FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Sebuah Cerita Nyata (problema ? mungkin ya mungkin tidak)    

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera
View previous topic :: View next topic  
Author Message
stuzi



Joined: 27 May 2015
Posts: 166

PostPosted: Sat, 07-07-2018 2:18 am    Post subject: Sebuah Cerita Nyata (problema ? mungkin ya mungkin tidak) Reply with quote

Anakku yang pertama itu seorang perempuan, saat ini dia sudah lulus kuliah, sudah bekerja dengan pebghasilan yang sangat mencukupi.

Walau sudah bisa mandiri namun masih tinggal bersama, karena memang rumah cukup besar dan tidak ada gunanya membuang uang untuk tinggal sendiri (bedakan dengan investasi bila membeli rumah namun tidak ditinggali)

Karena kebetulan secara fisik memang cantik dan menarik maka sejak masih sekolah, bahkan sejak SMP dan SMA serta saat kuliah sudah berkali kali berpacaran, namun tidak ada yang cukup serius, dan sebagai orang tua kami juga memakluminya, biarkanlah dia mereguk masa mudanya sepuasnya.

Oh ya.. sejak TK hingga SMA sekolahnya di sekolah Katholik dan cukup aktif di lingkungan dan gereja, baik sebagai putri altar (saat masih kecil) hingga macam macam.. dan baru berhenti aktif setelah bekerja karena (mungkin) masalah waktu.

Hal lain adalah sifatnya keras dalam mencapai tujuannya, salah satu yang membuatnya memiliki posisi saat ini di kantornya walau usianya masih muda (bukan perusahaan kecil, sebuah perusahaan berskala nasional)

Itu sedikit latar belakangnya

Nah................ setahun terakhir ini dia berhubungan atau lebih tepatnya berpacaran dengan seorang laki laki, usianya beberapa tahun diatasnya, dan berbeda dengan pacar-pacarnya terdahulu yang sekarang ini boleh dibilang minim dalam segala hal. bahkan boleh dibilang minus.

1. Laki laki itu walau sarjana (S1) namun tidak memiliki pekerjaan yang jelas.

2. Walau belum pernah menikah tapi (berdasarkan pengakuannya sendiri) dia pernah punya anak .. (yang kemudian ikut ibunya) dan diasuh ibunya dan mereka sudah putus hubungan

3. Secara materi memprihatinkan

4. Secara fisik juga bukan orang yang dapat dikatakan 'ganteng' dan oh ya... lelaki itu juga Katholik sih.. (kalau agama dianggap penting)

Dalam hal ini anakku tidak mendapatkan dukungan sama sekali bahkan sangat ditentang oleh ibunya dengan beragam alasan.. hal yang wajar kalau melihat point 1 sampai 4 diatas.

Sebaliknya aku sangat moderat, karena prinsipku :

1. masa lalu adalah milik masing masing, tidak ada yang boleh menggugat dan mencampuri, yang penting adalah masa sekarang kedepan, jadi aku tidak peduli apakah dulunya punya anak atau tidak, aku tidak masalah walau bajingan sekalipun, karena yang kunilai adalah titik dimana mengenal dan kedepan.

(aku sendiri saat muda juga bukan orang baik... sampai sekarang kalau di lampu merah ada anak anak tanggung ngamen atau minta minta kadang beberapa lembar puluhan atau duapuluah ribu kukasih.. pernah ada teman semobil lalu bertanya "banyak amat ngasihnya"... dan kujawab "weee kita nggak pernah tahu siapa tahu salah satu disitu ada anakku... kan tahu dulu gue celamitannya kayak gimana.. tiada hari tanpa selingkuh" tapi aku bermain cantik, tidak pernah ketahuan dan tertangkap basah... sekarang udah nggak karena inget umur.. fisik sdh beda dengan dahulu he he, bukan takut dosa ya )

2. Masalah pekerjaan, tergantung kemauan orang yang bersangkutan apakah memiliki "tulang" yang cukup keras untuk mampu mengatasi kerasnya kehidupan

3. Masalah fisik kita tak bisa menilai begitu saja dari luar, bukan jaminan istilahnya

Nah.. makin lama pertentangan antara anakku dengan ibunya makin sering dan makin keras, dan dalam hal ini walau aku tak mendukung 100% juga tak menentang jadi dianggap aku membela anakku dan mendukung hubungannya...

Akhirnya didepan ibunya aku memberi pandangan (bukan nasehat ya, hanya pandangan), kukatakan :

"Kalau kamu yakin dan mantab denga pilihanmu, lanjutkan... kalau mau nikah ya lakukan..., toh kamu sudah dewasa, sudah mandiri, hidupmu adalah keputusanmu, tapi ingat : kamu itu PEREMPUAN, dan masa kamu paling sampai usia 40 tahun... jadi kalau dalam 3-5 tahun menikah lalu tidak bahagia dan bahkan sengsara, ya sudah bubar dan tinggalkan, jangan tunggu sampai tua, karena setelah 40 tahun akan susah cari suami lagi, jangan hanya karena 1 kalimat, apa yang sudah disatukan Allah tidak bisa diceraikan manusia, lalu kamu mau sengsara seumur hidup."

Dan kebetulan kata kataku itu kuucapkan didepan adik adiknya... dan rupanya diresapi dengan baik oleh anak laki laki Ketawa Ketawa Ketawa Ketawa

Dan efek dari kata kataku itu ibunya yang marah kepadaku ... Ketawa Ketawa

"Oh jadi kalau aku tidak sesuai ekspektasi dan tidak bikin bahagia kamu akan tinggalkan ?" tanya nya

Yang kujawab : "Ya pastilah..., maka bersyukurlah bahwa aku merasa kamu cukup memenuhi syarat" dan sendal pun melayang Ketawa Ngakak Ketawa Ngakak

Hingga saat ini ibunya masih bersikeras tidak merestui hubungan mereka, dan diam diam aku memberikan "coaching" kepada pemuda itu agar mampu membangun ekonominya, aku tidak mau memberikan kemudahan hanya kuberikan banyak pandangan dan contoh untuk menguatkan dirinya agar mampu menunjukkan baha dia layak secara ekonomi pada waktunya.

Pun mengenai pandangan yang kusampaikan kepada anakku juga kuktakan terus terang :"jangan salahkan ya kalau anakku nanti minta cerai kalau kamu tidak mampu memenuhi harapannya untuk membahagiakannya", karena bagiku perceraian bukan hal tabu...

Cerita ini faktual dan masih berlangsung....

Oh ya.. aku tidak pernah menyinggung soal agama, karena bagiku agama adalah hubungan vertikal yang sangat pribadi tiap insan dengan Tuhan YME sesuai iman masing masing dan tidak perlu dibawa ke ranah horizontal, bahkan orang tuapun tidak boleh mencampuri hubungan pribadi itu...


Last edited by stuzi on Sat, 07-07-2018 2:20 am; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
maruko_lien
Penghuni Ekaristi


Joined: 21 Sep 2005
Posts: 1386
Location: somewhere over the rainbow

PostPosted: Mon, 09-07-2018 7:48 pm    Post subject: Reply with quote

stuzi wrote:
1. Laki laki itu walau sarjana (S1) namun tidak memiliki pekerjaan yang jelas.

2. Walau belum pernah menikah tapi (berdasarkan pengakuannya sendiri) dia pernah punya anak .. (yang kemudian ikut ibunya) dan diasuh ibunya dan mereka sudah putus hubungan

3. Secara materi memprihatinkan

4. Secara fisik juga bukan orang yang dapat dikatakan 'ganteng' dan oh ya... lelaki itu juga Katholik sih.. (kalau agama dianggap penting)

yang paling penting dari laki2 itu adalah kegigihan dan tanggung jawab..jika agama tidak mau diikut2an.

dalam kasus ini:

si laki2 sudah mempunyai anak tapi tidak mempunyai pekerjaan yang jelas. how on earth si laki2 itu bisa menghidupi keluarga baru lagi?

anak sudah diurusi ortunya.

si laki2 masih belum memiliki pekerjaan yang jelas.

bahaya.

Jika terus dilanjutkan:

laki2 ini akan menumpang hidup dari anak anda dan keluarga anda.

---

soal saran Anda...ini bahaya..

Bukan soal sudah kawin sekali dan ga boleh cerai.

Tapi

Mau kawin jangan kayak beli kue, gak enak trus dibuang dan beli lagi mumpung masih cukup uangnya.

Bagaimana dengan "menseleksi dengan benar calon pasangan" supaya kemungkinan cerai itu sangat minim/tidak ada?

Anyway jika Anda niat membantu si pria itu ya silakan saja tapi apakah bantuan ini akan bertahan selamanya demi kebahagiaan anak? gimana dengan karakter si pria tsb??? apakah tipe pria mandiri yang bisa dibiarkan kerja sendiri tanpa disuapi (=diberi bantuan terus)?

====

Menurut saya, kekhawatiran istri anda adalah benar.

Saran Anda terhadap anak sangat keliru, dan juga pilihan untuk memberi coaching kepada si pria..

====

Saran saya..

1. Beri dukungan dan support secara emosional n perasaan kepada si anak bahwa dia cukup menarik untuk pria yang lebih baik.

2. Berikan pandangan konsekuensi setelah menikah apa yang akan terjadi jika si pria tidak memiliki basic/fondasi yang cukup untuk memulai kehidupan berkeluarga karena sekarang sudah ada buktinya (anak ikut ortu dan kerja belum jelas). Resiko jika dilanjut ke pernikahan adalah:

a. Si suami tidak bekerja dan anak anda yang membiayai keluarga plus keluarga lamanya dan keluarga besarnya.

b. Karakter suami yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan kurang bisa bertanggung jawab terhadap keluarga akan memberikan dampak psikologis besar dalam kehidupan rumah tangga nanti, apalagi kalau nanti mereka punya anak.

3. Carikan alternatif lain mulai dari sekarang yang lebih baik dari si pria.

4. Berdoa, kalau ini diteruskan maka anak dan keluarga Anda jelas perlu doa...doa untuk keharmonisan n kebahagiaan Anak Anda dan juga masa depan keluarga Anda sebagai ortu secara material.

---------

Semoga ini bisa membantu.
_________________
Salam dan doa
Pendatang Baru Belajar Bersama Kanon 7 Sakramen
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera All times are GMT + 6 Hours
Page 1 of 1

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17