FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Gus Dur, Pornografi, dan SKB Tempat Ibadah    

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Anthonius_Felix



Joined: 17 Dec 2005
Posts: 328
Location: Everywhere, Everytime

PostPosted: Fri, 05-05-2006 8:51 pm    Post subject: Gus Dur, Pornografi, dan SKB Tempat Ibadah Reply with quote

Sorry postingan ini cuman share saja, aku dapet email dari temenku yang ngefans berat Gus Dur walaupun dia Katholik (maaf sebesar-besarnya aku ikut2an COPY PASTE Very Happy Very Happy Very Happy ) berikut isinya :

KH. Abdurrahman Wahid: Jangan Bikin Aturan Berdasarkan Islam Saja!

10/04/2006
Pola pandang dan sikap yang terus menghargai perbedaan dalam kerangka
keragaman etnis, budaya, dan agama di Indonesia, masih tetap manjadi
ciri khas KH. Abdurrahman Wahid, mantan orang nomor satu di negeri ini.
Kyai nyentrik yang akrab disapa Gus Dur itu, kembali mengingatkan
pentingnya menolak penyeragaman cara pandang, sikap, maupun perilaku
dalam beragama dan bernegara di negeri ini.

Pola pandang dan sikap yang terus menghargai perbedaan dalam kerangka
keragaman etnis, budaya, dan agama di Indonesia, masih tetap manjadi
ciri khas KH. Abdurrahman Wahid, mantan orang nomor satu di negeri ini.
Kyai nyentrik yang akrab disapa Gus Dur itu, kembali mengingatkan
pentingnya menolak penyeragaman cara pandang, sikap, maupun perilaku
dalam beragama dan bernegara di negeri ini. Berikut petikan wawancara M.
Guntur Romli dan Alif Nurlambang (JIL) dengan Gus Dur tentang pelbagai
persoalan mutakhir negeri ini pekan lalu.

JIL: Gus Dur, akhir-akhir ini ada polemik tentang Perda Tangerang
tentang pelacuran dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU
APP). Apa komentar Gus Dur tentang Perda yang melarang pelacuran tanpa
pandang bulu itu?

KH. ABDURRAHMAN WAHID: Menurut saya, baik Perda Tangerang maupun RUU APP
yang kini diributkan, harus jelas dulu siapa yang merumuskan dan
menentukannya. Pelacuran memang dilarang agama, tapi siapakah pelacur
itu?! Jangan-jangan, yang kita tuduh pelacur justru bukan pelacur. Dari
dulu memang ada dua hal yang perlu kita perhatikan sebelum menetapkan
undang-undang. Pertama tentang siapa yang merumuskan. Dan kedua tentang
apakah dia memiliki hak antara pelaksana dan pihak lain. Contoh paling
jelas adalah soal definisi pornografi. Ketika tidak jelas ini dan itu
pornonya, yang berhak menentukannya adalah Mahkamah Agung.

Tapi di luar itu, masih banyak masalah-masalah yang mendera negara kita
yang lebih butuh penyelesaian, seperti persoalan ekonomi. Jadi prioritas
kita bukan membikin aturan macam-macam. Contohnya, isu pelacuran itu
juga sangat terkait dengan soal ekonomi. Meski kita mau bikin seribu
peraturan, tapi tidak ada peningkatan taraf kehidupan, pelacuran tidak
akan pernah bisa tersentuh, boro-boro bisa dihilangkan. Jika hal ini
terjadi, maka aturan tidak akan berfungsi apa-apa, kecuali untuk selalu
dilanggar.

JIL: Salah satu dasar munculnya perda-perda seperti itu adalah alasan
otonomi daerah. Menurut Gus Dur bagaimana?

Otonomi daerah tidak mesti sedemikian jauh. Dia harus spesifik. Seperti
salah satu negara bagian Amerika Serikat, Louisiana, yang masih
melandaskan diri pada undang-undang Napoleon dari Perancis, walaupun
negara-negara bagian lain menggunakan undang-undang Anglo-Saxon.
Perbedaan tersebut sudah dijelaskan dalam undang-undang dasar mereka di
sana semenjak awal, bukan ditetapkan belakangan dan secara serampangan.
Untuk Indonesia, daerah-daerah mestinya tidak bisa memakai dan
menetapkan undang-udang secara sendiri-sendiri. Itu bisa kacau.

JIL: Bagaimana kalau otonomi daerah juga hendak mengatur persoalan
agama?

Otonomi daerah itu perlu dipahami sebagai kebebasan untuk melaksanakan
aturan yang sudah ada, bukan kebebasan untuk menetapkan undang-undang
sendiri. Pengertian otonomi daerah itu bukan seperti yang terjadi
sekarang ini; daerah mau merdeka di mana-mana dan dalam segala hal.
Sikap itu tidak benar.

JIL: Apakah beberapa daerah yang mayoritas non-muslim seperti NTT,
Papua, Bali, dan lain-lain, dibolehkan menerapkan aturan agama mereka
masing-masing dengan alasan otonomi daerah?

Iya nggak apa-apa. Itu konsekuensinya kan? Makanya, kita tidak usah
ribut-ribut soal perda dan aturan yang berasal dari satu agama. Dulu di
tahun 1935, kakek saya dari ayah, Almarhum KH. Hasyim Asy'ari, sudah
ngotot-ngotot berpendapat bahwa kita tidak butuh negara Islam untuk
menerapkan syariat Islam. Biar masyarakat yang melaksanakan (ajaran
Islam, Red), bukan karena diatur oleh negara. Alasan kakek saya
berpulang pada perbedaan-perbedaan kepenganutan agama dalam masyarakat
kita. Kita ini bukan negara Islam, jadi jangan bikin aturan-aturan yang
berdasarkan pada agama Islam saja.

JIL: Gus, ada yang berpendapat dengan adanya RUU APP dan sejumlah
perda-perda syariat, Indonesia akan "diarabkan". Apa Gus Dur setuju
dengan pendapat itu?

Iya betul, saya setuju dengan pendapat itu. Ada apa sih sekarang ini?
Ngapain kita ngelakuin gituan. Saya juga bingung; mereka menyamakan
Islam dengan Arab. Padahal menurut saya, Islam itu beda dengan Arab.
Tidak setiap yang Arab itu mesti Islam. Contohnya tidak usah jauh-jauh.
Semua orang tahu bahwa pesantren itu lembaga Islam, tapi kata pesantren
itu sendiri bukan dari Arab kan? Ia berasal dari bahasa Pali, bahasa
Tripitaka, dari kitab agama Buddha.

JIL: Kalau syariat Islam diterapkan di Indonesia secara penuh, bagaimana
kira-kira nasib masyarakat non-muslim?

Ya itulah. Kita tidak bisa menerapkan syariat Islam di Indonesia kalau
bertentangan dengan UUD 45. Dan pihak yang berhak menetapkan aturan ini
adalah Mahkamah Agung. Hal ini menjadi prinsip yang harus kita jaga
bersama-sama. Tujuannya agar negeri kita aman. Jangan sampai kita ini,
dalam istilah bahasa Jawa, usrek (Red: ribut) terus. Kalau kita usrek,
gimana mau membangun bangsa? Ribut mulu sih... Dan persoalannya itu-itu
saja.

JIL: Bagaimana dengan barang dan tayangan erotis yang kini dianggap
sudah akrab dalam masyarakat kita?

Erotisme merupakan sesuatu yang selalu mendampingi manusia, dari dulu
hingga sekarang. Untuk mewaspadai dampak dari erotisme itu dibuatlah
pandangan tentang moral. Dan moralitas berganti dari waktu ke waktu.
Dulu pada zaman ibu saya, perempuan yang pakai rok pendek itu dianggap
cabul. Perempuan mesti pakai kain sarung panjang yang menutupi hingga
matakaki. Sekarang standar moralitas memang sudah berubah. Memakai rok
pendek bukan cabul lagi. Oleh karena itu, kalau kita mau menerapkan
suatu ukuran atau standar untuk semua, itu sudah merupakan pemaksaan.
Sikap ini harus ditolak. Sebab, ukuran satu pihak bisa tidak cocok untuk
pihak yang lain. Contoh lain adalah tradisi tari perut di Mesir yang
tentu saja perutnya terbuka lebar dan bahkan kelihatan puser. Mungkin
bagi sebagian orang, tari perut itu cabul. Tapi di Mesir, itu adalah
tarian rakyat; tidak ada sangkut-pautnya dengan kecabulan.

JIL: Jadi erotisme itu tidak mesti cabul, Gus?

Iya, tidak bisa. Anda tahu, kitab Rawdlatul Mu`aththar (The Perfumed
Garden, Kebun Wewangian) itu merupakan kitab bahasa Arab yang isinya
tatacara bersetubuh dengan 189 gaya, ha-ha-ha.. Kalau gitu, kitab itu
cabul, dong? ha-ha-ha. Kemudian juga ada kitab Kamasutra. Masak semua
kitab-kitab itu dibilang cabul? Kadang-kadang saya geli, mengapa
kiai-kiai kita, kalau dengerin lagu-lagu Ummi Kultsum-penyanyi
legendaris Mesir-bisa sambil teriak-teriak "Allah. Allah." Padahal isi
lagunya kadang ngajak orang minum arak, ha-ha-ha.. Sangat saya
sayangkan, kita mudah sekali menuding dan memberi cap sana-sini; kitab
ini cabul dan tidak sesuai dengan Islam serta tidak boleh dibaca.

Saya mau cerita. Dulu saya pernah ribut di Dewan Pustaka dan Bahasa di
Kuala Lumpur Malaysia. Waktu itu saya diundang Prof. Husein Al-Attas
untuk membicarakan tema Sastra Islam dan Pornografi. Nah, saya ributnya
dengan Siddik Baba. Dia sekarang menjadi pembantu rektor di Universitas
Islam Internasional Malaysia. Menurut dia, yang disebut karya sastra
Islam itu harus sesuai dengan syariat dan etika Islam. Karya-karya yang
menurutnya cabul bukanlah karya sastra Islam. Saya tidak setuju dengan
pendapat itu. Kemudian saya mengulas novel sastrawan Mesir, Naguib
Mahfouz, berjudul Zuqaq Midaq (Lorong Midaq), yang mengisahkah pola
kehidupan di gang-gang sempit di Mesir. Tokoh sentralnya adalah seorang
pelacur. Dan pelacur yang beragama Islam itu bisa dibaca pergulatan
batinnya dari novel itu. Apakah buku itu tidak bisa disebut sebuah karya
Islam hanya karena ia menceritakan kehidupan seorang pelacur? Ia jelas
produk seorang sastrawan brilian yang beragama Islam. Aneh kalau novel
itu tidak diakui sebagai sastra Islam.

JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini
bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci
yang porno?

Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah
Alqur'an, ha-ha-ha.. (tertawa terkekeh-kekeh).

JIL: Maksudnya?

Loh, jelas kelihatan sekali. Di Alqur'an itu ada ayat tentang menyusui
anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti
itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini.
Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha.

JIL: Bagaimana dengan soal tak boleh membuka dan melihat aurat dan
karena itu orang bikin aturan soal aurat perempuan lewat perda-perda?

Menutup aurat dalam arti semua tubuh tertutup itu baik saja. Namun belum
tentu kalau yang disebut aurat itu kelihatan, hal itu tidak baik. Aurat
memiliki batasan maksimal dan minimal. Nah bukan berarti batasan minimal
itu salah. Kesalahan RUU yang ingin mengatur itu
adalah: menyamakan batasan maksimal dan minimal dalam persoalan aurat.
Sikap itu merupakan cara pandang yang salah. Kemudian, yang disebut
aurat itu juga perlu dirumuskan dulu sebagai apa. Cara pandang seorang
sufi berbeda dengan ahli syara' tentang aurat, demikian juga dengan cara
pandang seorang budayawan. Tukang pakaian melihatnya beda lagi; kalau
dia tak bisa meraba-raba, bagaimana bisa jadi pakaian. ha-ha-ha..
Batasan dokter beda lagi. Kerjanya kan ngutak-ngutik, dan buka-buka
aurat, itu, he-he-he.

Saya juga heran, mengapa aurat selalu identik dengan perempuan. Itu
tidak benar. Katanya, perempuan bisa merangsang syahwat, karena itu
tidak boleh dekat-dekat, tidak patut salaman. Wah. saya tiap pagi selalu
kedatangan tamu. Kadang-kadang gadis-gadis dan ibu-ibu. Itu bisa sampai
dua bis. Mereka semua salaman dengan saya. Masak saya langsung
terangsang dan ingin ngawinin mereka semua?! Ha-ha-ha.. Oleh karena itu,
kita harus hati-hati. Melihat perempuan tidak boleh hanya sebagai objek
seksual. Perempuan itu sama dengan laki-laki; sosok makhluk yang utuh.
Jangan melihatnya dari satu aspek saja, apalagi cuma aspek seksualnya.

JIL: Sekarang tentang SKB pendirian rumah ibadah. SKB itu sudah
disahkan. Bagaimana tanggapan Gus Dur terhadap revisi SKB itu?

Begini, kita harus hati-hati terhadap dua hal yang saling bertentangan.
Di satu pihak, ada keinginan mencegah dampak kegiatan beragama yang
belum ada aturannya. Karena itu, diperlukan persetujuan dari berbagai
pihak soal jumlahnya sekian-sekian (soal quota pengaju pembangunan rumah
ibadah, Red). Kedua, soal memberi hak kepada siapapun untuk melakukan
ibadah. Di sini terjadi persinggungan.

Tapi persoalan sesungguhnya saya lihat ada pada birokrasi. Selama ini,
saya menganggap birokrat-birokrat kita pilih kasih. Permintaan agama A
akan disetujui oleh birokrat yang beragama A saja. Kalau begini terus,
negara kita akan kacau-balau. Karena itu, sebelum menetapkan suatu
keputusan, isu-isu perlu dibicarakan bersama secara serius. Kita tahu
sendirilah, Departemen Agama itu adalah departemen yang paling brengsek.
Hal lain, pemerintah tidak boleh campur terlalu banyak dalam soal-soal
agama, karena itu akan menggiring kita menjadi negara agama.

JIL: Revisi SKB ini muncul dari ribut-ribut soal pendirian rumah ibadah
yang konon serampangan?

Pandangan itu muncul dari keadaan yang morat-marit, bukan keadaan yang
benar. Memang ada saja orang yang semau-maunya membangun rumah ibadah.
Hal itu sebetulnya bersifat teknis dan sumir. Dan soal itu mestinya bisa
ditentukan dan dimediasi oleh kepala daerah masing-masing, bukan oleh
peraturan. Dan, peraturan yang sudah ada saja yang dijalankan. Kalau ada
pelanggaran aturan, bawa ke pengadilan. Jangan diselesaian
sendiri-sendiri. Kita ini hidup di negara hukum.

JIL: Kalau diserahkan pada kepala daerah, nanti bisa mirip SK Gubernur
Jawa Barat yang tidak adil dong, Gus?

Kalau seperti itu, gubernurnya yang kita tuntut. Jangan peraturannya
yang dikorbankan. Masak jadi gubernur kaya gitu?!

JIL: Gus, saat ini marak konflik Sunni-Syiah di Irak. Banyak masjid
dibom dan antar muslim saling berseteru. Sebenarnya, bagaimana
asal-muasal sejarah konflik Syiah-Sunni?

Konflik itu muncul akibat doktrin agama yang dimanipulasi secara
politis. Sejarah mengabarkan pada kita, dulu muncul peristiwa penganiaan
terhadap menantu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya.
Keluarga inilah yang disebut Ahlul Bayt, dan mereka memiliki pendukung
fanatik. Pendukung atau pengikut di dalam bahasa Arab disebut sy `ah.
Selanjutnya kata sy `ah ini menjadi sebutan dan identitas bagi pengikut
Ali yang pada akhirnya menjadi salah satu firkah teologis dalam Islam.
Sedangkan pihak yang menindas Ali dan pengikutnya dikenal dengan sebutan
Sunni.

Persoalan sesungguhnya waktu itu adalah tentang perebutan kekuasaan atau
persoalan politik. Namun doktrin agama dibawa-bawa. Maka dari itu,
janganlah bawa-bawa agama dalam masalah politik. Jadinya akan seperti
itu; campur-aduk tidak karuan. Kaum Syiah, tidak terima dengan
penindasan itu, dan mereka terus-menerus menyusun kekuatan dan ingin
merebut kekuasaan. Dan waktu itu pula, kekuasaan Islam dipimpin oleh
pemimpin-pemimpin Sunni yang sangat kejam dan memusuhi Syiah, seperti
Khalifah Yazid bin Mu'awiyah di Damaskus. Contoh dari kekejaman dia
adalah melakukan pembantaian terhadap Husein bin Ali berserta keluarga
dan pengikutnya di Padang Karbala. Bayangkan, padahal Husein adalah cucu
Rasulullah dan putra Ali bin Abi Thalib.

Yazid juga mengangkat seorang gubernur Irak yang sangat kejam, namanya
Yusuf Hajjaj al-Tsaqafi. Nah, penindasan terhadap kaum Syiah berlangsung
selama berabad-abad, dan alasannya lebih karena soal kekuasaan. Salah
satu jalan keluar dari konflik ini adalah: jangan bawa-bawa agama dalam
persoalan politik. Dan persoalan hubungan Syiah dan Sunni di Irak
mestinya dilihat sebagai problem politik, bukan problem agama.

JIL: Jadi konflik itu bisa dianggap konflik politik yang dijubahi agama?

Iya. Menurut saya, klaim teologis tidak bisa jadi klaim politik. Kalau
ini disepelekan, akan terjadi seperti yang kita saksikan saat ini.
Misalnya, kaum Syiah mengatakan bahwa garis kepemimpinan (politik) hanya
ada pada keturunan Nabi. Kalangan Syiah juga menganggap mereka maksum
(tidak bisa salah). Di pihak lain, ada pendapat yang berusaha menafikan
keturunan nabi, bahkan memusuhi, karena dianggap berpotensi merebut
kekuasaan.

Kalau saya sih mudah-mudah saja; berada di antara dua pendapat di atas.
Saya cukup menghormati keturunan Nabi. Demikian juga sikap NU; dua
pendapat ekstrem itu tidak diikuti. Tegasnya, kami memiliki tradisi
mencintai keturunan Nabi, bukan semata-mata karena soal ketertundukan
(the degree of obedience) politik. Apakah harus tunduk secara politik
pada keturunan Nabi itu menjadi kewajiban agama atau tidak? Kelompok
yang menganggap ketundukan itu bagian dari agama disebut Syiah,
sementara yang menganggapnya sebagai persoalan sosiologis, disebut
Sunni. Nah, dalam Sunni ini ada yang kadar sosiologisnya dalam melihat
persolan kuat, dan ada juga yang tidak.

JIL: Kita kembali ke persoalan negeri kita. Sekarang ada
kelompok-kelompok yang sangat rajin melakukan tindak kekerasan, ancaman,
intimidasi, dan lain-lain terhadap kelompok yang mereka tuding melakukan
penodaan atau penyimpangan agama. Gus Dur menanggapinya bagaimana?

Tidak bisa begitu. Cara itu tidak benar dan melanggar ajaran Islam.
Tidak bisa melakukan penghakiman dan kekerasan terhadap kelompok lain
atas dasar perbedaan keyakinan. Siapa yang tahu hati dan niat orang.
Tidak ada itu yang namanya pengadilan terhadap keyakinan. Keyakinan itu
soal batin manusia, sementara kita hanya mampu melihat sisi lahirnya.
Nabi saja bersabda, nahnu nahkum bil dlaw hir walL h yatawalla al-sar
'ir (kami hanya melihat sisi lahiriah saja, dan Allah saja yang berhak
atas apa yang ada di batin orang, Red). Sejak dulu, kelompok yang suka
dengan cara kekerasan itu memang mengklaim diri sedang membela Islam,
membela Tuhan. Bagi saya, Tuhan itu tidak perlu dibela!

JIL: Kalau orang muslim tidak melaksanakan syariat Islam seperti salat
atau ibadah wajib lain, diapakan, Gus?

Begini ya. Saya sudah lama mengenalkan beberapa istilah penting dalam
melihat persoalan keberagamaan dalam masyarakat kita. Golongan muslim
yang taat pada masalah ritual, biasanya kita sebut golongan santri.
Namun ada golongan lain yang kurang, bahkan tidak menjalankan ritual
agama. Mereka ini biasanya disebut kaum abangan, atau penganut agama
Kejawen. Lantas, kita mau menyebut golongan kedua ini kafir? Tidak benar
itu!

Saya baru saja yakin bahwa Kejawen itu Islam. Baru setengah tahun ini.
Saya baru yakin ketika mendengarkan lagu-lagunya Slamet Gundono (seorang
dalang wayang suket kondang, Red). Saya baru paham betul; ooh, begitu
toh Kejawen. Inti ajarannya sama saja dengan Islam. Bedanya ada pada
pelaksanaan ritual keagamaan. Kesimpulannya begini: Kejawen dan Islam
itu akidahnya sama, tapi syariatnya berbeda. Penganut Kejawen itu Islam
juga, cuma bukan Islam santri.
Gitu loh. selesai, kan?



Komentar tidak komentar tetep thank you.....
Razz Laughing Razz
Back to top
View user's profile Send private message
GuardOfHeaven



Joined: 15 Nov 2005
Posts: 65

PostPosted: Sat, 06-05-2006 2:23 pm    Post subject: Reply with quote

sekedar ingin mengingatkan sesama teman kristiani... tolong kalau mengutip tulisan orang HATI-HATI.. salah-salah anda bisa dituduh memfitnah...
ini artikel asli milik Jaringan Islam Liberal (JIL) yang tampaknya dikutip teman anda itu..

http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1036

bagian berikut ini (dalam kutipan anda) tidak ada di artikel aslinya... aku gak ngerti siapa yang menambah... atau siapa yang menghapus bagian tersebut... aku gak mau main tuduh...:

Quote:
Saya mau cerita. Dulu saya pernah ribut di Dewan Pustaka dan Bahasa di
Kuala Lumpur Malaysia. Waktu itu saya diundang Prof. Husein Al-Attas
untuk membicarakan tema Sastra Islam dan Pornografi. Nah, saya ributnya
dengan Siddik Baba. Dia sekarang menjadi pembantu rektor di Universitas
Islam Internasional Malaysia. Menurut dia, yang disebut karya sastra
Islam itu harus sesuai dengan syariat dan etika Islam. Karya-karya yang
menurutnya cabul bukanlah karya sastra Islam. Saya tidak setuju dengan
pendapat itu. Kemudian saya mengulas novel sastrawan Mesir, Naguib
Mahfouz, berjudul Zuqaq Midaq (Lorong Midaq), yang mengisahkah pola
kehidupan di gang-gang sempit di Mesir. Tokoh sentralnya adalah seorang
pelacur. Dan pelacur yang beragama Islam itu bisa dibaca pergulatan
batinnya dari novel itu. Apakah buku itu tidak bisa disebut sebuah karya
Islam hanya karena ia menceritakan kehidupan seorang pelacur? Ia jelas
produk seorang sastrawan brilian yang beragama Islam. Aneh kalau novel
itu tidak diakui sebagai sastra Islam.

JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini
bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci
yang porno?

Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah
Alqur'an, ha-ha-ha.. (tertawa terkekeh-kekeh).

JIL: Maksudnya?

Loh, jelas kelihatan sekali. Di Alqur'an itu ada ayat tentang menyusui
anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti
itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini.
Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha.





Quote:

Saya juga heran, mengapa aurat selalu identik dengan perempuan. Itu
tidak benar. Katanya, perempuan bisa merangsang syahwat, karena itu
tidak boleh dekat-dekat, tidak patut salaman. Wah. saya tiap pagi selalu
kedatangan tamu. Kadang-kadang gadis-gadis dan ibu-ibu. Itu bisa sampai
dua bis. Mereka semua salaman dengan saya. Masak saya langsung
terangsang dan ingin ngawinin mereka semua?! Ha-ha-ha.. Oleh karena itu,
kita harus hati-hati. Melihat perempuan tidak boleh hanya sebagai objek
seksual. Perempuan itu sama dengan laki-laki; sosok makhluk yang utuh.
Jangan melihatnya dari satu aspek saja, apalagi cuma aspek seksualnya.

JIL: Sekarang tentang SKB pendirian rumah ibadah. SKB itu sudah
disahkan. Bagaimana tanggapan Gus Dur terhadap revisi SKB itu?

Begini, kita harus hati-hati terhadap dua hal yang saling bertentangan.
Di satu pihak, ada keinginan mencegah dampak kegiatan beragama yang
belum ada aturannya. Karena itu, diperlukan persetujuan dari berbagai
pihak soal jumlahnya sekian-sekian (soal quota pengaju pembangunan rumah
ibadah, Red). Kedua, soal memberi hak kepada siapapun untuk melakukan
ibadah. Di sini terjadi persinggungan.

Tapi persoalan sesungguhnya saya lihat ada pada birokrasi. Selama ini,
saya menganggap birokrat-birokrat kita pilih kasih. Permintaan agama A
akan disetujui oleh birokrat yang beragama A saja. Kalau begini terus,
negara kita akan kacau-balau. Karena itu, sebelum menetapkan suatu
keputusan, isu-isu perlu dibicarakan bersama secara serius. Kita tahu
sendirilah, Departemen Agama itu adalah departemen yang paling brengsek.
Hal lain, pemerintah tidak boleh campur terlalu banyak dalam soal-soal
agama, karena itu akan menggiring kita menjadi negara agama.

JIL: Revisi SKB ini muncul dari ribut-ribut soal pendirian rumah ibadah
yang konon serampangan?

Pandangan itu muncul dari keadaan yang morat-marit, bukan keadaan yang
benar. Memang ada saja orang yang semau-maunya membangun rumah ibadah.
Hal itu sebetulnya bersifat teknis dan sumir. Dan soal itu mestinya bisa
ditentukan dan dimediasi oleh kepala daerah masing-masing, bukan oleh
peraturan. Dan, peraturan yang sudah ada saja yang dijalankan. Kalau ada
pelanggaran aturan, bawa ke pengadilan. Jangan diselesaian
sendiri-sendiri. Kita ini hidup di negara hukum.

JIL: Kalau diserahkan pada kepala daerah, nanti bisa mirip SK Gubernur
Jawa Barat yang tidak adil dong, Gus?

Kalau seperti itu, gubernurnya yang kita tuntut. Jangan peraturannya
yang dikorbankan. Masak jadi gubernur kaya gitu?!

JIL: Gus, saat ini marak konflik Sunni-Syiah di Irak. Banyak masjid
dibom dan antar muslim saling berseteru. Sebenarnya, bagaimana
asal-muasal sejarah konflik Syiah-Sunni?

Konflik itu muncul akibat doktrin agama yang dimanipulasi secara
politis. Sejarah mengabarkan pada kita, dulu muncul peristiwa penganiaan
terhadap menantu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya.
Keluarga inilah yang disebut Ahlul Bayt, dan mereka memiliki pendukung
fanatik. Pendukung atau pengikut di dalam bahasa Arab disebut sy `ah.
Selanjutnya kata sy `ah ini menjadi sebutan dan identitas bagi pengikut
Ali yang pada akhirnya menjadi salah satu firkah teologis dalam Islam.
Sedangkan pihak yang menindas Ali dan pengikutnya dikenal dengan sebutan
Sunni.

Persoalan sesungguhnya waktu itu adalah tentang perebutan kekuasaan atau
persoalan politik. Namun doktrin agama dibawa-bawa. Maka dari itu,
janganlah bawa-bawa agama dalam masalah politik. Jadinya akan seperti
itu; campur-aduk tidak karuan. Kaum Syiah, tidak terima dengan
penindasan itu, dan mereka terus-menerus menyusun kekuatan dan ingin
merebut kekuasaan. Dan waktu itu pula, kekuasaan Islam dipimpin oleh
pemimpin-pemimpin Sunni yang sangat kejam dan memusuhi Syiah, seperti
Khalifah Yazid bin Mu'awiyah di Damaskus. Contoh dari kekejaman dia
adalah melakukan pembantaian terhadap Husein bin Ali berserta keluarga
dan pengikutnya di Padang Karbala. Bayangkan, padahal Husein adalah cucu
Rasulullah dan putra Ali bin Abi Thalib.

Yazid juga mengangkat seorang gubernur Irak yang sangat kejam, namanya
Yusuf Hajjaj al-Tsaqafi. Nah, penindasan terhadap kaum Syiah berlangsung
selama berabad-abad, dan alasannya lebih karena soal kekuasaan. Salah
satu jalan keluar dari konflik ini adalah: jangan bawa-bawa agama dalam
persoalan politik. Dan persoalan hubungan Syiah dan Sunni di Irak
mestinya dilihat sebagai problem politik, bukan problem agama.

JIL: Jadi konflik itu bisa dianggap konflik politik yang dijubahi agama?

Iya. Menurut saya, klaim teologis tidak bisa jadi klaim politik. Kalau
ini disepelekan, akan terjadi seperti yang kita saksikan saat ini.
Misalnya, kaum Syiah mengatakan bahwa garis kepemimpinan (politik) hanya
ada pada keturunan Nabi. Kalangan Syiah juga menganggap mereka maksum
(tidak bisa salah). Di pihak lain, ada pendapat yang berusaha menafikan
keturunan nabi, bahkan memusuhi, karena dianggap berpotensi merebut
kekuasaan.

Kalau saya sih mudah-mudah saja; berada di antara dua pendapat di atas.
Saya cukup menghormati keturunan Nabi. Demikian juga sikap NU; dua
pendapat ekstrem itu tidak diikuti. Tegasnya, kami memiliki tradisi
mencintai keturunan Nabi, bukan semata-mata karena soal ketertundukan
(the degree of obedience) politik. Apakah harus tunduk secara politik
pada keturunan Nabi itu menjadi kewajiban agama atau tidak? Kelompok
yang menganggap ketundukan itu bagian dari agama disebut Syiah,
sementara yang menganggapnya sebagai persoalan sosiologis, disebut
Sunni. Nah, dalam Sunni ini ada yang kadar sosiologisnya dalam melihat
persolan kuat, dan ada juga yang tidak.

JIL: Kita kembali ke persoalan negeri kita. Sekarang ada
kelompok-kelompok yang sangat rajin melakukan tindak kekerasan, ancaman,
intimidasi, dan lain-lain terhadap kelompok yang mereka tuding melakukan
penodaan atau penyimpangan agama. Gus Dur menanggapinya bagaimana?

Tidak bisa begitu. Cara itu tidak benar dan melanggar ajaran Islam.
Tidak bisa melakukan penghakiman dan kekerasan terhadap kelompok lain
atas dasar perbedaan keyakinan. Siapa yang tahu hati dan niat orang.
Tidak ada itu yang namanya pengadilan terhadap keyakinan. Keyakinan itu
soal batin manusia, sementara kita hanya mampu melihat sisi lahirnya.
Nabi saja bersabda, nahnu nahkum bil dlaw hir walL h yatawalla al-sar
'ir (kami hanya melihat sisi lahiriah saja, dan Allah saja yang berhak
atas apa yang ada di batin orang, Red). Sejak dulu, kelompok yang suka
dengan cara kekerasan itu memang mengklaim diri sedang membela Islam,
membela Tuhan. Bagi saya, Tuhan itu tidak perlu dibela!

JIL: Kalau orang muslim tidak melaksanakan syariat Islam seperti salat
atau ibadah wajib lain, diapakan, Gus?

Begini ya. Saya sudah lama mengenalkan beberapa istilah penting dalam
melihat persoalan keberagamaan dalam masyarakat kita. Golongan muslim
yang taat pada masalah ritual, biasanya kita sebut golongan santri.
Namun ada golongan lain yang kurang, bahkan tidak menjalankan ritual
agama. Mereka ini biasanya disebut kaum abangan, atau penganut agama
Kejawen. Lantas, kita mau menyebut golongan kedua ini kafir? Tidak benar
itu!

Saya baru saja yakin bahwa Kejawen itu Islam. Baru setengah tahun ini.
Saya baru yakin ketika mendengarkan lagu-lagunya Slamet Gundono (seorang
dalang wayang suket kondang, Red). Saya baru paham betul; ooh, begitu
toh Kejawen. Inti ajarannya sama saja dengan Islam. Bedanya ada pada
pelaksanaan ritual keagamaan. Kesimpulannya begini: Kejawen dan Islam
itu akidahnya sama, tapi syariatnya berbeda. Penganut Kejawen itu Islam
juga, cuma bukan Islam santri.
Gitu loh. selesai, kan?



saya juga tak tahu apakah ini menggabungkan 2 topik berbeda... tampaknya tidak..

terimakasih...damai kristus..
Back to top
View user's profile Send private message
Anthonius_Felix



Joined: 17 Dec 2005
Posts: 328
Location: Everywhere, Everytime

PostPosted: Sun, 07-05-2006 7:59 pm    Post subject: Reply with quote

huh...apa?fitnah?...emangnya mereka selama ini apakah tidak mefitnah, menjelekkan, menghina kita yang ada disini....liat dooonk di forum-forum mereka, bagaimana dengan sombongnya mereka mengklaim kita....kita ini istilahnya hanya melempar mereka dengan kerikil kecil, tapi mereka melempar kita dengan ribuan bongkah batu yang besar....kalau mau marah, silakan marah sama Gus Dur dan islam Liberalnya, karena Gus Dur yang paling vokal diantara semuanya, dia juga menentang SKB bersama tentang pendirian tempat ibadah, tidak menyetujui RUU APP, mengecam tindakan FPI dan FBR yang membuat onar dan anarkis itu?
Aku khan udah bilang, sorry kalau ikut2an copy paste, toh itu khan email dari temenku barangkali ada tanggapan disini.... Evil or Very Mad Evil or Very Mad Evil or Very Mad Evil or Very Mad Evil or Very Mad
Back to top
View user's profile Send private message
GuardOfHeaven



Joined: 15 Nov 2005
Posts: 65

PostPosted: Tue, 16-05-2006 7:57 pm    Post subject: Reply with quote

Anthonius_Felix wrote:
huh...apa?fitnah?...emangnya mereka selama ini apakah tidak mefitnah, menjelekkan, menghina kita yang ada disini....liat dooonk di forum-forum mereka, bagaimana dengan sombongnya mereka mengklaim kita....kita ini istilahnya hanya melempar mereka dengan kerikil kecil, tapi mereka melempar kita dengan ribuan bongkah batu yang besar....kalau mau marah, silakan marah sama Gus Dur dan islam Liberalnya, karena Gus Dur yang paling vokal diantara semuanya, dia juga menentang SKB bersama tentang pendirian tempat ibadah, tidak menyetujui RUU APP, mengecam tindakan FPI dan FBR yang membuat onar dan anarkis itu?
Aku khan udah bilang, sorry kalau ikut2an copy paste, toh itu khan email dari temenku barangkali ada tanggapan disini.... Evil or Very Mad Evil or Very Mad Evil or Very Mad Evil or Very Mad Evil or Very Mad



ingat ajaran Yesus soal 'jika ditampar pipi kirimu, berikan pipi kananmu'??... gak ada gunanya kita saling balas fitnah... gak ada gunanya kita ekspos keburukan islam, seperti mereka burukkan kita dalam majalah2 mereka seperti "Sabili" dsb...
gak ada manfaatnya kalau seperti itu (ini pendapatku, kalau ada yang ga setuju silahkan aja)... kita gak harus "mana yang lebih heboh buruknya.. kita atau mereka?" biarkan aja mereka dengan kebiasaan mereka itu. they are doing what they are taught to do... so we should do the same... remember what Jesus taught us... do it...
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Page 1 of 1

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17