Select messages from #  through #      FAQ

Misa yang Tidak Sesuai Aturan Merusak & Melemahkan Iman
Goto page: Previous Next
 FULL PAGE

Akademi Kontra Indiferentisme -> Forum Terbuka

#31    Author: DeusVult  Location: Orange County California  Post Posted: Mon, 16-01-2012 8:12 pm

raydo12 wrote:
saya pernah ikut misa, romonya ngantuk dan menguap, bawaannya lesu tidak semangat, sepertinya hanya menjalankan kewajiban saja.


Hal seperti ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan "niat untuk merayakan Misa sebagaimana dilakukan oleh Gereja sejak dahulu dimana-mana."


raydo12 wrote:
Dalam kondisi seperti apa seorang romo diperbolehkan merayakan misa ? bisa dibantu penjelasannya ?


Gereja menghendaki imam utuk memberikan sakramen (termasuk Ekarisyti dalam misa) dalam kondisi berahmat. Jadi kalau punya dosa berat, harus diakukan sebelum memberikan sakramen. Meskipun begitu, berdosa atau tidaknya Imam tidak membuat sakramennya invalid. Keberdosaan Imam ketika dia memberikan sakramen hanya terkena kepada si imam sendiri.

#32    Author: raydo12  Location: Jakarta  Post Posted: Tue, 17-01-2012 7:54 am

DV, apakah persiapan romo untuk misa masih dilakukan seperti ini :

Preparation to Be Made before Celebrating Mass

Generally speaking, we may say that the devotion of a priest in celebrating holy Mass is in proportion to the preparation he makes. The liturgical prayers, however beautiful and touching, leave the soul cold and indifferent when the mind and heart are not well disposed. If, on the other hand, a priest wishes that the recitation of the prayers and the performance of the actions prescribed by the missal be accompanied with good and generous interior movements, he should previously excite in himself sentiments of faith, love and desire corresponding to the sublimity of the liturgical action.

We well know that, generally speaking, the success of our most important enterprises depends on the nature of the preparation we make beforehand. Dealing, therefore, with the most important of all priestly actions, which is the celebration of the great sacrifice of the New Law, in which the Lamb of God immolates Himself daily for our sins, we may confidently assume that it will be worthily accomplished if the priest is careful to dispose his heart and mind for this great action.

The preparation is twofold; remote and proximate. The remote preparation consists, first, in purity and holiness of life, for which weekly or at least fortnightly confession is greatly recommended (11); secondly, in frequently calling to mind the great action which the priest is called upon to perform every morning.

The proximate preparation consists in eliciting, before Mass, special acts of devotion and reciting special prayers directed to actuate the priest's devotion. We shall say a few words of this twofold preparation.


13. Remote Preparation

The remote preparation should consist, as we have said, in the purity of our lives and in a habitual union of thought and affection with Jesus Christ present in the Most Holy Eucharist.

To preserve entire that purity of life which is demanded by the holiness of the liturgical action, the priest will practise a habitual custody of the senses, inspired by the memory of the passion of Christ of which this Sacrament is a perpetual memorial.

In fact, Jesus Christ instituted this Sacrament a very short time before His passion and, moreover, in the shape of sacrifice, in order that we might continually remember all that He suffered for us. Hence the thought of the passion of our sweet Saviour should always accompany the priest, inspiring him with a health-bringing horror of sin and thus inviting him to embrace a penitent and mortified life.

As regards the habitual communication of thought with the Blessed Eucharist, this exercise will be greatly encouraged in the priest by a frequent offering of himself to the heavenly Father in full submission of his will to the divine decrees and in perfect abandonment of his whole self to the wise dispositions of Providence. Indeed, nothing pleases God more, nothing also better paves the way to divine blessings than a total offering of oneself to His Majesty, coupled with a humble adoration of His most just, most high and most sweet decrees.

Most consoling are the following words of the Imitation of Christ (12): "There is not a more suitable offering nor greater atonement for the cleansing of thy sins, than to offer thyself wholly and entirely to God, together with the oblation of the body of Christ in the Mass and in Holy Communion."

These other words, too, are worth remembering (13) : "As soon as thou resignest thyself to God with thy whole heart, and seekest not this or that according to thine own whim or wish, but committest thyself wholly to Him, thou shalt find thyself united with Him and at rest; for nothing will be so palatable and delightful to thee as the good pleasure of the divine will.

"Whosoever, therefore, will direct his mind and will in all simplicity to God, empty himself of all inordinate love or aversion for any created thing, he shall be very well prepared to obtain grace and deserve the gift of devotion."

14. Proximate Preparation

Besides the remote preparation, consisting in purity of life and in perfect submission to God's will, a priest desirous of celebrating holy Mass with sincere devotion, should try to recollect himself immediately before ascending the altar steps, in order to dispose his heart better to perceive the fruit of that holy action.

Three things will particularly conduce to this purpose: first, the attentive reading of the Mass of the day and the foreseeing of the rubrics; secondly, a devout recitation of those psalms and prayers inserted in the missal or the breviary pro opportunitate sacerdotis; thirdly, eliciting acts of faith, hope, charity, contrition and desire.

These things are, indeed, easy to understand and not difficult of practice. Yet, if they be observed, they cannot fail to draw the priest ever nearer the adorable Heart of Jesus and thus produce in him a truly Eucharistic life.


http://www.therealpresence.org/eucharst/priesthd/euchpr06.htm

#33    Author: whiterebel83  Location: Una, sancta, catholica et apostolica ecclesia  Post Posted: Tue, 17-01-2012 8:25 pm

Maaf rekan EDO, kembali kepada misa inkulturasi. Pertanyaan saya: sebatas manakah kita boleh menghias altar gereja? Di USA pun ketika masa2 tertentu, altar gereja juga dihias. Misalnya pada bulan October, mereka menghias altar dengan pumpkin / haloween attribute. Pada bulan November, ada beberapa yang menghias dengan turkey. Atau mungkin bagi orang Mexico, perayaan Misa Our Lady Of Guadalupe sangat meriah dengan tarian2 dan pakaian daerah Mexico.









Last edited by whiterebel83 on Tue, 17-01-2012 8:37 pm; edited 4 times in total

#34    Author: naughty5eraph  Location: surabaya  Post Posted: Tue, 24-01-2012 11:17 am

di surabaya, uskup sudah melarang misa imlek.

bagi saya foto2 di atas, ok lah kalo cuman dekor, menyesuaikan dgn imlek, pake musik ala cina juga ok, toh itu juga memuji Tuhan, tapi abuse memang terjadi pada pemakaian warna liturgi. sehrusnya misa imlek ini kalau minggu biasa, romo harus tetap pakai baju hijau, karena merah adalah warna martir dan pengorbanan, rasanya ga pantas kalau sekarang merah itu diasosiasikan dengan merahnya imlek

#35    Author: Stanley    Post Posted: Tue, 24-01-2012 11:33 am

naughty5eraph wrote:
sehrusnya misa imlek ini kalau minggu biasa, romo harus tetap pakai baju hijau, karena merah adalah warna martir dan pengorbanan, rasanya ga pantas kalau sekarang merah itu diasosiasikan dengan merahnya imlek


Saya ga hafal warna liturgi.. memang wkt itu hijau ya?

Ya sudah romo nya dan jajaran perangkat misa nya pakai sesuai liturgi. Klo mau merah-merah ya silahkan umatnya merah smua. Gitu aja kok repot y kan?

#36    Author: whiterebel83  Location: Una, sancta, catholica et apostolica ecclesia  Post Posted: Tue, 24-01-2012 9:44 pm

naughty5eraph wrote:

bagi saya foto2 di atas, ok lah kalo cuman dekor, menyesuaikan dgn imlek, pake musik ala cina juga ok, toh itu juga memuji Tuhan, tapi abuse memang terjadi pada pemakaian warna liturgi. sehrusnya misa imlek ini kalau minggu biasa, romo harus tetap pakai baju hijau, karena merah adalah warna martir dan pengorbanan, rasanya ga pantas kalau sekarang merah itu diasosiasikan dengan merahnya imlek


Bagaimana dengan yang ini? Warna oranye sama sekali bukan warna liturgi, tetapi pada waktu world cup 2010, mereka mengadakan misa oranye untuk kemenangan Belanda.



Last edited by whiterebel83 on Tue, 24-01-2012 9:44 pm; edited 1 time in total

#37    Author: AnthoniusAditya  Location: Jakarta  Post Posted: Wed, 25-01-2012 7:25 am

Saya bingung sama orang-orang di Forum ini yang bisanya menjatuhkan orang lain. Kalau kalian ingin memandang suatu hal, lihatlah dari sisi paling positif dan paling negatifnya, jangan paling negatifnya saja. Contohlah Rasul Paulus yang hari ini diperingati, Rasul yang sangat berjasa dalam perkembangan Iman Katolik kita....

#38    Author: Stanley    Post Posted: Wed, 25-01-2012 7:40 am

AnthoniusAditya wrote:
Saya bingung sama orang-orang di Forum ini yang bisanya menjatuhkan orang lain. Kalau kalian ingin memandang suatu hal, lihatlah dari sisi paling positif dan paling negatifnya, jangan paling negatifnya saja. Contohlah Rasul Paulus yang hari ini diperingati, Rasul yang sangat berjasa dalam perkembangan Iman Katolik kita....


Forum ini tidak menjatuhkan orang lain, tapi forum ini menjabarkan ajaran iman Katolik yang benar itu seperti apa.

Bila saudaramu berbuat salah, tegurlah dia. Itu juga ajaran Rasul Paulus yang sangat berjasa dalam perkembangan iman Katolik kita, ya kan?

#39    Author: shmily  Location: Ekaristi.org  Post Posted: Wed, 25-01-2012 7:48 am

AnthoniusAditya wrote:
Saya bingung sama orang-orang di Forum ini yang bisanya menjatuhkan orang lain.


yang lebih bingung lagi.. kalo ditopik bisanya cuma komentar negatif seperti ini...

kalo kamu lebih suka forum model kaskus ya silahkan saja bermain di sana, tidak perlu harus membuat komentar sinis seperti ini di topik ini...

Quote:

Kalau kalian ingin memandang suatu hal, lihatlah dari sisi paling positif dan paling negatifnya, jangan paling negatifnya saja.


romo yang mengubah warna liturgi menjadi warna merah dalam perayaan imlek itu kebablasan

Warna liturgi merah digunakan untuk perayaan Minggu Palma, Jumat Agung, Pentakosta, atau Pesta Para Martir, karena warna merah melambangkan Roh Kudus, Penumpahan Darah.

bukan kegembiraan pesta seperti perayaan imlek.. warna liturgi yang cocok untuk misa untuk imlek justru adalah warna hijau karena melambangkan syukur dan pengharapan.

jadi siapa yang negatif siapa yang positif di pikiran mu itu sekarang ?

Quote:

Contohlah Rasul Paulus yang hari ini diperingati, Rasul yang sangat berjasa dalam perkembangan Iman Katolik kita....


Santo Paulus yang anda kagumi melakukan apa yang justru anda kritisi.

Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org
2 Timotius  4:1Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
2 Timotius  4:2Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
2 Timotius  4:3Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
2 Timotius  4:4Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

#40    Author: Apollos    Post Posted: Wed, 25-01-2012 10:25 am

karunia wrote:
Tapi...

bagaimanakah Gereja yang murni ?

Bukankah Gereja Roma juga tak lepas dari pengaruh inkulturasi budaya Roma ? dari bangunan dan lain sebagainya ?

Bagaimana dengan Our Lady of Guadalupe ?

Bunda Maria dengan pakaian batik ala Jawa,

di Tiongkok ada Bunda Maria ala chinesse

Black Madonna ?

Ritual arak arakan Bunda Maria dan arak arakaan Hosti ?

Mana yang tidak lepas dari pengaruh budaya ?

Apakah semua yang ritualnya kena pengaruh budaya , termasuk misa imlek itu doa doa mereka semua tidak diterima Tuhan Yesus ?
Apakah Tuhan Yesus membenci mereka semua ?


Liturgi Gereja Katolik dari zaman Gereja Perdana adalah tetap sama ..... mengenang kembali Pengurbanan Kristus bagi Keselamatan umat manusia .... Misa Imlek tidak seharusnya seperti yang ditampilkan pada foto-foto TS. Misa syukur Imlek harusnya masuk dalam Misa Harian untuk mengucap syukur dan bukan diwarnai dengan atraksi seperti layaknya panggung petunjukan. Dekorasi sederhana dengan bunga musim semi berhias pernak pernik imlek dan lampion khas Chinese, sudah cukup. Tidak perlu imam dan pelayan-pelayan altar mengenakan warna merah untuk lambang kegembiraan imlek. Kecuali uskup memberi ijin menggunakan warna merah supaya umat mengingat pengurbanan Kristus dan kemartiran orang-orang kudus.

pendeknya, altar Tuhan bukan panggung petunjukan (opera sabun). altar Tuhan untuk menghadirkan kembali peristiwa Pengurbanan Kristus bagi Keselamatan umat manusia.

selebihnya, tarian dan musik khas selama tidak bertentangan dengan semangat Liturgi, kenapa tidak? dan sifatnya tidak wajib, boleh dimainkan setelah misa atau sebelum misa, tetapi TIDAK BOLEH menginjak area altar Tuhan. khusus barongsai, dimainkan di luar bila tidak mengganggu masyarakat sekitar, tetapi tidak perlu masuk ke dalam gereja apalagi sampai mengganggu Misa Kudus.


Akademi Kontra Indiferentisme -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous Next
 FULL PAGE