I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian HR PENAMPAKAN TUHAN

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


HR PENAMPAKAN TUHAN- Yes60:1-6 ; Ef3:2-3 ; Ef3:5-6 ; Mat2:1-12

“Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka”

Tiga pemuda pecinta pendaki gunung pada suatu hari mendaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango Jawa Barat sekaligus. Pendakian diawali dari Cibodas-lereng Gunung Gede Cimacan dan diakhiri di Selabintana Sukabumi, lereng Gunung Pangrango. Pendakian diawali dari Cibodas pk 11.00 malam dan jika tidak salah jalan maka pk 2.00 siang( pk 14.00) hari berikutnya sudah sampai Selabintana. Memang ada dua jalur jalan menuruni Gunung Pangrango ke Selabintana, begitulah menurut mereka yang telah menempuhnya. Ternyata ketika mereka turun dari Gunung Pangrango salah pilih jalan; mereka pk 11. siang mulai bergerak turun sampai pk 5 sore belum keluar dari hutan lereng gunung dan baru pk 6 sore, hari mulai gelap mereka keluar dari hutan serta melihat hamparan kebun teh daerah Selabintana. Dalam gelap dan kelelahan mereka saling bergandengan tangan berjalan di tengah-tengah kebun teh, perut terasa lapar dan tenaga hampir habis. Tiba-tiba di kejauhan terlibat ‘sinar lampu’ dan mereka sedikit mempercepat langkah dengan harapan dapat membeli makanan, ternyata setelah sampai di ‘sinar lampu’ tersebut tidak ada makanan yang dijual, melainkan hanya minyak tanah. Jalan terus dilanjutkan dengan sedikit terhuyung-huyung dan setiap melihat ‘sinar lampu’ di depan berjalan lebih sedikit bergairah karena berharap ada warung makan, ternyata tidak ada. “Di Selabintana nanti ada warung”, demikian pemberitahuan seseorang yang bertemu di jalan. Sampai Selabintana katanya berjalan kaki tinggal seperempat jam, tentu saja ukuran untuk yang segar bugar, sedang untuk mereka bertiga jarak tersebut harus ditempuh kurang lebih satu jam. Setiap ada ‘sinar lampu’ mereka bergairah dan berharap itulah yang terjadi, bagaikan tiga raja yang ’ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka’.

“Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur” (Mat2:10-11)

Tiga orang majus yang memperoleh ‘penampakan’ dengan petunjuk bintang untuk bertemu dengan “Sang Bayi Penyelamat Dunia”, kiranya menggambarkan orang-orang pandai/cerdas dan beriman pada masa itu. Mereka juga sering disebut sebagai ahli sihir dan ilmu perbintangan. Yang menarik di sini bagi saya adalah mengapa bukan ahli Taurat atau tokoh-tokoh Yahudi yang memperoleh penampakan, melainkan orang-orang yang jauh/luar Yahudi. Ketika orang-orang majus tersebut, dengan petunjuk bintang, sampai di tempat dimana ‘Bayi mungil, Penyelamat Dunia’ terbaring, mereka bersembah-sujud serta mempersembahkan emas, kemenyan dan mur atau ‘kekayaan, doa dan iman/keyakinan/ kepercayaan kepada Bayi, Penyelamat Dunia. Orang cerdas dan beriman rasanya boleh disebut sebagai bintang kehidupan, namun untuk bertemu dengan Penyelamat Dunia mereka dengan rendah hati mengikuti ‘bintang-bintang’ lainnya.

Cerdas dan beriman atau menjadi ‘bintang’ kehidupan, petunjuk jalan bagi sesama menuju Tuhan, Penyelamat Dunia, itulah panggilan hidup kita semua. Kecerdasan dan iman hemat saya merupakan anugerah Tuhan kepada kita manusia dan selayaknya kita persembahkan kembali kepada Tuhan melalui sesama, ‘bayi-bayi’ atau anak-anak, yang menjadi masa depan kita. Orang cerdas hemat saya adalah orang yang dapat survival atau tetap hidup dan selamat dalam lingkungan hidupnya macam apapun dan dimanapun. Ia tanggap terhadap aneka kebutuhan hidupnya agar selamat dan sejahtera sesuai dengan lingkungan dan situasi yang ada, maka hemat saya dengan sendirinya juga beriman. Bagaimana atau macam apa lingkungan atau situasi hidup dimana kita berada? Apakah saya sendiri dapat ‘survival’ tinggal dan hidup di dalamnya dan dengan demikian mendorong atau memotivasi sesama yang lain menjadi ‘survival’ alias menjadi bintang-bintang kehidupan dan keselamatan bagi sesama.

“Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, …yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus,yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” (Ef3:2-3a5-6)

Kasih karunia Allah memang tidak terbatas: betapa luas, panjang, tinggi dan dalamnya kasih karunia Allah kita tidak tahu. Kasih karunia Allah dianugerahkan kepada semua ciptaanNya dan tentu saja pertama-tama dan terutama adalah manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambarNya. Kasih karuniaNya yang menjadi nyata dalam ‘Bayi Penyelamat Dunia’ juga tidak terbatas oleh Suku, Ras dan Agama. Yesus adalah Penyelamat Dunia, bukan hanya Penyelamat anggota Gereja yang ditandai dengan pembaptisan/sakramen Inisiasi: dengan kedatanganNya atau kelahiranNya di dunia ini berarti sejarah dunia, seluruh dunia harus selamat.

Kita sebagai murid-murid atau pengikut-pengikut Yesus Kristus, yang “menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus”, dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia ini. Maka dimana ada bagian dunia yang tidak selamat di situlah murid-murid atau pengikut-pengikut Yesus dipanggil mendatangi dan bersembah-sujud dengan mempersembahkan ‘kekayaan, doa dan iman/keyakinan/kepercayaan’ kepada mereka atau bagian dunia yang tidak selamat, sebagaimana para majus telah menghayatinya. Perjalanan jauh, tantangan atau jebakan dari mereka yang tidak senang atau musuh-musuh kita bukan menjadi tembok yang menghentikan langkah kita melainkan menjadi kesempatan emas untuk terus maju melangkah.

Maka baiklah jika dalam hidup sehari-hari, entah di dalam keluarga, masyarakat, tempat kerja atau belajar ada sesuatu yang tidak beres marilah kita datangi dengan ‘kekayaan, doa dan iman kepercayaan’ kita artinya kita bereskan dan selamatkan. Tidak perlu takut dan gentar menghadapi tantangan dan hambatan, melainkan bertindaklah rendah dan lemah lembut dengan berani bertanya kepada yang lain atau sesama sebagaimana dilakukan oleh para majus. “Malu bertanya akan sesat di jalan” demikian kata sebuah pepatah. Salah satu tanda bahwa kita sungguh hidup dari dan oleh Roh yang menjadi buah pembaptisan kita antara lain senantiasa dalam diri kita bertanya “Mengapa dan bagaimana jika..”, artinya senantiasa tumbuh berkembang atau menghayati ‘on going education atau on going formation’, mendidik dan mengembangkan diri terus menerus dalam hal kecerdasan maupun keimanan. Dengan demikian orang akan menjadi ‘bintang-bintang’ kehidupan, petunjuk jalan bagi sesama untuk semakin beriman dan mempersembahkan diri kepada Tuhan, membuat sesama atau orang lain untuk senantiasa bersukacita. Marilah kita menjadi ‘bintang-bintang’ bagi sesama dalam hidup sehari-hari, menjadi terang dan pelancar atau fasilitator bagi sesama untuk tumbuh berkembang dalam iman dan kecerdasan.

Hari ini adalah “Hari Anak Misioner Sedunia”, ajakan untuk memperhatikan dan membina anak-anak kita sedini mungkin agar memiliki semangat/jiwa missioner, kepedulian terhadap sesama yang miskin, menderita dan kekurangan. Dalam diri anak kiranya juga dapat kita ‘baca’ penampakan Allah yang menjadi nyata dalam keceriaan dan kegembiraan anak yang menarik banyak orang. Berjiwa missioner hemat saya akan menjadi daya tarik bagi semua orang. Mari kita latih dan biasakan anak-anak kita untuk peduli atau solider pada sesamanya yang miskin, menderita dan berkekurangan.

“Ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin” (Mzm72:12-13)

Jakarta, 7 Januari 2007
Tgl 05Jan2007 oleh Rm.I. Sumarya, S.J

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda