FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Apa ajaran Gereja Katolik mengenai kebebasan beragama?    
Goto page: Previous Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Stanley



Joined: 29 Sep 2008
Posts: 3589

PostPosted: Wed, 17-02-2010 7:39 pm    Post subject: Reply with quote

DV, dengan hormat mohon jgn di ban dulu....

matakasih, saya coba melihat dari perspektif yg berbeda.

Pertama, simple saja... matakasih sepakat kan bhw orang BENAR yg bisa masuk surga. Bukan sekedar BAIK. Ok? Sepakat?

Nah, yang menentukan Benar dan Salah itu sebenarnya siapa sih? Tuhan kan? Itu otoritas Tuhan bukan? Sepakat sampe disini?

Nah, kalau ada seseorang mempunyai istri 3 orang, meninggal lalu bertemu dengan Yesus, menurut matakasih dengan tolok ukur kebenaran yg bagaimana yg Yesus akan menyatakan orang itu? Apakah dia dianggap oleh Yesus benar karena tidak melanggar ajaran agama yg dia kenal? Ato akankah Yesus berkata bahwa dia salah karena orang itu tidak pernah mau mendengar suaraNya yang selalu dikumandangkan lewat GerejaNya (yakni Gereja Katolik ini) dan juga melalui Roh KudusNya yang selalu berkarya didalam hati tiap-tiap manusia dengan membawa tiap manusia pada arah kebenaran?


Sekarang, sekali lg sisi yg berbeda... sadarkah anda bhw EENS ini justru memberikan ajaran kasih yg luar biasa besarnya bagi smua umat GK, ketimbang bila di luar gereja ada keselamatan? BAHKAN, EENS itu memberikan toleransi yg luar biasa besarnya bagi orang yg berada di luar Gereja. How come?

Sejujur2nya, sebagai manusia yg saat ini masih hidup di dunia ini... apakah mata kasih ingin berkumpul dengan saudara-saudari yg beragama lain? Klo saya, YES saya kepingin bisa kumpul dgn mereka. Saya pny banyak sekali saudara yg beragama lain. Budha, Konghucu, Muslim... saya ingin bisa berkumpul dgn mereka di surga.

NAH, ketika keinginan saya begitu besar.... maka saya akan melakukan segala hal yg merupakan ajaran kasih Kristus, supaya mereka melihat 'guiding light' yg saya coba bawakan didalam keluarga ini.

Saya akan berjuang menyangkal diri saya, sehingga saya bisa menjadi orang yg bermoral baik dan bertingkah laku dalam jalur kebenaran selalu.

Saya akan menyapa mereka dan membiarkan mereka sadar bahwa saya tidak membenci mereka hanya karena agama mereka. Melainkan saya akan membuat mereka mengerti seperti apa Allah yg saya sembah itu telah ajarkan pada murid2Nya dan termasuk saya.

Minimal adalah, semaximal mungkin saya menyampaikan kepada mereka kebenaran demi kebenaran yg saya kenal, sehingga mereka bisa melihat yg mana yg benar dan yg mana yg salah. Dengan demikian, dengan suatu pengharapan yg tulus, semoga didalam hati mereka mulai mencari lebih dan lebih lagi kebenaran itu.

In case mrk meninggal dalam keadaan masih beragama mereka, maka saya akan berdoa semoga Tuhan memberi pengampunan bagi jiwanya... sehingga yg namanya babtis kerinduan itu boleh benar2 mereka terima di api penyucian sana.


BANDINGKAN, bila kita menggunakan ajaran toleransi yg bernama 'diluar Gereja ada keselamatan'. Apa konsekuensinya? Saya akan membiarkan mereka menjalankan agamanya, meyakini bhw mereka memiliki kebenaran yang mereka layak jalankan sesuai dengan kitab suci mereka sendiri, dan saya tidak punya hak untuk menegur mereka bila mereka (misal): menceraikan istri mereka, mengaborsi anak mereka...maupun bila mereka mengatakan bahwa memahami Allah itu ada merupakan suatu kesia-siaan.

Apakah itu yg namanya kasih? Membiarkan mereka di rolling tray menuju neraka? (ibarat tempat mengambil tas dari bagasi pesawat).

Jadi, scr fungsionalnya.. EENS jauh lebih sesuai dengan kasih Kristus. Itu sebabnya... walau YES saya masih susah u/ memahami EENS dengan tepat, namun saya merasa EENS ini adalah dogma yg harus ditaati dan dipahami dengan kacamata iman, pengharapan dan kasih yang luar biasa besarnya.

Semoga Roh Kudus menerangi kita semua. MGBU
_________________
This is Spartaaa!
Back to top
View user's profile Send private message
mudamandiri



Joined: 09 Jan 2009
Posts: 354
Location: Surabaya

PostPosted: Wed, 17-02-2010 7:57 pm    Post subject: Reply with quote

DeusVult wrote:

Siapa yang setuju matakasih di ban?


kasiiih daaaah..... Ketawa
_________________
Salam domba.
Back to top
View user's profile Send private message
N_dre



Joined: 07 Dec 2008
Posts: 793

PostPosted: Wed, 17-02-2010 8:16 pm    Post subject: Reply with quote

Terus terang baru kali ini aku liat moderator kalo mau nge ban,
nanya2 dulu ke member2 yg lain...biasanya langsung di ban tanpa kompromi.

Matakasih di ban aja kalo ga ada niat utk diskusi dgn benar.
_________________
veritas!
Back to top
View user's profile Send private message
ceceps01



Joined: 19 Feb 2007
Posts: 1432

PostPosted: Wed, 17-02-2010 9:12 pm    Post subject: Reply with quote

N_dre wrote:
Terus terang baru kali ini aku liat moderator kalo mau nge ban,
nanya2 dulu ke member2 yg lain...biasanya langsung di ban tanpa kompromi.

Matakasih di ban aja kalo ga ada niat utk diskusi dgn benar.


Demokrasi, pake voting ngga?
Back to top
View user's profile Send private message
matakasih



Joined: 08 Feb 2010
Posts: 140

PostPosted: Wed, 17-02-2010 9:28 pm    Post subject: Reply with quote

@snavlys

Terimakasih atas nasehatnya.

@Stanley
Selama saya berada disini, baru anda satu2nya yang saya temui yang berusaha memahami pendapat orang lain dengan berbagai sudut pandang / perspektif yang berbeda.

Quote:
Pertama, simple saja... matakasih sepakat kan bhw orang BENAR yg bisa masuk surga. Bukan sekedar BAIK. Ok? Sepakat?

Nah, yang menentukan Benar dan Salah itu sebenarnya siapa sih? Tuhan kan? Itu otoritas Tuhan bukan? Sepakat sampe disini


setuju


Quote:
Nah, kalau ada seseorang mempunyai istri 3 orang, meninggal lalu bertemu dengan Yesus, menurut matakasih dengan tolok ukur kebenaran yg bagaimana yg Yesus akan menyatakan orang itu? Apakah dia dianggap oleh Yesus benar karena tidak melanggar ajaran agama yg dia kenal? Ato akankah Yesus berkata bahwa dia salah karena orang itu tidak pernah mau mendengar suaraNya yang selalu dikumandangkan lewat GerejaNya (yakni Gereja Katolik ini) dan juga melalui Roh KudusNya yang selalu berkarya didalam hati tiap-tiap manusia dengan membawa tiap manusia pada arah kebenaran?


Yesus berkata bahwa dia salah karena orang itu tidak pernah mau mendengar suaraNya yang selalu dikumandangkan lewat GerejaNya (yakni Gereja Katolik ini) dan juga melalui Roh KudusNya yang selalu berkarya didalam hati tiap-tiap manusia dengan membawa tiap manusia pada arah kebenaran?

Quote:
Sekarang, sekali lg sisi yg berbeda... sadarkah anda bhw EENS ini justru memberikan ajaran kasih yg luar biasa besarnya bagi smua umat GK, ketimbang bila di luar gereja ada keselamatan? BAHKAN, EENS itu memberikan toleransi yg luar biasa besarnya bagi orang yg berada di luar Gereja. How come?

Sejujur2nya, sebagai manusia yg saat ini masih hidup di dunia ini... apakah mata kasih ingin berkumpul dengan saudara-saudari yg beragama lain? Klo saya, YES saya kepingin bisa kumpul dgn mereka. Saya pny banyak sekali saudara yg beragama lain. Budha, Konghucu, Muslim... saya ingin bisa berkumpul dgn mereka di surga.

NAH, ketika keinginan saya begitu besar.... maka saya akan melakukan segala hal yg merupakan ajaran kasih Kristus, supaya mereka melihat 'guiding light' yg saya coba bawakan didalam keluarga ini.

Saya akan berjuang menyangkal diri saya, sehingga saya bisa menjadi orang yg bermoral baik dan bertingkah laku dalam jalur kebenaran selalu.

Saya akan menyapa mereka dan membiarkan mereka sadar bahwa saya tidak membenci mereka hanya karena agama mereka. Melainkan saya akan membuat mereka mengerti seperti apa Allah yg saya sembah itu telah ajarkan pada murid2Nya dan termasuk saya.

Minimal adalah, semaximal mungkin saya menyampaikan kepada mereka kebenaran demi kebenaran yg saya kenal, sehingga mereka bisa melihat yg mana yg benar dan yg mana yg salah. Dengan demikian, dengan suatu pengharapan yg tulus, semoga didalam hati mereka mulai mencari lebih dan lebih lagi kebenaran itu.

In case mrk meninggal dalam keadaan masih beragama mereka, maka saya akan berdoa semoga Tuhan memberi pengampunan bagi jiwanya... sehingga yg namanya babtis kerinduan itu boleh benar2 mereka terima di api penyucian sana.


Saya sangat setuju dengan anda. Kebenaran tidak terbatas hanya pada sebuah dogma karena pada akhirnya orang hanya akan melihat itu sebagai sebuah slogan belaka. Kebenaran GK harus terlihat dari aksi nyata yang seharusnya mudah dipahami oleh orang diluar GK.


Quote:
BANDINGKAN, bila kita menggunakan ajaran toleransi yg bernama 'diluar Gereja ada keselamatan'. Apa konsekuensinya? Saya akan membiarkan mereka menjalankan agamanya, meyakini bhw mereka memiliki kebenaran yang mereka layak jalankan sesuai dengan kitab suci mereka sendiri, dan saya tidak punya hak untuk menegur mereka bila mereka (misal): menceraikan istri mereka, mengaborsi anak mereka...maupun bila mereka mengatakan bahwa memahami Allah itu ada merupakan suatu kesia-siaan.

Apakah itu yg namanya kasih? Membiarkan mereka di rolling tray menuju neraka? (ibarat tempat mengambil tas dari bagasi pesawat).

Jadi, scr fungsionalnya.. EENS jauh lebih sesuai dengan kasih Kristus. Itu sebabnya... walau YES saya masih susah u/ memahami EENS dengan tepat, namun saya merasa EENS ini adalah dogma yg harus ditaati dan dipahami dengan kacamata iman, pengharapan dan kasih yang luar biasa besarnya.


Pemahaman saya tentang Bahwa diluar Gereja Katolik ada keselamatan tidaklah seperti yang anda analogikan di atas.

Saya pribadi tidaklah menganggap bahwa seluruh agama benar, tetapi terlalu naif juga jika menganggap sama sekali tidak ada kebenaran dan semua yang ada dalam agama lain adalah salah dan seluruh penganutnya tidak akan selamat.

Stanley, mohon ada ajari saya dan beritahu jika saya salah.
Saya memahami EENS sebagai berikut:
1. Tak ada satupun dari mereka yang sudah bergabung dengan GK akan selamat jika tidak melalui GK.
2. Orang yang belum menjadi anggota GK jika dia memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh GK (bukan dengan ukuran agamanya, tetapi dengan ukuran2 dari GK) dia berpeluang untuk selamat, meski peluang tersebut sangatlah kecil dibanding mereka jika berada dalam GK karena dalam GK mereka seharusnya mendapatkan berbagai kemudahan2 seperti babtis, sakramen pengakuan dosa, komuni kudus, dsb.
3. Pada prakteknya, ketika saya harus menjelaskan EENS kepada mereka yang belum memahaminya, adalah belum tentu mereka meng-amini-nya hanya dengan alasan bahwa itu adalah dogma katolik meski saya menyajikan segudang dokumen gereja. Kalau saya mau bicara dengan kambing, maka saya harus berbicara dengan bahasa kambing. Kalau pengetahuan seorang awam tentang keselamatan hanyalah sebatas "kalau saya melakasanakan perintah untuk mengasihi Allah dan sesama saya akan selamat", maka mereka juga akan cenderung untuk memandang mereka yang non katolik akan selamat bila orang non katolik tersebut juga mengasihi Allah dan sesama seperti yang mereka lakukan, dan akan sangat sulit untuk menjelaskan kepada mereka dengan bahasa2 yang tinggi, dogma-dogma (bahkan mungkin merekapun tidakmemahami kata dogma) atau dokumen gereja. Saya harus menggunakan bahasa yang mereka mengerti, mencoba untuk memahami sudut pandang mereka, dan berbicara dengan bahasa yang mereka pahami, kalau tidak cuma dianggap sedang berdongeng. Permasalahannya seringkali bukan pada kebenaran materi yang disampaikan, tetapi cara penyampaian.

4. Sayapun memiliki pemikiran bahwa, Allah pasti akan menyelamatkan orang yang mengasihi dan menjalankan perintahNya, yang tentunya berpatokan dari sudut pandang GK bukan mengasihi dan menjalan perintah sesuai ajaran agamanya.

5. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, saya memiliki pemikiran tidakkah akan lebih bijaksana bila kita mengatakan pada mereka (non katolik) bahwa jika seseorang mengasihi Allah dan sesama (dari perspektif GK) maka mereka memiliki peluang untuk selamat,.... dibandingkan secara tegas kita mengatakan "DILUAR GEREJA KATOLIK ANDA TIDAK AKAN MEMPEROLEH KESELAMATAN", karena jika anda secara tegas menyatakan itu dihadapan mereka, bukan tidak mungkin mereka akan memberikan resistensi yang cukup besar. Pemasalahannya adalah ketika saya mengatakan bahwa "jika seseorang mengasihi Allah dan sesama (Allah, mengasihi, dan sesama sesuai dengan perspektif GK) maka mereka memiliki peluang untuk selamat" apakah itu bertentangan dengan ajaran gereja ??? ..........
Karena sejauh pemahaman saya, resistensi terhadap kristen saat ini sangatlah besar. Untuk itu diperlukan cara-cara yang lebih bijaksana dalam melakukan pewartaan, seperti yang anda uraikan tadi, mulai dari memberi contoh sikap seorang katolik yang baik dan menguraikan ajaran2 GK dengan bahasa2 sehari-hari yang lebih mudah diterima oleh orang non Katolik. Yang pertama kali bukanlah sebuah pengakuan tentang kebenaran ayat2 kitab suci, bukan pengakuan terhadap Allah trinitas, bukanlah pengakuan terhadap dogma dan kekuasaan Gereja, tetapi yang terpenting adalah bagaimana agar perilaku mereka sudah sesuai dengan ajaran GK meski tanpa mereka sadari (setidaknya sudah ada peluang selamat), ketimbang saya mengedepankan pengakuan2 tsbt yang malah membuat orang langsung mengambil sikap bersebrangan.
Karena kegagalan proses pewartaan dapat disebabkan oleh sikap arogansi dan ketegasan tanpa melihat situasi dan kondisi. Keteguhan Iman adalah penting, kebijaksanaan juga penting, sehingga perbuatan2 yang kita lakukan tidak sia2.

Terimakasih
Back to top
View user's profile Send private message
Ave Gratia



Joined: 20 May 2009
Posts: 913

PostPosted: Wed, 17-02-2010 9:28 pm    Post subject: Reply with quote

Semua yang tertulis pada Web EDO mulai dari kalimat membangun Imam dan Moral sampai kalimat sesat dan jahat sekalipun adalah asset terkaya dan tak tergantikan bagi Web EDO yang kita cintai ini. Saya sama sekali tidak bisa menyepelekan untuk tidak menghargai eks members yang di ban karena tingkah dan gaya menulis mereka melanggar persyaratan administrasi yang telah di tetapkan di Wenb EDO ini.


eks members yang telah di ban dengan tulisan bermacam-macam gaya dan sikap seperti ;

Pura-pura bodoh

Sudah bebal sok mengajar lagi...

Memfitnah, Memaki, Menghujat, dll.

Tulisan eks members dengan tingkah laku seperti itu justru memberi peluang emas bagi members yang sungguh-sungguh mau belajar berapologist Iman Katholik di Web EDO ini, cuman....eeerr...ehm...para Modie harus bekerja ekstra rajin dan teliti check and recheck setiap posting mereka....


Jadi, bila DV bertanya ; "Siapakah yang setuju Matakasih di ban?" , mau saya ; Jangan di ban, paling tidak berilah dia kesempatan dua kali lagi setelah warning malam ini.


Cherio.!
Back to top
View user's profile Send private message
Flamen



Joined: 02 Jan 2010
Posts: 550

PostPosted: Wed, 17-02-2010 10:51 pm    Post subject: Reply with quote

Bung DV, minta matakasiH memberi penjelasan mengenai kuTipan LSA tentang tulisan paus yohanes paulus 2 dulu. Saya rasa itu kunci dr pemahaman EENS dia. Jika dia berkilah,ban saja.saya harap yg lain menahan diri utk tdk posting dibwh saya.terima kasih.
_________________
Catholic, Something That You Choose, Simply Because God Pick You...
Back to top
View user's profile Send private message
Flamen



Joined: 02 Jan 2010
Posts: 550

PostPosted: Wed, 17-02-2010 10:57 pm    Post subject: Reply with quote

LovingStAnthony wrote:
matakasih wrote:
LovingStAnthony wrote:
DeusVult wrote:
matakasih,

5. Mengenai jawabanmu atas ajaran Gereja mengenai kebebasan beragama yang merupakan kutipan-kutipan dari Dignitatis Humanae, silahkan dijelaskan dibagian mana ada pertentangan dengan ajaran Diluar Gereja Tidak Ada Keselamatan.


Pertentangan bukan pada dokumennya...., tetapi pada pemahaman anda. Anda keliru memahami ajaran Di Luar Gereja Katolik ada Keselamatan. Sayangnya saya tidak bisa meminta anda membaca tulisan saya yang terakhir, karena nanti malah disangka memerintah.... Ketawa Ngakak

Kalau pemikiran saya salah, maka pemikiran KWI juga salah dan yang mengeluarkan surat teguran itu juga salah....

Paus Yohanes Paulus II (“All Salvation Comes Through Christ”, 31 Mei 1995):
    It is important to stress that the way of salvation taken by those who do not know the Gospel is not a way apart from Christ and the Church.

    Since Christ brings about salvation through his Mystical Body, which is the Church, the way of salvation is connected essentially with the Church.
    ….
    In order to take effect, saving grace requires acceptance, cooperation, a yes to the divine gift. This acceptance is, at least implicitly, oriented to Christ and the Church. Thus it can also be said that sine ecclesia nulla salus--"without the Church there is no salvation." Belonging to the Church, the Mystical Body of Christ, however implicitly and indeed mysteriously, is an essential condition for salvation.
    ….
    Hence the importance of the Church's indispensable role. ….. She thus exercises an implicit mediation also with regard to those who do not know the Gospel.


Terjemahan:
    Penting untuk ditekankan bahwa jalan keselamatan yang dilalui oleh mereka yang tidak mengenal Injil bukanlah jalan yang terpisah dari Kristus dan Gereja.

    Karena Kristus mewujudkan keselamatan melalui Tubuh Mistik-Nya, yang adalah Gereja, jalan keselamatan terhubung secara hakiki dengan Gereja.

    Supaya terwujud, rahmat menyelamatkan itu menuntut penerimaan, kerja sama, suatu jawaban “Ya” pada karunia ilahi. Penerimaan ini, setidaknya secara implisit, diarahkan pada Kristus dan Gereja. Jadi, dapat juga dikatakan bahwa sine ecclesia nulla salus—tanpa Gereja tidak ada keselamatan. Berada di dalam Gereja, Tubuh Mistik Kristus, betapa pun implisit dan misteriusnya, adalah syarat hakiki bagi keselamatan.

    Di sinilah pentingnya peranan Gereja yang tak terpisahkan…..Dia [Gereja] melaksanakan perantaraan implisit juga bagi mereka yang tidak mengenal Injil.


silahkan matakasih jelaskan maksud kutipan paus paulus 2, SEMAMPU ANDA!
_________________
Catholic, Something That You Choose, Simply Because God Pick You...
Back to top
View user's profile Send private message
Celestine



Joined: 06 Oct 2007
Posts: 500
Location: Pacem in Terris

PostPosted: Thu, 18-02-2010 2:59 am    Post subject: Reply with quote

Teman-temanku yang terkasih dalam EDO, ijinkan aku untuk membuat sedikit pelurusan pemahaman tentang dokumen "Dignitatis Humanae" (DH) yang dipertanyakan (dan dipertentangkan) oleh user "matakasih" melalui pernyataannya;

Quote:
Jika diluar GK tidak ada keselamatan, maka Pernyataan Kebebasan Beragama yang dikeluarkan oleh Vatikan pada Konsili Vatikan ke II merupakan sebuah penyesatan, karena malah mengakui kebebasan beragama (itu berarti GK mendorong sebagian umat manusia untuk tidak selamat)


Pernyataan ini sungguh menarik, sebab kita bisa melihat cerminan pemahaman yang keliru oleh kebanyakan umat Katolik tentang dokumen DH dari KV II, yang seringkali ditampilkan di sementara media sebagai; "Deklarasi Kebebasan Beragama"

Sepintas, membaca tampilan tersebut yang ada di benak kita adalah
Kebebasan Beragama, memang betul, itu lah isi dari dokumen tersebut, tetapi justru hal paling esensial malah diabaikan, bahkan dilupakan. Yaitu JUDUL dari dokumen tersebut. Mari kita perhatikan baik-baik; Dignitatis Humanae, dari judul berbahasa latin tersebut sudah sangat jelas, akan apa yang hendak disampaikan dalam dokumen tersebut, mari kita terjemahkan bebas dalam bahasa Inggris; Human Dignity, atau, jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Kodrat Luhur Manusia. Dokumen ini hendak menerangkan perihal Kodrat Luhur manusia. Lantas, apa itu "kodrat luhur" tersebut?

Pertama, kita harus ber-katekese dahulu akan eksistensi Allah, Penyelenggaraan Ilahi, dan Dosa Asal. Manusia dari semula diciptakan oleh Allah baik adanya. Tentu saja, kita harus mengimani bahwa manusia diciptakan dengan anugerah Kehendak Bebas, yaitu memilih kebaikan atau kejahatan, atau bisa pula, mendekati atau menjauhi Allah. Ini harus dipahami terlebih dahulu. Kemudian dalam kitab Kejadian bisa kita lihat, manusia jatuh ke dalam dosa, ini kita kenal sebagai Dosa Asal. Sejak itu hubungan mesra antara manusia dengan Allah tidak seperti sediakala, menjadi terpisah, semua ini adalah akibat dosa asal. Sekalipun manusia telah berdosa, namun kodratnya TIDAK hancur sama sekali, namun melemahkan kekuatan alaminya. Apa artinya? ialah manusia terus condong untuk berbuat dosa. Di sisi lain, manusia memiliki kerinduan akan persatuan kembali kepada Allah, yaitu menuju akhir Penyelenggaraan Ilahi. Maka, dengan segala macam cara, manusia terus menerus mencari Allah, melalui agama-agama. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk religius. Mari kita perhatikan, apa pandangan Gereja tentang agama-agama lain dalam dokumen Nostra Aetate art.2;

Quote:
Nostra Aetate art.2
............................
Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.[4]..............


Jika kita memerhatikan, “memantulkan”, ia bukanlah “sumber cahaya kebenaran”, ia hanyalah “memantulkan” apa yang sudah ada dan terpancar. Aku berpendapat, Gereja mengakui adanya kebenaran di luar Gereja, karena kodrat manusia yang berkurang kekuatan alaminya akibat dosa asal, masih menyimpan kerinduan akan persatuan kembali dengan Allah yang membimbing manusia tersebut menuju terang kebenaran, maka memang ada nilai-nilai kebenaran untuk menuntun mereka menuju terang kebenaran sejati yaitu Kristus melalui GerejaNya. Hanya saja, kebenaran di luar Gereja tersebut tidaklah sempurna, sehingga tertulis pula dalam Lumen Gentium art.16;

Quote:
“..Tetapi sering orang-orang, karena ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran-pikiran yang sesat, yang mengubah kebenaran Allah menjadi dusta, dengan lebih mengabdi kepada ciptaan daripada Sang Pencipta (lih. Rom 1:21 dan 25)… “ (LG 16)


Jadi, “kebenaran” yang terkandung dalam agama-agama di luar Gereja, TIDAK bisa diidentikkan dengan “keselamatan” yang memang adalah murni rahmat Allah, diberikan kepada manusia melalui karya penebusan dosa oleh Kristus dengan kerja sama manusia, dan sakramen-sakramen dalam Gereja. Namun “kebenaran-kebenaran” tersebut akan mengantar manusia di luar Gereja kepada Gereja, sumber terang kebenaran sejati yang langsung dari Allah.

Kini aku kutipkan artikel pertama dari Dignitatis Humanae

Quote:
1. MARTABAT PRIBADI MANUSIA semakin disadari oleh manusia zaman sekarang[1]. Bertambahlah juga jumlah mereka yang menuntut, supaya dalam bertindak manusia sepenuhnya menggunakan pertimbangannya sendiri serta kebebasannya yang bertanggung jawab, bukannya terdorong oleh paksaan, melainkan karena menyadari tugasnya. Begitu pula mereka menuntut supaya wewenang pemerintah dibatasi secara yuridis, supaya batas-batas kebebasan yang sewajarnya baik pribadi maupun kelompok-kelompok jangan dipersempit. Dalam masyarakat manusia tuntutan kebebasan itu terutama menyangkut harta-nilai rohani manusia, dan teristimewa berkenaan dengan pengalaman agama secara bebas dalam masyarakat. Dengan saksama Konsili Vatikan ini mempertimbangkan aspirasi-aspirasi itu, dan bermaksud menyatakan betapa keinginan-keinginan itu selaras dengan kebenaran dan keadilan. Maka Konsili ini meneliti Tradisi serta ajaran suci Gereja, dan dari situ menggali harta baru, yang selalu serasi dengan khazanah yang sudah lama.

Oleh karena itu Konsili suci pertama-tama menyatakan, bahwa Allah sendiri telah menunjukkan jalan kepada umat manusia untuk mengabdi kepada-Nya, dan dengan demikian memperoleh keselamatan dan kebahagiaan dalam Kristus. Kita percaya, bahwa satu-satunya Agama yang benar itu berada dalam Gereja katolik dan apostolik, yang oleh Tuhan Yesus diserahi tugas untuk menyebarluaskannya kepada semua orang, ketika bersabda kepada para Rasul: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20). Adapun semua orang wajib mencari kebenaran, terutama dalam apa yang menyangkut Allah dan Gereja-Nya. Sesudah mereka mengenal kebenaran itu, mereka wajib memeluk dan mengamalkannya.

Begitu pula Konsili suci menyatakan, bahwa tugas-tugas itu menyangkut serta mengikat suara hati, dan bahwa kebenaran itu sendiri, yang merasuki akal budi secara halus dan kuat. Adapun kebebasan beragama, yang termasuk hak manusia dalam menunaikan tugas berbakti kepada Allah, menyangkut kekebalan terhadap paksaan dalam masyarakat. Kebebasan itu sama sekali tidak mengurangi ajaran katolik tradisional tentang kewajiban moral manusia dan masyarakat terhadap agama yang benar dan satu-satunya Gereja Kristus. Selain itu dalam menguraikan kebebasan beragama Konsili suci bermaksud mengembangkan ajaran para paus akhir-akhir ini tentang hak-hak pribadi manusia yang tidak dapat di ganggu-gugat, pun juga tentang penataan yuridis masyarakat.


Selain yang aku cetak tebal, mari, dengan kutipan-kutipan dokumen di atas, dapat kita rangkumkan secara singkat bahwa;
  1. Kodrat manusia adalah untuk mencari Allah dalam kebenaran-kebenaran yang ia peroleh melalui pendekatan akal budi
  2. Dalam pencariannya akan kebenaran, timbullah agama-agama, sebagai sekumpulan usaha manusia dalam mencari Allah, maka sedikit banyak terkandung di dalamnya nilai-nilai kebenaran
  3. Namun kebenaran-kebenaran tersebut tidak mencapai kesempurnaan, dan tidak akan mencapai kesempurnaan selain melalui firman Allah
  4. Allah telah menjanjikan keselamatan kepada manusia sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa
  5. Allah mewahyukan diri secara bertahap kepada manusia melalui perantaraan para nabi di Perjanjian Lama, dan terus berjanji untuk memberikan kepenuhan SabdaNya, hal ini terbukti melalui nubuat para nabi
  6. Setelah manusia mulai mengenal Allah dan mengenal sabda-sabdaNya, maka Allah menyatakan diri sebagai manusia sebagai Yesus Kristus, Sabda telah menjadi daging dan tinggal di antara kita.
  7. Hanya dalam diri Yesus Kristus, Allah telah mewahyukan seluruhnya secara sempurna. Inilah janji keselamatan kepada manusia pertama dan nubuat para nabi mencapai keutuhannya.
  8. Kristus menjanjikan keselamatan kekal sebagai akhir dari Penyelenggaraan Ilahi melalui GerejaNya (Mat 16:18), sesuai janjiNya, Gereja tidak akan jatuh ke dalam alam maut. Hanya melalui Gereja lah manusia dapat beroleh keselamatan.
  9. Pewahyuan Kristus adalah yang terakhir dan sudah mencapai segala kesempurnaan dan kepenuhannya, sesudahnya TIDAK ada wahyu lagi, hanya wahyu pribadi yang hanya bersifat perbendaharaan iman.
  10. Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus di dunia adalah satu-satunya sarana keselamatan, mereka yang benar-benar tahu bahwa Gereja bersifat menyelamatkan, namun menolak untuk ikut dan masuk di dalamnya, kepadanya TIDAK DAPAT diselamatkan.
  11. Pewahyuan sudah tergenapi, GerejaNya sudah berdiri, maka ia yang dengan tulus dan rendah hati terus mencari kebenaran, ia akan menemukannya dalam Gereja, Baptism of Desire. Dengan catatan, ia sungguh sama sekali tidak tahu adanya Gereja eksistensial atau fisik (INVINCIBLE IGNORANCE). Perlu dibedakan dengan CULPABLE ignorance, ketidaktahuan karena KELALAIAN.
  12. Setiap usaha manusia dalam pencarian kebenaran tidak boleh dihalang-halangi oleh siapa pun, sebab usaha apa pun yang menghalanginya adalah suatu pelanggaran kodrat dan juga merendahkan martabat pribadi manusia tersebut dalam mencari Allah dan juga menemukan GerejaNya.
  13. Gereja menghimbau kepada individu, institusi dan negara untuk menjamin adanya kebebasan tersebut.
  14. Usaha melarang peribadatan dapat ditemukan di beberapa negara Komunis
  15. Usaha pemaksaan agama tertentu bisa ditemukan di beberapa negara juga
  16. Usaha menghambat peribadatan seperti merusak tempat peribadatan seperti juga di Indonesia, termasuk pelanggaran berat akan kodrat dan martabat manusia.


Jadi, kita bisa melihat dengan jelas, dan kembali kepada pertanyaan matakasih, apakah Dignitatis Humanae, Deklarasi Kebebasan Beragama mengingkari ajaran bahwa "Di Luar Gereja Tidak Ada Keselamatan"?

Aku rasa pertanyaan tersebut sudah bisa dijawab, semuanya terjelaskan dengan begitu jelasnya.

Satu hal yang perlu kita pahami, doktrin tidak pernah berubah dan tidak akan berubah (semper idem), namun pemahaman akan doktrin akan terus berkembang (semper reformanda), TETAPI tidak akan pernah mengingkari arti fundamental dari doktrin tersebut.

Semoga penjelasan ini bisa bermanfaat bagi yang terus menerus mempertentangkan doktrin EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus) serta kesalahpahaman akan dokumen Dignitatis Humanae.

Sebelum aku akhiri, aku cantumkan rangkuman seluruh tulisan ini dalam Katekismus Gereja Katolik mengenai DH 1;

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK   @ Ekaristi dot Org
2108Hak atas kebebasan beragama tidak berarti izin moral untuk menganut satu kekeliruan Bdk. Leo XlH, Ens. "Libertas praestantissitnum"., juga bukan satu hak atas kekeliruan Bdk. Pius X11, Wejangan 6 Desember 1953., melainkan ia adalah hak kodrati manusia atas kebebasan sipil, artinya, bahwa dalam bidang keagamaan dalam batas-batas yang wajar - tidak dilakukan paksaan dari luar oleh kekuasaan politik. Hak kodrati ini harus diakui di dalam tata hukum masyarakat, sehingga ia menjadi hukum negara Bdk. DH 2..1740


Aku harap "matakasih" bersedia untuk meluruskan pemahaman akan keselamatan dan tidak meneruskan pendapatnya bahwa di luar Gereja ada keselamatan, dan dokumen DH membolehkan kebebasan sebebas-bebasnya untuk memeluk agama-agama sebagai pembenaran atas keselamatan di luar Gereja.

Pax Christe


Thianren
_________________
Quote:
...Porro subesse Romano Pontifici omni humanae creaturae declaramus dicimus, definimus et pronunciamus omnino esse de necessitate salutis.
-...Kami menyatakan, kami mewartakan, dan kami menegaskan bahwa adalah sangat perlu bagi semua orang demi keselamatan mereka, tunduk pada kekuasaan Paus Roma.
(Unam Sanctam, Bull Pp. Bonifacius VIII)


'Ubi Petrus, ibi Ecclesia'
- 'Di mana ada Petrus, di situ ada Gereja'
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10689
Location: Orange County California

PostPosted: Thu, 18-02-2010 5:05 am    Post subject: Reply with quote

snavlys wrote:
saudara DV saya rasa matakasih jangan di ban dulu.. marilah kita bersabar dimasa pra paskah ini... semoga dalam masa pra paskah ini, matakasih dibukakan mata hati, pikiran dan akal budinya melalu EDO.


Coba kalau kamu melihat apakah ada rasa penyesalan atau permintaan maaf atas kemunafikannya dan kebohongannya. Kalau tidak ada, bukannya lebih baik diamputasi sebelum menjalar?


Stanley wrote:

DV, dengan hormat mohon jgn di ban dulu....


Kenapa?



Ave Gratia wrote:

Jadi, bila DV bertanya ; "Siapakah yang setuju Matakasih di ban?" , mau saya ; Jangan di ban, paling tidak berilah dia kesempatan dua kali lagi setelah warning malam ini.


Diberi kesempatan tentunya dengan harapan di kesempatan kedua dia berubah. Bisakah itu? Paling tidak pertama=-tama dia harus mengakui ketidaktulusannya. Akankah ini dilakukan?

Coba dilihat.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous Next
Page 6 of 10

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17