FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Dimakamkan atau dikremasi    
Goto page: Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
JSupriyatna W



Joined: 06 Nov 2007
Posts: 2

PostPosted: Tue, 06-11-2007 1:30 pm    Post subject: Dimakamkan atau dikremasi Reply with quote

Hasil dari salah satu Konsili Vatican membolehkan jenasah dikremasi. Tolong latar belakangnya sehingga diperbolehkan dikremasi dan dimanakah diterangkan dalam injil. Mengapa para Pastor/Romo tidak dikremasi? dan kalaupun ada mungkin sangat sedikit. Adakah keburukannya atau yang tidak disuka dari kremasi dipandang dari sudut agama.
Back to top
View user's profile Send private message
NoeMoetz



Joined: 01 Feb 2007
Posts: 480
Location: Yogya

PostPosted: Tue, 06-11-2007 2:56 pm    Post subject: Reply with quote

Simple aja sih...

Tuhan mampu menciptakan manusia dari yang tidak ada menjadi ada (penciptaan Adam),

Apalagi kalo cuma "menyusun" dari debu...

Kalo ga salah sih, ini berkaitan dengan Kebangkitan Badan pas akhir jaman yach???
CMIIW


_________________
Saya Masih Harus Banyak Belajar
Back to top
View user's profile Send private message
Athanasios
Penghuni Ekaristi


Joined: 12 Feb 2004
Posts: 4198

PostPosted: Tue, 06-11-2007 2:59 pm    Post subject: Reply with quote

Quote:
Hasil dari salah satu Konsili Vatican membolehkan jenasah dikremasi.


Aku pikir Konsili Vatikan (I dan II) samasekali tidak menyinggung soal kremasi.

Quote:
Tolong latar belakangnya sehingga diperbolehkan dikremasi dan dimanakah diterangkan dalam injil.


Aku samasekali tidak melihat ada ayat dimana kremasi dilarang secara total dalam injil.

Quote:
Adakah keburukannya atau yang tidak disuka dari kremasi dipandang dari sudut agama.


Dalam beberapa kebudayaan kremasi digunakan untuk mempertegas keyakinan tertentu bahwa kebangkitan badan (tubuh) itu tidak ada.

Jadi selama kremasi dilakukan tanpa ada maksud menyangkal kebangkitan badan maka kremasi selalu diperbolehkan.

Tentang para imam yang jarang atau tidak ada yang dikremasi, yah sebaiknya ditanyakan kepada yang bersangkutan.
_________________
Sancta et catholica Ecclesia, quae est corpus Christi mysticum
- Konsili Oikumenis Vatikan II Orientalum Ecclesiorum art.2
Back to top
View user's profile Send private message
Kharismatik



Joined: 18 Jun 2005
Posts: 232
Location: Surabaya

PostPosted: Wed, 07-11-2007 8:50 am    Post subject: Reply with quote

kalau kremasi tidak diperbolehkan terus bagaimana jemaat gerja perdana yang dikremasi hidup2 pada pembantaian umat kristiani waktu kaisar Nero berkuasa, aku kira mereka sangat beriman bahkan lebih beriman daripada kita, sangat bodoh kalau kremasi tidak boleh lalu bagaimana nasib mereka yang mati dikremasi hidup2 ingat St. Joan of Arc pun juga dikremasi hidup2
_________________
Matius 6:33

bagi pro kharismatik baca ini http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=2331

Jesus Love U
Back to top
View user's profile Send private message
Ignaz



Joined: 20 Jun 2007
Posts: 883

PostPosted: Wed, 07-11-2007 10:23 am    Post subject: Reply with quote

Kalau mamaku kemarin sih pada waktu masih hidup memang berpesan agar jenazahnya dikremasi saja, biar praktis, lagian kalau dikubur agak repot, karena bisa2 kena gusur.... kuburan aja bisa jadi mall .. Nangis deh Nangis deh

Yang jadi pertanyaan buatku adalah ada sebagian yang abunya di larung (dibuang ke laut), tapi ada juga yang disimpan di tempat penitipan abu. Apakah ada ajaran GK mengenai hal ini (dilarung dan dititipkan di tempat penitipan abu) ?

Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
Yolie



Joined: 10 Mar 2007
Posts: 1931

PostPosted: Wed, 07-11-2007 5:15 pm    Post subject: Reply with quote

Ignaz, ortuku juga berpesan demikian. Mereka semasa hidup, lelah memelihara kuburan dan banyak menemui masalah. Apalagi sekarang, kuburan pakai sistem kontrak dan ada lagi istilah Rumah Masa Depan.

Menurutku pribadi: hal demikian benar2 sudah tidak masuk akal lagi, membuat beban yang tidak perlu bagi yang masih hidup. Kembali pendapat pribadiku: jasad hanyalah di dunia, Roh dan Jiwa yang kembali ke Bapa. Sehingga setelah meninggal jasad tidaklah penting, sehingga aku memilih kremasi. Malah kalau organ tubuhku masih bisa berguna untuk orang lain, aku ingin menyumbangkannya.

Setahuku, tidak ada penitipan abu jenasah bagi orang Katholik. Atau?

Abu jenasah boleh ga ditaruh di rumah, sebagai peringatan? Mirip2 orang Budha!
Back to top
View user's profile Send private message
mbedut



Joined: 02 Aug 2006
Posts: 1086
Location: Jakarta

PostPosted: Wed, 07-11-2007 11:17 pm    Post subject: Reply with quote

Ignaz wrote:
Kalau mamaku kemarin sih pada waktu masih hidup memang berpesan agar jenazahnya dikremasi saja, biar praktis, lagian kalau dikubur agak repot, karena bisa2 kena gusur.... kuburan aja bisa jadi mall .. Nangis deh Nangis deh

Yang jadi pertanyaan buatku adalah ada sebagian yang abunya di larung (dibuang ke laut), tapi ada juga yang disimpan di tempat penitipan abu. Apakah ada ajaran GK mengenai hal ini (dilarung dan dititipkan di tempat penitipan abu) ?

Berkah Dalem


kalau papa dan mamaku semuanya di larung dibuang kelaut semua...(permintaan papa dulu)

ini pendapatku
karena kalau ada abu, yang kita simpan..itu tujuannya untuk di sembayangi(di doakan) berhubungan erat dengan tradisi orang chinese.

sedangkan tradisi orang chinese yang menyimpan abu (orang meninggal) di rumah adalah dijadikan semacam berhala (disembayangin) tiap hari pagi siang sore malam dengan dupa dan sesajian. blm lagi kalau kita mau pindah rumah, abu mesti dibawa juga...

Abu adalah sisa dari jazad/jenazah...(yang sudah mati).... sebaiknya di larung..di buang saja ke laut. jadi kita lepaskan semua dengan ikhlas..
toh dalam diri kita yakin dan percaya kalau arwah orang tua kita berada dalam kemuliaan bersama Yesus atau masih dalam purgatory..
kan kita bisa doakan tiap saat bagi ROH nya...kalau kita mau..

mohon koreksinya kalau ada yang salah...
_________________

Sebab itu, berdirilah teguh & berpeganglah pd ajaran-ajaran yg km terima dr ajaran2x yg km terima dr kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.(2Tes 2:15)
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
mbambang



Joined: 19 Sep 2007
Posts: 24
Location: INDONESIA

PostPosted: Thu, 08-11-2007 8:38 am    Post subject: Reply with quote

ikutan ah ...
sama papa dan mamaku juga di kremasi dan dilarung ...
kini di tanah kuburan khusus bagian gereja katolik sudah penuh maka dibuatlah aturan baru , jenazah yang sudah dikubur selama 10 tahun keatas , akan dibongkar dan dibakar, abunya diberikan tempat khusus ( seperti laci-2 ) dari batu dengan nama dan foto jika mau .
memang ada suatu kerinduan jika rame-2 berdoa untuk misa arwah seperti tgl 2 nov kemarin, untuk tabur bunga tetap ditempat dan diperciki air suci sedang kami cepat-2 lari bawa bunga untuk ditabur ke laut sebagai tanda kasih dan cinta pada ortu .
yang menguatkan adalah bahwa pada saat hidup kekal disurga, manusia diberi tubuh baru oleh Tuhan yaitu tubuh Roh bukan tubuh daging .
kalau doa dimanapun saya berdoa terutama pada saat ekaristi kudus bukan untuk ortu aja tapi semua keluarga besar dan semua yang memerlukan doa Smile Smile Smile
syalom
Back to top
View user's profile Send private message
IHS



Joined: 07 Sep 2007
Posts: 180

PostPosted: Thu, 08-11-2007 9:02 am    Post subject: Reply with quote

Kremasi
oleh: Romo William P. Saunders *


Kremasi jelas semakin kian populer; sesungguhnya kremasi merupakan sesuatu yang baru dalam tradisi Kristen Katolik. Gereja Perdana mempertahankan praktek Yahudi menguburkan jenazah dan menolak praktek kremasi yang umum di kalangan bangsa kafir Romawi. Dasar dari ketentuan ini adalah bahwa Tuhan menciptakan setiap orang seturut gambar dan citra-Nya, dan oleh sebab itu tubuh adalah baik dan sepatutnya dikembalikan ke tanah setelah kematian (Kej 3:19). Di samping itu, Tuhan kita Sendiri dikuburkan dalam makam dan kemudian bangkit dengan mulia pada hari Paskah. Sebab itu, umat Kristiani menguburkan mereka yang telah meninggal dunia demi hormat terhadap tubuh dan sebagai antisipasi kebangkitan pada hari penghakiman terakhir. St Paulus mengingatkan kita, “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1 Tes 4:16).


Sikap Gereja menentang kremasi juga didorong oleh mereka yang memperolok keyakinan akan kebangkitan badan. Banyak dari antara para martir awali dibakar di atas tiang pembakaran dan kemudian para penganiaya menebarkan abu jenazah mereka sebagai tanda menentang keyakinan Kristiani ini.


Setelah disahkannya kekristenan pada abad keempat, kremasi pada umumnya tidak lagi dilakukan dalam Kekaisaran Romawi. Sementara budaya Kristiani terus tersebar luas, juga di tanah-tanah misi, pemakaman jenazah menjadi umum, bahkan dalam budaya-budaya yang dulunya mempraktekkan kremasi. Karena keyakinan religius masyarakat, maka otoritas-otoritas sipil juga melarang kremasi. Sebagai misal, pada tahun 789 Charlemagne menjadikan kremasi sebagai suatu pelanggaran hukum yang dapat dikenai hukuman mati. Satu-satunya pengecualian bagi peraturan ini adalah apabila terjadi kematian massal dan ancaman tersebar luasnya suatu penyakit.


Pada abad kesembilanbelas, kremasi mulai muncul kembali di Eropa terutama sekali karena gerakan Freemasonry dan filsafat kaum rasionalis yang menyangkal gagasan apapun mengenai adikodrati atau rohani, teristimewa kekekalan jiwa, kehidupan sesudah mati dan kebangkitan badan. Pertimbangan akan higienis dan terbatasnya lahan juga mendorong munculnya kembali kremasi. Banyak orang mulai memandang kremasi sebagai suatu pengebumian yang umum dan dapat diterima. Namun demikian, terutama karena didorong oleh perlawanan terhadap iman Katolik melalui kremasi, Gereja secara resmi mengutuk praktek kremasi pada tahun 1886.


Kitab Hukum Kanonik yang lama, tahun 1917, No. 1203 melarang kremasi dan menetapkan agar jenazah umat beriman dikuburkan. Lagi, suatu pengecualian diberikan apabila terjadi kematian massal dan adanya ancaman tersebar luasnya suatu penyakit. Kepada mereka yang meminta agar tubuhnya dikremasi setelah kematian, tidak diberikan pemakaman gerejawi.


Pada tahun 1963, Gereja mengklarifikasi ketentuan ini. Kongregasi Ajaran Iman (yang pada waktu itu dikenal sebagai Holy Office) menerbitkan suatu instruksi “Piam et Constantem” yang menyatakan, “Praktek saleh yang tetap di kalangan umat Kristiani dalam menguburkan tubuh umat beriman yang telah meninggal dunia, merupakan obyek perhatian dari pihak Gereja, yang ditunjukkan dengan menyediakan baginya ritus-ritus yang sesuai demi mengungkapkan secara jelas simbolisme dan makna religius dari pemakaman, dan juga dengan menetapkan hukuman kepada mereka yang menyerang praktek yang luhur ini.” Gereja mengijinkan kremasi dalam kebutuhan-kebutuhan khusus, tetapi melarangnya bagi siapa saja yang mempergunakannya untuk melawan iman.


Kitab Hukum Kanonik yang baru (tahun 1983) menetapkan, “Gereja menganjurkan dengan sangat agar kebiasaan saleh untuk mengebumikan jenazah, dipertahankan, tetapi Gereja tidak melarang kremasi, kecuali jika cara itu dipilih demi alasan-alasan yang bertentangan dengan ajaran kristiani.” Sebab itu, orang dapat memilih untuk dikremasikan apabila ia mempunyai niat yang benar. Tetapi, abu jenazah wajib diperlakukan dengan hormat dan sebaiknya disemayamkan di sebuah pemakaman atau columbarium [= tempat penitipan abu jenazah].


Suatu masalah pastoral dengan kremasi muncul menyangkut dihadirkannya abu jenazah dalam Misa Pemakaman dan kemudian persemayamannya sesudah itu. Hingga baru-baru ini, abu jenazah tidak dapat dihadirkan dalam Misa Pemakaman. Pada tanggal 21 Maret 1997, Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen memberikan suatu indult [= ijin khusus untuk melakukan sesuatu yang sudah tidak lazim] wewenang kepada masing-masing uskup diosesan untuk menetapkan suatu kebijakan mengenai dapat atau tidak dihadirkannya abu jenazah dalam Misa Pemakaman. Kongregasi menekankan bahwa abu jenazah wajib diperlakukan dengan hormat dan wajib disemayamkan sesudah Misa Pemakaman.


Sesuai dengan itu, Konferensi Waligereja Amerika, dengan sepersetujuan Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen menerbitkan pedoman berikut, berjudul “Refleksi mengenai Tubuh, Kremasi dan Upacara Pemakaman Katolik,” yang dijadikan Tata Pemakaman Kristiani: “Abu jenazah hendaknya diperlakukan dengan hormat yang sama dengan yang diberikan kepada tubuh manusia dari mana abu itu berasal. Hal ini meliputi penggunaan suatu bejana yang pantas untuk menempatkan abu jenazah, perlakuan dengan mana abu jenazah dibawa, dipelihara dan dirawat ke penempatan yang pantas dan transportasi, serta persemayaman akhir. Abu jenazah hendaknya dikuburkan dalam sebuah makam atau disemayamkan dalam suatu mausoleum atau columbarium. Praktek menebarkan abu jenazah ke laut, dari udara, atau di tanah, atau menyimpan abu jenazah di rumah sanak saudara atau sahabat dari orang yang meninggal dunia, bukanlah disposisi penghormatan yang dikehendaki Gereja. Apabila mungkin, sarana-sarana yang pantas untuk mengingat dengan hormat kenangan akan orang yang meninggal hendaknya diberikan, seperti suatu plakat atau nisan yang mencatat nama orang yang meninggal” (No. 417). Di samping itu, di Keuskupan Arlington, Uskup terdahulu John R. Keating memberikan ijin abu jenazah dihadirkan dalam Misa Pemakaman, suatu peraturan yang masih berlaku hingga saat ini di Keuskupan Arlington.


Sebagai seorang imam, saya percaya bahwa keseluruhan liturgi pemakaman Katolik - Upacara Penutupan Peti, Misa Pemakaman Kristiani, Upacara Penguburan - menawarkan kepada kita suatu pengingat yang kuat akan iman kita dan pertolongan-pertolongan dalam pemulihan kita. Doa-doa dan tindakan-tindakan liturgis ditata demi menghormati tubuh. Di samping itu, tubuh secara paling baik mengingatkan kita akan pribadi orang yang memasuki suatu kehidupan baru pada saat Pembaptisan, yang menjadi “bait Allah”, yang diurapi pada saat Penguatan, yang diberi santapan Ekaristi Kudus, dan yang sekarang telah pergi; kita berharap dan berdoa, demi kegenapan hidup itu dan demi istirahat yang abadi. Kematian seorang yang kita kasihi selalu terasa berat, walau demikian ada sesuatu yang baik dan menghiburkan hati sementara kita berkumpul bersama sebagai suatu komunitas iman di hadapan Tuhan kita dan di hadapan tubuh dia yang telah meninggal dunia, dan mempersembahkan dia yang kita kasihi itu kembali kepada Tuhan. Sungguh sayang, di lebih dari satu kesempatan, saya menghadapi keluarga-keluarga yang memilih untuk mengkremasi orang yang mereka kasihi, dan kemudian menyesali tindakan ini, bahkan merasa amat bersalah. Saya selalu merekomendasikan kepada mereka yang ingin dikremasi atau mereka yang hendak mengkremasi orang yang mereka kasihi, agar mereka segera melakukannya setelah Misa Pemakaman dan kemudian menyemayamkan abu jenazahnya dengan layak. Meski kremasi diperkenankan dan indult mengijinkan dihadirkannya abu jenazah dalam Misa Pemakaman, yang terlebih disarankan adalah menguburkan jenazah orang yang kita kasihi yang telah meninggal dunia (Refleksi No. 413).


* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Church in Potomac Falls.
Back to top
View user's profile Send private message
JSupriyatna W



Joined: 06 Nov 2007
Posts: 2

PostPosted: Thu, 08-11-2007 1:00 pm    Post subject: Dimakamkan atau dikremasi Reply with quote

Salam dalam kasih Tuhan Yesus,
Saya sangat berterima kasih atas segala tanggapan dari subyek yang saya sampaikan " Dimakamkan atau dikremasi " Semoga saya dapat menyampaikan kepada keluarga maupun teman untuk mempertimbangkan lebih seksama bila akan melaksanakan kremasi terlebih dari uraian yang mendalam dari Romo Wlliam P Saunders serta sebagai tambahan dapat juga membaca buku " Maria Simma "

Sekali lagi TERIMA KASIH.
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Next
Page 1 of 3

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17