FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Sekolah Katolik, quo vadis ?    
Goto page: Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Ignaz



Joined: 20 Jun 2007
Posts: 883

PostPosted: Thu, 28-06-2007 9:23 am    Post subject: Sekolah Katolik, quo vadis ? Reply with quote

Temen-temen, aku mau minta pendapat kalian tentang sekolah Katolik, apalagi sebentar lagi banyak diantara kita yang akan berpusing-pusing ria mencarikan sekolah buat anak-anak kita. Sebagai orang Katolik, tentu saja kita "wajib" menyekolahkan anak kita ke sekolah Katolik.
Berbeda dengan di kota besar, dimana sekolah Katolik banyak yang menjadi sekolah favorit yang menjadi incaran banyak calon siswa, tapi di kota kecil, tidak jarang sekolah Katolik kekurangan murid, walaupun umat Katolik di daerah tersebut cukup banyak.
Selain imej positip sekolah Katolik seperti "disiplin", "mandiri", "murid pintar" dan sebagainya, namun terutama sejak krisis moneter tahun 1998, cukup banyak sekolah Katolik di daerah yang hidup segan mati tak mau.
Salah satu sebabnya adalah sekolah Katolik dianggap mahal. Aku pernah menjadi pengurus komite SD Katolik di kotaku. Memang cukup dilematis. Di satu sisi beban operasional sekolah membengkak, mulai dari biaya listrik, gaji guru, pengembangan SDM guru. Pos ini biasanya diambilkan dari uang sekolah bulanan, sedangkan untuk perawatan gedung, subsidi silang ke sekolah Katolik lain dalam satu yayasan dll, diambilkan dari Uang Pangkal siswa baru.
Karena beban operasional bertambah, logikanya pemasukan harus naik, berarti uang sekolah dan uang Pangkal naik. Kalau kedua pemasukan ini naik, otomatis membuat orang tua siswa dan calon siswa semakin terbeban karena mahal, akibatnya mereka memindahkan ke sekolah lain yang lebih murah biayanya, sekolah negeri misalnya. Akibatnya jumlah calon siswa yang masuk ke sekolah tersebut menjadi berkurang, akibatnya uang sekolah naik, dan seterusnya bagaikan lingkaran setan.
Belum lagi banyaknya pemain sinetron baru, calon orang tua murid saat wawancara uang gedung akan berperan menjadi orang miskin, agar uang gedung dan uang sekolah anaknya serendah mungkin.

Kadang iri juga dengan sekolah kristen, bila mereka ada masalah keuangan, mereka akan datang ke gereja, kemudian pendeta akan mengumumkan saat kebaktian, dan mengalirlah dana sebagai salah satu bentuk perpuluhan jemaat untuk disumbangkan ke sekolah kristen tersebut. Di GK, agak sulit karena romo paroki terbentur masalah birokrasi struktural, maksudnya sekolah tersebut milik Yayasan Katolik, sehingga dukungan yang dapat dilakukan oleh romo paroki sebatas menghimbau umat saja.

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya dari sekolah Katoliklah calon pemimpin Katolik di masa depan, karena disana diajarkan ajaran GK secara menyatu dengan kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Kalau di kota kecil, akan menjadi ironi bila sekolah Katolik tutup karena kekurangan murid, sementara umat tidak menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik. Bagaimana pendapat teman-teman.

Berkah Dalem.
Back to top
View user's profile Send private message
SanctusDominus



Joined: 05 Oct 2006
Posts: 328
Location: Surabaya

PostPosted: Thu, 28-06-2007 1:52 pm    Post subject: Reply with quote

Saya memang melihat bahwa di sekolah ada jurang pemisah antara yayasan dan orangtua. Ini yang seharusnya diberantas. Harus tercipta komunitas intim dari keduanya (yayasan dan ortu). Tanpa itu maka tidak akan bisa diselesaikan lingkaran setan ini. Apalagi sekolah tidak berada di bawah Gereja. Kalo sampai tidak terjadi komunitas tadi, maka sekolah hanya menjadi ladang bisnis, dan ortu menjadi sapi perahan saja. Ortu hanya menganggap uangnya untuk beli mobil pemilik yayasan, dan yayasan menganggap urusan selain menjalankan bisnis sekolah adalah ilegal. Tapi jika komunitas intim itu terbentuk, maka ortu akan melihat bahwa uangnya dipakai untuk pendidikan anak2 mereka dan anak2 orang lain, dan yayasan melihat bahwa ortu adalah tim yang solid bersama guru dalam membantu proses belajar-mengajar. Dan saya yakin, jika komunitas ini terbentuk, maka sekolah itu otomatis kualitasnya akan terangkat dengan sendirinya.

Kedua diperlukan keintiman dari komunitas yyasan-ortu tadi dengan Gereja Universal. Artinya jangan segan-segan komunitas tadi untuk membentuk semacam tim pencari dana (untuk sekolah minus) dan memperkenalkan diri ke Gereja Universal. Sehingga banyak orang tahu kondisi tersebut. Saya yakin Romo Paroki pasti mau membantu.

Ketiga, umat yang berada di kota besar juga jangan diam saja, harus menyadari kondisi di luar kota, dan harus mulai mencoba membentuk tim-tim pengumpul bantuan (bisa dana, bisa pakaian). Saya pernah ikut tim semacam ini - yang salah satu bantuannya pernah disalurkan ke Yayasan Karmel Malang yang dipimpin (kalo belum ganti) oleh Rm. Hudiono, pr.

--- Sekedar cerita soal Yayasan Karmel Malang
Yayasan Karmel Malang ini menangani banyak sekolah Katolik [yang dulu didirikan oleh para bruder/romo oCarm] di pelosok-pelosok desa dr Malang Selatan (Karangkates) hingga daerah Banyuwangi-Bondowoso-Jember. Saya pernah ikut rm.Hudiono berkunjung ke pelosok-pelosok desa itu, melihat-lihat kondisi sekolah, para murid dan ortunya. Memang parah sekali.

Tapi saya sungguh salut sama usaha romo untuk memperkenalkan kondisi tersebut. Dan usaha beliau untuk mencari dana (yang saya tahu), mulai dari

1. Jual-beli sembako (ikan segar, beras, tepung dari desa dijual ke Malang)

2. jual-beli pakaian (pakaian (semuanya sumbangan) diambil dari kota lalu dijual di desa dalam bentuk acara pasar murah di sekolah)
Pakaian yang tidak layak dijual, akan diubah menjadi kain pel, atau apapun, pokoknya tidak ada yang terbuang percuma.
------------------------

Sejak menikah 4 thn yang lalu emang saya menjauhkan diri dari kegiatan-kegiatan semacam ini (tim pengumpul bantuan). Entah mengapa saya sekarang lebih suka ngumpul aja di rumah, ngelihat anak2.

Hanya kadang-kadang saja, saya menyalurkan orang-orang yang pengin menyalurkan bantuan ke beberapa kontak yang pernah saya tahu. Namun akhir2 ini pun saya mulai kehilangan kontak2 itu. Ya namanya saja mengasingkan diri.

Dengan sekolah anak saya pun, sebenarnya ada keinginan saya untuk membentuk komunitas itu - karena saya menganggap guru adalah pengganti ortu di sekolah, jadi saya perlu tahu kondisi anak, namun dari guru pun sudah ada upaya penutupan diri, jadi saya pun malas membangun hal itu. Hingga muncul konsep fatalisme, "jadilah apa yang mau terjadi".

===================
Pernah ada impian dengan beberapa teman KMK waktu kuliah dulu, untuk membangun sekolah (Playgroup-TK) sendiri dan tidak menggunakan konsep bisnis, tapi konsep keluarga - keluarga Katolik. Yah, sampai detik ini masih hanya sebatas impian.
===================
_________________
Sanctus Sanctus Sanctus Dominus Deus Sabaoth


Last edited by SanctusDominus on Thu, 28-06-2007 1:53 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
Ignaz



Joined: 20 Jun 2007
Posts: 883

PostPosted: Fri, 29-06-2007 12:08 pm    Post subject: Reply with quote

SanctusDominus wrote:
Saya memang melihat bahwa di sekolah ada jurang pemisah antara yayasan dan orangtua. Ini yang seharusnya diberantas. Harus tercipta komunitas intim dari keduanya (yayasan dan ortu). Tanpa itu maka tidak akan bisa diselesaikan lingkaran setan ini. Apalagi sekolah tidak berada di bawah Gereja. Kalo sampai tidak terjadi komunitas tadi, maka sekolah hanya menjadi ladang bisnis, dan ortu menjadi sapi perahan saja. Ortu hanya menganggap uangnya untuk beli mobil pemilik yayasan, dan yayasan menganggap urusan selain menjalankan bisnis sekolah adalah ilegal. Tapi jika komunitas intim itu terbentuk, maka ortu akan melihat bahwa uangnya dipakai untuk pendidikan anak2 mereka dan anak2 orang lain, dan yayasan melihat bahwa ortu adalah tim yang solid bersama guru dalam membantu proses belajar-mengajar. Dan saya yakin, jika komunitas ini terbentuk, maka sekolah itu otomatis kualitasnya akan terangkat dengan sendirinya.

Kedua diperlukan keintiman dari komunitas yyasan-ortu tadi dengan Gereja Universal. Artinya jangan segan-segan komunitas tadi untuk membentuk semacam tim pencari dana (untuk sekolah minus) dan memperkenalkan diri ke Gereja Universal. Sehingga banyak orang tahu kondisi tersebut. Saya yakin Romo Paroki pasti mau membantu.


Sebetulnya di beberapa sekolah ada komunitas yang menjembatani antara Yayasan-Sekolah-Orangtua, namanya macam-macam ada yang BP3, Mitra, Komite Sekolah dll, dimana anggotanya adalah para orang tua/tokoh masyarakat yang peduli dengan pendidikan sekolah Katolik.

SanctusDominus wrote:
Ketiga, umat yang berada di kota besar juga jangan diam saja, harus menyadari kondisi di luar kota, dan harus mulai mencoba membentuk tim-tim pengumpul bantuan (bisa dana, bisa pakaian). Saya pernah ikut tim semacam ini - yang salah satu bantuannya pernah disalurkan ke Yayasan Karmel Malang yang dipimpin (kalo belum ganti) oleh Rm. Hudiono, pr.

--- Sekedar cerita soal Yayasan Karmel Malang
Yayasan Karmel Malang ini menangani banyak sekolah Katolik [yang dulu didirikan oleh para bruder/romo oCarm] di pelosok-pelosok desa dr Malang Selatan (Karangkates) hingga daerah Banyuwangi-Bondowoso-Jember. Saya pernah ikut rm.Hudiono berkunjung ke pelosok-pelosok desa itu, melihat-lihat kondisi sekolah, para murid dan ortunya. Memang parah sekali.

Tapi saya sungguh salut sama usaha romo untuk memperkenalkan kondisi tersebut. Dan usaha beliau untuk mencari dana (yang saya tahu), mulai dari

1. Jual-beli sembako (ikan segar, beras, tepung dari desa dijual ke Malang)

2. jual-beli pakaian (pakaian (semuanya sumbangan) diambil dari kota lalu dijual di desa dalam bentuk acara pasar murah di sekolah)
Pakaian yang tidak layak dijual, akan diubah menjadi kain pel, atau apapun, pokoknya tidak ada yang terbuang percuma.


Memang mengurus pendidikan, apalagi sekolah Katolik, tidaklah mudah, karena selain mendidik, juga semangat Katolik harus menjiwai setiap kegiatan yang dilakukan, seperti kepedulian kepada KMLT (Kaum Miskin Lemah dan Tersingkir). Berbeda dengan sekolah yang sekular yang dikelola secara bisnis, relatif bebas menentukan segmen pasarnya.

SanctusDominus wrote:

Sejak menikah 4 thn yang lalu emang saya menjauhkan diri dari kegiatan-kegiatan semacam ini (tim pengumpul bantuan). Entah mengapa saya sekarang lebih suka ngumpul aja di rumah, ngelihat anak2.

Hanya kadang-kadang saja, saya menyalurkan orang-orang yang pengin menyalurkan bantuan ke beberapa kontak yang pernah saya tahu. Namun akhir2 ini pun saya mulai kehilangan kontak2 itu. Ya namanya saja mengasingkan diri.

Dengan sekolah anak saya pun, sebenarnya ada keinginan saya untuk membentuk komunitas itu - karena saya menganggap guru adalah pengganti ortu di sekolah, jadi saya perlu tahu kondisi anak, namun dari guru pun sudah ada upaya penutupan diri, jadi saya pun malas membangun hal itu. Hingga muncul konsep fatalisme, "jadilah apa yang mau terjadi".

===================
Pernah ada impian dengan beberapa teman KMK waktu kuliah dulu, untuk membangun sekolah (Playgroup-TK) sendiri dan tidak menggunakan konsep bisnis, tapi konsep keluarga - keluarga Katolik. Yah, sampai detik ini masih hanya sebatas impian.
===================


Tidak mudah untuk mendobrak "kultur" tersebut, apalagi kalau ada penolakan guru, belum lagi munculnya "cibiran" dari sesama orang tua murid, karena dianggap kita mau "menjilat" guru agar anak kita diperhatikan dll. Saranku, bentuk kelompok kecil beberapa orangtua murid yang peduli dan sehati (inipun tidak mudah, karena bisa aja ada beda kepentingan) dan berbicara dengan kepsek atau pengurus yayasan.
Yang jelas tujuan kita haruslah jelas dan berusaha agar tidak jatuh dalam "godaan" (misal agar anak kita di"anakemas"kan dll)

Menurutku, sebagai umat Katolik, kita harus mempunyai kepedulian terhadap masalah sekolah Katolik, jangan NATO, namun secara nyata terjun di dalamnya (mis. sbg anggota komite sekolah dll). Bagaimanapun juga masa depan GK ada pada anak-anak kita yang bisa diperoleh melalui karya sekolah Katolik. Sungguh tidak lucu kita berbicara muluk-muluk namun kenyataan sekolah Katolik (terutama di daerah) kembang-kempis, hidup segan mati tak mau.

Yesus akan tersenyum lebar bila anda dapat merealisasikan impian mulia anda.

Bagaimana komentar ekaristiker lain ?

Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
Tertarik
== BANNED ==




Joined: 25 Apr 2007
Posts: 577

PostPosted: Fri, 29-06-2007 2:37 pm    Post subject: Reply with quote

Salam
Saya mau urun rembug sedikit.

Kebetulan sekali kedua orang tua saya bahkan kedua mertua saya menjadi guru di Yayasan Kanisius yg ada di Ja-Teng dan Yogya. Hingga saat ini hanya ibu saya yg masih aktif, ayah saya dan mertua saya sudah pensiun. Kebetulan juga TK, SD dan SMP saya di Yayasan Kanisius juga. jadi sedikit "sok tahu" tentang kondisi sekolah katolik.

Yang saya lihat adlah semakin sedikitnya sekolah yg dikelola Yayasan ini, padahal sampai tahun 80 an sungguh sangat jaya. Dikenal karena mengutamakan yg tidak mampu secara finansial dan terkenal pula karena mutu yg baik. Sayang sekali bahwa sekarang tinggal kenangan. Satu demi satu mulai ditutup. Bagi netter yg tinggal daerah Magelang dan sekitarnya dan berumur 30 an, pasti tidak akan asing lagi dengan SMP Kanisius Pendowo Magelang. SMP tersebut sudah kira2 10 tahun ditutup.

Selain kesulitan dana, juga kebijakan pemerintah yg membangun sekolah negeri tanpa melihat-lihat keberadaan sekolah swastalah, yang menyebabkan Yayasan Kanisius semakin mundur. Contohnya SMP St. Yusup Mertoyudan, dahulu bisa sampai 9 kelas penuh (40 murid/kelas), sekarang menurut Ibu saya yg menjadi guru di sekolah tersebut muridnya tinggal menghitung jari, setelah dibangun 2 SMP negeri (yg gratis) yg berdekatan dengan SMP ST. Yusup.

Kesulitan dana dan kesulitan murid, tentunya juga berpengaruh kepada kualitas sekolah itu sendiri. Sehingga menyebabkan keengganan dari siswa yg beragama katholik (yng memang jumlahnya sedikit) untuk sekolah di situ. Mereka lebih suka sekolah di SMP Negeri yg gratis dengan fasilitas yg lebih lengkap. Sehingga, dalam istilah Ibu saya, sekolah St. Yusup ibarat menggodok batu dengan fasilitas seadanya. Bagaimana mungkin akan berkembang.

Tetapi kita masih boleh mengharap dari sekolah2 Yayasan Katholik yg "kaya dan bermutu". Biasanya ada di Kota besar. Misalnya saja Tarakanita, De Britto, Stella Duce, Loyolla, Kanisius Jakrta, PL, Van Lith dsb. Masalahnya sekolah2 ini terkenal "mahal". Di sekolah2 inilah seharusnya masa depan Gereja Katholik di harapkan dapat terus menjadi terang dan garam bagi masyarakat.

Selain itu sekolah2 kejuruan yg dibawah Yayasan Katholik, menurut saya, belum bisa (dan semoga tidak bisa) digeser oleh sekolah2 kejuruan yg lain. misalnya: STM PL di Muntilan, STM ST. Michael di Solo, PIKA semarang, dsb.

Pendapat saya:
Alangkah baiknya kalau Yayasan2 Katholik mulai melirik sekolah2 kejuruan, selain sekolah pendidikan dasar di daerah yg banyak siswa katholiknya.
Bagi Orang tua Katholik, harap menyekolahkan di sekolah dasar (pendidikan dasar) yg katholik. Dan bagi sekolah2 katholik, siswa demikian harus mendapatkan prioritas dan bantuan.
Mengembangkan kesetiakawanansosial dengan mencoba menjadi orang tua asuh. Saya rasa orang Katholik yg berlebih di kota2 besar akan mampu untuk menjadi orang tua asuh. Banyak kesempatan untuk itu.

demikian pendapat saya.
maaf terlalu panjang.
_________________
Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
psh



Joined: 24 May 2006
Posts: 1063

PostPosted: Fri, 29-06-2007 2:55 pm    Post subject: guru Reply with quote

Ikut nimbrung ya, kebetulan saya saat ini saya juga guru sebuah SMA kristen dan pernah juga mengajar di beberapa sekolah lain termasuk sekolah katolik. Saya sendiri sejak kecil sekolah katolik TK - SD - SMP - SMA / Seminari terus keluar he-he dan malah kerjanya di sekolah kristen.

Menurut saya bukan hanya sekolah katolik tapi umumnya permasalahan pendidikan di negri ini makin hari makin kompleks. Apa karena globalisasi dan semakin sulitnya cari uang.

Tapi, jangan takut kaena masih ada ada harapan. saya yaki masih banyak sekolah baik katolik maupun non katolik yang punya idealisme.
_________________
CRESCAT ET FLOREAT
Back to top
View user's profile Send private message
Tertarik
== BANNED ==




Joined: 25 Apr 2007
Posts: 577

PostPosted: Fri, 29-06-2007 3:04 pm    Post subject: Reply with quote

Salam

menyambung tulisan saya sebelumnya, ternyata ada hal negatifnya sehubungan dengan semakin berkyurangnya sekolah katholik setingkat SD, SMP maupun SMA yaitu:

SEMAKIN SEDIKITNYA JUMLAH PANGGILAN MENJADI IMAM, BIARAWAN/WATI

Pengenalan iman katholik yg benar dan ketertarikan anak pada panggilan religius biasanya banyak ditanamkan di sekolah2 dasar, SMP maupun SMA Katholik. Maka semakin berkurangnya sekolah2 katolik berdampak kepada jumlah panggilan religius yg ada.

Kalau tidak salah saya pernah selintas menulis tentang kesulitan yg dialami Seminari Menengah Mertoyudan baik dalam hal dana maupun jumlah panggilan yg semakin turun (Kalo tidak salah ditopik ttg Rm. Mangun). Saya rasa usaha Alumni Merto baik yg jadi Imam dan Biarawan maupun yang mendapat panggilan berbeda good Job good Job untuk mencoba mencari dana dan menjadi donatur bagi Seminari Mertoyudan akan sangat baik kalau diimbangi oleh semakin banyaknya bibit panggilan yg ada. Para Alumni ini (para ExSem=Ex Seminaris) secara teratur berkumpul dlam acara Cripingan. Biasanya diadakan di Gedung Gramedia Palmerah. Yang merasa exsem bisa ikut sumbang apa saja (tidak hanya saran Ketawa Ngakak Ketawa Ngakak )

Kita tidak dapat banyak berharap bahwa pendidikan iman katholik yg cukup dan mengenalkan jalan panggilan sebagi Imam dan Biarawan/wati terjadi di sekolah non katholik. Ada hal yg menarik yg saya amati, hanya mengamati, bahwa akhir2 ini para Seminaris, baik Mertoyudan, Wacana Bakti, Bogor, Malang dsb banyak sekali dari kota yg ada sekolah menengah katholik.
Kalo zaman dahulu kebanyaan dari Klaten, Promasan, Wedi, Boro, atau daerah2 sekitar itu, sekarang mulai banyak dari kota Jakrta, Surabaya, Jogjakarta dsb. Tetapi walaupun demikian jumlah panggilan semakin berkurang seiring berkurangnya sekolah2 katholik di daerah2 yg justru diharapkan banyak panggilan yg terjadi.

Salam.
_________________
Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
Ignaz



Joined: 20 Jun 2007
Posts: 883

PostPosted: Fri, 29-06-2007 3:08 pm    Post subject: Reply with quote

Tertarik wrote:
Salam
Saya mau urun rembug sedikit.

Banyak juga boleh kok mas, ini masalah keprihatinan kita bersama.

[quote=]
Yang saya lihat adlah semakin sedikitnya sekolah yg dikelola Yayasan ini, padahal sampai tahun 80 an sungguh sangat jaya. Dikenal karena mengutamakan yg tidak mampu secara finansial dan terkenal pula karena mutu yg baik. Sayang sekali bahwa sekarang tinggal kenangan. Satu demi satu mulai ditutup. Bagi netter yg tinggal daerah Magelang dan sekitarnya dan berumur 30 an, pasti tidak akan asing lagi dengan SMP Kanisius Pendowo Magelang. SMP tersebut sudah kira2 10 tahun ditutup. [\quote]
Bener mas

[quote=]
Selain kesulitan dana, juga kebijakan pemerintah yg membangun sekolah negeri tanpa melihat-lihat keberadaan sekolah swastalah, yang menyebabkan Yayasan Kanisius semakin mundur. Contohnya SMP St. Yusup Mertoyudan, dahulu bisa sampai 9 kelas penuh (40 murid/kelas), sekarang menurut Ibu saya yg menjadi guru di sekolah tersebut muridnya tinggal menghitung jari, setelah dibangun 2 SMP negeri (yg gratis) yg berdekatan dengan SMP ST. Yusup.

Kesulitan dana dan kesulitan murid, tentunya juga berpengaruh kepada kualitas sekolah itu sendiri. Sehingga menyebabkan keengganan dari siswa yg beragama katholik (yng memang jumlahnya sedikit) untuk sekolah di situ. Mereka lebih suka sekolah di SMP Negeri yg gratis dengan fasilitas yg lebih lengkap. Sehingga, dalam istilah Ibu saya, sekolah St. Yusup ibarat menggodok batu dengan fasilitas seadanya. Bagaimana mungkin akan berkembang.
[/quote]
Yang pernah aku dengar, dulu, GK Indonesia dapat bantuan dana dari GK di luar negeri, ini karena banyak romo LN yang berkarya di Indonesia, sehingga mereka memakai jalur ini untuk mendapatkan bantuan dari donatur di LN.
Kalau dibilang dana memang iya, tapi menurutku yang penting adalah kepedulian dan "kefanatikan" umat Katolik untuk menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik yang kurang. Sebagai contoh ada SMU Katolik di kotaku yang murid-muridnya sebagian besar justru non Katolik. Dari satu sisi sih baik untuk evangelisasi, tapi disisi lain menjadi ironi, karena yang anak Katolik justru masuk ke SMU Negeri.

[quote=]
Tetapi kita masih boleh mengharap dari sekolah2 Yayasan Katholik yg "kaya dan bermutu". Biasanya ada di Kota besar. Misalnya saja Tarakanita, De Britto, Stella Duce, Loyolla, Kanisius Jakrta, PL, Van Lith dsb. Masalahnya sekolah2 ini terkenal "mahal". Di sekolah2 inilah seharusnya masa depan Gereja Katholik di harapkan dapat terus menjadi terang dan garam bagi masyarakat.

Selain itu sekolah2 kejuruan yg dibawah Yayasan Katholik, menurut saya, belum bisa (dan semoga tidak bisa) digeser oleh sekolah2 kejuruan yg lain. misalnya: STM PL di Muntilan, STM ST. Michael di Solo, PIKA semarang, dsb. [/quote]
Masalahnya menurut aku sering kali Yayasan Katolik satu sama lain justru bersaing untuk mendapatkan murid, apalagi yang satu kota terdapat lebih dari satu sekolah Katolik, padahal mestinya mereka berkolaborasi dalam berbagai hal, misalnya pengembangan SDM guru, kemudahan siswa dari sekolah Katolik masuk ke sekolah Katolik pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dsb.

[quote=]
Pendapat saya:
Alangkah baiknya kalau Yayasan2 Katholik mulai melirik sekolah2 kejuruan, selain sekolah pendidikan dasar di daerah yg banyak siswa katholiknya.
Bagi Orang tua Katholik, harap menyekolahkan di sekolah dasar (pendidikan dasar) yg katholik. Dan bagi sekolah2 katholik, siswa demikian harus mendapatkan prioritas dan bantuan.
Mengembangkan kesetiakawanansosial dengan mencoba menjadi orang tua asuh. Saya rasa orang Katholik yg berlebih di kota2 besar akan mampu untuk menjadi orang tua asuh. Banyak kesempatan untuk itu.[/quote]
Setuju mas Tertarik. Seharusnya begitu, lebih baik lagi kalau didukung dan melibatkan GK setempat.

Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
Ignaz



Joined: 20 Jun 2007
Posts: 883

PostPosted: Fri, 29-06-2007 3:19 pm    Post subject: Reply with quote

Tertarik wrote:
Salam

menyambung tulisan saya sebelumnya, ternyata ada hal negatifnya sehubungan dengan semakin berkyurangnya sekolah katholik setingkat SD, SMP maupun SMA yaitu:

SEMAKIN SEDIKITNYA JUMLAH PANGGILAN MENJADI IMAM, BIARAWAN/WATI

Pengenalan iman katholik yg benar dan ketertarikan anak pada panggilan religius biasanya banyak ditanamkan di sekolah2 dasar, SMP maupun SMA Katholik. Maka semakin berkurangnya sekolah2 katolik berdampak kepada jumlah panggilan religius yg ada.

Kalau tidak salah saya pernah selintas menulis tentang kesulitan yg dialami Seminari Menengah Mertoyudan baik dalam hal dana maupun jumlah panggilan yg semakin turun (Kalo tidak salah ditopik ttg Rm. Mangun). Saya rasa usaha Alumni Merto baik yg jadi Imam dan Biarawan maupun yang mendapat panggilan berbeda good Job good Job untuk mencoba mencari dana dan menjadi donatur bagi Seminari Mertoyudan akan sangat baik kalau diimbangi oleh semakin banyaknya bibit panggilan yg ada. Para Alumni ini (para ExSem=Ex Seminaris) secara teratur berkumpul dlam acara Cripingan. Biasanya diadakan di Gedung Gramedia Palmerah. Yang merasa exsem bisa ikut sumbang apa saja (tidak hanya saran Ketawa Ngakak Ketawa Ngakak )

Kita tidak dapat banyak berharap bahwa pendidikan iman katholik yg cukup dan mengenalkan jalan panggilan sebagi Imam dan Biarawan/wati terjadi di sekolah non katholik. Ada hal yg menarik yg saya amati, hanya mengamati, bahwa akhir2 ini para Seminaris, baik Mertoyudan, Wacana Bakti, Bogor, Malang dsb banyak sekali dari kota yg ada sekolah menengah katholik.
Kalo zaman dahulu kebanyaan dari Klaten, Promasan, Wedi, Boro, atau daerah2 sekitar itu, sekarang mulai banyak dari kota Jakrta, Surabaya, Jogjakarta dsb. Tetapi walaupun demikian jumlah panggilan semakin berkurang seiring berkurangnya sekolah2 katholik di daerah2 yg justru diharapkan banyak panggilan yg terjadi.

Salam.


Bener Mas Tertarik. Aku pernah ditunjukkin statistik murid yang masuk ke Seminari Mertoyudan, ternyata dari tahun ke tahun semakin menurun. Kalau 10 tahun lalu yang berminat ke Seminari Mertoyudan lebih dari 100 orang per tahun angkatan, sudah 5 tahun terakhir ini kurang dari 100 orang tiap angkatannya dan tendensinya menurun. Sementara dari jumlah siswa yang mendaftar, tidak semuanya akan menjadi biarawan. Jadi, dari Seminari Mertoyudan 100 orang, masuk Seminari Tinggi Kentungan Jogja mungkin separonya, sementara para frater yang masukpun bisa saja rontok di tengah jalan. Bisa-bisa kelak GK kekurangan romo.
Seringkali secara guyon, romo menyindir begini : Saat berdoa untuk panggilan imamat, banyak orang tua yang berdoa "Ya Tuhan, semoga Engkau menyuburkan panggilan imamat bagi kaum muda Katolik, namun janganlah anakku yang Kauberi panggilan imamat"
Embarassed Embarassed Embarassed
Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
Tertarik
== BANNED ==




Joined: 25 Apr 2007
Posts: 577

PostPosted: Fri, 29-06-2007 3:35 pm    Post subject: Reply with quote

Ignaz wrote:
Yang pernah aku dengar, dulu, GK Indonesia dapat bantuan dana dari GK di luar negeri, ini karena banyak romo LN yang berkarya di Indonesia, sehingga mereka memakai jalur ini untuk mendapatkan bantuan dari donatur di LN.

Kalo tidak salah, dana2 dari luar negeri untuk lembaga keagamaan (terutama katholik Smile Smile ) sudah tidak "sebebas" dulu. Sudah ada peraturan pemerintah tentang itu dan harus melewati departemen agama.... Smile Smile Smile
Info ini dari beberapa rekan, benar salahnya saya kurang tahu.

Quote:
Kalau dibilang dana memang iya, tapi menurutku yang penting adalah kepedulian dan "kefanatikan" umat Katolik untuk menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik yang kurang. Sebagai contoh ada SMU Katolik di kotaku yang murid-muridnya sebagian besar justru non Katolik. Dari satu sisi sih baik untuk evangelisasi, tapi disisi lain menjadi ironi, karena yang anak Katolik justru masuk ke SMU Negeri.

Dalam kondisi sekarang ini saya rasa ungkapan "Duluan mana, ayam apa telor" menjadi sangat tepat. Orang tua katholik diharap "fanatik" dengan sekolah katholik yg ada, tetapi Orang Tua juga mengharapkan anaknya mendapat pendidikan dengan kualitas yg baik.... Rolling Eyes Rolling Eyes Rolling Eyes
pusing ya.... Smile Smile Smile

Quote:
Masalahnya menurut aku sering kali Yayasan Katolik satu sama lain justru bersaing untuk mendapatkan murid, apalagi yang satu kota terdapat lebih dari satu sekolah Katolik, padahal mestinya mereka berkolaborasi dalam berbagai hal, misalnya pengembangan SDM guru, kemudahan siswa dari sekolah Katolik masuk ke sekolah Katolik pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dsb.

Saya kira memang dibutuhkan campur tangan dari Keuskupan setempat untuk mengatur hal ini. Biasanya di setiap keuskupan ada komisi pendidikan, kita harap hal2 seperti ini dapat diatur dan tidak menjadi bomerang bagi sekolah kita dan Gereja.

Salam
_________________
Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
psh



Joined: 24 May 2006
Posts: 1063

PostPosted: Fri, 29-06-2007 4:04 pm    Post subject: nimbrung Reply with quote

Menurutku permasalahannya:

1. SDM biarawan dan biarawati yang jadi Kepala Sekolah mungkin tidak lagi berhasil di mata paa guru khususnya para guru senior an kalau perlakuannya nggak baik, maka seringkali terjadi konflik. Misalnya, dulu di sebuah sekolah katolik yang saya ajar pernah hampir terjadi mogok para gurunya karena merasa nggak senang dengan cara kerja suster kepala sekolah katolik yang ditunjuk yayasan padahal belum matang pengalaman kerjanya.

2. Semakin sulitnya beban hidup orang saat ini karena pengaruh globalisasi dan ketidakmerataan penghasilan serta padatnya jumlah penduduk yang nggak merata antara perkotaan dengan pedesaan.

3. Semakin besarnya biaya operasional sekolah dan semakin kritisnya masyarakat memilih sekolah.

4. dll
_________________
CRESCAT ET FLOREAT
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Next
Page 1 of 9

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17