FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Instruksi Mengenai Segi-segi Tertentu "Teologi Pembebas    

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Referensi dokumen Gereja
View previous topic :: View next topic  
Author Message
rand
== BANNED ==




Joined: 23 May 2007
Posts: 87

PostPosted: Fri, 08-06-2007 11:55 am    Post subject: Instruksi Mengenai Segi-segi Tertentu "Teologi Pembebas Reply with quote

Hasil scan...

KONGGREGASI SUCI UNTUK AJARAN IMAN

INSTRUKSI MENGENAI SEGI-SEGI TERTENTU "TEOLOGI PEMBEBASAN"


Alih bahasa oleh: J. Hadiwikarta, Pr.

Diterjemahkan dari naskah resmi bahasa Inggris
Instruction on certain aspects of "Theology of Liberation"
Sacred Congregation for the Doctrine of the Faith, Vatican City 1984


KATA PENGANTAR

Injil Yesus Kristus merupakan pewartaan mengenai kebebasan dan kekuatan untuk pembebasan. Dalam tahun-tahun terakhir, kebenaran yang hakiki ini menjadi bahan pemikiran para teolog, dengan perhatian baru yang memberikan harapan besar.

Pembebasan pertama-tama dan terutama berarti pembebasan dari perbudakan dosa yang sudah sangat berakar. Tujuan akhir dan sasaran pembebasan adalah kemerdekaan anak-anak Allah, yang merupakan anugerah rahmat. Sebagai konsekuensi logisnya maka pembebasan menuntut adanya kebebasan dari aneka macam perbudakan dalam bidang kebudayaan, ekonomi, sosial dan politik, sebab semua tadi akhirnya bersumber pada dosa, dan kerapkali menghalangi orang-orang untuk hidup dengan cara yang selaras dengan martabat mereka. Untuk dapat membedakan dengan jelas apa yang fundamental dalam persoalan ini dan apa yang merupakan akibat sampingannya, mutlak perlu diadakan refleksi teologis mengenai pembebasan.

Menghadapi soal-soal tertentu yang mendesak, beberapa orang tergoda untuk menekankan, secara berat sebelah, pembebasan dari perbudakan duniawi dan bersifat sementara. Mereka bertindak sedemikian rupa sehingga rupa-rupanya mereka menempatkan pembebasan dari dosa di tempat kedua, dan dengan demikian tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting. Penjelasan mereka mengenai problem-problem ini begitu kabur dan tidak jelas.Orang-orang lain, dalam usaha untuk mengetahui secara lebih tepat sebab-sebab perbudakan yang ingin mereka akhiri, menggunakan bermacam-macam konsep tidak dengan cukup kritis dan hati-hati. Sukarlah, dan barangkali tidak mungkin memurnikan konsep-konsep yang dipinjam dari suatu inspirasi ideologis yang tidak cocok dengan iman Kristiani dan tuntutan-tuntutan etis yang berasal darinya.

Konggregasi Suci untuk Ajaran Iman sebenarnya tidak bermaksud di sini membahas tema yang begitu luas mengenai kebebasan Kristiani dan pembebasan. Hal itu akan dilakukannya dalam dokumen berikutnya yang akan menguraikan secara positip seluruh kekayaan tema ini bagi doktrin dan kehidupan Gereja.

Instruksi yang sekarang ini mempunyai tujuan yang lebih terbatas dan lebih sempit: untuk menarik perhatian para pastor, para teolog, dan segenap kaum beriman akan penyelewengan-penyelewengan dan resiko-resiko penyelewengan yang merugikan iman dan kehidupan Kristiani, yang disebabkan oleh bentuk-bentuk tertentu teologi pembebasan yang secara tidak cukup kritis menggunakan konsep-konsep yang dipinjam dari berbagai aliran pikiran marxis.Peringatan ini hendaknya janganlah ditafsirkan sebagai suatu sikap tidak setuju terhadap mereka yang ingin menjawab dengan murah hati dan dengan semangat injili yang sejati "opsi istimewa terhadap kaum miskin". Hendaknya ini juga jangan dipakai sebagai dalih oleh mereka yang tetap bersikap netral dan acuh tak acuh menghadapi persoalan-persoalan kemiskinan dan ketidak adilan yang tragis dan mendesak. Justru sebaliknya, disebabkan oleh keyakinan bahwa penyelewengan-penyelewengan ideologis yang serius yang ditunjukkan di sini tidak dapat dielakkan lagi merugikan perjuangan kaum miskin. Dewasa ini, lebih daripada saat-saat sebelumnya, banyak orang Kristiani, yang imannya jelas dan menghayati sepenuhnya kehidupan Kristiani, terlibat dalam perjuangan demi keadilan, kebebasan dan martabat manusiawi karena cinta mereka terhadap saudara-saudara mereka yang kekurangan, ditindas dan dikejar-kejar. Lebih daripada waktu-waktu sebelumnya, Gereja bermaksud mengutuk penyalahgunaan, ketidak adilan dan serangan-serangan terhadap kebebasan, di mana pun hal ini terjadi dan kepada siapapun saja yang melakukannya. Dengan cara-caranya sendiri, Gereja bermaksud berjuang untuk membela dan memajukan hak-hak asasi manusia, lebih-lebih hak-hak kaum miskin.

I. SUATU CITA-CITA

1. Aspirasi yang semakin kuat dan hampir tidak terbendung lagi yang dimiliki bangsa-bangsa terhadap kebebasan merupakan salah satu dari tanda-tanda jaman yang harus diselidiki oleh Gereja dan ditafsirkannya dalam cahaya Injil.[1] Gejala jaman kita yang utama itu secara universal tersebar di mana-mana, meskipun dengan rupa-rupa bentuk dan macam-macam tingkatan sesuai dengan bangsa yang bersangkutan. Aspirasi ini kelihatan sangat menonjol terutama di antara bangsa-bangsa yang menanggung beban kemiskinan dan di antara orang-orang yang kekurangan.

2. Keinginan ini, walaupun samar-samar, memperlihatkan kesadaran akan martabat pribadi manusia, yang diciptakan "menurut gambar dan rupa Tuhan" (Kejadian 1:26-27) yang ditertawakan dan dicemooh karena bermacam-macam penindasan dalam bidang budaya, politik, rasial, sosial dan ekonomi, yang kerapkali berkaitan satu sama lain.

3. Dalam menjelaskan kepada mereka panggilan mereka sebagai anak-anak Allah, Injil telah membangkitkan dalam hati umat manusia suatu kebutuhan dan keinginan positip akan suatu kehidupan yang penuh kedamaian dan persaudaraan yang adil di mana setiap orang akan mendapatkan penghargaan dan kondisi-kondisi yang diperlukan untuk pertumbuhan rohani dan jasmani. Tak dapat diragukan lagi tuntutan ini merupakan sumber cita-cita yang kita bicarakan di sini.

4. Sebagai akibatnya maka manusia tidak mau lagi secara pasip menyerah pada kemiskinan yang menekannya dengan segala akibat-akibatnya yaitu kematian, penyakit dan kemerosotan. Manusia menganggap kesengsaraan tadi sebagai suatu perkosaan yang tidak dapat ditanggungnya terhadap martabatnya yang asli. Banyak faktor di antaranya ialah ragi semangat injil, yang telah ikut membantu membangkitkan kesadaran kaum tertindas ini.

5. Tidak dapat disangkal, bahwa juga di bagian-bagian dunia di mana masih terdapat banyak orang buta huruf, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang mengagumkan, umat manusia yang masih berkembang jumlahnya dapat menjamin ke-butuhan minimal setiap orang, yang dituntut oleh martabatnya sebagai pribadi.

6. Skandal yang disebabkan karena perbedaan yang menyolok antara yang kaya dan yang miskin entah antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin, atau antara golongan-golongan sosial dalam suatu bangsa tidak dapat ditolerir lagi. Di satu pihak orang-orang yang telah mencapai kelimpahan, yang tidak pernah terdengar sebelumnya menghambur-hamburkannya, sedangkan di lain pihak begitu banyak orang hidup dalam kemiskinan yang sedemikian rupa, tidak memiliki hal-hal paling dasariah yang diperlukan untuk hidup, sehingga malah tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan mereka yang kekurangan pangan.

7. Ketidak seimbangan dan perasaan solider dalam perdagangan-perdagangan internasional menguntungkan negara-negara industri sehingga jurang antara yang kaya dan miskin semakin melebar. Dari sinilah muncul perasaan frustrasi di antara negara-negara dunia ketiga, dan dakwaan-dakwaan kepada negara-negara industri bahwa mereka melakukan penindasan dan kolonialisme di bidang ekonomi.

8. Kenangan terhadap kekejaman-kekejaman dari suatu bentuk tertentu kolonialisme serta akibat-akibat kolonialisme kerapkali memperbesar perasaan terhina dan terluka.

9. Oleh karena itu Tahta Suci, sesuai dengan Konsili Vatikan II, bersama-sama dengan Konperensi-konperensi para Uskup, tidak henti-hentinya mencela skandal yang diakibatkan perlombaan raksasa senjata-senjata, yang di samping merupakan ancaman terhadap perdamaian, menghambur-hamburkan jumlah uang yang begitu besar, sehingga sebagian kecil saja dari jumlah tadi akan cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang membutuhkan hal-hal yang paling dasariah untuk hidup.

II. UNGKAPAN-UNGKAPAN DARI CITA-CITA INI.

1. Kerinduan akan keadilan dan pengakuan yang nyata terhadap martabat setiap manusia seperti halnya setiap cita-cita yang luhur, perlu dijernihkan dan diarahkan.

2. Sesungguhnya perlulah digunakan kebijaksanaan yang memperhatikan ungkapan-ungkapan atau pernyataan-pernyataan aspirasi baik secara teoritis maupun secara praktis. Karena banyak gerakan-gerakan politik dan sosial yang menyatakan diri sebagai juru bicara sejati dalam memperjuangkan aspirasi kaum miskin, dan menyatakan sanggup membawa perubahan-perubahan yang radikal yang akan mengakhiri penindasan dan kesengsaraan orang-orang walaupun dengan menggunakan cara-cara yang keras.

3. Demikianlah cita-cita untuk mendapatkan keadilan kerapkali terbelenggu oleh ideologi-ideologi yang menyembunyikan atau menyelewengkan maksudnya dan menawarkan kepada orang-orang yang berjuang demi kebebasan, tujuan-tujuan yang bertentangan dengan tujuan sejati hidup manusia. Mereka menyarankan cara-cara bertindak yang mengandung penggunaan kekerasan secara sistimatis, yang bertentangan dengan etika manapun juga yang menghormati pribadi-pribadi.

4. Penafsiran terhadap tanda-tanda jaman dalam cahaya injil menuntut bahwa kita meneliti arti keinginan yang mendalam terhadap keadilan, tetapi juga supaya kita secara kritis mempelajari ungkapan-ungkapan teoritis dan praktis yang mencetuskan aspirasi ini.

III. PEMBEBASAN, SEBUAH TEMA KRISTIANI.

1. Dilihat secara tersendiri, hasrat untuk pembebasan mendapatkan gema yang kuat dan bersifat persaudaraan dalam hati dan semangat orang-orang Kristiani.

2. Demikianlah sesuai dengan cita-cita ini, lahirlah gerakan teologi dan pastoral yang dikenal sebagai "Teologi Pembebasan", mula-mula di negeri-negeri Amerika Latin, yang diresapi dengan warisan keagamaan dan budaya Kristiani, dan kemudian di negeri-negeri lain di dunia ketiga, pun juga dalam kalangan-kalangan tertentu di negara-negara industri.

3. Ungkapan "Teologi pembebasan", pertama-tama menunjukkan suatu perhatian yang khusus terhadap kaum miskin dan para korban penindasan, yang akhirnya melahirkan suatu keterlibatan terhadap keadilan. Bertitik tolak dari pendekatan ini, kita dapat membedakan beberapa macam cara, bahkan yang kerapkali bertentangan, mengenai pemahaman terhadap arti kristiani kemiskinan dan corak keterlibatan terhadap keadilan yang dituntutnya. Seperti halnya semua gerakan ideologis, "Teologi-teologi Pembebasan" mempunyai bermacam-macam pendirian teologis. Perbedaan-perbedaan doktriner mereka tidak dirumuskan dengan jelas.

4. Aspirasi terhadap Pembebasan, seperti yang diungkapkan dalam istilah itu sendiri, mengulangi suatu tema yang fundamental dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pada dasarnya, ungkapan "Teologi Pembebasan" merupakan suatu ungkapan yang sepenuhnya dapat dibenarkan: ungkapan itu menunjukkan suatu refleksi teologis yang berpusat pada tema biblis mengenai pembebasan dan kebebasan, dan perlunya menerapkan hal itu dalam praktek.Dengan demikian titik temu antara aspirasi untuk pembebasan dan teologi-teologi pembebasan bukannya hanya suatu yang kebetulan belaka. Makna pertemuan di antara dua hal ini hanya dapat dimengerti dalam cahaya pewartaan khusus dari Wahyu, yang ditafsirkan secara otentik oleh Kuasa Mengajar Gereja.[2]

IV. DASAR-DASAR AL KITABIAH.

1. Dengan demikian suatu teologi pembebasan, yang dipahami dengan tepat, merupakan suatu ajakan bagi para teolog untuk mendalami tema-tema tertentu Al Kitabiah yang hakiki, dengan perhatian terhadap soal-soal yang penting dan mendesak, yang diajukan pada Gereja oleh aspirasi terhadap pembebasan ini serta oleh gerakan-gerakan yang juga memperjuangkannya. Sejenakpun kita tidak boleh melupakan keadaan-keadaan yang sangat menyedihkan yang merupakan tantangan bagi para teolog.

2. Yang menjadi titik tolak kita ialah pengalaman mendalam mengenai kebebasan Kristiani.[3] Kristus, Pembebas kita, telah membebaskan kita dari dosa dan perbudakan terhadap Hukum Taurat dan kedagingan, yang merupakan tanda keadaan umat manusia yang berdosa. Dengan demikian hidup baru dalam rahmatlah, hasil pembenaran, yang membebaskan kita. Ini berarti bahwa bentuk perbudakan yang paling mendalam adalah perbudakan dosa. Bentuk-bentuk perbudakan yang lainnya mempunyai akar yang terdalam di dalam perbudakan dosa. Itulah sebabnya kebebasan dalam arti Kristiani yang sepenuhnya, yang ditandai oleh kehidupan di dalam Roh, tidak dapat dicampuradukan dengan sikap seenaknya menuruti keinginan-keinginan daging. Kebebasan adalah suatu hidup baru dalam cinta kasih.

3. "Teologi-teologi Pembebasan", banyak menggunakan bacaan-bacaan dari Kitab Keluaran. Keluaran (Exodus) merupakan suatu peristiwa fundamental di dalam pembentukan bangsa terpilih. Menggambarkan kebebasan dari penindasan bangsa asing dan perbudakan. Haruslah dikatakan bahwa arti khusus peristiwa tersebut berasal dari maksudnya, sebab kebebasan tersebut dimaksudkan untuk membentuk umat Allah dan Ibadat Perjanjian yang dirayakan di G. Sinai.[4] Itulah sebabnya pembebasan di dalam Kitab Keluaran tidak boleh dipersempit menjadi suatu pembebasan yang seeara prinsipial atau semata-mata bersifat politik. Lagipula menyoloklah bahwa istilah kebebasan di dalam Kitab Suci kerapkali diganti dengan istilah yang amat dekat artinya yaitu penebusan.

4. Peristiwa Exodus (Keluaran) yang fundamental tersebut tidak pernah akan terhapus dari ingatan bangsa Israel. Peristiwa tersebut selalu disebut-sebut, ketika umat Yahudi hidup dalam pengharapan akan suatu kebebasan baru, setelah runtuhnya Yerusalem dan dalam pembuangan di Babilon dan lebih daripada itu mereka menantikan suatu kebebasan yang tetap. Dalam pengalaman ini Tuhan dikenal sebagai Pembebas. Ia akan mengadakan Perjanjian Baru dengan umatNya. Perjanjian tadi akan ditandai dengan kurnia Roh Kudus dan bertobatnya hati orang-orang.[5]

5. Kecemasan-kecemasan dan berbagai macam penderitaan yang dialami oleh mereka yang setia kepada Allah dari Perjanjian merupakan tema beberapa mazmur: keluhan-keluhan, permohonan bantuan dan ucapan syukur, semuanya menyebutkan keselamatan religius dan pembebasan. Dalam konteks ini penderitaan tidak semata-mata dan hanya disamakan dengan keadaan sosial kemiskinan atau keadaan seseorang yang mengalami tekanan politik. Termasuk juga di sini sikap bermusuhan dari para musuh, ketidak adilan, kegagalan dan kematian. Mazmur-mazmur mengingatkan kita kembali akan suatu pengalaman keagamaan yang hakiki: bahwa hanya dari Tuhanlah seseorang dapat mengharapkan keselamatan dan penyembuhan. Tuhan, dan bukan manusia, yang mempunyai kekuasaan untuk merubah situasi penderitaan. Demikianlah "Hamba Tuhan "hidup dalam penyerahan yang sepenuhnya dan menyandarkan diri kepada penyelenggaraan Tuhan yang penuh cinta kasih.[6] Lagipula, ketika mereka menyeberangi padang pasir, Tuhan tetap memberikan pembebasan rohaniah dan memurnikan umatNya.

6. Di dalam Perjanjian Lama, para nabi sesudah Amos dengan secara tegas menyatakan tuntutan-tuntutan keadilan dan solidaritas dan perlunya menjatuhkan keputusan yang amat keras terhadap kaum kaya yang menindas kaum miskin. Mereka membela janda dan yatim piatu. Mereka mengancam orang-orang yang berkuasa: kejahatan-kejahatan mereka yang telah menumpuk hanya akan menyebabkan mereka menerima hukuman yang keras. Kesetiaan terhadap Perjanjian tidak dapat dibayangkan tanpa melaksanakan keadilan. Keadilan terhadap Tuhan dan keadilan terhadap manusia tidak dapat dipisahkan. Tuhan adalah pembela dan pembebas kaum miskin.

7. Tuntutan-tuntutan ini terdapat sekali lagi di dalam Perjanjian Baru. Bahkan tuntutan-tuntutan tadi dibuat lebih radikal, seperti yang nampak dalam Sabda Bahagia di Bukit. Pertobatan dan pembaharuan harus berlangsung di dalam lubuk hati.

8. Seperti yang sudah diwartakan di dalam Perjanjian Lama, perintah untuk mengasihi sesama juga rnenyangkut seluruh umat manusia dan dengan demikian merupakan hukum yang tertinggi di dalam kehidupan sosial.[7] Tidak boleh ada diskriminasi atau pembatasan-pembatasan yang dapat berlawanan dengan pengakuan bahwa setiap orang merupakan sesama.[8]

9. Kemiskinan demi Kerajaan Surga dipuji. Dan di dalam diri orang yang miskin, kita dibimbing untuk mengenai kehadiran Putra Manusia secara misterius, yang menjadi miskin karena cintaNya kepada kita.[9] Hal ini merupakan dasar dari kata-kata Yesus yang tak habis-habisnya mengenai pengadilan terakhir di dalam Mateus 25:31-46. Tuhan kita bersatu dengan semua orang yang menderita; setiap penderitaan ditandai dengan kehadiranNya.

10. Pada saat yang sama tuntutan-tuntutan keadilan dan belas kasihan yang diwartakan di dalam Perjanjian Lama diperdalam dalam Perjanjian Baru sehingga memperoleh arti yang baru. Mereka yang menderita atau yang dikejar-kejar disamakan dengan Kristus sendiri.[10] Kesempurnaan yang dituntut oleh Yesus dari murid-muridNya (Mt 5:18) terletak di dalam melaksanakan kewajiban untuk berbelas kasih. "Seperti Bapamu di Surga adalah penuh belas kasihan". (Lk 6:36).

11. Demikianlah di dalam terang panggilan Kristiani untuk menjalankan kasih persaudaraan dan berbelas kasih maka dengan secara keras kaum kaya diperingatkan akan kewajiban mereka.[11] Santo Paulus, yang menghadapi kekacauan di dalam Gereja Korintus, dengan tegas menekankan ikatan yang ada antara ambil bagian di dalam sakramen cinta kasih dan membantu saudara yang kekurangan.[12]

12. Wahyu Perjanjian Baru mengajarkan kepada kita bahwa dosa adalah kejahatan yang terbesar, sebab menghantam manusia di dalam pusat kepribadiannya. Maka kebebasan yang pertama-tama harus diusahakan adalah kebebasan dari dosa, yang harus menjadi arah kebebasan-kebebasan lainnya.

13. Jelaslah bahwa untuk menekankan sifat radikal dari kebebasan yang dibawa oleh Kristus dan diberikan kepada semua orang, entah mereka bebas secara politis atau menjadi budak belian, maka Perjanjian Baru tidak menuntut perubahan di dalam kondisi politis atau sosial sebagai suatu prasyarat untuk masuk dalam kebebasan ini. Namun Surat kepada Filemon menunjukkan bahwa kebebasan baru ini, yang diberikan oleh rahmat Kristus, seharusnya juga mempunyai dampak di dalam bidang sosial.

14. Maka sebagai konsekwensinya, ruang lingkup dosa, yang akibatnya terutama menyebabkan kekacauan dalam hubungan antara Tuhan dengan manusia, tidak boleh hanya dibatasi kepada "dosa sosial". Sebenarnya hanyalah suatu ajaran yang tepat mengenai dosa yang akan memungkinkan kita menekankan beratnya akibat-akibat sosial dari dosa.

15. Orang tak dapat membatasi kejahatan secara prinsipial atau semata-mata dalam keadaan sosial yang jelek, "struktur-struktur" politik atau ekonomi, seolah-olah semua kejahatan lainnya
berasal darinya, sehingga penciptaan "manusia baru" tergantung dari terbentuknya struktur-struktur ekonomi dan sosio politik yang beraneka macam. Memang ada struktur-struktur yang jelek dan yang menyebabkan kejahatan serta kita hams berani merombaknya. Struktur-struktur tadi, entah baik atau jelek, adalah akibat dari tindakan-tindakan manusia, maka lebih merupakan akibat daripada sebab. Akar kejahatan terletak di dalam pribadi-pribadi yang bebas dan bertanggung jawab, yang harus dipertobatkan oleh rahmat Yesus Kristus agar supaya hidup dan bertindak sebagai makhluk baru di dalam cinta kasih kepada sesama dan secara efektip mencari keadilan, pengekangan diri dan melaksanakan keutamaan.[13] Menuntut bahwa pertama-tama harus ada suatu revolusi radikal di dalam hubungan-hubungan sosial dan kemudian mengritik usaha mencari penyempurnaan pribadi, berarti melangkah ke suatu jalan yang menyebabkan orang menyangkal arti pribadi dan transendensinya, dan membinasakan etika dan dasar-dasarnya, yang merupakan sifat mutlak yang membedakan antara yang baik dari yang jahat Lagipula karena cinta kasih merupakan prinsip untuk mendapatkan kesempurnaan yang otentik, maka kesempurnaan tersebut tak dapat dipahami tanpa suatu keterbukaan pada orang lain serta suatu semangat pengabdian.

V. SERUAN MAGISTERIUM

1. Untuk menjawab tantangan yang dilontarkan pada zaman seka-rang oleh penindasan dan kelaparan, Magisterium Gereja kerap-kali mengungkapkan keinginannya untuk membangkitkan kesadaran Kristiani terhadap rasa keadilan, tanggung jawab sosial dan solidaritas dengan kaum miskin dan tertindas dan menekankan pentingnya ajaran dan perintah-perintah yang termuat dalam Wahyu.

2. Kami akan mengutarakan di sini beberapa campur tangan tersebut: Dokumen kepausan Mater et Magistra, Pacem in Teris, Populorum Progressio dan Evangelii Nuntiandi. Kami juga ingin menyebutkan di sini surat kepada Kardinal Roy, Octogesima Adveniens.

3. Konsili Vatikan II membicarakan soal keadilan dan kebebasan di dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes.

4. Di dalam berbagai kesempatan, Bapa Suci telah menekankan tema-tema ini, khususnya di dalam Ensiklik Redemptor Hominis, Dives in Misericordia dan Laborem Exercens. Ajakan yang berulang-ulang ini mengingatkan kembali ajaran mengenai hak-hak manusia dan secara langsung menyentuh persoalan-persoalan kebebasan pribadi manusia di dalam menghadapi bermacam-macam tekanan, di mana ia menjadi korbannya. Khususnya perlu disebut dalam hubungan dengan hal ini Sambutan yang diberikan di muka Sidang Umum PBB yang ke 26 tanggal 2 Oktober 1979.[14] Pada tanggal 28 Januari 1979 di dalam pembukaan konferensi ke III CELAM di Puebla, Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa kebenaran yang utuh mengenai manusia adalah dasar untuk setiap pembebasan sejati.[15] Teks ini merupakan suatu dokumen yang langsung menyangkut teologi pembebasan.

5. Dua kali Sinode Para Uskup membicarakan persoalan-persoalan yang langsung berhubungan dengan suatu konsep kristiani mengenai pembebasan: tahun 1971, keadilan dalam dunia, dan pada tahun 1974, hubungan antara pembebasan dari penindasan dan kebebasan yang sepenuhnya atau penebusan umat manusia. Karya Sinode tahun 1971 dan 1974 yang mendorong Paus Paulus VI di dalam Konstitusi Apostoliknya Evangelii Nuntiandi menjelaskan hubungan antara Evangelisasi dan pembebasan manusia atau kemajuan.[16]

6. Perhatian Gereja terhadap pembebasan serta kemajuan umat manusia juga diungkapkan dengan membentuk Komisi Kepausan, lustitia et Pax.

7. Berbagai macam Konferensi para Uskup telah mengikuti jejak Tahta Suci di dalam mengingatkan mendesaknya pembebasan manusia yang bersifat otentik dan cara-cara untuk mencapainya. Dalam konteks ini patut disebut secara khusus dokumen Konferensi-konferensi para Uskup Amerika Latin di Medellin tahun 1968 dan di Puebla tahun 1979. Paus Paulus VI hadir di Konferensi Medellin dan Paus Yohanes Paulus II hadir di Puebla. Mereka berdua berbicara tentang tema-tema mengenai pertobatan dan pembebasan.

8. Mengikuti jejak Paus Paulus VI, yang telah menekankan sifat istimewa dari pewartaan injil.[17] suatu sifat yang berasal dari Tuhan sendiri, maka Paus Yohanes Paulus II di dalam sambutannya di Puebla menyebutkan tiga tonggak yang harus menjadi dasar dari setiap teologi pembebasan yang otentik: kebenaran mengenai Yesus Kristus, kebenaran mengenai Gereja dan kebenaran mengenai umat manusia.[18]

VI. SUATU PENAFSIRAN BAKU MENGENAI AGAMA KRISTEN

1. Tidak mungkinlah kita mengabaikan begitu banyak karya yang tulus tanpa pamrih yang dilakukan oleh orang-orang Kristen, para gembala umat, para imam, para biarawan-biarawati atau kaum awam, yang terdorong oleh cinta terhadap saudara dan saudari mereka yang hidup dalam keadaan yang tidak manusiawi, telah berusaha memberikan pertolongan dan hiburan kepada banyak orang di dalam penderitaan yang diakibatkan oleh kemiskinan. Beberapa orang di antara mereka telah mencoba untuk mencari suatu upaya yang paling efektif untuk dapat mengakhiri secepatnya situasi yang tak tertahankan lagi.

2. Semangat dan keprihatinan yang seyogyanya ada di dalam hati semua gembala, dapat menyebabkan timbulnya resiko bahwa mereka disesatkan dan dibelokkan ke pekerjaan-pekerjaan yang justru merugikan manusia dan martabatnya, seperti kemiskinan yang diperanginya, bila seseorang tidak cukup waspada terhadap godaan-godaan tertentu.

3. Perasaan cemas karena mendesaknya persoalan-persoalan, tidak boleh menyebabkan kita kehilangan pandangan terhadap apa yang hakiki, dan melupakan jawaban Yesus terhadap si Penggoda "manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah". (Mat 4:4; lih. Ul 8:3). Karena mendesaknya kebutuhan untuk memberi makan pada orang lain, beberapa orang tergoda untuk meletakkan Injil di dalam tanda kurung, dan menundanya sampai hari esok; lebih dahulu roti barulah kemudian Sabda Tuhan. Merupakan sesuatu kekeliruan yang fatal memisahkan ke dua hal tadi bahkan lebih buruk lagi mempertentangkan yang satu dengan yang lain. Sesungguhnya pandangan Kristiani secara wajar memperlihatkan bahwa kedua hal tadi erat berhubungan satu dengan yang lain.[19]

4. Bahkan beberapa orang beranggapan bahwa perjuangan yang perlu demi keadilan manusiawi dan kebebasan di dalam bidang ekonomi dan politik merupakan seluruh hakekat penebusan. Bagi mereka itu Injil dikurangi sehingga hanya menjadi suatu Injil yang semata-mata bersifat duniawi.

5. Teologi pembebasan yang berbeda-beda mempunyai pendirian yang terletak di antara: di satu pihak mengutamakan opsi (pilihan) terhadap kaum miskin, yang dengan tegas dan tanpa ragu-ragu setelah konperensi di Puebla dinyatakan kembali di dalam konperensi di Medellin,[20] di lain pihak tergoda untuk mengurangi Injil sehingga ia menjadi Injil yang bersifat duniawi.

6. Kami hendak mengingatkan bahwa opsi istimewa yang diputuskan di Puebla ada dua: yaitu terhadap kaum miskin dan terhadap kaum muda.[21] Menyoloklah bahwa opsi terhadap kaum muda pada umumnya tidak pernah disebut-sebut.

7. Kami katakan di atas (lih. no. 3) bahwa suatu teologi pembebasan yang otentik harus berakar di dalam Sabda Tuhan, yang ditafsirkan secara tepat.

8. Dari segi peninjauan secara deskriptif, bergunalah untuk bicara mengenai teologi-teologi pembebasan, karena ungkapan ini mencakup sejumlah pandangan-pandangan teologis atau bahkan kadang-kadang pandangan ideologis, yang tidak hanya semata-mata berbeda bahkan lebih kerap bertentangan satu dengan yang lain.

9. Di dalam dokumen sekarang ini, kami hanya akan membicara-kan perkembangan arus pemikiran yang bernama "Teologi Pembebasan", yang mengajukan suatu penafsiran baru baik mengenai isi iman maupun kehadiran agama Kristen, yang secara serius bertitik tolak dari iman Gereja, dan sesungguhnya merupakan suatu penyangkalan secara praktis.

10. Konsep-konsep yang dipinjam secara tidak kritis dari ideologi marxis dan penerapan tesis-tesis dari suatu penjelasan al kitabiah, yang ditandai dengan rasionalisme, merupakan dasar penafsiran baru yang merusakkan apa saja yang otentik di dalam keterlibatan mereka semula yang dermawan terhadap kaum miskin.

VII. ANALISA MARXIS

1. Ketidak sabaran dan keinginan untuk melihat hasil-hasilnya, telah mendorong orang-orang Kristen tertentu, yang putus asa terhadap setiap metode lainnya, untuk berpaling kepada apa yang mereka namakan "analisa marxis".

2. Pemikiran mereka adalah demikian: suatu situasi yang tidak tertanggungkan lagi dan bersifat eksplosip menuntut suatu tindakan yang efektif yang tidak dapat ditunda lagi. Suatu tindakan yang efektif mengandaikan suatu analisa ilmiah mengenai sebab-sebab struktural dari kemiskinan. Mereka mengatakan bahwa Marxisme memberikan sarana-sarana untuk membuat analisa semacam itu. Dengan demikian cukuplah bahwa orang menerapkan analisa tersebut kepada situasi dunia ketiga, lebih-lebih di Amerika Latin.

3. Jelaslah bahwa pengertian ilmiah mengenai situasi serta strategi-strategi yang mungkin untuk merubah suatu masyarakat adalah suatu prasyarat agar suatu rencana dapat mencapai tujuan-tujuan yang dimaksudkannya. Hal itu juga merupakan suatu bukti dari kesungguhan usaha.

4. Istilah "ilmiah" memberikan suatu pesona bagaikan mitos, meskipun sesuatu yang disebut "ilmiah" tidak selalu bersifat ilmiah. Itulah sebabnya bila memakai suatu metode pendekatan terhadap kenyataan hendaknya didahului dengan suatu epistemologi yang kritis dan hati-hati. Studi pendahuluan yang kritis ini kerapkali tidak ada dalam beberapa "teologi pembebasan".

5. Di dalam ilmu-ilmu tentang manusia dan ilmu-ilmu sosial, haruslah disadari keanekaragaman metode dan sudut pandangan karena masing-masing mengungkapkan hanya satu segi dari kenyataan yang begitu kompleks, sehingga dengan demikian dihindarkan penjelasan yang sederhana dan hanya satu nada.

6. Dalam menghadapi ajaran Marxisme, dalam arti khusus dalam konteks ini, sangat perlulah diadakan pengkajian yang kritis terlebih dahulu, sebab pemikiran Marx merupakan suatu visi yang menyeluruh terhadap kenyataan sehingga semua data yang diperoleh dari pengamatan dan analisa dimasukkan ke dalam sua-tu struktur filosofis dan ideologis, yang menentukan arti dan makna yang diberikan kepadanya. Prinsip-prinsip ideologis sudah ditentukan sebelum ada studi mengenai kenyataan sosial. Dengan demikian tidak mungkinlah memisahkan unsur-unsur yang epistemologis bersifat unik dan kompleks. Maka jika seseorang mencoba hanya mengambil satu bagian saja, misalnya analisa, pada akhirnya orang terpaksa harus menerima seluruh ideologi. Itulah sebabnya lazim bahwa aspek-aspek ideologislah yang paling dominan di antara hal-hal yang dipinjam oleh "para teolog pembebasan" dari para pengarang Marxis.

7. Peringatan Paus Paulus VI tetap aktual sekarang ini: Marxisme seperti yang secara konkrit dihayati, menampilkan banyak segi yang berbeda-beda dan persoalan-persoalan yang harus dipikirkan dan dilaksanakan oleh orang Kristen. Namun "adalah suatu khayalan dan berbahayalah tidak mengetahui hubungan erat yang secara radikal mempersatukan hal-hal tadi, dan menerima unsur-unsur analisa Marxis tanpa mengetahui hubungannya dengan ideologi tersebut, atau melibatkan di dalam kegiatan perjuangan kelas dan penafsiran Marxis mengenai hal tersebut, seraya tidak dapat melihat masyarakat totaliter macam apakah yang dituju oleh proses ini secara perlahan-lahan".[22]

8. Memang benar bahwa pemikiran marxis sejak permulaan, dan bahkan lebih-lebih akhir-akhir ini, telah terbagi-bagi dan telah melahirkan aliran-aliran baru yang sangat berbeda satu dengan yang lain. Sejauh mereka itu masih tetap bersifat marxis sepenuhnya, aliran-aliran pemikiran ini masih tetap berdasarkan ajaran-ajaran fundamental tertentu yang tidak cocok dengan faham Kristiani mengenai kemanusiaan dan masyarakat. Dalam konteks ini, rumusan-rumusan tertentu tidaklah netral, tetapi tetap mempunyai arti yang sama dengan doktrin marxis yang asli. Demikian pula dengan "perjuangan kelas". Ungkapan ini tetap mengandung arti yang diberikan oleh Marx sehingga tidak dapat dianggap sama dengan "konflik sosial yang keras" dalam arti empiris. Mereka yang menggunakan ungkapan-ungkapan serupa, walaupun mereka menyatakan hanya menggunakan unsur-unsur tertentu dari analisa marxis dan menolak analisa ini bila digunakan secara keseluruhan, tetap akan amat membingung-kan pikiran para pembaca mereka.

9. Hendaklah kita ingat bahwa atheisme dan pengingkaran terhadap pribadi manusia, kebebasannya dan hak-haknya, merupakan inti teori marxis. Teori ini mengandung kekeliruan-kekeliruan yang secara langsung mengancam kebenaran-kebenaran iman tentang tujuan abadi dari pribadi-pribadi manusia. Lagipula usaha untuk mencoba mengintegrasikan ke dalam teologi suatu analisa, yang kriteria interpretasinya berdasarkan pada gagasan atheistis, berarti melibatkan diri di dalam kontradiksi-kontradiksi yang mengerikan. Apalagi kesalah pahaman mengenai sifat rohani dari pribadi akan menyebabkan seorang pribadi sepenuhnya ada di bawah kelompok kolektip, dan dengan demikian menolak prinsip-prinsip suatu kehidupan sosial dan politik yang sesuai dengan martabat manusia.

10. Suatu studi yang kritis terhadap metode-metode analisa yang dipinjam dari ilmu-ilmu lain harus dilakukan secara khusus oleh para teolog. Cahaya imanlah yang melengkapi teologi dengan prinsip-prinsipnya. Itulah sebabnya penggunaan pandangan-pandangan filosofis atau ilmu-ilmu manusiawi oleh teolog, mempunyai suatu nilai yang dapat disebut instrumental, tapi masih harus dipelajari secara kritis dari segi pandangan teologis. Dengan kata lain, kriteria yang terakhir dan menentukan untuk kebenaran hanyalah suatu kriteria yang bersifat teologis. Hanyalah berdasarkan cahaya iman, serta yang diajarkan oleh iman kepada kita mengenai kebenaran tentang manusia dan arti terakhir dari nasibnya seseorang dapat menilai validitas atau tingkat validitas, yang diajukan oleh ilmu-ilmu lain, kerapkali secara menduga-duga, sebagai suatu kebenaran mengenai manusia, sejarahnya dan tujuannya.

11. Bila cara-cara menafsirkan tadi diterapkan kepada kenyataan ekonomi, sosial dan politik pada zaman sekarang ini, yang diambil dari pemikiran marxis, dapat memberikan kesan pertama sebagai sesuatu yang patut dipuji, sedemikian rupa sehingga situasi dewasa ini di negeri-negeri tertentu serupa dengan yang dilukiskan dan ditafsirkan oleh Marx pada pertengahan abad yang lalu. Berdasarkan pada kesamaan-kesamaan ini, dengan dilakukannya penyederhanaan-penyederhanaan tertentu yang memisahkan faktor-faktor hakiki yang khusus, menghalangi penelitian yang sungguh-sungguh cermat mengenai sebab-sebab kemiskinan dan memperpanjang kekacauan.

12. Di bagian-bagian tertentu Amerika Latin, pemilikan sebagian besar kekayaan oleh suatu oligarki para pemilik yang tidak mempunyai kesadaran sosial, hampir tidak adanya tertib hukum atau kurangnya tertib hukum, diktator-diktator militer yang mencemoohkan hak-hak manusia yang dasariah, korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat tertentu yang berkuasa, praktek-praktek keji dari sementara modal asing, merupakan faktor-faktor yang membakar semangat untuk mengadakan suatu revolusi di kalangan mereka yang menganggap diri mereka sebagai korban-korban yang tidak berdaya dari suatu bentuk kolonialisme yang baru dalam bidang tehnologi keuangan, bidang moneter atau ekonomi. Kesadaran akan adanya ketidak adilan ini disertai dengan suatu keprihatinan mendalam memakai ungkapan yang berasal dari marxisme, yang disajikan secara keliru, seolah-olah itu merupakan gaya bahasa ilmiah.

13. Kondisi pertama untuk mengadakan suatu analisa adalah keterbukaan total terhadap kenyataan yang harus dilukiskan. Itulah sebabnya suatu kesadaran yang kritis harus menyertai setiap penggunaan hipotesa kerja yang dipilih. Orang harus menyadari bahwa hipotesa-hipotesa ini sesuai untuk suatu sudut pandangan tertentu, sehingga tidak dapat dihindarkan hanya menyoroti segi-segi tertentu dari kenyataan dan menyampingkan segi-segi lain. Keterbatasan tersebut, yang berasal dari hakekat ilmu pengetahuan manusia, tidak disadari oleh mereka, yang dengan berkedok hipotesa-hipotesa yang sesuai dengan anggapan mereka, telah menggunakan pandangan mengenai kenyataan yang begitu menyeluruh seperti pemikiran Karl Marx.

VIII. PENJUNGKIR BALIKAN ARTI KEBENARAN DAN KEKERASAN

1. Konsep yang menyeluruh tadi memaksakan logikanya dan menyebabkan "teologi-teologi pembebasan" menerima sederetan pendirian yang tidak selaras dengan pandangan kristiani mengenai kemanusiaan. Sesungguhnya inti ideologis yang dipinjam dari marxisme, yang kita bicarakan sekarang, merupakan suatu prinsip yang menentukan. Ia punya peranan demikian karena digambarkan sebagai sesuatu yang ilmiah, yaitu sebagai kebenaran yang mutlak.
Dalam ajaran ini kita dapat membedakan beberapa unsur.

2. Menurut logika pemikiran marxis, "analisa" tidak dapat dipisahkan dari praxis serta dari pandangan sejarah yang ada hubungannya dengan praxis tersebut. Analisa bagi kaum marxis merupakan suatu alat untuk mengadakan kritik dan kritik hanyalah salah satu tahap di dalam perjuangan revolusi. Perjuangan ini adalah perjuangan kelas proletariat, yang sudah ada tugasnya di dalam sejarah.

3. Sebagai konsekwensinya, bagi kaum marxis, hanyalah mereka yang terlibat di dalam perjuangan yang dapat melakukan analisa dengan tepat.

4. Dengan demikian kesadaran yang sejati adalah kesadaran partisan. Jelaslah bahwa konsep mengenai kebenaran itu sendiri di sini dipersoalkan, dan sama sekali dirusakkan: mereka berdalih, tidak ada kebenaran, kecuali di dalam dan lewat kegiatan partisan.

5. Bagi kaum marxis, praxis, dan kebenaran yang berasal darinya, merupakan praxis dan kebenaran partisan, sebab struktur fundamental sejarah ditandai dengan perjuangan kelas. Maka perlulah secara obyektif masuk ke dalam perjuangan kelas, yang bertentangan secara dialektis dengan hubungan eksploitasi yang dikutuk. Bagi kaum marxis kebenaran berarti kebenaran kelas: tidak ada kebenaran kecuali kebenaran di dalam perjuangan kelas revolusioner:

6. Kebenaran fundamental sejarah, yang merupakan hukum perjuangan kelas, berarti bahwa masyarakat dibangun atas dasar kekerasan. Terhadap kekerasan, yang menjadi dasar hubungan penindasan dari orang kaya terhadap orang miskin, harus diadakan tindakan kekerasan balasan yaitu revolusi, dengan mana penindasan ini dapat dihancurkan.

7. Perjuangan kelas dilukiskan sebagai sesuatu hukum yang obyektif dan mutlak. Dengan memasuki proses ini demi untuk membela orang yang tertindas, seseorang "membuat" kebenaran, bertindak "secara ilmiah". Sebagai konsekwensinya konsep mengenai kebenaran berjalan seiring dengan penegasan perlunya kekerasan dan juga suatu tindakan amoral di bidang politik. Dalam pandangan ini, setiap referensi kepada tuntutan-tuntutan ethis yang menuntut perombakan struktural dan kelembagaan yang berani dan radikal menjadi tidak berarti.

8. Hukum perjuangan kelas yang fundamental mempunyai sifat mondial dan universal. Hal ini dicerminkan di dalam setiap bidang kehidupan: keagamaan, ethis, budaya dan kelembagaan. Sejauh menyangkut hukum ini, tidak ada satu bidangpun yang otonom. Di dalam setiap bidang tadi hukum ini merupakan suatu unsur yang menentukan.

9. Khususnya hakekat etika secara radikal dipersoalkan, karena meminjam tesis-tesis yang berasal dari marxisme. Sesungguhnya sifat transenden dari perbedaan antara yang baik dan yang buruk, yang merupakan prinsip moral, secara implisit disangkal di dalam prespektip perjuangan kelas.

IX. PENERAPAN TEOLOGIS DARI INTI AJARAN INI

1. Pendirian-pendirian yang dipersoalkan di sini kerapkali diungkapkan secara eksplisit di dalam tulisan-tulisan tertentu dari para "teolog pembebasan". Dalam hal yang lain mereka mengikutinya secara logis berdasar premis mereka. Selain dari itu juga diungkapkan dalam praktek-praktek liturgi tertentu, misal-nya suatu "perayaan ekaristi" diubah menjadi perayaan rakyat yang sedang berjuang, meskipun orang-orang yang ikut ambil bagian di dalam kegiatan-kegiatan tadi mungkin tidak sepenuhnya menyadari hal itu. Maka dari itu kita di sini menghadapi suatu sistim yang riil, meskipun beberapa orang ragu-ragu untuk mengikuti logika hingga sampai kepada kesimpulannya. Dengan demikian sistim ini merupakan suatu pembelokkan dari pesan kristiani seperti yang diserahkan Tuhan kepada Gerejanya. Pesan ini dalam keseluruhannya dipersoalkan oleh "teologi-teologi pembebasan".

2. Bukanlah kenyataan mengenai stratifikasi sosial dengan ketidak samaan dan ketidak adilannya, tetapi teori mengenai perjuangan kelaslah sebagai hukum Sejarah yang fundamental yang telah dianggap oleh "teologi-teologi pembebasan ini" sebagai suatu prinsip. Diambil kesimpulan bahwa perjuangan kelas seperti yang dimengerti tadi membagi Gereja itu sendiri, dan bahwa di dalam terang cahaya dari perjuangan kelas ini kenyataan-kenyataan gerejani pun harus dinilai. Bahkan orang menyatakan bahwa merupakan suatu ilusilah dengan iman yang jelek mengungkapkan bahwa cinta dalam keuniversalannya dapat mengalahkan hukum primer dan struktural dari masyarakat kapitalis.

3. Menurut gagasan ini, perjuangan kelas merupakan kekuatan pendorong dalam sejarah. Dengan demikian sejarah merupakan suatu gagasan pokok. Harus ditegaskan bahwa Tuhan Allah sendiri membuat sejarah. Haruslah pula ditambahkan bahwa hanya ada satu sejarah, sehingga perbedaan antara sejarah keselamatan dan sejarah prof an tidak perlu lagi. Mempertahankan perbedaan ini akan menyebabkan orang jatuh ke dalam "dualisme". Penegasan-penegasan semacam ini mencerminkan immanentisme historis. Dengan demikian ada suatu kecenderungan untuk mengindentikkan Kerajaan Tuhan dan perkembangannya dengan gerakkan pembebasan manusiawi dan membuat sejarah itu sendiri subyek dari perkembangannya sendiri, sebagai suatu proses penebusan diri manusia melalui perjuangan kelas. Identifikasi ini bertentangan dengan iman Gereja yang ditegaskan kembali di dalam Konsili Vatikan II.[23]

4. Dalam garis ini, beberapa orang bahkan melangkah sedemikian jauh, sehingga menyamakan Tuhan sendiri dengan sejarah, serta merumuskan iman sebagai "kesetiaan terhadap sejarah", yang berarti mengikuti suatu kebijakan politis yang selaras dengan perkembangan kemanusiaan, yang dianggap sebagai mesianisme yang semata-mata bersifat duniawi.

5. Sebagai konsekwensinya, iman harapan dan cinta kasih diberi suatu arti baru: menjadi berarti "kesetiaan kepada sejarah", "keyakinan akan masa depan" dan "opsi terhadap kaum miskin". Dengan demikian sama saja dengan menyatakan bahwa hal-hal tadi telah dikosongkan dari kenyataan teologisnya.

6. Ungkapan-ungkapan iman akan ditafsirkan secara radikal dari segi politik, demikian pula rumusan-rumusan teologis, yang tidak dapat dielakkan muncul dari gagasan baru ini. Maka persoalannya tidak hanya menyangkut perhatian yang harus diberikan terhadap konsekwensi-konsekwensi serta implikasi-implikasi politis dari kebenaran iman, yang seharusnya dihormati terutama karena nilainya yang transenden. Dalam sistim baru ini, setiap pernyataan iman atau teologi ditempatkan atau ditinjau dari segi politis, yang akhirnya tergantung dari perjuangan kelas, yang merupakan kekuatan pendorong sejarah.

7. Sebagai akibatnya, partisipasi di dalam perjuangan kelas dinyatakan sebagai suatu tuntutan cinta kasih itu sendiri. Keinginan untuk mencintai setiap orang sekarang ini dan di sini, tanpa memperhatikan kelasnya, serta mendekatinya dengan upaya-upaya yang tidak bersifat kekerasan yaitu lewat dialog dan usaha meyakinkan dinyatakan sebagai tidak produktip dan bertentangan dengan cinta kasih. Walaupun mereka berpendapat bahwa seorang pribadi hendaknya jangan menjadi obyek kebencian, namun dinyatakan pula bahwa jika ia termasuk ke dalam kelas kaum kaya yang menjadi sasaran, maka dia termasuk dalam kelas musuh utama yang harus diperangi. Dengan demikian sifat universal dari cinta terhadap sesama dan persaudaraan menjadi suatu prinsip ekstalogis, yang hanya mempunyai arti bagi "manusia baru" yang bangkit dari revolusi yang penuh kemenangan.

8. Adapun mengenai Gereja, sistim ini melihat Gereja hanya sebagai suatu kenyataan di dalam sejarah, yang tunduk terhadap hukum-hukum yang dianggap mengatur perjalanan sejarah di dalam immanensinya. Gereja, anugerah Tuhan dan misteri iman, tidak mempunyai kekhususan lagi oleh karena dikurangi artinya. Demikian pula dipersoalkan apakah ikut sertanya orang-orang Kristen yang termasuk di dalam kelas yang dianggap musuh di dalam perjamuan Ekaristi masih mempunyai arti.

9. Dalam arti yang positif Gereja kaum miskin berarti perhatian utama diberikan kepada kaum miskin, tanpa pengecualian, entah bagaimanapun bentuk kemiskinan mereka, sebab mereka lebih dicintai oleh Tuhan. Ungkapan ini menunjukkan pula kepada Gereja zaman sekarang, sebagai persekutuan dan lembaga serta kepada anggota-anggota Gereja, agar mereka menjadi semakin lebih sadar akan tuntutan kemiskinan injili.

10. Namun "teologi-teologi pembebasan", yang patut dihargai karena memberikan tempat yang terhormat kepada teks para Nabi dan Injil untuk membela kaum miskin, mencampur adukkan antara kaum miskin dalam Kitab Suci dengan kaum proletariat dari Marx. Dengan demikian mereka membelokkan arti Kristiani dari kaum miskin dan mereka merubah perjuangan untuk membela hak-hak kaum miskin menjadi suatu perjuangan kelas dalam suatu prespektif ideologis perjuangan kelas. Bagi mereka Gereja kaum miskin berarti Gereja dari kelas yangtelah menyadari tuntutan perjuangan revolusioner sebagai suatu langkah untuk pembebasan dan merayakan pembebasan ini di dalam liturgi.

11. Catatan lebih lanjut mengenai ungkapan Gereja Umat, kiranya tidak pada tempatnya di sini. Dari segi pastoral, ungkapan ini dapat berarti orang-orang yang dipilih untuk menerima penginjilan, yang diutamakan oleh Gereja di dalam cinta kasih pastoralnya karena keadaan mereka. Orang juga dapat menghubungkannya dengan Gereja sebagai umat Tuhan, yaitu umat Perjanjian Baru yang didirikan dalam Kristus.[24]

12. Namun "Teologi-teologi Pembebasan" yang kita bicarakan di sini mengartikan Gereja Umat sebagai Gereja kelas, Gereja dari orang-orang tertindas yang perlu "disadarkan" dalam cahaya perjuangan yang terorganisir untuk mendapatkan kemerdekaan. Bahkan bagi beberapa orang, umat yang dimengerti secara demikian, merupakan pokok iman kepercayaan.

13. Berdasarkan pada gagasan yang sedemikian mengenai Gereja Umat, maka suatu kritik terhadap struktur-struktur Gereja dikembangkan. Tidak hanya semata-mata koreksi persaudaraan terhadap para gembala Gereja, yang kelakuannya tidak mencerminkan semangat pengabdian injil dan terikat dengan tanda-tanda kekuasaan yang sudah kuno, yang memberikan batu sandungan pada kaum miskin. Bahkan dipersoalkan struktur sakramental dan hirarkis Gereja yang dikehendaki oleh Tuhan sendiri. Para anggota hirarki dan magisterium didakwa sebagai wakil-wakil dari kelas yang berkuasa yang harus ditentang. Secara teologis pendirian ini berarti bahwa para pejabat gerejani berasal dari umat, yang kemudian mengangkat para pejabat gerejani, berdasarkan pilihan mereka sendiri sesuai dengan kebutuhan dalam melaksanakan tujuan mereka yang historis revolusioner.

X. SUATU PENAFSIRAN YANG BAKU

1. Gagasan mengenai kebenaran yang bersifat partisan, yang dapat dilihat di dalam praxis revolusioner kelas, memperkuat pendirian ini. Para teolog yang tidak sependapat dengan tesis-tesis dari teologi pembebasan, hirarki dan lebih-lebih Magisterium di Roma secara apriori didiskreditkan sebagai termasuk dalam kelas penindas. Teologi mereka adalah sebuah teologi kelas. Dengan demikian argumen-argumen dan ajaran-ajaran tidak harus dilihat dari isinya itu sendiri, sebab hanyalah merupakan pantulan dari kepentingan kelas. Maka ajaran orang-orang lain secara prinsipial dinyatakan sebagai tidak benar.

2. Di sini nampaklah bagaimana corak global dan menyeluruh dari teologi pembebasan. Oleh karena itu teologi pembebasan harus dikritik tidak hanya atas dasar pernyataan ini, tetapi atas dasar pandangannya yang dipengaruhi oleh perjuangan kelas, yang secara apriori telah dipilihnya dan yang berfungsi sebagai suatu prinsip yang menentukan.

3. Oleh karena prasangka yang dipengaruhi oleh perjuangan kelas ini, menjadi amat sulitlah, untuk tidak mengatakan tidak mungkin, terlibat dalam dialog yang sungguh-sungguh dengan beberapa "teolog pembebasan" sedemikian rupa sehingga pihak lain didengarkan dan pendirian-pendiriannya dibicarakan dengan secara obyektif dan penuh perhatian. Karena para teolog ini bertitik tolak dari gagasan, yang kurang lebih disadari, bahwa pandangan kelas yang tertindas dan kelas revolusioner, yang mereka miliki, adalah satu-satunya pandangan yang benar. Dengan demikian maka kriteria teologis bagi kebenaran direlativisir dan ditundukkan pada tuntutan-tuntutan perjuangan kelas. Dalam pandangan ini orthodoxy atau garis iman yang benar, diganti dengan gagasan mengenai orthopraxy sebagai kriteria kebenaran. Sehubungan dengan hal ini pentinglah bahwa orang tidak mengacaukan orientasi praktis, yang ada baik dalam teologi tradisional maupun yang orientasi spekulatip, dengan prioritas yang diketahui dan diutamakan yang diberikan kepada suatu praxis tertentu. Bagi mereka praxis berarti praxis revolusioner, yang merupakan kriteria tertinggi bagi kebenaran teologis. Suatu metode teologi yang sehat pasti akan selalu memperhatikan praxis Gereja dan akan menemukan di sana salah satu dasarnya, sebab praxis tersebut berasal dari iman dan merupakan ungkapan yang hidup dari iman.

4. Ajaran sosial Gereja ditolak dengan penghinaan oleh "teologi-teologi pembebasan". Dikatakan bahwa hal tersebut berasal dari suatu khayalan untuk mengadakan kompromi yang mungkin, yang khas di dalam kelas menengah yang tidak mempunyai tujuan sejarah.

5. Cara penafsiran baru yang ada dalam "teologi-teologi pembebasan" menyebabkan suatu "pembacaan kembali" Kitab Suci yang secara esensial bersifat politis. Diberikan perhatian yang besar kepada peristiwa Exodus (Keluaran) seakan-akan itu merupakan suatu pembebasan dari perbudakan politik. Demikian pula disarankan suatu pembacaan yang bersifat politis dari Magnificat. Kekeliruan di sini bukannya di dalam memperhatikan suatu segi politis dari bacaan-bacaan Kitab Suci, tetapi karena menjadikan satu dimensi ini sebagai yang pokok dan merupakan komponen satu-satunya. Hal ini menyebabkan penyempitan pandangan dalam membaca Kitab Suci.

6. Demikian pula seseorang menempatkan dirinya di dalam kerangka mesianisme duniawi, yang merupakan salah satu ungkapan yang paling radikal tentang sekularisasi mengenai Kerajaan Tuhan dan keterlibatannya di dalam imanensi sejarah umat manusia.

7. Dengan memberikan prioritas yang sedemikian ini kepada dimensi politis, seseorang akan terbawa sedemikian sehingga menyangkal kebaharuan yang radikal dari Perjanjian Baru dan terutama menjadi salah mengerti mengenai pribadi Tuhan kita Yesus Kristus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia, demikian pula corak khusus dari keselamatan yang la berikan kepada kita, yaitu lebih-lebih pembebasan dari dosa, yang merupakan sumber segala kejahatan.

8. Lagipula dengan mengesampingkan penafsiran yang resmi dari Gereja, yang ditolak karena dianggap dipengaruhi oleh kelas, berarti orang itu meninggalkan tradisi. Dengan demikian dia tidak mempunyai kriteria teologis yang hakiki untuk menafsirkan dan di dalam kekosongan yang telah diciptakannya, orang menerima pendapat-pendapat penafsiran rasionalis yang paling radikal. Tanpa pandangan yang kritis orang akan mempertentangkan "Yesus sejarah" dengan "Yesus iman".

9. Tentu saja Syahadat iman secara harafiah dipertahankan, lebih-lebih syahadat Chalcedonia, namun diberi suatu pengertian baru yang merupakan penyangkalan terhadap iman Gereja. Di lain pihak doktrin Kristologis dari Tradisi ditolak atas dasar kelas; di lain pihak mereka menyatakan bertemu kembali dengan "Yesus sejarah" yang akan muncul dari pengalaman revolusioner di dalam berjuang bagi kaum miskin untuk membebaskan mereka.

10. Dinyatakan pula bahwa orang harus menghayati lagi pengalaman yang serupa dengan pengalaman Yesus. Pengalaman kaum miskin yang berjuang demi kebebasan mereka, yang merupakan pengalaman Yesus, hanya hal inilah akan mewahyukan kebenaran mengenai Tuhan yang sejati dan Kerajaan Tuhan.

11. Iman terhadap Sabda yang menjadi manusia, yang wafat dan bangkit untuk semua manusia, dan yang "diangkat sebagai Tuhan dan Kristus oleh Allah"[25] disangkal. Sebagai gantinya maka suatu figur Yesus yang merupakan semacam simbol yang menerangkan dalam diriNya tuntutan-tuntutan perjuangan kaum tertindas.

12. Maka diberikan suatu penafsiran yang semata-mata bersifat politis terhadap kematian Kristus. Dengan cara ini nilai kematian Kristus bagi keselamatan dan seluruh tata penebusan disangkal.

13. Penafsiran yang baru ini dengan demikian menyangkut seluruh misteri Kristiani.

14. Secara umum hal ini menyebabkan terjadinya pemutar balikan simbol-simbol. Misalnya, orang bukannya melihat seperti halnya Santo Paulus, gambaran mengenai Permandian di dalam Exodus,[26] tetapi beberapa orang malahan menganggapnya sebagai simbol pembebasan politik dari umat.

15. Bila kriteria penafsiran yang serupa diterapkan pada kehidupan dan susunan hirarkis Gereja, maka hubungan antara hirarki dan "kelompok basis" menjadi hubungan penindasan, yang tunduk kepada hukum perjuangan kelas. Mereka menyangkal sifat sakramental yang merupakan dasar jabatan-jabatan gerejani dan membuat Gereja menjadi suatu kenyataan rohani yang tidak boleh dipersempit hanya karena analisa sosiologis semata-mata.

16. Pemutar balikan tanda-tanda ini nampak pula dalam bidang sakramen-sakramen. Ekaristi tidak lagi dipahami sebagai kehadiran riil yang bersifat sakramental dari korban perdamaian, serta anugerah Tubuh dan Darah Kristus. Ekaristi menjadi suatu perayaan dari rakyat yang dalam perjuangan mereka. Sebagai konsekwensinya kesatuan Gereja secara radikal disangkal. Kesatuan, perdamaian dan persekutuan dalam cinta kasih tidak lagi dilihat sebagai suatu anugerah yang kita terima dari Kristus.[27] Kelas kaum miskin secara historis dengan perjuangan mereka akan membangun kesatuan. Bagi mereka perjuangan kelas adalah jalan untuk menuju kesatuan Ekaristi. Dengan demikian Ekaristi menjadi Ekaristi kelas. Namun pada saat yang sama, mereka mengingkari kekuatan yang jaya dari Cinta Kasih Allah yang telah diberikan kepada kita.

XI. PETUNJUK-PETUNJUK

1. Peringatan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang serius dari beberapa "Teologi Pembebasan" janganlah dianggap sebagai semacam persetujuan, walaupun tidak langsung, terhadap mereka yang membiarkan kaum miskin dalam kemalangan, yang mengambil keuntungan dari kemalangan tersebut, yang mengetahui hal itu namun tidak berbuat apa-apa untuk mengatasinya atau tetap bersikap acuh tak acuh terhadapnya. Gereja yang dibimbing oleh Injil belas kasihan dan oleh cinta terhadap umat manusia, mendengarkan seruan bagi keadilan [28] dan bermaksud untuk menjawabnya dengan sekuat tenaganya.

2. Demikianlah suatu panggilan yang luhur ditujukan kepada seluruh Gereja: dengan ketegasan dan keberanian, dengan pandangan jauh ke depan dan kebijaksanaan, dengan penuh semangat dan kekuatan roh, serta dengan cinta terhadap kaum miskin yang menuntut pengorbanan, hendaknya para gembala memandang jawaban terhadap panggilan ini sebagai suatu hal yang harus diberi prioritas utama, seperti yang telah dilakukan oleh banyak orang.

3. Semua Imam, Kaum Biarawan dan Kaum Awam yang mendengar panggilan untuk melakukan keadilan dan yang ingin bekerja untuk penginjilan dan memajukan manusia, hendaknya melakukan hal ini dalam kesatuan dengan uskup mereka dan dengan Gereja masing-masing sesuai dengan panggilan gerejaninya yang khas.

4. Sadar akan ciri gerejani dari panggilan mereka, hendaknya para teolog bekerjasama dengan Magisterium Gereja dengan setia dan dengan semangat dialog. Mereka akan dapat mengenal salah satu kurnia Kristus yang diberikan kepada Gerejanya [29] dalam Magisterium dan hendaknya mereka menyambut perkataan-perkataannya dan petunjuk-petunjuknya dengan sikap hormat sebagai seorang anak.

5. Hanyalah bila orang mulai tugas penginjilan, yang dipahami sepenuhnya, maka tuntutan-tuntutan otentik kemajuan manusiawi dan pembebasan dihargai. Pembebasan ini mempunyai tonggak-tonggaknya yang sangat diperlukan: yaitu kebenaran mengenai Yesus sebagai Penyelamat, kebenaran mengenai Gereja, kebenaran mengenai manusia dan martabatnya.[30] Dalam cahaya Sabda Bahagia, dan lebih-lebih Sabda Bahagia tentang orang yang miskin hatinya, maka Gereja yang mau menjadi Gereja kaum miskin di seluruh dunia, bermaksud membantu perjuangan yang mulia demi kebenaran dan keadilan. Gereja menyapa masing-masing orang dan oleh sebab itu juga semua orang. Gereja adalah "Gereja Universal". Gereja berasal dari misteri Inkarnasi. Gereja bukanlah Gereja dari salah satu kelas masyarakat. Dan Gereja berbicara atas nama kebenaran itu sendiri. Kebenaran ini sesuai dengan kenyataan. Kebenaran itu menyebabkan diakuinya "Setiap kenyataan manusiawi, setiap ketidak adilan, setiap ketegangan dan setiap perjuangan".[31]

6. Suatu pembelaan keadilan yang efektip perlulah bersandar kepada kebenaran tentang umat manusia, yang diciptakan menurut citra Allah dan dipanggil untuk menerima rahmat menjadi Anak Allah. Pemahaman mengenai hubungan yang benar antara umat manusia dengan Tuhan merupakan dasar dari keadilan, sejauh hal itu mengatur hubungan antar manusia. Itulah sebabnya perjuangan demi hak-hak manusia, yang tidak henti-hentinya ditegaskan kembali oleh Gereja, merupakan dasar perjuangan yang otentik terhadap keadilan.

7. Kebenaran mengenai manusia menuntut bahwa perjuangan ini harus dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan martabat manusia. Itulah sebabnya penggunaan kekerasan secara membabi buta, yang dilakukan secara sistematis dan sengaja, tidak perduli dari pihak manapun itu datangnya, haruslah dikutuk.[32] Menyerahkan diri sepenuhnya kepada cara-cara yang keji dengan harapan mau membuat keadaan lebih adil berarti menjadi korban dari suatu khayalan yang fatal: karena kekerasan melahirkan kekerasan dan merendahkan manusia. Kekerasan mencemoohkan martabat manusiawi orang yang menjadi korban dan juga merendahkan martabat manusiawi yang sama yang dimiliki mereka yang melakukan kekerasan tersebut.

8. Kebutuhan yang sangat mendesak untuk mengadakan perubahan-perubahan struktur secara radikal, yang menyembunyikan kemiskinan dan yang pada dasarnya merupakan bentuk dari kekerasan itu sendiri, hendaknya jangan membuat kita tidak melihat fakta bahwa sumber dari ketidak adilan ada di dalam hati manusia-manusia. Itulah sebabnya hanyalah dengan menghimbau potensi moral manusia serta perlunya mengadakan pertobatan batin terus menerus, dapatlah dilakukan perubahan sosial yang sungguh-sungguh demi mengabdi umat manusia.[33] Karena hanyalah sejauh mereka bekerjasama secara bebas dalam perubahan-perubahan yang penting ini lewat inisiatip mereka sendiri dan dalam solidaritas, maka manusia yang telah disadarkan mengenai tanggung jawab mereka akan berkembang di dalam kemanusiaan. Pemutar balikan moralitas dan struktur-struktur sangat dipengaruhi antropologi materialis yang tidak sesuai dengan martabat manusia.

9. Demikian pula juga merupakan suatu khayalan yang fatal percaya bahwa struktur-struktur baru ini dari dirinya sendiri akan melahirkan "seorang manusia baru" dalam arti manusia yang sejati. Orang Kristen tidak boleh lupa bahwa hanyalah Roh Kudus yang telah diberikan kepada kita, yang merupakan sumber setiap pembaharuan yang sejati dan bahwa Allah adalah Tuhan Sejarah.

10. Begitu pula menjatuhkan struktur-struktur yang melahirkan kekerasan dengan menggunakan kekerasan revolusi tidak dengan sendirinya merupakan permulaan suatu rejim yang adil. Sebagian besar kenyataan yang terjadi pada jaman sekarang ini haruslah membangkitkan refleksi semua orang yang dengan tulus ingin berjuang demi kebebasan sejati saudara-saudara mereka: jutaan manusia yang sejaman dengan kita dengan secara legal berusaha untuk mendapatkan kembali kebebasan-kebebasan dasariah mereka, yang dirampas oleh rejim-rejim totaliter dan atheistis yang memperoleh kekuasaan dengan menggunakan kekerasan dan revolusi, justru dengan dalih untuk membebaskan rakyat. Hal yang amat memalukan, yang terjadi pada jaman sekarang ini tak dapat diingkari lagi: rejim-rejim ini dengan dalih mau membebaskan seluruh bangsa, membiarkan mereka dalam keadaan perbudakan yang tidak selaras dengan martabat manusia. Orang-orang, yang mungkin dengan tidak sadar, ikut berse-kongkol dalam perbudakan yang semacam ini, mengkhianati kaum miskin yang justru ingin dibelanya.

11. Perjuangan kelas sebagai suatu jalan untuk membentuk suatu masyarakat tanpa kelas adalah suatu mitos yang memperlambat pembaharuan dan membuat kemiskinan dan ketidak adilan semakin parah. Mereka yang membiarkan dirinya terpukau oleh mitos tadi hendaknya merenungkan pengalaman-pengalaman pahit dalam sejarah yang diakibatkan olehnya. Barulah mereka akan mengerti bahwa di sini kita tidak bicara mengenai ditinggalkannya suatu upaya perjuangan yang efektip demi kaum miskin karena suatu cita-cita yang tidak akan menghasilkan apa-apa. Justru sebaliknya, kita bicara tentang pembebasan diri dari suatu khayalan agar supaya dapat menyandarkan diri pada Injil dan dayanya untuk melaksanakannya.

12. Salah satu syarat yang perlu untuk mengadakan koreksi teologis adalah memberikan penilaian yang tepat mengenai ajaran sosial Gereja. Ajaran sosial Gereja bukan sesuatu yang tertutup. Justru sebaliknya, tetap terbuka terhadap semua persoalan baru yang begitu banyak dewasa ini. Dalam perspektip ini maka sumbangan para teolog dan para pemikir lain di seluruh penjuru dunia bagi refleksi Gereja adalah yang sangat perlu pada jaman sekarang ini.

13. Demikian pula pengalaman mereka yang bekerja langsung untuk penginjilan dan memajukan kaum miskin dan tertindas penting bagi refleksi doktrinal dan pastoral Gereja. Dalam arti ini perlulah ditegaskan bahwa seseorang menjadi semakin sadar akan segi-segi tertentu kebenaran dengan bertitik tolak dari praxis, asalkan yang dimaksud adalah praxis pastoral dan kerja sosial yang tetap berdasarkan semangat injil.

14. Ajaran sosial Gereja tentang masalah-masalah sosial menunjukkan garis-garis pokok orientasi ethis. Namun agar supaya Gereja dapat membimbing secara langsung, Gereja membutuhkan orang-orang yang kompeten dari segi ilmiah dan tehnologis maupun dalam ilmu pengetahuan tentang manusia dan ilmu politik. Para pastor hendaknya memperhatikan pembinaan orang-orang yang memiliki kemampuan semacam itu, yang sungguh-sungguh menghayati Injil. Para awam, yang memiliki tugas perutusan yang khas dalam membangun masyarakat, merekalah yang paling terlibat di dalam hal ini.

15. Tesis-tesis "teologi-teologi pembebasan" secara luas disebar-luaskan dengan bentuk yang disederhanakan, dalam ceramah-ceramah untuk penataran atau dalam yang dinamakan "kelompok-kelompok basis", yang kurang disiapkan secara kateketis dan teologis. Demikianlah pendirian-pendirian tadi diterima oleh para pria dan wanita yang dermawan, tanpa melakukan penilaian yang kritis.

16. Dari sebab itu para pastor harus menjaga kualitas dan isi katekese dan pembinaan, yang harus selalu menyajikan seluruh pewartaan karya keselamatan dan perintah-perintah untuk mengadakan pembebasan sejati dalam kerangka seluruh pewartaan tadi.

17. Di dalam menyajikan agama kristen sepenuhnya tadi wajarlah bahwa ditekankan aspek-aspek hakiki yang cenderung untuk disalah mengerti atau dihapuskan oleh "teologi-teologi pembebasan", yaitu: transendensi dan sifat bebas dari pembebasan dalam Yesus Kristus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia; kekuatan rahmat dan hakekat sejati dari sarana-sarana Penebusan, lebih-lebih Gereja dan Sakramen-sakramen. Hendaknya juga selalu diperhatikan arti sejati dari ajaran moral di mana perbedaan antara yang baik dengan yang jahat tidak boleh direlativir, arti sejati dari dosa, perlunya pertobatan, serta sifat universal hukum cinta kasih persaudaraan. Hendaknya juga orang waspada terhadap usaha mempolitikkan kehidupan yang karena salah mengerti mengenai seluruh arti Kerajaan Tuhan dan transendensi pribadi manusia, mulai menganggap politik sebagai suatu yang sakral dan mengkhianati agama umat demi proyek-proyek revolusi.

18. Para pembela orthodoxy kadang-kadang didakwa bersikap pasip, membiarkan atau secara bersalah ikut terlibat dalam situasi ketidak adilan yang tak tertanggungkan lagi serta ikut terlibat dengan rejim-rejim politik yang memperpanjang situasi tadi. Pertobatan batin, kebesaran cinta terhadap Tuhan dan sesama, semangat berjuang untuk keadilan dan perdamaian, arti Injil mengenai kaum miskin dan kemiskinan, dituntut dari setiap orang, lebih-lebih dari para gembala dan mereka yang dalam kedudukan bertanggung jawab. Keprihatinan terhadap kemurnian iman menuntut agar orang memberikan jawab dengan kesaksian yang efektip dalam mengabdi sesama, kaum miskin dan khususnya orang yang tertindas, dengan suatu teologi yang utuh. Dengan kesaksian mengenai semangat mereka yang dinamis dan konstruktip untuk mencintai, maka orang-orang Kristen akan meletakkan dasar bagi "peradaban cinta", yang disebut oleh Konperensi di Puebla mengikuti jejak Paus Paulus VI.[34]

KESIMPULAN

Kata-kata Paus Paulus VI dalam Syahadat Imannya, mengungkapkan dengan sangat jelas iman terhadap Gereja. Orang tidak dapat menyimpang darinya tanpa menimbulkan kemalangan-kemalangan baru dan bentuk-bentuk baru perbudakan, di samping malapetaka rohani.

"Kami menyatakan iman kami bahwa Kerajaan Tuhan, mulai di dunia ini dalam Gereja Kristus, tidak berasal dari dunia, yang bentuknya sementara, dan bahwa pertumbuhannya tidak boleh dianggap sama dengan kemajuan peradaban, ilmu pengetahuan atau teknologi manusia tapi menampakkan diri dalam semakin memahami kekayaan Kristus yang tak dapat diukur, dalam mempunyai pengharapan yang semakin kokoh terhadap hal-hal abadi, dengan semakin bersemangat menjawab cinta Tuhan, dengan menyebarkan rahmat Tuhan seluas mungkin dan kesucian di antara orang-orang. Oleh cinta kasih yang sama Gereja digerakkan agar supaya terus menerus memperhatikan pula kesejahteraan umat manusia. Dengan tiada henti-hentinya mengingatkan anak-anaknya bahwa mereka tidak punya tempat tinggal abadi di dunia ini, Gereja mendorong mereka untuk juga ikut menyumbang, masing-masing orang sesuai dengan situasi dan sarana yang dimilikinya, untuk kesejahteraan kota duniawi ini, untuk memajukan keadilan, perdamaian dan persaudaraan di antara umat manusia, untuk memperbesar bantuan mereka kepada saudara-saudara mereka, lebih-lebih kaum miskin dan orang yang paling menderita. Keprihatinan Gereja yakni mempelai Kristus, yang mendalam terhadap kebutuhan-kebutuhan umat manusia, kegembiraan dan harapan mereka, penderitaan dan perjuangan mereka, tidak lain merupakan ungkapan keinginan yang besar untuk hadir bersama mereka guna menyinari mereka dengan cahaya Kristus, dan menggabungkan mereka semua pada Dia, Penebus mereka. Namun tidaklah berarti bahwa Gereja menyesuaikan diri dengan hal-hal duniawi, pun pula bahwa Gereja mengendorkan semangatnya, dengan mana Gereja menantikan Tuannya dan Kerajaan yang abadi".[35]

Instruksi ini disetujui dalam suatu Pertemuan Rutin Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman dan disyahkan serta diperintahkan untuk dipublikasikan oleh Paus Yohanes Paulus II, dalam suatu audiensiyang diadakan dengan Kardinal Prefek, yang bertanda tangan di bawah ini.

Diberikan di Roma, di Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman, 6 Agustus 1984, pada Pesta Transfigurasi Tuhan kita.

Kardinal Joseph Ratzinger
Prefek

+ Alberto Bovone
Uskup Agung Tituler Caesarea di Numidia
Sekretaris.


CATATAN KAKI

1. Lih. Gaudium et spes no. 4.
2. Lih. Dei Verbum no. 10.
3. Lih. Gal 5, I dst.
4. Lih. Kel. 24.
5. Lih. Yer 31, 31-34; Ez 36, 36 dst.
6. Lih. Ze 3, 12, dst.
7. Lih. Ul 10, 18-19.
8. Lih. Lk 10, 25-37.
9. Lih. 2 Kor 8, 9.
10.Lih. Mt 25, 31-46; Kis 9, 4-5;Kol 1,24.
11.Lih. Yak 5, dst.
12.Lih. 1 Kor 11, 17-34.
13.Lih. Yak 2, 14-26.
14.Lih. AAS 71 (1979) hal 1144-1160.
15.Lih. AAS 71 (1979) hal 196.
16.Lih. Evangelii Nuntiandi no. 25-33, AAS 68 (1976) hal. 23-28.
17.Lih. Evangelii Nuntiandi no. 32, AAS 68 (1976) hal 27.
18.Lih. AAS 71 (1979) hal 188-196.
19.Lih. Gaudium et Spes no. 39; Pius XI, Quadragesima anno: AAS 23 (1931) hal 207.
20.Lih. no. 1134-1165 dan no. 1166-1205.
21.Lih. Dokumen Puebla, IV, 2.
22.Paus Paulus VI Octogesima Adveniens no. 34, AAS 63 (1971) hal. 424-425.
23.Lih. Lumen Gentium no. 9-17
24.Lih. Gaudium et Spes no. 39.
25.Lih. Kis 2, 36. 32
26.Lih. 1 Kor 10, 1-2.
27.Lih. Ef 2, 11-22.
28.Dokumen Puebla I, II, 3.3.
29.Lih. Lk 10, 16
30.Lih. Yohanes Paulus II, Sambutan pada Pembukaan Konferensi di Puebla AAS71 (1979) hal 188-196; Dokumen Puebla II P, c.l.
31.Lih. Yoh. Paulus, II, Sambutan kepada Favela "Vidigal" di Rio de Janeiro 2 Juli 1980, AAS 72 (1980) hal 852-858.
32.Dokumen Puebla V, c.II, 5.4.
33.Lih. Dokumen Puebla IV, c.3.3.1.
34.Lih Dokumen Pueblo, IV, II, 2.3.
35.Paus Paulus VI, Syahadat Iman Umat Tuhan, 30 Juni 1968, AAS 60 (1968) hal 443-444.
_________________
-=RAnd=-
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Referensi dokumen Gereja All times are GMT + 6 Hours
Page 1 of 1

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17