FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

pengurusan pembatalan perkawinan katolik (anulasi)    

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera
View previous topic :: View next topic  
Author Message
halimf



Joined: 15 May 2008
Posts: 1
Location: Malaysia

PostPosted: Thu, 15-05-2008 12:58 pm    Post subject: pengurusan pembatalan perkawinan katolik (anulasi) Reply with quote

Saat ini saya bekerja di Kuala Lumpur, saya disini sudah hampir 1 tahun .. anak saya meninggal tahun 2005 dan cerai sipil telah selesai juga tahun 2005) Jadilah saya siapkan surat surat nya dan dititipkan ke paroki Andreas yg diterima Pastor Heru. Lalu diteruskan ke KAJ.

Oktober 2007 lalu saya kembali ke Jakarta dan mencoba cek status .. menurut Pastor Heru surat telah disampaikan ke KAJ. Dan dianjurkan tanya langsung ke KAJ dengan Romo Purbo. Setelah susah payah akhirnya saya dapat contact Romo Purbo dan menurut beliau, dia belum terima suratnya. Lalu saya print ulang dan disampaikan lagi langsung ke KAJ. Setelah beberapa waktu tiada kabar.

Saya telah kembali ke Kuala Lumpur, dan saya minta kakak saya yg cek statusnya. Ternyata Romo Purbo lupa dan belum sempat baca. Berulang ulang kakak saya pergi ke KAJ dan berusaha bertemu beliau (yg mana susah karena beliau sibuk sekali) .. dan sampai sekarang saya belum ada kabar bagaimana kasus anulasi itu jadinya.

Lalu saya coba email ke KWI mana tau ada orang yg bisa bantu, ternyata jatuhnya diforward ke email Romo Purbo lagi (apakah cuman Romo ini yg bisa mengurus ??)

Kemudian pula saya coba email ke Vatican ... tapi tiada tanggapan juga.
Saya bingung ini sekarang ...

Terakhir saya dapat dari internet ternyata ada 1 orang lagi yg bisa bantu namanya Pak Ronald mitra KAJ... dan saya sampaikan ke kakak saya ...
saya sudah telpon Pak Ronald ini dan beliau menganjurkan kakak saya datang bertemu dengan dia ...

menurut beliau memang oleh pihak gereja sengaja dilama lama kan dengan maksud pasangan yang bersangkutan bisa kembali lagi ... dan jika mau cepat harus berusaha men "teror" Rm Purbo agar di urus anulasinya. Dan lain waktu lagi ketemu dengan Rm Andang, hanya satu kalimat "tunggu saja" Di kesempatan lain dari kolega saya mendapatkan HP Rm Purbo, tapi di cuekin, telpon tidak di angkat dan sms tidak berbalas.

Saya ingin penyelesaian kasus agar tiada beban pikiran bagi saya lagi ...
akan tetapi sepertinya pihak gereja mengabaikan ?

mohon pencerahan ... thanks GBU


Last edited by halimf on Thu, 15-05-2008 1:08 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
Kinasih
== BANNED ==




Joined: 28 Mar 2008
Posts: 1292
Location: Bali

PostPosted: Thu, 15-05-2008 3:41 pm    Post subject: Reply with quote

Halimf,
Kenapa process anulasi ini begitu penting buat Anda? ingin menikah lagi secara Katolik? Dengan istri yang pertama Anda menerimakan Sakramen Perkawinan? Boleh tahu apa yang anda maksud membebani pikiran?

Saya agak khawatir proses ini bisa berlarut-larut memakan waktu karena memang yang saya tahu tidak mudah mengeluarkan ijin semacam itu. Takutnya nanti "waktu yang harus menjawab" karena memang hanya itu yang mampu menguji kemurnian niat seorang pemohon.

Sama seperti ijin pengunduran diri dari jabatan imam. Prinsipil Vatikan bisa mengabulkan permohonan ini, dengan pertimbangan yang sangat ketat... ujung-ujungnya gak dapet atau setelah lamaaaaa dan orang sudah jadi tua baru dapet.

Barangkali kalau Anda mau merenungkan lebih dalam lagi, apa yang sebetulnya ingin Anda raih dengan usaha yang telah Anda lakukan itu. Rada janggal mengetahui ada yang menyarankan Anda menteror Romo agar dia mau mengurus permohonan Anda.

Salam - Kin
_________________
Tyas Dalem Sang Kristus Ingkang Maha Suci... Nyuwun Kawelasan.
Back to top
View user's profile Send private message
psh



Joined: 24 May 2006
Posts: 1061

PostPosted: Thu, 15-05-2008 3:42 pm    Post subject: Re: pengurusan pembatalan perkawinan katolik (anulasi) Reply with quote

Terus terang saya bukan ahli yang dapat membantu penyelesaia masalah saudara. Tapi sebagai sesama katolik dan sebagai seorang suami saya pun sangat mengerti keundahan hati anda saa ini. tanpa bermaksud membela pejabat gereja dan terlepas dari rumitnya birokrasi di institusi gereja, namun ada baiknya anda membaca tulisan ini (biasanya dalam KPP selalu diterangkan, kebetulan saya punya copyannya). Perhatikan yang saya bold:

PERKAWINAN MENURUT GEREJA KATOLIK

Salah satu usaha menafsirkan

I. AJARAN GEREJA KATOLIK TENTANG PERKAWINAN
Ada begitu banyak pasangan calon mempelai yang sudah lama ber¬pacaran, namun seringkali mereka belum mempergunakan kesempatan pacaran itu untuk dapat mempersiapkan diri dalam membangun keluarga katolik. Salah satu hal yang sangat penting namun seringkali terlupakan adalah kurangnya/ tidak pernah dilaksanakan pengolahan pengalaman hidup untuk melangsungkan suatu pernikahan sesuai ajaran Gereja Katolik. Oleh karena itu pentinglah, dalam membaca uraian di bawah ini, pembaca menggali pengalaman pribadi, khususnya ketika mempersiapkan perkawinannya. Rumusan ini bisa membantu un¬tuk menilai diri sendiri, apakah memang sudah siap (minimal) secara mental dan rohani untuk melangsungkan perkawinan.

Perkawinan adalah:
PERSEKUTUAN HIDUP - ANTARA SEORANG PRIA DAN SEORANG WANITA - YANG TERJADI KARENA PERSETUJUAN PRIBADI - YANG TAK DAPAT DITA¬RIK KEMBALI - DAN HARUS DIARAHKAN KEPADA SALING MENCINTAI SEBAGAI SUAMI ISTERI - DAN KEPADA PEMBANGUNAN KELUARGA - DAN OLEH KARENANYA MENUNTUT KESETIAAN YANG SEMPURNA - DAN TIDAK MUNGKIN DIBATALKAN LAGI OLEH SIAPAPUN, KECUALI OLEH KEMATIAN.

a. PERSEKUTUAN HIDUP
Apa yang pertama-tama kelihatan pada perkawinan Katolik? Jawabnya adalah: Hidup bersama. Namun, hidup bersama itu masih berane¬karagam isinya. Dalam perkawinan Katolik, hidup bersama itu mewu¬judkan persekutuan. Jadi, hidup bersama yang bersekutu.

Bersekutu mengisyaratkan adanya semacam kontrak, semacam ikatan tertentu dengan sekutunya. Bersekutu mengandaikan juga kesediaan pribadi untuk melaksanakan persekutuan itu, dan untuk menjaga persekutuan itu. Ada kesediaan pribadi untuk mengikatkan diri kepada sekutunya, dan ada kesediaan pribadi untuk memperkembangkan ikatannya itu supaya menjadi semakin erat.

Ikatan ini tidak mengurangi kebebasannya. Justru ikatan itu mengisi kebebasan orang yang bersangkutan. Pertama-tama karena para calon mempelai memilih sendiri untuk bersekutu, dan bebas un¬tuk memilih mau bersekutu dengan siapa, memilih untuk terikat dengan menggunakan kebebasan sepenuhnya; tetapi juga karena kebebasan itu hanya dapat terlaksana dalam melaksanakan pilihannya untuk bersekutu ini. Dengan kata lain boleh dikatakan bahwa persekutuan itu membuat orang sungguh-sungguh bebas karena dapat memperkem¬bangkan kreatifitas dalam memelihara dan mengembangkan persekutuan itu; bukan dengan menghadapkan diri pada pilihan-pilihan yang baru lagi. Persekutuan yang dibangun itu menjadi tugas kehidupan yang harus dihayatinya.

b. SEORANG PRIA DENGAN SEORANG WANITA
Penekanan pertama di sini adalah seorang dengan seorang: arti¬nya orang seutuhnya dengan orang seutuhnya. Ini menggambarkan penerimaan terhadap satu pribadi seutuhnya. Yang diterima untuk bersekutu adalah pribadi, bukan kecantikan, kegantengan, kekayaan atau kepandaiannya saja. Ada beberapa catatan untuk penerimaan satu pribadi ini: Pertama, menerima pribadi itu berarti menerima juga seluruh latar belakang dan menerima seluruh masa depannya. Artinya, saya tidak dapat menerima pribadi itu hanya sebagai satu pribadi yang berdiri sendiri. Selalu, saya harus menerima juga orang tuanya, kakak dan adiknya, saudara-saudaranya, teman-teman¬nya, bahkan juga bahwa dia pernah berpacaran atau bertunangan dengan si ini atau si itu. Lebih jauh lagi, saya juga harus meneri¬ma segala sesuatu yang terjadi padanya di masa mendatang: syukur kalau ia menjadi semakin baik, tetapi juga kalau ia menjadi sema¬kin buruk karena penyakit, karena ketuaan, karena halangan-halangan; saya masih tetap harus menerimanya. Yang ke dua, menerima pribadi berarti menerima dia apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kalau dipikir secara matematis: yang berseku¬tu itu satu dengan satu; bukan 3/4 + 1/2, atau 1 + 6/8; lebih-le¬bih lagi, bukan satu dengan satu setengah/satu seperempat/satu tiga perempat/apalagi dengan dua, tiga, dan seterusnya.

Dengan ungkapan lain lagi: Saya seutuhnya, mau mencintai dia seutuhnya/apa adanya. Ini berarti, saya mau menerima dia seutuh¬nya, apa adanya; tetapi juga sekaligus saya mau menyerahkan diri seutuhnya kepadanya saja. Yang lain sudah tidak mendapat tempat lagi di hati saya, di pikiran saya. Hanya dia saja. Bahkan, anak-anakpun tidak boleh melebihi dia di hadapan saya, dalam pelayanan saya.

Penekanan ke dua pada seorang pria dengan seorang wanita.Yang ini kiranya cukup jelas. Hanya yang sungguh-sungguh pria dan yang sungguh-sungguh wanita yang dapat melaksanakan perkawinan secara katolik.

c. PERSETUJUAN PRIBADI
Hidup bersekutu itu terjadi karena setuju secara pribadi. Yang harus setuju adalah yang akan menikah. Dan persetujuan itu dilakukan secara pribadi, tidak tergantung pada siapapun, bahkan juga pada pasangannya. Maka, rumusannya yang tepat adalah: “Saya setu¬ju untuk melangsungkan pernikahan ini, tidak peduli orang lain setuju atau tidak, bahkan tidak peduli juga pasangan saya setuju atau tidak”.

“Lalu bagaimana kalau pasangan saya kurang atau bahkan tidak setuju?. Dia hanya pura-pura setuju”. Kalau demikian, bukankah pihak yang setuju dapat dirugikan? Ya, inilah resiko cinta sejati. Cinta sejati di sini berarti saya setuju untuk mengikatkan diri dengan pasangan, saya setuju untuk menyerahkan diri kepada pasangan, saya setuju untuk menjaminkan diri pada pasangan; juga kalau akhirnya persetujuan saya ini tidak ditanggapi dengan baik/sesuai dengan kehendak saya. Yang menjadi dasar pemahaman ini adalah karena setiap mempelai membawa cinta Kristus sendiri. Kristuspun tanpa syarat mengasihi kita, Kristus tanpa syarat menerima kita dan memberikan DiriNya bagi kita.

d. PERSETUJUAN PRIBADI YANG TAK DAPAT DITARIK KEMBALI
Persetujuan pribadi untuk bersekutu itu nilainya sama dengan sumpah/janji dan bersifat mengikat seumur hidup. Sebab persetujuan itu mengikutsertakan seluruh kehendak, pikiran, kemauan, pera¬saan. Pokoknya seluruh kepribadian. Maka dinyatakan bahwa perse¬tujuan itu tidak dapat ditarik kembali. Sebab, penarikan kembali pertama-tama berarti pengingkaran terhadap diri sendiri, penging¬karan terhadap kebebasannya sendiri, pengingkaran terhadap cita-cita dan kehendaknya sendiri. Tetapi, kemudian, juga berarti bah¬wa pribadinya sudah tidak menjadi utuh kembali.

e. DAN YANG DIARAHKAN
Sebenarnya, pengalaman untuk membuat dan memelihara dan memper kembangkan persetujuan pribadi untuk bersekutu itu sudah harus dipupuk sejak masa pacaran Maka, ada banyak yang merasa bahwa persetujuan semacam itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Pokok¬nya sudah beres, begitu. Semua sudah siap. Namun, kenyataannya persetujuan yang terjadi pada masa pacaran belumlah memenuhi sya¬rat perkawinan. Dan benarlah, persetujuan yang dibangun pada masa pacaran baiklah persetujuan sebagai pacar. Persetujuan yang dibangun pada masa tunangan, baiklah persetujuan sebagai tunangan. Baru, setelah menikah, persetujuan itu boleh menjadi persetujuan sebagai suami-isteri. Maka, Kita lihat, misalnya adanya pembatasan-pembatasan dalam berpacaran, menunjukkan bahwa persetujuan itu belum bisa dilaksanakan sepenuhnya. Secara lebih positif dapat dikatakan bahwa persetujuan semasa pacaran lebih diarahkan untuk dapat melaksanakan janji pada saat perkawinan. Supaya janji pada saat perkawinan sungguh berisi dan memberi jaminan bagi masa de¬pan baik pribadi maupun pasangannya.

Tiga kata ini juga dapat diartikan penegasan terhadap perkawi¬nan sebagai awal dari kehidupan baru bagi kedua mempelai. Bagai¬manapun oleh perubahan situasi manusia masih dapat berubah. Pene¬gasan ini membantu para suami/isteri untuk melaksanakan isi persetujuan itu.

f. SALING MENCINTAI SEBAGAI SUAMI ISTERI
Pengalaman menunjukkan bahwa calon mempelai biasanya bingung dengan ungkapan ini. Mereka merasa sudah saling mencintai, kok masih ditanya soal ini. Masalahnya, sering tidak disadari bahwa cinta itu bermacam-macam. Ada cinta sebagai saudara, ada cinta sebagai sahabat, ada cinta karena belas kasihan, demikian pula ada cinta suami isteri. Tentu saja, yang namanya cinta sejati tidak pernah dapat berbeda-beda. Yesus menunjuk cinta sejati itu seba¬gai orang yang mengorbankan nyawaNya bagi yang dicintaiNya. Dan Yesus memberi teladan dengan hidupNya sendiri yang rela sengsa¬ra, bahkan sampai wafat untuk kita semua yang dicintaiNya. Na¬mun, perwujudan cinta sejati itu ternyata bisa beranekaragam. Kekhasan dari cinta suami isteri adalah adanya keterikatan isti¬mewa yang membuat mereka dapat menyerahkan diri seutuhnya bagi pasangannya. Dalam hal ini kiranya cinta suami isteri dapat diseja¬jarkan dengan cinta yang diwujudkan dalam suatu kaul biara atau janji seorang imam. Bedanya, kalau kaul biara atau janji seorang imam tertuju kepada Tuhan di dalam umatNya; dalam perkawinan cinta itu tertuju kepada Tuhan di dalam pasangannya.

Yang mau dituju adalah membangun suasana saling mencintai sebagai suami/isteri. Maka, tidak hanya membabi buta dengan cintanya sendiri. “Pokoknya saya sudah mencintai”. Ini tidak cukup. Perjuangan seorang suami/isteri adalah di samping memelihara dan memperkembangkan cintanya, juga mengusahakan supaya pasangannya da¬pat ikut mengembangkan cintanya sebagai suami/isteri.

g. PEMBANGUNAN KELUARGA
Hidup dalam persekutuan sebagai suami-isteri mau tidak mau mewujudkan suatu keluarga. Harus siap untuk menerima kedatangan anak-anak, harus siap untuk tampil sebagai keluarga, baik di hadapan saudara-saudara, di hadapan orang tua maupun di hadapan masya¬rakat pada umumnya. Maka, membangun hidup sebagai suami-isteri membawa juga kewajiban untuk mampu menghadapi siapapun sebagai satu kesatuan dengan pasangannya. Mampu bekerjasama menerima, meme¬lihara dan mendewasakan anak, mampu bekerjasama menerima atau da¬tang bertamu kepada keluarga-keluarga lain, mampu ikut serta mem¬bangun Gereja. Semuanya dilaksanakan dalam suasana kekeluargaan.

h. KESETIAAN YANG SEMPURNA
Setia dalam hal apa? Empat hal yang sudah diuraikan di atas, yakni persekutuan hidup antara seorang pria dan seorang wanita, memelihara dan memperkembangkan persetujuan pribadi, membangun sa ling mencintai sebagai suami isteri, membangun hidup berkeluarga yang sehat. Tidak melaksanakan salah satunya berarti sudah tidak setia. Apalagi kalau kemudian mengalihkan perhatiannya kepada se¬suatu yang lain: membangun persekutuan yang lain, membuat perse¬tujuan pribadi yang lain, membangun hubungan saling mencintai sebagai suami isteri dengan orang lain, membangun suasana kekeluargaan dengan orang lain (juga saudara): Ini dosanya besar sekali

Satu pedoman untuk kesetiaan yang sempurna adalah Kristus sen¬diri. Ia setia kepada tugas perutusanNya, Ia setia kepada Bapa¬Nya, Ia setia kepada manusia, kendati manusia tidak setia kepadaNya.

i. TAK DAPAT DIPISAHKAN OLEH SIAPAPUN
Persekutuan perkawinan terjadi oleh dua pihak, yakni oleh sua¬mi dan isteri. Maka, tidak ada instansi atau siapapun yang akan dapat memutuskan persetujuan pribadi itu. Bahkan suami isteri itu sendiripun tidak dapat memutuskannya, sebab persekutuan itu dibangun atas dasar kehendak Tuhan sendiri. Dan Tuhanlah yang merestuinya. Maka, pemutusan persekutuan perkawinan bisa dipandang sebagai pemotongan kehidupan pribadi suami/isteri. Ini bisa be¬rarti pembunuhan, karena pribadi itu dihancurkan.

j. KECUALI OLEH KEMATIAN.
Pengecualian ini didengar tidak enak. Namun, nyatanya, misteri kematian tidak terhindarkan. Karena kematian yang wajar, persetu¬juan pribadi itu menjadi batal, karena pribadi yang satu sudah tidak mampu lagi secara manusiawi melaksanakan persetujuannya.


SAKRAMEN DAN BUKAN SAKRAMEN
Perkawinan yang terlaksana antar dua orang yang sudah dibaptis (sah), disebut sakramen. Menjadi sakramen karena masing-masing adalah murid-murid Kristus. Pembangunan persekutuan itu terlaksana sesuai dengan teladan Kristus (seharusnya). Dan masing-masing bisa dengan bangga mengatakan, saya mengasihi seperti Kristus sendiri.

Kalau salah satu pihak belum dibaptis (sah), perkawinan tak dapat disebut sakramen. Gampangnya, orang yang tidak mengimani Kristus tak dapat dituntut untuk bertindak seperti Kristus, menghayati bahwa Kristus mengasihinya dan mengutusnya untuk ikutserta dalam karya kasihNya.

Nah, setelah anda membaca point-poin di atas semoga dapat mencerahkan anda. Saya menduga, keberlarutan anda dalammengupayakan anulasi ini pun semacam "sign" dari Allah bagi anda. Sekali lagi saya hanya memberikan saran karena setelah membaca pemasalahan anda, saya-pun akan sangat kebingungan bila situasi serupa menimpa diri saya.

Saran saya, cobalah anda datang ke pastor paroki setempat untuk beronsultasi tentang masalah anda dan ambillah waktu untuk mengaku dosa. Lalu setelah anda tenang, saudara halimf bisa menghubungi adiknya di Jakarta untuk mengambil keputusan tentang masalah anda apakah anda mau melanjutkan proses anulasi ini atau mungkin anda punya keputusan lain. Saya hanya dapat mendoakan anda agar Roh Kudus senantiasa memberikan keterbukaan dalam masalah saudara ini.
_________________
CRESCAT ET FLOREAT
Back to top
View user's profile Send private message
shmily
Penghuni Ekaristi


Joined: 26 Oct 2005
Posts: 3690
Location: Ekaristi.org

PostPosted: Thu, 15-05-2008 5:32 pm    Post subject: Reply with quote

untuk KAJ informasinya memang Romo Purbo yang koordinasikan. Jawaban romo Andang sudah benar.. tunggu saja.. keputusan pengadilan tribunal untuk anulisasi pernikahan tidak lah semudah dan secepat yang anda bayangkan dan harapkan.

Quote:
]
Saya ingin penyelesaian kasus agar tiada beban pikiran bagi saya lagi ...
akan tetapi sepertinya pihak gereja mengabaikan ?


jika tidak ingin menjadi beban, ya jangan dipikirkan lagi... tunggu saja, bukankah apa pun jawabannya [diterima atau ditolak] anda akan menerima dan mentaatinya ?
_________________
Salam dan doa
F A Q Belajar Bersama Kanon 7 Sakramen

Psalms 119:159 See how I love your precepts, LORD; in your kindness give me life.
Back to top
View user's profile Send private message
m1m1nk



Joined: 28 Feb 2008
Posts: 33
Location: Paroki St. Maria Tangerang

PostPosted: Sun, 18-05-2008 12:23 pm    Post subject: Reply with quote

Till death do us part.

Waktu sakramen perkawinan, Romo maksa kami berdua supaya hafal dengan "janji nikah" dan diucapkan sendiri saling tatap mata pasangan di depan Altar, Alkitab, ROmo dan para saksi, maksudnya itu benar2 janji yang tulus untuk seumur hidup.

Dari waktu kursus persiapan perkawinan sampe wawancara kanon calon pasangan perkawinan juga selalu ditekankan berulang ulang, pernikahan katolik untuk seumur hidup dan hanya bisa dipisahkan oleh maut.

Setelah lulus wawancara pun masih ada waktu minimal 3 minggu untuk pengumuman gereja, kalau saja ada yang mengetahui halangan perkawinan, dan kalau saja calon pengantin berubah pikiran.

Kalau memang tidak setuju dengan itu semua tentu Romo dan semua pengurus gereja nggak akan marah2 bila membatalkan sakramen perkawinan Katolik sebelum melaksanakan sakramen tersebut, kalo udah sakramen, it's for life.

Kita nggak bisa milih saat terlahir di dunia ini dan saatnya mati, tapi segala keputusan duniawi ada di tangan kita, berbijaklah dengan pilihan kita sendiri.

oh iya, waktu Sophia Latjuba kawin lagi kan kalo nggak salah surat cerai dari KAJ belum keluar, makanya berpaling ke Anglican Church kawin lagi menganut aliran tsb. So are you going to leave Him?
Back to top
View user's profile Send private message
bambangdk



Joined: 06 Jul 2008
Posts: 1

PostPosted: Thu, 07-10-2010 8:28 pm    Post subject: Pernikahan Katolik Reply with quote

Pastor yang baik,

Saya terinspirasi untuk share mengenai perkawinan katolik setelah membaca diskusi di forum ini mengenai pembatalan perkawinan katolik (anulasi).

Saya jadi ingin meyakinkan diri saya, sebenarnya perkawinan katolik itu bisa diceraikan atau di batalkan tidak?

Sampai saat ini saya hanya mengetahui dan memahami, bahwa perkawinan katolik itu tidak dapat diceraikan sebagai sebuah Dogma yg cukup di terima saja 'tidak dapat diceraikan', sehingga saya sampai saat ini tidak pernah mencari tahu tentang hal tersebut atau mengulak-alik aturan di gereja katolik untuk mencari-cari celah kekuatan aturan perkawinan katolik.

Mohon sharing-nya Pastor.

Tuhan memberkati.


CK
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
hwijaya



Joined: 05 Feb 2008
Posts: 1442
Location: USA

PostPosted: Fri, 08-10-2010 10:28 pm    Post subject: Reply with quote

Sambil menunggu para senior membalas pertanyaan anda, dapat dibaca beberapa topik serupa yaitu: http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=8268

artikel lainnya:

http://yesaya.indocell.net/id1189.htm

http://katolisitas.org/2010/08/12/kasus ..litas-matrimonii/
Back to top
View user's profile Send private message
shmily
Penghuni Ekaristi


Joined: 26 Oct 2005
Posts: 3690
Location: Ekaristi.org

PostPosted: Mon, 11-10-2010 9:30 am    Post subject: Re: Pernikahan Katolik Reply with quote

bambangdk wrote:
Pastor yang baik,

Saya terinspirasi untuk share mengenai perkawinan katolik setelah membaca diskusi di forum ini mengenai pembatalan perkawinan katolik (anulasi).

Saya jadi ingin meyakinkan diri saya, sebenarnya perkawinan katolik itu bisa diceraikan atau di batalkan tidak?

Sampai saat ini saya hanya mengetahui dan memahami, bahwa perkawinan katolik itu tidak dapat diceraikan sebagai sebuah Dogma yg cukup di terima saja 'tidak dapat diceraikan', sehingga saya sampai saat ini tidak pernah mencari tahu tentang hal tersebut atau mengulak-alik aturan di gereja katolik untuk mencari-cari celah kekuatan aturan perkawinan katolik.

Mohon sharing-nya Pastor.

Tuhan memberkati.


CK


Perbedaan antara perceraian dan pembatalan sangatlah besar..

Pembatalan itu artinya bahwa pengukuhan sebelumnya dibatalkan karena dasar-dasar supaya sebuah perkawinan bisa dikukuhkan diketahui sesudahnya cacad. misal : ada kebohongan dari salah satu pasangan bahwa dirinya masih lajang, atau ternyata salah satunya memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan (Termasuk impotensi permanen atau tidak dapat berhubungan seksual karena sakit yang dideritanya), atau bahwa pernikahan itu tidak didasari oleh cinta tetapi suatu keterpaksaan.

SEdangkan perceraian, bahwa semua dasar sudah dimiliki untuk pengukuhan sebuah pernikahan, tidak ada masalah hakiki dan setelah dikukuhkan, disempurnakan dalam hubungan senggama antara suami dan isteri. Namun dalam perjalanan terjadi masalah, entah KDRT, perselingkuhan, pertengkaran besar, masalah ekonomi, yang membuat ketidakharmonisan RT yang mengakibatkan salah satunya menuntut perpisahan menurut hukum negara untuk dapat terlepas dari masalah dan memiliki kesempatan untuk mencari pasangan yang lebih baik dan menikah lagi.

Pemahaman yang pertama itulah yang diatur menurut hukum Gereja.
_________________
Salam dan doa
F A Q Belajar Bersama Kanon 7 Sakramen

Psalms 119:159 See how I love your precepts, LORD; in your kindness give me life.
Back to top
View user's profile Send private message
staquinas



Joined: 14 Apr 2008
Posts: 1450
Location: Jakarta

PostPosted: Mon, 11-10-2010 5:40 pm    Post subject: Re: Pernikahan Katolik Reply with quote

shmily wrote:


Perbedaan antara perceraian dan pembatalan sangatlah besar..

Pembatalan itu artinya bahwa pengukuhan sebelumnya dibatalkan karena dasar-dasar supaya sebuah perkawinan bisa dikukuhkan diketahui sesudahnya cacad. misal : ada kebohongan dari salah satu pasangan bahwa dirinya masih lajang, atau ternyata salah satunya memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan (Termasuk impotensi permanen atau tidak dapat berhubungan seksual karena sakit yang dideritanya), atau bahwa pernikahan itu tidak didasari oleh cinta tetapi suatu keterpaksaan.


Dapatkah pembatalan dilakukan setelah pernikahan dikonsumsi?
_________________
Q. Why then would the Protestants have the church to be invisible?
A. Because we have convinced them, that there were no Protestants to be seen or heard of in the world before Martin Luther.
Back to top
View user's profile Send private message
Athanasios
Penghuni Ekaristi


Joined: 12 Feb 2004
Posts: 4198

PostPosted: Mon, 11-10-2010 5:54 pm    Post subject: Reply with quote

staquinas wrote:
Dapatkah pembatalan dilakukan setelah pernikahan dikonsumsi?


Dapat. Yang dilihat pertama-tama adalah syarat sah-nya bukan consummatumnya. Mungkin kenyataan bahwa suatu perkawinan sudah consummatum akan mempengaruhi proses peradilan, tetapi aku sama sekali tidak tahu bagaimana biasanya tribunal menyikapi fakta ini.
_________________
Sancta et catholica Ecclesia, quae est corpus Christi mysticum
- Konsili Oikumenis Vatikan II Orientalum Ecclesiorum art.2
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera All times are GMT + 6 Hours
Page 1 of 1

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17