Mat 16:13-19 ... you are Peter and on this rock I build my church ... (kefas, petra-petros)

Dokumen

 

Mat 16:19 Keys  to the Kingdom of God Pengumatan Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2000

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


Gereja Yang Mendengarkan
Memberdayakan Komunitas Basis Menuju Indonesia Baru

 

Bagian I: Surat Para Uskup

Pengumatan Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2000

1. Pada Yubileum Agung tahun 2000 telah diselenggarakan SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA
 

(SAGKI TAHUN 2000) di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor, 1-5 Nopember 2000. Dalam Sidang Agung itu para utusan dari keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia bersama para gembalanya menggumuli arah Gereja memasuki Milenium III, dalam proses penegasan bersama.
 

2. Setelah mengikuti seluruh persidangan di dalam SAGKI 2000 dan mempelajari hasil sidang itu
 

bersama-sama di dalam sidang tahunan KWI, maka dengan ini kami menyampaikan hasilnya serta dukungan kami.
 

3. Kami para uskup dengan rasa gembira dan bangga mengikuti persiapan, pelaksanaan dan penutupan
 

SAGKI 2000. Sejak persiapannya SAGKI 2000 ini telah menunjukkan hal-hal yang baik khususnya dalam bidang kerjasama antara awam dan rohaniwan, antara hirarki dengan umat, dan antara perempuan dengan laki-laki. Kami menghargai kerjasama tersebut dan berharap agar semangat kerjasama itu dilanjutkan dan ditumbuhkembangkan di dalam pembinaan umat basis di keuskupan-keuskupan.
 

4. Dalam mengembangkan komunitas-komunitas basis, hendaknya sejak semula diperhatikan semangat 
 

keterbukaan karena kita hidup di dalam masyarakat dan kebudayaan yang majemuk. Keterbukaan merupakan sikap yang menentukan untuk selalu membaharui diri, membangun persaudaraan sejati dan semakin menghadirkan Kerajaan Allah, melalui perjuangan keadilan, kebenaran dan kesetaraan jender. Budaya setempat sepantasnya diperhatikan karena benih-benih nilai kebersamaan, solidaritas dan persaudaraan yang sudah terkandung di dalamnya. Hendaknya diperhatikan juga perkembangan kehidupan komunitas-komunitas basis yang sudah ada, supaya ada kesinambungan yang serasi dan dinamis. Dengan bimbingan Uskup setempat, semua daya dan sarana di dalam masing-masing keuskupan diharapkan dapat didaya-gunakan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
 

5. Dalam mencari bentuk komunitas-komunitas basis hendaknya masing-masing keuskupan mengamati
 

dengan cermat hidup Gereja setempat, mempertahankan unsur-unsur yang baik dan mengubah hal-hal yang tidak sesuai dengan semangat Kerajaan Allah. Hendaknya digali lagi ajaran-ajaran resmi Gereja, seperti Lumen Gentium (=Konstitusi Dogmatis tentang Gereja) dan Gaudium et Spes (=Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern), untuk memberikan landasan yang kokoh.
 

6. Semoga pengembangan komunitas-komunitas basis menjadi cara dan sarana yang lebih baik untuk
 

semakin menghadirkan Kerajaan Allah. Besar juga harapan kami bahwa usaha menumbuhkan komunitas-komunitas basis ini menjadi salah satu cara Gereja berperan dalam membangun masyarakat yang lebih adil, sejahtera, demokratis dan manusiawi.
 

7. Akhirnya semoga Berkat Tuhan melimpah dalam diri saudara, dan semoga hidup saudara menjadi
  berkat bagi sesama.
 

Jakarta, 8 November 2000
 

Para Waligereja Indonesia,

Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J.
Mgr. M.D. SItumorang, OFM.Cap.
Mgr. Longinus Da Cunha
Mgr. I Suharyo
Mgr. J.G. Mencuccini, CP.
Mgr. P.C. Mandagi, M.S.C.
Mgr. Petrus Turang
Mgr. Leo Laba Ladjar, O.F.M.
Mgr. A.G.P. Datubara, OFM.Cap.
Mgr. A.B. Sinaga, OFM.Cap
Mgr. Hilarius Moa Nurak, S.V.D.
Mgr. Aloysius Sudarso, S.C.J.
Mgr. A. Henrisoesanto, S.C.J.
Mgr. Michael C. Angkur, O.F.M.
Mgr. Julianus Sunarka, S.J.
Mgr. A. Djajasiswaja
Mgr. J. Hadiwikarta
Mgr. H.J. Pandoyoputro, O.Carm
Mgr. H. Bumbun, OFM. Cap
Mgr. Agustinus Agus
Mgr. BI. Pujaraharja M.S.F.
Mgr. Willibald Pfeuffer, M.S.F.
Mgr. F.X. Prajasuta, M.S.F.
Mgr. Florentinus Sului, M.S.F.
Mgr. Johan Liku-Ada'
Mgr. Jos. Th. Suwatan, M.S.C.
Mgr. P.C. Mandagi, M.S.C.
Mgr. Jos, Tethool, M.S.C.
Mgr. Darius Nggawa, S.V.D.
Mgr. Eduardus Sangsun, S.V.D.
Mgr. Benyamin Y. Bria
Mgr. Anton Pain Ratu, S.V.D.
Mgr. G. Kherubim Pareira, S.V.D.
Mgr. J. Duivenvoorde, M.S.C.
Mgr. F.X. Hadisumarta, O.Carm
Mgr. Leo Laba Ladjar, O.F.M.

 

 

Bagian II: Hasil-Hasil SAGKI 2000

Rangkuman Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2000

WISMA KINASIH, CARINGIN-BOGOR, 1-5 NOVEMBER 2000

PENGANTAR

1. Dalam rangka merayakan Yubileum Agung Tahun 2000 menyongsong milenium III, umat Katolik
 

Indonesia menyelenggarakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia Tahun 2000 di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor, tanggal 1-5 November 2000. Tema Sidang adalah Memberdayakan Komunitas Basis Menuju Indonesia Baru.
 

2. Dalam Sidang ini 381 umat Katolik utusan dari keuskupankeuskupan seluruh Indonesia yang terdiri
 

dari para uskup, sejumlah imam dan biarawan/biarawati, serta sebagian terbesar kaum awam, melakukan sharing (berbagi pengalaman), refleksi, dan diskusi bersama tentang kehadiran dan perutusan umat Katolik di tengah pergumulan bangsa Indonesia yang sedang mengalami krisis di segala bidang kehidupan. Sharing dan refleksi ini dibuat dengan penuh kesadaran sebagai murid-murid Yesus.
 

3. Dalam Surat Penetapan Yubileum Agung Tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II menyatakan,
 

"Kedatangan milenium ketiga mendorong jemaat Kristiani agar mengangkat mata iman untuk memeluk cakrawala-cakrawala baru dalam mewartakan Kerajaan Allah..."[1] Sementara itu sejak Konsili Vatikan II (1962-1965), Gereja mulai sungguh menyadari bahwa perutusan apostolik yang dipercayakan kepadanya oleh Tuhan seharusnya dilakukan bersama masyarakat. Gereja adalah garam dan ragi di tengah-tengah masyarakat (bdk. Mt. 5:13; Mt. 13:33). Agar perutusan itu sungguh terwujud nyata, Gereja perlu bertumbuh dan berkembang dengan memberikan kesaksian hidup.
 

4. Bagi Indonesia, tahun 2000 memiliki makna yang istimewa. Bangsa Indonesia telah memasuki suatu
 

era reformasi di segala bidang. Akan tetapi pada saat yang sama bangsa Indonesia menghadapi masalah-masalah dan tantangan-tantangan yang amat berat. Sebagai bagian integral bangsa, umat Katolik Indonesia sepenuhnya ikut menghadapi permasalahan dan tantangan-tantangan itu. Banyak di antara kita yang bingung dan merasa was-was terhadap apa yang akan terjadi di masa mendatang.
 

5.

Pada saat ini, di banyak wilayah masyarakat berada dalam situasi penuh ketakutan dan p

 

enderitaan. Di Maluku, konflik berdarah yang sudah berlangsung selama hampir dua tahun belum teratasi, begitu pula di Sulawesi Tengah dan Kalimantan Barat. Rakyat Aceh menghadapi masa depan yang serba tidak menentu. Di Timor Barat masyarakat menderita bersama mereka yang dijadikan pengungsi sebagai korban penindasan di Timor Leste. Di tanah Papua saudarasaudara kita berada dalam situasi yang bergolak dan penuh ancaman dari mereka yang seharusnya memberi perlindungan.
 

6.

Dalam situasi ini sudah waktunya umat Katolik mengadakan refleksi bersama. Berhadapan dengan

 

pelbagai masalah dan tantangan, bahkan ancaman yang dialami, kita mau melihat ke depan. Dengan belajar dari pengalaman-pengalaman kita di masa lampau, kita bertanya: "Bagaimana kita umat Katolik sebagai warga masyarakat melibatkan diri dalam pergumulan bangsa ini mewujudkan Indonesia baru yang lebih adil, lebih manusiawi, lebih damai, dan memiliki kepastian hukum?"
 

7.

Apa yang kita lakukan, serta bagaimana umat Katolik Indonesia membaharui diri, itulah yang perlu

 

kita cermati bersama-sama. Refleksi bersama kita difokuskan pada perwujudan komunitas-komunitas basis. Memfokuskan diri pada pertumbuhan dan pengembangan komunitas basis didasarkan pada keyakinan bahwa daya hidup umat Katolik terletak pada basisnya dan pembaharuan Gereja harus berasal dari basis. Keyakinan ini sudah diungkapkan juga oleh para Uskup se-Asia: "Gereja tidak dapat menunaikan misi pelayanannya tanpa bersifat setempat (lokal). Sebab Gereja hanya menjadi Gereja bila mendarah daging dalam suatu bangsa dan kebudayaannya, di tempat yang khusus dan pada waktu yang khusus pula"[2] . Upaya pemberdayaan umat ini dilakukan untuk mewujudkan Gereja sebagai persekutuan komunitas-komunitas.[3]  Arti komunitas basis dan bagaimana perwujudan serta pengembangannya perlu ditemukan oleh komunitas-komunitas setempat. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman berkomunitas basis direfleksikan dalam Sidang Agung ini. Dengan demikian kita umat Katolik Indonesia sekaligus menempatkan diri dalam semangat demokratisasi dan pemberdayaan rakyat yang menjadi tujuan paling dasar reformasi di negara tercinta ini.
 

8.

Dengan mengembangkan komunitas-komunitas basis, kita mengharapkan dapat mewujudkan

 

kehidupan beriman dan menggereja yang lebih aktif serta menjadi lebih siap untuk ikut berperan di tengah masyarakat kita. Dengan cara itu kita semua bergerak bersama menanggapi panggilan Roh Allah sendiri.

   
PROSES
   
9.

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia tahun 2000 merupakan pelaksanaan pesan Sidang KWI-Umat

 

tahun 1995. Selama empat hari para peserta melakukan sharing, diskusi dan refleksi mengenai pemberdayaan komunitas basis. Para peserta yang dibagi ke dalam 17 kelompok terdiri dari awam, biarawan-biarawati, para pastor dan uskup. Pada hari pertama peserta menerima masukan dari nara sumber mengenai "Indonesia Baru dalam Perspektif Pluralisme Agama" oleh H. A. Malik Fadjar (Islam), "Memberdayakan Komunitas Basis" (Dari Perspektif dan Pengalaman Kristen Protestan) oleh Eka Darmaputera, Ph.D, dan "Di Tahun 2000 Umat Katolik Melihat ke Depan" oleh Franz Magnis-Suseno, SJ dilanjutkan dengan sharing peserta dalam kelompok mengenai realita dan pengalaman berkomunitas basis. Pada hari kedua, hasil sharing sebelumnya dipertajam dan diperkaya oleh dua orang teolog Dr. John M. Prior, SVD dan Dr. J.B. Banawiratma, SJ. Acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok mengenai rencana pemberdayaan komunitas basis dan identifikasi persoalan-persoalan yang dihadapi. Bertitik tolak pada hasil sharing ini, pada hari berikutnya peserta membicarakan dan mendiskusikan perubahan-perubahan mendasar yang perlu dibuat dalam pengembangan komunitas basis, khususnya kemandirian awam dan posisi hirarki. Seluruh hasil proses sidang dirangkum pada hari terakhir, didiskusikan dan dilengkapi dalam sidang kelompok dan pleno. Rangkuman yang sudah disempurnakan, kemudian dibacakan dalam penutupan sidang sebagai "Rangkuman Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia Tahun 2000."
 

10. Dua teolog yang telah disebut di atas mengajak para peserta untuk melihat dan memahami
  komunitas basis sebagai salah satu cara baru hidup menggereja. Dalam paparannya, komunitas basis itu dipandang sebagai satuan umat yng relatif kecil dan yang mudah berkumpul secara berkala untuk mendengarkan firman Allah, berbagi masalah sehari-hari, baik masalah pribadi, kelompok maupun masalah sosial, dan mencari pemecahannya dalam terang Kitab Suci (bdk. Kis 2:1-47). Komunitas basis seperti ini terbuka untuk membangun suatu komunitas yang juga merangkul saudara-saudara beriman lain.
   

Komunitas basis hidup berdasarkan iman, jumlah anggotanya tidak terlalu banyak, komunikasi terbuka antar-anggota dalam semangat persaudaraan, membangun solidaritas dengan sesama, khususnya dengan saudara yang miskin dan tertindas. Komunitas basis ini diinspirasikan oleh teladan hidup umat perdana seperti dilukiskan dalam Kitab Suci (bdk. Kis. 2:1-47; 4:32-35; 13:1-3; Rm. 12:3-8; 1Kor. 11:17-34 dan 12:12-30; Ef. 4:1-16; Kol. 3:12-17; 1 Ptr. 2:15). Dengan demikian, komunitas basis bukanlah sekedar tampak sebagai bentuk atau wadah, dan bukan pula sekedar istilah atau nama, melainkan gereja yang hidup bergerak dinamis dalam pergumulan iman. Komunitas basis akan memberi wajah baru hidup menggereja umat yang mampu berbela rasa dengan saudara-saudara yang miskin dan tertindas (bdk. Mt. 25:31-46). Lebih jauh, dengan itu pun Gereja diharapkan bisa lebih mengakar, lebih kontekstual dan mampu menjalankan perannya dalam menggarami dunia dengan lebih baik. Dengan komunitas basis yang berada pada tataran akar rumput, Gereja Katolik tidak akan mengalami 'irelevansi eksternal' atau 'insignifikansi sosial'.[4]

 

HASIL SIDANG
   
11. Sidang Agung diawali dengan sharing yang memunculkan berbagai macam gambaran tentang
 

komunitas basis gerejawi yang menimbulkan pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan komunitas basis gerejawi. Ciri-ciri komunitas basis belum seluruhnya jelas. Komunitas basis bisa lebih bersifat teritorial maupun kategorial. Kegiatan masing-masing komunitas basis juga sangat bervariasi, meliputi ibadat, pendalaman iman, membangun jalur-jalur komunikasi dengan umat beriman lain, kegiatan sosial dan advokasi. Dalam hal pengambilan keputusan, sebagian komunitas basis telah menjalankan pola kepemimpinan partisipatif-dialogis dan musyawarah yang melibatkan kaum miskin, perempuan, dan orang muda. Tetapi ada pula yang masih menjalankan pola kepemimpinan top-down dimana keputusan diambil oleh uskup, pastor, Dewan Paroki, orang-orang yang berkedudukan, bapak-bapak dan orang tua (adat).
 

12.

Sharing berikutnya memperlihatkan bahwa komunitas basis gerejawi telah membangun komunitas

 

bersama umat beragama lain. Ada tiga bentuk yang dibangun, yaitu 'dialog kehidupan', 'dialog karya', dan 'dialog iman'. Dialog kehidupan tampak nyata antara lain dalam komunitas buruh, petani, nelayan, anak jalanan dan pemberdayaan perempuan. Dialog karya misalnya tampak dalam perhatian terhadap para pengungsi. Sedangkan 'dialog iman' muncul dalam bentuk forum antar-umat beragama, gerakan ekumene, dan kerukunan umat. Pengalaman konflik dan kerusuhan dapat juga menjadi perekat untuk membangun komunitas bersama dengan pendekatan kultural maupun kemanusiaan. Namun prasangka, ketakutan dan faktor politik masih menjadi alasan belum terbangunnya hubungan dengan umat beragama lain di beberapa tempat. Dalam keadaan apapun tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membina hubungan antar-umat beragama demi mewujudkan Indonesia baru yang damai dan harmonis.
 

13.

Untuk mewujudkan komunitas basis yang pemahamannya telah ditawarkan oleh dua teolog di atas,

sesuai dengan fungsinya masing-masing, peserta sidang akan melakukan beberapa hal antara lain:
 

a. Dalam tataran pemahaman, kaum awam, biarawan-biarawati mencari makna komunitas basis,
 

mensosialisasikan pemahaman komunitas basis, mengubah paradigma kepemimpinan. Sementara itu para pastor dan uskup menekankan usaha penjernihan pemahaman mengenai komunitas basis, penyadaran para pastor agar tidak menerapkan pendekatan pastor sentris, perubahan sikap-paradigma-cara kerja.

b. Dalam tataran penerapan, para pastor dan uskup bersepakat untuk memelihara dan
  mengembangkan komunitas basis yang sudah ada dan membangun yang baru.
14.

Persoalan-persoalan yang mungkin dihadapi dalam mewujudkan komunitas basis gerejawi tersebut antara lain:

a. Berkaitan dengan kondisi, para peserta sidang mengemukakan sejumlah persoalan yang
 

ditimbulkan oleh faktor geografis, intervensi dari luar, budaya paternalistik dan individualistik, isu SARA, ketidak adilan gender, kekurangan pendidikan, dan konflik budaya.

b. Berkaitan dengan aspek kelembagaan, kaum awam dan biarawan-biarawati menemukan
 

persoalan-persoalan yang berkaitan dengan komunikasi awam dan pastor, kemapanan tokoh awam, perbedaan kebijaksanaan paroki dan keuskupan, struktur Gereja yang tidak luwes dan feodal. Para pastor dan uskup antara lain mengemukakan masalah persepsi aliran-aliran teologi yang berbeda, peranan katekis dalam cara menggereja secara baru, pendampingan tokoh umat, kaum awam dan kaum muda.

c. Berkaitan dengan mentalitas, para peserta sidang mengindentifikasi mentalitas pemimpin yang
 

tertutup, paternalistik, sulit memahami kepemimpinan partisipatif, tidak mau menerima terobosan baru, mendominasi, menghambat karya awam. Ditemukan pula mentalitas awam yang masih tergantung pada hirarki, eksklusif, kurang ada inisiatif menjadi pemimpin, tidak mau menerima terobosan baru, paternalistik, pastor sentris, sombong dan merasa superior.

15. Perubahan-perubahan mendasar yang perlu dilakukan untuk mewujudkan komunitas basis:
a. Berkaitan dengan sikap mental, perlu perubahan mendasar antara lain dari pola spiritualitas 
 

yang terlaluindividualistis dan hanya vertikal ke pola religiositas yang memerdekakan, dari sikap mendominasi kaum perempuan ke kesetaraan martabat manusia, dari pola eksklusif ke keterbukaan terhadap saudara-saudara seiman maupun umat lain, dari liturgi yang ritualistik ke liturgi yang berpihak kepada kaum miskin, dari Gereja yang legalistik ke Gereja yang spiritual-profetis, dari eksploitasi lingkungan hidup ke pelestarian fungsi lingkungan hidup, dan dari sikap yang sibuk dengan diri sendiri ke sikap tanggap terhadap situasi bangsa dan negara.

b. Berkaitan dengan struktur, perlu perubahan mendasar antara lain dari kepemimpinan piramidal-
 

klerikal ke kepemimpinan kolegial-partisipatif, yang melibatkan kaum muda, biarawan-biarawati, perempuan, dan kaum miskin dalam pengambilan keputusan.

c. Berkaitan dengan pola pendekatan, perlu perubahan mendasar antara lain, dari pola pastoral
  yang berpusat pada paroki ke pola yang berpusat pada komunitas basis.
   
Untuk itu dibutuhkan pola pendidikan calon imam dan biarawan/ wati yang lebih terbuka dan memasyarakat.
 
16. Kemandirian awam dalam mewujudkan komunitas basis secara konkret antara lain dapat berarti:
a. Kaum awam semakin menyadari panggilan baptisannya dengan ikut ambil bagian dalam tugas
  Kristus sebagai imam, nabi dan raja (bdk. Lumen Gentium, art. 31)
b. Kaum awam berani menumbuhkan komunitas basis tanpa hanya bergantung pada
  kebijakan/keputusan hirarki.
c. Kaum awam yang mampu menghadapi dan memecahkan masalah bersama.
d. Kaum awam yang mampu mengembangkan spiritualitasnya.
e. Kaum awam yang berbela rasa dengan korban ketidakadilan.
f. Kaum awam yang berani bersikap terbuka.
17. Peran hirarki dalam mewujudkan komunitas basis, antara lain:
a. Menjadi pemersatu umat
b. Mendampingi, memfasilitasi dan mendukung para penggerak komunitas basis.
c. Memperluas visi mengenai peran awam.
d. Melakukan dialog, yaitu saling mendengarkan dan membebaskan.
   
RANGKUMAN
18. Hasil Sidang Agung ini diharapkan dapat membantu mendorong dan memberdayakan berbagai

komunitas basis dengan jaringannya di mana pun, disesuaikan dengan kondisi, situasi, kemampuan, dan aspirasi serta kepentingan lokal.
 

19. Hasil Sidang Agung ini diharapkan juga dapat menjadi inspirasi untuk dan mendorong tumbuhnya

berbagai komunitas basis di mana komunitas basis belum dimulai dan berkembang. Dengan demikian, pengembangan berbagai komunitas basis dengan jaringan-jaringannya akan mengikuti pola desentralisasi.
 

20. Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia Tahun 2000 telah berakhir. Sidang Agung ini akan menjadi

suatu peristiwa sejarah yang bermakna bila diikuti dengan tindak lanjut nyata di tahun-tahun mendatang. Maka Sidang Agung ini hendaknya kita jadikan suatu awal baru dalam kehidupan menggereja dengan memberdayakan komunitas basis yang terbuka menuju Indonesia Baru yang lebih adil, sejahtera, demokratis dan manusiawi.
 

HIMBAUAN
21. Semua peserta menyadari bahwa tugas Sidang Agung menjadi awal pembaharuan hidup

menggereja seluruh Umat Katolik Indonesia. Karena itu Sidang menghimbau supaya perangkat pastoral di KWI, keuskupan-keuskupan dan paroki-paroki memfokuskan program mereka pada pemberdayaan komunitas-komunitas basis.
 

22. Sidang ini menyatakan bersatu dengan saudara-saudara di wilayah-wilayah yang terkena

pergolakan. Sidang menyatakan amat menyesalkan jatuhnya korban kekerasan dari semua pihak. Sidang menghimbau agar umat.kita tidak ikut dalam tindak kekerasan dan tidak mau dirasuki oleh balas dendam dan kebencian. Akhirnya Sidang menghimbau umat Katolik Indonesia secara nyata mau bersetiakawan dengan semua orang yang menderita dan menjadi korban dari pihak mana pun di Maluku, Sulawesi Tengah, Aceh, Kalimantan Barat, Timor Barat, Papua dan di semua daerah yang sedang bergolak.

Caringin-Bogor, 5 November 2000
(Puku101.15 MB)
 

 

Footnote :
1 Misteri Penjelmaan, Surat Penetapan Yubileum Agung Tahun 2000 (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2000), 5-6
2
 

Lokakarya V Office of the Laity, FABC; "Jemaat-jemaat Kristiani Basis dan Pelayanan-pelayanan Setempat" (Seri Dokumentasi FABC. No.1)

3 Musyawarah Paripurna V FABC, Bandung 1990
4


 

Lihat Eka Darmaputra, PhD. MEMBERDAYAKAN KOMUNITAS BASIS (Dari Perspektif dan Pengalaman Kristen Protestan), makalah diajukan pada Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2000, Caringin-Bogor, 1-5 November 2000. Yang dimaksud insignifikansi internal adalah keberadaan Gereja yang kian tidak terasakan makna fungsionalnya dalam kehidupan nyata warganya. Yang dimaksud dengan irelevansi eksternal alias insignifikansi sosial adalah ketika kehidupan serta dinamika internal Gereja terisolasi, teralienasi, atau seolah-olah tidak mempunyai sangkut-paut sedikit pun dengan dinamika sosial di Lingkungan dimana mereka berada.






PERNYATAAN SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA 2000


Akhirilah Konflik-konflik Berdarah

        Umat Katolik Indonesia dalam Sidang Agung tahun 2000 tidak dapat menutup mata terhadap situasi tanah air yang semakin mencemaskan. Dua setengah tahun sesudah tumbangnya pemerintahan Orde Baru terlihat bahwa kedaulatan hukum yang adil belum dikembalikan, kekerasan merajalela di mana-mana, perekonomian belum pulih dan terdapat tanda-tanda mengkhawatirkan bahwa tindak korupsi tidak berkurang, malahan justru bertambah.
        Dengan amat prihatin kami menyaksikan letupan kekerasan di mana-mana: Di antara kampung dan dusun, antara suku yang berbeda, antara penduduk asli dan pendatang, dan, yang paling memilukan, antar umat beragama. Umat Katolik Indonesia adalah bagian bangsa Indonesia, maka ia terlibat juga dalam suasana kekerasan, ia ikut merasa cemas dan terancam, ia ikut menjadi korbannya.
        Di dua propinsi Maluku sudah sejak hampir dua tahun merajalela konflik berdarah antara umat beragama di mana ribuan saudara sebangsa telah menjadi korban. Konflik serupa masih juga mengancam beberapa wilayah di bagian tengah Sulawesi. Di Aceh umat Katolik dengan cemas melihat ke masa depan yang belum jelas. Di Timor umat Katolik turut menanggung beban berat bersama lebih dari seratus ribu saudara-saudari dari Timor Leste yang menjadi korban penindasan. Di tanah Papua umat Katolik tidak bisa tidak terlibat dalam situasi yang bergolak dan penuh ancaman.
        Dalam situasi ini kami yang berkumpul dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia tahun 2000 menyatakan diri bersatu dengan umat-umat seiman di seluruh tanah air, dan terutama dengan mereka yang hidup dalam suasana terancam dan berkekurangan itu. Kami ikut merasakan kecemasan dan keputusasaan Anda.
        Sekaligus kami, peserta Sidang Agung, menyatakan dengan tegas solidaritas kami dengan semua korban kekerasan, dari golongan, suku dan umat beragama mana pun. Kami mengakui hak segenap saudara bangsa, dari agama, suku dan daerah mana pun, untuk hidup dengan aman, damai, sejahtera dan terhormat. Kami menghimbau agar kita semua, dari semua umat beragama, mau menolak kekerasan, berhenti saling membenci dan tidak mau dikuasai oleh rasa balas dendam. Kami menghimbau pada semua pihak, pertama-tama pada umat Katolik, ya kami sendiri, agar tidak melakukan tindak kekerasan terhadap siapapun, agar bersedia menerima baik saudara dari umat beragama lain dan bersedia hidup baik bersama mereka. Kiranya kita perlu berhenti selalu mencari kesalahan hanya pada pihak lain. Kami yakin bahwa kebaikan, belas kasihan dan pengampunan adalah lebih kuat daripada kebencian, kekerasan dan balas dendam. Kami mengingatkan para pimpinan dan panutan semua umat beragama agar mereka mengarahkan umat mereka ke sikap saling menghormati, saling bertoleransi dan menolak tindak kekerasan. Mari kita berusaha untuk mulai membangun kembali suasana toleransi positif yang tidak hanya membiarkan saja saudara atau saudari yang berbeda agama dan adat-istiadat hidup di antara kita dengan damai, melainkan menghormati dan menghargainya dalam ciri dan keyakinan-keyakinannya yang khas. Kami yakin bahwa rakyat sebenarnya mau hidup bersama dengan damai dan rukun. Marilah kita membangun sikap bahwa umat yang menjadi mayoritas mau memberi rasa aman, terlindung dan sejahtera pada umat-umat minoritas.
        Akan tetapi, adalah suatu kenyataan bahwa sekian banyak usaha dari umat-umat beragama untuk ke luar dari lingkaran setan kekerasan dan balas dendam kandas karena ada pihak-pihak luar yang campur tangan, mensabotase usaha ini dan memprovokasikan konflik-konflik baru. Kami tidak dapat menutup mata terhadap sekian banyak laporan bahwa aparat keamanan yang seharusnya membantu masyarakat untuk mencegah konflik, justru menjadi pemicu dan pelanjut konflik-konflik itu. Di Maluku, di Aceh, di Timor Barat, di Papua, dan di berbagai daerah lain ada usaha-usaha yang justru dengan sengaja memprovokasikan konflik-konflik atau dengan tindak kasar menghina perasaan dan kepekaan masyarakat setempat. Kenyataan yang sangat kami sesalkan ini adalah tanggung jawab Pemerintah Republik Indonesia.
        Tanpa mengurangi penghargaan terhadap usaha-usaha ke arah pemecahan yang telah diambil oleh Pemerintah, kami menyatakan: usaha-usaha itu tidak mencukupi. Pemerintah belum sekuat tenaga menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat menyelesaikan konflik-konflik mereka. Ada kesan dalam masyarakat bahwa Pemerintah belum menanggapi konflik-konflik itu sebagai sesuatu yang teramat serius. Konflik-konflik dalam masyarakat, termasuk yang mempergunakan simbol-simbol agama, hanya dapat dipecahkan oleh masyarakat sendiri. Akan tetapi hal itu hanya mungkin apabila Pemerintah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghentikan usaha-usaha pihak pengacau yang melanggengkan konflik-konflik itu.
        Maka Sidang Agung berseru kepada Pemerintah untuk mengambil tindakan nyata mengakhiri usaha-usaha pengacauan dan provokasi yang terus memperpanjang konflik-konflik dalam masyarakat.
        Akhimya kami dengan rendah hati mengaku kelemahan kami sendiri dalam memberi sumbangan terhadap kemajuan bangsa dalam keadilan dan perdamaian. Kami mohon rahmat Allah, bukan hanya untuk kami ini, umat Katolik, melainkan bagi seluruh bangsa Indonesia.

Caringin, Bogor
Senayan, Jakarta
5 November 2000






Bagian III

Lampiran:
Acara Penutupan SAGKI 2000 di Lapangan Tenis Tertutup Senayan,
Minggu, 5 November 2000


Kotbah Ketua KWI Mgr. Yosef Suwatan, MSC

PENDAHULUAN

Hari ini umat Katolik Indonesia, lewat kehadiran kita semua di tempat ini dengan perutusan-perutusan dari ke-34 keuskupan bersama dengan uskupnya yang telah mengikuti Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2000, bersama dengan umat-umat dari keuskupankeuskupan di sekitar Jakarta, ingin bersama-sama merayakan Yubileum Agung 2000.
Dalam pembacaan Kitab Suci pada kesempatan perayaan Ekaristi ini kita akan mendengar bagaimana Yesus mendoakan para murid-Nya dan semua yang menjadi percaya karena pewartaan Gereja agar mereka semua menjadi satu sama seperti Yesus bersatu dengan Bapa-Nya. Dan dari bacaan pertama, persatuan dan persaudaraan sempurna ini terungkap dalam peri hidup jemaat awal sebagai suatu komunitas persekutuan umat beriman.
Sekitar persekutuan umat beriman inilah, sebagai umat-umat basis yang ada di seluruh pelosok tanah air kita, SAGKI sudah berbincang, sudah ber-sharing satu sama lain dan kita mau melihat sejauh mana umat basis ini, kelompok basis, dengan melihat contoh teladan dari semangat jemaat perdana itu dapat menjadi kekuatan dalam kebersamaan dalam pelayanan dan dalam kesaksian Gereja di tengahtengah masyarakat.
Marilah dalam arti ini kita mulai perayaan syukur ini dalam kesadaran akan kekurangan dan keterbatasan kita. Karena itu saudara sekalian mari kita pada awal perayaan Ekaristi ini memuji Tuhan yang telah menghimpun kita dalam persekutuan, persaudaraan serta juga mohon pengampunan dan belas kasih-Nya.




HOMILI:

        Umat yang terkasih. Saya kira bacaan-bacaan yang kita dengarkan dalam Misa ini sudah cukup jelas dari dirinya sendiri. Barangkali tidak perlu kita menguraikan panjang lebar, tapi kita garis bawahi untuk kita renungkan dan kita endapkan bersama.
       Dalam suasana perjamuan malam terakhir Yesus berdoa untuk para pengikut-Nya. Bukan hanya pengikut-pengikut langsung yang mengenal Tuhan seperti para rasul dan murid-murid pada zaman Yesus, tetapi juga kita berdoa untuk orang-orang yang percaya kepada-Nya. Yesus berdoa juga untuk kita semua. Dan doa pada suasana perjamuan malam terakhir itu adalah doa agar mereka semua menjadi satu. Agar kita semua yang menjadi pengikut-pengikut Yesus yang percaya kepadaNya, yang mengikuti Dia sebagai jalan kebenaran dan kehidupan, menjadi satu. Supaya mereka semua menjadi satu. Namun bukan sekadar kesatuan hubungan persahabatan manusiawi saja: Supaya mereka menjadi satu sama seperti Engkau ya Bapa ada di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau. Agar mereka juga ada di dalam kita. Persatuan kita satu dengan yang lain sebagai umat Allah dalam Yesus Kristus. Persatuan yang diikat oleh persatuan kita dengan Allah dan dengan Yesus Kristus. Kita sebagai Gereja adalah satu persekutuan, satu kebersamaan umat beriman dalam Yesus Kristus ini.
        Doa Yesus ini menjadi lebih nyata lagi terwujud di tengah-tengah para pengikut, di tengah-tengah orang yang menjadi percaya kepadaNya oleh pewartaan para rasul sesudah peristiwa Pentakosta, sesudah Roh Kudus turun atas para rasul, turun atas umat Gereja-Nya. Kita dengar dari pembacaan yang pertama, Kisah Para Rasul bab 2 yang didahului dalam Kisah para rasul bab pertama tentang peristiwa Pentakosta itu, bagaimana rasul-rasul, murid-murid, yang semula berada dalam suasana kecemasan dan ketakutan, takut karena mereka adalah murid-murid dari Yesus yang sudah ditangkap, yang sudah diadili dan dibunuh mati di atas kayu salib di Golgota. Mereka tentu takut, khawatir jangan-jangan nasib murid-murid ini menjadi sama seperti nasib gurunya di puncak Golgota itu. Namun kehadiran Roh Kudus membaharui hati mereka dan membaharui seluruh muka bumi. Semangat Pentakosta memberanikan para rasul untuk membuka pintu dan jendela yang tertutup untuk keluar di tengah-tengah massa yang berkumpul di Yerusalem pada waktu itu dan memberikan kesaksian akan Yesus Kristus. Banyak orang yang percaya kepada Kristus sesudah peristiwa Pentakosta itu. Kisah Para Rasul mencatat ada sekitar 3000 orang yang dibaptis. Dari lingkungan pertama inilah kemudian kita dengar ceritanya dalam Kisah Rasul-rasul seperti dibacakan dalam pembacaan pertama tadi. Dikatakan mengenai umat yang pertama ini, jemaat awal ini, bahwa mereka menjadi percaya dan memberi dirinya dibaptis, bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Bertekun bukan dengan rupa-rupa kegiatan lain, tapi tekun dalam persekutuan, menganggap serius persekutuan itu, communio itu. Komunitas umat beriman adalah penting. Kita dibaptis dan percaya kepada Kristus bukan untuk keselamatan seorang diri, bukan menjadi orang Kristiani untuk menghayati iman kita sendiri-sendiri tetapi dalam kebersamaan dan persekutuan dalam komunitas. Dan komunitas ini berpusat pada ajaran para rasul, ajaran tentang Yesus Kristus seperti dikatakan pada akhir Injil Mateus bahwa para rasul, para murid harus pergi ke seluruh dunia untuk mengajarkan apa yang sudah mereka terima dari Tuhan Yesus, agar yang percaya menjadi murid-murid-Nya dan dibaptis dalam pertobatan dan keselamatan.
        Persekutuan ini kemudian suka berkumpul bersama. Masing-masing punya kesibukan kehidupannya sendiri, tetapi tanda kebersamaan itu harus terungkap dalam berkumpul bersama-sama. Untuk apa mereka berkumpul? Untuk memecahkan roti dan berdoa. Berarti doa, liturgi, menjadi bagian dari kehidupan umat atau jemaat awal ini, umat perdana ini.
        Saudara-saudari yang terkasih: Berkat bukan sekadar menikmati liturgi dan doa yang khusuk tersentuh, doa yang menyebabkan orang lain saling mengalami satu penghiburan rohani sampai mungkin menangis terharu. Tetapi juga doa yang menggerakkan mereka untuk berbuat sesuatu bagi sesamanya. Liturgi bukan meninabobokkan orang dalam suatu kenikmatan rohani tetapi semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu dan kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Selalu ada di antara mereka yang menjual harta miliknya lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Mereka peka terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya yang berkekurangan supaya masing-masing semua orang sesuai dengan kebutuhannya mendapatkan bagiannya.
        Saudara-saudari terkasih. Komunitas umat beriman adalah selalu komunitas yang terhimpun yang memberikan pelayanan kasih, yang peduli akan orang-orang yang susah, orang yang menderita. Sekali lagi penulis Kisah Para Rasul menegaskan, mereka tekun dan sehati. Mereka memecahkan roti di rumah-rumah jemaat secara bergilir. Mula-mula dikatakan mereka berkumpul tiap-tiap hari di bait Allah, satu pertemuan, satu ibadah bersama dalam kelompok yang besar, di Bait Allah. Tetapi juga mereka memecahkan roti di rumah-rumah jemaat secara bergilir. Bukan hanya berkumpul di gereja paroki yang besar di mana kita tidak saling mengenal satu sama lain (karena kalau gereja muat sampai seribu atau bahkan lebih, kita tidak kenal satu sama lain), tetapi dari kesatuan gerejani yang besar mereka merasakan kebutuhan untuk berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil bersama-sama di rumah-rumah jemaat secara bergilir.
        Inilah kebersamaan yang selama SAGKI di Wisma Kinasih menjadi refleksi dan sharing para peserta sidang yang datang dari ke-34 Keuskupan. Tiap keuskupan 10 utusan termasuk dan bersama uskupnya, berefleksi bagaimana kita sudah hidup menggereja, menggereja dalam Gereja yang besar, dalam Gereja sebagai suatu keuskupan sebagai suatu paroki, tetapi juga sebagai Gereja komunitas basis kelompok-kelompok kecil yang berdoa bersama, yang bersama-sama menekuni Kitab Suci. Bukan Kitab Suci yang lepas begitu saja dari kehidupan sehari-hari, tetapi Kitab Suci yang berbicara mengeriai situasi permasalahan yang ada di sekitar kelompok basis ini dan mencari penyelesaiannya atas dasar iman akan Yesus Kristus, mencari jalan hidup sesuai dengan firman Tuhan yang ada dalam Kitab Suci ini. Itulah yang mengasyikkan 381 utusan-utusan dari keuskupan, beserta mereka semua yang ikut mendampingi seluruh proses SAGKI 2000 itu. Dan kita melihat bahwa hal ini perlu untuk Gereja di Indonesia.
        Sebenarnya bukan hal baru tetapi selama sidang ini lewat sharing kelompok, diskusi, refleksi, bantuan para ahli dan masukan-masukan juga dari orang-orang yang kita mintakan, seluruh peserta persidangan menjadi sadar betapa pentingnya apa yang diteladankan oleh umat perdana itu untuk menjadi juga suatu gerakan yang menghidupkan, yang memberi vitalitas kepada kehidupan menggereja di tanah air kita. Bukan sebagai komunitas basis kecil yang lalu eksklusif menjadi semacam sekte yang tertutup dalam dirinya sendiri, tetapi suatu komunitas yang terbuka dengan lingkungan dengan masalah-masalah yang ada di masyarakatnya.
        Karena itu, mereka ada di tengah-tengah masyarakat, menjadi garam. Garam itu kalau tidak dicemplungkan di situasinya, tidak ada gunanya. Garam ada di tengah masyarakat. Menjadi terang. Terang itu harus juga menjadi satu kesaksian hidup. Kesaksian bukan dengan mulut menceritakan apa yang saya alami tetapi kesaksian yang tanpa kata-kata, dilihat dan dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya. Karena itu dikatakan dalam Kisah Para Rasul mereka disukai semua orang. Komunitas yang membuka diri yang kokoh dalam iman, bersumber pada firman Tuhan, dalam kesatuan dengan Kristus dan kesatuan satu sama lain. Memberikan pelayanan, juga pelayanan-pelayanan yang kadang membawa risiko-risiko di dalam kehidupan kita. Dalam sidang dan sharing-sharing kami menemukan suatu pengalaman kelompok basis kecil sederhana di Ambon dari kelompok perempuan yang peduli, ada suster, ada seorang hajjah, ada seorang ibu pendeta yang bersama-sama dalam merenungkan sabda Tuhan. Dalam keterbukaan akan kebutuhan masyarakat yang mengalami dalam hal ini kekerasan-kekerasan, penderitaan, mencari jalan untuk menghimpun dan mencari jalan untuk satu jalan damai, rekonsiliasi, saling memaafkan, saling mengampuni, membangun suatu hidup yang, baru agar semua orang mengalami kegembiraan. Mereka bersuka cita atas kehadiran komunitas basis ini. Ini suatu contoh yang memang agak terbatas kegiatannya, tapi langsung, tepat guna, tepat sasaran, sesuai dengan situasinya. Dan yang penting juga bukan kita cari-cari, bukan kita sengaja mau tambah-tambah anggota. Dengan sendirinya karena orang suka, orang menyenangi cara hidup kristiani sedemikian itu, setiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan. Lewat komunitas basis ini kita membawa keselamatan bagi banyak orang. Saya kira itu saja yang ingin saya angkat dari bacaan-bacaan pada pagi hari ini. Saya juga mau mengungkapkan, bahwa hasil perenungan, hasil refleksi, hasil sharing kita bersama-sama yang sudah dirumuskan dengan satu proses yang cukup alot sehingga sampai perumusan yang terakhir pun masih juga ada beberapa perubahan. Tadi malam atau tadi pagi jam dua atau tiga pagi perumus menyelesaikan apa yang diberi judul Rangkuman Hasil SAGKI 2000. Dengan ini saya mengumumkan kepada seluruh umat yang hadir di sini, kepada seluruh umat Katolik se-Indonesia, agar hasil dari Sidang Agung ini kiranya bisa menjadi inspirasi. Tidak mau dikatakan langsung disebut pedoman, suatu petunjuk. Bacalah baik-baik proses yang dengan bagus singkat, jelas, mengena, diuraikan dalam Rangkuman Hasil SAGKI ini yang dikatakan: Hasil Sidang Agung ini diharapkan dapat membantu, mendorong dan memberdayakan berbagai komunitas basis dengan jejaringannya dimanapun disesuaikan dengan kondisi, situasi, kemampuan dan aspirasi serta kepentingan lokal. Kita tidak mau ada peraturan atau ada himbauan atau pedoman yang sama seragam di seluruh tanah air kita. Kita melihat keanekaragaman yang ada dalam situasi dan kondisi umat-umat kita. Hasil Sidang Agung ini diharapkan juga dapat menjadi inspirasi untuk mendorong tumbuhnya berbagai komunitas basis di mana komunitas basis belum dimulai dan berkembang. Dengan demikian pengembangan berbagai komunitas basis dengan jaringannya akan mengikuti pola desentralisasi. Kita beri kepercayaan kepada kelompok-kelompok untuk tumbuh berkembang sesuai dengan situasi yang ada dalam contoh teladan dari umat yang perdana ini.
        SAGKI 2000 telah berakhir. Sidang Agung ini akan menjadi suatu peristiwa sejarah yang bermakna bila diikuti dengan tindak lanjut nyata di tahun-tahun mendatang. Maka Sidang Agung ini hendaknya kita jadikan suatu awal baru dalam kehidupan menggereja dengan memberdayakan komunitas basis yang terbuka menuju Indonesia baru yang lebih adil, sejahtera, demokratis dan manusiawi.
        Kiranya inilah tugas mereka masing-masing. Bukan sekedar untuk kembali di tempat mereka masing-masing. Bukan sekadar membawa rumusan-rumusan yang sudah tertulis dan tercetak ini tetapi untuk menjadikannya suatu kenyataan yang mendarah daging dalam situasi dan kondisi Anda semuanya. Dengan demikian kita menyatakan kepada seluruh umat hasil Sidang Agung ini, hasil kita semua, bukan hanya hasil para uskup, para pastor, tetapi dari seluruh proses adalah sungguh-sungguh suatu kebersamaan umat beriman, para biarawan-biarawati, para tertahbis, imam dan uskup, serta kaum awam bersama-sama menghasilkan suatu hasil berbagi pengalaman dan pemikiran yang boleh dan bisa menggerakkan komunitas basis sehingga Gereja kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang ada. Semoga Tuhan memberkati kita semuanya. Amin.


 


Sambutan Ketua Panitia Pelaksana Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2000 Raymond Toruan


        Yang mulia Bapak Presiden Republik Indonesia Kiai Haji Abdurrahman Wahid, Yang Terhormat Para Petinggi Negara, Yang Terhormat Para Bapa Uskup Konferensi Waligereja Indonesia, Yang Terhormat Para Undangan, Yang Terkasih umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta, Yang Terkasih utusan umat Katolik Keuskupan Bogor, Bandung, dan Tanjung Karang, Yang Terkasih Para Peserta Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2000 dari 34 keuskupan dari seluruh Indonesia.
        Selamat datang di Lapangan Tennis Tertutup Senayan ini. Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran Saudara-saudari sekalian dalam acara khusus ini, acara penutupan resmi Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2000 yang telah berlangsung sejak hari Rabu tanggal l November lalu di Wisma Kinasih Cemerlang, Caringin, Jawa Barat.
        Lima tahun yang lalu kita bertemu dalam kesempatan serupa di tempat ini, untuk menutup secara resmi Sidang Agung KWI-Umat yang diselenggarakan dari tanggal 28 Oktober sampai dengan 2 November 1995, dalam rangka Pesta Emas Republik Indonesia. Akan tetapi kita semua menyadari dan dapat merasakan perbedaan yang sangat besar antara suasana kita di tengah Pesta Emas Republik Indonesia tahun 1995 itu, dengan suasana kita dalam tahun Yubileum Agung sekarang ini menjelang datangnya milenium ketiga.
        Bapak Presiden, para undangan dan hadirin sekalian. Lima tahun yang lalu, yang berlangsung adalah Sidang Agung KWI-Umat. Konferensi Waligereja Indonesia mengadakan pertemuan nasional dengan Umat Katolik Indonesia. Ketika itu para Bapak Uskup dari seluruh Indonesia bertemu dengan utusan Umat Katolik dari seluruh Indonesia. Seperti guru bertemu dengan para muridnya, mencerminkan Gereja yang mengajar. Dalam pertemuan itu, para Waligereja kita menyampaikan Pedoman Gereja Katolik Indonesia, hasil refleksi selama empat tahun atas pelaksanaan ajaran-ajaran sosial Gereja.
        Sekarang tidak demikian. Sidang Agung kali ini adalah Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia, sidang yang tidak menghadapkan para Waligereja Indonesia dengan umatnya. Dalam Sidang Agung ini para Bapak Uskup menjadi peserta bersama-sama dengan 305 peserta lainnya, berbagi pengalaman dan suka-duka dalam pembentukan dan pengembangan komunitas-komunitas basis dari 34 Keuskupan seluruh Indonesia. Sidang Agung kali ini lebih mencerminkan Gereja yang mendengarkan dan menyimak.
        Sidang Agung lima tahun lalu menerbitkan buku pedoman untuk dijadikan pegangan bagi umat Katolik. Sidang Agung kali ini mencatat hasil berbagi pengalaman dan pemikiran antara Umat Katolik dari berbagai komunitas basis berbagai daerah di Indonesia. Sidang Agung lima tahun lalu menggariskan Arah Dasar Gereja Katolik Indonesia. Sidang Agung kali ini lebih mendorong dan memperkaya pengembangan berbagai komunitas basis dengan jaringannya di mana pun, disesuaikan dengan kondisi, situasi, kemampuan, aspirasi serta kepentingan lokal.
Panitia Sidang Agung lima tahun lalu dipimpin dan diarahkan oleh para Bapak Uskup. Panitia Sidang Agung kali ini dipimpin oleh awam, baik Panitia Pengarah, maupun Panitia Pelaksananya. Gereja Katolik Indonesia yang mendengarkan, sekaligus juga sedang mereformasi dirinya sendiri, agar lebih mampu menyumbangkan pikiran dan tindakannya bersama-sama dengan umat lain di negeri tercinta ini, demi suatu Indonesia Baru yang semakin adil, semakin sejahtera, semakin demokratis, semakin manusiawi.
        Bapak Presiden, para undangan, dan hadirin sekalian. Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2000 ini baru merupakan momentum awal dari suatu proses yang sudah pasti akan sangat panjang.
Izinkanlah kami atas nama seluruh panitia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala dukungan semua pihak yang telah memungkinkan sidang ini berlangsung dengan lancar dan sekaligus dinamis. Namun sekaligus juga kami mohon doa restu dan dukungan agar momentum ini tidak berhenti nanti sore, melainkan terus menggelinding demi Indonesia Baru yang kita cita-citakan bersama.
        Secara khusus kami ingin menggunakan kesempatan khusus ini untuk mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang paling tulus kepada seluruh anggota panitia, yang telah bekerja berbulan-bulan untuk persiapan dan penyelenggaraan Sidang Agung ini. Sebagian terbesar di antaranya bekerja sukarela, tanpa kenal waktu.
        Bapak Presiden, para undangan, dan hadirin sekalian. Tiada gading yang tak retak. Kami juga pasti telah melakukan kesalahan-kesalahan, yang barangkali sampai menyakitkan hati orang, betapapun kami tidak bermaksud demikian. Izinkanlah kami menggunakan kesempatan ini juga untuk mohon maaf yang sebesar-besamya kepada semua pihak atas segala kesalahan atau kekhilafan yang terjadi.
        Akhir kata, dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, marilah kita bersama-sama menyimak dan merenungkan apa yang masih akan digelar di sini siang hari ini. Terima kasih.

 

Sambutan Uskup Agung Jakarta, Julius Kardinal Darmaatmaja,SJ


        Yang kami muliakan Bapak Presiden Kiai Haji Abdurrahman Wahid, Yang Mulia Dutabesar Takhta Suci Mgr. Renzo Fratini, Yang kami hormati Bapak Menteri Agama Bapak Kiai Haji Tolchah Hasan, Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Bapak Sutiyoso, para tokoh agama dan pemerintahan, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia beserta para bapak uskup, para pastor, para bruder, suster, beserta umat Katolik yang terkasih. Selamat datang di tengah-tengah kami.
        Kehadiran bapak Presiden dan para pejabat pemerintah untuk hadir di tengah-tengah kami pada saat ini sungguh kami syukuri dan kami pandang sebagai tanda perhatian dari pihak Pemerintah terhadap kami umat Katolik, bagian tak terpisahkan dari kesatuan bangsa Indonesia.
        Kepada yang Mulia Dutabesar Vatikan, Your Exellency, Your presence expresses our union with our Holy Father, John Paul II, and through you with the whole Church. So thank you for your presence.
        Terima kasih pula kami haturkan kepada para pimpinan Gereja Kristen yang tergabung pada PGI. Kami merasa bahwa bersama Anda kami mengungkapkan kebersamaan kami sebagai murid-murid Yesus Kristus. Terima kasih atas kehadiran Anda.
        Kami syukuri kehadiran tokoh-tokoh agama dan kepercayaan lainnya. Kami sungguh mengucapkan terima kasih karena memang sudah selayaknya sebagai suatu kekuatan moral berdasarkan iman dan kepercayaan, kita bersama-sama mengemban tugas kewajiban untuk memberikan sumbangan maksimal bagi tegaknya kehidupan moral bangsa dan masyarakat kita. Kehadiran Anda bersama kami, kami syukuri tak lain juga karena mengungkapkan suatu rasa kebersamaan bersama kami.
        Bapak Presiden dan para hadirin yang kami muliakan. Menyambut Sidang Agung yang baru saja selesai, yang telah begitu baik diutarakan oleh Ketua Panitia Pelaksana, saya ingin menyampaikan sedikit lebih lanjut. Bahwa yang ingin kami tekankan dalam Sidang kali ini adalah kami ingin semua bersama-sama, baik umat dan pimpinan, menyatu dalam satu gerak. Tujuan pokoknya ialah kami ingin memancarkan persaudaraan dan kualitas beriman dari kelompok-kelompok umat di tingkat paling bawah. Tetapi sekaligus dengan demikian meningkatkan kualitas persaudaraan, kebersamaan dan pelayanan kepada sesama, entah itu tetangga dan mereka yang hidup serta bekerja dekat dengan kami. Semoga kebersamaan ini juga mampu mendobrak segala penghalang yang ada. Maka semoga persaudaraan kali ini menjadi persaudaraan yang tanpa halangan oleh perbedaan apapun juga.
        Kami ingin menyuburkan relasi harmonis dengan semangat saling menghargai dan kemauan bekerjasama yang tinggi dengan semua warga, terlebih di tingkat basis atau di lingkungan hidup dan kerja sehari-hari. Melihat adanya semangat dan keinginan sama di tengah masyarakat untuk meningkatkan persaudaraan yang akhir-akhir ini justru di berbagai tempat dirusakkan, maka kami, meskipun kelompok kecil, kami terdorong juga meneruskan usaha yang sudah ada dan berani memulai di tempat-tempat yang belum ada. Bersama dengan masyarakat setempat kami ingin memberi sumbangan untuk terciptanya apa yang telah disebut dengan persaudaraan sejati antar warga masyarakat datu antar teman sekerja di tempat kerja masing-masing. Kebersamaan itu kami harapkan menjadi kekuatan moral dan sosial bersama untuk meningkatkan budaya hormat akan martabat manusia, menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan terlebih persaudaraan.
        Ajaran kasih kepada Allah dan sesama yang merupakan pilar utama kehidupan Kristiani itulah yang ingin kami amalkan dengan lebih tekun dan konsekuen, sambil menyadari segala kekurangan kami sendiri di situ. Kami sadar bahwa tidak mudah mengamalkan cinta kepada Allah yang tak terpisahkan dari kasih kepada sesama manusia. Praktik hidup kerap lain. Allah dapat tetap diusahakan untuk kelihatan disembah dan dipuji tetapi tidak tercermin dan terwujud lewat pelaksanaan kasih kepada sesama. Bahkan terkadang kasih terhadap sesama dilalaikan. Padahal menurut ajaran iman kami hukum kasih kepada sesama disamakan dengan hukum kasih kepada Allah.
        Hal ini kami baca dalam Injil Mat 22:37-39. Sedangkan kasih kepada sesama harus menjadi bukti kebenaran dan ketulusan kasih kepada Allah. Dalam surat pertama Santo Yohanes ditegaskan demikian: Jikalau seseorang berkata aku mengasihi Allah dan ia membenci saudaranya maka ia adalah pendusta. Karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Dan perintah itu, kita terima dari Dia, "barangsiapa mengasihi Allah dia harus juga mengasihi saudaranya". Demikian surat pertama Santo Yohanes bab 4:20-21. Dosa terhadap sesama manusia adalah dosa terhadap Allah sendiri. Ajaran iman inilah yang ingin kami amalkan dengan lebih tekun dan konsekuen di tengah umat dan masyarakat.
        Bapak Presiden dan hadirin yang kami muliakan. Kami sadar bahwa banyak hal yang lain telah terjadi dan tercapai di negara ini. Meskipun tidak termasuk tema pokok persidangan, karena tema pokoknya adalah membangun, memberdayakan umat basis, namun hal-hal berikut terungkap dalam pembicaraan kami dan kami ingin juga mengungkapkan isi hati, harapan dan permohonan berikut ini kepada Bapak Presiden, para pemimpin dan tokoh-tokoh umat beragama, dengan catatan bahwa apa yang kami kemukakan bukan selalu terjadi di seluruh Indonesia tetapi karena kami mendengar dari tempat ini begini, dari tempat itu begitu, maka kalau dijumlah menjadi besar dan kelihatannya banyak dan bisa menyesatkan kalau orang tidak teliti dalam membacanya. Maka catatan ini penting bahwa ini bukan terjadi di mana-mana tetapi toh terjadi.
        Maka dari itu, kami, seluruh umat Katolik yang berkumpul disini bersama dengan warga masyarakat yang hidup dalam tingkat akar rumput ingin menyatakan dambaan terciptanya kepastian dan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat dan bangsa kita. Damai yang kita maksud adalah damai karena ada pengampunan satu sama lain setelah terjadi perselisihan pribadi ataupun kelompok yang terkadang sulit dielakkan. Kami lelah dengan adanya permusuhan dan kerusuhan antar kelompok yang tampak berkepanjangan dan di sana-sini tampak adanya gejala tidak dicegah oleh yang bertugas atau yang berwenang. Kami mendambakan damai, damai karena hukum yang adil dijunjung tinggi, yang salah dipersalahkan dan dihukum, yang benar dibenarkan. Di muka hukum semua warga sama kedudukannya. Kami gelisah karena banyak kasus penyelewengan diberitakan, tetapi rasanya banyak yang tak diselesaikan. Kami cemas mengalami dan mendengar adanya sementara orang yang seakan-akan merasa berhak untuk bertindak dan main hakim sendiri, bahkan yang menyedihkan sampai pada yang membakar orang hidup-hidup. Kami mendambakan damai karena ada kesadaran tinggi untuk menciptakan persaudaraan nasional, persaudaraan yang dilandasi saling peduli terhadap sesama warga dan bangsa, peduli akan kebutuhan hidup masing-masing, termasuk kebutuhan hidup sebagai umat beragama. Damai yang kami maksudkan adalah damai karena semua dan masing-masing warga peduli akan kesejahteraan bersama, bahu-membahu memperjuangkan keadilan sosial bagi sesamanya. Damai karena kalau satu orang warga menderita yang lain berbela rasa.
        Bapak Presiden dan hadirin yang saya hormati, kami kurang lebih mengungkapkan dambaan yang terdengar, yang terungkap dalam persidangan yaitu mendambakan pulihnya kembali persaudaraan nasional berwawasan Nusantara, persaudaraan yang mantap karena ada pengakuan akan keragaman, ada kesejahteraan yang merata dan keadilan bagi semua, bahkan perhatian khusus kepada warga masyarakat yang ketinggalan atau lama terabaikan. Kami mendambakan agar unsur Pemerintah mulai dari pusat sampai ke tingkat paling bawah melayani secara tulus, bersih dari pamrih-pamrih pribadi dan korupsi, bersih dari berita-berita penyelewengan keuangan atau kekuasaan. Kami mendambakan Pemerintah mengerahkan seluruh daya dan kekuatan menyelesaikan konflik-konflik berdarah di Aceh, di Kalimantan Barat, di Papua, di Timor Barat dan di berbagai tempat lainnya yang mungkin tak tersebutkan di tanah air ini. Hendaknya Pemerintah mempertimbangkan kembali cara-cara yang selama ini dipakai agar menyesuaikan dengan nilai adat dan budaya setempat serta memberi ruang yang luas bagi inisiatif masyarakat setempat. Karena adakalanya dirasakan bahwa sedang berjalan suatu proses yang baku menurut adat setempat, semua ini dibuyarkan karena suatu campur tangan dari luar. Kami mendambakan aparat keamanan yang di mana-mana sungguh-sungguh menjaga keamanan dan mencegah timbulnya kerusuhan dengan tindakan adil dan benar, tegas, tidak pandang bulu tetapi tetap dalam kerangka hukum. Kami mohon maaf kalau ungkapan-ungkapan ini mungkin terdengar keras, tetapi seperti catatan kami tadi ungkapan ini muncul dalam persidangan dan saya mencoba menangkap dan mengungkap kembali.
        Bapak Presiden, dan hadirin yang kami hormati. Sebenarnya dengan itu semua, baik dengan program mendalam dan iman, maupun dengan mengeluh dan mengesah, kami umat Katolik sebenarnya didasari oleh kemauan dan tekad untuk ikut serta dalam usaha Reformasi di segala bidang kehidupan bangsa dan negara kami bersama semua pihak yang menginginkan adanya pembaharuan kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.
        Bapak Presiden. Kami akhiri sambutan kami ini dan setelah ini kami mengundang Bapak Presiden untuk menyampaikan sambutan yang sudah kami nantikan bersama-sama. Sekian, terima kasih.
 

 

Pidato Presiden Republik Indonesia Kiai Haji Abdurrahman Wahid
DI ACARA PENUTUPAN SAGKI DAN PEMBUKAAN SIDANG SINODAL KWI 2000


        Yang terhormat tuan rumah Romo Kardinal, Saudara Ketua Panitia, Raymond Lumban Toruan -Raymond itu Arabnya, Rahman - Para Menteri, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia, Romo Suwatan, dan para uskup yang ada di sini, para tamu, para hadirin dan hadirat sekalian.
        Sewaktu berada di sini, masuk ruangan ini, saya teringat saudara saya yang telah meninggal, yaitu Romo JB. Mangunwijaya. Beliaulah yang dalam banyak hal menghantar saya pada berbagai-bagai masalah. Dengan sikap tulusnya hidup beliau, bahkan yang maaf saja ini Bapak Suwatan dan Romo Kardinal, kadang bertabrakan dengan hirarki Gereja. Tapi itu semua menunjukkan beliau mengabdi kepada rakyat. Beliau yang memperkenalkan saya kepada apa yang disebut-sebut tadi, yaitu Communaute de base, komunitas basis. Mungkin kita boleh tidak setuju dengan Romo Mangunwijaya, tapi satu hal yang menarik bagi saya adalah, bahwa dia patut diteladani. Bagaimana dia mengorbankan diri begitu rupa untuk kepentingan bangsa dan negaranya.
        Dulu untuk saya di gereja AM. Sangaji, beliau menyediakan sebuah tikar sholat ditaruh di atas lemari. Kalau saya datang diberikan kepada saya bilangnya, "saya taruh di atas lemari supaya tidak didekati anjing". Saya tidak tahu bagaimana nasibnya tikar sembahyang itu.
        Begitu juga waktu saya masuk, saya mendengar sajian musik yang begitu indah, langsung teringat kepada sebuah hal. Yaitu, bahwa lagu kematian umat Katolik di Eropa, salah sebuah negara di Eropa, menjadi sumber bagi sebuah himne yang sangat terkenal di negeri ini. Yang bersangkutan menceritakan kepada saya, apakah berdosa? Tidak!
        Karena Anda justru menghidupkan warisan orang Katolik itu dan Anda jadikan warisan bangsa ini. Saya tidak akan menyebutkan namanya, orang itu dan lagu itu sebab nanti anda tidak mau menyanyi lagu itu lagi karena dianggap plagiat.
        Jadi masuk kemari tadi timbul kenang-kenangan bermacam-macam dalam benak saya. Ini menunjukkan bahwa bagi saya Gereja Katolik itu bukan sesuatu yang jauh, asing. Itu merupakan suatu hal yang sangat intim. Karena itu saya merasa sangat berbahagia berada di sini, dalam hajatan yang diadakan oleh umat Katolik beserta Wali Gerejanya. Juga saya mengucapkan dengan berakhirnya Sidang Agung Gereja Katolik yang baru berakhir di wisma Kinasih di Bogor. Saya baru tahu namanya juga kemarin dari Romo Kardinal. Selama ini tahunya cuma Caringin, begitu saja.
        Dalam hat ini apa yang diungkapkan Romo Kardinal merupakan satu cambuk bagi kita semua.Walaupun tanggung jawab terakhir berada di tangan saya selaku pemimpin pemerintahan.Tapi saya yakin bahwa Gereja dan umat Katolik akan bersama-sama dengan saya dan teman-teman untuk menertibkan keadaan, mengembalikan kedaulatan umum. Segala macam dambaan dan dorongan tadi saya lihat tidak sebagai keluhan orang Katolik, itu keluhan orang Indonesia. Karena keluhan itu juga keluhan saya juga. Meskipun saya ini beragama lain. Mudah-mudahan yang akan datang, kita mampu memperbaiki keadaan itu sehingga dambaan yang dikemukakan tadi akan terwujud.
        Namun untuk sampai ke sana kita mesti mengerti proses sosial yang terjadi. Salah satu proses yang harus kita alami adalah proses terjadinya pendangkalan agama. Khususnya di kalangan kami kaum muslimin. Agama hanya dipandang sebagai proforma oleh sementara pihak, sampai muncul semboyan-semboyannya pada tempatnya, yang tidak manusiawi, sehingga membunuh naluri-naluri kemanusiaan kita.
        Bahkan akhir-akhir ini mengacu kepada hal yang sama sekali tidak terduga sebelumnya. Yaitu kalau semula saya harus bersiap-siap untuk menghadapi pertentangan horisontal antar kelas, kelas berpunya dan kelas tidak berpunya, sekarang malah menjadi sebaliknya. Seolah-olah di antara kaum muslimin terjadi perbenturan di antara kaum Modernis/ Muhammadiyah dengan kaum Tradisionalis/ Nahdlatul Ulama. Saya sendiri bertanya: lho kok jadi begini. Dalam demokrasi seharusnya kita tidak lagi menggunakan okol, kekuatan jasmani, melainkan akal dan argumentasi dalam dialog terus menerus.
        Inilah tantangan yang harus kita hadapi. Itu semua rangkaiannya sangat rumit. Penyebabnya tidak cuma satu saja. Itu merupakan sebuah keadaan yang harus kita jalani saat ini. Muhammadiyah dan NU itu adalah bagian sangat besar dari bangsa ini. Sehingga apa yang terjadi pada kedua organisasi ini langsung mengenai jantung di tempat kita. Karenanya, saya merasa bahwa tugas yang kita hadapi untuk melerai keadaan ini bukanlah keadaan yang mudah, tetapi juga tantangan yang harus dihadapi. Mudah tidak mudah harus dihadapi. Seperti pepatah dalam bahasa Jawa, pohon yang tinggi harus berani menghadapi terpaan angin yang kuat. Dalam hal ini bisa saya katakan bahwa dalam ruwatan di Universitas Gajahmada pada waktu yang lalu, saya nyatakan bahwa Kesultanan Yogya dalam pimpinan Sultan HB X sejak semula sudah mampu menunjukkan kemampuan merengkuh dua sisi kehidupan, di tangan kiri menggandeng kaum Tradisionalis, yang bersumber di dua pihak yaitu: Mlangi dan Bantul. Di sisi lain Kesultanan Yogya juga merupakan tempat di mana kaum Modernis diberi tempat. Karena kita semua tahu bahwa Haji Ahmad Dahlan itu adalah penghulu kraton.
        Kemampuan seperti inilah - untuk tidak mau menang sendiri - tetapi mencari penyelesaian, baik melalui dialog terbuka dan pikiran buat hidup bersama atau rekonsiliasi nasional akan tercapai, mengacu kepada kehendak dari teman-teman di kalangan umat katolik, yaitu perikemanusiaan.
Oleh karenanya saya merasa bahwa peluang untuk berbicara kepada anda semua di sini bukan saja merupakan peluang yang baik untuk menyampaikan keinginan agar kita semua bersatu, tetapi ini juga merupakan peluang untuk menyatukan perasaan.
        Kalau kita menginginkan rekonsiliasi penuh, tentu faktor perasaan di samping faktor pikiran harus diutamakan. Akan lebih jauh kita harus melihat kedua-duanya disublimasikan di dalam prinsip-prinsip kemanusiaan yang dianut oleh umat dan Gereja Katoiik. Tadi Pak Tolchah Hasan mengatakan kepada saya, hal itu juga ada dalam Islam. Memang, yang dikatakan oleh Romo Kardinal tadi kita harus memahami perbedaan melalui persaudaraan nasional. Itu ada dalam Islam.
        Keragaman kita, itu merupakan sesuatu yang inheren dalam Islam. Hanya terkadang kita lupa bahwa itu ada. Jangankan demikian, dalam sebuah diskusi saya dianggap bukan muslim yang baik. Karena lupa pada ujar-ujar, "bersikap keras kepada orang-orang kafir dan santun kepada sesama kita". Saya jawab, supaya orang itu belajar kembali ke pondok pesantren. Karena kalau Quran mengatakan orang kafir itu adalah orang-orang yang tidak mengakui adanya Tuhan. Bukan orang Kristen dan bukan Orang Yahudi. Orang itu nggak tahu Quran.
        Nabi Muhammad memberikan ungkapan sangat baik. Kalau saja anak Rasulullah mencuri akan kupotong tangannya. Ini tanda kasih sayang. Karena apa? Itu menunjukkan kepatuhan Beliau kepada hukum. Hukum waktu itu masih mengajarkan potong tangan. Nah, melalui kesadaran hukum inilah harus didudukkan hubungan pribadi kita kepada siapa pun, termasuk-kepada anak dan ayah. Jadi ini juga menunjukkan cinta kasih, bukan semata-mata kebencian.
        Hal-hal seperti inilah yang mengharuskan kita ini untuk memahami perbedaan-perbedaan sebagai hak yang inheren dari umat dalam kehidupan. Sering saya nyatakan bahwa orang Islam saat ini menghadapi masalah berat. Di antaranya, antara syarat universal hak-hak asasi manusia dan hukum Islam ada pertentangan. Kalau dalam hak-hak universal itu maka berpindah agama adalah hak inheren dari manusia. Kalau dalam hukum Islam yang sampai sekarang belum berubah, berpindah agama dari Agama Islam ke agama lain adalah tindakan murtad yang patut dihukum mati. Ini adalah pertentangan yang sangat pelik bagi kita. Ini tidak kita selesaikan dengan baik, malah justru dihembus-hembuskan perbedaan itu sehingga akhirnya mengaburkan penyelesaian-penyelesaian yang seharusnya dibuat. Karena itulah, saya rasa pertemuan kali, Penutupan Sidang Agung sekaligus Pembukaan Sidang Sinodal merupakan tempat berunding untuk membicarakan tindakan-tindakan yang seharusnya dilakukan, dan kalau hal itu disampaikan kepada pemerintah maka akan kita pedomani, di samping yang lain-lain untuk menjadi cara-cara penyelesaian masalah di antara kita dan apa yang harus kita tegakkan.
        Demikianlah para hadirin dan hadirat, apa yang bisa saya sampaikan dalam Sinodal Tahunan ini. Selamat bersinodal. Assalamu `alaikum Warohmatullahi Wabarrokaatuh.