidup kita sehari-hari. Untuk itu memang orang perlu menyadari diri sebagai yang lemah dan rapuh sebagaimana pernah dinyatakan oleh para Yesuit (para sahabat Yesus) dalam Konggregasi Jendral ke 32 : “Yesuit ialah orang yang mengakui dirinya pendosa, tetapi tahu bahwa dipanggil menjadi sahabat Yesus seperti Ignatius dahulu”. Dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai pendosa kiranya jika ada sesuatu yang baik pada dirinya sungguh-sungguh merupakan anugerah atau kasih karunia Allah, ‘evertyhing is given’. Dengan menghayati bahwa semuanya adalah kasih karunia atau rahmat Allah kami yakin kita dapat menjadi lemah lembut dan rendah hati dan tidak ada alasan sedikitpun untuk menjadi sombong atau menyombongkan diri..

“Di dalam Dia kita beroleh keberanian” (Ef3:12)

Kutipan di atas ini secara kebetulan juga menjadi ayat-ayat/motto yang saya pilih ketika saya akan ditahbiskan menjadi imam. Mengapa saya memilih ayat-ayat tersebut? Karena sejarah panggilan saya sebagai orang katolik maupun untuk menjadi imam, yang tak pernah lepas dari tantangan bagaikan hati Yesus yang terluka. Hati Yesus yang ditusuk oleh tombak mengingatkan saya pribadi bagaimana ketika masih kecil mengikuti pelajaran agama katolik di desa senantiasa diganggu oleh teman-teman simpatisan BTI/PKI dengan dan melalui tarian atau suara ‘gamelan’. Bapak saya pun waktu itu juga termasuk simpatisan BTI, maka ketika kami (saya bersama kakak) pergi mengikuti pelajaran agama atau ke gereja pasti sedikit banyak memperoleh tegoran sedikit marah. Demikian juga ketika berangkat ke sekolah (sekolah rakyat) sendirian berjalan kaki, karena saya diketahui sebagai murid sekolah katolik (SR Kanisius) hampir setiap hari diejek oleh murid-murid dari sekolah Muhamadiyah ketika kami saling berpapasan. Namun tantangan-tantangan tersebut sungguh merupakan rahmat bagi kami, antara lain tidak lama setelah peristiwa yang disebut “Gestapu”, orangtua kami, bapak-ibu, ‘mengikuti’ kami menjadi katolik/dibaptis.

“Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya “ (Ef3:12), demikian kesaksian Paulus. Di dalam Tuhan kiranya tidak ada ketakutan termasuk terror atau ancaman dari teman-teman yang dekat maupun saudara-saudari. Tantangan dan hambatan justru menjadi ‘jalan’ untuk semakin percaya atau beriman kepadaNya. Maka kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian: jika dalam hidup beriman atau terpanggil harus menghadapi tantangan dan hambatan atau kesulitan, marilah datang kepada Dia yang HatiNya terbuka, terluka oleh tombak serta mengalirkan air dan darah, sumber kehidupan dan kesegaran. Dia, yang menjadi sahabat kita telah menjadi teladan untuk dilukai dan dengan demikian menjadi sumber kehidupan dan keselamatan, selayaknya kita meneladan Dia, siap sedia sekiranya hati kita dilukai oleh sesame kita dan kita hadapi dengan lemah lembut dan rendah hati. Devosi kepada Hati Yesus berarti devosi kepada Dia yang tersalib dan yang lambungNya ditusuk oleh tombak/disakiti. Salib adalah jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan sejati; bersama dan bersatu dengan Yang Tersalib ‘kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kepadaNya’.

“Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang “

(Yes11:2-3)

Homili Hari Hari Yesus

Jakarta, 23 Juni 2006
Tgl 22Jun2006 oleh Rm.I. Sumarya, S.J

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda