I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian “ Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai”

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Kel24:3-8 ; Mat13:24-30)

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat13:24-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Kita manusia diciptakan oleh Allah dalam cintakasih dan kebebasan, dan dalam cintakasih dan kebebasan juga kita dibiarkan tumbuh dan berkembang sesuai dengan keinginan atau kehendak diri kita masing-masing. Bagaimana kita menghayati anugerah kebebasan dan cintakasih dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Kebebasan dan cintakasih bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Kita dapat berbuat bebas untuk melakukan apapun asal tidak melanggar cintakasih, itulah kehendak Allah. Melanggar cintakasih berarti menginjak-injak harkat martabat manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Sebagai contoh: kita dapat telanjang bulat asal tidak melanggar cintakasih, maka ketika di kamar sendirian memang kita tidak melanggar harkat martabat manusia lain, tetapi ada kemungkinan kita melanggar harkat martabat kita sendiri ketika memperlakukan anggota tubuh kita hanya untuk pemuas nafsu belaka, misalnya nafsu birahi atau seksual. Para suami-isteri kiranya mengalami saling telanjang satu sama lain dalam kebebasan, dan semoga dalam cintakasih juga, sehingga ketika berhubungan seksual sungguh merupakan perwujudan cintakasih karena masing-masing merasa tidak diperalat oleh pasangannya atau dipaksa. Namun bagi remaja atau muda-mudi melakukan hal itu jelas melanggar harkat martabat manusia, karena mereka tidak bertanggungjawab atas perbuatan mereka. Dalam cintakasih dan kebebasan juga hendaknya kita melaksanakan aneka tugas pengutusan atau pekerjaan kita masing-masing, yaitu dengan sepenuh hati, jiwa, pikiran dan kekuatan melaksanakan tugas, sehingga buahnya dapat menyelamatkan atau membahagiakan orang lain. Jika kita sungguh hidup dan bertindak dalam kebebasan dan cintakasih sejati, maka kita pasti akan bahagia dan selamat pada saat ini sampai selamanya, dan ketika dipanggil Tuhan akan berkumpul bersama dalam ‘lumbung Tuhan’.

· "Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan."(Kel24:3b), demikian jawaban seluruh bangsa terpilih dalam menanggapi firman atau perintah Tuhan yang disampaikan oleh Musa. Marilah kita semua sebagai ‘yang terpilih’ juga berjanji bahwa “Segala firman yang telah diucapkan Tuhan itu, akan kami lakukan”. Keunggulan hidup beriman atau beragama hemat saya adalah dalam perilaku atau tindakan bukan bicara atau omongan. Kita semua telah mendengarkan firman Tuhan, entah itu berupa apa yang tertulis di dalam Kitab Suci maupun segala usaha atau upaya untuk menterjemahkan firman tersebut ke dalam aneka bentuk tata tertib, yang sesuai dengan hidup dan panggilan maupun fungsi kita masing-masing. Secara pribadi firman Tuhan tersebut mungkin dalam bentuk niat-niat baik kita. Maka baiklah saya mengajak kita semua untuk dengan setia dan taat melaksanakan aneka tata tertib maupun niat-niat yang pernah kita ucapkan/ikrarkan. Kesaksian iman merupakan cara utama dan pertama dalam melaksanakan tugas pengutusan Tuhan atau merasul, yang tak dapat digantikan oleh cara lain apapun. Marilah dengan dan dalam semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam dan dengan iman hendaknya juga terjadi dalam hal makan, minum, tidur, istirahat maupun bekerja atau belajar. Kami berharap kepada siapapun yang berpengaruh dalam hidup dan kerja bersama dapat menjadi teladan dalam penghayatan iman, entah mereka itu orangtua, pemimpin, atasan, petinggi dst… Sebagai orang Indonesia marilah kita hayati motto bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro, yaitu “ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani’ (= keteladanan, pemberdayaan, motivasi).

“Yang Mahakuasa, TUHAN Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya.Dari Sion, puncak keindahan, Allah tampil bersinar. "Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan!"Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim.” (Mzm50:1-25-6)

Ign 23 Juli 2011
Tgl 22Jul2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda