Notitiae 11 (1975) 202-205: Dance in The Liturgy (Terjemahan)
TARIAN LITURGIS, SEBUAH EKSPRESI KEGEMBIRAAN
SPIRITUAL
Tarian bisa mencadu sebuah seni: sebuah penggabungan (synthesis) atas
seni-seni terukur (musik dan puisi) dan seni-seni bidang/ruang (arsitektur,
patung, lukisan)
Sebagai suatu seni yang, dengan menggunakan tubuh, mengekspresikan perasaan
manusia, tarian secara khusus diadaptasi untuk menandakan kegembiraan.
Karenanya, diantara para mistik, kita menemukan interval-interval tarian
sebagai suatu ekspresi atas kepenuhan cinta mereka kepada Allah. Ingat akan
kasus-kasus dari St. Theresa of Avila,
St. Philip Neri, St. Gerard Majella.
Ketika sang Angelic Doctor [ie. St. Thomas Aquinas] ingin
merepresentasikan suatu firdaus, dia merepresentasikannya sebagai sebuah tarian
yang dilakukan oleh para malaikat dan para kudus.
Tarian bisa berubah menjadi doa yang mengkespresikan dirinya [ie. doa itu
sendiri] dengan suatu gerakan yang menggerakkan seluruh keberadaan, jiwa dan
tubuh. Umumnya, ketika roh menaikkan diri kepada Allah dalam doa, hal ini juga
melibatkan tubuh.
Seseorang bisa berbicara mengenai doa dari tubuh. [Doa dari tubuh ini] bisa
mengekspresikan pemujiannya, permohonannya dengan gerakan-gerakan, sebagaimana
dikatakan bagaimana bintang-bintang dengan evolusi mereka [ie. maksudnya
pergerakan bintang] memuji sang Pencipta (bdk. Baruk 3:34).
Bermacam contoh akan tipe doa seperti ini ada di Perjanjian Lama.
Ini juga berlaku terutama untuk masyarakat primitif. Mereka mengekspresikan
sentimen religius mereka dengan gerakan yang memiliki ritme.
Diantaranya, ketika tiba pada pertanyaan mengenai penyembahan, kata-kata yang
terucapkan menjadi senandung, dan gerakan tubuh yang menuju dan berjalan ke
keilahian mengubah diri dalam sebuah langkah tari.
Diantara para Bapa [Gereja] dan penulis gerajawi dan didalam teks-teks konsili
disebutkan mengenai tarian, sebuah evaluasi [mengenai tarian tersebut], sebuah
komentar atas teks alkitab dimana disebut mengenai tarian; lebih sering adalah
adanya pengutukan terhadap tarian-tarian profane (ie. tidak layak
terhadap sesuatu yang suci) dan ketidakteraturan yang ditimbulkan oleh
tarian-tarian tersebut.
Dalam teks-teks liturgi, sering disebutkan mengenai tarian para malaikat dan
para terpilih di firdaus (bdk. "diantara bunga Lili kau makan, dikelilingi
oleh para kelompok perawan yang menari") untuk mengekspresikan
"kegembiraan dan "jubilasi" (ie. perasaan gembira yang
menggejolak) yang meng-karakter-kan keabadian.
Tarian dan Penyembahan
Tarian tidak pernah dibuat sebagai sebuah bagian integral dari penyembahan
resmi Gereja Latin.
Bila gereja-gereja lokal telah menerima tarian, kadang-kadang bahkan dalam
bangunan gereja, itu adalah dalam rangka sebuah pesta untuk mewujudkan sentimen
kegembiraan dan devosi. Tapi hal tersebut [ie. tarian tersebut] selalu ditempatkan
diluar pelayanan liturgi.
Keputusan konsili sering mengutuk tarian religius karena [tarian tersebut]
hanya membantu sedikit bagi penyembahan dan karena [tarian tersebut] bisa
menyimpang menjadi ketidakteraturan.
Sebenarnya, untuk mendukung tarian dalam liturgi, sebuah argumen bisa ditarik
dari kutipan dari Konstitusi atas Liturgi Keramat, Sacrosanctum Concilium,
dimana diberikan norma-norma bagi adaptasi dari liturgi pada karakter dan
tradisi-tradisi dari berbagai orang:
"dalam masalah yang tidak mempengaruhi iman atau kebaikan seluruh
komunitas, Gereja tidak ingin, bahkan dalam liturgi, untuk mengenakan suatu
keseragaman yang kaku; sebaliknya, dia [ie. Gereja] menghormati dan menjaga
ke-jenius-an dan talenta-talenta dari berbagai ras dan orang. Apapun dalam cara
hidup mereka yang tidak tak terpisahkan dengan takhyul dan kesalahan, dia [ie.
Gereja] melihat dengan penuh kebaikan dan jika mungkin menjaganya secara utuh,
dan kadang bahkan mengakuinya dalam Liturgi asalkan hal tersebut sesuai dengan
semangat liturgi yang asli dan otentik."[1]
Secara teoritis, bisa dideduksikan dari kutipan tersebut bahwa beberapa bentuk
tarian dan beberapa pola tarian bisa diperkenalkan kedalam penyembahan Katolik.
Namun, dua persyaratan tidak dapat dipisahkan dari [kutipan tersebut].
Yang pertama: sejauh tubuh adalah refleksi dari jiwa, tarian, dengan seluruh
manifestasinya, semestinya mengekspresikan sentimen-sentimen iman dan adorasi
agar menjadi suatu doa.
Syarat yang kedua: seperti semua gerakan tubuh dan pergerakan yang ada dalam
liturgi di atur oleh otoritas gerajawi yang kompeten, begitu juga tarian
sebagai suatu gerakan tubuh haruslah berada dalam disiplinnya ("nya"
= "otoritas gerejawi yang kompeten")
Secara konkrit: ada budaya-budaya dimana hal ini mungkin sepanjang tarian masih
merefleksikan nilai religius dan menjadi manifestasi yang jelas akan [nilai
religius tersebut]. Begitulah dalam hal orang Ethiopia. Dalam budaya mereka,
bahkan sekarang ini, ada tarian ter-ritualisasi yang religius, yang jelas
berbeda dengan tarian bela diri dan tarian cinta. Tarian ritual dilakukan oleh
romo-romo dan para Lewi sebelum memulai perayaan dan di tempat terbuka ada di
depan Gereja (note: tulisan aslinya juga sulit untuk dimengerti seperti
terjemahannya tersebut). Tariannya menyertai senandung mazmur dan dilakukan
dengan pergerakan tubuh.
Hal yang sama juga ditemukan di liturgi Syria dalam pelantunan mazmur.
Di Liturgi Byzantine, ada satu tarian yang sangat disederhanakan dalam rngka
suatu perkawinan ketika pasangan yang dimahkotai membuat suatu lingkaran edar
mengelilingi mimbar bersama dengan [imam yang merayakan].
Begitu juga dengan orang Israel:
dalam sinagoga doa mereka diiringi oleh gerakan terus-menerus untuk
mengingat-ingat aturan dari tradisi: "Ketika kau berdoa, lakukanlah dengan
semua hatimu, dan semua tulangmu." Dan bagi orang-orang primitif
pengamatan yang sama bisa dibuat.
Namun, kriteria dan keputusan yang sama tidak dapat diterapkan dalam budaya
barat.
[Dalam budaya barat] tarian dihubungkan dengan cinta, dengan pengalihan
[perhatian], dengan profanitas [ie. ketidaklayakan terhadap sesuatu yang
kudus], dengan melepaskan kekangan dari indra-indra; tarian seperti itu, secara
umum, tidaklah murni.
Untuk alasan tersebut [tarian] tidak bisa diperkenalkan dalam perayaan liturgis
atas jenis apapun: hal tersebut [ie. pengenalan tarian dalam liturgi] berarti
memasukkan dalam liturgi satu unsur yang paling tidak sakral dan tidak
menyakralkan; dan karenanya itu akan sama dengan menciptakan suatu atmosfir
profanitas [ie. ketidaklayakan terhadap sesuatu yang kudus] yang akan
mengingatkan kepada yang hadir [dalam liturgi] dan pada para peserta perayaan
tempat-tempat dan situasi-situasi keduniawian.
Tidak bisa juga penerimaan diberikan kepada proposal untuk mengenalkan dlam
liturgi apa yang disebut Balet artistik[2] karena akan ada suatu presentasi
disini yang juga merupakan suatu tontonan dimana seseorang akan menyajikan,
sementara itu dalam liturgi salah satu norma dimana seseorang tidak boleh menghilangkannya
adalah partisipasi. (note: pada dasarnya paragraph ini ingin mengatakan bahwa
norma dalam liturgi menyatakan bahwa setiap umat itu berpartisipasi [meskipun
ketika sedang duduk-duduk]. Karena itu jika ada penari balet maka penari itu
akan berpartisipasi dalam baletnya dan tidak dalam misa)
Karenanya, ada perbedaan besar dalam budaya-budaya: apa yang dengan baik
diterima dalam satu budaya tidak bisa diterima dalam budaya yang lain.
Reservasi traditional akan keseriusan akan penyembahan religius, dan akan
penyembahan Latin secara khusus, tidak boleh dilupakan
Jika proposal untuk tarian religius di Barat akan benar-benar disambut hangat,
kehati-hatian harus dilakukan mengenai tempat yang bisa ditemukan diluar
Liturgi [untuk tarian tersebut], dalam area kumpul yang tidak secara ketat
Liturgis. Terlebih, si romo harus selalu dikecualikan dari tarian.
Kita bisa mengingat berapa banyak yang ditarik dari kehadiran orang-orang Samoa
di Roma saat festival misionaris tahun 1971. Pada akhir misa, mereka melakukan
tarian mereka di pelataran St. Petrus: dan semuanya bergembira.
Catatan:
[1]. Konsili Vatikan II, Konstitusi atas Liturgi Keramat, no. 37; C.L.D., 6, p.
44.
[2]. Untuk mendukung pemasukan tarian artistik dalam liturgi, referensi bisa
juga dibuat kepada teks dari Gaudium et spes, nn. 53, 57, 58. Namun, teks yang
diacu tersebut berbicara mengenai perwujudan dari budaya secara umum, dan akan
seni yang manaikkan yang benar dan indah. [Teks-teks tersebut] tidak berbicara
mengenai menari secara spesifik. Menari juga bisa merupakan seni. Meskipun
begitu, tidak bisa dikatakan bahwa Bapa konsili [Vatikan II], ketika berbicara
mengenai seni di konsili, juga "berpikiran" mengenai realitas tarian.
N. 62 dari konstitusi yang disebut, Gaudium et spes, tentunya tidak dapat diacu
dalam kasus ini. Ketika nomor tersebut [ie. N. 62 dari Gaudium et Spes]
berbicara mengenai bentuk-bentuk artistik dan pentingnya mereka dalam kehidupan
Gereja, [nomor tersebut] bertujuan untuk membuat referensi kepada bentuk-bentuk
artistik yang relatif terhadap perlengkapan keramat [note: maksudnya adalah
seni-seni seperti mozaik, patung etc]. Bukti tandingan terlihat di teks yang
diacu di catatan kaki: artikel 123 dari Konstitusi akan Liturgi dan Alokasi
Paulus VI kepada artis/seniman di Roma pada 1964.
Copyrights 2001 Ekaristi.Org - Media Katolik Indonesia/
Catholics Online [[Kel 20:1-17]]