FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Pendeta Kaum Sakit Jiwa    

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
raydo12



Joined: 24 Oct 2005
Posts: 2157
Location: Jakarta

PostPosted: Mon, 26-01-2009 10:12 am    Post subject: Pendeta Kaum Sakit Jiwa Reply with quote

Pendeta Kaum Sakit Jiwa


Titus Lado namanya. Suami dari Artha Simatupang ini tak menyangka hidupnya sendiri akan dihabiskan di tepi sungai Bengawan Solo bersama dengan ratusan orang yang cacat mental dan sakit jiwa. Dibesarkan di lingkungan pelabuhan Tanjung Priok karena ayahnya pelaut, masa remajanya habis untuk nge-drug. Menjadi pendeta sebagai sebuah kebetulan namun terdepak dua kali dari organisasi gereja. Yang menyakitkan, dia disuruh angkat kaki dari gereja karena melayani orang gila. Terusir dari gereja tak membuatnya berhenti menyayangi orang gila. Dia hidup serumah bersama 178 orang gila.

Separuh napasnya ada di barak sederhana di pinggir Bengawan Solo itu. Tak ada kamar atau sekat di dua bangsal barak besar itu. Hanya ada ranjang susun dua yang ditiduri orang-orang gila. Ia memulai pagi dengan menyapa orang-orang bengong yang duduk di lantai semen atau yang mengoceh tanpa makna. Selalu begitu setiap pagi, selama 15 tahun.

Titus Lado, 48 tahun, telah menyerahkan hidupnya untuk merawat orang-orang tak waras. Dia bersama istrinya, Artha Simatupang, 44 tahun, melayani mereka tanpa digaji. Di Desa Kutu, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, itu dia mendirikan barak penampungan orang gila.

Di depan rumah itu terpatri prasasti bertulisan Wisma Sinai. Di ujung emper, di dekat taman tanaman hias berjejer bangku panjang yang ditata seperti warung tenda. Beberapa orang antre di depan meja panjang yang di atasnya terdapat termos besar berisi nasi dan sayuran serta lauk. Setelah piring plastik terisi, mereka bergegas mencari tempat duduk. Dua sejoli itu sekarang hidup berteman dengan 178 orang yang sakit jiwa atau lemah mental.

Titus adalah seorang pendeta lulusan Sekolah Teologia Tawangmangu. Pria keturunan Timor ini bukan psikolog dan juga bukan dokter penyakit kejiwaan. Dibesarkan di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, sejak kecil dia nakal. Ketika remaja dia bertambah bengal, karena menjadi pemakai narkoba. Awal 1980, dia memutuskan merantau. “Kalau saya tetap di sana, saya tak pernah berubah,” katanya.

Perantauannya terhenti di Kota Solo. Dia bertemu dengan seorang pendeta yang menyarankan dia masuk ke sekolah teologi. Tanpa banyak pertimbangan, dia mengiyakan. Sekolah calon pendeta itu diselesaikannya dalam dua tahun. Tapi dia malah menjadi sopir angkutan dan tukang listrik.

Belakangan, dia mengabdi di gereja Solo. Di saat perekonomiannya tak jelas, dia bertemu dengan teman lamanya. Kemudian teman lama itu mengajaknya merawat orang gila di Wonogiri. Di sana dia dipertemukan dengan sebuah keluarga miskin yang salah seorang anak gadisnya mengalami gangguan jiwa. Anak itu hendak dipasung karena suka mengamuk. Orang tuanya sudah tak punya harta lagi karena habis untuk membiayai putrinya itu.

Titus membawa gadis itu ke rumah yang dikontrakkan gereja untuknya di depan Pasar Telukan, Sukoharjo. “Bukan iba, tapi hati saya ada pada gadis itu,” ujarnya. Dia pun merawat gadis yang terganggu jiwanya itu. Waktu itu, dia sudah berkeluarga. Istrinya menerima gadis tersebut dengan lapang dada.

Karena tidak berpengalaman mengurus orang sakit jiwa, Titus menjalankannya tanpa metode. Bahkan wajahnya pun pernah dijadikan “pispot” oleh pasiennya. Satu-satunya cara yang dilakukan adalah memandikan pasiennya sesering mungkin dengan menyiram semua bagian tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki. Sebuah kamar seukuran ruang kelas sekolah dengan banyak shower memudahkan penghuni Wisma Sinai lebih sering mandi.

Obat-obatan penenang, menurut Artha, juga harus dijauhkan dari penyandang gangguan mental. Menurut Artha, penyakit kejiwaan itu bukanlah sesuatu yang bisa dilihat secara kasatmata atau dengan alat medis.

Karena terlalu fokus mengurus orang gila, Titus terusir dari gereja. Dia sempat kebingungan mencari tempat penampungan. Untungnya, ada seorang jemaat yang memberinya uang Rp 2,5 juta. Dia bersama “keluarga besarnya” pindah ke Desa Tambak, Kecamatan Grogol. “Bertepatan dengan saya pindah rumah, ada lagi orang yang menitipkan orang gila kepada saya. Lima orang sekaligus,” kata Titus.

Rumah kontrakan berkamar tiga itu akhirnya sesak dengan orang gila. Sampai suatu saat, ada orang yang berbaik hati menyediakan tempat tinggal yang lebih luas. Titus pun berburu orang gila. Setiap kali ada orang gila yang ditemui di jalan, dia ajak pulang ke rumahnya. Sudah tiga kali dia membawa perempuan gila yang belakangan ternyata diketahui hamil.

Kemudian dia mendirikan yayasan untuk menampung orang gila. Wismanya berdiri di atas tanah seluas 1.800 meter persegi. Dia pun memiliki anggota staf yang bertugas mendampingi mereka. Semuanya tinggal bersama, makan bersama, dan hidup bersama-sama. “Kuncinya adalah hati kita untuk mereka,” katanya. “Perlakukan mereka seperti orang waras.”
SUMBER
====================================================

Apakah kita punya Rumah Sakit Jiwa Katolik atau yayasan Katolik untuk menolong orang yang terkena gangguan jiwa, seperti yang dilakukan pak pendeta Titus ?

Tolong informasi dan alamatnya.
_________________
ora pro nobis. Sancta Dei Genitrix
Back to top
View user's profile Send private message
angelz28



Joined: 12 Dec 2008
Posts: 82
Location: Surabaya

PostPosted: Mon, 26-01-2009 7:35 pm    Post subject: Reply with quote

hmm... kL boleh tau motif kamu nanya RSJ katolik ama alamatnya, untuk apa?

nih ada contoh:

PURWOREJO, Jawa Tengah (UCAN) -- Seorang bruder yang mengetuai sebuah panti untuk penderita sakit jiwa kronis mengatakan para penderita membutuhkan pengakuan dan penerimaan.

Bruder Ferdinandus Sifriardus Harun FC mengepalai panti "Sahabat Kita" di Purworejo, 400 kilometer tenggara Jakarta. Panti yang dimulai Juli 2005 itu diresmikan tanggal 29 Oktober 2005 oleh Bruder Rene Stockman, pemimpin umum Kongregasi Bruder-Bruder Karitas, saat ia berkunjung dari Roma.

[.................................................................................]

UCA NEWS: Bagaimana "Sahabat Kita" mulai?

BRUDER FERDINANDUS SIFRIARDUS HARUN: Sebenarnya itu hasil refleksi 75 tahun karya Kongregasi Bruder-Bruder Karitas di Indonesia tahun 2004. Kami melihat berbagai permasalahan dalam masyarakat lalu memutuskan untuk menanggapinya dengan tiga karya baru: pelayanan penanggulangan narkoba di Yogyakarta, dan karya pelayanan bagi orang sakit jiwa di Purworejo, serta membangun fasilitas pelayanan kesehatan mental untuk pasien sakit jiwa di Ruteng, Flores.

selengkapnya lihat di
http://www.mirifica.net/printPage.php?aid=3036
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
raydo12



Joined: 24 Oct 2005
Posts: 2157
Location: Jakarta

PostPosted: Sat, 31-01-2009 10:24 am    Post subject: Reply with quote

angelz28 wrote:
hmm... kL boleh tau motif kamu nanya RSJ katolik ama alamatnya, untuk apa?


terima kasih infonya, berguna bagi orang katolik yang sakit jiwa.
RSJ Katolik keberadaannya di Indonesia ternyata baru-baru ini saja.
_________________
ora pro nobis. Sancta Dei Genitrix
Back to top
View user's profile Send private message
cat_cr_awan
Aku Rajin


Joined: 24 Mar 2004
Posts: 243
Location: solo

PostPosted: Sun, 01-02-2009 7:34 pm    Post subject: Reply with quote

Semoga lokasi pendeta Titus nggak kena banjir. Karena grogol, daerah rawan banjir. Hari ini rencana mau nyari lokasinya tapi gagal karena sakit...hiks
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
Stanley



Joined: 29 Sep 2008
Posts: 3560

PostPosted: Tue, 03-02-2009 6:40 am    Post subject: Reply with quote

Yah okelah walau beliau seorang pendeta, tapi boleh diberi applaus dan penghirmatan atas usaha2nya dia. Semoga dia tetap diterangi Roh Kudus.

GBU
_________________
This is Spartaaa!
Back to top
View user's profile Send private message
m2us



Joined: 26 Jan 2008
Posts: 1550
Location: Roman Catholic Church

PostPosted: Tue, 03-02-2009 6:53 am    Post subject: Reply with quote

Stanley wrote:

Yah okelah walau beliau seorang pendeta, tapi boleh diberi applaus dan penghirmatan atas usaha2nya dia. Semoga dia tetap diterangi Roh Kudus.

GBU


Tidak usah melihat latar belakang orang, usaha seperti ini memang pantas diberi applaus dan penghormatan. Yang dibutuhkan oleh si Pendeta Titus ini adalah bantuan dalam mengelola tempat penampungannya itu dan tentunya bantuan dana.

rgds,
m2us
_________________
JEZU, UFAM TOBIE
KS,KGK, KHK
ekklhsiai kaq olhv
Back to top
View user's profile Send private message
angelz28



Joined: 12 Dec 2008
Posts: 82
Location: Surabaya

PostPosted: Tue, 10-02-2009 12:07 am    Post subject: Reply with quote

m2us wrote:
Stanley wrote:

Yah okelah walau beliau seorang pendeta, tapi boleh diberi applaus dan penghirmatan atas usaha2nya dia. Semoga dia tetap diterangi Roh Kudus.

GBU


Tidak usah melihat latar belakang orang, usaha seperti ini memang pantas diberi applaus dan penghormatan. Yang dibutuhkan oleh si Pendeta Titus ini adalah bantuan dalam mengelola tempat penampungannya itu dan tentunya bantuan dana.

rgds,
m2us


betul. harus dibantu dengan nyata nih,
jangan cuma dibuat pamer sana sini sama buat dibanding2in aja.....
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Page 1 of 1

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17