Bulan Katekese Liturgi
 
 
 

Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi

 

Komisi Liturgi

Keuskupan Agung Semarang

    Hari ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

 

Hari ke-16

Merenungkan

EKARISTI DAN KEMISKINAN

 

Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan (Yak 3:13).

 

Pada saat persiapan persembahan menjelang bagian DSA pada misa kudus, imam mencampurkan air sedikit ke dalam anggur di dalam piala sambil berkata: ?Sebagaimana dilambangkan oleh percampuran air dan anggur ini, semoga kami boleh mengambil bagian dalam keallahan Kristus, yang telah berkenan menjadi manusia seperti kami?. Rumusan ini gubahan dari kata-kata santo Irenius. Kristus yang adalah Allah berkenan menjadi manusia yang miskin seperti kita, agar kita boleh ambil bagian dalam keallahan Kristus. Santo Paulus merumuskan hal ini dengan kata-kata: ?Yesus Kristus yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya? (2 Kor 8:9).

Setiap kita merayakan Ekaristi, kita merayakan peristiwa penebusan Tuhan Yesus atas segala dosa kita. Peristiwa penebusan Kristus justru terjadi bukan melalui tindakan kemenangan heroik melalui pedang, kepandaian, kepopuleran ala AFI atau KDI, atau melalui kuasa dan jabatan seperti menjadi Raja, Kaisar atau seorang jendral. Tidak. Yesus menebus kita melalui jalan perendahan, kemiskinan, kehinaan, kekalahan, ketidakpopuleran, dijauhi orang, dikhianati dan dimusuhi, dan bahkan dibunuh di salib! Namun justru melalui jalan perendahan dan kemiskinan itulah Yesus dimuliakan oleh Bapa dan menjadi Penyelamat dan Penebus seluruh umat manusia. Dan persis peristiwa penderitaan dan kemiskinan inilah yang kita rayakan dalam misa kudus.

Dengan misa kudus, kita pun diutus untuk bersaksi atas penebusan Kristus yang dilalui melalui penderitaan dan jalan kemiskinan. Hidup miskin, sederhana dan rendah hati adalah buah-buah orang yang banyak ber-Ekaristi.

 

 

Hari ke-17

Merenungkan

EKARISTI DAN SAKRAMEN-SAKRAMEN

 

Barangsiapa menerima Aku, sebenarnya bukan Aku yang mereka terima, melainkan Dia yang mengutus Aku (Yoh 9:37).

 

      Kita suka mengadakan acara-acara bersama dengan keluarga, komunitas atau teman kerja atau teman sekolah/mahasiswa. Entah nonton bersama, piknik bersama, makan bersama, mancing bersama, sepeda gembira bersama, dst. Bukankah acara-acara bersama ini sebenar?nya hanya bentuk atau cara agar persahabatan dan persaudaraan kita dengan mereka semakin baik dan akrab? Piknik bersama, makan bersama atau mancing bersama hanyalah bentuk ungkapan dari isi pokok yang menjadi inti acara: keakraban dan persaudaraan yang erat.

Demikian pula persahabatan dengan Allah yang menjadi isi pokok liturgi kita terungkap dalam aneka bentuk perayaan: perayaan-perayaan sakramen, ibadat sabda, ibadat harian, dan aneka doa dan ibadat, termasuk berbagai praktek devosi kita.

      Dari semua bentuk perayaan tersebut, Perayaan Ekaristi tetap menjadi ?juara? dan menduduki rangking paling tinggi dan paling penting. Model tingkatan dan rangking pentingnya suatu perayaan sudah sangat biasa dalam hidup harian kita. Misalnya dari acara harian kita, mungkin acara berjumpa dengan bos di kantor jauh lebih penting daripada acara nonton sinetron di Televisi malam nanti. Acara ujian pendadaran jauh lebih penting bagi mahasiswa dibandingkan acara hobi naik gunung. Demikian pula kita mengenal tujuh sakramen dalam Gereja Katolik: Baptisan, Krisma, Ekaristi, Tobat, Perkawinan, Imamat dan Pengurapan orang sakit. Dari ketujuh sakramen itu, Perayaan Ekaristi merupakan perayaan sakramen paling penting dan tertinggi. Lihat saja, kita merayakan perayaan sakramen lain biasa dilanjutkan dengan Ekaristi. Entah baptisan atau perkawinan, sejauh memungkinkan kita rayakan dalam Perayaan Ekaristi.

 

 

Hari ke-18

Merenungkan

EKARISTI  PUSAT HIDUP KAUM RELIGIUS

 

Siapa yang mencintai kebijaksanaan mencintai kehidupan, dan barangsiapa pagi-pagi menghadapinya akan penuh sukacita. Siapa yang berpaut padanya mewarisi kemuliaan, dan ia diberkati Tuhan di manapun ia berlangkah (Sirakh 4:12-13).

 

Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II berkata kepada kaum religius bahwa Ekaristi adalah jantung hidup kaum religius. Beliau menekankan pentingnya para biarawan-biarawati mengikuti Ekaristi setiap hari. Mengapa? ?Karena hakekatnya Ekaristi berada di pusat hidup bakti bagi orang-orang perorangan maupun bagi komunitas-komunitas. Ekaristi ialah ?viaticum? (bekal perjalanan) dan sumber sehari-hari bagi hidup rohani untuk anggota perorangan maupun Tarekat? begitu kata Bapa Suci dalam Anjuran Apostolik, Vita Consecrata (no. 95). Demikianlah  meski disibukkan oleh berbagai tugas perutusan, biarawan-biarawati tetap perlu meletakkan Ekaristi sebagai pusat hidupnya dan oase penyegar kehidupannya yang tidak mudah itu.

Kaum religius sesuai dengan namanya sungguh dipanggil untuk menjadi ?ahli dan utama? dalam hal hidup rohani dan religius. Dengan Ekaristi, kaum religius akan sanggup mengatasi ketegangan hidup harian yang bisa menyeret dan membuyarkan pemusatan perhatian. Melalui kurban Ekaristi, mereka akan menemukan pusat sejati hidup dan pelayanan mereka, yakni kekuatan rohani yang dibutuhkan untuk mengolah pelbagai tanggungjawab pastoral dari hidup religiusnya. Kendati tidak bisa dipungkiri, kadangkala para religius kehilangan ?gairah? untuk merayakan Ekaristui sebagai sumber dan puncak hidup mereka. Ketika mengikuti Ekaristi, mekanisme yang terjadi adalah suatu rutinitas, kewajiban bahkan mungkin beban. Maka setiap hari membaharui lagi kesadaran akan anugerah yang begitu mendalam dan sangat nyata akan ?realis Praesentia ? Kehadiran nyata? Tubuh dan Darah Tuhan Yesus dalam rupa roti dan anggur, sungguh menjadi harta warisan yang teragung dari Junjungan kita, Yesus Kristus.

 

 

Hari ke-19

Merenungkan

EKARISTI SEBAGAI PUSAT HIDUP PARA CALON IMAM

 

Jika garam menjadi hambar, dengan apakah kalian akan mengasinkannya? Hendaklah kalian selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai seorang akan yang lain. (Mrk 9:50)

 

            Ekaristi dan Imamat tidak bisa dipisahkan. Demikian juga para calon-calonnya (frater dan seminaris) tidak bisa lepas dari Ekaristi. Sri Paus Yohanes Paulus II berpesan bahwa Ekaristi adalah prinsip dan inti alasan adanya sakramen imamat, yang memang timbul pada saat pendasaran Ekaristi.

            Penghormatan kepada Ekaristi tidak dengan sendirinya dipunyai setelah menerima sakramen imamat. Apabila sejak seminaris atau frater ia tidak setia merayakan Ekaristi, jangan mengandaikan bahwa setelah menerima tahbisan ia akan menjadi pelayan Ekaristi yang baik. Memang, ia menjadi imam dan merayakan Ekaristi, namun bisa jadi ia merayakan Ekaristi itu sebagai kewajiban. Hasilnya, ia mendoakan doa-doa Ekaristi dengan cepat tanpa penghayatan yang baik. Kotbah kurang dipersiapkan, hidup imamat tidak didukung dengan doa pribadi. Sangkanya bahwa kalau sudah menjalankan tugas memimpin misa (Ekaristi) sudah selesai. Umat dapat merasakannya!

Seandainya ia pandai dalam hal keuangan, atau komputer, atau karang-mengarang, bisa diskusi di mana-mana, namun lupa dan melupakan perayaan Ekaristi, tentu ia tidak menyadari tugas utama yang nanti akan diembannya. Frater atau seminaris tersebut salah alamat bila masuk Seminari. Ia adalah seminaris yang kehilangan ke-seminaris-an. Ia adalah frater yang kehilangan arah dan orientasi panggilan. Halnya garam ya kehilangan rasa asin dan menjadi hambar. Tidak ada gunanya, dan dibuang.

Bila kita menginginkan panggilan imam tetap berlangsung, kiranya keluarga-keluarga kristiani juga turut mempersiapkan pendidikan iman sejak masa kanak-kanak. Kebiasaan yang baik yang dialami anak sejak kecil akan terekam terus di saat dia menginjak masa remaja dan dewasa. Pengalaman itu turut mewarnai dalam memilih panggilan hidupnya.

 

 


Hari ke-20

Merenungkan

EKARISTI DAN KAUM MUDA

 

Sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh, barangsiapa menemukan orang serupa itu sungguh mendapat harta. Sahabat setiawan tiada ternilai, dan harganya tidak ada tertimbang. Sahabat setiawan adalah obat kehidupan, orang yang takut akan Tuhan memperolehnya (Sirakh 6:14-16).

Rasanya selalu ada kerinduan di antara orang muda untuk bersahabat, bisa cerita dan curhat, apalagi diterima dan dipahami keadaannya. Dari pelbagai kesempatan perjumpaaan, rasanya juga tetap ada kerinduan mendalam dalam diri kaum muda untuk bisa mengikuti Perayaan Ekaristi yang menyentuh hatinya. Hal ini terbukti dari pelbagai macam eksperimen serta dialog yang dibuat antar kelompok kaum muda dengan pastor moderator atau pastor paroki kalau akan diselenggarakan Ekaristi khusus untuk kaum muda. Seringkali terjadi ketegangan antara keinginan memberi kesempatan dan keterlibatan seluas-luasnya bagi kaum muda, juga dengan pelbagai eksperimen yang dimungkinkan, dengan aturan main yang berlaku di dalam Gereja kalau kita mau merayakan liturgi resmi Gereja. Hal-hal semacam ini tidak cukup hanya diandaikan, bahwa masing-masing pihak sudah tahu hal-hal yang pokok. Ternyata masih dibutuhkan penjelasan dan pemahaman antara hal-hal pokok yang sesuai dengan kaidah liturgi resmi dengan beberapa hal yang bisa disesuaikan dengan situasi real kaum muda.

Paus Yohanes Paulus II melalui Ensiklik Ecclesia De Eucharistia artikel 52 menulis: ?Misteri Ekaristi ini terlalu agung bagi siapapun untuk merasa bebas memperlakukannya secara ringan dan dengan mengabaikan kesucian dan universalitasnya.? Sedangkan instruksi VI tentang sejumlah hal yang perlu dilaksanakan atau dihindari berkaitan dengan Ekaristi Mahakudus, Redemptionis Sacramentum artikel 27 menegaskan kembali bahwa ?sudah sejak tahun 1970 Tahta Apostolik memperingatkan bahwa semua eksperimen sekitar perayaan Misa Kudus harus berhenti. Pernyataan ini diulang pada tahun 1988. Maka baik Uskup-uskup secara pribadi maupun Konferensi Uskup tidak mempunyai wewenang untuk mengizinkan eksperimen dengan teks-teks liturgi atau semua hal lain yang ditetapkan dalam buku-buku liturgi.? 

Saatnya bagi kita semua untuk menata kembali kehidupan liturgi resmi kita sesuai dengan aturan main Gereja. Juga kalau kita mau mengadakan inkulturasi. ?Adapun kegiatan-kegiatan inkulturasi di bidang liturgi, hendaknya diperhatikan dengan teliti dan lengkap norma-norma khusus yang sudah ditetapkan?.

 

 

Hari ke-21

Merenungkan

EKARISTI DAN ANAK-ANAK

 

Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku! Jangan menghalang-halangi mereka! Sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah(Markus 10: 14).

 

Setiap orang beriman kristiani melalui imamat umumnya dipanggil untuk terlibat dan ambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Demikian pula meski masih kecil, anak-akan juga harus dididik, dituntun dan disadarkan untuk ikut ambil bagian dalam misa kudus yang dirayakan. Untuk itu dibutuhkan keterlibatan yang lebih sederhana. Misalnya, anak-anak sejak dini dibiasakan untuk ikut hadir dalam Misa Kudus. Anak kita latih untuk ikut duduk mendengarkan Sabda Tuhan bersama dengan anggota keluarga yang lain, atau disadarkan untuk rela berbagi dengan orang lain dengan memasukkan derma pada saat kolekte, maju berarak ke depan altar bersama dengan anak-anak lainnya untuk menerima berkat dari imam. Semua ini akan menjadi kebiasaan yang baik yang ditanamkan sejak dini. Membiarkan anak-anak (sejak awal Ekaristi sampai saat komuni) bermain di halaman luar gedung gereja selama perayaan Ekaristi berlangsung, tentu bukan tradisi yang layak diwariskan.

Ada paroki-paroki yang mengadakan Ibadat Sabda khusus untuk anak-anak di ruang tersendiri selama berlangsungnya Perayaan Ekaristi. Kebiasaan ini memang mempunyai untung-ruginya sendiri. Keuntungannya ialah bahwa anak-anak bisa dipersiapkan menurut tata ibadat yang dikhususkan untuk mereka, dengan bahasa dan gaya mereka sendiri. Sabda Allah bisa sungguh kena dan menyapa mereka. Tetapi kerugiannya ialah bahwa mereka dipisahkan dari kebersamaan seluruh umat beriman. Mereka tidak mengalami penuh paguyuban umat beriman yang sedang ber-Ekaristi. Mungkin sebagai jalan tengahnya ialah bahwa ibadat sabda untuk anak-anak itu memang hanya diperuntukkan bagi anak-anak pada usia yang khusus, menurut periode usia tertentu dan terbatas pula. Artinya, jangan sampai seorang anak sama sekali tidak pernah ikut orangtuanya atau keluarganya untuk secara bersama-sama hadir dalam Ekaristi mingguan.

 

 

Hari ke-22

Merenungkan

EKARISTI DAN PAGUYUBAN-PAGUYUBAN PENGHARAPAN

 

Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian (2 Kor 13:13).

 

Berita tentang bencana gempa dan Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 menghentakkan dunia. Daerah Sumatera Utara, terutama Aceh, mengalami kerusakan yang amat parah. Tercatat waktu itu bahwa 11 negara terkena gelombang tsunami. Ada sebuah cerita yang menarik. Ada seorang anak Katolik yang masih SD di Jawa. Ia meminta ibunya agar ia diantar ke pastor untuk menyerahkan uang tabungannya yang selama ini ia kumpulkan di celengan. Anak itu ingin ikut menyumbangkan uangnya untuk korban bencana Tsunami. Inilah contoh semangat solidaritas.

Semangat solidaritas atau semangat berbelarasa adalah semangat dari orang-orang yang menghayati paguyuban pengharapan. Orang yang penuh pengharapan hidupnya berdasarkan pada kekuatan Allah saja. Dan orang yang hidupnya hanya bergantung pada Allah akan mudah sekali berbelarasa, terutama dengan sesamanya yang menderita. Mengapa? Sebab orang tersebut telah mengalami sendiri betapa Allah mengasihinya, betapa Allah telah berbelarasa dan amat peduli pada penderitaan dan perjuangannya.

Perayaan Ekaristi adalah perayaan Solidaritas Allah kepada umat-Nya. Peristiwa penebusan Kristus yang kita rayakan dalam Ekaristi adalah peristiwa belarasa Allah kepada nasib manusia. Allah tidak rela manusia hancur. Maka Ia mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus. Kristus menjadi manusia, senasib dengan kita, mau mati demi kita. Dan karena wafat-Nya, kita diselamatkan. Itulah yang dirayakan dalam misa kudus. Kita yang menghadiri misa kudus itu membangun paguyuban pengharapan. Pengharapan itu muncul bertolak dari kehadiran Tuhan yang istimewa dalam Ekaristi. Dan pengalaman ini mendorong kepada semangat solidaritas atau belarasa!

 

Hari ke-23

Merenungkan

EKARISTI DAN PELAJAR

 

Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? (Markus 10:17).

 

            Injil Markus tidak memberi keterangan langsung, siapa yang berlari-lari dan bertanya kepada Yesus, sedangkan Injil Matius memberi spesifikasi. Yang berlari-lari dan datang kepada Yesus ini adalah ?Orang Muda yang Kaya?. Siapapun kita, muda atau tua, kaya atau serba kekurangan, pria atau perempuan, diundang untuk bertanya kepada Yesus, sekaligus siap dengan perubahan sikap untuk berbuat demi ?memperoleh hidup yang kekal.?

Yesus Kristus, melalui Gereja telah mewariskan kepada kita warisan kehidupan rohani dan tanda penyertaanNya bagi kita dengan Sakramen Ekaristi. Kesadaran yang perlu kita bangun dalam kehidupan kita akan pelbagai misteri illahi yang kebenarannya diajarkan kepada Gereja, perlu diwariskan dari generasi ke generasi. Para pelajar Katolik adalah Remaja dan Kaum Muda milik Gereja yang perlu menyadari buah-buah rohani dari Ekaristi yang kita rayakan. Buah utama penerimaan Ekaristi di dalam komuni ialah persatuan yang erat dengan Yesus Kristus. Tuhan bersabda: ?Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia (Yoh. 6:56). Kehidupan di dalam Kristus mempunyai dasarnya di dalam perjamuan Ekaristi: ?Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan Aku, akan hidup oleh Aku? (Yoh. 6:57). Buah-buah lain dari Ekaristi adalah: Ekaristi menyampaikan rahmat pengampunan dosa. Sekaligus berkat Ekaristi, orang dilindungi dari banyak dosa. Oleh cinta yang disulut di dalam kita, Ekaristi bisa membantu kita untuk jauh dari dosa berat pada masa mendatang. Karena semakin kita ambil bagian dalam hidup Kristus, dan semakin kita bergerak maju dalam persahabatan denganNya, semakin kurang pula bahaya bahwa kita memisahkan diri dari-Nya oleh dosa besar. Ekaristi yang kita terima juga membangun Gereja. Komuni membaharui, memperkuat dan memperdalam penggabungan ke dalam Gereja, yang telah dimulai dengan Pembaptisan. Dan terakhir, Ekaristi mewajibkan kita berpihak terhadap kaum miskin. Karena kita harus mengakui kehadiran Kristus di dalam orang-orang termiskin, saudara-saudaraNya (Mat 25:40).

 

 

Hari ke-24

Merenungkan

EKARISTI DAN KELOMPOK KATEGORIAL

 

Sesungguhnya setiap orang yang karena aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya ? orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat ?. (Mrk 10:29-30)

 

            Seringkali ada kelompok-kelompok tertentu yang berinisiatif mengadakan perayaan Ekaristi. Misalnya, setiap hari Jumat pertama dalam bulan, karyawan beberapa kantor di sekitar gereja Fransisikus Xaverius, pada siang hari ? saat orang istirahat siang ? mengadakan perayaan Ekaristi. Ekaristi ini dipersiapkan secara bergantian. Jumat bulan ini dari karyawan kantor A, bulan depan kantor B; atau, karyawan beberapa kantor bergabung memper?siapkannya. Bahkan mereka mempersiapkan teks misa yang disatukan dalam buletin bulanan. Doa-doa dibuat sendiri dan nyanyian-nyanyian dipersiapkan sehingga Ekaristi sungguh menanggapi kebutuhan konkret jemaat yang hadir. Bisa jadi, di parokinya orang tidak bisa bertugas; namun di Ekaristi karyawan ini, ia mendapatkan pengalaman baru. Diharapkan pengalaman ini bisa diteruskan di paroki atau lingkungannya.

            Paguyuban yang disatukan melalui Ekaristi menambah teman, sahabat, atau kenalan. Karyawan satu kenal dengan karyawan yang lain. Perkenalan itu membuahkan pertukaran informasi. Bahkan ada yang berakhir di depan altar, artinya melangsungkan perkawinan. Pertemuan dan akhirnya saling kenal karena Ekaristi rasanya akan lain bila kita kenal di mall, di pasar, atau di tempat rekreasi lainnya. Pertemuan, kenal dan persahabatan yang didasarkan pada iman bahwa Yesuslah yang mempertemukan satu sama lain, akan menjadi pengalaman yang sangat mengesan bila berlanjut dalam persahabatan yang baik atau bahkan membangun hidup keluarga kristiani.

            Ekaristi yang mempersatukan satu sama lain bisa membawa pengalaman iman tersendiri. Pengalaman ini bisa menjadi bahan cerita bagi anak-anaknya nanti. Semoga mereka pun tertarik dengan perayaan Ekaristi. Paguyuban lewat Ekaristi seperti ini kiranya juga akan mengurangi persoalan kawin campur beda agama. Bila di tempat anda belum ada penggeraknya, bersediakah Anda menjadi penggerak pertama?

 

 

Hari ke-25

Merenungkan

EKARISTI DAN PENYEMBUHAN

 

Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk 10:45).

 

Kita sering mendengar bahwa di gereja ini, kemudian besok di gereja itu, akan ada misa penyembuhan. Dan lihatlah, saat ada misa penyembuhan yang hadir begitu banyak. Bukan hanya itu, sering upacara penyembuhannya berlangsung dari sore hingga pagi hari berikutnya. Orang mau antre, ingin disembuhkan. Sedangkan kalau misa biasa tanpa penyembuhan, ya biasa-biasa saja. Umat yang hadir ya biasa-biasa saja. Segitu-segitu saja!

Bagaimana sih sebenarnya misa penyembuhan itu? Mukjizat penyembuhan tetaplah sebuah kemungkinan pada zaman ini. Bahkan mukjizat yang terjadi karena tindakan Allah yang istimewa berkat iman seseorang dan pengantaraan orang kudus memang sesuatu yang bisa diakui oleh Gereja. Saat proses penggelaran seseorang menjadi orang kudus, Gereja mensyaratkan salah satunya: mukjizat berkat pengantaraan doa calon orang kudus itu. Hal ini sering terjadi. Akan tetapi yang sangat penting dicatat, baik dari Kitab Suci maupun dari sudut Ajaran Gereja, mukjizat penyembuhan itu sendiri tidak pernah menjadi tujuan dari seluruh tindakan iman kita. Apabila Yesus mengadakan mukjizat penyembuhan, Dia tidak melakukan demi mukjizat itu sendiri. Namun mukjizat itu Ia buat sebagai tanda dari tujuan pokok pewartaan-Nya mengenai Kerajaan Allah.

Lalu bagaimana dengan misa penyembuhan? Usaha pelayanan penyembuhan dari dokter atau orang-orang yang dianugerahi karunia penyembuhan (seperti paranormal dsb) pastilah suatu tindakan dan karya amal kasih yang amat baik. Memang ada orang-orang yang memperoleh karunia khusus untuk menyembuhkan penyakit. Hanya saja, sebaiknya pelayanan penyembuhan seperti itu tidak perlu harus digabung-gabungkan dengan perayaan Ekaristi. Sebaiknya kita hati-hati kalau mau mengadakan misa penyembuhan itu. Misa kudus terlalu agung untuk begitu mudah diadakan dalam rangka upacara penyembuhan. Biasanya orang datang bukan untuk misanya sendiri, tetapi lebih untuk penyembuhannya.

 

 

Hari ke-26

Merenungkan

EKARISTI UJUD DAN STIPENDIUM

 

Orang buta itu menjawab, ?Rabuni, semoga aku dapat melihat? (Mrk 10:51b).

     

      Kalau kita mengikuti Ekaristi, kita biasa mendengarkan pengumuman bahwa ujud hari itu untuk arwah siapa atau syukur atas terkabulnya doa atau mohon berkat untuk ujian atau mencari pekerjaan, dst. Kalau kita mengikuti Ekaristi novena di tempat-tempat peziarahan, kita akan mendengarkan seribu satu macam ujud doa dan intensi permohonan. Kita pun suka menyampaikan ujud untuk suatu permohonan pribadi atau keluarga. Biasanya, kita meng?hadap pastornya, lalu menyampaikan amplop yang berisi jenis permohonan doa dan sejumlah uang. Berapa banyak uang untuk satu kali ujud Perayaan Ekaristi? Tidak ada ketentuan yang sama. Semua tergantung kemampuan orang yang bersangkutan dan menurut ukuran: umumnya bagaimana.

      Uang untuk intensi atau ujud disebut dengan stipendium. Praktek stipendium macam ini sudah sangat lama dalam Gereja. Stipendium dipandang sebagai bentuk ungkapan partisipasi umat beriman dalam pemeliharaan aneka keperluan Gereja dan kehidupan imam. Namun yang lebih dalam lagi, stipendium merupakan ungkapan lahir dari persembahan hidup pribadi umat beriman tersebut dengan korban Kristus sendiri yang dirayakan dalam Ekaristi. Pada prinsipnya satu kali Ekaristi hanya bisa untuk satu ujud sebagaimana dimohon dalam stipendium. Bila terpaksa adanya beberapa buah ujud dalam satu Perayaan Ekaristi, maka para pemberi stipendium itu harus diberitahu mengenai penggabungan tersebut. Ujud yang menggunakan stipendium sebaiknya dibacakan pada pengantar Perayaan atau pada bagian lain yang sesuai. Dan itu berarti seluruh Ekaristi itu dipesan untuk ujud itu. Sering terjadi bahwa ujud secara mendadak diberikan satu dua menit sebelum Ekaristi hari Minggu di Gereja. Kebiasaan kurang baik ini sedikit demi sedikit harus dihilangkan.

      Kalau ada orang yang memohon doa tanpa bermaksud sebagai ujud (tanpa stipendium), doa tersebut bisa digabungkan dalam doa umat; tetapi ini berarti bahwa Ekaristi tersebut tidak dipesan untuk doa pribadi orang tersebut. Stipendium selalu dimaksudkan untuk pelayanan imam dalam Ekaristi, sedangkan yang di luar Perayaan Ekaristi persembahan uang untuk imam itu disebut iura stolae (misalnya untuk perkawinan, baptisan, pemberkatan rumah, dst).

 

 

Hari ke-27

Merenungkan

EKARISTI DAN PAGUYUBAN PAROKI

 

Aku berkata kepadamu, apa saja yang kalian minta dan kalian doakan, akan diberikan kepadamu, asal kalian percaya bahwa kalian akan menerimanya  (Mrk. 11:24).

 

Dalam Surat Apostolik mengenai pengudusan hari Minggu sebagai Hari Tuhan, dan diulang lagi dalam Ensiklik Ecclesia de Eucharistia artikel 41, Sri Paus menulis: ?Hari Minggu adalah saat istimewa bagi mewartakan dan memupuk persekutuan tanpa henti. Justru dalam menyambut Ekaristi, Hari Tuhan menjadi juga Hari Gereja, tatkala Gereja mampu mewujudkan perannya sebagai sakramen kesatuan.? Selanjutnya, melindungi dan memajukan persekutuan gerejani adalah tugas setiap anggota umat beriman, yang menemukan dalam Ekaristi, sebagai sakramen kesatuan Gereja.

Ada penulis terkenal dari tradisi Bizantin yang menyuarakan keberanian berikut: ?Dalam Ekaristi, tidak seperti pada sakramen lain mana pun, misteri (komuni) adalah sekian sempurna sehingga ia membawa kita kepada puncak segala yang baik: Inilah tujuan akhir setiap damba manusia, sebab di sana kita mencapai Allah dan Allah mempersatukan diri-Nya kepada kita dalam persekutuan yang paling sempurna.?

Kalau Gereja mempunyai keyakinan sedemikian jelas dan kokoh dalam menghayati kehadiran Tuhan yang nyata melalui Gereja dan seluruh umat kudus, selayaknya kalau di dalam Gereja semua kelompok paguyuban paroki saling mengenal dan berjejaring untuk mendapatkan bimbingan, perhatian dan kesempatan untuk bertugas. Ekaristi mempersatukan pelbagai kelompok bina atau paguyuban yang ada dalam terang kasih Tuhan. Melalui kesatuan dan peguyuban dalam paroki, seluruh umat yang kudus mengalami pemeliharaan Tuhan. Melalui perayaan Ekaristi dan melalui semangat dasar untuk berbagi, kami yakin bahwa kita dibebaskan dari dosa dan keterbatasan diri. Perlu ada suasana saling meneguhkan dan menghibur sebagai sebuah kelompok paguyuban.

Di paroki atau lembaga karya, ada pelbagai kelompok paguyuban yang hidup. Ada pelbagai macam usaha untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Menjadi sebuah terobosan baru bahwa anak-anak kita apalagi yang sudah dewasa, mendapat bekal yang cukup untuk menanggapi dan ambil sikap atas tanda-tanda jaman. Semoga keterbukaan kita kepada kelompok lain, menjadi tanda keterbukaan kita kepada Sang Adil yang sejati.

 

 

Hari ke-28

Merenungkan

EKARISTI DAN PAGUYUBAN UMAT LINGKUNGAN/WILAYAH

 

Pada masa mudaku, sebelum mengadakan perjalanan, kebijaksanaan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku (Sirakh 51:12).

 

      Umat kita ini suka berkumpul. Orang pasti mau berkumpul kalau ada keluarga yang sedang kehilangan sanak keluarga karena meninggal (kesripahan). Tetapi tidak usah untuk peristiwa besar macam itu, di mana-mana banyak praktek Ekaristi lingkungan. Sebelum Perayaan Ekaristi, tidak sedikit Romo paroki yang masih rajin mengadakan kunjungan umat. Romo seperti itu sungguh gembala yang baik. Ia tidak hanya duduk menunggu umat yang datang ke pastoran. Tetapi ia seperti Yesus, Sang Gembala, yang mencari domba-domba-Nya. Sesudah mendapat beberapa keluarga yang dikunjungi, Romo bersama seluruh warga lingkungan itu mengadakan Perayaan Ekaristi. Perayaan diadakan di tempat yang sederhana, barangkali kita hanya duduk di tikar. Tetapi yang amat mengesan: suasana yang akrab, saling meneguhkan sebagai sesama umat dan suasana penuh berkat yang mengalir dari Ekaristi itu. Apalagi keluarga yang ditempati merasakan memperoleh berkat yang melimpah karena kehadiran para warga itu beserta gembalanya, romo paroki.

      Ekaristi di lingkungan memang merupakan suatu perayaan yang bisa sangat mengesan dan mengena. Kalau Ekaristi di paroki bisa dirasakan formal, cepat-cepat selesai dan sering tidak saling kenal, lain halnya di lingkungan. Kita sudah saling mengenal satu sama lain, sehingga Ekaristi yang dirayakan terasa tidak menjemukan dan tidak terasa bilamana berlangsung lebih dari satu jam. Ekaristi di lingkungan pantaslah ditumbuh-kembangkan. Dengan Ekaristi, persekutuan umat dibangun dengan baik, hubungan umat dan romo paroki menjadi akrab dan dekat, dan imbasnya: perjuangan hidup sehari-hari dihibur dan dikuatkan. Demikian pula dalam bersaksi di tengah masyarakat, kita akan semakin dimampukan.

 

Hari ke-29

Merenungkan

EKARISTI: S UMBER DAN PUNCAK PERUTUSAN GEREJA

 

Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. (Yoh 6:51)

 

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Keistimewaan hari raya ini ialah bahwa kita merayakannya persis dalam Tahun Ekaristi. Melalui bacaan-bacaan hari ini kita diingatkan akan keistimewaan kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita melalui Ekaristi Suci.

Kita merenungkan Ekaristi sebagai sumber dan puncak perutusan Gereja. Artinya, perutusan kita untuk mewartakan Kabar Baik kepada semua orang hanya memperoleh kekuatannya pada Ekaristi. Pada akhir misa kudus, kita diutus melalui kata-kata imam: ?Ite missa est?, artinya: ?Pergilah, kalian diutus?. Kita diutus untuk menghadirkan apa yang tadi kita alami dan kita rayakan selama Perayaan Ekaristi. Itulah karya penebusan Tuhan atas umat manusia dan dunia. Apa pun tugas dan pelayanan kita, entah sebagai guru, pedagang, mahasiswa, pelajar, buruh, pengusaha, karyawan, pegawai negeri, polisi, dokter, perawat dsb sebenarnya hanya menjadi bentuk yang berbeda-beda dari satu-satunya tugas perutusan orang kristiani: mewartakan dan menghadirkan Injil Yesus Kristus yang telah kita rayakan dalam Ekaristi.

Bila Ekaristi menjadi sumber dan puncak perutusan kita, marilah Ekaristi kita persiapkan dengan baik. Marilah kita memberi waktu yang banyak untuk doa dan Ekaristi. Secara khusus marilah kita mempersiapkan keluarga atau komunitas kita masing-masing, juga lingkungan-wilayah dan paroki kita untuk menyongsong Perayaan Puncak Tahun Ekaristi yang akan dirayakan oleh seluruh umat beriman di KAS pada tanggal 23 Oktober 2005 nanti, di paroki kita masing-masing. Pertanyaannya menggelitik kita: ?Kita akan membuat acara khusus apa untuk merayakan Tahun Ekaristi ini?? Jangan sampai tiba-tiba, kita tidak pernah membuat apa-apa, dan tahu-tahu Tahun Ekaristi telah ditutup.

 

 

Hari ke-30

Merenungkan

EKARISTI DAN P ARA PETUGAS

 

Dia itulah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. (Mrk 12:7)

 

            Perayaan Ekaristi minggu sudah mau mulai. Namun para petugas belum lengkap. Misdinar (putra altar) baru tiga anak, biasanya paling tidak ada empat anak. Prodiakonnya kurang satu. Pengiringnya (organisnya) belum datang. Anggota kornya juga belum lengkap. Dirigennya semakin sewot. Itulah pengalaman di beberapa paroki kita, lebih-lebih pada minggu pagi. Budaya kita adalah budaya tidak tahu malu, lagi tidak merasa bersalah. Terlambat tidak malu, tanpa persiapan merasa tidak bersalah.

            Ekaristi adalah perayaan iman. Ekaristi menyangkut banyak orang, melibatkan berbagai macam petugas. Mulai dari imam, koster, prodiakon, lektor, pemazmur, kolektan, putra altar, pengiring, dirigen, umat, dsb. Bagaimana mereka semua akan menyemarakkan perayaan iman, kalau mereka sendiri ?asal-asalan? dalam bertugas; kalau mereka datang pada waktu Ekaristi akan dimulai? Pikir mereka, ?ah, misanya kan seperti biasa, paling nyanyiannya yang itu-itu saja, tidak perlu persiapan; prodiakon minggu pagi paling-paling pak Robert yang sudah uzur itu.?

            Kalau Ekaristi kita yakini sebagai perayaan iman, semestinya suatu perayaan itu dipersiapkan. Baik persiapan secara pribadi maupun  bersama-sama. Paling tidak batin dan hati kita disiapkan untuk menyambut kehadiran Allah. Dan karena Ekaristi melibatkan banyak petugas, semestinya juga dipersiapkan secara bersama-sama. Semua saling mendukung. Bukannya malah petugas yang satu dengan petugas yang lain saling menyalahkan. Kadang malah saling berebut. Bila demikian yang terjadi, bagaimana kita akan menampilkan pelayanan yang murah hati? Bagaimana kita akan mengalami bahwa Ekaristi adalah suatu perayaan? Lihat saja, pernahkah anda mencari tempat duduk, namun mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakan? Bagaimana ketika komuni, umat tidak teratur bahkan berdesak-desakan. Inikah gambaran communio, kesatuan? Jangan-jangan anak-cucu kita mewarisi apa yang kita buat saat mengikuti perayaan Ekaristi. Apakah kita menyadari bahwa kita semua mudah belajar dari model, dari contoh? Semoga kita berani memberikan contoh dan teladan yang baik dalam berliturgi.

 

 

Hari ke-31

Merenungkan

EKARISTI DAN BUNDA MARIA

 

Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? (Luk 1:43)

 

Ekaristi dan Bunda Maria tidak pernah bisa dipisahkan. Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II menyebut Bunda Maria sebagai wanita Ekaristi. Dalam ensiklik Ecclesia de Eucharistia, Sri Paus membuat satu bab tersendiri yang membahas: Sekolah Maria, Wanita Ekaristi. Intinya, Bunda Maria adalah guru kita dalam merenungkan wajah Kristus. Maria adalah pembimbing kita dalam usaha untuk memahami dan mencintai Ekaristi, sebab ?Maria adalah wanita Ekaristi dalam seluruh hidupnya? (Ecclesia de Eucharistia no 53).

Hari ini adalah pesta Santa Maria mengunjungi Elisabet. Ekaristi hendaknya membawa kita seperti yang dibuat oleh Maria. Kita meneruskan rahmat Ekaristi kepada orang lain dengan mengunjunginya. Berkunjung berarti kita memberi perhatian, memberi sapaan. Kehadiran seperti itu sungguh mampu menguatkan saudara-saudari kita yang sedang lemah. Dengan demikian, Ekaristi tidak berhenti di gereja, namun kita lanjutkan dalam hidup sehari-hari. Itulah arti Ite missa est: Pergilah, kalian diutus! Kita diutus tidak hanya pada keluarga kita sendiri, komunitas kita; namun juga kepada orang-orang yang kita jumpai hari ini, kepada orang-orang yang dipercayakan Tuhan untuk kita layani. Termasuk di sini mengunjungi orang tua imam, suster, atau bruder yang ada di lingkungan anda. Jangan lupa pula, kita perlu mengunjungi orang-orang tua yang sakit, yang sering dilupakan orang, orang-orang yang sendirian dan kesepian. Dan yang penting juga ialah: Marilah kita rajin mengunjungi orang-orang sakit dan yang kesepian tanpa memandang agama, kelompok dan golongan atau statusnya. Semua perlu kita beri perhatian dengan cinta. Dan itulah cinta yang mengalir dari Ekaristi sebagaimana diteladankan Bunda Maria.

  Hari-hari sebelumnya