Sekilas Berita Gereja Katolik

 

Berita Katolik Homili HR NATAL (malam) 2006

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


HR NATAL(malam) 06


Yes9:1-6 ; Tit3:4-7 ; Luk2:1-14

"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa”

Pertama-tama dengan rendah hati kami haturkan ‘SELAMAT NATAL” kepada saudara-saudari sekalian. Natal berarti kelahiran dan pada malam ini kita kenangkan kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia, yang kedatangan atau kelahiranNya dinanti-nantikan oleh umat manusia di dunia. Setiap kelahiran seorang anak pada umumnya menjadi warta gembira bagi siapapun juga, lebih-lebih orangtua atau khususnya ibu yang telah mengandung dan melahirkan, maupun sanak-saudara dan kenalannya. Sayang jika kita cermati dalam berbagai media massa, entah cetak atau elektronik, berita tentang kelahiran kurang diberitakan dan berita kematian itulah yang banyak diberitakan bahkan pemberitaannya besar-besaran. Ketika ada anak lahir jarang orang memberi ucapan selamat ataupun mendatanginya, tetapi ketika ada orang mati maka tugas pekerjaan pun ditinggalkan untuk melayat alias mengunjungi yang mati serta memberi ucapan selamat kepada sanak-saudara yang ditinggalkan. Apakah gejala-gejala yang demikian ini menggambarkan apa yang terjadi ketika Yesus, Penyelamat Dunia lahir dari Perawan Maria, dimana Yosef dan Maria ‘pulang ke tempat asal mereka’, berkunjung ke saudara-saudarinya di kota Betlekem? Orang-orang Betlekem telah dinina-bobokkan oleh kenikmatan duniawi, sehingga tertutup terhadap kedatangan Yang Ilahi, Yesus, Juruselamat Dunia, sehingga Ia harus dilahirkan atau datang di palungan yang kotor dan sepi. Dengan kata lain mereka tertutup terhadap hal-hal baru atau pembaharuan hidup, sehingga warta gembira kelahiran Yesus hanya dapat dipahami dan diterima oleh para gembala.

"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan” (Luk2:10-11)

“Kesukaan atau warta gembira besar” pertama-tama diterima oleh para gembala di tengah malam gelap gulita. Para gembala adalah symbol dari mereka yang kurang memperoleh penghargaan dalam hidup di masyarakat, orang-orang miskin atau pinggiran yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Mereka tinggal di padang rumput: pada siang hari tersengat panas sinar matahari, dan pada malam hari sekiranya harus tidur atas beristirahat mereka tinggal di tempat yang beratapkan langit luas dan berpenerangan ribuan bintang, dan ancaman terhadap mereka dan domba-dombanya sewaktu-waktu dapat terjadi dengan tiba-tiba. Dan rasanya jika sungguh terjadi ancaman terhadap mereka tiada orang lain yang menolongnya, mereka harus menghadapi dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Kebersamaan hidup atau kegotong-royongan para gembala kiranya merupakan kekuatan atau andalan dalam menghadapi aneka macam tantangan dan bencana. Namun mereka tetap termasuk orang-orang yang lemah dan hina. Keberadaan mereka yang demikian itu rasanya mendorong mereka untuk lebih mengharapkan dan mempercayakan pada Penyelenggaraan Ilahi daripada kepada manusia-manusia yang serba lemah dan terbatas. Dengan kata lain ada keterbukaan hati dan budi pada diri mereka baik terhadap Tuhan maupun sesama, maka mereka juga peka terhadap ‘kesukaan besar, kelahiran Juruselamat Dunia’ di malam kelam itu, dimana banyak orang tertidur lelap dalam kenikmatannya. Dengan cekatan dan gembira mereka akhirnya pergi ke tempat yang diberitahukan oleh malaikat : "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka “ (Luk2:15-18)

Pengalaman para gembala ini kiranya layak menjadi permenungan kita. Sederhana, terbuka terhadap Tuhan atau Penyelenggaraan Ilahi serta sesama itulah keutamaan-keutamaan yang selayaknya kita hayati dan sebarluaskan dalam rangka menyambut kelahiran Yesus, Juruselamat Dunia, malam ini. Ia lahir dan datang di tengah-tengah kita dalam (puncak) kemiskinan dan kesepian akan hiburan-hiburan atau kenikmatan-kenikmatan duniawi. Maka rasanya hanya mereka yang berjiwa miskin dan sederhana serta terbuka terhadap Tuhan dan sesama yang mampu memahami dan menikmati kelahiran atau kedatanganNya, ‘kesukaan besar untuk seluruh bangsa’ atau ‘damai sejahtera di bumi’, sehingga hidup damai penuh persaudaraan atau persahabatan sejati dalam hidup sehari-hari, saling bersalam-salaman alias menyampaikan berkat dan selamat kepada sesama. Semoga jika di malam Natal ini kita saling mengucapkan Selamat Natal kepada sesama, tidak hanya manis dan mesra di mulut tetapi sungguh dihayati dalam hati sanubari dan menjadi nyata dalam cara hidup dan bertindak dalam hidup sehari-hari,

“Kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini” (Tit2:11-12)

Yang kita rayakan atau kenangkan malam ini adalah kelahiran Yesus, Juruselamat Dunia. Ia lahir dan datang ke tengah-tengah kita dengan ‘mendunia’, menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa, untuk menyelamatkan seluruh dunia. Yesus pertama-tama dan terutama adalah Penyelamat Dunia yang sungguh mendunia dalam melaksanakan tugas perutusanNya, bukan semata-mata atau hanya Penyelamat kita yang secara orgnanisatoris menjadi anggota Gereja atau pengikut-pengikutNya. Maka dalam mengenangkan kelahiranNya pada malam ini kiranya kita layak untuk mawas diri: sejauh mana kita dalam menghayati iman kepercayaan atau agama kita sungguh mendunia, telibat dalam seluk beluk kehidupan duniawi?

Memang semakin orang hidup mendunia semakin butuh iman dan berdoa agar dalam mendunia “kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi’ . Semakin orang masuk ke dalam hal-ikhwal atau seluk-beluk duniawi akan semakin menghadapi tantangan dan hambatan untuk “hidup bijaksana, adil dan beribadah’. Dalam mendunia kita memang harus berjiwa kemiskinan, dimana dalam usaha mengikuti Yesus yang miskin dan rendah hati kita dapat “mencapai kebebasan dari segala keinginan tak teratur, yang merupakan syarat untuk mencintai Allah dan sesama secara mendalam dan bebas” (NP Konst SJ no 157). Harta benda duniawi ini merupakan sarana untuk semakin beriman dan mengasihi Allah dan sesama, lebih-lebih sesama yang miskin dan menderita. Maka cara memanfaatkan harta dengan harus sesuai dengan tujuannya (ad intentio dantis), sehingga dalam mengelola atau mengurus harta benda duniawi ini kita kelola dengan penuh tanggungjawab, transparant dan dengan demikian kita dapat dipercaya oleh Tuhan dan sesama.

Keberhasilan mengelola atau mengurus harta benda duniawi sesuai dengan tujuannya (ad intentio dantis) rasanya sungguh merupakan bentuk Warta Gembira atau ‘kesukaan besar’ bagi dunia atau masyarakat pada masa kini. Ia akan menjadi sinar terang bagi sesama dan bangsa-bangsa, sehingga “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar”(Yes9:1). Marilah menjadi ‘sinar-sinar terang’ dalam pengelolaan atau pengurusan harta benda atau seluk beluk duniawi ini.

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa.” (Mzm96:1-3)

Jakarta, 24 Desember 2006 (SELAMAT NATAL)
Tgl 23Dec2006 oleh Tony

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda