FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

NKRI Harga Mati?    
Goto page: Previous

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Santai Dulu Dong/ Come In And Relax
View previous topic :: View next topic  

NKRI Harga Mati?
Yes
41%
 41%  [ 5 ]
No
58%
 58%  [ 7 ]
Total Votes : 12

Author Message
Stanley



Joined: 29 Sep 2008
Posts: 3739

PostPosted: Thu, 03-12-2009 2:33 pm    Post subject: Reply with quote

@staquinas
Andai neh.. andai RI memajukan papua sampai sekelas seperti tanah Jawa ini.. apakah mnurutmu mereka (rakyat papua) masih menuntut kemerdekaan? Dan apakah mereka layak u/ itu? Dan apakah kita layak u/ mencegah kemerdekaan mereka?
_________________
This is Spartaaa!
Back to top
View user's profile Send private message
hario



Joined: 23 Jun 2008
Posts: 1113

PostPosted: Thu, 03-12-2009 6:01 pm    Post subject: Reply with quote

Iki bocah, ndableg tenan....

kutipanku wrote:
- Prof. R. Djokosoetono : Negara adalah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.


dan fungsi negara adalah :

Fungsi-Fungsi Negara :

kutipanku wrote:
1. Mensejahterakan serta memakmurkan rakyat
Negara yang sukses dan maju adalah negara yang bisa membuat masyarakat bahagia secara umum dari sisi ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

2. Melaksanakan ketertiban
Untuk menciptakan suasana dan lingkungan yang kondusif dan damani diperlukan pemeliharaan ketertiban umum yang didukung penuh oleh masyarakat.

3. Pertahanan dan keamanan
Negara harus bisa memberi rasa aman serta menjaga dari segala macam gangguan dan ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar.

4. Menegakkan keadilan
Negara membentuk lembaga-lembaga peradilan sebagai tempat warganya meminta keadilan di segala bidang kehidupan.


Denmas mduaus menekankan satu kata nasionalisme, nasionalisme kepada siapa dan negara apa ?

Apakah nasionalisme harus tumbuh kepada siapapun yang menguasai wilayah tersebut (lihat kutipan tentang apa itu negara), sekalipun memberikan kesejahteraan ?

Tidak !!!nasionalisme di tanah Indonesia hanya boleh tumbuh kepada Negara Republik Indonesia, dengan wilayah dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

maka pertanyaan denmas

m2us wrote:
Ternyata proklamator kita temasuk STUPID!!!!!.. , Terima kasih atas gelar kami berdua yang baru..Bung Karno dan m2us= STUPID!!!!


baca baik-baik :

m2us wrote:
1. Kami menyerukan agar kita sebagai bangsa, bersedia menajamkan kembali wawasan kebangsaan dengan Pancasila sebagai tolok ukur hidup bersama. Wawasan kebangsaan harus diletakkan pada Pancasila, karena hanya Pancasila yang mampu menjadi dasar terkuat bagi kehidupan bersama kita sebagai bangsa Indonesia. Proklamator kemerdekaan RI pernah mengatakan, ”Kesatuan nasional hanya bisa dipelihara jika diletakkan di atas dasar yang lebih luas daripada nasionalisme itu sendiri”. Pancasila sangat tepat mendasari kebangsaan Indonesia karena nilai-nilai universal telah terkandung di dalamnya [Guess what, it's MORAL VALUE !!!]


Kesatuan nasional hanya bisa dipelihara jika diletakkan diatas dasar yang lebih luas daripada nasionalisme itu sendiri....coba direnungkan...dan apakah dasar yang lebih luas itu...? Pancasila, dan pancasila adalah dasar negara Indonesia dengan wilayah dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Ini satu lagi, mbok ya pola pikirnya diubah toh den...

satquinas wrote:
Kamu pikir aku mendukung kemerdekaan Papua untuk memecah belah bangsa ini? Sekali lagi kutegaskan: Papua bukan bangsa Indonesia! Bukti sudah kuberi dan silahkan adakan pemilihan di Papua, berapa dari mereka yang merasa bagian dari bangsa Indonesia. Jadi apa yang mau dipecah? Kalau yang kudukung itu kemerdekaan Bali misalnya, maka baru aku bisa dikatakan mau "memecah bangsa". Itupun harus dilihat lebih lanjut apa dasar keinginan mereka merdeka dan apa sebab kita mendukungnya.


Baca ya :
ktipan dai kutipanku wrote:

Asal Mula Masalah Papua

Sulit dibayangkan, betapa dari ibu kota ini, Kerajaan Belanda pernah mengatur dan menguasai jajahannya, paling sedikit sepuluh kali lebih luas dari wilayah Belanda, yang kemudian menjadi Indonesia.

Justru, karena keengganannya untuk melepaskan seluruh Hindia Belanda sebagai jajahannya menjelang akhir 1949, meskipun Den Haag tidak sanggup lagi menghadapi tekanan-tekanan politik militer, maka timbullah konflik antara Republik Indonesia (RI) dan Belanda tentang status wilayah yang disebut Irian Barat. Dan, asal mula konflik itu lahir di ibu kota ini.

Sekilas sejarah diplomatik ini, saya sampaikan kepada sejumlah diplomat muda Indonesia yang dikirim oleh Departemen Luar Negeri ke pusat masalah internasional Klingendaal, di luar Den Haag, untuk dibekali penambahan pengetahuan dan peluasan wawasan mereka selama tiga bulan.

Saudara Mulya Wirana yang bertugas sebagai Kuasa Usaha ad interim pada Kamis malam, 6 April lalu, menyelenggarakan pertemuan dengan para diplomat Indonesia tersebut. Mereka telah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Pendidikan Luar Negeri. Delapan belas orang sebagai pilihan unggul mendapat kesempatan mengikuti program khusus di Klingendaal. Wajah-wajah mereka serba cerdas kelihatannya. Saya tekankan betapa pentingnya mempelajari sejarah diplomatik RI.

"Tahukah Anda, bahwa apa yang dikenal sebagai masalah Irian (Papua) berasal mula di ibu kota Den Haag ini?" Mereka kelihatannya ingin tahu.

*

Setelah Belanda melancarkan serangan umum terhadap RI pada bulan Desember 1948 yang hanya menguasai wilayah "selebar daun lontar" (istilah Jenderal Sudirman, panglima besar TNI), ia berhasil menduduki ibu kota perjuangan Yogyakarta dan menangkap pimpinan republik, khususnya Presiden Soekarno dan Wakil Presiden/Perdana Menteri Moh Hatta serta sejumlah anggota kabinet.

Namun Jenderal Sudirman, meskipun baru mengalami operasi paru-paru, dan para perwira lainnya masih sempat meninggalkan Yogyakarta. Maka, dilancarkanlah suatu perang rakyat terhadap kekuatan militer Belanda yang modern itu.


Serangan Belanda itu, juga telah mencetuskan reaksi sengit di kalangan internasional. Dewan Keamanan PBB bersidang di Paris dan mengutuk tindakan Belanda yang dianggap telah melanggar norma hukum internasional karena perundingan antara RI dan Belanda masih berlangsung.

Serangan Belanda itu, juga telah merubah pandangan para pemimpin negara-negara federal yang sementara itu telah didirikan Belanda di wilayah yang berhasil diduduki secara militer. Para tokoh-tokoh yang biasanya dianggap sebagai antek-antek Belanda, mulai bersikap lebih simpatik pada perjuangan para pemimpin RI.

Kombinasi tekanan-tekanan inilah: perjuangan gerilya TNI bersama rakyat, perubahan sikap tokoh- tokoh Indonesia yang disponsori Belanda di daerah pendudukannya, dan desakan Dewan Keamanan PBB dengan dorongan India dan Australia, telah memaksa Belanda untuk mengakui kegagalan jalan militer yang ditempuhnya.

Den Haag menugaskan seorang diplomat ulung Dr J H Van Royen untuk membuka perundingan dengan pimpinan RI yang resminya adalah tawanan politik mereka di Pulau Bangka. Belanda menyatakan bersedia mengakui kedaulatan Indonesia Merdeka dengan beberapa persyaratan. Yogyakarta sebagai ibu kota RI dan kesultanan Yogyakarta sebagai wilayah RI dipulihkan.

Langkah berikut adalah menempa suatu kesepakatan menyeluruh untuk mengatur berakhirnya kolonialisme Belanda dan berkuasanya Indonesia Merdeka. Suatu perundingan perdamaian digelar yang dikenal sebagai Konperensi Meja Bundar. Itu berlangsung di Den Haag dari pertengahan Agustus sampai awal November 1949.

Tiga delegasi berpartisipasi: delegasi Kerajaan Belanda dan dua delegasi dari Indonesia. Yang satu adalah delegasi RI dipimpin oleh Moh Hatta dan, yang satu lagi, delegasi negara-negara federal yang awalnya didirikan Belanda tapi sudah berpihak pada RI. Dalam delegasi RI duduk seorang wakil TNI Kol TB Simatupang yang membawa tim sendiri (Letkol Daan Yahya, Mayor Haryono, Mayor Sasraprawira, Kol Laut Subyakto, dan kemudian, Komodor AURI Suryadarma).

Des Alwi pernah cerita betapa kota Den Haag ramai dengan tokoh- tokoh delegasi dari Indonesia bersama anggota sekretariat dan para wartawan Indonesia, al Rosihan Anwar. Des Alwi pada waktu itu mahasiswa di London dan datang untuk menjumpai "Oom" Hatta. Ia secara bercanda menyebut tim TNI yang dipimpin Kol TB Simatupang sebagai tentara pendudukan RI di Den Haag.

Berminggu-minggu lamanya perundingan KMB berlangsung. Melalui diplomasi, Belanda ingin meredusir kekalahannya (yakni, meninggalkan jajahannya) dan mengamankan kepentingannya.

Di bidang finansial-ekonomi, delegasi-delegasi Indonesia mengalah. Sebagian besar hutang-hutang Belanda diwarisi oleh Republik Indonesia Serikat, suatu tatanan kenegaraan yang merupakan syarat Belanda. Juga investasi Belanda dijamin dengan kebebasan mentransfer keuntungannya. Di bidang militer, setelah perundingan yang alot, Belanda mengakui bahwa TNI adalah satu-satunya organisasi militer di Indonesia. Dan tentara Hindia Belanda (KNIL) dibubarkan, enam bulan setelah upacara pengalihan kedaulatan pada akhir Desember 1949. Tapi ada satu masalah yang hampir menyebabkan kegagalan KMB. Sampai akhir konperensi yang telah ditetapkan oleh Bung Hatta harus berakhir pada awal November 1949, Belanda ngotot bahwa pengalihan kedaulatan atas wilayah Hindia-Belanda tidak berlaku untuk "residensi Nieuw Guinea" (Irian Barat, Irian Jaya kemudian Papua).

Pada saat-saat terakhir yang serba tegang menjelang 2 November 1949, Komisi PBB yang ikut hadir menyampaikan usul kompromi; "Wilayah itu tetap dibawah administrasi Belanda tapi selama setahun melalui perundingan akan dicarikan jalan keluar tentang status masa depannya."

Yang paling gigih menolak kompromi dalam bentuk apapun sebenarnya adalah Anak Agung Gde Agung, tokoh delegasi negara-negara federal.

Bung Hatta sebagai pemimpin delegasi RI menghadapi dilema. Menolak usul kompromi Komisi PBB berarti pulang ke Yogya dengan tangan hampa. Menerimanya, dapat menimbulkan keretakan di dalam negeri karena Presiden Sukarno telah menyatakan kepada Dr Van Royen yang berkunjung ke Yogyakarta untuk pamit bahwa dia adalah "seorang fanatikus" untuk mempertahankan wilayah paling timur itu.

Akhirnya dengan hati berat Bung Hatta menerima usul kompromi Komisi PBB itu. [b]Kol Simatupang menyampaikan di rapat delegasi, kalau setelah setahun tidak dicapai penyelesaian, maka akan timbul konflik antara dua negara berdaulat. Dan Indonesia sebagai negara berdaulat, kalau terpaksa, akan menerapkan TNI sebagai kekuatan militer yang telah diakui. Pada akhirnya "Irian Barat" sebagai masalah antar negara baru diselesaikan setelah 12 tahun, bukan setahun seperti disepakati oleh Konferensi Meja Bundar.
[/b]
*

Ada beberapa catatan yang dapat disimpulkan tentang masalah Irian Barat yang mungkin ada relevansinya untuk memahami kompleksitas situasi Papua sekarang.

Pertama, jangan biarkan sebuah konflik diplomatik ngambang dengan perumusan kesepakatan yang tidak konkrit implementasinya. Pasal 2 dari Protokol Penyerahan Kedaulatan yang mengatakan bahwa status "residensi Niew Guinea" akan ditentukan melalui perundingan selama setahun terlalu fleksibel yang membuka peluang bagi Belanda untuk tetap bertahan di Irian Barat.

Kedua, selama 12 tahun beberapa variasi dinamika politik telah berlangsung yang dampaknya mungkin terasa sampai sekarang. Selama 12 tahun telah berlangsung radikalisasi dalam dinamika politik Indonesia. Presiden Soekarno berhasil mengkonsentrasikan kekuasaan pada dirinya melalui Demokrasi Terpimpin. Dan dalam periode ini PKI muncul sebagai kekuatan politik yang menonjol. Sedangkan di Irian Barat, Belanda kecuali mendorong pembangunan infrastruktur dan pendidikan, bereksperimen dengan model negara merdeka. Satu generasi angkatan muda Papua pernah berkenalan dengan propaganda politik Belanda ini.

Ketiga, berbagai pendekatan Indonesia di PBB pada pihak Belanda untuk mencari penyelesaian akhirnya gagal maka diputuskanlah untuk menempuh jalan militer. Dan persiapan ekspedisi militer di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto (kemudian menjadi Presiden RI) dilakukan secara besar-besaran. Kalau sampai berlangsung, maka Operasi Mandala merupakan ekspedisi gabungan militer yang terbesar dalam sejarah RI. Namun pada saat terakhir Operasi Mandala dibatalkan, karena pada 15 Agustus 1962 telah tercapai suatu paket persetujuan dengan pihak Belanda di gedung PBB di New York. Agaknya dapat diduga bahwa suatu mentalitas tentara pendudukan sulit dihindarkan, ketika Irian Jaya kembali dibawah naungan kedaulatan RI.


staquinas wrote:

Kamu pikir aku mendukung kemerdekaan Papua untuk memecah belah bangsa ini? Sekali lagi kutegaskan: Papua bukan bangsa Indonesia! Bukti sudah kuberi dan silahkan adakan pemilihan di Papua, berapa dari mereka yang merasa bagian dari bangsa Indonesia. Jadi apa yang mau dipecah? Kalau yang kudukung itu kemerdekaan Bali misalnya, maka baru aku bisa dikatakan mau "memecah bangsa". Itupun harus dilihat lebih lanjut apa dasar keinginan mereka merdeka dan apa sebab kita mendukungnya.


Tentang masalah Papua baca kutipan diatas

Yang dibold biru adalah pola pikir pengkhianat

staquinas wrote:
Sebenarnya masih banyak yang bisa diangkat mengenai Papua tapi diskusinya jalan di tempat. Hal ini sulit karena adanya pihak2 yang ngotot mengatakan Papua milik RI tapi tak bisa mengemukakan dasar. Sebenarnya semua bermula dari apakah dasar RI mengklaim Papua dan pelanggaran2 selanjutnya terhadap hak mereka menentukan nasib sendiri. Kalau dikatakan kita tidak tahu apakah Papua akan benar2 merdeka, maka kita juga tidak tahu apakah Papua akan selamanya milik RI. Sekali lagi aku minta kebesaran hati kamu menerima: Papua bagian RI atau tidak bukanlah hakmu. Bukan pula hakku. Tak seorang pun orang Indonesia berhak mengatakan kita ingin Papua tetap milik RI. Itu adalah haknya orang Papua.


Adalah hak setiap warga negara RI untuk mmpertahankan Papua sebagai wlayah dari NKRI.

Papua akan selamanya milik RI (kecuali 2012) Kiamat total... Ketawa

staquinas wrote:
Karena itulah aku berpikir bahwa yang seharusnya terjadi adalah:
1. RI merdeka ketika sudah siap. Artinya kekuasaan Belanda dilanjutkan sampai kita benar2 siap.
2. Harus ada referendum atau penentuan nasib atas ide kemerdekaan. Sehingga kita bisa sungguh2 tahu bagaimana pendapat rakyat. Aku masih meragukan bahwa mayoritas rakyat mendukung kemerdekaan RI kala itu.


Belanda yang belum siap kehilangan daerha yang bisa dijarah...(au sudah postkan disini tentang kapal VOC yang ditemukan dengan harta jarahan 9,5 Triliun (lebih besar dari dana Century yang dijarah dan itu hanya dari satu kapal...ada berapa kapal yang lolos..?

Ide referendum adalah akal akalan kuno yang selalu didengungkan...nonsenlah referendum itu

staquinas wrote:
Ibu Timor Leste itu Portugal dan ibu Papua itu Belanda


Ibu - Ibu yang gemar berselingkuh !!, berharap punya anak tapi mandul....mengaku ngaku anak orang lain.

tertarik wrote:
Saya berencana membentuk negara bagian JOGLO SEMAR (JOGja soLO SEMARang), mantap khan?
Asal saja jangan dibalik balik menjadi SEMARang soLO YOgya atau SEMAR LOYO....


Bagus.....njenengan Presidennya ya...... Ketawa Ketawa

Presiden SEMAR LOYO Raden Mas Tertarik bersumpah bahwa tidak ada dana Bank Cenduli yang digunakan untuk kampanye... Ketawa Ketawa Ketawa
_________________
Kang bêcík iku lamún ngêrti anané sêsantiné ngabdi bêbrayan agúng : "Ing Ngarså Asúng Tulådhå, Ing Madyå Amangún Karså, Tút Wuri Handayani"
Back to top
View user's profile Send private message
Ave Gratia



Joined: 20 May 2009
Posts: 913

PostPosted: Thu, 03-12-2009 7:41 pm    Post subject: Reply with quote

Quote:
hario
Baca ya :
[quote="ktipan dai kutipanku"]
Asal Mula Masalah Papua

Sulit dibayangkan, betapa dari ibu kota ini, Kerajaan Belanda pernah mengatur dan menguasai jajahannya, paling sedikit sepuluh kali lebih luas dari wilayah Belanda, yang kemudian menjadi Indonesia.

Justru, karena keengganannya untuk melepaskan seluruh Hindia Belanda sebagai jajahannya menjelang akhir 1949, meskipun Den Haag tidak sanggup lagi menghadapi tekanan-tekanan politik militer, maka timbullah konflik antara Republik Indonesia (RI) dan Belanda tentang status wilayah yang disebut Irian Barat. Dan, asal mula konflik itu lahir di ibu kota ini.



Bicara Asal Mula Masalah Papua tidak bisa dilihat hanya dari sisi negarawan kita, apa Den Mas Hario mau meluangkan waktu membaca referensi ini ? ;




Perlu Saudara-saudara ketahui bahwa Akar Pokok Permasalahan di Papua adalah Bukan Masalah Kesejahteraan tetapi Masalah Sabotase wilayah yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia terhadap Belanda.

Yang mana, Papua adalah salah satu wilayah Dekolonisasi yang telah dipersiapkan Belanda untuk Merdeka di kemudian hari seperti beberapa wilayah di daerah Pacific seperti Australia, Papua New Guinea, Fiji, Vanuatu, dll.

Faktor inilah yang menyebabkan sehingga Belanda harus kembali ke West Papua dan Inggris kembali ke Papua New Guinea setelah mengalahkan Jepang melalui Perang Dunia Ke-2 di Kawasan Pacific yang dibawah pimpinan Jenderal Mc. Arthur.

Mengapa Belanda ingin kembali juga ke Indonesia?

Itu disebabkan karena Inggris juga telah kembali ke daerah jajahannya seperti Hongkong, Malasya, Australia, Papua New Guinea, Vanuatu, dll. Belanda tak dapat masuk pada waktu itu karena masih ada Penjajah Jepang. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, lalu Belanda berusaha mencoba kembali melalui Agresi Militer Belanda II tetapi gagal karena Indonesia telah dimemerdekakan oleh Jepang dan didaftarkan menjadi anggota PBB yang ke-60.

Setelah Indonesia Merdeka, lalu Soekarno melihat bahwa Pulau Emas (Isla Del Oro) yang dikatakan oleh pelaut Spanyol Antonio Del Savera harus kita rebut dari Belanda dan sekalian kita jadikan sebagai Pertahanan NKRI dari arah Timur.

Pulau Emas inilah yang menyebabkan seluruh Bangsa-Bangsa di Dunia termasuk Indonesia ingin merebutnya. Dimanakah pulau emas itu? Pulau Emas itu adalah Papua (West Papua dan East Papua).

Oleh karena itu, Soekarno menggunakan alasan sama-sama daerah Jajahan Belanda jadi itu adalah wilayah Indonesia. Padahal waktu Proklamasi maupun Sumpah Pemuda hanya mencakup wilayah Aceh sampai Maluku.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, kemudian Soekarno melobi ke Perwakilan PBB tahun 1946 tetapi tidak mendapat dukungan karena wilayah Papua (Papua New Guinea dan Papua Barat) lagi dipersiapkan Belanda dan Inggris untuk berdiri sendiri (Merdeka penuh). Tetapi Soekarno tetap berjuang terus dalam Perjanjian Linggar Jati tahun 1946 pada waktu itu juga, dan juga pada Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949 di Denhaag Belanda. Di KMB, Indonesia mendapat titik terang karena Belanda berjanji akan diselesaikan 1 tahun kemudia karena daerah Papua Barat (West Papua) masih dalam Status Quo (Daerah Yang Belum Jelas Pemerintahannya)Tetapi setelah satu tahun kemudian (Tahun 1950), justru Belanda tetap dengan Konsistennya untuk mempersiapkan Kemerdekaan Papua sehingga Soekarno tetap geram dan berjuang terus melalui Forum-Forum Internasional seperti Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1950. Dan bahkan ke Forum Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB). Tetapi sayang, Soekarno tetap tidak mendapat dukungan juga dari pihak Internasional.

Kemudian pada tanggal 1 Desember 1961, Perwakilan Rakyat Papua Barat yang duduk dalam Niuew Guinea Raad (Seperti MPR Indonesia) memproklamasikan Kemerdekaan Papua secara Defacto (Kenyataan) dan rencana secara Dejure (Hukum) nanti pada tahun 1970. Tetapi hal ini tidak diterima baik oleh Indonesia. Oleh karena itu, Soekarno didesak untuk mengumandangkan TRIKORA (Tri Komando Rakyat) 18 hari kemudian setelah Proklamasi Negara Papua Barat ini, yaitu pada tanggal 19 December 1961.

Kemudian dibentukla Komando Mandala yang dipimpin oleh Major Jenderal Soeharto, untuk melakukan Operasi Penyusupan dan Operasi Mandala ke Papua Barat. TRIKORA telah diumumkan tetapi senjata tak ada karena Australia, Amerika, Inggris, Perancis (Seluruh Sekutu Belanda) tak mau memberikan senjata kepada Indonesia. Akhirnya Soekarno lari ke Rusia dan membeli senjata di sana, tetapi tetap tak mampu melawan Belanda karena peralatan Belanda lebih canggih apalagi diturunkannya kapal Induk Karel Doorman yang telah menenggelamkan kapal Yosudarso.

Akhirnya, Soekarno mencari jalan lain untuk melumpuhkan Belanda di Tanah Papua yaitu melalui Pembentukkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Makanya Belanda terpaksa harus segera meninggalkan Papua karena mendapat tekanan dari rekan sekutunya yaitu Amerika melalui Presiden John. F. Kennedy. (Lihat Surat Presiden Amerika John. F. Kennedy di http://www.freewestpapua.org/docs/kennedyletter.htm).

Kennedy pun diberi jaminan oleh Indonesia untuk menanam Saham di Papua bila daerah tersebut dikuasai oleh Indonesia. Oleh sebab itu, diutuslah mantan DUBES AS di India sebagai penengah antara Indonesia & Belanda yaitu Mr. Elsworht Bunker.

Maka lahirlah usulan yang dikenal yaitu Usulan Bunker, antara lain : Belanda Menyerahkan Administrasi Negara Papua Barat kepada Indonesia melalui suatu badan PBB (Yaitu UNTEA - United Nation Temporary Authority), dan Administrasi Negara Papua akan diatur dan diurus oleh Indonesia hanya selama 25 tahun saja, setelah itu Indonesia akan memberikan Referendum kepada Rakyat Papua untuk Menentukan Nasibnya Sendiri (Apakah tetap dengan Indonesia atau lepas berdiri sendiri).

Dari usul inilah, sehingga melahirkan Perjanjian New York (New York Agreement) yang

ditandatangani di Markas Besar PBB pada tanggal 14 Agustus 1962 dan Perjanjian Roma (Rome Agreement) yang ditandatangani pada tanggal 30 September 1962 di Italia. Yang mana, Perjanjia New York mengurus tentang Proses Peralihan Administrasi Negara Papua dari Belanda ke UNTEA tahun 1962 kemudian diberikan lagi kepada Indonesia pada 1 Mei 1963.

Sedangkan Perjanjian Rome yang berbunyi sebagai berikut :

1.

Referendum atau yang dikenal dengan PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) yang direncanakan pada tahun 1969, dibatalkan saja atau bula perlu dihapuskan.
2.

Indonesia mengatur dan mengurus Papua hanya selama 25 tahun saja, terhitung mulai tanggal 1 Mei 1963.
3.

Hasil PEPERA diterima di muka umum sidang PBB tanpda ada perdebatan.
4.

Amerika berkewajiban untuk menanam Sahan di Papua Barat demi kemajuan daerah tersebut.
5.

Indonesia akan mengirimkan Transmigrasi ke daerah Papua untuk Assimilasi dan Perkembangan Pembangunan.

**************

Oleh sebab itu, Belanda terpaksa meninggalkan Papua pada Oktober 1962 dan diganti oleh Pasukan UNTEA. Selama keberadaan UNTEA di sana (Papua) pun tetap diserang oleh rakyat Papua. Contohnya penyerangan Marka UNTEA di Manokwari pada bulan Februari 1963 yang dipimpin oleh Sergean PVK (Papoea Vrijwilleger Korps) Permenas Ferry Awom dan Papuan Police yang dipimpin oleh Yohanes Jambuani.

Ketika dikumandangkan TRIKORA juga banyak menyebabkan korban rakyat Pribumi Papua yang dibunuh oleh Militer Indonesia. Setelah dikuasai pun juga banyak terjadi Pembunuhan Masal Rakyat Pribumi Papua oleh Indonesia.

Setelah masuknya Indonesia tanggal 1 Mei 1963, Papua langsung diberi Otonomi Khusus oleh Soekarno tetapi dicabut lagi oleh Soeharto tahun 1966 melalui Ketetapan MPRS no.21. Tahun 1966. Pasal 6.

Apalagi menjelang tahun 1965 setelah terjadi penyerang Markas Arfai (Ex. Marka PVK) yang hingga menyebar ke seluruh daerah kepala Burung (Vogel Kop) yaitu Manokwari, Sorong, Ayamaru, Kebar, Saukorem, Sausapor, Makbon, Ransiki, Merdey, Anggi, Menyambou, dll.

Akibat inilah yang menyebabkan hingga penduduk Pribumi Papua telah menjadi berkurang hingga saat ini. Selain itu, masih banyak lagi Operasi-operasi Militer Indonesia lagi yang menewaskan ratusan ribu rakyat Pribumi Papua. Kemudian lebih parah lagi menjelang diadakannya PEPERA tahun 1969 - 1984. Akibatnya banyak Rakyat Papua yang mmemilih untuk melarikan diri ke Luar Negeri.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, turun temurun hingga anak cucu orang Papua pun bahkan menjadi lebih dendam. Apalagi ditambah dengan adanya penyebaran Virus HIV/AIDS di Papua. Itul merupakan salah satu bukti terjadinya Genocide di Papua.

PEPERA pun akhirnya tidak diijinkan oleh Indonesia dan Amerika untuk memilih sesuai mekanisme/prosedur Internasional yang seharusnya Satu Orang Satu Suara (One Man One Voute) tetapi diubah menjadi sistem perwakilan. Dimana dibentuknya Dewan Musyawarah PEPERA (DMP) yang mana pesertanya adalah Tokoh-tokoh Adat Papua yang dipilih dan ditunjuk dibawah penodongan senjata oleh Militer Indonesia melalui Organisasi Inteligen KOSTRAD yang diberi nama OPSUS (Pimpinannya adalah Ali Murtopo).

Makanya Kontrak Kerja PT. Freeport pun ditandatangani pada tahun 1967 ( sebelum Referendum tahun 1969).

Akhirnya Papua Barat berhasil dikuasai oleh Indonesia, dan Pembangunan pun diadakan dengan setengah hati oleh NKRI karena Daerah ini masih tetap berada dalam Status Quo di NKRI. Buktinya, setelah PEPERA pun belum ada Ketetapan MPR atau Undang-Undang yang Mensahkan masuknya Papua ke dalam NKRI. Sedangkan Timor Leste saja disahkan oleh Ketetapan MPR tetapi setelah Merdeka lalu dicabut Ketetapan tersebut.

***************

Sumber: http://www.geocities.com/west_papua/history.htm
Demikian hingga saat ini, Papua tak akan pernah tinggal diam di atas Kekayaan Alamnya yang telah diberikan Tuhan Allah.
Back to top
View user's profile Send private message
shevyn



Joined: 09 Oct 2008
Posts: 834
Location: surabaya

PostPosted: Fri, 04-12-2009 12:05 am    Post subject: Reply with quote

Aku ikut masukkan vote: No buat harga mati Ketawa


Share:

Pernah tugas di Papua Barat selama 6 (atau 8, lupa?) bulan; pembangunan kilang LNG Tangguh.

Kerja di balik pagar tinggi, 2 lapis (ring 1 lebih kurang 28 hektar, dan pagar ring 2 dgn radius 20m dari ring 1)


Pengalaman pertamaku kontak dengan saudara2 di Papua.. saat perkenalan:
"shevyn, dari Surabaya"

Respon mereka: "ooh... dari Indonesia yah?"

Gubrak....

Banyak yang pekerja lokal di sana adalah anak-anak kepala suku di sekitar Teluk Bintuni (desa tanah merah, dan sekitarnya).
FYI: Teluk Bintuni, letaknya di "mulut" kepala burung, 220 km tenggara Sorong; tp akses dari Sorong hanya via helikopter atau jetfoil

Dari anak2 kepala suku ini aku mendapat cerita versi lokal mengenai referendum th 60an itu;
yaa.. di bawah todongan senjata


Satu hal yg memprihatinkan, teman2 Papua-ku itu pendidikannya sangat terbelakang.. tp baik hati dan rajin2
Kadang juga kasihan, kadang bikin jengkel Ketawa
Tapi yg jelas mereka sangat generous, terutama utk rokok Ketawa (tapi ada 1 suku, X, yg kalau kasih janji sulit dipegang)

Contoh:
Karena cabe dan tomat adalah langka (kita makan del monte kalengan itu, dikasih perush); maka aku berinisiatif tanam dari biji2 cabe dan tomat yang aku dapat (lumayan lah, subur kok tanahnya Ketawa )

Pas tiba waktunya panen, eeehh.. dicabut sama pohon2nya.....
Dikiranya panennya itu mirip panen bayam (aku juga tanam sebelumnya)

Apanya gak marah dan senewen aku?! Hahahaha...
_________________
"Ad Deum qui laetificat juventutem meam - kepada Allah, yang membahagiakan masa mudaku" -doa di kaki altar
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail
Kinasih
== BANNED ==




Joined: 28 Mar 2008
Posts: 1292
Location: Bali

PostPosted: Fri, 04-12-2009 8:25 am    Post subject: Reply with quote

Good morning everyone... great... you are great people...!!! Bisa adem juga ternyata kalau gak saling tonjok Ketawa Ketawa

Shevin, thanks jokes-nya lumayan bisa sedikit mrenges setelah kerut dahi satu halaman terbaru itu.

Saya merenungkan, bisakah sample yang didapat dari anak muda katolik diforum ini dijadikan tolok ukur kaum muda katolik diluar sana?

Tadi malem lihat Metro TV, ada berita di Lombok soal dugaan tembakan yang dilakukan oknum polisi yang mengenai soerang warga, demo lalu ricuh seperti biasa. Sambil makan malam kami mendengar berita itu... iseng nanya sama teman hidup yang Tuhan berikan untukku itu gini: "Kalau kita diminta memilih, lebih baik seperti dulu dimana semua disiplin ketat, atau seperti sekarang diberi kebebasan katanya demokrasi tapi malah seperti itu kelakuanya?" aku mendapat jawaban: "masyarakat kita itu belum siap diberi kebebasan mending ketat-in aja seperti jaman dulu." Upss....!!!

Lalu jadi ingat cerita seorang Romo kepada kami, beliau adalah salah satu Romo yang menkomandani exodus warga Kristiani (Protestan dan Katolik) ke Bali saat terjadi kerusuhan disebuah di pulau lain karena isue agama. Ini cerita classified gak ada di berita gak ada di file manapun... bener-bener off the record.

Saat itu truk militer yang menuju ke Bali sekitar jam 1 dini hari diisi para warga, ibu dan anak-anak. Lalu rombongan bis yang ada dibelakangnya justru diisi para tentara lengkap dengan senjata. Urutan paling belakang adalah mobil pemadam kebakaran. Tepatlah strategi komandan yang orang katolik ini, rombongan bis itu yang hihadang "massa" Cerita selanjutnya classified!! Rombongan selamat sampai ke Bali beberapa langsung menuju gereja-gereja yang sudah siap dengan makanan, obat dan tempat tidur. Yang lain menuju ke sanak family yang dimiliki. Yang menarik adalah, setelah semua bersih tak ada jejak, tak ada seorangpun dari pulau yang rusuh itu melaporkan kehilangan sanak famili. Semua lengkap tak ada yang dinyatakan hilang... lalu pertanyaannya: Siapa masa yang ratusan jumlahnya beringas itu? dari mana mereka kalau ternyata mereka bukan warga pulau yang rusuh itu?

Jadi bro and sist, saya kira baik kalau kita berhati-hati mengenali siapa "warga masyarakat setempat itu" kenali betul siapa mereka itu sebelum mengambil pilihan untuk berpendapat.

Jika warga Timor Leste yang konon menangis, apakah kini mereka tersenyum? apakah mereka ternyata tetap menangis? Jangan-jangan mereka yang menangis itu hanya menjadi kendaraan politik sekelompok orang untuk mencapai ambisinya.

Baiklah, jika diskusi soal bentuk negara Federasi dianggap tidak relevan dalam topik ini, semoga ini statement ini menjadi yang terakhir.

Sungguh sedih dengan hasil polling, dan sungguh berharap sample ini bukan mewakili kaum muda katolik diluar sana. Karena kebersatuan itu penting, bersama itu lebih baik daripada sendiri. Pertahanankan dulu NKRI ini, lalu kita perbaiki bersama-sama yang sekarang rasanya tidak benar ini.

AG tidak menjawab pertanyaan mengenai buku yang dia tahu ada di Gramedia itu. Tak apalah... mungkin AG belum membacanya.

100% Indonesia dan 100% Katolik itu menurut Kinasih: warisan NKRI yang ada sekarang ini harus dipertahankan. Lupakan dapatnya bagaimana dan darimana, mewarisi semangat Sumpah Pemuda 1928 sudah cukup untuk mengamini bahwa bangsa ini harus berlangsung, kebersatuan ini harus dijaga. Lalu dengan semangat Pancasila untuk menuju cita-cita UUD 1945, kita bersama memajukan bangsa kita Indonesia.

Salam - Kin
_________________
Tyas Dalem Sang Kristus Ingkang Maha Suci... Nyuwun Kawelasan.
Back to top
View user's profile Send private message
staquinas



Joined: 14 Apr 2008
Posts: 1450
Location: Jakarta

PostPosted: Fri, 04-12-2009 1:58 pm    Post subject: Reply with quote

Stanley wrote:
@staquinas
Andai neh.. andai RI memajukan papua sampai sekelas seperti tanah Jawa ini.. apakah mnurutmu mereka (rakyat papua) masih menuntut kemerdekaan? Dan apakah mereka layak u/ itu? Dan apakah kita layak u/ mencegah kemerdekaan mereka?


Aku yakin masih karena sekali lagi keinginan mereka merdeka tidak dibangun sekedar dari masalah ketidakadilan ekonomi tapi dari suatu penjajahan, dari pengingkaran hak suatu bangsa untuk merdeka.

Mereka sangat layak menuntut kemerdekaan mereka sama layaknya dengan Bangsa Indonesia (Hindia) yang menuntut kemerdekaannya dari Belanda.

Apakah kita layak mencegah mereka? Layak selama kita memang tulus dan sungguh dalam membangun Papua dan mempersiapkan kemerdekaan mereka. Ketika mereka sudah siap mereka kita tidak layak lagi mencegah. Tapi bila sedari awal niat tulus membantu itu tidak ada, semakin tidak layaklah bagi kita untuk bahkan tetap berada di Papua detik ini.

Kinasih wrote:

Jika warga Timor Leste yang konon menangis, apakah kini mereka tersenyum? apakah mereka ternyata tetap menangis? Jangan-jangan mereka yang menangis itu hanya menjadi kendaraan politik sekelompok orang untuk mencapai ambisinya.


Apa maumu sich? Kujelaskan berkali2, buang jauh2 pikiran konyolmu itu kalau semua bangsa ingin merdeka karena "kitik kitik negara lain" atau "kendaraan politik sekelompok orang untuk mencapai ambisinya". Memang ada yang seperti itu tapi kujelaskan sekali lagi, kasus Timor Leste dan Papua tidak seperti itu! Akui dulu satu hal, Indonesia MENGINVASI Timor Leste... Susah sekali hal itu dilakukan. Kalau kamu berpikir sebaliknya, beri bukti. Kenyataan bahwa RI menginvasi Timor Leste sudah cukup untuk mengusir RI keluar dari sana. It's just that simple...

Mereka menangis atau bukan tidak bisa menjadi pembenaran bagi RI untuk tetap berada di sana!
_________________
Q. Why then would the Protestants have the church to be invisible?
A. Because we have convinced them, that there were no Protestants to be seen or heard of in the world before Martin Luther.


Last edited by staquinas on Fri, 04-12-2009 1:59 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
Kinasih
== BANNED ==




Joined: 28 Mar 2008
Posts: 1292
Location: Bali

PostPosted: Fri, 04-12-2009 3:28 pm    Post subject: Reply with quote

staquinas wrote:
Kinasih wrote:

Jika warga Timor Leste yang konon menangis, apakah kini mereka tersenyum? apakah mereka ternyata tetap menangis? Jangan-jangan mereka yang menangis itu hanya menjadi kendaraan politik sekelompok orang untuk mencapai ambisinya.


Apa maumu sich? Kujelaskan berkali2, buang jauh2 pikiran konyolmu itu kalau semua bangsa ingin merdeka karena "kitik kitik negara lain" atau "kendaraan politik sekelompok orang untuk mencapai ambisinya". Memang ada yang seperti itu tapi kujelaskan sekali lagi, kasus Timor Leste dan Papua tidak seperti itu! Akui dulu satu hal, Indonesia MENGINVASI Timor Leste... Susah sekali hal itu dilakukan. Kalau kamu berpikir sebaliknya, beri bukti. Kenyataan bahwa RI menginvasi Timor Leste sudah cukup untuk mengusir RI keluar dari sana. It's just that simple...

Mereka menangis atau bukan tidak bisa menjadi pembenaran bagi RI untuk tetap berada di sana!


Ah.. staq... maunya Kin gak banyak kok dan sudah tercapai. Semua sudah memberikan pendapat dan biar pembaca menilai mana yang akan mereka pilih.

Plus kutipan itu hanya untuk mendukung alenia sebelumnya dimana saya menghimbau untuk mengenal betul siapa yang mengatasnamakan diri masyarakat setempat itu. Dari banyak pengalaman sering ada pemelintiran atas posisi bergengsi itu "masyarakat setempat!"

Overall saya mengerti posisimu dan mengerti dimana kamu berpihak dan Kin menghormati itu bro... jika kita menghadapi kenyataan bahwa kita tak sepikir dan berdiri pada posisi bersebrangan, mestinya kita akui itu dengan elegant. Adalah tidak mungkin membuat semua orang seragam dan sama. Jangan minta bukti apa-apa dari Kin, please.... karena Kin tak punya... ini hanya sebuah ungkapan hati seorang yang pernah diajarkan bagaimana mencintai bangsa ini dan juga diperkenalkan tentang wawasan kebangsaan dan kenegaraan. Dan Kinasih mempercayai itu setidaknya hingga kini......

Teruslah berjuang dengan yang kamu percayai dan saya juga akan demikian... boleh bukan? good Job

Salam - Kin
_________________
Tyas Dalem Sang Kristus Ingkang Maha Suci... Nyuwun Kawelasan.
Back to top
View user's profile Send private message
hario



Joined: 23 Jun 2008
Posts: 1113

PostPosted: Fri, 04-12-2009 10:31 pm    Post subject: Reply with quote

ave gratia wrote:
Bicara Asal Mula Masalah Papua tidak bisa dilihat hanya dari sisi negarawan kita, apa Den Mas Hario mau meluangkan waktu membaca referensi ini ? ;


Aku sudah baca referensi njenengan Ave, matur suwun.

Kita bisa beradu data dan kutipan, tetapi kita harus kembali kepada realita saat ini, dimana Papua adalah bagian dari NKRI, dan NKRI berhak penuh untukmempertahankan setiap jengkal wilayahnya dengan segala kekuatan.

Adalah kewajiban pemerintah Indonesia untuk memajukan Papua dan mensejahterakan dan seluruh penduduk didalamnya, dan apapun alasannya memerdekakan diri adalah out of question.

Quote:

Kutipan dari :

MEMBEBASKAN IRIAN BARAT DENGAN SEGALA JALAN
Pidato Presiden Sukarno
Pada Akademi Pembangunan Nasional
Di Yogyakarta, 18 Maret 1962

Amanat Penderitaan Rakyat berisikan beberapa unsur, ada unsur politiknya, ada unsur sosialnya, ada unsur akhlak dan agamanya. Unsur politiknya ialah, saudara-saudara, bahwa rakyat dengan penderitaannya yang berpuluh-puluh, beratus-ratus tahun itu mengamanatkan kepada kita agar supaya kita hidup sebagai suatu negara yang bebas, merdeka, berdaulat, berwilayah kekuasaan antara Sabang sampai Merauke, berbentuk Republik Demokratis. Itu adalah salah satu unsur daripada Amanat Penderitaan Rakyat.

Nah, oleh karena negara kesatuan yang berwilayah kekuasaan antara Sabang sampai Merauke yang berbentuk Republik itu belum tercapai sempurna, yaitu Irian Barat belum masuk didalam wilayah kekuasaannya, maka kita didalam waktu- waktu yang sekarang ini berjuang hebat-hebat untuk memasukkan Irian Barat itu kedalam wilayah kekuasaan Republik. Dan Trikomando Rakyat diucapkan pada tanggal 19 Desember yang lalu untuk itu.

Dan saya tegaskan disini, sekali lagi, dan saya minta dicatat betul-betul oleh wartawan-wartawan, bahwa Trikomando Rakyat itu tidak ditarik kembali, sebaliknya malahan saya pada waktu saya mengucapkan pidato Idul Fitri beberapa hari yang lalu, saya tegaskan, saya malahan memerintahkan agar supaya Trikomando ini dipergiat. Trikomando Rakyat yang diucapkan di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember itu tidak dicabut kembali, masih berjalan terus, bahkan harus dipergiat. Dipergiat, meskipun sekarang ini yah, sekarang ini akan ada pertemuan yang dinamakan pertemuan rahasia.

Ya, saudara-saudara, sekali lagi, kepada para veteran yang dulu bertempur hebat-hebatan untuk mendatangkan satu negara Republik Indonesia Kesatuan berwilayah kekuasaan antara Sabang sampai Merauke, kepada saudara-saudara saya ulangi lagi, dengan tegas, Trikomando Rakyat tidak dicabut kembali, bahkan harus dipergiat.

Malahan saya tandaskan lagi disini buat kedua-kalinya apa arti Trikomando. Trikomando berarti membebaskan Irian Barat daripada kolonialisme Belanda. Trikomando berarti agar supaya kita memasukkan Irian Barat itu kedalam wilayah kekuasaan Republik kembali, dengan segala jalan. Pegang teguh perkataan ini: dengan segala jalan! Jalan apa? Diplomasi. Jalan apa, kataku pada waktu Idul Fitri? Infiltrasi, gremetono Irian Barat! Dengan jalan pertempuran-pertempuran kecil, dengan jalan pertempuran-pertempuran besar, dengan jalan pertempuran-pertempuran total, kataku.

Pendeknya, dengan segala jalan halal, halal menurut agama, halal menurut mental kita sebagai bangsa, harus kita bebaskan Irian Barat daripada penjajahan Belanda atau penjajahan apapun.


Apapun dasar argumennya, Tri Komando Rakyat itulah yang harus jadi pedoman kita, bukan malah kita melihat dengan kaca mata bangsa asing.

Quote:
SAYA TOLAK APA YANG DINAMAKAN POLITIK SELF-DETERMINATION PEMERINTAH BELANDA

Statement Presiden Republik Indonesia
Kepada Pers Jepang
Di Tokio, 20 September 1961

Case: President Sukarno's reactions in connection with Queen Juliana's annual address before the Dutch Parliament.

"I appreciate Queen Juliana's goodwill towards the West Irian problem. I know, Queen Juliana has in mind the so called policy of "self-determination".

I know also what such a policy of "self-determination" under foreign supervision can bring about. The application of such a policy is not new for us.

In Vann Mook's time such a policy of so called "self-determination" resulted in the formation of a "Free East Sumatra", a "Free South Sumatra", a "Free Pasundan (West Java)" a "Free East Java", a "Free Madura", a "Free East Kaminantan", a "Free East Indonesia", and other so called autonomous territories. In doing so, Van Mook actually balkanized Indonesia.


But in 1950 the united people of Indonesia put an end to the life of these so called "Free States", and restored the unitarian Republic of Indonesia.

I reject this so called "self-determination" policy, of the Dutch Government. This policy leads only to trouble in the future.

Let the Dutch Government execute forthwith the transfer of administration over West Irian to the Republic of Indonesia, the way I indicated in my address of 17th August last at Jakarta, and in my Address in Belgrade Conference.

That is a better way. It guarantees the normalization of the relationship between the Republic and the Netherlands".


@Shevyn

NKRI adalah harga mati, ingat kita sudah dipermalukan dengan dijualnya Timor Timur untuk 1 tahun masa jabatan Presiden, sama saja dengan kita punya Tanah di Menteng Raya dijual dengan harga "goceng" (limaribu perak) per meter persegi.

Apa yang dilihat sesuai pengalamanmu, itulah tantangan kita sebagai warga negara untuk memperbaikinya....bukan membiarkan dan malah menyuruh mereka merdeka sendiri.

kinasih wrote:
Tadi malem lihat Metro TV, ada berita di Lombok soal dugaan tembakan yang dilakukan oknum polisi yang mengenai soerang warga, demo lalu ricuh seperti biasa. Sambil makan malam kami mendengar berita itu... iseng nanya sama teman hidup yang Tuhan berikan untukku itu gini: "Kalau kita diminta memilih, lebih baik seperti dulu dimana semua disiplin ketat, atau seperti sekarang diberi kebebasan katanya demokrasi tapi malah seperti itu kelakuanya?" aku mendapat jawaban: "masyarakat kita itu belum siap diberi kebebasan mending ketat-in aja seperti jaman dulu." Upss....!!!


Itulah jawaban jujur dari mayoritas bangsa ini secara keseluruhan setelah terbukti bahwa era repotnasi adalah era super gombal.

kinasih wrote:
100% Indonesia dan 100% Katolik itu menurut Kinasih: warisan NKRI yang ada sekarang ini harus dipertahankan. Lupakan dapatnya bagaimana dan darimana, mewarisi semangat Sumpah Pemuda 1928 sudah cukup untuk mengamini bahwa bangsa ini harus berlangsung, kebersatuan ini harus dijaga. Lalu dengan semangat Pancasila untuk menuju cita-cita UUD 1945, kita bersama memajukan bangsa kita Indonesia.


Selamat jeng......itulah pemikiran warga Indonesia yang normal dan penuh dengan kedewasaan .....

Quote:
Aku yakin masih karena sekali lagi keinginan mereka merdeka tidak dibangun sekedar dari masalah ketidakadilan ekonomi tapi dari suatu penjajahan, dari pengingkaran hak suatu bangsa untuk merdeka.

Mereka sangat layak menuntut kemerdekaan mereka sama layaknya dengan Bangsa Indonesia (Hindia) yang menuntut kemerdekaannya dari Belanda.


Papua adalah bagian dari Indonesia,dan Indonesia bukan menuntut kemerdekaan tetapi merebut dan berjuang untukkemerdekaannya dari penjarah dan penjajah (lihat contoh berita kapal VOC yang ditemukan itu)

staquinas wrote:
Akui dulu satu hal, Indonesia MENGINVASI Timor Leste


Indonesia hanya mengambil kembali haknya atas sepotong wilayah yang terletak di Pulau Timor.....hanya itu dan sesederhana itu.

Sayang sekali sekian banyak jiwa tentara Indonesia mati sia sia karena kemudian wilayah itu dijual begitu saja dengan harga yang sangat murah, satu tahun jabatan Presiden

Diajeng Kinasih, soal Timor Leste kita akhiri ya....itu sudah terjadi dan kita sudah dihinakan, namun sebagai Umat Katholik yang berjiwa besar dan pemaaf kita harus dengan lapang dada mengakui kegagalan kita dan kecerobohan kita.

Kembali ke topik, NKRI adalah harga mati, aku berani bertaruh bila ada pimpinan negara yang berani mengeluarkan kebjiakan membiarkan ada wilayah yang memerdekakan diri, entah melalui referendum atau apapun namanya seluruh TNI akan bergerak...pengalaman dan rasa sakit atas pengkhianatan di awal reformasi hingga ada bagian wilayah yang terlepas tidak bisa dihapuskan.....
_________________
Kang bêcík iku lamún ngêrti anané sêsantiné ngabdi bêbrayan agúng : "Ing Ngarså Asúng Tulådhå, Ing Madyå Amangún Karså, Tút Wuri Handayani"
Back to top
View user's profile Send private message
staquinas



Joined: 14 Apr 2008
Posts: 1450
Location: Jakarta

PostPosted: Sat, 05-12-2009 3:22 pm    Post subject: Reply with quote

Ave Gratia wrote:

Yang mana, Papua adalah salah satu wilayah Dekolonisasi yang telah dipersiapkan Belanda untuk Merdeka di kemudian hari seperti beberapa wilayah di daerah Pacific seperti Australia, Papua New Guinea, Fiji, Vanuatu, dll.


Maaf, tapi setahuku Belanda malah belum benar2 menyentuh Papua sampai tahun 1950an ketika bahaya terhadap Papua meningkat akibat tindakan2 dan ancaman2 RI. Belanda yang melihat betapa kuatnya semangat imperialis RI malah mempercepat usaha mempersiapkan kemerdekaan mereka. Mulai dari penambahan anggaran sampai perjuangan di dunia internasional.

Quote:
Faktor inilah yang menyebabkan sehingga Belanda harus kembali ke West Papua dan Inggris kembali ke Papua New Guinea setelah mengalahkan Jepang melalui Perang Dunia Ke-2 di Kawasan Pacific yang dibawah pimpinan Jenderal Mc. Arthur.


Menurutku tidak ada kata harus bagi Belanda untuk kembali. Kalau Belanda tidak mau kembali tahun 1945 pun bisa. Ada beberapa pendapat mengenai sebab Belanda mempertahankan Papua mati2an dalam perundingan2 dengan RI. Ada yang bilang kalau pemerintah Belanda takut kehilangan muka (alasan favorit sejarawan RI), ada juga yang bilang kalau Belanda berharap bisa menciptakan surga tropis lain sebagai ganti Hindia yang hillang, sampai karena sungguh2 merasa kalau Papua berbeda secara etnologis dari RI dan anggapan adanya "tugas suci" Belanda untuk mentutor Bangsa Papua yang masih terbelakang menuju kemajuan. Namun semuanya pun belum bisa benar2 dibuktikan kecuali alasan resmi pemerintah Belanda kala itu bahwa Papua berbeda dari Indonesia.

Quote:
Itu disebabkan karena Inggris juga telah kembali ke daerah jajahannya seperti Hongkong, Malasya, Australia, Papua New Guinea, Vanuatu, dll. Belanda tak dapat masuk pada waktu itu karena masih ada Penjajah Jepang. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, lalu Belanda berusaha mencoba kembali melalui Agresi Militer Belanda II tetapi gagal karena Indonesia telah dimemerdekakan oleh Jepang dan didaftarkan menjadi anggota PBB yang ke-60.


Memang Belanda ingin kembali ke Indonesia lagi karena negara2 sekutu lainnya yang memiliki koloni di bekas daerah Jepang juga kembali ke sana. Contohnya Inggris. Namun yang tidak disadari oleh Belanda, Jepang telah melakukan indoktrinisasi yang sangat hebat berkolaborasi dengan pemuka2 masyarakat Indonesia untuk menjatuhkan citra Belanda di mata penduduk Indonesia (yang mana pemuda adalah salah satu yang paling parah terhasut) sehingga ketika mereka datang mereka menghadapi dua penyambutan, bambu runcing oleh pemuda dan senyum oleh mereka yang tua. Sementara itu elit2 Indonesia kala itu sudah menyatakan negara itu merdeka terlebih dahulu melihat kesempatan akibat adanya vakum kekuasaan (yang mana sangat kukecam tindakannya). Ada pula alasan hukum mengapa Belanda kembali. Menurut perjanjian damai, semua wilayah yang sebelumnya dirampas Jepang harus dikembalikan ke "pemiliknya" termasuk Hindia Belanda. Selain itu dalam kapitulasi Kalijati di tahun 1942, yang menyerah kepada pemerintah Jepang hanyalah KNIL - militer Hindia Belanda bukan pemerintah sipilnya. Sehingga yang menyerah dalam perang, yang diserahkan kepada Jepang hanyalah KNIL, bukan Hindia Belandanya sebagai "negara". Jadi secara de jure Hindia Belanda itu tetaplah Hindia Belanda walau secara de facto sudah dikuasai oleh Jepang.

Quote:
Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, kemudian Soekarno melobi ke Perwakilan PBB tahun 1946 tetapi tidak mendapat dukungan karena wilayah Papua (Papua New Guinea dan Papua Barat) lagi dipersiapkan Belanda dan Inggris untuk berdiri sendiri (Merdeka penuh). Tetapi Soekarno tetap berjuang terus dalam Perjanjian Linggar Jati tahun 1946 pada waktu itu juga, dan juga pada Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949 di Denhaag Belanda. Di KMB, Indonesia mendapat titik terang karena Belanda berjanji akan diselesaikan 1 tahun kemudia karena daerah Papua Barat (West Papua) masih dalam Status Quo (Daerah Yang Belum Jelas Pemerintahannya). Tetapi setelah satu tahun kemudian (Tahun 1950), justru Belanda tetap dengan Konsistennya untuk mempersiapkan Kemerdekaan Papua sehingga Soekarno tetap geram dan berjuang terus melalui Forum-Forum Internasional seperti Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1950. Dan bahkan ke Forum Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB). Tetapi sayang, Soekarno tetap tidak mendapat dukungan juga dari pihak Internasional.


Satu hal yang suka dipelintir oleh sejarawan Indonesia adalah satu tahun itu. Yang dijanjikan dalam KMB adalah perundingan, bukan penyerahan. Artinya masalah Papua ditangguhkan penyelesaiannya satu tahun setelah KMB. Namun yang dimaksud Belanda dengan penyelesaian itu bukanlah penyerahan sebagaimana yang dikehendaki RI, tapi pelanjutan dari perundingan yang tertunda.

Quote:
Kemudian dibentukla Komando Mandala yang dipimpin oleh Major Jenderal Soeharto, untuk melakukan Operasi Penyusupan dan Operasi Mandala ke Papua Barat. TRIKORA telah diumumkan tetapi senjata tak ada karena Australia, Amerika, Inggris, Perancis (Seluruh Sekutu Belanda) tak mau memberikan senjata kepada Indonesia. Akhirnya Soekarno lari ke Rusia dan membeli senjata di sana, tetapi tetap tak mampu melawan Belanda karena peralatan Belanda lebih canggih apalagi diturunkannya kapal Induk Karel Doorman yang telah menenggelamkan kapal Yosudarso.


Bukan Hr. Ms. Karel Doorman yang menenggelamkan kapal Yos Sudarso tapi kapal lain.

Mengenai Rome Agreement... Aku tidak tahu tentang hal itu.

Di atas adalah tambahan atau mungkin perbaikan yang kuanggap perlu.

Ini adalah post terakhirku masalah Papua. Aku merasa semuanya sudah cukup jelas. Bila dilanjutkan hanya akan berputar di tempat. Ave Gratia, terima kasih karena telah ikut serta mendukung kemerdekaan Papua.

Papua Merdeka!
_________________
Q. Why then would the Protestants have the church to be invisible?
A. Because we have convinced them, that there were no Protestants to be seen or heard of in the world before Martin Luther.
Back to top
View user's profile Send private message
hario



Joined: 23 Jun 2008
Posts: 1113

PostPosted: Sat, 05-12-2009 11:51 pm    Post subject: Reply with quote

staquinas wrote:
Selain itu dalam kapitulasi Kalijati di tahun 1942, yang menyerah kepada pemerintah Jepang hanyalah KNIL - militer Hindia Belanda bukan pemerintah sipilnya. Sehingga yang menyerah dalam perang, yang diserahkan kepada Jepang hanyalah KNIL, bukan Hindia Belandanya sebagai "negara".


Karena KNIL bagi belanda hanyalah warga bumiputera yang diberi baju tentara belanda, dan tidak masalah untuk dikorbankan.

Untunglah alasan yang dibuat buat dan tidak masuk akal ini tidak berjalan.

staquinas wrote:

Ada beberapa pendapat mengenai sebab Belanda mempertahankan Papua mati2an dalam perundingan2 dengan RI. Ada yang bilang kalau pemerintah Belanda takut kehilangan muka (alasan favorit sejarawan RI), ada juga yang bilang kalau Belanda berharap bisa menciptakan surga tropis lain sebagai ganti Hindia yang hillang


Alasan utama adalah takut kehilangan sumber alam dan lahan jarahan.

staquinas wrote:
Satu hal yang suka dipelintir oleh sejarawan Indonesia adalah satu tahun itu. Yang dijanjikan dalam KMB adalah perundingan, bukan penyerahan. Artinya masalah Papua ditangguhkan penyelesaiannya satu tahun setelah KMB. Namun yang dimaksud Belanda dengan penyelesaian itu bukanlah penyerahan sebagaimana yang dikehendaki RI, tapi pelanjutan dari perundingan yang tertunda.


Untunglah sejarah membuktikan lain..., sehingga teori mendapatkan keuntungan dengan debat kusir tidak berujung pangkal khas belanda tidak berjalan.

staquinas wrote:

Sementara itu elit2 Indonesia kala itu sudah menyatakan negara itu merdeka terlebih dahulu melihat kesempatan akibat adanya vakum kekuasaan (yang mana sangat kukecam tindakannya).


Kemerdekaan RI bukan karena kevakuman kekuasaan tetapi karena kita berjuang dan menolak dijajah dan dijarah kembali oleh belanda.

staquinas wrote:
Ini adalah post terakhirku masalah Papua. Aku merasa semuanya sudah cukup jelas. Bila dilanjutkan hanya akan berputar di tempat.


Bagus !! karena memang jelas Papua adalah milik Republik Indonesia, sebagaimana Timor Timur sebelum dijual.

staquinas wrote:
Papua Merdeka!


Sebuah Pekikan Putus Asa.....

hario wrote:

Kembali ke topik, NKRI adalah harga mati, aku berani bertaruh bila ada pimpinan negara yang berani mengeluarkan kebjiakan membiarkan ada wilayah yang memerdekakan diri, entah melalui referendum atau apapun namanya seluruh TNI akan bergerak...pengalaman dan rasa sakit atas pengkhianatan di awal reformasi hingga ada bagian wilayah yang terlepas tidak bisa dihapuskan.....


Hari ini sempat berdiskusi dengan beberapa pihak dan aku sangat yakin dengan kebenaran stetement diatas..
_________________
Kang bêcík iku lamún ngêrti anané sêsantiné ngabdi bêbrayan agúng : "Ing Ngarså Asúng Tulådhå, Ing Madyå Amangún Karså, Tút Wuri Handayani"
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Santai Dulu Dong/ Come In And Relax All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous
Page 8 of 8

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17