FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

ruwatan dalam misa?    
Goto page: Previous Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Tertarik
== BANNED ==




Joined: 25 Apr 2007
Posts: 577

PostPosted: Tue, 05-05-2009 5:24 pm    Post subject: Reply with quote

Kinasih wrote:
Apa ada kata-kata tidak mantap jika hanya dipermandikan? saya rasa konklusi seperti ini agak berlebihan. Kalau menurut saya mereka hanya ingin menjadi lebih merasa memiliki ekaristi dengan upacara itu dilakukan disana.

Ternyata ada, saya kutip kembali
Quote:
Meskipun beragama Katolik, orang yang termasuk sukerta di Pulau Jawa belum merasa mantap atau sreg sebelum mengikuti ruwatan atau di-ruwat, tegas Pastor Mardiwidayat, seraya meminta peserta Misa agar tidak perlu bingung seandainya ada yang bertanya, mengapa orang Katolik masih juga menyelenggarakan ruwatan, padahal sudah dipermandikan.

Nah, yg saya bold di atas adalah contoh hidup beriman yg salah.


Quote:
Wah yang ini mestinya Rm. Mardi yang menjawab. Tapi saya bisa merasakan beliau itu melakukan pilihan terbaik dalam membantu umat lebih mendekat kepada Ekaristi dan pada Gereja Katolik. Rm. Mardi melakukan yang perlu dilakukan seorang gembala dalam merangkul domba-dombanya. Coba tanya umat disana yang mengikuti perayaan ekaristi itu, apakah mereka merasa terbantu mengenal lebih mendalam GK dan Yesus Kristus? saya merasa kebanyakan mereka akan menjawab YA. Saya masih memikirkan ini adalah proses awal, untuk Gereja masuk celah mengambil hati umat etnis jawa disana itu.

Seharusnya kesalahan hidup beriman sebagian umat katolik jawa tidak difasilitasi sehingga menimbulkan kesan seolah-olah ada pembenaran.
Ketika Rm. Mardi mengadakan PE ruwatan untuk alasan diatas, maka Rm Mardi terjatuh dalam sebuah kesalahan teologis yg seharusnya bisa dihindari.
Seharusnya seorang Romo bisa memberikan penjelasan yg lengkap ttg sakramen pembabtisan yg sudah umat terima.
Ini adalah ibarat anak kecil yg ditakut-takuti agar jangan keluar malam, setelah besar diberi "jimat" agar berani keluar malam.


Quote:
Wah ini berlebihan lagi Tertarik, potong rambut jelas jauh berbeda dengan pagelaran wayang kulit, apalagi semalam suntuk. Upacara kecil itu dilakukan setelah homili dan sebelum memasuki persembahan dan seterusnya.

Bukan masalah kecil atau besarnya, bukan masalah singkat lamanya sebuah upacara di akhir homili yg menentukan boleh tidaknya acara itu dilangsungkan.
Dengan alasan secara prinsip apakah menolak wayangan semalam suntuk setelah homili selesai, baru dilanjutkan persembahan dst, apabila upacara cukur rambut diperbolehkan?
Baik itu pelanggaran kecil atau pelanggaran besar, namanya tetap pelanggaran.


Quote:
Oh.. gitu yah? coba diutarakan dengan elipsis saja. Jangan dibuka semua, sembunyikan hal-hal yang memang tidak bisa diutarakan disini. Pointnya saja deh... biar kita mengerti dimana letak keberatan atas misa seperti ini.

Intinya hal tersebut masih menjadi pro dan kontra di antara para imam sendiri.


Quote:
Saya jadi ingin tahu apakah ini lalu menjadi acara rutin tahunan atau hanya sekali itu. Apa ada yang bisa bantu mendapat informasi?

Tidak. Seingat saya baru dua kali diadakan di KAS


Quote:
Sampai saat ini saya masih merasa misa seperti itu fine-fine saja.

Memang sih, umat merasa fine-fine saja.
Yg kebakaran jenggot seharusnya Uskup setempat dan komisi liturgi.... kalau punya jenggot.... Ketawa Ngakak Ketawa Ngakak Ketawa Ngakak


Salam dan doa
Tertarik
_________________
Berkah Dalem


Last edited by Tertarik on Tue, 05-05-2009 5:26 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
Kinasih
== BANNED ==




Joined: 28 Mar 2008
Posts: 1292
Location: Bali

PostPosted: Wed, 06-05-2009 8:00 am    Post subject: Reply with quote

Quote:
Nyuwun ngapunten, maaf, kalau saya berpendapat bahwa yg dilakukan Rm. Mardi sudah sedikit kebablasan.


Jadi menurutmu Rm. Mardi sedikit kebablasan dalam memaknai inkulturasi.

Tidak memperpanjang soal sedikit, banyak, besar, kecil, singkat, lama yah.... Ketawa Ketawa

Dan juga tidak mau memperpanjang clue soal jimat keluar malam. Lain kali kita sambung lagi kalau berminat, karena dari saya jelas bukan seperti itu memaknainya. Itu bukan persamaan yang sepadan.

Okelah, para imam juga masih pro dan kontra dalam masalah ini. Jadi wajar kalau umat juga demikian. Saya bisa menebak yang kontra itu kemungkinan besar bukan orang jawa atau orang jawa yang kurang njawani, yang kulturnya tidak menyentuh kepribadiannya. Sedangkan yang pro itu ya para imam seperti Rm. Mardi ini dan orang-orang jawa yang mengerti kulturnya.

Saya masih fine-fine saja soal ini. Kemarin sempat buka Dokumen Konsili Vatikan II di halaman 17 artikel 38... wah sayang tidak saya catat, takut ngutip kalau tidak persis Ketawa Ketawa . Tapi dari situ saya masih berani mempertahankan pendapat misa seperti itu baik adanya.

Setahu saya Mgr. Ignatius Suharyo uskup KAS itu tidak berjenggot Tertarik, yang paling terkengal berjenggot itu Rm. Mangun, beliau juga sudah swargi... jadi memang sepertinya tidak ada yang akan berlarut-larut kebakaran jenggot. Ketawa Ketawa Ketawa

Salam - Kin
_________________
Tyas Dalem Sang Kristus Ingkang Maha Suci... Nyuwun Kawelasan.


Last edited by Kinasih on Wed, 06-05-2009 8:06 am; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
maruko_lien
Penghuni Ekaristi


Joined: 21 Sep 2005
Posts: 1308
Location: somewhere over the rainbow

PostPosted: Wed, 06-05-2009 8:41 am    Post subject: Reply with quote

Ini kutipan dari instruction Inculturation:

Quote:
c) The Responsibility of The Episcopal Conference

31. Since it is a question of local culture, it is understandable that the constitution Sacrosanctum Concilium assigned special responsibility in this matter to the "various kinds of competent territorial bodies of bishops legitimately established."[69] In regard to this, episcopal conferences must consider "carefully and prudently what elements taken from the traditions and cultures of individual peoples may properly be admitted into divine worship."[70] They can sometimes introduce "into the liturgy such elements as are not bound up with superstition and error ... provided they are in keeping with the true and authentic spirit of the liturgy."[71]

32. Conferences may determine, according to the procedure given below (cf. Nos. 62 and 65-69), whether the introduction into the liturgy of elements borrowed from the social and religious rites of a people, and which form a living part of their culture, will enrich their understanding of liturgical actions without producing negative effects on their faith and piety. They will always be careful to avoid the danger of introducing elements that might appear to the faithful as the return to a period before evangelization (cf. below No. 47).

----

III. PRINCIPLES AND PRACTICAL NORMS FOR INCULTURATION OF THE ROMAN RITE
33. As particular Churches, especially the young Churches, deepen their understanding of the liturgical heritage they have received from the Roman Church which gave them birth, they will be able in turn to find in their own cultural heritage appropriate forms which can be integrated into the Roman rite where this is judged useful and necessary
....
....
a) General Principles

34. In the planning and execution of the inculturation of the Roman rite, the following points should be kept in mind: 1) the goal of inculturation; 2) the substantial unity of the Roman rite, 3) the competent authority.

35. The goal which should guide the inculturation of the Roman rite is that laid down by the Second Vatican Council as the basis of the general restoration of the liturgy: "Both texts and rites should be so drawn up that they express more clearly the holy things they signify and so that the Christian people, as far as possible, may be able to understand them with ease and to take part in the rites fully, actively and as befits a community."[73]

Rites also need "to be adapted to the capacity of the faithful and that there should not be a need for numerous explanations for them to be understood."[74] However, the nature of the liturgy always has to be borne in mind, as does the biblical and traditional character of its structure and the particular way in which it is expressed (cf. above Nos. 21-27).

36. The process of inculturation should maintain the substantial unity of the Roman rite.[75] This unity is currently expressed in the typical editions of liturgical books, published by authority of the supreme pontiff and in the liturgical books approved by the episcopal conferences for their areas and confirmed by the Apostolic See.[76] The work of inculturation does not foresee the creation of new families of rites; inculturation responds to the needs of a particular culture and leads to adaptations which still remain part of the Roman rite.[77]

37. Adaptations of the Roman rite, even in the field of inculturation, depend completely on the authority of the Church. This authority belongs to the Apostolic See, which exercises it through the Congregation for Divine Worship and the Discipline of the Sacraments;[78] it also belongs, within the limits fixed by law, to episcopal conferences[79] and to the diocesan bishop.[80] "No other person, not even if he is a priest, may on his own initiative add, remove or change anything in the liturgy."[81] Inculturation is not left to the personal initiative of celebrants or to the collective initiative of an assembly.[82]

Intinya, untuk mengadakan suatu misa 'inkulturasi' perlu diadakan pembelajaran dengan seksama dan harus ada ijin dari keuskupan setempat yang tunduk pada aturan dari Konggregasi sakramen dan penyembahan Illahi di Vatikan dan harus diperhatikan hal2:

Jangan sampai elemen2 budaya lokal yang dimasukkan dalam misa tersebut
1. menuju kepada kepercayaan terhadap tahayul dan penyimpangan terhadap penyembahan dalam liturgi.
2. berbahaya kepada iman seseorang dan ketaatannya kepada Gereja
3. menciptakan ritual2 baru yang dimasukkan kepada liturgi.
4. mengembalikan umat kepada masa sebelum ada evangelisasi Gereja.
_________________
Salam dan doa
Pendatang Baru Belajar Bersama Kanon 7 Sakramen
Back to top
View user's profile Send private message
Tertarik
== BANNED ==




Joined: 25 Apr 2007
Posts: 577

PostPosted: Wed, 06-05-2009 9:27 am    Post subject: Reply with quote

Kinasih wrote:
Jadi menurutmu Rm. Mardi sedikit kebablasan dalam memaknai inkulturasi.

Ya


Quote:
Okelah, para imam juga masih pro dan kontra dalam masalah ini. Jadi wajar kalau umat juga demikian. Saya bisa menebak yang kontra itu kemungkinan besar bukan orang jawa atau orang jawa yang kurang njawani, yang kulturnya tidak menyentuh kepribadiannya. Sedangkan yang pro itu ya para imam seperti Rm. Mardi ini dan orang-orang jawa yang mengerti kulturnya.

Tidak juga....
Dan seperti biasa, Gereja (Uskup) akan sangat lama mempertimbangkan hal ini, jadi diharap umat yg belum tahu dasarnya fine-fine saja... Ketawa Ngakak Ketawa Ngakak ... nanti saya sambung masalah fine ini.


Quote:
Setahu saya Mgr. Ignatius Suharyo uskup KAS itu tidak berjenggot Tertarik, yang paling terkengal berjenggot itu Rm. Mangun, beliau juga sudah swargi... jadi memang sepertinya tidak ada yang akan berlarut-larut kebakaran jenggot.

hahaha.... setahu saya memang romo2 KAS berjenggot yg agak kebakaran jenggot. Yg berjenggot salah satunya romo yg menangani komsosnya KAS, wow berambut dan berjenggot panjang banget.
Oke saya sambung penjelasan di atas tentang fine2 saja.

PE Ruwatan, walaupun dasarnya ada yg salah, tetaplah sah sebagai Perayaan Ekaristi. So bagi umat yg ikut PE Ruwatan tersebut jangan cemas bahwa PEnya tidak sah... Ketawa

Biarlah yg bertanggungjawab atas pelaksanaan PE Ruwatan itu adalah imam yg bersangkutan dan Uskup setempat. Tenang saja, kesalahan ini tidak dibebankan ke umat... Ketawa

Bagi umat yg akhirnya tahu bahwa ada abuse dalam pelaksanaan PE Ruwatan di atas, diwajibkan berusaha membuka dialog dengan romo yg mengadakan PR tersebut, dengan dasar2 yg sudah disampaikan di forum ini. Apa yg dikutip Maruko sangat baik jadi referensi.
Maka, hal ini juga menjadi tanggungjawab umat juga untuk berusaha menghindari abuse apabila akan diadakan PE semacam itu lagi.

Apabila ada misa wajib yg kebetulan bentuknya berupa PE Ruwatan seperti di atas, umat yg merasa tidak nyaman, karena sudah mengetahui landasannya, bisa saja mengikuti misa wajib yg sama di kesempatan yg lain.

Tetapi juga tidak menjadi masalah apabila umat yg sudah mengetahui hal tersebut tetap mengikuti misa tersebut. Bahkan apabila umat sengaja tidak mengikuti misa wajib, meskipun yg ada hanya PE Ruwatan tersebut, akan menjadi sebuah pelanggaran dan berakibat dosa.

Jadi dalam kasus ini sebelum ada keputusan resmi dari yg berwenang, umat diharap fine2 saja. Kesalahan tidak akan ditimpakan kepada umat.... Ketawa


Begitu saja, Kin... dan saya senang kamu tetap fine2 saja.... Ketawa Ketawa

Salam dan doa
Tertarik
_________________
Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
Ignaz



Joined: 20 Jun 2007
Posts: 883

PostPosted: Wed, 06-05-2009 12:02 pm    Post subject: Reply with quote

Fakta tentang tradisi ruwatan ternyata dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, a.l. :
Quote:
21 Januari 2008 15:10
Umat Katolik Merayakan Tahun Baru Jawa dengan Misa Inkulturasi

BEKASI, Jawa Barat (UCAN) -- Seorang pria, yang mengenakan sebuah kris, menutup doanya dengan tanda salib lalu berjalan memimpin sebuah prosesi melalui jalan yang dibatasi lampu-lampu minyak tanah diiringi musik gamelan.

Alexander Yonathan Yusuf mulai menari, saat delapan putra altar, enam lektor dan pembawa persembahan serta 10 pro-diakon yang berbusana Jawa, dan empat imam memasuki gereja. Ia menari hingga ke depan altar.

Sekitar 1.000 umat menghadiri Misa 1 Suro yang semuanya dirayakan dalam bahasa Jawa tanggal 10 Januari malam di Gereja St. Arnoldus Bekasi. Suro adalah bulan pertama dalam kalendar Jawa. Kalendar itu menggunakan nama Saka dari Aji Saka, raja pertama Jawa, yang diyakini sebagai pencipta kalendar itu tahun 78.

“Saya menari seperti cucuk lampah (pemimpin pasukan) untuk membersihkan berbagai hambatan. Arti spiritual tarian itu adalah untuk memohon berkat Tuhan agar orang-orang dalam profesi itu bisa merayakan Misa dengan baik tanpa rintangan,” kata Yusuf, 67, kepada UCA News.

Gereja St. Arnoldus adalah satu-satunya paroki di Keuskupan Agung Jakarta yang merayakan secara rutin Misa khusus itu setiap tahun sejak tahun 2003. Sekitar 75 persen dari 24.000 umat parokinya adalah etnis Jawa.

Misa dengan tema Kawulo Pitados (Saya Percaya) itu berlangsung lebih dari dua setengah jam. Dalam Misa itu dirayakan pula acara ruwatan (ritual penyucian tradisional) setelah homili.

Menurut Yustinus Tri Wahyu Widodo, ketua panitia penyelenggara Misa itu, tema itu dipilih untuk mengingatkan kembali umat Katolik Jawa akan iman mereka dan agar mereka tidak meyakini kekuatan super natural.

Acara ruwatan diawali dengan pemasangan dan pemberkatan lilin yang dibagikan kepada semua umat.

Setelah membacakan Kidung Ruwatan Agung, imam memimpin Pembaharuan Janji Baptis yang dilanjutkan dengan percikan air kudus kepada umat, khususnya kepada 320 sukerta.

Menurut kepercayaan tradisional Jawa, sukerta adalah orang, yang terlahir dalam keadaan terancam dan memerlukan ruwatan itu.

Sukerta termasuk anak-anak yang tidak memiliki saudara-saudari kandung; anak-anak yang hanya punya satu saudara kandung; tiga saudara kandung tapi kelamin anak kedua berbeda dengan anak pertama dan ketiga; lima saudara kandung yang empat atau semuanya berjenis kelamin sama; dan enam saudara kandung yang pembagian kelaminnya sama.

Selebran utama, Pastor Martinus Hadiwijoyo menjelaskan kepada UCA News bahwa menurut kaca mata Jawa, semua permasalahan misalnya bencana alam, penyakit, dan peperangan dalam tahun-tahun belakangan ini merupakan sesuatu yang tidak pas. Lalu umat Katolik Jawa di Keuskupan Agung Jakarta merasa rindu untuk melakukan ruwatan “untuk membersihkan segala kotoran kita supaya yang ada menjadi harmonis kembali atau suci kembali sesuai rencana Allah.”

Pastor Paroki Keluarga Kudus Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu mengatakan sebetulnya iman Katolik sudah mengadakan ruwatan yang sangat mendasar dengan korban Allah sendiri, putra Allah yang menjadi manusia yang kemudian wafat dan bangkit untuk menjadi benteng keselamatan bagi umat-Nya. "Ruwatan itu sendiri adalah budaya etnis Jawa yang sudah hidup ratusan tahun yang klop rasanya kalau kini disinari oleh terang Injil," tegas Pastor Hadiwijoyo.

Saat persembahan, selain membawa persembahan biasa berupa roti dan anggur, petugas dengan pakaian Jawa juga membawa bunga, buah-buahan, dan dua gunungan: gunungan lanang (pria) yang tingginya satu meter berisi sayuran mentah dan buah-buahan serta gunungan wadon (perempuan) tingginya 30 centimeter berupa nasi, ikan dan daging serta sayur-mayur dalam bentuk tumpeng.

Dengan iringan gamelan, dua remaja putri penabur bunga memimpin prosesi persembahan menuju altar. Seorang dari mereka, Lita, 14, mengatakan kepada UCA News, “Misa itu membuat kami tahu tentang budaya kami.”

Saat komuni, umat menerima tidak hanya hosti tapi juga sebuah kantong plastik berisi air kudus dan hasil pertanian -– beras, kacang panjang, kacang kedelai, kacang merah, bawang merah, dan bawang putih yang dibungkus dengan daun pisang – yang menyimbolan anugerah dari Tuhan.

“Gereja Katolik merayakan ini karena Konsili Vatikan II (1962-1965) memperlihatkan para Bapak Gereja membuka pintu supaya Gereja universal berakar pada Gereja-Gereja lokal, dan Gereja-Gereja lokal itu tidak bisa terpisah dari adat budaya setempat,” jelas Pastor Hadiwijoyo kepada UCA News.

Di akhir Misa, Pastor Anselmus Selvus, pastor kepala Paroki St. Arnoldus mengatakan kepada umat, “Setiap budaya dan setiap tradisi mengandung remah-remah kebaikan Allah ... Untuk berjumpa dengan Allah yang kita kasihi dan kita imani di dalam budaya kita sendiri, Allah menghendaki agar kita mencintai, menghargai dan melestarikan budaya kita.”

Fransiskus Xaverius Sumaryono, 62, mengatakan ia senang sejumlah umat Muslim ikut memainkan gamelan dalam Misa itu. “Budaya adalah rahmat Tuhan,” katanya, dan “melalui Misa inkulturasi ini saya merasa lebih dekat dengan Dia.”

-END-

IJ04230.573b 16 Januari 2008 60 baris (693 kata)


Berita dari: Kantor berita Katolik Asia (UCAN, Union of Catholic Asian News)

sumber : http://www.mirifica.net/printPage.php?aid=4654
Quote:

Ruwatan Silsilah Keluarga

MELALUI pelayanan para imam, kurban rohani kaum beriman mencapai kepenuhannya dalam persatuan dengan kurban Kristus Pengantara tunggal, melalui tangan para imam, atas nama seluruh Gereja, dipersembahkan secara tak berdarah dan sakramental dalam Ekaristi, sampai kedatangan Tuhan sendiri ('Presbyterorum Ordinis' 2)(KGK 1369)

Pada hari Pentakosta 2005 sejumlah peziarah dari Bali: anggota komunitas Glamur (Golongan Lanjut Umur), komunitas ME Distrik XII, dan kelompok nonkategorial, mengalami 'Ruwatan Silsilah Keluarga' di Curahjati. Ritual ruwatan itu tepatnya dilangsungkan di depan goa Maria Jatiningrum, Paroki Maria Ratu Para Rasul, Curahjati, Jatim. Ruwatan artinya pembebasan; diruwat artinya dibebaskan dari belenggu sukerta, akibat dosa.

Sukerta bisa mengakibatkan nasib buruk, berpenyakitan (sickly) dan sengsara. Sejak dulu penyakit dan sengsara termasuk cobaan yang paling berat dalam kehidupan manusia. Karena penyakit, manusia mengalami berbagai penderitaan. Tetapi, penyakit seringkali malah membuat orang mencari Tuhan dan kembali lagi (bertobat) kepada-Nya (KGK 1500-1501). Lihatlah, tiap tahun begitu banyaknya peziarah yang mencari Tuhan demi memperoleh pembebasan; antara lain seperti para peziarah yang ingin diruwat di Paroki Curahjati itu.

Ritus ruwatan secara Katolik di Curahjati ini dilayani oleh pastor Karmelit, Romo Yustinus Slamet Riyadi, O.Carm., yang menandaskan bahwa ruwatan ini diangkat dari tradisi Jawa dengan mengedepankan pentingnya iman dan pertobatan. Maka sebelum diruwat, para peziarah dipersiapkan lebih dulu. Persiapan di dalam gereja: peziarah mendapat pembekalan iman dengan bahan konsientisasi a.l. Surat Yakobus dan Injil Matius 13:24-30, melakukan puji-pujian, dan ibadat tobat. Total durasi sekitar 4-5 jam. Persiapan di depan guwa Maria: mereka berdoa Rosario bersama. Dengan itu, mereka juga menjadi sadar bahwa ruwatan ini karakteristik kristiani dan alkitabiah, tanpa unsur magis dan takhayul.

Demi mencapai kepenuhannya dalam persatuan dengan kurban Kristus Pengantara tunggal, melalui tangan imam, maka ritus ruwatan dirangkai dalam Perayaan Ekaristi, di mana para peziarah membaur bersama umat setempat. Ritus ruwatan ini mengingatkan kita akan dialog antara Tuhan dan Musa dalam usahanya untuk menyelamatkan bangsanya.

Tuhan berkata kepada Musa, "Berapa lama lagi orang-orang ini melawan Aku? Sampai kapan mereka tidak mau percaya kepada-Ku, walaupun Aku sudah membuat begitu banyak keajaiban di antara mereka. Aku akan membinasakan mereka dengan mendatangkan penyakit menular. Tetapi engkau akan Kujadikan bapak dari satu bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari mereka."

Setelah "mengingatkan" peranan Tuhan dalam pembebasan bangsanya, Musa lalu berkata, "Sebab itu, Tuhan, saya mohon tunjukkanlah kekuasaan-Mu kepada kami dan laksanakan apa yang sudah Kaujanjikan. Engkau telah berkata, 'Aku, Tuhan, tidak cepat marah. Aku menunjukkan kasih-Ku dan kesetiaan-Ku dengan berlimpah-limpah. Aku mengampuni orang yang berdosa dan yang melawan Aku. Biarpun begitu, kesalahan orang tua akan Kubalaskan kepada anak-anak dan cucu-cucunya, sampai keturunan yang ketiga dan keempat.' Sekarang, Tuhan, karena besarnya belas kasih-Mu dan Engkau setia kepada janji-Mu, saya mohon, ampunilah dosa orang-orang ini seperti Engkau telah mengampuni mereka sejak mereka meninggakan Tanah Mesir."

Lalu Tuhan menjawab, "Baiklah, Aku akan mengampuni mereka seperti yang kauminta..." (Bilangan 14:11-20, BIS)

Berkat kerahiman Tuhan, melalui ruwatan itu, dosa orang yang diruwat, dosa para leluhurnya (yang sudah meninggal), dan dosa seluruh keluarganya diampuni, belenggu-belenggu 'sukerta' dilepaskan. Dalam nama Yesus semua anggota keluarganya didamaikan dengan Allah. "Imanmu telah menyelamatkan engkau." (Luk 7:50)

Proficiat, Romo Yus. Para peziarah telah menerima pembekalan iman, pengalaman iman yang boleh disebut ruwatan khas Katolik, dan buku yang berisi rumus doa-doa pembebasan. Semoga mereka dapat meneladan Romo, melanjutkan hidupnya sebagai anak-anak Terang, warga masyarakat yang utuh, pendoa yang tekun dan pelaku firman yang damai sejahtera.

Sumber : http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2005/5/28/bud4.htm
Penjelasan oleh rm. I. Kuntara Wiryamartana SJ ada disini :
Quote:
PARA LITURGI RUWATAN YANG MENGACU TRADISI KEJAWEN
Ditulis Oleh I. Kuntara Wiryamartana, SJ.

Dengan ini saya sampaikan beberapa pokok tentang ruwatan menurut pemahaman saya.

1. Pelaksanaan ruwatan merupakan pelayanan pastoral untuk umat yang tidak
merasa damai karena anak / anak-anaknya belum diruwat. Saya tidak pernah
mengharuskan atau menyarankan kepada umat untuk melaksanakan ruwatan. Saya
melaksanakan ruwatan bila ada permintaan dari umat.

2. Dalam tradisi Jawa ada orang-orang yang dianggap sukerta, “orang panas”,
yang terancam kecelakaan ( dalam mitos Jawa : menjadi “mangsa Bathara Kala ).
Ada “orang panas” karena kelahiran dan hubungan saudara ( anak tunggal, anak
kembar dll ), ada “orang panas” karena perbuatan atau peristiwa yang menimpanya
( merobohkan dandang, mematahkan gandhik dll ). “Orang panas” seperti itu
diruwat oleh dhalang dengan pentas wayang ( lakon Murwakala ) dan serangkaian
upacara, disertai berbagai sajen.

3. Rangkaian upacara yang pokok :

a. dhalang membaca mantra ( membaca tulisan yang tersurat pada bagian-bagian
tubuh Bathara Kala, dengan demikian Bathara Kala takluk kepada dhalang ).

2.. dhalang melepas “kupat luwar” dan menabur beras kuning beserta uang
logam.
3.. Dhalang memotong rambut “orang panas” ( menghilangkan kotoran atau
halangan yang menimbulkan bencana ).
4.. Memandikan “orang panas” sesudah pentas wayang.
5.. Melarung pakaian putih yang dikenakan oleh “orang panas” dan potongan
rambut “orang panas”.
4.. Dalam melaksanakan ruwatan saya tidak memakai mitos Bathara Kala. Bagi
saya seorang
Katolik sudah “diruwat” dalam pembaptisan. Maka ruwatan yang saya laksanakan
dalam hubungan dengan baptis dan keselamatan yang diterima berkat sengsara,
wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Ruwatan ini saya laksanakan dengan perayaan
Ekaristi dengan bacaan I : 1 Yoh. 4: 7–12 dan Injil Yoh. 3 :1-21.

5.. Rangkaian upacara ruwatan dilaksanakan sesudah Homili sebagai berikut :
a. Imam membaca Yoh. 17 sebagai “mantra” : doa Yesus untuk murid-murid-
Nya agar dijagai dari yang jahat.

2.. Imam melepas “kupat luwar” sebagai tanda dilepaskannya pemali dari para
leluhur dan menabur beras kuning beserta mata uang untuk mengusir roh-roh jahat.
3.. Imam memotong rambut orang-orang yang diruwat.
4.. Imam memberkati orang-orang yang diruwat dengan air suci.
5.. Sesudah misa Imam melarung selendang putih dan potongan rambut orang
yang diruwat.
Disini saya memakai pokok-pokok ruwatan Jawa dengan mentransformasikannya.
Sekian, Bapa Uskup, catatan yang bisa saya buat.. Semoga berguna.Salam hormat,



I. Kuntara Wiryamartana, SJ.

Sumber : http://tyasdalem.or.id/index.php?option ..id=2&Itemid=9

Penjelasan Rm Ignatius Cahyo Irwanto Pr, juga ada disini : (Buku Panduan Pelayanan Umat Paroki, Pasal 42, hal 79)
http://books.google.co.id/books?id=HO1k ..resnum=5#PPA79,M1
Menurutku sejauh kegiatan tersebut membawa iman umat semakin dekat dengan ajaran Katolik dan tetap dalam koridor ajaran Gereja Katolik, hal itu bisa diterima sebagai bagian dari proses inkulturasi Gereja Katolik pada tradisi setempat.
Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
psartono



Joined: 20 Apr 2009
Posts: 175

PostPosted: Wed, 06-05-2009 2:31 pm    Post subject: Reply with quote

Nyambung lagi neh..
Quote:

Kinasih wrote:
Jadi menurutmu Rm. Mardi sedikit kebablasan dalam memaknai inkulturasi.

Ya


Mas Tertarik, tentang "sedikit" dan "banyak", saya punya pemahaman begini :
- saya memasukkan buaaaanyak, jadi...
- saya masukan sedikit, lho koq jadi juga...
Kesimpulan saya, sedikit atau banyak, esensinya sama, yaitu sama-2 membuat "jadi" salah (Ketawa Ketawa Ketawa ), salah siapa ? hussstt !!! Ketawa , kendorin urat dikit dunk..

yuk kita batasi pokok bahasan, biar fokus, gitu loh !

Mas Tertarik, "menarik", Misa Ruwatan (PE Ruwatan, bahasa Mas Tertarik, red.) untuk ditarik kesimpulan sebagai telah melakukan praktek tahyul (mudah-2an Romo Mardi SJ tidak membaca kesimpulan ini Smile

Pertanyaan saya, lantas tahyulnya di mana ? apakah dari sikap :
1. Sungkem kepada ortunya (dan kpd Romo, bagi yg gak ada ortunya) ?
2. tindakan "memotong pucuk rambut" ?
3. memakai tumpengan + polo pendem + kembang telon ?
4. melarung tumpengan + "potongan rambut-rambut" tsb ?
5. atau keseluruhan dari 1 s/d 4 tsb ?

Mari kita tengok sejarah.

"kubu Petrus" mengatakan bahwa jika ingin mengaku sbg murid (mengikuti/ mengimani) Yesus, maka ia harus disunat (karena tradisi kami mengatakan spt itu dan karena Yesus juga disunat !), sementara
"kubu Paulus", mengatakan tidak harus disunat (karena orang-orang non-Yahudi) tidak punya tradisi seperti itu. Karena "gegeran", soal ini, maka para "kubu" sepakat untuk menyelesaikannya dalam sidang jemaat (sebut saja Konsili Yerusalem) dan akhirnya mereka sepakat bahwa sunat bukan hal yang mengikat (secara iman). Jangan sampai tujuan utamanya (yaitu misi pengkabaran injil/kerajaan Allah - sampai ke ujung bumi) menjadi terhambat (tertutupi) dengan "eker-ekeran" soal tradisi sunat tadi. Sampai disini saya harap Clear !

Saya meloncat super jauuuh, dengan mengambil case "Misa Tirakatan Jumat Legi" di Pohsarang - Kediri.

Dari sumber yang saya dapat, kebetulan saya dari kota yg sama, dan mohon jgn dianggap sumber yg resmi). Di tanah jawa, termasuk masyarakat Pohsarang, ada tradisi (kebiasaan yang turun-temurun) bahwa setiap malam Jumat Legi (atau Kamis Kliwon malam), tiap 35 hari sekali, selalu diadakan acara tirakatan. Konon menurut pitutur pinisepuh bahwa hari itu adalah hari baik (untuk merenung, eling, hening pasrah kepada, sebut saja, Gusti, Sang Sumber Hidup). Karena pemahaman akan "gusti" mereka berbeda-beda, maka ritualnya juga berbeda, ada yg deket, bahkan mengarah kepada illah yang tidak mereka kenal/ praktek tahyul, sampai pada yang paham ketuhanan. Manifestasinya juga macam-macam, ada yang melek'an (tidak tidur) semalam suntuk sambil diskusi atau "glenik'an" atau doa-doa, mengucapkan mantra-mantra, sambil membakar kemenyan, sesajian, ada yg semedi total.

Masyarakat katolik di sana, khususnya pria dewasa, juga melakukan tirakatan pada Jumat Legi (supaya mereka tidak dianggap asing di "lingkungannya"). Tidak jarang mereka diundang untuk tirakatan bersama. Masalah timbul bila pemimpin komunitas (baca: tokoh kumpulan) melakukan ritual atau pengajaran, pitutur, nasihat-nasihat yang kental dengan ritual-spiritual kejawen atau campuran agama tertentu. Jadi mereka mengambil sikap iman yang pakewuh (menolak tidak, meng-iyakan juga tidak). Yang pasti tradisi tirakatan pada Jumat Legi ini gak bisa hilang, sampai sekarang.

Di Poh Sarang, ada tempat ziarah yang terkenal, yang juga sering mengadakan doa-doa (novena, rosario, dsb) di lokasi gua maria, yang antara lain dilakukan pada Jumat Legi. Akhir tahun 1998, ada ide yang gayung bersambut, yaitu membawa mereka kepada ritus rohani yang diajarkan Gereja lokal, yaitu Misa. Karena dilaksanakan pada tiap Jumat Legi, maka Misanya lebih dikenal dengan sebutan Misa Tirakatan Jumat Legi (MTJL). Saya pernah mengikuti Misa tersebut (yang datang luar biasa banyaknya, dari berbagai kota, termasuk Jakarta dan sekitarnya). Ada yang unik dalam MTJL tsb yaitu adanya sesi pembakaran kertas doa dalam tungku yg sudah disediakan (ada yg bilang, ya dari pada komat-kamit baca doa yang tidak jelas sambil bakar kemenyan, ya lebih baik doanya ditulis dan dibakar di tungku pembakaran). Sampai sekarang MTJL tsb tetap berlangsung dan yang datang tetap membludak, apalagi pas bertepatan dg hari libur. Dan yang datang tidak hanya orang katolik saja (beberapa ada yg yang non-katolik, konon ada yag haji segala, yang berharap memperoleh kesembuhan atau harapan-harapan doanya terkabul).

Yang ini tahyul juga ???

Kembali ke Misa Ruwatan (MR).
Saya yakin koq, MR ini tujuan utamanya bukan memindahkan praktek tahyul, dalam ritual tolak bala para Sukerta, ke Misa. Tetapi lebih kepada meminjam dulu tradisinya (sama seperti TJL/Tirakat Jumat Legi) untuk dibawa ke dalam MR, yang secara bertahap akan dimurnikan total (sesuai ajaran Gereja/iman katolik secara penuh) dalam MR itu sendiri.

Ibarat kita menikah dengan pasangan yang bukan katolik, tetapi dia mau dilangsungkan pernikahan secara katolik. Tentu kita tidak drastis meminta supaya dia tancap gas untuk mengikuti praktek kehidupan iman kita kan ? Andaikan istri Mas Tertarik mau berdoa cara katolik, tetapi dia tetap berdoa dengan menghadap ke barat (kiblat), apa lantas Mas Tertarik langsung menegurnya dengan mengatakan, hai... Tuhan itu tidak di barat saja loh ! Mungkin dia menurut, tapi malemnya, Mas Tertarik tidurnya akan sendiri-sendiri aja lah.. Smile Ketawa Ketawa

Pun MR itu substansinya kan tidak bermaksud mo mendirikan ritus baru yang keluar dari Gereja Katolik Roma kan.

Dan karena itu kita punya hierarkhi, andaikan MR itu tahyul, apakah sudah ada pernyataan resmi dari KAS yang menyatakan hal itu ? Faktanya diantara para Imam juga tidak bersuara sama kan ?

Menurut saya, panduan inkulturasi yang dicuplik oleh Maruko-Lien tadi gak ada yang dilanggar tuh dalam MR tsb.

Mas Tertarik, saya tidak membela Kinasih loh. Suerrr saya tetap tertarik pada forum ini, termasuk Mas Tertarik. Smile Koncoku, Mas Hario koq gak njedul jedul to ya.. oi, dimana kau

Salam dan doa
psartono
Back to top
View user's profile Send private message
Tertarik
== BANNED ==




Joined: 25 Apr 2007
Posts: 577

PostPosted: Wed, 06-05-2009 5:31 pm    Post subject: Reply with quote

psartono wrote:
Mas Tertarik, "menarik", Misa Ruwatan (PE Ruwatan, bahasa Mas Tertarik, red.) untuk ditarik kesimpulan sebagai telah melakukan praktek tahyul (mudah-2an Romo Mardi SJ tidak membaca kesimpulan ini Smile

Ada indikasi ke situ.


Quote:
Pertanyaan saya, lantas tahyulnya di mana ? apakah dari sikap :

Tahyulnya adalah dari alasan PE Ruwatan itu dijalankan.
Seharusnya, umat katolik jawa yg tidak "mantap" terhadap pembabtisannya tidak boleh difasilitasi seperti itu. Itu artinya Rm Mardi memberikan pembenaran kepada "ketidakmantapan" itu, makanya perlu diadakan PE Ruwatan.


Quote:
1. Sungkem kepada ortunya (dan kpd Romo, bagi yg gak ada ortunya) ?

Ini tidak masalah dalam PE Inkulturasi. Ada acara pembabtisan dewasa dimana sebelum pembabtisan, para calon babtisan sungkem kepada orang tuanya. Juga kita lihat pada acara tahbisan dan perkawinan.


Quote:
2. tindakan "memotong pucuk rambut" ?

Dengan alasan apa? Bahwa pembabtisan belum cukup bagi anak sukerta? Ini baru tahyul namanya!


Quote:
3. memakai tumpengan + polo pendem + kembang telon ?
4. melarung tumpengan + "potongan rambut-rambut" tsb ?
5. atau keseluruhan dari 1 s/d 4 tsb ?

Yup, apabila alasan sama dengan alasan nomor dua diatas ini adalah tahyul. Apabila tidak dengan alasan di atas ini adalah abuse dalam PE.
(susah ya... apapun juga tidak ada yg benar!)


Quote:
"kubu Petrus" mengatakan bahwa jika ingin mengaku sbg murid (mengikuti/ mengimani) Yesus, maka ia harus disunat (karena tradisi kami mengatakan spt itu dan karena Yesus juga disunat !), sementara
"kubu Paulus", mengatakan tidak harus disunat (karena orang-orang non-Yahudi) tidak punya tradisi seperti itu. Karena "gegeran", soal ini, maka para "kubu" sepakat untuk menyelesaikannya dalam sidang jemaat (sebut saja Konsili Yerusalem) dan akhirnya mereka sepakat bahwa sunat bukan hal yang mengikat (secara iman). Jangan sampai tujuan utamanya (yaitu misi pengkabaran injil/kerajaan Allah - sampai ke ujung bumi) menjadi terhambat (tertutupi) dengan "eker-ekeran" soal tradisi sunat tadi. Sampai disini saya harap Clear !

Apa hubungan dengan PE diatas?


Quote:
Dari sumber yang saya dapat, kebetulan saya dari kota yg sama, dan mohon jgn dianggap sumber yg resmi). Di tanah jawa, termasuk masyarakat Pohsarang, ada tradisi (kebiasaan yang turun-temurun) bahwa setiap malam Jumat Legi (atau Kamis Kliwon malam), tiap 35 hari sekali, selalu diadakan acara tirakatan. Konon menurut pitutur pinisepuh bahwa hari itu adalah hari baik (untuk merenung, eling, hening pasrah kepada, sebut saja, Gusti, Sang Sumber Hidup). Karena pemahaman akan "gusti" mereka berbeda-beda, maka ritualnya juga berbeda, ada yg deket, bahkan mengarah kepada illah yang tidak mereka kenal/ praktek tahyul, sampai pada yang paham ketuhanan. Manifestasinya juga macam-macam, ada yang melek'an (tidak tidur) semalam suntuk sambil diskusi atau "glenik'an" atau doa-doa, mengucapkan mantra-mantra, sambil membakar kemenyan, sesajian, ada yg semedi total.

Silakan.... tidak masalah.


Quote:
Masyarakat katolik di sana, khususnya pria dewasa, juga melakukan tirakatan pada Jumat Legi (supaya mereka tidak dianggap asing di "lingkungannya"). Tidak jarang mereka diundang untuk tirakatan bersama. Masalah timbul bila pemimpin komunitas (baca: tokoh kumpulan) melakukan ritual atau pengajaran, pitutur, nasihat-nasihat yang kental dengan ritual-spiritual kejawen atau campuran agama tertentu. Jadi mereka mengambil sikap iman yang pakewuh (menolak tidak, meng-iyakan juga tidak). Yang pasti tradisi tirakatan pada Jumat Legi ini gak bisa hilang, sampai sekarang.

Kalau supaya mereka tidak dianggap asing dalam lingkungannya, silakan diteruskan... bahkan saya tambahi alasan lagi: untuk melestarikan budaya jawa.


Quote:
Di Poh Sarang, ada tempat ziarah yang terkenal, yang juga sering mengadakan doa-doa (novena, rosario, dsb) di lokasi gua maria, yang antara lain dilakukan pada Jumat Legi. Akhir tahun 1998, ada ide yang gayung bersambut, yaitu membawa mereka kepada ritus rohani yang diajarkan Gereja lokal, yaitu Misa. Karena dilaksanakan pada tiap Jumat Legi, maka Misanya lebih dikenal dengan sebutan Misa Tirakatan Jumat Legi (MTJL). Saya pernah mengikuti Misa tersebut (yang datang luar biasa banyaknya, dari berbagai kota, termasuk Jakarta dan sekitarnya). Ada yang unik dalam MTJL tsb yaitu adanya sesi pembakaran kertas doa dalam tungku yg sudah disediakan (ada yg bilang, ya dari pada komat-kamit baca doa yang tidak jelas sambil bakar kemenyan, ya lebih baik doanya ditulis dan dibakar di tungku pembakaran). Sampai sekarang MTJL tsb tetap berlangsung dan yang datang tetap membludak, apalagi pas bertepatan dg hari libur. Dan yang datang tidak hanya orang katolik saja (beberapa ada yg yang non-katolik, konon ada yag haji segala, yang berharap memperoleh kesembuhan atau harapan-harapan doanya terkabul).

PE sebaiknya dirayayakan setiap hari. Jadi tidak masalah kalau itu dirayakan pada malam jum'at legi bersamaan dengan tirakatan tersebut.
Yang penting alasan mengapa pada jum'at legi dilakukan misa. Tidak ada unsur tahayul kalau hanya ingin melestarikan budaya jawa.
Yang menjadi tahayul contohnya: apabila dengan alasan pada jum'at legi Nyai Roro Kidul sedang mengadakan pisowanan... dsb.
Ini baru tahyul.
Membakar kertas doa juga bukan tahyul. Itu adalah lambang bahwa kita menghunjukkan doa itu kepada Allah. Kadang juga dengan perantaraan Para Kudus di surga. Ini adalah tradisi dalam Gereja. Adakah unsur tahyul? Tidak ada.


Quote:
Saya yakin koq, MR ini tujuan utamanya bukan memindahkan praktek tahyul, dalam ritual tolak bala para Sukerta, ke Misa. Tetapi lebih kepada meminjam dulu tradisinya (sama seperti TJL/Tirakat Jumat Legi) untuk dibawa ke dalam MR, yang secara bertahap akan dimurnikan total (sesuai ajaran Gereja/iman katolik secara penuh) dalam MR itu sendiri.

Tidak sama. Bagaimana bisa dikatakan benar kepada seorang yg meragukan sakramen pembabtisan yg telah diterimanya?
Dan agar tidak ragu2 harus diadakan lagi PE Ruwatan?
Tahyul yg tidak masuk akal.
Semoga panjenengan melihat perbedaannya.


Quote:
Ibarat kita menikah dengan pasangan yang bukan katolik, tetapi dia mau dilangsungkan pernikahan secara katolik. Tentu kita tidak drastis meminta supaya dia tancap gas untuk mengikuti praktek kehidupan iman kita kan ? Andaikan istri Mas Tertarik mau berdoa cara katolik, tetapi dia tetap berdoa dengan menghadap ke barat (kiblat), apa lantas Mas Tertarik langsung menegurnya dengan mengatakan, hai... Tuhan itu tidak di barat saja loh ! Mungkin dia menurut, tapi malemnya, Mas Tertarik tidurnya akan sendiri-sendiri aja lah..

Kebetulan pasangan saya katolik.
Kalau pasangan seseorang adalah katolik maka wajib mengikuti ajaran katolik. Kalau dia berkeinginan menjadi katolik maka akan saya jelaskan dan minta agar proses untuk menerima sakramen babtis dilaksanakan.
Sama dengan Rm Mardi, seharusnya Rm Mardi menjelaskan hal yg benar!
Bukan mengadakan PE Ruwatan.


Quote:
Pun MR itu substansinya kan tidak bermaksud mo mendirikan ritus baru yang keluar dari Gereja Katolik Roma kan.

Sudah saya jelaskan.
Apabila tidak terjadi kesalahan teologis, maka yg terjadi adalah abuse atas PE. Tetapi kasus diatas adalah kedua-duanya.


Quote:
Dan karena itu kita punya hierarkhi, andaikan MR itu tahyul, apakah sudah ada pernyataan resmi dari KAS yang menyatakan hal itu ? Faktanya diantara para Imam juga tidak bersuara sama kan ?

Sudah saya jelaskan sebelumnya, bagaimana sebaiknya sikap umat yg tahu bahwa terjadi kesalahan dan abuse... silakan dicari ya.


Quote:
Menurut saya, panduan inkulturasi yang dicuplik oleh Maruko-Lien tadi gak ada yang dilanggar tuh dalam MR tsb.

Banyak yg dilanggar, namun kayaknya lebih baik panjenengan beranggapan demikian saja... agar kasus cepat selesai.... Ketawa Ngakak
Maaf, saya tidak bisa menjelaskan secara lebih baik lagi.


Quote:
Mas Tertarik, saya tidak membela Kinasih loh. Suerrr saya tetap tertarik pada forum ini, termasuk Mas Tertarik. Koncoku, Mas Hario koq gak njedul jedul to ya.. oi, dimana kau

Ya... Sebaiknya dipelajari lagi tentang Iman katolik, liturgi, Perayaan Ekaristi dsb.
Kasus ini memang masih menjadi pro dan kontra, sama halnya dengan PE pencurahan Roh Kudus.
Kadang lebih baik kalau kita tidak tahu sama sekali.
Yang penting... tetaplah ikut misa kudus. Menerima tubuh Kristus setiap hari (kalau bisa). Biarlah yg berwenang yg menilai dan menentukan apakah PE tersebut abuse apa tidak, ada kesalahan apa tidak.
Semoga apa yg sudah saya jelaskan tidak mengganggu hidup beriman panjenengan.


Salam dan doa
Tertarik
_________________
Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
manukdadali



Joined: 07 Oct 2006
Posts: 107

PostPosted: Wed, 06-05-2009 10:01 pm    Post subject: Reply with quote

Kang Tertarik emang T O P B G T

Ketawa Ngakak Ketawa Ngakak Ketawa Ngakak
_________________
Hirup sauyunan tara pa hiri hiri
Resep ngahiji rukun sakabeh na
Keur sakumna bangsa di nagara Indonesia
Back to top
View user's profile Send private message
LoveGuardian



Joined: 10 Sep 2008
Posts: 55
Location: Jakarta, sekarang di Pekanbaru

PostPosted: Thu, 07-05-2009 3:44 pm    Post subject: Reply with quote

Tertarik wrote:
psartono wrote:
Mas Tertarik, "menarik", Misa Ruwatan (PE Ruwatan, bahasa Mas Tertarik, red.) untuk ditarik kesimpulan sebagai telah melakukan praktek tahyul (mudah-2an Romo Mardi SJ tidak membaca kesimpulan ini Smile

Ada indikasi ke situ.


Quote:
Pertanyaan saya, lantas tahyulnya di mana ? apakah dari sikap :

Tahyulnya adalah dari alasan PE Ruwatan itu dijalankan.
Seharusnya, umat katolik jawa yg tidak "mantap" terhadap pembabtisannya tidak boleh difasilitasi seperti itu. Itu artinya Rm Mardi memberikan pembenaran kepada "ketidakmantapan" itu, makanya perlu diadakan PE Ruwatan.


Quote:
1. Sungkem kepada ortunya (dan kpd Romo, bagi yg gak ada ortunya) ?

Ini tidak masalah dalam PE Inkulturasi. Ada acara pembabtisan dewasa dimana sebelum pembabtisan, para calon babtisan sungkem kepada orang tuanya. Juga kita lihat pada acara tahbisan dan perkawinan.


Quote:
2. tindakan "memotong pucuk rambut" ?

Dengan alasan apa? Bahwa pembabtisan belum cukup bagi anak sukerta? Ini baru tahyul namanya!


Quote:
3. memakai tumpengan + polo pendem + kembang telon ?
4. melarung tumpengan + "potongan rambut-rambut" tsb ?
5. atau keseluruhan dari 1 s/d 4 tsb ?

Yup, apabila alasan sama dengan alasan nomor dua diatas ini adalah tahyul. Apabila tidak dengan alasan di atas ini adalah abuse dalam PE.
(susah ya... apapun juga tidak ada yg benar!)


Quote:
"kubu Petrus" mengatakan bahwa jika ingin mengaku sbg murid (mengikuti/ mengimani) Yesus, maka ia harus disunat (karena tradisi kami mengatakan spt itu dan karena Yesus juga disunat !), sementara
"kubu Paulus", mengatakan tidak harus disunat (karena orang-orang non-Yahudi) tidak punya tradisi seperti itu. Karena "gegeran", soal ini, maka para "kubu" sepakat untuk menyelesaikannya dalam sidang jemaat (sebut saja Konsili Yerusalem) dan akhirnya mereka sepakat bahwa sunat bukan hal yang mengikat (secara iman). Jangan sampai tujuan utamanya (yaitu misi pengkabaran injil/kerajaan Allah - sampai ke ujung bumi) menjadi terhambat (tertutupi) dengan "eker-ekeran" soal tradisi sunat tadi. Sampai disini saya harap Clear !

Apa hubungan dengan PE diatas?


Quote:
Dari sumber yang saya dapat, kebetulan saya dari kota yg sama, dan mohon jgn dianggap sumber yg resmi). Di tanah jawa, termasuk masyarakat Pohsarang, ada tradisi (kebiasaan yang turun-temurun) bahwa setiap malam Jumat Legi (atau Kamis Kliwon malam), tiap 35 hari sekali, selalu diadakan acara tirakatan. Konon menurut pitutur pinisepuh bahwa hari itu adalah hari baik (untuk merenung, eling, hening pasrah kepada, sebut saja, Gusti, Sang Sumber Hidup). Karena pemahaman akan "gusti" mereka berbeda-beda, maka ritualnya juga berbeda, ada yg deket, bahkan mengarah kepada illah yang tidak mereka kenal/ praktek tahyul, sampai pada yang paham ketuhanan. Manifestasinya juga macam-macam, ada yang melek'an (tidak tidur) semalam suntuk sambil diskusi atau "glenik'an" atau doa-doa, mengucapkan mantra-mantra, sambil membakar kemenyan, sesajian, ada yg semedi total.

Silakan.... tidak masalah.


Quote:
Masyarakat katolik di sana, khususnya pria dewasa, juga melakukan tirakatan pada Jumat Legi (supaya mereka tidak dianggap asing di "lingkungannya"). Tidak jarang mereka diundang untuk tirakatan bersama. Masalah timbul bila pemimpin komunitas (baca: tokoh kumpulan) melakukan ritual atau pengajaran, pitutur, nasihat-nasihat yang kental dengan ritual-spiritual kejawen atau campuran agama tertentu. Jadi mereka mengambil sikap iman yang pakewuh (menolak tidak, meng-iyakan juga tidak). Yang pasti tradisi tirakatan pada Jumat Legi ini gak bisa hilang, sampai sekarang.

Kalau supaya mereka tidak dianggap asing dalam lingkungannya, silakan diteruskan... bahkan saya tambahi alasan lagi: untuk melestarikan budaya jawa.


Quote:
Di Poh Sarang, ada tempat ziarah yang terkenal, yang juga sering mengadakan doa-doa (novena, rosario, dsb) di lokasi gua maria, yang antara lain dilakukan pada Jumat Legi. Akhir tahun 1998, ada ide yang gayung bersambut, yaitu membawa mereka kepada ritus rohani yang diajarkan Gereja lokal, yaitu Misa. Karena dilaksanakan pada tiap Jumat Legi, maka Misanya lebih dikenal dengan sebutan Misa Tirakatan Jumat Legi (MTJL). Saya pernah mengikuti Misa tersebut (yang datang luar biasa banyaknya, dari berbagai kota, termasuk Jakarta dan sekitarnya). Ada yang unik dalam MTJL tsb yaitu adanya sesi pembakaran kertas doa dalam tungku yg sudah disediakan (ada yg bilang, ya dari pada komat-kamit baca doa yang tidak jelas sambil bakar kemenyan, ya lebih baik doanya ditulis dan dibakar di tungku pembakaran). Sampai sekarang MTJL tsb tetap berlangsung dan yang datang tetap membludak, apalagi pas bertepatan dg hari libur. Dan yang datang tidak hanya orang katolik saja (beberapa ada yg yang non-katolik, konon ada yag haji segala, yang berharap memperoleh kesembuhan atau harapan-harapan doanya terkabul).

PE sebaiknya dirayayakan setiap hari. Jadi tidak masalah kalau itu dirayakan pada malam jum'at legi bersamaan dengan tirakatan tersebut.
Yang penting alasan mengapa pada jum'at legi dilakukan misa. Tidak ada unsur tahayul kalau hanya ingin melestarikan budaya jawa.
Yang menjadi tahayul contohnya: apabila dengan alasan pada jum'at legi Nyai Roro Kidul sedang mengadakan pisowanan... dsb.
Ini baru tahyul.
Membakar kertas doa juga bukan tahyul. Itu adalah lambang bahwa kita menghunjukkan doa itu kepada Allah. Kadang juga dengan perantaraan Para Kudus di surga. Ini adalah tradisi dalam Gereja. Adakah unsur tahyul? Tidak ada.


Quote:
Saya yakin koq, MR ini tujuan utamanya bukan memindahkan praktek tahyul, dalam ritual tolak bala para Sukerta, ke Misa. Tetapi lebih kepada meminjam dulu tradisinya (sama seperti TJL/Tirakat Jumat Legi) untuk dibawa ke dalam MR, yang secara bertahap akan dimurnikan total (sesuai ajaran Gereja/iman katolik secara penuh) dalam MR itu sendiri.

Tidak sama. Bagaimana bisa dikatakan benar kepada seorang yg meragukan sakramen pembabtisan yg telah diterimanya?
Dan agar tidak ragu2 harus diadakan lagi PE Ruwatan?
Tahyul yg tidak masuk akal.
Semoga panjenengan melihat perbedaannya.


Quote:
Ibarat kita menikah dengan pasangan yang bukan katolik, tetapi dia mau dilangsungkan pernikahan secara katolik. Tentu kita tidak drastis meminta supaya dia tancap gas untuk mengikuti praktek kehidupan iman kita kan ? Andaikan istri Mas Tertarik mau berdoa cara katolik, tetapi dia tetap berdoa dengan menghadap ke barat (kiblat), apa lantas Mas Tertarik langsung menegurnya dengan mengatakan, hai... Tuhan itu tidak di barat saja loh ! Mungkin dia menurut, tapi malemnya, Mas Tertarik tidurnya akan sendiri-sendiri aja lah..

Kebetulan pasangan saya katolik.
Kalau pasangan seseorang adalah katolik maka wajib mengikuti ajaran katolik. Kalau dia berkeinginan menjadi katolik maka akan saya jelaskan dan minta agar proses untuk menerima sakramen babtis dilaksanakan.
Sama dengan Rm Mardi, seharusnya Rm Mardi menjelaskan hal yg benar!
Bukan mengadakan PE Ruwatan.


Quote:
Pun MR itu substansinya kan tidak bermaksud mo mendirikan ritus baru yang keluar dari Gereja Katolik Roma kan.

Sudah saya jelaskan.
Apabila tidak terjadi kesalahan teologis, maka yg terjadi adalah abuse atas PE. Tetapi kasus diatas adalah kedua-duanya.


Quote:
Dan karena itu kita punya hierarkhi, andaikan MR itu tahyul, apakah sudah ada pernyataan resmi dari KAS yang menyatakan hal itu ? Faktanya diantara para Imam juga tidak bersuara sama kan ?

Sudah saya jelaskan sebelumnya, bagaimana sebaiknya sikap umat yg tahu bahwa terjadi kesalahan dan abuse... silakan dicari ya.


Quote:
Menurut saya, panduan inkulturasi yang dicuplik oleh Maruko-Lien tadi gak ada yang dilanggar tuh dalam MR tsb.

Banyak yg dilanggar, namun kayaknya lebih baik panjenengan beranggapan demikian saja... agar kasus cepat selesai.... Ketawa Ngakak
Maaf, saya tidak bisa menjelaskan secara lebih baik lagi.


Quote:
Mas Tertarik, saya tidak membela Kinasih loh. Suerrr saya tetap tertarik pada forum ini, termasuk Mas Tertarik. Koncoku, Mas Hario koq gak njedul jedul to ya.. oi, dimana kau

Ya... Sebaiknya dipelajari lagi tentang Iman katolik, liturgi, Perayaan Ekaristi dsb.
Kasus ini memang masih menjadi pro dan kontra, sama halnya dengan PE pencurahan Roh Kudus.
Kadang lebih baik kalau kita tidak tahu sama sekali.
Yang penting... tetaplah ikut misa kudus. Menerima tubuh Kristus setiap hari (kalau bisa). Biarlah yg berwenang yg menilai dan menentukan apakah PE tersebut abuse apa tidak, ada kesalahan apa tidak.
Semoga apa yg sudah saya jelaskan tidak mengganggu hidup beriman panjenengan.


Salam dan doa
Tertarik


Yah mas... ini lah namanya mencari2 dari tradisi Katolik untuk membenarkan pendapatnya...

Bukan menjalankan atau mempelajari ajaran Gereja lebih dulu lalu melihat kesesuaian di budaya sekitarnya...
_________________
Tuhanlah Gembalaku, takkan kekurangan aku
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
psartono



Joined: 20 Apr 2009
Posts: 175

PostPosted: Thu, 07-05-2009 4:50 pm    Post subject: Reply with quote

Quote:

Quote:
"kubu Petrus" mengatakan bahwa jika ingin mengaku sbg murid (mengikuti/ mengimani) Yesus, maka ia harus disunat (karena tradisi kami mengatakan spt itu dan karena Yesus juga disunat !), sementara
"kubu Paulus", mengatakan tidak harus disunat (karena orang-orang non-Yahudi) tidak punya tradisi seperti itu. Karena "gegeran", soal ini, maka para "kubu" sepakat untuk menyelesaikannya dalam sidang jemaat (sebut saja Konsili Yerusalem) dan akhirnya mereka sepakat bahwa sunat bukan hal yang mengikat (secara iman). Jangan sampai tujuan utamanya (yaitu misi pengkabaran injil/kerajaan Allah - sampai ke ujung bumi) menjadi terhambat (tertutupi) dengan "eker-ekeran" soal tradisi sunat
tadi. Sampai disini saya harap Clear !

Apa hubungan dengan PE diatas?


Itu sbg analogi untuk membantu diskusi kita. Bahwa ada 2 padangan. Yang Pertama, memasukkan unsur tradisi sbg prasyarat menerima Yesus, dan Yang Kedua, mengatakan sebaliknya. Akhirnya, para pihak sepakat bahwa tradisi tidak mengikat sebagai sikap iman, tetapi hanya membantu (supaya "lego", mantap, bagi yg mengikuti tradisi itu) untuk menjalani kehidupan beriman.

Kalau ada org katolik berdoa didepan patung bunda Maria, dg posisi sujud, apa harus kita sebut praktek tahyul/menyembah berhala ? (sekalipun banyak nabi mengajarkan untuk melenyapkan segala bentuk patung buatan manusia... atau dengan gegabah memasukan itu adalah patung sbg dimaksud dalam Kisah Para Rasul 17 : 16). Tentang patung-patung itu, kita paham, itu bukan yg dituju, hanya sebagai alat bantu semata. Tanpa itupun tidak masalah.

Seperti dalam keluarga besar saya, mulai dari nenek moyang, sampai saat ini, yang laki-laki, semua disunat itunya Smile Smile (secara akal sehat, saya bisa menerima bahwa tidak disunatpun juga tidak akan menggugurkan saya untuk menerima Yesus. Tapi saya merasa mantap bila disunat.) Mas tertarik disunat gak ? Ketawa (mohon jangan dijawab : "apa hubungannya dg PE"?, saya hanya ingin jawaban yg jujur.).

Begitu pula tradisi "tolak bala" dari para sukerta. Mereka juga menjiwai spt itu, yaitu supaya lebih mantap. Saya meyakini penuh bahwa tanpa ruwatan sekalipun, baptisan itu sudah sah dan final. Sebab ruwatan tolak bala itu, semata-mata hanya tradisi saja. Tanpa itu juga tidak masalah (...jangan bertanya : loh tahu begitu kenapa tetap dilakukan ?)

Sama dg analog bahwa orang indonesia tidak "lego" atau tidak mantep jika belum makan nasi, sekalipun dia sudah makan kenyang dengan roti, padahal akal sehat mengajarkan bukan dengan roti atau nasinya, tetapi karbohidrat yg cukup. Saya juga tidak mantap bila belum makan nasi, Mas Tertarik bagaimana ? Smile Jangan keburu dijawab : apa hubungannya dg PE ?

Quote:
Tidak sama. Bagaimana bisa dikatakan benar kepada seorang yg meragukan sakramen pembabtisan yg telah diterimanya?

Mereka yang disunat, tidak berarti meragukan ajaran Paulus yang membenarkan mereka yang tidak bersunat kan.

Quote:
Dan agar tidak ragu2 harus diadakan lagi PE Ruwatan?
Tahyul yg tidak masuk akal.

Agar mantap, saya tetap makan (mencari) nasi, sekalipun disitu sudah tersedia makanan roti yang berlimpah. Tidak bisa menilai sikap tsb menurut akal sehat semata, suasana hati juga menjadi pertimbangannya.

Quote:
Semoga panjenengan melihat perbedaannya.

Saya bisa melihat perbedaannya. Matur nuwun.

Quote:
Sama dengan Rm Mardi, seharusnya Rm Mardi menjelaskan hal yg benar!
Bukan mengadakan PE Ruwatan.

Rm Mardi menangkap Sabda Tuhan dengan cara yang berbeda. Dan memang beliau bukan kita.

Quote:
Kadang lebih baik kalau kita tidak tahu sama sekali.

Setuju, akupun berpikiran seperti itu. Makin ke dalam ternyata makin luas, tak terjangkau. Kukira pulau, ternyata butiran pasir di laut.

Quote:
Yang penting... tetaplah ikut misa kudus. Menerima tubuh Kristus setiap hari (kalau bisa).

Betul, nasihat yg bijak.

Quote:
Biarlah yg berwenang yg menilai dan menentukan apakah PE tersebut abuse apa tidak, ada kesalahan apa tidak.
Semoga apa yg sudah saya jelaskan tidak mengganggu hidup beriman panjenengan.

Setuju, sejak awal saya berpatokan pada putusan hierarkhi. Itulah Kebenaran yg penuh dari Gereja Katolik. Putusan resmi dari imam tertakbis, adalah sumber kebenaran. Tafsir saya thd Mat 16:18-19. Matur nuwun.

Berkah dalem
psartono
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous Next
Page 5 of 6

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17