FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Komuni di mulut    
Goto page: Previous Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Apollos



Joined: 16 Feb 2005
Posts: 178

PostPosted: Tue, 07-02-2006 4:50 pm    Post subject: Reply with quote

Maaf, sekali lagi saya tidak mengatakan bahwa Liturgy St James adalah salah! Melainkan bahwa komuni yang diterima ditangan yang "diadopsi" oleh Gereja Katolik bukan dimaksudkan seperti yang Liturgy St James melainkan mengarah kepada Protestanisme ... (kalau sebelumnya saya mengatakan bahwa "komuni di tangan" Liturgy St James yang diajarkan kembali oleh St Cyril dan St Ireneus adalah tidak apostolik ... saya minta maaf karena saya tidak sempat mempelajari hal ini)

Dalam Liturgy St James dipisahkan antara "TUBUH" dan "DARAH"
yang dimaksudkan adalah Tubuh dari Kristus yang tersalib (dan sudah pasti dengan darah) yang dijamah dan diterima serta diamini oleh umat sedangkan Darah adalah darah yang menyembur keluar dari lambung Kristus sendiri (itu sebabnya diminumkan langsung ke dalam mulut dan tidak dicampurkan dengan roti hosti) ... jadi di sini Liturgy St James sebenarnya ingin menunjukkan / mengulangi kembali Kurban Salib Kristus dalam komuni suci ... hal ini dikarenakan pada masa itu adalah masa penganiayaan terhadap Gereja ... dengan komuni di tangan (secara otomatis menjamah Tubuh Kristus yang tersalib dan bukan menjamah tubuh Kristus dalam perjamuan malam terakhir) maka umat diingatkan kembali akan Pengurbanan Kristus Tersalib ... dan harapan akan Kebangkitan Badan pada hari Kiamat

Dan kemudian setelah terjadi skisma oleh Michael, Patriakh dari Gereja Yunani, maka komuni menjadi lazim dengan mulut sebagai rasa hormat kepada Tubuh dan Darah Kristus itu sendiri ... jadi di sini kita lihat baik Liturgy St James atau pun komuni di mulut adalah dengan rasa hormat kepada Tubuh dan Darah Kristus itu sendiri ....

Tentang Anggur yang diminumkan sendiri oleh Imam ini hanyalah sebagai bentuk instan karena sulit untuk meminumkan kepada banyak umat ... (kecuali kalau umat mau mengorbankan banyak waktu pada waktu perayaan Liturgy)

Tahta Suci dan Konsili Vatikan II tidak mengatakan apa-apa mengenai "adopsi" komuni di tangan ... bahkan Tahta Suci (- Paus -) menyayangkan komuni di tangan ... tetapi dengan memanfaatkan "Konsili Vatikan II" dan "Paus Paulus VI", maka ada alasan untuk mencemarkan Tubuh dan Darah Kristus itu sendiri oleh Umat awam dan bahkan oleh Imam-imam yang adalah perpanjangan tangan Kristus sendiri !

In the early days of the Church the faithful frequently carried the Blessed Eucharist with them to their homes (cf. Tertullian, "Ad uxor.", II, v; Cyprian, "De lapsis", xxvi) or upon long journeys (Ambrose, De excessu fratris, I, 43, 46), while the deacons were accustomed to take the Blessed Sacrament to those who did not attend Divine service (cf. Justin, Apol., I, n. 67), as well as to the martyrs, the incarcerated, and the infirm (cf. Eusebius, Hist. Eccl., VI, xliv). The deacons were also obliged to transfer the particles that remained to specially prepared repositories called Pastophoria (cf. Apostolic Constitutions, VIII, xiii).

ini berbicara mengenai masa penganiayaan dan tidak sama dengan masa sekarang ... jika masa itu terulang sekarang, maka hal ini pun dibenarkan bahwa umat menerima hosti dan membawa pulang atau dalam perjalanan jauh untuk dimakan sewaktu diinginkan ... pada masa sekarang yang ada adalah sebaliknya ...!

Juga lihat ini:

Di Gereja-gereja Skisma Orthodox bahkan Anglikan pun tidak ada yang membenarkan komuni di tangan ( juga Gereja-gereja Ritus Timur yang bersatu dengan Tahta Suci pun tidak menerapkan komuni di tangan kecuali dengan Liturgy dari St James )

Jika kita memang mau mengadopsi Liturgy St James yang adalah orthodox dan apostolik, maka kita (- Ritus Latin -) pun harus juga mengadopsi sebagaimana Gereja Orthodox yang memwajibkan para wanita untuk berkerudung / menutupi kepala mereka pada waktu menerima hosti (bahkan dalam Liturgy) seperti yang dikatakan oleh St Paulus (1 Korintus 11:1-10) tetapi yang terjadi adalah sebaliknya para perempuan yang setia (faithful) akan berusaha untuk menutupi kepala mereka pada waktu komuni (bahkan pada waktu Liturgy) yang "bebas" akan berdalih "kesetaraan gender" dan "modern"

1Korintus 11:1-10
1 Be ye followers of me, as I also am of Christ. 2 Now I praise you, brethren, that in all things you are mindful of me: and keep my ordinances as I have delivered them to you. 3 But I would have you know, that the head of every man is Christ; and the head of the woman is the man; and the head of Christ is God. 4 Every man praying or prophesying with his head covered, disgraceth his head. 5 But every woman praying or prophesying with her head not covered, disgraceth her head: for it is all one as if she were shaven. 6 For if a woman be not covered, let her be shorn. But if it be a shame to a woman to be shorn or made bald, let her cover her head. 7 The man indeed ought not to cover his head, because he is the image and glory of God; but the woman is the glory of the man. 8 For the man is not of the woman, but the woman of the man. 9 For the man was not created for the woman, but the woman for the man. 10 Therefore ought the woman to have a power over her head, because of the angels.

1Korintus 11:1-10 ini masih tetap dijalankan oleh Ritus Timur dan juga oleh Skisma Orthodox dan Anglikan ... tetapi dengan dalih Konsili Vatikan II, ini ditiadakan oleh imam dan umat sendiri yang merasa "lebih paham" Kitab Suci (- padahal Sola Scriptura -) dan tidak menjalankan Apostolik

jadi di sini, komuni di tangan "yang diadopsi" oleh Gereja Katolik bukanlah dimaksudkan untuk Liturgy St James yang adalah Liturgy pada waktu penganiayaan Gereja (- sedangkan Yesus sendiri dalam Kitab Suci secara pasti memberikan komuni dicelupkan ke dalam anggur dan diterimakan dengan mulut / disuapkan kepada para murid-NYA -)

Mengenai SSPX, mereka tetap setia kepada Ritus Latin sebelum Konsili Vatikan II (- padahal Konsili Vatikan II tidak mengubah ritus apapun dan Paus Paulus VI hanya mengubah Tata Cara Perayaan Liturgy yang boleh diubah seperti pembacaan doa St Mikhael setelah akhir Liturgy - ini pun karena desakan dari para Kardinal dan pejabat serta umat yang memberontak kepada Tahta Suci itu sendiri -) ... Jadi SSPX hanya ingin mempertahankan "Tradisi" dan "Apostolik" karena mengira Paus JPII akan lebih menyeret Gereja kepada Modernisme ... hal ini karena kematian misterius dari JPI dan bukan dimaksudkan untuk memberontak kepada Tahta Suci ... pada tahun 1988 SSPX diekskomunikasikan oleh sebab itu maka kita memang tidak boleh secara sengaja bergabung atau merayakan Liturgy di SSPX dengan maksud melawan Tahta Suci, tetapi jika sekedar untuk "merasakan" Liturgy Ritus Latin yang "kuno dan konservatif" saya yakin seyakin-yakinnya, Tahta Suci tidak melarang ... lain jika kita merayakan di Gereja Orthodox yang Skisma ...
[/u]
Back to top
View user's profile Send private message Visit poster's website
Apollos



Joined: 16 Feb 2005
Posts: 178

PostPosted: Tue, 07-02-2006 4:51 pm    Post subject: Reply with quote

Tambahan mengenai SSPX, sekarang ada upaya untuk penyatuan kembali ke dalam Bunda Gereja
Back to top
View user's profile Send private message Visit poster's website
Alfonsus



Joined: 16 Feb 2004
Posts: 383
Location: Jakarta, Indonesia

PostPosted: Tue, 07-02-2006 8:31 pm    Post subject: Reply with quote

Mengenai SSPX, itu baru desas-desus non-official.
Kalau mengenai penyatuan kembali usaha itu terus menerus diusahakan oleh Gereja Katolik, makanya secara impromptu Paus Yohanes Paulus II membentuk komisi Ecclesia Dei.

Tapi syarat dari Roma akan tetap, entah SSPX akan diterima kembali dalam bentuk seperti apa:
Menerima validitas Ritus Paulus VI dan konsili Vatikan II

Sejauh hal ini belum disepakati bersama, saya dapat pastikan bahwa kita masih akan menunggu lama sampai rekonsiliasi antara SSPX dengan Vatikan dapat terjadi.


Mengenai mengapa akhirnya Gereja Timur memberi komuni langsung di mulut, alasannya sederhana.
Ritus St. Yakobus merupakan ritus yang diadaptasi oleh St. Basilius dan St. Yohanes Krisostomus untuk membentuk Liturgi yang lebih sederhana.

Yang umum digunakan oleh ritus Byzantin kemudian adalah Liturgi yang dikomposisi oleh St. Yohanes Krisostomus, yang merupakan adaptasi Liturgi St. Yakobus. Dalam Liturgi ini, potongan-potongan Tubuh Kristus (roti yang digunakan oleh Ritus Timur menggunakan ragi) dicampurkan langsung dalam piala Darah Kristus dan komuni diberikan dengan sendok.

Kedua, roti yang digunakan (Prosphora) tidak banyak. Tidak pernah digunakan lebih dari satu prosphora dalam Liturgi Timur untuk satu Liturgi.
Jadi tugas imam adalah memecah-mecah potongan Tubuh Kristus yang sudah bercampur anggur tersebut. Tapi karena roti yang digunakan hanya terdiri dari tepung dan air dan sedikit garam serta ragi, maka begitu kena cairan segera menyerap air dan terdisintegrasi.

Karena itu, tidak pernah diberikan terpisah dalam Liturgi St. Yohanes Krisostomus.


Liturgi St. Yakobus terus mempertahankan bentuknya HINGA sekarang.
Liturgi yang menjadi norma umum di dalam Ritus Byzantin memang akhirnya adalah liturgi yang dimodifikasi oleh St. Yohanes Krisostomus dan liturgi St. Basilius. Tapi mereka hidup di zaman setelah masa penganiayaan sudah lewat.
Jadi tidak relevan mengenai pembagian Sakramen di tangan dengan masa penganiayaan.

Jika hal itu hanya karena masa penganiayaan, maka seharusnya liturgi St. Yakobus tidak boleh lagi dirayakan dengan rubik menerima komuni terpisah dan di tangan. Tapi rubik ini masih terus bertahan hingga hari ini baik dilaksanakan oleh umat Katolik maupun Ortodoks.

Ketiga, liturgi liturgi St. Yohanes Krisostomus sudah menjadi normatif jauh sebelum skisma antara Timur dan Barat terjadi, jauh sebelum Patriakh Michael Celarius memegang jabatan Patriakh di Konstantinopel.

Tapi walau liturgi St. Yohanes Krisostomus menjadi normatif, sangat amat menarik bahwa Liturgi St. Yakobus tidak pernah ditinggalkan, termasuk rubiknya untuk menerima komuni secara terpisah.

Yesus sendiri kalau membaca Injil sinoptik jelas sekali kalau memberikan Roti dan Anggur secara terpisah:
Misalnya Lukas menuliskan demikian (Luk 22:19 -20)
Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."
Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu."

Markus menuliskan demikian (Mar 14:22-23)
Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Ambillah, inilah tubuh-Ku."
Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.

Lukas secara jelas menuliskan bahwa roti dan anggur dalam perjamuan terakhir diberikan secara terpisah. Setelah makan selesai, baru anggur diberikan. Tidak dicampur. Dan ini sesuai dengan urutan upacara paskah Yahudi yaitu "Seder".

Paulus juga demikian. Dia mengatakan hal ini (1 Kor 11:24-25):
dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"
Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"

Markus tidak sejelas Lukas, tapi secara jelas dikatakan bahwa para murid minum dari cawan anggur yang diberikan Yesus. Mereka tentu tidak minum dari cawan kalau diberi makan roti yang dicelup anggur. Plus tata urutannya tidak akan sesuai dengan upacara Seder.


Saya amat meminta saudara untuk tidak memberikan judge pada tahta Suci seolah mereka tidak memiliki kredibilitas menetapkan aturan Liturgi bagi Gereja Latin.
Misalnya masalah kerudung.

Paulus sendiri beberapa ayat kemudian mengatakan ini:
1 Kor 11:14 "Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang."

Tapi, secara jelas kita tahu, orang Yahudi pada masa itu umumnya berambut panjang. Jika kita terima relik kain kafan Turin, dari pola yang membekas jelas Yesus berambut panjang. Lukisan-lukisan Kristus hingga sekarang semua berambut panjang. Apakah dengan demikian Paulus mengatakan bahwa rambut panjang Yesus merupakan kehinaan?

1 Kor 11:4 mengatakan "Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya."

Tapi adalah adat orang Yahudi untuk menudungi kepala ketika membaca Torah. Yesus pun sebagai seorang Yahudi dapat dipastikan demikian.
Mengapa? Karena menuruti teladan Musa, ketika berhadapan dengan Allah, ia menudungi kepalanya. Juga meneladan Elia, ketika berhadapan dengan Allah, Elia menudungi kepalanya.

Jika demikian, kepada siapa arahan yang diberikan Paulus dimaksudkan?
Orang-orang yang berambut pendek sebagai norma kesopanan? Hal ini dimaksudkan bagi orang-orang Korintus yang dalam kebudayaan Romawi.
Bagi orang Romawi, berambut panjang, dan tidak bercukur, merupakan contoh barbar seperti orang-orang tak berbudaya. Dan bagi yang wanita, perlu berkerudung untuk menunjukkan bahwa dirinya wanita baik-baik dan bukan pelacur.

Tapi dalam kultur Yahudi, aturan ini tidak berlaku. Adalah umum bagi pria untuk berambut panjang dan menggunakan penutup kepala dalam berdoa. Bahkan bagi para imam, hal ini dimandatkan langsung oleh Allah kepada Musa.
Lihat Keluaran 28:4
Inilah pakaian yang harus dibuat mereka: tutup dada, baju efod, gamis, kemeja yang ada raginya, serban dan ikat pinggang. Demikianlah mereka harus membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, dan bagi anak-anaknya, supaya ia memegang jabatan imam bagi-Ku.

Apakah suatu hinaan bagi Allah karena para imam Yahudi memakai tutup kepala, atau ketika para uskup menggunakan zuccheto dan/atau mitra ketika berdoa?


Kembali kepada komuni, bahkan harus saya katakan bahwa sejauh sampai saat liturgi-liturgi tertua dilaksanakan, semua liturgi melakukan 2 hal:
1. diberikan terpisah
2. diberikan langsung ke mulut karena roti dan anggur disatukan dalam satu piala.

Tapi, memberikan hanya hosti saja kepada umat langsung di mulut merupakan trend yang berlangsung sangat amat kemudian dan ini hanya terjadi di dalam Gereja Latin.

Nah, dilihat dari sisi ini, apakah Gereja Latin berhak menentukan rubik yang dirasa sesuai ataukah praktek ini hanya merupakan suatu novelty yang tidak didukung oleh tradisi sejak zaman para rasul?

Tentunya anda tidak berani berkata bahwa praktek itu merupakan wujud ketidaksetiaan terhadap norma.

Jika demikian, ketika Roma berkata, bahwa menerima di tangan merupakan wujud penghormatan kepada Tubuh Kristus seturut anjuran St. Cyril, St. Yohanes Krisostomus, dan rubik-rubik awal Gereja seperti misalnya dalam Konsili di Trullo, kenapa anda bisa mengatakan bahwa hal itu tidak acceptable?
Apostolic tradition in this regard is clear.


Karena itu mengatakan bahwa menerima di tangan sebagai tidak sopan, penghinaan, protestanisasi tidak bisa dipertahankan.

Jika memang ada tanda-tanda bahaya di suatu daerah bahwa profanisasi bisa terjadi, maka adalah dalam otoritas keuskupan untuk memberikan direksi.
1. Bisa diminta menerima langsung di mulut
2. Bisa diminta adanya putera altar atau diakon atau eucharistic minister lain yang menahan umat yang menerima untuk menerima di tangan dan memastikan hosti di makan.
Tapi mengatakan bahwa menerima di tangan secara intrinsik merupakan praktek yang lebih rendah dari menerima di mulut langsung merupakan argumen yang tidak bisa dipertahankan.
_________________
Agios o Theos, agios Ischyros, agios Athanatos, eleison eimas
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
Apollos



Joined: 16 Feb 2005
Posts: 178

PostPosted: Tue, 14-02-2006 7:53 pm    Post subject: Reply with quote

Alfonsus:
Jika hal itu hanya karena masa penganiayaan, maka seharusnya liturgi St. Yakobus tidak boleh lagi dirayakan dengan rubik menerima komuni terpisah dan di tangan. Tapi rubik ini masih terus bertahan hingga hari ini baik dilaksanakan oleh umat Katolik maupun Ortodoks.

- > telah saya katakan di atas dan relevansinya adalah
Liturgy St James sebenarnya ingin menunjukkan / mengulangi kembali Kurban Salib Kristus dalam komuni suci ... hal ini dikarenakan pada masa itu adalah masa penganiayaan terhadap Gereja ... dengan komuni di tangan (secara otomatis menjamah Tubuh Kristus yang tersalib dan bukan menjamah tubuh Kristus dalam perjamuan malam terakhir) maka umat diingatkan kembali akan Pengurbanan Kristus Tersalib ... dan harapan akan Kebangkitan Badan pada hari Kiamat

bukan berarti liturgy St John yang mencampurkan roti (prophora) dengan anggur adalah berarti lain tetapi di sini St James memberi tekanan kepada Kurban Kristus yang tersalib yang dihadirkan ke hadapan umat ...

(dan itu sebabnya maka Roti diberikan secara terpisah dengan Anggur)



Quote:
Alfonsus:
Yesus sendiri kalau membaca Injil sinoptik jelas sekali kalau memberikan Roti dan Anggur secara terpisah:
Misalnya Lukas menuliskan demikian (Luk 22:19 -20)
Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."
Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu."

Markus menuliskan demikian (Mar 14:22-23)
Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Ambillah, inilah tubuh-Ku."
Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.

Lukas secara jelas menuliskan bahwa roti dan anggur dalam perjamuan terakhir diberikan secara terpisah. Setelah makan selesai, baru anggur diberikan. Tidak dicampur. Dan ini sesuai dengan urutan upacara paskah Yahudi yaitu "Seder".

Paulus juga demikian. Dia mengatakan hal ini (1 Kor 11:24-25):
dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"
Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"

Markus tidak sejelas Lukas, tapi secara jelas dikatakan bahwa para murid minum dari cawan anggur yang diberikan Yesus. Mereka tentu tidak minum dari cawan kalau diberi makan roti yang dicelup anggur. Plus tata urutannya tidak akan sesuai dengan upacara Seder.


- > Coba diteliti lagi injil ... bukan hanya injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) yang menunjukkan Komuni di Mulut diterapkan oleh Yesus melainkan juga oleh Injil Yohanes ... dan keempatnya adalah relevan

mengenai hal ini saya tidak perlu menunjukkan ayatnya ... tetapi untuk membantu memahami keempat injil tersebut maka ini adalah kronologi Perjamuan Malam Yesus bersama para rasul:

Passover (- makan Paskah / seder -) : 14 Nisa
Waktu : Malam setelah ambang senja
Tempat: Sebuah Rumah di Yerusalem - Lantai Atas (Latin: cenacle)

Kronologi:

    Yesus membasuh kaki Para Rasul
    Yesus makan Paskah / Seder bersama Para Rasul
    Yesus mengkonsekrasikan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah setelah makan Paskah / Seder – menjadi Paskah Perjanjian Baru yaitu Kurban Kristus dan Kebangkitan-NYA
    (Latin: Postquam – sesudah makan Paskah / Seder)
    Yesus memberikan Tubuh dan Darah setelah makan Paskah (Latin: Postquam) dengan cara mencelupkan Roti ke dalam Cawan yang berisi Anggur kemudian disuapkan ke dalam mulut Para Rasul
    Pengkhianatan Yudas – setelah menerima komuni
    Perbincangan setelah komuni
    Yesus mengajak Para Rasul ke Taman Getsemani
    Yesus di tangkap dan diadili oleh Imam Besar, Herodes dan Pilatus
    Yesus memikul salib dan disalibkan pada pukul 12 siang
    Yesus wafat pukul 3 sore dan dipancarkannya Darah dan Air dari Hati Kudus


dan Liturgy St James dengan menerima di tangan adalah berdasarkan kronologi berikut di atas

sekiranya sesudah makan (Latin: Postquam) artinya setelah makan roti, maka secara otomatis akan dilakukan konsekrasi yang kedua atas anggur menjadi darah seperti yang tertulis dalam injil ... Tetapi ternyata Gereja Katolik juga Ritus Timur maupun Orthodox dan Anglikan hanya melakukan "sekali" konsekrasi yaitu Dikonsekrasikan Roti dan Anggur baru kemudian diberikan kepada umat (jadi dapat dilihat bahwa bukan mengkonsekrasikan roti kemudian membagikan kepada umat lalu mengkonsekrasi lagi anggur dan dibagikan lagi ... secara extrim dalam beberapa denominasi dibagikan dahulu "roti" dan "anggur" - yaitu sirup dengan rasa anggur kemudian "dikonsekrasikan" berurutan "sesuai" dengan bacaan injil)

Quote:
Alfonsus:
Saya amat meminta saudara untuk tidak memberikan judge pada tahta Suci seolah mereka tidak memiliki kredibilitas menetapkan aturan Liturgi bagi Gereja Latin.


- > Maaf Bung, saya TIDAK PERNAH MAU dan TIDAK MELAKUKAN penghakiman atas siapa pun (Jikalau pun saya MENGHAKIMI maka saya menghakimi berdasarkan kebenaran !!!) apalagi menghakimi Tahta Suci

Hanya satu kata yang bisa saya katakan: SIAPA PUN TIDAK TERKECUALI PAUS SEKALI PUN JUGA, JIKA TIDAK MELAKUKAN TRADISI YANG APOSTOLIK, MAKA DIA TIDAK BERDIRI DI PIHAK KRISTUS dan mengenai paus yang demikian kita mengenal mereka sebagai Anti Paus dan tentang mereka kita mempunyai banyak informasi dan apa sikap kita seharusnya ....

Quote:
Alfonsus:
Paulus sendiri beberapa ayat kemudian mengatakan ini:
1 Kor 11:14 "Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang."

Tapi, secara jelas kita tahu, orang Yahudi pada masa itu umumnya berambut panjang. Jika kita terima relik kain kafan Turin, dari pola yang membekas jelas Yesus berambut panjang. Lukisan-lukisan Kristus hingga sekarang semua berambut panjang. Apakah dengan demikian Paulus mengatakan bahwa rambut panjang Yesus merupakan kehinaan?

1 Kor 11:4 mengatakan "Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya."

Tapi adalah adat orang Yahudi untuk menudungi kepala ketika membaca Torah. Yesus pun sebagai seorang Yahudi dapat dipastikan demikian.
Mengapa? Karena menuruti teladan Musa, ketika berhadapan dengan Allah, ia menudungi kepalanya. Juga meneladan Elia, ketika berhadapan dengan Allah, Elia menudungi kepalanya.

Jika demikian, kepada siapa arahan yang diberikan Paulus dimaksudkan?
Orang-orang yang berambut pendek sebagai norma kesopanan? Hal ini dimaksudkan bagi orang-orang Korintus yang dalam kebudayaan Romawi.
Bagi orang Romawi, berambut panjang, dan tidak bercukur, merupakan contoh barbar seperti orang-orang tak berbudaya. Dan bagi yang wanita, perlu berkerudung untuk menunjukkan bahwa dirinya wanita baik-baik dan bukan pelacur.

Tapi dalam kultur Yahudi, aturan ini tidak berlaku. Adalah umum bagi pria untuk berambut panjang dan menggunakan penutup kepala dalam berdoa. Bahkan bagi para imam, hal ini dimandatkan langsung oleh Allah kepada Musa.
Lihat Keluaran 28:4
Inilah pakaian yang harus dibuat mereka: tutup dada, baju efod, gamis, kemeja yang ada raginya, serban dan ikat pinggang. Demikianlah mereka harus membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, dan bagi anak-anaknya, supaya ia memegang jabatan imam bagi-Ku.

Apakah suatu hinaan bagi Allah karena para imam Yahudi memakai tutup kepala, atau ketika para uskup menggunakan zuccheto dan/atau mitra ketika berdoa?


Pertama: Alfonsus telah melakukan kasus Rationalisme (- yang mana telah dikutuk oleh Gereja -)
Kedua - 1Korintus 11:1-10 TIDAK DIMAKSUDKAN mengenai Rambut, melainkan Tudung / Kerudung sebagai penutup / mahkota perhiasan kepala perempuan
Ketiga: Kerudung TIDAK SAMA dengan HIJAB dalam agama Islam, sebab HIJAB menurut Quran dimaksudkan menutup "aurat" yang menggoda laki-laki, tetapi KERUDUNG / TUDUNG KEPALA dalam Liturgy adalah mahkota bagi kepala perempuan yang menyambut mempelainya yaitu KRISTUS - dalam kebiasaan Orang Yahudi (dan juga kebiasaan beberapa budaya bangsa-bangsa, perempuan menudungi kepala mereka dan wajah mereka juga ketika menyambut Sang Mempelai ... dan dibuka oleh Mempelai dari si perempuan itu)
keempat: dalam 1Korintus 11:1-10 dapat dijabarkan secara Garis Besar sebagai berikut di bawah ini:
1Korintus 11:3-10, 13-15
Kepala dari tiap-tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan Kepala dari Kristus adalah Allah, … jika seorang perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnyalaki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki … sebab itu perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena malaikat … Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung ? Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki jika ia berambut panjang, tetapi adalah kehormatan bagi perempuan jika ia berambut panjang ?
1Korintus 11:1 - jadilah PENGIKUT-ku, sebagaimana aku adalah PENGIKUT KRISTUS ayat 2: apa yang kusampaikan disini adalah dari Tuhan (jadi bukan dari manusia, jika perempuan WAJIB menutupi kepala mereka ketika Liturgy dan Komuni - hal ini juga dipraktekkan pada Liturgy St James pada masa penganiayaan)

mari dijabarkan secara khusus lagi: kepala dari laki-laki adalah Allah sebab manusia adalah gambaran Allah ... kepala dari perempuan adalah laki-laki sebab yang menjadi kepala rumah tangga adalah laki-laki sekali pun dalam budaya yang matrilineal tetap laki-laki memegang jabatan Kepala Keluarga ... dan Kepala dari Kristus adalah Allah (Kepala dengan "K" Capital menunjukkan bahwa Kristus adalah Allah)
Kelima: Alfonsus RANCU dalam MEMBEDAKAN antara jamaah Yahudi dengan yang bertugas membaca Kitab Suci dan juga imam-imam Yahudi

Quote:
Alfonsus:
Kembali kepada komuni, bahkan harus saya katakan bahwa sejauh sampai saat liturgi-liturgi tertua dilaksanakan, semua liturgi melakukan 2 hal:
1. diberikan terpisah
2. diberikan langsung ke mulut karena roti dan anggur disatukan dalam satu piala.

Tapi, memberikan hanya hosti saja kepada umat langsung di mulut merupakan trend yang berlangsung sangat amat kemudian dan ini hanya terjadi di dalam Gereja Latin.

Nah, dilihat dari sisi ini, apakah Gereja Latin berhak menentukan rubik yang dirasa sesuai ataukah praktek ini hanya merupakan suatu novelty yang tidak didukung oleh tradisi sejak zaman para rasul?

Tentunya anda tidak berani berkata bahwa praktek itu merupakan wujud ketidaksetiaan terhadap norma.


- > Secara Injili, Yesus memberikan ROTI YANG TELAH DICELUPKAN KE DALAM ANGGUR dan DISUAPKAN KE DALAM MULUT ... ini dipraktekkan kembali setelah masa penganiayaan berakhir sedangkan ROTI HOSTI yang utuh (dan tidak dipecah-pecahkan kemudian disuap dengan sendok seperti yang dilakukan oleh Ritus Timur dan Orthodox) hanya dipraktekkan di Gereja Latin setelah pemisahan / schisma orthodox dari Tahta Suci
memang pemberian ROTI ke dalam mulut tanpa dicelupkan ke dalam anggur adalah praktek yang paling baru dengan tujuan mempersingkat waktu Liturgy dan tidak ada yang lain namun intinya tetap sama yaitu MENERIMA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Quote:
Alfonsus:
Jika demikian, ketika Roma berkata, bahwa menerima di tangan merupakan wujud penghormatan kepada Tubuh Kristus seturut anjuran St. Cyril, St. Yohanes Krisostomus, dan rubik-rubik awal Gereja seperti misalnya dalam Konsili di Trullo, kenapa anda bisa mengatakan bahwa hal itu tidak acceptable?
Apostolic tradition in this regard is clear.


- > Saya TIDAK mengatakan Liturgy St James, St John yang disahkan oleh Gereja adalah tidak acceptable, tetapi yang saya maksudkan adalah KOMUNI DI TANGAN yang "diadopsi" oleh Gereja Latin Tidak dimaksudkan sama dengan Liturgy St James ... melainkan ke arah protestanisme ...! Jika memang dimaksudkan mengadopsi Liturgy St James, maka harus juga mengadopsi yang lain-lainya antara lain Kerudung bagi para perempuan pada waktu Liturgy ...!

Tentang profanisasi ... TELAH LAMA ADA dalam Gereja Katolik tetapi TIDAK ADA TINDAKAN atas profanisasi tersebut oleh pastor dan uskup ...! Saya tidak perlu menjabarkan di sini ... Anda Sendiri dapat menilai jika tidak saya katakan Anda yang menghakimi hal-hal profanisasi tersebut

Quote:
Karena itu mengatakan bahwa menerima di tangan sebagai tidak sopan, penghinaan, protestanisasi tidak bisa dipertahankan.


- > Anda Kembali memasuki status: Rationalisme

Quote:
Alfonsus:
kata Yunani yang digunakan untuk "memberi", didomi tidak meyiratkan secara spesifik bahwa yang pemberian yang diberi tidak diterima dengan tangan. Jika demikian bukankah lebih spesifik menggunakan kata "menyuapkan" daripada "memberi"?


- > Karena:
pertama: yang diberikan bukanlah roti dan anggur sebagai makanan jasmaniah melainkan ROTI dan ANGGUR sebagai Santapan Rohani
kedua: Penulis menyatakan bahwa praktek Tradisi ini harus dijalankan kembali kepada banyak orang dan TIDAK MUNGKIN "disuapkan" kepada banyak orang maka ROTI dan ANGGUR "diberikan" kepada banyak orang





[/quote]
Back to top
View user's profile Send private message Visit poster's website
Athanasios
Penghuni Ekaristi


Joined: 12 Feb 2004
Posts: 4198

PostPosted: Wed, 15-02-2006 1:24 pm    Post subject: Reply with quote

Quote:
- > telah saya katakan di atas dan relevansinya adalah
Liturgy St James sebenarnya ingin menunjukkan / mengulangi kembali Kurban Salib Kristus dalam komuni suci ... hal ini dikarenakan pada masa itu adalah masa penganiayaan terhadap Gereja ... dengan komuni di tangan (secara otomatis menjamah Tubuh Kristus yang tersalib dan bukan menjamah tubuh Kristus dalam perjamuan malam terakhir) maka umat diingatkan kembali akan Pengurbanan Kristus Tersalib ... dan harapan akan Kebangkitan Badan pada hari Kiamat



Jadi menurut kamu sewaktu kita Komuni yang kita terima itu "Tubuh yang tersalib" atau " Tubuh dalam Pejamuan Malam Terakhir"? Kedua Tubuh itu adalah satu dan sama. Tubuh dalam Perjamuan Malam Terakhir adalah Tubuh yang besoknya disalibkan. Apa mau dan dasar kamu mengadakan pembedaan semacam ini?

Kalau aku menjamah Tubuh Tuhan yang tersalib maka itu adalah sama dengan menjamah Tubuh Tuhan dalam Pejamuan Malam Terakhir.

Semua Komuni dalam Liturgi ritus apapun juga mengungkapkan hal yang sama

Lagi dari Liturgi St. Markus tampaknya mempunyai cara disribusi Komuni yang sama dengan Liturgi St. Yakobus, meskipun aku tidak yakin.


Dan lagi ada tambahan tentang Komuni di tangan

Early Christians also washed their hands on entering the church. Large basins were placed by the doors of the church or the room where the Eucharist was to be celebrated. Hands could have become soiled in bringing offering to the church. Propriety demanded that hands be scrupulously clean, for communicants would receive the Holy Communion on their palms. But there was another and higher reason for the washing: that of symbolizing freedom from all stain of sin. The twofold purpose of these ablutions was probably due to both the Jewish heritage and natural feeling and instinct. Certainly the hand that touched the Blessed Sacrament was to be clean physically and spiritually. Early Christians considered the hand as the principal instrument, the privileged member in which the strength and activity of the person were concentrated. Hence the whole person was represented by it. That is why the outward washing of hands symbolized the internal purification from all that sullied both body and soul. After the custom of receiving Holy Communion in the hand had been discontinued, together with bringing offerings of bread and wine, or oil to church there was no longer any pressing need for the faithful to wash their hands before Mass. (The Byzantine-Slav Liturgy of St John Chrysostom, Casimir Kucharek, 1973, Alleluia Press, p. 248-249)

Quote:
- > Coba diteliti lagi injil ... bukan hanya injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) yang menunjukkan Komuni di Mulut diterapkan oleh Yesus melainkan juga oleh Injil Yohanes ... dan keempatnya adalah relevan

mengenai hal ini saya tidak perlu menunjukkan ayatnya ... tetapi untuk membantu memahami keempat injil tersebut maka ini adalah kronologi Perjamuan Malam Yesus bersama para rasul:

Passover (- makan Paskah / seder -) : 14 Nisa
Waktu : Malam setelah ambang senja
Tempat: Sebuah Rumah di Yerusalem - Lantai Atas (Latin: cenacle)

Kronologi:

Yesus membasuh kaki Para Rasul
Yesus makan Paskah / Seder bersama Para Rasul
Yesus mengkonsekrasikan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah setelah makan Paskah / Seder – menjadi Paskah Perjanjian Baru yaitu Kurban Kristus dan Kebangkitan-NYA
(Latin: Postquam – sesudah makan Paskah / Seder)
Yesus memberikan Tubuh dan Darah setelah makan Paskah (Latin: Postquam) dengan cara mencelupkan Roti ke dalam Cawan yang berisi Anggur kemudian disuapkan ke dalam mulut Para Rasul
Pengkhianatan Yudas – setelah menerima komuni



Dari DeusVult

Rasanya tidak perlu memaksakan kalau Yesus langsung menyuapkan komuni kepada para rasul. Karena:

1. Buat apa harus disuapkan? Kan para rasul adalah Uskup yang boleh memegang sakramen terkudus?

2. Hampir tidak ada pelajar Kitab Suci (dulu dan sekarang) yang mengatakan bahwa Yesus menyuapkan

3. Gambar-gambar Perjamuan Akhir dari jaman dulupun menunjukkan bahwa sakramen tidak disuapkan.

4. Penglihatan Mary Agreda (Maria Agreda) atas Perjamuan Akhir menunjukkan secara jelas bahwa para rasul membagi roti antar mereka sendiri dan memakannya dengan tangan ("After having thus favored the heavenly Princess, our Savior distributed the sacramental bread to the Apostles (Luke 22, 17), commanding them to divide it among themselves and partake of it. By this commandment He conferred upon them the sacerdotal dignity and they began to exercise it by giving Communion each to himself." - The Mystical City of God, The Divine History and Life of The Virgin Mother of God, book 6 Ch 3).


Dan aku rasa, sangat tidak mungkin kalau Yesus melakukan intinction(mencelupkan roti ke Anggur). Coba baca Mat 26:26 dan kemudian Mat 26:27, ayat sesudahnya. Pada ayat 26:26 Yesus setelah selesai mengkonsekrasi kemudian memberikan roti kepada para rasul.dan setelah itu Dia baru mengkonsekrasi anggur. Jadi bagaimana bisa intinction dilakukan?


Memang di Yoh 13:26 Yudas menerima roti yang telah dicelup. Tapi menggunakan ayat ini untuk menyokong argumen bahwa para rasul diberi komuni dengan disuap kurang meyakinkan mengingat peristiwa tersebut terjadi jauh setelah makan malam selesai. Setelah makan malam selesai, Yesus kemudian membasuh kaki para rasul (Yoh 13:4-5) baru setelah itu Dia memberikan mencelupkan roti untuk Yudas. Dan karena Ekaristi sendiri beriringan dengan makan malam maka jelas Ekaristi telah berlalu sebelum pencucian kaki. Jadi pemberian roti yang tercelup bukanlah komuni.



Quote:
- > Maaf Bung, saya TIDAK PERNAH MAU dan TIDAK MELAKUKAN penghakiman atas siapa pun (Jikalau pun saya MENGHAKIMI maka saya menghakimi berdasarkan kebenaran !!!) apalagi menghakimi Tahta Suci

Hanya satu kata yang bisa saya katakan: SIAPA PUN TIDAK TERKECUALI PAUS SEKALI PUN JUGA, JIKA TIDAK MELAKUKAN TRADISI YANG APOSTOLIK, MAKA DIA TIDAK BERDIRI DI PIHAK KRISTUS dan mengenai paus yang demikian kita mengenal mereka sebagai Anti Paus dan tentang mereka kita mempunyai banyak informasi dan apa sikap kita seharusnya ....


Tradisi Apostolik versi mu sendiri?

Quote:
- > Secara Injili, Yesus memberikan ROTI YANG TELAH DICELUPKAN KE DALAM ANGGUR dan DISUAPKAN KE DALAM MULUT ... ini dipraktekkan kembali setelah masa penganiayaan berakhir sedangkan ROTI HOSTI yang utuh (dan tidak dipecah-pecahkan kemudian disuap dengan sendok seperti yang dilakukan oleh Ritus Timur dan Orthodox) hanya dipraktekkan di Gereja Latin setelah pemisahan / schisma orthodox dari Tahta Suci
memang pemberian ROTI ke dalam mulut tanpa dicelupkan ke dalam anggur adalah praktek yang paling baru dengan tujuan mempersingkat waktu Liturgy dan tidak ada yang lain namun intinya tetap sama yaitu MENERIMA TUBUH DAN DARAH KRISTUS



Liturgi St. Yakobus terus-menerus mepraktekkan Komuni di tangan..entah ada penganiayaan entah tidak..

Juga ini dari St. Basil

It is good and beneficial to communicate every day, and to partake of the holy Body and Blood of Christ. For He distinctly says, "He that eateth my flesh and drinketh my blood hath eternal life." And who doubts that to share frequently in life, is the same thing as to have manifold life. I, indeed, communicate four times a week, on the Lord's day, on Wednesday, on Friday, and on the Sabbath, and on the other days if there is a commemoration of any Saint. It is needless to point out that for anyone in times of persecution to be compelled to take the communion in his own hand without the presence of a priest or minister is not a serious offence, as long custom sanctions this practice from the facts themselves. All the solitaries in the desert, where there is no priest, take the communion themselves, keeping communion at home. And at Alexandria and in Egypt, each one of the laity, for the most part, keeps the communion, at his own house, and participates in it when he likes. For when once the priest has completed the offering, and given it, the recipient, participating in it each time as entire, is bound to believe that he properly takes and receives it from the giver. And even in the church, when the priest gives the portion, the recipient takes it with complete power over it, and so lifts it to his lips with his own hand. It has the same validity whether one portion or several portions are received from the priest at the same time.

Bagian yang aku cetak miring adalah bagian kesukaan dari mereka yang anti komuni di tangan. Tapi disitu hanya dibicarakan Komuni di tangan tanpa kehadiran Imam, bagaimana jika Imam hadir? Tentu tidak masalah menerima di tangan.

Lagi dari Sinode Trullo

ANCIENT EPITOME OF CANON C.

CANON CI.
THE great and divine Apostle Paul with loud voice calls man created in the image of God, the body and temple of Christ. Excelling, therefore, every sensible creature, he who by the saving Passion has attained to the celestial dignity, eating and drinking Christ, is fitted in all respects for eternal life, sanctifying his soul and body by the participation of divine grace. Wherefore, if any one wishes to be a participator of the immaculate Body in the time of the Synaxis, and to offer himself for the communion, let him draw near, ARRANGING HIS HANDS IN THE FORM OF A CROSS, AND SO LET HIM RECEIVE THE COMMUNION OF GRACE. But such as, instead of their hands, make vessels of gold or other materials for the reception of the divine gift, and by these receive the immaculate communion, we by no means allow to come, as preferring inanimate and inferior matter to the image of God. But if any one shall be found imparting the immaculate Communion to those who bring vessels of this kind, let him be cut off as well as the one who brings them.

ANCIENT EPITOME OF CANON CI.
Whoever comes to receive the Eucharist holds his hands in the form of a cross, and takes it with his mouth; whoever shall prepare a receptacle of gold or of any other material instead of his hand, shall be cut off.



Dan juga dari St. Yohanes Damascenus

The bread and the wine are not merely figures of the body and blood of Christ (God forbid!) but the deified body of the Lord itself: for the Lord has said, "This is My body," not, this is a figure of My body: and "My blood," not, a figure of My blood. And on a previous occasion He had said to the Jews, Except ye eat the flesh of the Son of Man and drink His blood, ye have no life in you. For My flesh is meat indeed and My blood is drink indeed. And again, He that eateth Me, shall live.
Wherefore with all fear and a pure conscience and certain faith let us draw near and it will assuredly be to us as we believe, doubting nothing. Let us pay homage to it in all purity both of soul and body: for it is twofold. Let us draw near to it with an ardent desire, and with our hands held in the form of the cross let us receive the body of the Crucified One: and let us apply our eyes and lips and brows and partake of the divine coal, in order that the fire of the longing, that is in us, with the additional heat derived from the coal may utterly consume our sins and illumine our hearts, and that we may be inflamed and deified by the participation in the divine fire. Isaiah saw the coal. But coal is not plain wood but wood united with fire: in like manner also the bread of the communion is not plain bread but bread united with divinity. But a body which is united with divinity is not one nature, but has one nature belonging to the body and another belonging to the divinity that is united to it, so that the compound is not one nature but two



Quote:
- > Saya TIDAK mengatakan Liturgy St James, St John yang disahkan oleh Gereja adalah tidak acceptable, tetapi yang saya maksudkan adalah KOMUNI DI TANGAN yang "diadopsi" oleh Gereja Latin Tidak dimaksudkan sama dengan Liturgy St James ... melainkan ke arah protestanisme ...! Jika memang dimaksudkan mengadopsi Liturgy St James, maka harus juga mengadopsi yang lain-lainya antara lain Kerudung bagi para perempuan pada waktu Liturgy ...!



Itu kan tafsiran kamu.....Apakah kalau Roma mau mengadopsi satu bagian dari Liturgi St. Yakobus berarti Roma juga harus mengadopsi semuanya???

Apa St. Basil mengadopsi Protestan (yang masa itu belum ada)?

Apa Sinode Trullo juga mengadopsi Protestan?

APa St. Yohanes Damascenus mengadopsi Protestan?
_________________
Sancta et catholica Ecclesia, quae est corpus Christi mysticum
- Konsili Oikumenis Vatikan II Orientalum Ecclesiorum art.2
Back to top
View user's profile Send private message
Alfonsus



Joined: 16 Feb 2004
Posts: 383
Location: Jakarta, Indonesia

PostPosted: Wed, 15-02-2006 1:43 pm    Post subject: Reply with quote

Jika komuni di tangan diberikan untuk memberikan relevansi terhadap kurban Kristus, maka dengan demikian, di kala post-modernisme sedang merajalela bukankah dengan demikian kita bisa katakan, adalah tepat bahwa Roma membangkitkan kembali praktek ini?

Mengenai Yesus menyuapkan komuni kemulut, tolong berikan referensi yang dapat diverifikasi.

Betul tampaknya penghianatan Yudas terjadi setelah Komuni. Tapi tidak dikatakan bahwa yang dicelupkan adalah roti dan anggur. Yohanes mengatakan Yesus mencelupkan roti, tapi dalam setting makan paskah, bukan cuma anggur yang tersedia.
Quote:
Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. (Yoh 13:26)


Ahli kitab suci umumnya sepakat bahwa perjamuan terakhir dilaksanakan dalam konteks Seder. Dengan kata lain, makan paskah dilakukan sebelum meminum piala ketiga (ada 4 piala anggur yang diminum dalam seder).

Setelah bagian pertama dan kedua dalam perjamuan seder selesai, bagian ketiga dimulai dengan mencuci tangan kemudian pemberkatan makanan (roti tak beragi termasuk di dalamnya).
Kemudian, makanan disantap (Schulchan orech).
Makan diakhiri oleh pengucapan berkat dan kemudian piala anggur ketiga diberkati dan diminum.

Bagian keempat dari seder, berupa pembacaan kitab Elia, diikuti oleh pujian agung (the great Hillel). Injil berbicara tentang Yesus dan murid-muridnya menyanyikan puji-pujian setelah makan sebelum mereka keluar ke Getsemani.

Hanya satu yang perlu diperhatikan, bahwa Piala keempat yang mengakhiri Seder tidak diminum Yesus, tapi terpotong oleh kisah sengsara.

Para ahli biblikal (seperti Dr. Scott Hahn misalnya) berpendapat bahwa piala keempat diminum Yesus di Salib ketika ia mengecap anggur yang diberikan tentara.

Jika demikian, upacara seder dengan jelas memisahkan acara makan dengan acara minum. Adalah tidak konklusif bahwa yang diberikan Yesus kepada Yudas dalam kutipan Yohanes adalah komuni.

Urutan komuni bukan masalah. Mengapa demikian, karena walau komuni dapat dibagikan dalam satu rupa, validitas seluruh upacara ditentukan oleh konsekrasi kedua elemen, roti dan anggur. Karena itu, tata cara pembagian dalam rubik tidak mengindikasikan tata cara pelaksanaan institusi pada awalnya.

Pertanyaan selanjutnya, siapakan interpreter tertinggi Tradisi?
Dalam teologi Katolik, interpreter tertinggi ajaran iman dan moral, Tradisi, tradisi, Kitab Suci, semua ada di tangan Tahta Suci.
Ini merupakan satu hal yang kita amini dari pengakuan akan adanya satu Magisterium.

Jika demikian, siapa yang bisa mengatakan bahwa Magisterium salah dalam hal penafsiran Tradisi? Jika hal itu sampai terjadi, maka Gereja Katolik tidak lebih dari institusi diabolikal (meminjam kata-kata Kardinal Newmann). Hal ini termasuk mengenai judgment mengenai mana yang Tradisi dan mana yang bukan.

Mari sekarang kita bicara soal kutipan dari surat pertama Paulus kepada jemaat di Korintus.

Bab 11 ayat 1 sampai 10 bicara soal tudung, tapi bukan hanya untuk pria, tapi untuk juga wanita. Soal rambut, saya berikan kutipan dari ayat 14.
Rupanya anda tidak membaca ayat yang saya berikan.

Kedua, saya juga tidak pernah mengindikasikan bahwa tudung sama dengan hijab.

Dan ketiga, dimana rancunya pembedaan tersebut?
Paulus pun dalam ayat yang anda kutip tidak mengatakan bahwa pria tidak boleh menudungi kepala dengan pengecualian. Dia mengatakan, pria yang menudungi kepala ketika berdoa (dan Paulus tidak bicara soal membaca Kitab Suci). Tugas para imam secara jelas adalah: berdoa dan menjadi perantara antara umat kepada Allah.
Tugas para imam untuk berdoa jelas bahwa mereka harus bertugas mempersembahkan kurban bakaran, ukupan dan pujian.
Karena itu, para imam layak diangkat menjadi contoh dalam pembicaraan kita.

Dan anda menuduh saya melakukan rasionalisasi. Bukankah dengan memilah mana yang benar dan salah (Vatikan telah salah begini dan begitu) anda sendiri telah melakukan rasionalisasi dengan menilai penafsiran Tradisi?
_________________
Agios o Theos, agios Ischyros, agios Athanatos, eleison eimas


Last edited by Alfonsus on Wed, 15-02-2006 1:45 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
shmily
Penghuni Ekaristi


Joined: 26 Oct 2005
Posts: 3688
Location: Ekaristi.org

PostPosted: Wed, 15-02-2006 4:14 pm    Post subject: Reply with quote

hmmm.. menarik.. dalam ke-4 injil yang ada.. tidak ditunjukkan secara eksplisit apa yang terjadi.. bahkan saya pernah melihat sebuah visualisasi yang menggambarkan perjamuan terakhir Yesus dgn para muridnya.. (kalo tidak salah sebuah film).. penggambaran di mana Setelah Yesus mengucap syukur lalu membagi-bagi roti, roti tersebut dibelah menjadi dua, yang satu diberikan ke sebelah kiri dan yang lain ke sebelah kanan, lalu murid-muridnya mengambil bagian dari potongan roti tersebut dengan tangannya kemudian diberikan ke rasul disebelahnya, dan seterusnya..(Estafet). Lalu Yesus mengangkat piala berisi anggur, mengucap syukur, lalu mengedarkan piala tersebut ke murid-muridnya, digambarkan dalam film tersebut bagaimana para rasul ada yang meminumnya langsung, dan ada yang mencelupkan roti ke dalam piala.

mengenai menerima hosti langsung dengan mulut atau melalui tangan. Saya menemukan pros and cons mengenai hal ini di internet.
Cobalah baca yang satu ini

Quote:



Communion-in-the-Hand: An Historical View
from the May-June 1996 issue

If you are among the many who have wondered over the past decade just how the practice of communion-in-the-hand originated and for what reasons, the following provides a concise history as well as a brief look into what has resulted from the institution of this curious practice.

The History
The practice of communion-in-the-hand was "first introduced in Belgium by Cardinal Suenans, in flagrant disobedience to the rubrics given by the Holy See. Not wishing to publicly reprove a brother bishop, Paul VI decided to lift the ban prohibiting Holy Communion in the hand, leaving the decision to individual bishops" (Von Hildebrand, The Latin Mass Society, Nov 1995).

In 1969, Pope Paul VI polled the bishops of the world on the question of communion-in-the-hand and subsequently proclaimed that, while there was no consensus for the practice worldwide, in those areas where a different practice prevails it may be introduced by a two-thirds vote of the bishops (of each conference).

In 1976 Call to Action, an influential group of Catholic dissenters (recently condemned in Nebraska by Bishop Bruskewitz), added to their agenda the promotion of communion-in-the-hand. Other publicly-dissenting Catholic groups, already holding wildly disobedient do-it-yourself liturgies, also actively promoted it. Outside these circles of dissent, however, the practice of receiving the Blessed Sacrament in one's hand was rare. In truth, only a handful of self-styled "progressive" parishes had disobediently introduced the practice and the only demand for it came from dissenting clergymen and chancery apparatchiks.

Despite the fact that communion-in-the-hand could hardly be considered a prevailing practice in the United States, the Archbishop of Cincinnati, Joseph Bernardin (now cardinal archbishop of Chicago), then president of the National Conference of Catholic Bishops (NCCB), initiated two unsuccessful attempts to introduce the practice in 1975 and 1976, stating that communion-in-the-hand had become universally popular as a natural expression of the pious sentiments of the faithful.

In the Spring of 1977 at Archbishop Bernardin's last meeting as president of the NCCB and with San Francisco's Archbishop Quinn acting as the chief designated lobbyist for communion-in-the-hand, the bishops' vote again fell short of the necessary two-thirds majority. Nevertheless, for the first time ever, bishops in absentia were polled by mail after the conference meeting; subsequently the necessary votes materialized and the measure was declared passed. Soon thereafter the practice of communion-in-the-hand spread rapidly throughout the country, and in a few years the new practice became normative amongst American parishes.

The Results

Frequently it is said that those who place any importance on how the Blessed Sacrament is received are no better than the biblical Pharisees who focused upon the externals of faith rather than the internals. For the Pharisees the external replaced the internal, but it does not follow that the lack of external reverence today can be divorced from the internal disposition of the faithful.

The consequences of introducing this practice are far-reaching, and one need only look to the parish Mass for proof. Not the least of these consequences is the common lack of respect shown for the Blessed Sacrament. Only with the belief that the Holy Eucharist is not supernatural, can this practice of communion-in-the-hand not matter. Since it is truly the most extraordinary substance on earth, surely our comportment should reflect that? Surely our faith in the Holy Eucharist, which deserves our greatest reverence, should reflect into our actions in actually receiving the sacrament?

Alas, it is not so! Communion-in-the-hand weakens faith in the Real Presence. The consequences are profound. May we make up in our love of the Eucharist for all the outrages and indifference which now surround Our Lord’s magnificent gift to us.

(source http://www.aquinas-multimedia.com/catherine/hand.html)

dan ada yang menggunakan kalimat Mother Theresa mengenai hal ini

Quote:

Mother Teresa herself evidently regards the practice in a somewhat negative light:

I will tell you a secret, since we have just a thousand close friends together, and also because we have the Missionaries of Charity with us, whom the Holy Spirit has sent into the world that the secrets of many hearts might be revealed. Not very long ago I said Mass and preached for their Mother, Mother Teresa of Calcutta, and after breakfast we spent quite a long time talking in a little room. Suddenly, I found myself asking her-I don't know why-"Mother, what do you think is the worst problem in the world today?" She more than anyone could name any number of candidates: famine, plague, disease, the breakdown of the family, rebellion against God, the corruption of the media, world debt, nuclear threat, and so on. Without pausing a second she said, "Wherever I go in the whole world, the thing that makes me the saddest is watching people receive Communion in the hand."4 (source http://www.catholic-pages.com/mass/inhand.asp)


Lalu saya menemukan ini

Quote:

How to receive Communion

Communion may be received either in the hand or on the tongue. Around the year A.D. 390, Cyril of Jerusalem indicated that the early Church practiced Communion in the hand when he instructed his audience: "Approaching, therefore, come not with thy wrists extended, or thy fingers open; but make thy left hand as if a throne for thy right, which is on the eve of receiving the King. And having hallowed thy palm, receive the body of Christ, saying after it, ‘Amen.’ Then after thou hast with carefulness hallowed thine eyes by the touch of the holy body, partake thereof; giving heed lest thou lose any of it; for what thou losest is a loss to thee as it were from one of thine own members. For tell me, if anyone gave thee gold dust, wouldst thou not with all precaution keep it fast, being on thy guard against losing any of it, and suffering loss?" (Catechetical Lectures 23:22).

The Congregation of the Sacraments and Divine Worship permitted the U.S. Bishops’ Conference to authorize reception of Communion in the hand on July 25, 1977, provided the local bishop implements the practice in his diocese. Once implemented, the option to receive Communion either in the hand or on the tongue always remains with the communicant. No priest, deacon, acolyte, or extraordinary minister of Holy Communion may refuse a communicant Communion on the tongue. Likewise, once the local bishop has introduced Communion in the hand, none may refuse a communicant Communion in the hand (except when Communion is being given by intinction, in which case it must be given on the tongue).

Finally, after you have received Communion, it is appropriate to stay after Mass and thank Jesus for coming to you in the Holy Eucharist. The Church mandates that: "The faithful are to be recommended not to omit to make a proper thanksgiving after Communion. They may do this during the celebration with a period of silence, with a hymn, psalm or other song of praise, or also after the celebration, if possible by staying behind to pray for a suitable time" (Inaestimabile Donum 17).

After receiving Jesus into one’s own body and being drawn more closely into his, how could one do any less? (source http://www.catholic.com/library/Who_Can ..ive_Communion.asp)


dan yang satu ini

Quote:

A century and a half later Pope St. Gregory the Great (died in 604) is
another witness. In his dialogues he relates how Pope St. Agapitus performed
a miracle during Mass, after having placed the Body of the Lord into
someone's mouth.
We are not claiming that under no circumstances whatever did the
faithful receive by their own hands. But under what conditions did this
happen? It does seem that from very early times on, it was usual for the
priest to place the Sacred Host into the mouth of the communicant. However,
during times of persecution, when priests were not readily available, and
when the faithful took the Sacrament to their homes, they gave Communion to
themselves by their own hand. Rather than be totally deprived of the Bread
of Life, they could receive by their own hand. The same applied to monks who
had gone out into the desert, where they would not have the services of a
priest and would not want to give up the practice of daily holy Communion.
St. Basil the Great (330-379) indicates that reception of Communion by one's
own hand was permitted precisely because of persecution, or, as was the case
with monks in the desert, when no deacon or priest was available to give It.

...

But is it not a form of clericalism to allow the priest to touch the
Sacred Host and to forbid the laity to do the same? But even priests were
not allowed to touch the Blessed Sacrament except out of some need to do so.
In fact, other than the celebrant of the Mass itself, no one else receiving
Communion, not even a priest, could receive It in the hand. And so, in the
traditional liturgical practice of the Roman Rite, if a priest were
assisting at Mass (and not celebarating) and if he wished to receive Holy
Communion, he did not do so by his own hand; he received on the tongue from
another priest. The same would be true of a Bishop or even a Pope. When Pope
St. Pius X was on his deathbed in August of 1914, and Holy Communion was
brought to him as Viaticum, he did not and was not allowed to receive in the
hand. He received on the tongue according to the law and practice of the
Catholic Church.
This confirms a basic point: Out of reverence it seems better that
there be no unnecessary touching of the Sacred Host. Obviously someone is
needed to distribute the Bread of Life. But it is not needful to make each
man, woman and child into his own 'eucharistic minister' and multiply the
handling and fumbling and danger of dropping and loss of Fragments. Even
those whose hands have been specially consecrated to touch the Most Holy
Eucharist, namely the priests, should not do so needlessly.



(source http://www.franciscan-archive.org/apologetica/tongue.html)


menarik ya..di dalam fransiscan-archive.org dikatakan juga

Quote:

But surely the Apostles received Communion in the hand at the Last
Supper? It is usually presumed that this was so. Even if it were, though, we
would point out that the Apostles were themselves priests, or even Bishops.
But we must not forget a traditional custom of middle-eastern hospitality
which was in practice in Jesus' time and which is still the case; that is,
one feeds his guests with one's own hand, placing a symbolic morsel in the
mouth of the guest. And we have this text of St. John's Gospel (13:26-30):
"Jesus answered, 'It is he to whom I shall give this Morsel when I have
dipped It.' So when He had dipped the Morsel, He gave It to Judas... So,
after receiving the Morsel, he [Judas] immediately went out..."


Nah kesimpulannya ? Menurut saya, menerima hosti di tangan sama halnya dengan menerima hosti di mulut yaitu makna sesungguhnya bahwa Tuhan hadir begitu dekat dengan kita. Saat yang tepat untuk berbicara kepadaNya, mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan. (Benar ?) Smile
Back to top
View user's profile Send private message
Alfonsus



Joined: 16 Feb 2004
Posts: 383
Location: Jakarta, Indonesia

PostPosted: Wed, 15-02-2006 11:31 pm    Post subject: Reply with quote

Kalau mau mencari yang pro dan kontra, itu gak ada habis-habisnya.
Yang kontra habis-habisan umumnya adalah mereka yang extrime-traditionalist.

Argumennya macam-macam, sampai-sampai dijadikan bukti bahwa Gereja Katolik paca Konsili vatikan II sudah sesat dan paus yang bertahta sekarang merupakan anti-paus.

Motifnya juga macam-macam. Tentunya alasan penolakan juga memiliki level, mulai dari yang bersifat personal ("I prefer that way") sampai yang frontal ("receiving the Host by hand is a grave sin!").

Sementara yang pro aturan ini juga macam-macam. Mulai dari yang memiliki agenda liberal tersendiri ("Proof that we can do anything we like") sampai ke alasan yang masuk akal ("I prefer that way and Rome say OK").


Point of interest di sini adalah:
1. Apakah menerima di tangan merupakan tradisi "T" besar ataukah "t" kecil?
2. Siapa yang memiliki otorisasi tertinggi dalam hal penafsiran tradisi?
3. Siapa yang memiliki otorisasi untuk menetapkan norma liturgi?
_________________
Agios o Theos, agios Ischyros, agios Athanatos, eleison eimas
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
Alfonsus



Joined: 16 Feb 2004
Posts: 383
Location: Jakarta, Indonesia

PostPosted: Thu, 16-02-2006 12:24 am    Post subject: Reply with quote

St. Thomas Aquinas mengatakan sesuatu tentang Yesus memberikan roti yang dicelup kepada Yudas dalam Summa Theologica:
Quote:
Whether Christ gave His body to Judas?


Objection 1: It seems that Christ did not give His body to Judas. Because, as we read (Mt. 26:29), our Lord, after giving His body and blood to the disciples, said to them: "I will not drink from henceforth of this fruit of the vine, until that day when I shall drink it with you new in the kingdom of My Father." From this it appears that those to whom He had given His body and blood were to drink of it again with Him. But Judas did not drink of it afterwards with Him. Therefore he did not receive Christ's body and blood with the other disciples.


Objection 2: Further, what the Lord commanded, He Himself fulfilled, as is said in Acts 1:1: "Jesus began to do and to teach." But He gave the command (Mt. 7:6): "Give not that which is holy to dogs." Therefore, knowing Judas to be a sinner, seemingly He did not give him His body and blood.


Objection 3: Further, it is distinctly related (Jn. 13:26) that Christ gave dipped bread to Judas. Consequently, if He gave His body to him, it appears that He gave it him in the morsel, especially since we read (Jn. 13:26) that "after the morsel, Satan entered into him." And on this passage Augustine says (Tract. lxii in Joan.): "From this we learn how we should beware of receiving a good thing in an evil way . . . For if he be 'chastised' who does 'not discern,' i.e. distinguish, the body of the Lord from other meats, how must he be 'condemned' who, feigning himself a friend, comes to His table a foe?" But (Judas) did not receive our Lord's body with the dipped morsel; thus Augustine commenting on Jn. 13:26, "When He had dipped the bread, He gave it to Judas, the son of Simon the Iscariot [Vulg.: 'to Judas Iscariot, the son of Simon]," says (Tract. lxii in Joan.): "Judas did not receive Christ's body then, as some think who read carelessly." Therefore it seems that Judas did not receive the body of Christ.


On the contrary, Chrysostom says (Hom. lxxxii in Matth.): "Judas was not converted while partaking of the sacred mysteries: hence on both sides his crime becomes the more heinous, both because imbued with such a purpose he approached the mysteries, and because he became none the better for approaching, neither from fear, nor from the benefit received, nor from the honor conferred on him."


I answer that, Hilary, in commenting on Mt. 26:17, held that Christ did not give His body and blood to Judas. And this would have been quite proper, if the malice of Judas be considered. But since Christ was to serve us as a pattern of justice, it was not in keeping with His teaching authority to sever Judas, a hidden sinner, from Communion with the others without an accuser and evident proof. lest the Church's prelates might have an example for doing the like, and lest Judas himself being exasperated might take occasion of sinning. Therefore, it remains to be said that Judas received our Lord's body and blood with the other disciples, as Dionysius says (Eccl. Hier. iii), and Augustine (Tract. lxii in Joan.).


Reply to Objection 1: This is Hilary's argument, to show that Judas did not receive Christ's body. But it is not cogent; because Christ is speaking to the disciples, from whose company Judas separated himself: and it was not Christ that excluded him. Therefore Christ for His part drinks the wine even with Judas in the kingdom of God; but Judas himself repudiated this banquet.


Reply to Objection 2: The wickedness of Judas was known to Christ as God; but it was unknown to Him, after the manner in which men know it. Consequently, Christ did not repel Judas from Communion; so as to furnish an example that such secret sinners are not to be repelled by other priests.


Reply to Objection 3: Without any doubt Judas did not receive Christ's body in the dipped bread; he received mere bread. Yet as Augustine observes (Tract. lxii in Joan.), "perchance the feigning of Judas is denoted by the dipping of the bread; just as some things are dipped to be dyed. If, however, the dipping signifies here anything good" (for instance, the sweetness of the Divine goodness, since bread is rendered more savory by being dipped), "then, not undeservedly, did condemnation follow his ingratitude for that same good." And owing to that ingratitude, "what is good became evil to him, as happens to them who receive Christ's body unworthily."


And as Augustine says (Tract. lxii in Joan.), "it must be understood that our Lord had already distributed the sacrament of His body and blood to all His disciples, among whom was Judas also, as Luke narrates: and after that, we came to this, where, according to the relation of John, our Lord, by dipping and handing the morsel, does most openly declare His betrayer."


Setidaknya Agustinus dan Aquinas setuju bahwa roti yang dicelup yang diberikan kepada Yudas bukan dalam konteks komuni, sehingga insignificant apakah diberikan di mulut atau di tangan.

Agustiunus dalam kutipan yang digunakan oleh Aquinas mengatakan bahwa Yudas menerima komuni kemudian baru menerima roti yang dicelup.
_________________
Agios o Theos, agios Ischyros, agios Athanatos, eleison eimas
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
shmily
Penghuni Ekaristi


Joined: 26 Oct 2005
Posts: 3688
Location: Ekaristi.org

PostPosted: Thu, 16-02-2006 4:18 pm    Post subject: Reply with quote

Quote:

Point of interest di sini adalah:
1. Apakah menerima di tangan merupakan tradisi "T" besar ataukah "t" kecil?
2. Siapa yang memiliki otorisasi tertinggi dalam hal penafsiran tradisi?
3. Siapa yang memiliki otorisasi untuk menetapkan norma liturgi?


bagaimana dengan vatican ? harusnya bisa diakui sebagai otoritas tertinggi umat Katolik di dunia yang menetapkan norma liturgi.. kalo bukan siapa lagi ?

Quote:

CONGREGATION FOR DIVINE WORSHIP
AND THE DISCIPLINE OF THE SACRAMENT
INSTRUCTION
Redemptionis Sacramentum

On certain matters to be observed or to be avoided
regarding the Most Holy Eucharist

....

[92.] Although each of the faithful always has the right to receive Holy Communion on the tongue, at his choice,[178] if any communicant should wish to receive the Sacrament in the hand, in areas where the Bishops’ Conference with the recognitio of the Apostolic See has given permission, the sacred host is to be administered to him or her. However, special care should be taken to ensure that the host is consumed by the communicant in the presence of the minister, so that no one goes away carrying the Eucharistic species in his hand. If there is a risk of profanation, then Holy Communion should not be given in the hand to the faithful.[179]

...

(source )
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous Next
Page 4 of 9

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17