FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Proklamasi RI: de facto-de jure atau hanya angan-angan?    

 
Post new topic   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Laskar Jidat



Joined: 04 Nov 2004
Posts: 307
Location: Kampong

PostPosted: Mon, 01-05-2006 8:55 pm    Post subject: Proklamasi RI: de facto-de jure atau hanya angan-angan? Reply with quote

Sayang sekali ternyata di mata Atha, teks proklamasi tidak lebih dari selembar kertas yang tidak berarti apa-apa (tidak memiliki kekuatan yuridis bagi kemerdekaan??).
Ironisnya, pengesahan UUD 45 (pembukaan+batang tubuh+penutup) justru baru dilakukakan sehari setelah proklamasi kemerdekaan.

Well... Apa boleh buat..
Btw, terima kasih buat diskusinya yang menarik.

ad.1 Juwono melihatnya tidak lebih dari sebuah strategi.
ad.2 Batara H. itu setipe dengan anda, yang gemar ber-prejudice terhadap bangsa asing mantan penjajah ie. belanda. Perbedaanya: kualifikasi dia dalam ilmu sejarah jelas jauh-jauh-jauh melebihi anda dan saya.
ad.3 Kutipan Bung Karno : Declaration of Independence kita, yaitu Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45, memberikan pedoman-pedoman tertentu untuk mengisi kemerdekaan nasional kita, untuk melaksanakan ke Negaraan kita, untuk mengetahui tujuan dalam memperkembangkan kebangsaan kita, untuk setia kepada suara-batin yang hidup dalam kalbu rakyat kita. ………………“Proklamasi” tanpa “Declaration” berarti
bahwa kemerdekaan kita tidak mempunyai falsafah. Tanpa mempunyai Dasar Penghidupan Nasional, tidak mempunyai pedoman, tidak mempunyai arah, tidak mempunyai “raison d’etre”, tidak mempunyai tujuan selain daripada mengusir kekuasaan asing dari bumi “Ibu Pertiwi”. (DBR II – 442)
_________________
Salvator mundi, salva nos, qui per crucem et resurrectionem tuam liberasti nos +


Last edited by Laskar Jidat on Mon, 01-05-2006 9:14 pm; edited 2 times in total
Back to top
View user's profile Send private message
Athanasios
Penghuni Ekaristi


Joined: 12 Feb 2004
Posts: 4198

PostPosted: Tue, 02-05-2006 1:24 am    Post subject: Reply with quote

Quote:
Sayang sekali ternyata di mata Atha, teks proklamasi tidak lebih dari selembar kertas yang tidak berarti apa-apa (tidak memiliki kekuatan yuridis bagi kemerdekaan??).


Hanya berarti teks Proklamasi tidak diakui oleh hukum internasional pada saat itu.

Dari artikel Dr. Hassan Wirajuda

Dua kalimat pendek itu sarat makna. Pemilihan kata-katanya cermat. Perhatikan kata kerja kedua kalimat itu. Pada kalimat pertama, kata kerja menyatakan (to declare) dapat mengundang pertanyaan apakah kemerdekaan memang dapat dinyatakan begitu saja? Secara ringan kita tentu akan menjawabnya "ya", tetapi tidak pada 59 tahun lalu. Secara politis dan militer, situasi menjelang detik-detik proklamasi tidak mudah karena secara de facto Indonesia masih di bawah pendudukan militer Jepang. Sejak Jepang menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945, secara de jure semua daerah pendudukan Jepang beralih kepada tentara sekutu.

Secara de facto mulai 17 Agustus 1945 RI telah ada dan secara nyata mulai menunjukkan eksistensinya. Tanggal 18 Agustus 1945 kelengkapan Negara disempurnakan. Dan ini terus berlanjut dengan pembentukan pemerintahan di daerah, militer, dst.

Secara de jure di mata Belanda apakah Negara ini eksis? Tentu saja tidak. Kalau mereka mengakui eksistensinya maka mereka tidak akan datang lagi. Tetapi Belanda tidak bisa menyangkal bahwa telah ada pemerintahan baru di daerah koloni nya yang mengklaim berkuasa atas seluruh daerah koloni nya itu


Quote:
ad.2 Batara H. itu setipe dengan anda, yang gemar ber-prejudice terhadap bangsa asing mantan penjajah ie. belanda. Perbedaanya: kualifikasi dia dalam ilmu sejarah jelas jauh-jauh-jauh melebihi anda dan saya.


Penilaian yang menunjukkan Anda tidak punya kualifikasi samasekali untuk menilai.

Prejudice macam apa?

Tindakan Belanda adalah tindakan yang wajar dan mereka hanya mencoba mempertahankan hak mereka di Indonesia yang diperoleh dari kemenangan sekutu atas Jepang saat Perang Dunia ke II. Lagipula kehilangan daerah bukanlah hal yang menyenangkan bagi pemerintahan manapun.

Yang menyulitkan mereka adalah fakta bahwa: Negara Indonesia de facto telah ada (punya rakyat, punya pemerintahan, punya wilayah). Dan eksistensi negara ini terbukti dengan adanya perlawanan militer dari RI kepada Belanda dalam usahanya mengambil kembali wilayah ini.

Hanya saja Negara RI ini belum diakui dunia internasional dan khususnya belum diakui pula oleh Belanda.

Ini dari amanat upacara kemerdekaan RI di Kedutaan Italia
Kesemuanya itu justru harus menjadi cambuk bersama dan cermin diri untuk menuju kemajuan Bangsa dan Negara kita. Ketegaran itu harus kita pupuk bersama, persis sama dengan ketegaran dan kebulatan kita yang selama ini tidak pernah meminta pengakuan de facto (dari kaum penjajah) bahwa Negara Republik Indonesia itu diproklamasikan tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sampai sekarang konsep dan pandangan Negara Barat, termasuk badan dunia PBB, masih mendominasi anggapan bahwa secara yuridis kemerdekaan dan kedaulatan Negara kita diberikan pada tanggal 27 Desember 1949. Di sini ketegaran sikap kita tunjukkan, tanpa meminta-minta pengakuan utuh de facto dan de jure kepada siapapun, kita tetap memperingati dan merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan sama seperti hari dan tanggal ini kita lakukan bersama-sama.
Pada peringatan atau perayaan kali ini kita perlu mencatat bahwa pada akhirnya, ketegaran itu membuahkan suatu hasil yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya


Terlihat jelas bahwa keinginan untuk menjadikan kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah tangal kemerdekaan secara de facto dan de jure, adalah sesuatu yang sulit diterima secara hukum internasional, karena itu sampai seakrang pengakuan bahwa RI merdeka de facto dan de jure pada dua tanggal terpisah masih mendominasi.

Pemerintah Indonesia adalah penting untuk mendapat pengakuan atas tanggal 17 Agustus 45 sebagai tanggal de facto dan de jure. Tapi secara hukum internasional ini memang sulit.

Dan buku pelajaran SD ku sangat benar ketika membedakan tanggal de facto dan de jure karena itulah kenyataan yang umum di dunia internasional.

Perasaan gembira dan kebanggan atas kemerdekaan tidak harus membuat WNI menyangkal bahwa kemerdekaannya dipahami oleh masyarakat internasional secara berbeda

Bagi Belanda jika mereka mengakui tanggal 17 Agustus 45 sebagai tanggal kemerdekaan RI de facto dan de jure. Ini sama saja dengan mengatakan tindakan Agresi nya adalah ilegal, dan sama saja dengan menajdikan para patriot dan pahlawannya sebagai penjahat. Negara manapun akan sulit melakukan ini.

Udah ah...mau cari bahan untuk tugas dulu. Topik ini di-lock karena kamu menujukkan nya hanya untuk aku. Kalau mau lanjut ke PM aja
_________________
Sancta et catholica Ecclesia, quae est corpus Christi mysticum
- Konsili Oikumenis Vatikan II Orientalum Ecclesiorum art.2
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Page 1 of 1

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17