FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

[Video] Uskup yang Arogan?    
Goto page: Previous

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Sun, 24-08-2014 12:36 pm    Post subject: Reply with quote

Berusalah supaya Indonesia tidak menjadi seperti negara-negara Barat.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
raydo12



Joined: 24 Oct 2005
Posts: 2585
Location: Jakarta

PostPosted: Mon, 25-08-2014 10:48 am    Post subject: Reply with quote

DeusVult wrote:
Berusalah supaya Indonesia tidak menjadi seperti negara-negara Barat.


bagaimana bentuk usahanya ?

berdoa terjadilah menurut kehendakNya, apakah lebih baik ?

Ada yang mengatakan dalam saat2 yang sulitlah iman kita bisa kuat dan justru dalam situasi yang aman2 dan menyenangkan kita bisa kehilangan iman.
_________________
ora pro nobis. Sancta Dei Genitrix
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Mon, 25-08-2014 4:50 pm    Post subject: Reply with quote

Kalau kamu Romo, ajarilah umatmu mana yang benar

Kalau kamu katekis, ajarilah katekumenmu mana yang benar.

Kalau kamu ayah, ajarilah keluargamu mana yang benar.



Do what you can. Every little bit makes a difference.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
jarijempol



Joined: 08 Apr 2008
Posts: 171

PostPosted: Tue, 26-08-2014 10:55 pm    Post subject: Reply with quote

Paste dari Facebook "Katolik Indonesia" dated 26 Aug 2014.

Quote:
Berikut adalah hasil pembahasaan ulang dari sebuah artikel yang berisikan rincian kronologi bagaimana Uskup Agung Metropolitan Kupang, Mgr. Petrus Turang berkali-kali berupaya melakukan rekonsiliasi dan setiap kali juga SELALU DITOLAK oleh Romo Yohanes Subani, seorang imam pendidik dan pengajar di Seminari Tinggi Sto. Michael, Penfui, Kupang.
====

Kasus teguran Mgr. Turang terhadap Romo Subani rupanya berbuntut panjang, meski sebenarnya sudah dianggap selesai oleh kaum beriman setempat, jauh sebelum 59 imam+suster yang sementara berada di Luar Negeri mengumbar masalah ini ke publik melalui Surat Terbuka yang sengaja dimuat di banyak media massa dan sosial media.

Nampaknya tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Bapa Uskup sudah meminta maaf kepada umat, para imam+suster yang hadir.

Hal itu dilakukan setelah selesai misa, namun Romo Subani rupanya sudah pulang.

Oleh sebab itu, para imam+suster dan umat yang hadir pada acara itu sudah menganggap semua masalah selesai dan tidak perlu diperpanjang lagi, sehingga nampaknya mereka seolah-oleh menyembunyikan masalah tersebut.

Mengingat karakter Mgr. Turang bukan tipe orang yang tidak suka membiarkan masalah berlarut-larut, dan karena Romo Subani sudah pulang saat beliau meminta maaf, maka pada hari itu juga Bapa Uskup meminta Sekretaris Keuskupan dan romo ekonom untuk menelepon sang imam guna melakukan rekonsiliasi.

Namun tidak ada respon.

Selang beberapa hari kemudian, Mgr. Turang mendatangi Seminari Tinggi St. Michael, Penfui-Kupang, yang juga menjadi tempat mengajar sekaligus tempat tinggal Romo Subani, untuk melantik Praefaeses Seminari Tinggi. Kesempatan ini dipergunakan oleh Bapa Uskup untuk bertemu dengan Romo Subani.

Namun maksud baik Bapa Uskup ditolak dengan alasan masih trauma. Bahkan saat itu Romo Subani tidak ikut merayakan Ekaristi meskipun termasuk salah seorang pembina para frater di Seminari Tinggi Sto. Michael itu.

Setelah itu, dalam berbagai kesempatan visitasi ke Seminari Tinggi St. Michael, termasuk tanggal 18 Agustus kemarin saat membuka Tahun Ajaran baru, Bapa Uskup masih berharap bisa bertemu dengan Romo Subani.

Namun sang imam selalu menghindar dan tetap tinggal di kamar selama visitasi Bapa Uskup dengan alasan masih tetap trauma sambil terus memendam rasa sakit hatinya karena teguran itu.

Romo Subani sebenarnya sempat menulis Surat Terbuka yang disebarkan kepada seluruh umat dan para imam yang berada di Kupang yang intinya meminta Mgr. Turang untuk meminta maaf di hadapan publik.

Mengingat Seminari Tinggi St. Michael tempat Romo Subarni bertugas mendidik dan mengajar ini milik 3 keuskupan (Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, Keuskupan Wetebula) maka yang dianggap bisa memediasi persoalan ini hanyalah Uskup Atambua dan Uskup Wetebula.

Namun Mgr. Turang karena merasa persoalan ini tinggal antara beliau dan Romo Subani, mengingat beliau sudah meminta maaf di akhir acara itu, maka Bapa Uskup selalu berupaya menemui sang imam secara pribadi untuk tujuan rekonsiliasi.

Terakhir setelah beredarnya Surat Terbuka dari ke-59 imam+suster yang sementara sedang berada di Luar Negeri dan terpisah ribuan kilometer dari lokasi kejadian, pihak keuskupan-keuskupan mencoba berusaha lagi mendamaikan Romo Subani dengan Bapa Uskup.

Seperti biasa, Romo Subani mengelak, namun kali ini dengan alasan bahwa kasusnya sudah diserahkan kepada KWI dan Nuncio ( = Duta Besar Vatikan).

Mgr. Turang sebagai Ketua KomSos KWI tentu mengetahui benar bagaimana cara mempergunakan media sosial semacam FB ini sebagai media pewartaan Kabar Gembira. Namun beliau bersama para imamnya pasti tidak akan memanfaatkan media sosial untuk menyerang balik guna memuaskan emosi sesaat. Beliau lebih memilih berdoa dalam diam.

Mereka lebih memilih untuk menggunakannya guna memelihara persaudaraan dan meneguhkan kawanan dombanya yang mengalami kegalauan akibat beredarnya video dan Surat Terbuka itu.

Dalam diamnya, Monsinyur Turang tetap selalu hadir bersama umat di dalam berbagai kegiatan-kegiatan keuskupan, malahan justru menimbulkan simpati dan rasa cinta yang mendalam, serta membuat para imam dan umat semakin solid dan kompak.

Catatan:

Tradisi mencium cincin Uskup pertama kali diperkenalkan dan diajarkan kepada umat di Kupang justru oleh imam-imam SVD dan suster-suster SSpS.

Bahkan tidak hanya sekedar mencium cincin saja, tetapi disertai dengan berlutut.

Mengapa justru sekarang ada sebagian imam-imam SVD dan suster-suster SSpS asli Kupang dan sekitarnya yang sementara bertugas jauh di Luar Negeri yang justru membela seorang imam pendidik dan pengajar yang menolak menjalankan tradisi tsb?

Ada apa kepentingan apakah ini?
+++

Fratres,
Kalau yang satu berdoa dan yang lain mengutuk, suara siapa gerangan mesti didengarkan Tuhan?


https://www.facebook.com/katolikfan?fref=nf
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous
Page 3 of 3

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17