FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Misa Arwah + Api Penyucian    
Goto page: Previous Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Ruang Pengetahuan Dasar Iman Katolik
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Stanley



Joined: 29 Sep 2008
Posts: 3583

PostPosted: Mon, 03-11-2008 10:16 am    Post subject: Reply with quote

Baru beberapa detik ini saya kepikiran... sebuah pertanyaan yg membingungkan saya.

Apakah didalam api penyucian itu jiwa manusia masih memiliki free will?

Mohon dipahami pertanyaan ini akan membuka pertanyaan lanjutan:

Jika IYA, berarti manusia masih bisa 'jatuh dlm dosa' didalam api penyucian itu?

Jika TIDAK, bagaimana mgkn mereka 'dapat' meminta bantuan doa dari kita yg msh berada di dunia ini? Contohnya yg dialami St. Faustina dan jg yg dialami Maria Simma?

Maksud saya, 'kedatangan' atau 'penampakan' mereka pada kita yg msh berada di duia ini bukankah bisa menimbulkan suatu kesalahan pemahaman iman bagi yg 'ditampaki'? (Dosa bisa bermakna sosial bukan? Krn kelakuan si A yg sudah jadi arwah maka si B yg masih manusia jadi berbuat dosa... padahal si A gak meminta si B berbuat dosa [misal membunuh dll]... gitu?.

Gmn neh? ada pencerahan? thx GBU
_________________
This is Spartaaa!
Back to top
View user's profile Send private message
benedictus rio



Joined: 25 Oct 2008
Posts: 28

PostPosted: Mon, 03-11-2008 11:00 am    Post subject: Reply with quote

Stanley wrote:
Baru beberapa detik ini saya kepikiran... sebuah pertanyaan yg membingungkan saya.

Apakah didalam api penyucian itu jiwa manusia masih memiliki free will?

Mohon dipahami pertanyaan ini akan membuka pertanyaan lanjutan:

Jika IYA, berarti manusia masih bisa 'jatuh dlm dosa' didalam api penyucian itu?

Jika TIDAK, bagaimana mgkn mereka 'dapat' meminta bantuan doa dari kita yg msh berada di dunia ini? Contohnya yg dialami St. Faustina dan jg yg dialami Maria Simma?

Maksud saya, 'kedatangan' atau 'penampakan' mereka pada kita yg msh berada di duia ini bukankah bisa menimbulkan suatu kesalahan pemahaman iman bagi yg 'ditampaki'? (Dosa bisa bermakna sosial bukan? Krn kelakuan si A yg sudah jadi arwah maka si B yg masih manusia jadi berbuat dosa... padahal si A gak meminta si B berbuat dosa [misal membunuh dll]... gitu?.

Gmn neh? ada pencerahan? thx GBU


Wah itu yang saya tdk thau,kalau saya jawab menurut pemikiranku aku takut salah karena tdk ada landasannya.
Wong selama ini aku mendoakan orang tuaku,kakek/nenek bahkan kakakku yang konon katanya meninggalnya dibikin orang (disantet) aku tdk perna didatangi arwahnya dari hari pertama s/d 40 hari sampai sekarang sdh setahun tdk pernah didatangi,mungkin mrk malas datang sama aku krn aku ndablek. Ketawa Ketawa Ngakak
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail
moon



Joined: 20 Jun 2008
Posts: 226

PostPosted: Mon, 03-11-2008 2:26 pm    Post subject: Reply with quote

sorry ikut nimbrung, semoga nga bikin ruwet lagi Ketawa

(sebelumnya sorry, saya nga paham dengan analogi si A dan si B.)
semestinya arwah nga punya free will lagi, dan mereka sepenuhnya tergantung pada Gereja pejuang untuk mendoakan mereka.
alasan paling masuk akal adalah penampakan para arwah kepada orang2 tertentu terjadi dengan seijin Tuhan. kemurahan hati Tuhan yang membuat arwah bisa "minta tolong", karena Allah itu setia dan berbelas kasih. di samping itu, kejadian2 penampakan ini juga bisa dijadikan sarana menguatkan iman.

yang terlintas di pikiran saya, apakah Purgatory itu suatu tempat?
kalau merupakan suatu tempat, apakah somewhere between earth & Heaven? nga tahu, saya belum ketemu ajaran GK yang lebih mendalam mengenai Purgatory.
saya pikir yang lebih tepat, Purgatory ini suatu keadaan.
Back to top
View user's profile Send private message
Athanasios
Penghuni Ekaristi


Joined: 12 Feb 2004
Posts: 4198

PostPosted: Mon, 03-11-2008 7:37 pm    Post subject: Reply with quote

Free Will bukan kemauan untuk bebas semau gue.

Free Will adalah kemampuan untuk memilih dan berbuat yang baik.

Itulah sebabnya kita menyebut dosa sebagai "perbudakan".

Orang yang ada di Purgatory Free Will nya lebih sempurna daripada kita di dunia karena mereka tidak lagi bisa berbuat dosa
_________________
Sancta et catholica Ecclesia, quae est corpus Christi mysticum
- Konsili Oikumenis Vatikan II Orientalum Ecclesiorum art.2
Back to top
View user's profile Send private message
moon



Joined: 20 Jun 2008
Posts: 226

PostPosted: Tue, 04-11-2008 11:22 am    Post subject: Reply with quote

umm … kayanya ada salah paham ya, maaf kalo kata2 saya sebelumnya nga jelas. saya tahu freewil itu apa. Ketawa

maksudnya saya jiwa di purgatory itu udah dalam kondisi kerinduan untuk bersatu dengan Tuhan, yang ada hanya keinginan memurnikan diri. jelas jiwa2 di Purgatory itu lebih kudus dari saya, karena tinggal selangkah lagi dari pintu Surga.
tapi untuk memperoleh rahmat Tuhan tsb, tetap membutuhkan bantuan doa dari kita. bayangan saya, penyesalan jiwa2 tsb sedalam lautan, tapi nga bisa mohon pengampunan bagi dirinya sendiri, jadi pasti nga ada pikiran berbuat dosa lagi.
kaitannya dengan analogi si A dan si B kan si A (arwah) bisa menyebabkan si B berbuat dosa. saya rasa si A lalu lalang menampakai itu adalah hanya untuk “minta tolong” di intensikan Misa / di doakan. bukan untuk menimbulkan kesalah pahaman iman.
kalau menurut GK nga ada arwah penasaran, tapi kenyataannya mengapa ada orang2 tertentu yang bisa ditampaki? yah saya berpendapat karena misteri dan kuasa Allah.

lebih tepat bila saya katakan jiwa di Purgatory bukan nga punya freewill lagi, tapi sudah nga bisa dan nga mau berbuat dosa.

oh ya kemarin ada homili Romo sewaktu Misa Requim, beliau bercerita ada seorang gadis 18 thn yang sering melihat “arwah” ayahnya dan sering berkomukasi. akibatnya si gadis ini menjadi tenggelam dalam kesedihan dan sering mengurung diri. setelah didoakan dan “arwah” tsb diperciki air suci, gadis tsb sadar diri dan kini bisa menjalani kehidupan normal lagi. yah, mungkin yang ditampaki juga harus berhati2 dan bisa membedakan apakah yang dilihat benar arwah dari Purgatory atau dari roh jahat.
Back to top
View user's profile Send private message
Stanley



Joined: 29 Sep 2008
Posts: 3583

PostPosted: Tue, 04-11-2008 12:18 pm    Post subject: Reply with quote

@Moon

Arwah penasaran berbeda konsep dgn jiwa di api penyucian (terlepas dr masalah konsep arwah penasaran ini diterima/gak oleh GK).

Masalah gadis yg melihat arwah ayahnya, nah itu contoh konkret dari kasus si A dan si B, dmn mgkn si A 'minta tolong' di doakan... tapi si B menerimanya dgn pemahaman iman yg salah, akhirnya malah makin buruklah kondisi si B.

Jadi bukankah scr 'tidak langsung' si A 'berbuat dosa' dgn menyebabkan jatuhnya iman dan mental si B? Ataukah makin buruknya iman dan mental si B itu hanya tanggung jawab si B seorang?
_________________
This is Spartaaa!
Back to top
View user's profile Send private message
moon



Joined: 20 Jun 2008
Posts: 226

PostPosted: Tue, 04-11-2008 3:04 pm    Post subject: Reply with quote

lalu apa konsep dari arwah penasaran?
asumsi saya yang sering menampaki kamu itu jiwa Purgatory (di intensikan Misa), tapi kamu sebutnya arwah penasaran ... kaya di film sixth sense. senangkepnya saya penampakan itu ya antara 2 hal, jiwa Purgatory atau roh jahat.

yang hendak disampaikan Romo adalah hati2 dengan adanya penampakan.
kadang rasa kehilangan / kerinduan terhadap anggota keluarga yang meninggal menimbulkan kesedihan yang tak terselami. dan celah ini yang dimanfaatkan roh jahat untuk makin mengikis iman si gadis. kronologisnya begini : si gadis sedih berlebihan, patah semangat dan tidak mau “menyayangi” orang lain lagi, bahkan menyalahkan Tuhan kenapa sudah tega mengambil ayahnya, dll. yah intinya si gadis makin jauh dari Allah, di mana Allah sebenarnya adalah hidup, kasih dan harapan.
jadi menurut Romo, yang menampaki adalah roh jahat dengan tampilan fisik ayahnya, bukan arwah ayahnya.

andaikata itu benar penampakan si ayah,
pendapat saya si ayah (arwah) nga bisa menyebabkan orang lain berdosa, tapi si gadislah yang kurang kuat iman nya dalam menyikapi kejadian2 dalam hidupnya. mengapa si gadis tidak berpikir kematian itu pastilah tujuan akhir semua orang, termasuk orang2 yang dikasihinya? mengapa si gadis nga berpikir ayahnya belum sampai Surga, dan butuh doa seorang anak yang akan sangat2 berguna bagi ayahnya? mengapa si gadis malah memilih mengasihani diri dan makin pesimis menghadapi hidup?

coba dibandingkan dengan Sr.Faustina atau Maria Simma yang kamu sebut2 di halaman sebelumnya. saya rasa tinggal bagaimana sang pribadi yang ditampaki menyikapinya.

bener nga? Ketawa
Back to top
View user's profile Send private message
JesusNameAbo
veAllName
== BANNED ==




Joined: 15 Dec 2008
Posts: 55

PostPosted: Mon, 15-12-2008 3:35 pm    Post subject: Re: Misa Arwah + Api Penyucian Reply with quote

lisamaria wrote:
Temen2, senior2, om, tante, sapa aja... Tolong bantu aku dlm mnjwab ptnyaan dari tmenku ini ya...

Sblmnya sori klo ptanyaan ini uda perna dibahas, aku uda nyari dgn keyword "arwah" n ga nmuin yang sesuai...

Dia nanya tentang apa tujuannya diadain misa arwah? Dia berpendapat, bukankah "nasib" kta setelah kematian ditentuin oleh perilaku duniawi kta? Apa tujuan kta mendoakan orang2 yang telah meninggal?

Aku sbnrnya pngen jawab dia klo arwah2 tsb ada yang masih di Api Penyucian, jadi belom ditentuin apakah arwah tsb masuk surga ato neraka. Tpi aku ga yakin sama jawabanku itu juga, jadinya aku tunda dulu buat ngjawab dia.

Trus, ini pertanyaan pribadiku ni.. Siapakah org2 yang berada di Api Penyucian? Mksdnya, org2 Katolik aja ato org2 Protestan, Islam jg ada? Trus, apakah org yang meninggal selalu "masuk" ke Api Penyucian dulu, atokah "bisa" langsung ditentuin masuk surga/neraka?

Thxx banget atas jawabannyaa...!


aku pernah baca artikel yg membahas hal ini:
karna setahuku, hal ini muncul karna penafsiran surat 1Ptr. 3:19.
1Pe 3:19 dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara,

semoga nyambung yah...

Pertanyaan
Apakah maksudnya “Ia [yaitu Yesus Kristus–1Ptr. 3:18] pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara” dalam 1Ptr. 3:19?[1] Untuk menjawab pertanyaan ini, maka beberapa subpertanyaan dalam klausa ini perlu dimengerti terlebih dahulu. Pertama, kapankah pemberitaan oleh Tuhan Yesus itu terjadi? Apakah pada waktu Nuh di zaman Perjanjian Lama (bdk. ay. 20)? Atau pada saat Tuhan Yesus mati-sementara Ia tergantung di kayu salib, atau sementara di dalam kubur? Atau di antara saat kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke sorga (bdk. ay. 18)? Ataukah sementara Ia naik ke sorga?

Kedua, apakah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus itu memang merupakan pemberitaan Injil-sebagaimana dipahami dalam Alkitab Terjemahan Baru (TB) dan TB 2? Ataukah Tuhan Yesus (hanya) menyatakan proklamasi, pengumuman, atau deklarasi atas karya keselamatan yang diraih-Nya, khususnya melalui kemenangan-Nya dari kubur dan maut?–sebagaimana dipahami dalam beberapa terjemahan lain seperti New American Standard Bible Updated (NASU) yang menerjemahkan ‘pemberitaan Injil’ dalam ay. 19 [Yunani: ek?ruksen] sebagai made proclamation; New Revised Standard Version (NRSV): made a proclamation; atau New English Bible (NEB): (he went and) made his proclamation.

Ketiga, apakah atau siapakah “roh-roh” di dalam penjara yang kepadanya Tuhan Yesus pergi memberitakan Injil, atau seperti kecenderungan pemahaman modern, memproklamasikan kemenangan-Nya?[2] Apakah roh-roh ini ialah arwah-arwah atau roh-roh manusia atau makhluk-makhluk tak berjasad atau tak berdaging tak bertulang? Kalau roh-roh dalam teks ini berarti roh, arwah, atau makhluk (being) tak berjasad, apakah itu berarti Tuhan Yesus pergi memberitakan Injil kepada roh-roh manusia yang terpisah dari jasad ragawi? Kalau “Ya,” roh-roh siapakah itu? Apakah roh-roh dari orang-orang yang sudah mati, khususnya arwah-arwah dari zaman Nuh? Ataukah bahwa roh-roh yang dimaksudkan di sini ialah malaikat-malaikat? Jika Yesus pergi memberitakan Injil kepada malaikat, apakah malaikat, khususnya malaikat pemberontak, bisa bertobat? Apakah surat Petrus berbicara tentang adanya keselamatan bagi malaikat?

Keempat, apakah makna penjara dalam frasa “roh-roh yang di dalam penjara”? Apakah penjara yang surat Petrus atau Petrus[3] maksudkan ialah tempat dalam arti literal, yaitu lokasi pengurungan atau penahanan sesuatu atau seseorang (biasanya orang hukuman atau orang yang divonis bersalah)? Kalau demikian, apakah pemberitaan Injil oleh Tuhan Yesus itu dilakukan kepada roh-roh dalam suatu lokasi kurungan fisik tertentu? Di manakah lokasi penjara itu, dan bagaimanakah kondisinya, atau kondisi “roh-roh” di dalamnya?[4]


Jawaban Umum
Jawaban umum tentang makna pemberitaan Tuhan Yesus kepada roh-roh dalam penjara (1Ptr. 3:19) terdapat dalam buku atau referensi seperti Ensiklopedi Alkitab Masa Kini[5] atau New Bible Dictionary;[6] Hard Sayings of the Bible;[7] atau dalam “Alkitab Penuntun” atau “Study Bible.” The NIV Study Bible mengemukakan tiga kemungkinan interpretasi terhadap persoalan pemberitaan Tuhan Yesus kepada roh-roh di dalam penjara dalam 1Ptr. 3:19-20a.[8] Pandangan atau interpretasi pertama mengatakan bahwa Tuhan Yesus, sebelum berinkarnasi, pergi memberitakan (Injil) melalui Nuh kepada generasi yang jahat pada zaman Nuh. Pandangan pertama ini mengabaikan faktor kematian dan kebangkitan Yesus, sebagaimana dituntut oleh konteks 1Ptr. 3. Inilah kelemahan dari pandangan pertama.

Menurut pandangan kedua, dalam masa selang di antara kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus pergi ke penjara di mana malaikat-malaikat pemberontak dikurung dan menyampaikan berita (mungkin deklarasi kemenangan Tuhan Yesus) kepada malaikat-malaikat itu yang telah jatuh dan kawin dengan anak-anak perempuan manusia pada zaman Nuh (bdk. Kej. 6:1-4; 2Ptr. 2:4; Yud. 6). Kelemahan utama dari pandangan ini ialah pendapat tentang adanya hubungan seks antara malaikat (yang berkeadaan ‘roh’) dengan manusia (perempuan).

Pandangan ketiga mengatakan bahwa di antara kematian dan kebangkitan-Nya Tuhan Yesus pergi ke dunia orang mati dan menyampaikan berita (mungkin berita Injil, atau mungkin berita kemenangan Tuhan Yesus serta hukuman bagi para pendengar-Nya), kepada roh-roh dari orang-orang jahat pada zaman Nuh. Kelemahan utama dari pandangan ketiga ialah bahwa istilah “roh-roh” – menurut NIV Study Bible – hanya dipakai oleh Alkitab untuk merujuk kepada makhluk-makhluk supranatural (kecuali jika istilah “roh” itu disertai keterangan tambahan).

Jawaban umum dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini atau New Bible Dictionary dapat diklasifikasi ke dalam dua golongan besar. Pertama, pendapat para bapa gereja, dan kedua, pendapat para sarjana modern. Bapa-bapa gereja (patristic exegesis) berpendapat bahwa “mereka yang dahulu … tidak taat” adalah khas contoh orang-orang berdosa dari zaman Nuh yang tidak berkesempatan mendengar Injil-dan tidak bertobat-sebelum inkarnasi TuhanYesus. Kesempatan untuk mendengar Injil tiba ketika dalam interval waktu di antara kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus pergi ke penjara, atau, menurut terjemahan Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, “turun ke dunia orang mati dan menjanjikan keselamatan kepada mereka.” Secara khusus, pendapat seperti ini berkembang di Gereja Timur.

Pendapat modern memahami pemberitaan oleh Tuhan Yesus kepada roh-roh dalam penjara sebagai proklamasi atau pengumuman Tuhan Yesus tentang kemenangan-Nya di salib.[9] Proklamasi ini terjadi setelah penderitaan Yesus, khususnya pada saat kenaikan-Nya ke sorga (dengan atau tanpa menawarkan keselamatan), kepada malaikat-malaikat yang jatuh/berdosa. Yang biasanya dirujuk sebagai referensi pendukung terhadap pandangan ini ialah 2Ptr. 2:4, 5 (Allah menyerahkan malaikat-malaikat yang berdosa ke dalam neraka dan gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman), dan Yudas 6 (Tuhan menahan malaikat-malaikat yang tidak taat dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar).


Jawaban Alternatif
Tulisan ini akan mengemukakan bahwa pemberitaan Injil–bukan deklarasi kemenangan–dilakukan oleh Tuhan Yesus melalui Roh-Nya di dalam diri dan melalui pelayanan para nabi Perjanjian Lama (1Ptr. 1:11). Pemberitaan ini ditujukan kepada
“roh-roh” di dalam penjara, yaitu kepada
“mereka [yaitu orang-orang] yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat” (ay. 20).

Tafsiran alternatif ini memandang kata “roh-roh” dalam 1Ptr. 3:20 dalam Alkitab Terjemahan Baru (1 dan 2) sebagai terjemahan berlebihan yang tidak perlu.[10] Dalam teks Yunani, kata benda “roh-roh” (Yun: pneumasin) hanya ada dalam ay. 19 dan tidak ada dalam ay. 20. Bentuk datif ‘participle’ apeith?sasin dalam ay. 20 memang merujuk kepada pneumasin dalam ay. 19,[11] namun ‘pneumasin’ dalam ay. 20 tidak secara otomatis berarti roh-roh manusia, atau “roh-roh mereka” seperti dalam Alkitab TB. Petrus memakai kata yang berasal dari kata dasar apeithe? juga dalam 2:8; 3:1 dan 4:17, dan semuanya merujuk kepada orang, dan bukan roh atau arwah, atau malaikat, yang tidak taat.

Kekayaan bahasa metaforis 1Ptr. (dan 2Ptr. ),[12] pemahaman tentang ketegasan modus pandang (worldview) Petrus serta ajarannya[13] menuntut bahwa kata “roh-roh” yang dimaksudkannya bukan berarti roh-roh manusia, melainkan manusia, yaitu orang-orang. Oleh karena itu, maka Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru dengan tepat menerjemahkan apeith?sasin sebagai orang-orang yang tidak taat, dan bukan roh-roh dari orang-orang yang tidak taat.[14] Pemahaman terhadap ketegasan ajaran Petrus, baik di surat Petrus maupun di Kisah Para Rasul[15] memustahilkan pelayanan pemberitaan Injil kepada roh-roh manusia dalam arti roh atau sosok tak berdaging tak bertulang, atau kepada arwah-arwah, atau kepada malaikat-malaikat.

Selain Petrus, istilah pneuma (roh) dalam arti manusia atau ‘orang-orang’ dipakai juga beberapa kali oleh rasul Paulus. Paulus dapat memakai kata pneuma dalam arti psuch? (‘jiwa’; Flp. 1:27), atau sarks (tubuh); atau bahkan manusia secara keseluruhan (2Kor. 2:13; 7:5).[16] Doa Paulus pada bagian penutup dari beberapa suratnya yang menyatakan agar Tuhan Yesus atau kasih karunia-Nya menyertai roh para penerima suratnya (Flp. 4:23; 2Tim. 4:22; Gal. 6:18) berarti bahwa Paulus berdoa agar Tuhan Yesus atau Roh Allah menyertai para penerima suratnya (dan bukan semata menyertai ‘roh’ mereka dalam kondisi terpisah dari tubuh jasmani). Pemakaian kata “roh” dalam arti “kamu” yaitu orang-orang yang menerima surat Paulus mungkin paling jelas terdapat dalam 2Tim. 4:22 (di mana “rohmu” sejajar maknanya dengan “kamu”):
Tuhan menyertai rohmu.
Kasih karunia-Nya menyertai kamu!

Serupa dengan masyarakat modern, termasuk masyarakat Kristen, yang seringkali merujuk manusia dengan istilah ‘jiwa,20] Kondisi ini dilukiskan oleh Petrus sebagai hidup dalam kesia-siaan (1:18), jatuh tersandung (2:cool, berada dalam kegelapan (2:9; 2Ptr. 1:19; 2:17), hidup dalam kedagingan yang berperang melawan jiwa (1:11), kondisi kepicikan dalam kebodohan (1:15) dan kebutaan (2Ptr. 1:9), terseret dalam kesesatan (2:25; 2Ptr. 2:18; 3:17) dan kecemaran dunia (2Ptr. 1:20), tercelumpung dalam kubangan ketidaksenonohan (4:4), serta terikat dalam hawa nafsu yang menghukum dan membinasakan (2Ptr. 1:4; 2:3). Kepada “roh-roh” yang menjadi “slaves of corruptionPetrus Tidak Mengajarkan Pekabaran Injil Kepada Roh Orang Mati
Pendapat atau tafsiran alternatif di atas berimplikasi tegas setidaknya terhadap tiga hal. Pertama, bahwa kesaksian dan pekabaran Injil kepada manusia hanya dapat dilakukan kepada manusia dalam kesatuan tubuh-jiwa atau kesatuan tubuh-jiwa roh. Petrus tidak mengajarkan adanya pekabaran Injil terhadap roh-roh dalam keberadaannya yang terpisah dari kesatuan jasad ragawi. Karena penginjilan hanya dilakukan kepada manusia dalam kesatuan/kesadaran tubuh-jiwa-roh, maka tidak ada penginjilan kepada roh atau arwah manusia yang meninggalkan jasad ragawi setelah meninggal dunia. Dengan demikian, maka surat Petrus, seperti halnya bagian-bagian Alkitab yang lain, menunjukkan sikap yang jelas dan tegas terhadap nasib orang yang tidak percaya. Orang yang mati dalam keadaan belum percaya akan menghadapi penghakiman dan kebinasaan kekal.[23]

Implikasi turunan dari poin pertama ialah bahwa penginjilan hanya dilakukan kepada manusia sementara mereka masih hidup. Tidak ada data Alkitab yang menunjukkan penginjilan kepada roh-roh halus atau kepada arwah-arwah, atau kepada malaikai-malaikat. Surat Petrus menyatakan sikap Allah yang tegas terhadap manusia-manusia berdosa dan malaikat-malaikat pemberontak. Allah melemparkan malaikat-malaikat pemberontak ke dalam neraka (2Ptr. 2:4).[24] Sikap Allah kepada orang-orang yang tidak mau bertobat atau nasib dari “roh-roh” atau arwah-arwah orang mati pun jelas dalam surat Petrus. Kesempatan bagi manusia untuk percaya hanya ada sementara mereka masih hidup (1Ptr. 2:6-8). Penghakiman oleh Allah terjadi “tanpa memandang muka” kepada “semua orang” (1:17). “Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?” (4:18). Dengan pengajaran palsu, maka nabi-nabi dan guru-guru palsu “segera mendatangkan kebinasaan” atas dirinya (2Ptr. 2:1, 3). Tuhan menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman (2Ptr. 2:9); mereka sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan (ay. 12); mereka akan mengalami “nasib yang buruk” (ay. 13); bagi mereka “telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling gelap” (ay. 17). Pemusnahan dan pembinasaan dengan api yang Allah lakukan terhadap Sodom dan Gomora yang tidak bertobat bahkan dipakai oleh Petrus untuk menyatakan peringatan dari Allah “kepada mereka yang hidup fasik di kemudian hari” (ay. 7).


Tuhan Yesus Memberitakan Injil Melalui Orang Percaya
Implikasi kedua dari jawaban alternatif: Allah dan Tuhan Yesus sendiri terus bekerja, baik dalam zaman Perjanjian Lama maupun dalam zaman Perjanjian Baru untuk membawa manusia kepada diri-Nya sendiri.[25] Inilah sebabnya orang bisa bertobat lewat penampakan Tuhan Yesus melalui mimpi atau melalui tanda khusus. Walaupun Allah dalam Tuhan Yesus berintervensi langsung dalam kasus-kasus tertentu, namun secara normatif Allah dan Tuhan Yesus bekerja menginjili dunia dan manusia di dalam dan melalui orang-orang yang sudah percaya; secara khusus melalui pemberitaan Injil secara verbal.

Pemberitaan Injil melalui kesaksian verbal sering dianggap sebagai tugas yang hanya penuh dengan risiko. Oleh karena itu, orang percaya kadang-kadang merasa cukup bersaksi melalui pola hidup yang baik saja. Bagi Petrus dan para penerima suratnya, pemberitaan Injil memang perlu didukung oleh pola hidup baik (bdk. 3:1, 15b), namun mereka juga perlu “siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang” yang meminta pertanggungan jawab atau kesaksian iman mereka.

Surat Petrus ditulis oleh Petrus yang pernah mengalami penjara (Kis 4:1, 3; 5:18), ancaman, intimidasi (4:7, 17, 18; 5:18, 27-28), hingga nyaris mengalami eksekusi (12:4). Dan ia menujukan suratnya kepada jemaat-jemaat yang sedang mengalami ujian dan penderitaan karena iman. Yohanes, teman Petrus dalam kelompok dua belas murid Yesus yang pernah bersama-sama mengalami penjara, ancaman dan intimidasi, secara eksplisit menyatakan bahwa ia aktif bersaksi tentang Tuhan Yesus Kristus supaya “sukacita kami menjadi sempurna” (1Yoh. 1:4). Sukacita seperti ini telah dialami sebelumnya oleh Yohanes, bersama Petrus, di tengah intimidasi dan aniaya (Kis. 5:40, 41). Kesaksian dan pekabaran Injil secara verbal oleh orang percaya bukan hanya mengandung risiko menimbulkan perlawanan dari Musuh dan musuh-musuh Yesus, melainkan juga menjadi sarana atau kesempatan bagi orang percaya untuk mengalami sukacita surgawi. Petrus percaya bahwa kesulitan dan penganiayaan yang dialami oleh karena pemberitaan Injil bukanlah penghambat sukacita dan kebahagiaan hidup. Pemberitaan Injil, bagi mereka yang telah mengalami sukacita Injil, adalah dinamika hidup, sekalipun di tengah penderitaan dan penganiayaan.

Alkitab lebih cenderung menampilkan pekabaran Injil sebagai dampak atau luapan wajar dari keselamatan yang dialami oleh manusia, dan bukan terutama sebagai ‘tugas’, atau ‘kewajiban.’ Orang yang mengalami dinamika keselamatan lewat kehadiran Roh Allah di dalam hidupnya ‘menginginkan’ agar orang lain turut mengalami dinamika keselamatan surgawi. Seperti yang dialami oleh Petrus dan Yohanes, maka sukacita orang percaya sendiri semakin sempurna melalui pekabaran Injil. Oleh karena itu, kesempatan ber-pekabaran Injil lebih merupakan privilese yang menambah sukacita alih-alih perintah yang menjadi beban.[26] Privilese untuk mengalami kuasa Allah, privilese untuk semakin menampilkan keunggulan nilai-nilai surgawi yang abadi, serta privilese untuk mengukuhkan eksistensi sebagai wakil dan umat Allah di dunia berdosa.[27]
Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. Saudara-saudara … janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah … Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu (3:13, 14; 4:12-14).

artikel lanjutan nya aku baca di: http://forumkristen.com/index.php?topic=2899.0
_________________
"Why do you break the command of God for the sake of your tradition?" (Mat. 15:3).
Eph 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10674
Location: Orange County California

PostPosted: Mon, 15-12-2008 6:56 pm    Post subject: Reply with quote

Penjelasan diatas berasal dari seorang pendeta Protestant.



Pemahaman Katolik yang benar atas 1Pet 3:19 terdapat di Katekismus 631-637.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
JesusNameAbo
veAllName
== BANNED ==




Joined: 15 Dec 2008
Posts: 55

PostPosted: Tue, 16-12-2008 1:34 am    Post subject: Reply with quote

DeusVult wrote:
Penjelasan diatas berasal dari seorang pendeta Protestant.
Pemahaman Katolik yang benar atas 1Pet 3:19 terdapat di Katekismus 631-637.


yup..ndak apa..toh cuma ak lihat latar belakang sejarah ayat tsb n analisa arti kata bahsa asli nya. di uji aja segala sesuatu itu.
jangan punya sikap prejudice ama yg lain.
toh kalo God bisa pake keledai unt negur bileam, dia lebih bisa pake juga artikel2 lain unt menjelaskan sesuatu.
_________________
"Why do you break the command of God for the sake of your tradition?" (Mat. 15:3).
Eph 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Ruang Pengetahuan Dasar Iman Katolik All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous Next
Page 5 of 6

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17