I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Peringatan arwah

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


2Kor 4:14-5:1:; Luk 23: 33.39-43
"Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."

"Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23:33.39-43), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan arwah semua orang beriman hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· "Nyekar"(=Tabur bunga) atau berdoa di makam kakek-nenek, orangtua, kakak-adik, sanak-kerabat dst.. pada hari-hari Lebaran kiranya merupakan salah satu kegiatan dari para pemudik selain bersilaturahmi dengan orangtua atau saudara-saudari yang masih hidup. Maka dalam rangka 'memperingati arwh semua orang beriman' hari atau minggu/bulan ini kiranya kita terdukung oleh iklim perayaan Lebaran/Idul Fitri yang ramai-ramai dirayakan antara lain dengan tradisi mudik di masyarakat kita. Rasanya, dalam rangka mengenangkan saudara-saudari kita yang telah dipanggil Tuhan, apa yang kita kenangkan atau ingat-ingat pada umumnya adalah kebaikan-kebaikan atau kelebihan-kelebihan almarhum atau almarhumah, bukan kelemahan atau kekurangannya. Dalam iman kiranya kita percaya bahwa Tuhan sungguh murah hati terhadap umatNya, sebagaimana terjadi dalam diri penjahat yang disalibkan bersama Yesus bermohon "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja", dan Yesus menjawab:"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus". Dalam iman itulah kita peringati arwah saudara-saudari atau kenalan dan sahabat kita maupun semua orang beriman. Marilah
kita imani dan hayati kemurahan hati Tuhan yang begitu melimpah-ruah dalam diri kita masing-masing dan sanak saudara kita yang telah dipanggil Tuhan. Jika masing-masing dari kita sungguh menghayati kemurahan hati Tuhan, maka pergaulan atau kebersamaan kita akan ditandai, dijiwai atau dihidupi oleh saling bermurah hati sehingga terjadilah persaudaraan atau persahabatan sejati. Persaudaraan atau persahabatan sejati tidak kenal batas, tidak dapat dibatasi oleh Suku, Ras atau Agama, bahkan kita dapat bersahabat dengan mereka yang telah mendahului menghadap Tuhan. Persaudaraan sejati juga menjiwai kesibukan hari raya Idul Fitri atau Lebaran, maka hari-hari, minggu atau bulan ini kiranya merupakan kesempatan emas bagi kita semua untuk belajar membangun, meningkatkan dan memperdalam persaudaraan sejati di antara kita semua.

· "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia" (2Kor 5:1), demikian keyakinan iman Paulus'. Dengan keyakinan iman itu pula Paulus berani berkata bahwa ;"kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari" (2Kor 4:16). Kutipan-kutipan ini kiranya baik kita renungkan atau refleksikan, tidak hanya bagi kita yang sudah tua (usia 50 tahun ke atas dimana kekuatan phisik mulai melemah) tetapi siapapun juga karena kematian dapat datang dengan tiba-tiba. "Tidak tawar hati" itulah keutamaan yang perlu kita refleksikan dan mungkin harus kita mohon dengan rendah hati kepada Tuhan. Tidak tawar hati kurang lebih berarti senantiasa berusaha memberi perhatian kepada siapapun juga dan hal itu muncul juga karena penghayatan iman bahwa Allah pun telah menyediakan tempat kediaman kekal bagi kita yang masih mengembara di dunia ini. Bukankah hal itu merupakan perhatian luar biasa dari Allah kepada kita, orang beriman? Dengan kata lain kesiap-sediaan atau kerelaan untuk memberi perhatian pada siapapun juga, termasuk saudara-saudari kita yang telah dipanggil Tuhan merupakan anugerah atau kemurahan hati Tuhan juga. Maka marilah pada peringatan untuk arwah semua orang beriman dan berhimpitan dengan hari kemenangan atau persaudaraan saudara-saudari Muslim/Idul Fitri ini kita saling meneguhkan dan memperkuat keimanan kita akan kemurahan hati Tuhan serta bermurah hati satu sama lain di dalam kehidupan bersama.

"Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang"(Mzm 130:3-4)

Jakarta, 2 Nopember 2005
Tgl 01Nov2005 oleh Rm.I. Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda