FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru    

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Ruang Pengetahuan Dasar Iman Katolik
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Kurnia_Salim



Joined: 25 May 2008
Posts: 19

PostPosted: Wed, 09-07-2008 10:13 pm    Post subject: Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru Reply with quote

Yang terhormat para moderator dan rekan-rekan seiman (percaya penuh kepada Yesus Kristus), mohon bimbingannya di dalam memahami ajaran Gereja Katolik.

Pertanyaan saya:
Ajaran GK itu mengacu pada Perjanjian Baru atau Perjanjian Lama atau dua-duanya? Confused

Kalau bisa dijelaskan dengan gamblang.

Terima kasih,
Salam Damai dalam Yesus Kristus.
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10654
Location: Orange County California

PostPosted: Thu, 10-07-2008 5:19 am    Post subject: Reply with quote

    The Old Testament

    121
    The Old Testament is an indispensable part of Sacred Scripture. Its books are divinely inspired and retain a permanent value,92 for the Old Covenant has never been revoked.

    122 Indeed, "the economy of the Old Testament was deliberately so oriented that it should prepare for and declare in prophecy the coming of Christ, redeemer of all men."93 "Even though they contain matters imperfect and provisional,"94 the books of the Old Testament bear witness to the whole divine pedagogy of God's saving love: these writings "are a storehouse of sublime teaching on God and of sound wisdom on human life, as well as a wonderful treasury of prayers; in them, too, the mystery of our salvation is present in a hidden way."95

    123 Christians venerate the Old Testament as true Word of God. The Church has always vigorously opposed the idea of rejecting the Old Testament under the pretext that the New has rendered it void (Marcionism).


    The New Testament
    124
    "The Word of God, which is the power of God for salvation to everyone who has faith, is set forth and displays its power in a most wonderful way in the writings of the New Testament"96 which hand on the ultimate truth of God's Revelation. Their central object is Jesus Christ, God's incarnate Son: his acts, teachings, Passion and glorification, and his Church's beginnings under the Spirit's guidance.97

    125 The Gospels are the heart of all the Scriptures "because they are our principal source for the life and teaching of the Incarnate Word, our Savior".98

    126 We can distinguish three stages in the formation of the Gospels:
    1. The life and teaching of Jesus. The Church holds firmly that the four Gospels, "whose historicity she unhesitatingly affirms, faithfully hand on what Jesus, the Son of God, while he lived among men, really did and taught for their eternal salvation, until the day when he was taken up."99
    2. The oral tradition. "For, after the ascension of the Lord, the apostles handed on to their hearers what he had said and done, but with that fuller understanding which they, instructed by the glorious events of Christ and enlightened by the Spirit of truth, now enjoyed."100
    3. The written Gospels. "The sacred authors, in writing the four Gospels, selected certain of the many elements which had been handed on, either orally or already in written form; others they synthesized or explained with an eye to the situation of the churches, the while sustaining the form of preaching, but always in such a fashion that they have told us the honest truth about Jesus."101


    127 The fourfold Gospel holds a unique place in the Church, as is evident both in the veneration which the liturgy accords it and in the surpassing attraction it has exercised on the saints at all times:


      There is no doctrine which could be better, more precious and more splendid than the text of the Gospel. Behold and retain what our Lord and Master, Christ, has taught by his words and accomplished by his deeds.102

      But above all it's the gospels that occupy my mind when I'm at prayer; my poor soul has so many needs, and yet this is the one thing needful. I'm always finding fresh lights there; hidden meanings which had meant nothing to me hitherto.103

    The unity of the Old and New Testaments

    128
    The Church, as early as apostolic times,104 and then constantly in her Tradition, has illuminated the unity of the divine plan in the two Testaments through typology, which discerns in God's works of the Old Covenant prefigurations of what he accomplished in the fullness of time in the person of his incarnate Son.

    129 Christians therefore read the Old Testament in the light of Christ crucified and risen. Such typological reading discloses the inexhaustible content of the Old Testament; but it must not make us forget that the Old Testament retains its own intrinsic value as Revelation reaffirmed by our Lord himself.105 Besides, the New Testament has to be read in the light of the Old. Early Christian catechesis made constant use of the Old Testament.106 As an old saying put it, the New Testament lies hidden in the Old and the Old Testament is unveiled in the New.107

    130 Typology indicates the dynamic movement toward the fulfillment of the divine plan when "God [will] be everything to everyone."108 Nor do the calling of the patriarchs and the exodus from Egypt, for example, lose their own value in God's plan, from the mere fact that they were intermediate stages.


    Footnotes:
    91 Cf. DS 179; 1334-1336; 1501-1504.
    92 Cf. DV 14.
    93 DV 15.
    94 DV 15.
    95 DV 15.
    96 DV 17; cf. Rom 1:16.
    97 Cf. DV 20.
    98 DV 18.
    99 DV 19; cf. Acts 1:1-2.
    100 DV 19.
    101 DV 19.
    102 St. Caesaria the Younger to St. Richildis and St. Radegunde, SCh 345, 480.
    103 St. Thérèse of Lisieux, ms. autob. A 83v.
    104 Cf. 1 Cor 10:6,11; Heb 10:l; l Pet 3:21.
    105 Cf. Mk 12:29-31
    106 Cf. 1 Cor 5:6-8; 10:1-11.
    107 Cf. St. Augustine, Quaest. in Hept. 2,73:PL 34,623; Cf. DV 16.
    108 1 Cor 15:28.






    Perjanjian Lama

    121
    Perjanjian Lama adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Kitab Suci. Buku-bukunya diilhami secara ilahi dan tetap memiliki nilainya karena Perjanjian Lama tidak pernah dibatalkan.

    122 "Tata keselamatan Perjanjian Lama terutama dimaksudkan untuk menyiapkan kedatangan Kristus Penebus seluruh dunia." Meskipun kitab-kitab Perjanjian Lama Juga mencantum hal-hal yang tidak sempurna dan bersifat sementara, kitab-kitab itu memaparkan cara pendidikan ilahi yang sejati . ... Kitab-kitab itu mencantum ajaran-ajaran yang luhur tentang Allah serta kebijaksanaan yang menyelamatkan tentang peri hidup manusia, pun juga perbendaharaan doa-doa yang menakjubkan, akhirnya secara terselubung [mereka] mengemban rahasia keselamatan kita" (DV 15).

    123 Umat Kristen menghormati Perjanjian Lama sebagai Sabda Allah yang benar. Gereja tetap menolak dengan tegas gagasan untuk menghilangkan Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru sudah menggantikannya [Markionisme].

    124 "Sabda Allah, yang merupakan kekuatan Allah demi keselamatan semua orang yang beriman (lih. Rm 1:16), dalam kitab-kitab Perjanjian Baru disajikan secara istimewa dan memperlihatkan daya kekuatannya" (DV 17). Tulisan-tulisan tersebut memberi kepada kita kebenaran definitif wahyu ilahi. Tema sentralnya ialah Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, karya-Nya, ajaran-Nya, kesengsaraan-Nya, dan pemuliaan-Nya begitu pula awal mula Gereja di bawah bimbingan Roh Kudus.


    Perjanjian Baru

    125
    Injil-injil merupakan jantung hati semua tulisan sebagai "kesaksian utama tentang hidup dan ajaran Sabda Yang Menjadi Daging, Penyelamat kita" (DV 18).

    126 Dalam penyusunan Injil-injil dapat kita bedakan tiga tahap:

    1. Kehidupan dan kegiatan mengajar Yesus. Bunda Gereja kudus tetap mempertahankan dengan teguh dan sangat kokoh, bahwa keempat Injil "yang sifat historisnya diakui tanpa ragu-ragu, dengan setia meneruskan apa yang oleh Yesus Putera Allah selama hidup-Nya di antara manusia sungguh telah dikerjakan dan diajarkan demi keselamatan kekal mereka, sampai hari Ia diangkat (lih. Kis 1:1-2)" (DV 19).

    2. Tradisi lisan. "Sesudah kenaikan Tuhan para Rasul meneruskan kepada para pendengar mereka apa yang dikatakan dan dijalankan oleh Yesus sendiri, dengan pengertian yang lebih penuh, yang mereka peroleh karena dididik oleh peristiwa-peristiwa mulia Kristus dan oleh terang Roh kebenaran" (DV 19).

    3. Penulisan Injil-Injil. "Adapun penulis suci mengarang keempat Injil dengan memilih berbagai dari sekian banyak hal yang telah diturunkan secara lisan atau tertulis; beberapa hal mereka susun secara agak sintetis, atau mereka uraikan dengan memperhatikan keadaan Gereja-Gereja; akhirnya dengan tetap mempertahankan bentuk pewartaan, namun sedemikian rupa, sehingga mereka selalu menyampaikan kepada kita kebenaran yang murni tentang Yesus" (DV 19).


    127 Injil berganda empat itu menduduki tempat istimewa di dalam Gereja. Ini dibuktikan oleh penghormatan terhadapnya di dalam liturgi dan daya tarik yang tidak ada bandingnya, yang mempengaruhi orang kudus dari setiap zaman.


      "Tidak ada satu ajaran yang lebih baik, lebih bernilai dan lebih indah daripada teks Injil. Lihatlah dan peganglah teguh, apa yang tuan dan guru kita Kristus ajarkan dalam kata-kata-Nya dan lakukan dalam karya-karya-Nya" (Sesaria Muda).

      "Terutama Injil sangat mengesankan bagi saya sewaktu saya melakukan doa batin; di dalamnya saya menemukan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh jiwa saya yang lemah ini. Di dalamnya saya selalu menemukan pandangan baru, dan makna yang tersembunyi dan penuh rahasia" (Teresia dari Anak Yesus. ms autob. A 83v).

    Kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

    128
    Sudah sejak zaman para Rasul dan juga dalam seluruh tradisi, kesatuan rencana ilahi dalam kedua Perjanjian itu dijelaskan oleh Gereja melalui tipologi. Penafsiran macam ini menemukan dalam karya Tuhan dalam Perjanjian Lama "Prabentuk" (tipologi) dari apa yang dilaksanakan Tuhan dalam kepenuhan waktu dalam pribadi Sabda-Nya yang menjadi manusia.

    129 Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya. Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama. Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: "Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet" (Agustinus, Hept. 2,73).

    130 Tipologi berarti adanya perkembangan rencana ilahi ke arah pemenuhannya, sampai akhirnya "Allah menjadi semua di dalam semua" (1 Kor 15:28). Umpamanya panggilan para bapa bangsa dan keluaran dari Mesir tidak kehilangan nilai sendiri dalam rencana Allah, karena mereka juga merupakan tahap-tahap sementara di dalam rencana itu.

Sebaiknya baca dari 101 sampai 141 (yang Inggris, yang Indonesia, kalau bisa bahasa Inggris lebih baik baca yang Inggris karena terjemahannya lebih bagus). Di bagian itu Katekismus menjelaskan tentang Kitab Suci.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
Kurnia_Salim



Joined: 25 May 2008
Posts: 19

PostPosted: Thu, 10-07-2008 7:32 pm    Post subject: Reply with quote

Terima kasih Sdr. DV.

Di dalam Perjanjian Lama:
- Harus disunat
- Gak boleh makan babi
- Istri lebih dari satu
- Diperbolehkan menceraikan istri
- dll, dll.
yang bertentangan dengan Perjanjian Baru.

Mohon penjelasan.

Salam Damai
Back to top
View user's profile Send private message
pras-pas



Joined: 12 Feb 2004
Posts: 50

PostPosted: Thu, 10-07-2008 8:07 pm    Post subject: Reply with quote

Copy/paste ya

Dari sini.Sunat dan babi.
DeusVult wrote:
Umat Islam sering menuduh secara keliru (dan tidak sesuai dengan Quran dan Hadith mereka sendiri) bahwa Paulus-lah yang memulai pengajaran seperti tidak perlunya bersunat, ke-Allah-an Yesus, dihapuskannya larangan memakan makanan haram (mungkin ada yang lainnya, aku kurang tahu).

Namun faktanya apa yang diajarkan Paulus ini sudah terlebih dahulu diajarkan Yesus dan para rasul. Penghapusan sunat dan larangan terhadap makanan haram sudah diwahyukan Yesus kepada Petrus sendiri (Kis 10:10-16; Kis 11:2-18). Dan ke-Allah-an Yesus juga ada di Injil dan bahkan tulisan dari para penulis non-Kristen seperti yang sudah aku tunjukkan.

Dan patut dicatat bahwa penghapusan aturan Perjanjian Lama (sunat, makanan haram etc) sudah dinubuatkan di Perjanjian Lama sendiri. Yer 31:31-33 menunjukkan bahwa Perjanjian Lama akan diganti Perjanjian Baru.

Sunat adalah tanda Perjanjian Lama (Kis 7:8). Bahkan di Perjanjian Lama pun dikatakan mengenai "sunat hati" (Ul 10:16; Ul 30:6; Yer 4:4)yang menandakan bahwa "sunat" bukan sekedar fisik. Bahkan Allah mengatakan Dia akan menghukum orang yang belum menyunat hatinya sekalipun orang itu sudah bersunat fisik (Yer 9:25-26), ini menyiratkan lebih pentingnya sunat hati.

Jadi Paulus sudah konsisten dengan Perjanjian Lama, Yesus dan para rasul. Ini masih belum ditambah kesaksian dari muridnya para rasul, yaitu para Bapa Gereja Awal seperti Ignatius dari Antioka dan Polycarpus dari Smyrna.


Makanan haram

disini ada diskusinya

Terus ini ada juga:

DeusVult wrote:
Ilustrasi:

Ketika seseorang masih anak-anak, dia akan diawasi dengan ketat. Setiap tingkah lakunya diatur. Daftar "yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan" cukup panjang dan mendetail. Tidur tidak boleh lebih dari pukul 9 malam, jam 12 harus makan siang dll. Ini tidak lain karena anak-anak tidak tahu apa yang baik bagi dirinya dan mereka tidak bisa bertanggungjawab akan dirinya sendiri. Jadi mereka harus diatur ketat agar suatu kebiasaan (habbit) tertanamkan.

Setelah dewasa tentunya tidak perlu lagi semua aturan yang mendetail seperti itu. Seorang dewasa yang memutuskan untuk tidur lebih malam sudah tahu dan siap bertanggung jawab atas konsekuensi dari pilihannya itu. Seorang dewasa yang memutuskan untuk tidak makan pada jam 12 sudah tahu dan siap bertanggungjawab atas konsekuensi dari pilihannya itu.

Semua ini karena orang dewasa tidak lagi mematuhi peraturan karena dia diharuskan untuk mematuhi peraturan. Orang dewasa mematuhi peraturan karena dia tahu bahwa kepatuhan pada peraturan itu adalah sesuatu yang baik bagi dirinya sendiri.


PL adalah masa anak-anak. PB adalah masa dewasa.


Dari sini kita paham mengapa ada aturan-aturan PL yang tidak ditetapkan lagi di PB.

Untuk melanjutkan ilustrasi diatas, aturan "tidur harus jam 9 malam" ditetapkan agar seseorang cukup tidur dan bisa beraktivitas esoknya (tentu saja bagi anak jam 9 malam karena anak bnutuh lebih banyak tidur). Setelah dewasa, meskipun orang dewasa tidak perlu menaati perintah itu, tapi toh orang dewasa seyogyanya tahu bahwa tujuan dari perintah itu adalah untuk kebaikannya sendiri sehingga dia seharusnya menaatinya. Jadi sekalipun "tidur harus jam 9 malam" sudah tidak berlaku lagi bagi orang dewasa, tapi moralitas dari aturan itu masih berlaku dan seharusnya ditaati.


Begitu juga dengan hukum-hukum PL. Sebagai contoh aturan diet yang melarang makan ini dan makan itu. Aturan ini diadakan Allah supaya umat Israel tidak gampang mati karena keracunan makanan yang tidak bersih ("haram" = "tidak bersih" = "unclean"). Babi etc memang hewan yang tidak hiegienis waktu itu.

"Lho, kalau begitu kenapa orang yang makan-makanan haram kena dosa?" Makan-makanan haram per se tidak menimbulkan dosa sebagaimana dikatakan Yesus sendiri. Yang menimbulkan dosa adalah melanggar perintah Allah untuk tidak makan-makanan itu. Dan perintah itu diadakan Allah supaya umat Israel tidak gampang mati.

Nah, setelah PB aturan itu dihapus. Namun tentunya moralitas dari aturan ini tetap harus ditaati. Moralitas seperti apa? Ya tentu saja jangan merusak tubuhmu, yang adalah bait Roh Kudus, dengan makan makanan yang merusak tubuh.


Dan untuk membantu orang dalam kedewasaannya di PB, maka orang yang dibenarkan (terjustifikasi) diberi Roh Kudus (di PL tidak). Dan aliran rahmat pun lebih kuat setelah Yesus mati dan bangkit (karena itulah jaman sekarang disebut jaman kerajaan seribu tahun [baca Why bab 20]).



Monogami, ada disini



Kalau yang diperbolehkan menceraikan istri itu, kalau tidak salah jawabannya, "sudah dijawab Yesus sendiri di Mat 19:8."


Thread lama:
PL digenapi dan mulailah PB


PS
Tentang cerai ketemu penjelasan dari Thomas Aquinas yang kompleks:

http://www.newadvent.org/summa/5067.htm


Kelihatannya malah tidak jadi jelas tapi pusing Smile. Namun bagi yang tidak pusing, mungkin mengerti.
_________________
Shalom


Last edited by pras-pas on Thu, 10-07-2008 8:13 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Ruang Pengetahuan Dasar Iman Katolik All times are GMT + 6 Hours
Page 1 of 1

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17