FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Tanggapan atas tulisan Romo Sudrijanta SJ    
Goto page: Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10684
Location: Orange County California

PostPosted: Thu, 25-06-2009 8:00 am    Post subject: Tanggapan atas tulisan Romo Sudrijanta SJ Reply with quote

Quote:
http://gerejastanna.org/kepercayaan-membatasi-pemahaman/


Kepercayaan Membatasi Pemahaman

By J. Sudrijanta, SJ on June 15th, 2009

Kebanyakan orang memiliki kepercayaan. Ada yang percaya pada Tuhan versi Islam, Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, dst. Ada yang percaya pada Tuhan tanpa harus beragama. Ada yang percaya pada kekuatan dewa-dewi, kekuatan roh leluhur, dst. Ada yang merasa tidak perlu percaya pada Tuhan, tetapi percaya pada kekuatan sendiri, ide-ide, pengetahuan, ideologi, dst.

Sebagian orang memiliki kepercayaan sebagai warisan keluarga atau masyarakat tempat mereka hidup. Sebagian yang lain memiliki kepercayaan tertentu sebagai hasil dari pencarian. Tetapi kebanyakan orang tidak tahu apakah kepercayaan itu sungguh benar tetapi diterima begitu saja sebagai kebenaran.

Kepercayaan sesungguhnya merupakan pelarian dari kenyataan hidup. Kehidupan kita penuh dengan masalah, tekanan, kesepian, konflik, kejahatan, ketidakadilan, dst. Ada masalah-masalah teknis yang bisa kita pecahkan secara teknis dengan otak kita. Ada masalah-masalah non-teknis atau psikologis yang sering membuat kita bingung. Lalu kita mencari teori, pengetahuan atau kepercayaan dan melalui itu semua kita memahami masalah atau mencari pemecahan masalah. Mulanya kita memahami masalah melalui teori atau pengetahuan tertentu. Ketika pengetahuan tidak bisa diandalkan untuk memahami masalah secara tuntas, maka kita lari kepada kepercayaan tertentu.

Saat kita sedang menghadapi masalah, begitu mudah kita mengatakan bahwa Tuhan sedang mencobai kita. Kalau usaha kita gagal sekarang, kita menghibur diri dengan kepercayaan bahwa Tuhan pasti akan memberikan keberhasilan suatu saat kelak. Kalau kita terus-menerus didera oleh malapetaka dan pertolongan Tuhan tak kunjung datang, kita lari pada kekuatan roh leluhur atau kekuatan-kekuatan halus lainnya. Kalau masalah-masalah yang tak tertahankan tidak juga berakhir, kita percaya itu adalah hasil dari perbuatan-perbuatan buruk kita di masa lampau atau hasil dari tindakan roh jahat atau kekuatan-kekuatan jahat.

Kita melihat bahwa kepercayaan sesungguhnya lahir dari kebingungan kita. Karena kita bingung dalam menghadapi masalah, lalu kita lari kepada kepercayaan. Maka kepercayaan itu justru menjauhkan kita dari masalahnya.

Tanggung-jawab dalam menghadapi masalah sepenuhnya berada di tangan kita. Karena kita merasa tidak berdaya, takut dan bingung, maka kita lari kepada kepercayaan. Kita mudah menciptakan entitas lain di luar diri kita yang kita percayai bertanggung-jawab atas berbagai kemalangan yang kita alami.

Sekuat apapun kepercayaan kita, bukankah kita tidak menemukan penyelesaian atas masalah-masalah hidup kita? Bahkan justru sebaliknya. Kepercayaan menciptakan banyak masalah. Fanatisme pada kepercayaan menjadi sumber konflik, kekerasan, ketidakadilan.

Orang merasakan persatuan di tengah kelompok yang memiliki kepercayaan yang sama. Namun kepercayaan itu sendiri memecah-belah. Orang yang memiliki kepercayaan dianggap religius dan yang tidak memiliki kepercayaan dianggap tidak religius. Orang percaya kepada Allah yang Esa merasa diri lebih benar dibanding orang-orang yang tidak percaya. Orang yang memiliki kepercayaan menurut system agama tertentu merasa diri lebih benar dibanding kepercayaan menurut system agama yang lain. Lalu mereka berkonflik, berperang, saling memojokkan, saling membunuh dan semua itu dilakukan atas nama kebenaran. Di dalam satu agama sendiri, para penganutnya terpecah-pecah karena kelompok atau denominasi yang satu memiliki kepercayaan yang berbeda dari yang lain.

Perbedaan kepercayaan yang dianut oleh suami dan istri atau oleh orang tua dan anak-anak mudah membuat perpecahan dalam keluarga. Perbedaan kepercayaan minoritas dan mayoritas di lingkungan masyarakat atau komunitas tempat kerja telah membuat sebagian kelompok merasa sah memaksakan apa yang diyakini sebagai kebenaran dan kelompok lain merasa tidak nyaman.

Bukankah masalah-masalah kehidupan kita tidak bisa dipecahkan lewat teori, pengetahuan atau kepercayaan apapun? Kita mencari jawaban instan akan masalah-masalah kita lewat kepercayaan tertentu dan kita tidak menemukan jawabannya secara tuntas. Alih-alih mencari penyelesaiaan masalah, masalah itu sendiri perlu dipahami secara utuh dan dalam memahami masalah di situ ada penyelesaian masalah.

Apa yang terjadi kalau tidak memiliki kepercayaan? Bukankah anda menghadapi ketidak-berdayaan, ketakutan, kebingungan? Kalau anda menghadapi ketidakberdayaan anda, ketakutan anda dan kebingungan anda tanpa lari kepada teori, pengetahuan atau kepercayaan, bukankah tidak ada lagi rasa tidak berdaya, rasa takut, rasa bingung?

Kebanyakan orang memiliki kepercayaan dan merasa telah menemukan kebenaran. Kepercayaan ini begitu mengakar dalam batin orang atau masyarakat sebagai bagian dari pertahanan diri individual atau kolektif. Kalau kepercayaan seseorang atau kepercayaan kolektif digoncang atau dipertanyakan, orang menjadi marah dan brutal. Selama orang terjebak dalam kepercayaan sebagai kebenaran dan orang tidak berani keluar dari kepercayaan yang membuat nyaman, maka arus brutalitas itu belum akan berakhir. Kekacauan dan kekerasan terus terjadi.

Kepercayaan sesungguhnya merintangi pemahaman akan kebenaran. Apa yang kita kenal hanyalah kata, simbol atau dogma tentang kebenaran. Tetapi dogma tentang kebenaran tidak identik dengan kebenaran. Kita mengenal dogma tentang kebenaran tetapi kebenaran yang sesungguhnya tidak ada dalam dogma manapun. Kebenaran dogmatis hanyalah kebenaran teori dan kebenaran teori bukan kebenaran sejati.

Dogma atau rumus kebenaran bukannya tidak berguna. Rumus kebenaran berguna sebagai penunjuk kepada kebenaran sejati. Tetapi untuk menemukan kebenaran sejati, kepercayaan sepenuhnya musti ditanggalkan. Tidak peduli itu kepercayaan tentang Tuhan, roh kudus, roh jahat, roh leluhur, kepercayaan pada ideologi, dogma atau berbagai bentuk kepercayaan lainnya. Roh-roh atau Tuhan-tuhan yang kita pikirkan atau kita kenal bukanlah Roh atau Tuhan yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin kebenaran sejati atau Yang Tak-Dikenal bisa kita pikirkan dan menjadi objek kepercayaan? Bukankah segala objek pikiran atau objek kepercayaan masih berada pada lingkup waktu?

Secara objektif, tidak ada kepercayaan tertentu yang lebih benar atau lebih baik dari yang lainnya. Begitu pula tidak ada kepercayaan tertentu yang lebih dekat dengan Tuhan. Lewat kepercayaan, apakah Tuhan yang sesungguhnya bisa ditemukan? Dengan berpindah dari kepercayaan yang satu ke kepercayaan yang lain, dari kepercayaan yang keliru ke kepercayaan yang benar, batin hanya akan menemukan Tuhan sebagai objek kepercayaan. Semua kepercayaan pada kenyataannya justru menghalangi perjumpaan dengan Tuhan yang sesungguhnya atau perjumpaan dengan Yang Tak-Dikenal.*

Categories: Meditasi
Tags:




Quote:
Beberapa hari yang lalu penulis mendapat sodoran artikel dari seorang Romo Sudrijanta, SJ. Ketika penulis membaca torehan pena sang imam, si penulis begitu kaget sampai-sampai muncul pertanyaan, "ini seperti buah pikiran seorang atheis."

Pada awalnya Romo berbicara mengenai kepercayaan kepada Tuhan, termasuk kepercayaan kepada Tuhan menurut "versi Katolik." Romo kemudian mengatakan bahwa kepercayaan "merupakan pelarian dari kenyataan hidup." Hal ini terjadi karena ketika dalam kehidupan yang "penuh dengan masalah, tekanan, kesepian, konflik, kejahatan, ketidakadilan, dst ... ada masalah-masalah non-teknis atau psikologis yang sering membuat kita bingung." Kebingungan ini sifatnya non-teknis sehingga tidak dapat dipecahkan "secara teknis dengan otak kita.” Karena itu kita "lari kepada kepercayaan tertentu" untuk mendapatkan pemahaman. Jadi, kesimpulan Romo, "kepercayaan sesungguhnya lahir dari kebingungan kita. Karena kita bingung dalam menghadapi masalah, lalu kita lari kepada kepercayaan."

Dari sini penulis sungguh kaget. Penulis berandai-andai apakah si Romo merasa bahwa kepercayaan umat beragama akan Tuhan dan apa yang diwahyukanNya adalah sekedar pelarian karena kita umat manusia dilanda berbagai masalah-masalah membingungkan yang sejak dahulu sampai sekarang tidak dapat dipecahkan secara teknis (misteri kejahatan, penderitaan dll). Mungkinkah Romo ingin menggiring kita kepada kesimpulan para atheist, agnostik dan modernist bahwa Tuhan ada karena manusia percaya kepadaNya? Bahwa Tuhan ada karena manusia menciptakanNya? Penulis berharap bahwa penulis salah, namun argumen sang Romo memang mirip dengan argumen yang dipakai pihak-pihak tersebut.

Kepercayaan muncul karena banyak alasan. Beberapa darinya sepele, main-main bahkan tidak rasional. Beberapa bahkan lebih tepat disebut "keyakinan" atau "harapan" daripada "kepercayaan." Namun beberapa begitu kuat dan beralasan sehingga seseorang sampai menyerahkan nyawanya demi yang dipercayainya. Karena itu adalah suatu pemukul-rataan yang sangat keliru untuk menilai bahwa semua yang didapatkan dengan "percaya" didasarkan oleh alasan yang tidak rasional seperti kebingungan dan pelarian dari masalah, apalagi berkenaan dengan kepercayaan kepada sang khalik dan apa yang diwahyukanNya. Dan justru inilah inti dari kekeliruan Romo.

Apa yang kita percayai dengan iman, sebagaimana diajarkan oleh Agama Katolik kita yang kudus, dilandasi oleh suatu otoritas. Konsili Vatikan Pertama mengatakan: "ab eo revelata vera esse credimus, non propter intrinsecam rerum veritatem naturali rationis lumine perspectam, sed propter auctoritatem ipsius Dei revelantis, qui nec falli nec fallere potest" ("[kita] mempercayai bahwa apa yang diwahyukan Allah adalah benar, bukan karena kebenaran intrinsik dari perkara-perkara yang diwahyukan tersebut dapat diketahui melalui terang rasio kodrati, tapi karena otoritas dari Allah sendiri yang mewahyukannya, Dia yang tidak bisa menipu maupun ditipu").

Kepercayaan atas sesuatu berdasarkan suatu otoritas adalah hal yang cukup lumrah dan bahkan perlu dalam kehidupan kita mengingat keterbatasan manusia. Kita tidak pernah pergi ke bulan, tapi kita percaya bahwa gravitasi di bulan adalah seperenam gravitasi bumi karena orang-orang yang pernah ke bulan dan para ahli menyatakan kebenaran dari preposisi tersebut. Sistem persekolahan adalah salah satu tempat dimana orang lebih banyak mendapatkan ilmu mereka melalui kepercayaan. Murid-murid sekolah tidak akan pernah membuktikan sendiri semua yang diajarkan para guru di sekolah tersebut (ilmu fisika, ilmu geografi, ilmu ekonomi, ilmu politik dll) tapi mereka percaya kebenaran dari ilmu yang mereka dapat karena guru-guru dan para ahli yang disebut dalam buku sekolah memberi jaminan kebenaran akan apa yang diajarkan.

Mungkin ada yang berkata, "yah mungkin itu benar. Tapi kalau kita menyelidiki sendiri hal-hal tersebut tentunya kita akan lebih paham daripada kalau sekedar diberitahu orang lain." Apakah itu benar? Tidak juga. Sering terjadi bahwa karena keterbatasan diri kita sendiri (ie. daya rasio kita), maka kita akan lebih paham akan sesuatu kalau kita mendapatkan pemahaman itu melalui otoritas orang yang lebih ahli. Sebagai misal, kalau penulis sendiri yang melakukan eksperimen yang dilakukan Isaac Newton maka, karena kegoblokan penulis, penulis tidak akan pernah menghasilkan buku Principia Mathematica sebagaimana ditulis Newton. Dan kalau buku itu tidak muncul maka ilmu matematika akan mundur beberapa tahun kebelakang. Hal ini cukup lazim dalam hidup sehari-hari. Dalam masalah kesehatan misalnya. Ketika hidung kita sering berdarah maka kita pergi ke dokter supaya penyebabnya bisa diketahui. Apakah kita lebih paham kalau kita sendiri menganalisis penyebab dari kesakitan itu? Ataukah kita lebih paham akan penyebab kesakitan itu kalau kita percaya terhadap analisis sang dokter? Tentu saja jawabannya adalah yang terakhir.

Ketika kita meyakini kebenaran sesuatu karena kita percaya akan otoritas yang mengungkapkan kebenaran tersebut apakah ini berarti bahwa keyakinan kita itu sia-sia? Kita bisa menjawab "ya" atas pertanyaan ini KALAU otoritas yang mendorong kita untuk percaya diragukan. Sementara itu jawaban "tidak" kita berikan kalau otoritas yang menjadi sumber dari preposisi yang kita percayai itu benar-benar jujur dan benar-benar kredibel. Semakin jujur dan kredibel suatu otoritas, akan semakin kuatlah kepercayaan kita.

Nah, dalam hal iman yang ilahi kita mendapatkan kepastian yang paling tinggi atas kepercayaan atau iman (sebenarnya ada perbedaan antara kepercayaan dan iman, tapi untuk sementara kita anggap mirip saja dahulu). Mengapa? Tentunya karena otoritas yang menyatakan kepada kita adalah Allah sendiri yang tidak bisa berbohong, sehingga kredibilitas dan kejujuranNya adalah paling tinggi. Kepastian kita akan kepercayaan/iman kita terhadap apa yang dikatakan Allah bahkan jauh lebih tinggi daripada kepastian kita akan kebenaran yang didasarkan pada rasio. Mengapa? Bukan karena rasio mungkin menunjukkan kepada kesimpulan yang salah tapi karena sebagai manusia yang terbatas dan bisa salah kita mungkin menggunakan rasio secara tidak benar sehingga tiba pada kesimpulan yang keliru (kegoblokan penulis dibanding kejeniusan Isaac Newton)

Karena otoritas Allah adalah yang paling tinggi, maka pertanyaan sebenarnya bukanlah mengenai kredibilitas dari Allah, tapi kredibilitas dari klaim bahwa "Allah mewahyukan A," "Allah mewahyukan B," "Allah mewahyukan C" dan seterusnya. Pertanyaan ini relevan terhadap kebanyakan orang di jaman sekarang, terutama bagi orang yang beragama Kristen, Islam dan Yahudi, karena pewahyuan umum agama mereka telah terjadi dan telah selesai ratusan tahun sebelumnya. Orang jaman sekarang bukanlah orang yang menerima secara langsung pewahyuan umum dari Allah tersebut. Oleh karena itu, kredibilitas dari klaim "Allah mewahyukan sebagaimana diajarkan agama A," "Allah mewahyukan sebagaimana diajarkan agama B," "Allah mewahyukan sebagaimana diajarkan agama C," akan menentukan manakah kepercayaan yang sia-sia dan mana yang bukan.

Lalu bagaimana kita menentukan kredibilitas klaim-klaim tersebut? Caranya tentu sama dengan cara seorang penyidik mencari kebenaran dari kasusnya. Untuk menyidik kasus pembunuhan misalnya, seorang penyidik akan mengumpulkan fakta dengan menanyai saksi-saksi dan mencari barang-barang bukti seperti senjata pembunuhan, noda darah, mayat korban dan lain-lain. Dalam menyelidiki klaim pewahyuan agama maka kita juga akan harus mengumpulkan fakta-fakta dengan menanyai saksi-saksi dan mengumpulkan barang bukti-bukti.

Saksi-saksi utama pewahyuan agama telah meninggal, tapi bukan berarti bahwa kita tidak bisa "menanyai" saksi tersebut. Berbagai dokumen yang masih terjaga otentisitasnya sampai saat ini masih menyimpan rekaman dari kesaksian para saksi utama. Dokumen tersebut terutamanya adalah Kitab Suci dari agama-agama yang bersangkutan. Disamping Kitab Suci terdapat juga sumber-sumber dokumen lain yaitu tulisan-tulisan para saksi yang tidak termasuk dari Kitab Suci (karena dianggap tidak terinspirasi) tapi mengandung fakta-fakta dan data-data yang bisa mengkonfirmasi kebenaran dari klaim pewahyuan suatu agama, misalnya dari sejarahwan-sejarahwan kuno. Untuk agama Kristen misalnya, banyak tulisan dari para umat Kristen awal yang pernah hidup bersama para rasul yang mengkonfirmasi kebenaran iman yang Katolik dibandingkan apa yang di-klaim agama-agama non-Katolik. Seperti sakramen-sakramen, keutamaan Paus, tidak perlunya sunat, ke-ilahi-an Yesus. Hal ini tidak melulu dikonfirmasi oleh umat Kristen awal (kalau-kalau ada tuduhan bahwa mereka ini berbohong) tapi juga oleh para sejarahwan pagan. Para sejarahwan pagan ini mengkonfirmasi bahwa di jaman mereka ada suatu sekte yang menyebut diri Kristen yang menyembah seorang manusia, Kristus, sebagai Ilah (Bdk. surat 10.29 kepada Kaisar Trajan, Pliny The Younger; Kematian Pelegrine Lucien Samosata). Tentunya bukti ini meng-counter klaim agama-agama yang mengatakan bahwa ajaran asli pengikut Yesus awal-awal yang sejati adalah bahwa Yesus itu hanya manusia, bukan Allah.

Bukti-bukti fisik akan kebenaran klaim suatu pewahyuan agama juga akan di-check untuk mengetahui kredibilitas klaim tersebut. Sebagai misal, ditemukannya tabel batu yang bertuliskan nama "Pontius Pilatus" berserta jabatannya membuktikan keberadaan dari tokoh sentral pewahyuan agama Kristen ini. Contoh bukti fisik yang lain adalah kuburan-kuburan dari para tokoh bisa juga membuktikan keberadaan dari tokoh-tokoh tersebut (tidak berlaku bagi Yesus dan Maria). Petrus, misalnya, jelas-jelas dikubur di Roma (tepatnya di Vatikan) tidak hanya karena banyak dokumen kuno yang berkesaksian demikian, tapi karena bukti fisik keberadaan makam itu. Di tempat persemayanan sang pemegang kunci kerajaan surga terdapat tulisan "Petrus berada didalam sini" dalam bahasa Yunani yang digunakan umat Kristen dalam penganiayaan untuk menandai kuburan sang rasul.

Dan kesemua bukti-bukti dan kesaksian-kesaksian ini mengarah kepada satu tempat, tepatnya kepada satu Gereja, "sebab yang didirikan oleh Kristus Tuhan ialah Gereja yang satu dan tunggal." (Unitatis Redintegratio, par 1, Konsili Vatikan II). Di Gereja yang satu-satunya inilah satu-satunya agama yang benar itu ada: "Kita percaya, bahwa satu-satunya Agama yang benar itu berada dalam Gereja katolik dan apostolik" (Dignitatis Humanae, par 1, Konsili Vatikan II).

Iman Katolik kita yang ilahi bukanlah iman yang lahir dari kebingungan dan juga bukanlah iman yang merupakan pelarian dari kenyataan hidup.

Atas tulisan Romo Sudrijanta SJ, marilah kita umat Katolik mengikuti Rasul Paulus bersama-sama menjawab: "aku tidak malu [apalagi bingung atau sekedar lari dari kenyataan hidup]; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakanNya kepadaku [yaitu iman, yang diberikan Allah kepada kita] hingga pada hari Tuhan." (2 Tim 1:12).



PS
Mungkin penulis akan akan membahas beberapa hal lain dalam tulisan Romo Sudrijanta SJ. Tapi untuk sementara ini saja dahulu karena penting.

_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
Kinasih
== BANNED ==




Joined: 28 Mar 2008
Posts: 1292
Location: Bali

PostPosted: Thu, 25-06-2009 9:24 am    Post subject: Reply with quote

hmm.... spiritualist VS intellectualists...

Bahan ini sepertinya paling cocok dijadikan bahan debat, bukan diskusi. Kalaupun berdiskusi nantinya akan tetap ada garis tebal yang membedakan posisi spiritualis dan posisi intellectualist.

Tapi bagus juga kalau dicoba, saya berharap dalam kondisi yang sejuk dan nyaman. Topiknya berseberangan sekali.

Orang spiritualis memang kadang-kadang membahayakan dogma dan penjaga ajaran iman. Tapi mereka bukan orang jahat, atau bahkan atheis (saya mengatakan ini untuk para spiritualis katolik, dan Rm. J. Sudrijanta, SJ itu salah satunya).

Saya tetap bisa melihat ada kebaikan dari tulisn Rm. Sudrijanta, saya masih bisa melihat cerah iman ajaran katolik disana. Terutama bagian ini.

Quote:
Kepercayaan sesungguhnya merintangi pemahaman akan kebenaran. Apa yang kita kenal hanyalah kata, simbol atau dogma tentang kebenaran. Tetapi dogma tentang kebenaran tidak identik dengan kebenaran. Kita mengenal dogma tentang kebenaran tetapi kebenaran yang sesungguhnya tidak ada dalam dogma manapun. Kebenaran dogmatis hanyalah kebenaran teori dan kebenaran teori bukan kebenaran sejati.

Dogma atau rumus kebenaran bukannya tidak berguna. Rumus kebenaran berguna sebagai penunjuk kepada kebenaran sejati. Tetapi untuk menemukan kebenaran sejati, kepercayaan sepenuhnya musti ditanggalkan. Tidak peduli itu kepercayaan tentang Tuhan, roh kudus, roh jahat, roh leluhur, kepercayaan pada ideologi, dogma atau berbagai bentuk kepercayaan lainnya. Roh-roh atau Tuhan-tuhan yang kita pikirkan atau kita kenal bukanlah Roh atau Tuhan yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin kebenaran sejati atau Yang Tak-Dikenal bisa kita pikirkan dan menjadi objek kepercayaan? Bukankah segala objek pikiran atau objek kepercayaan masih berada pada lingkup waktu?


Percaya itu tahap pertama, mengerti dan memahami akan apa yang dipercayai adalah tahap berikutnya.

Saya suka 4 tingkatan ini:

I talk, you listen.
You talk, I listen.
Neither talks, both listen.
Neither talks, neither listens: Silence

Kiranya Rm. Sudrijanto sedang menuju fase ke-4 itu.

Salam - Kin
_________________
Tyas Dalem Sang Kristus Ingkang Maha Suci... Nyuwun Kawelasan.


Last edited by Kinasih on Thu, 25-06-2009 9:27 am; edited 2 times in total
Back to top
View user's profile Send private message
paul7475
== BANNED ==




Joined: 12 Mar 2009
Posts: 1578

PostPosted: Thu, 25-06-2009 11:58 am    Post subject: Reply with quote

@Kinasih,

apa yang Anda tulis itu koq mirip2 dengan yang dikemukakan oleh Rm Anthony de Mello, SJ (alm) ?
Back to top
View user's profile Send private message
April



Joined: 25 Jan 2004
Posts: 1707

PostPosted: Thu, 25-06-2009 12:03 pm    Post subject: Reply with quote

Romo ini bukanlah seorang "ahli intelektualis", beliau lebih "ahli spiritualis", so ada bagusnya dan juga ngga salah-salah amat, bagi kita umat (yang tentunya lebih "ahli intelektualis") utk membantu mengisi kekurangan ini heheh..



Di link itu, di bagian akhir ada tanggapan dari romo sebelum di-lock,

Romo Sudrijanta wrote:
Tulisan-tulisan yang saya posting di rubrik ini tentu bukan panduan meditasi menurut doktrin Katolik tetapi sebuah pencarian bersama yang ditulis dalam konteks multi-religius untuk membantu para pencari kebenaran dari berbagai agama, termasuk Katolik, para agnostik maupun para ateis dalam pencarian spiritual mereka. Maka dalam berbagai kesempatan saya menerima dengan penuh keterbukaan siapa saja termasuk orang-orang non-Katolik yang datang untuk ikut bermeditasi atau retret bersama. Juga orang-orang Katolik yang tidak pernah lagi pergi ke Gereja.

Romo sendiri mengakui bahwa tulisan-tulisannya bukanlah panduan meditasi menurut doktrin Katolik, tentunya setelah beberapa tanggapan keberatan atas pandangannya yang sudah terjadi disana (di link itu).


Pada paragraf sebelumnya,
romo wrote:
Olah kerohanian saya banyak dipengaruhi oleh pendekatan Ignatian. Meditasi atau kontemplasi Ignatian sering saya pakai dalam berbagai kesempatan pendampingan. Juga sekarang ini. Tetapi saya lama pernah mengalami stagnasi spiritual. Itu juga yang saya amati dalam diri beberapa rekan-rekan dekat saya. Mengapa? Karena dalam pendekatan Ignatian peran ”intelek” masih sangat kuat.

Maka kemudian saya mengembangkan pendekatan dari tradisi monastik Katolik yang diintegrasikan sedemikian rupa dengan kekayaan meditasi timur. Banyak rekan-rekan lain yang telah mendahului saya pada jalan ini. Dan jalan ini sangat memperkaya apa yang sebenarnya mau dicapai lewat Latihan Rohani Ignatian dan olah kerohanian Katolik pada umumnya.

Pendekatan ini rasanya cukup menolong para pejalan rohani keluar dari stagnasi seperti yang pernah saya alami. Orang yang sampai di sini akan melihat bedanya olah kerohanian yang sebenarnya masih sebatas intelek dengan olah kerohanian yang mengatasi intelek.

Analoginya,

seseorang yang meracik-racik ramuan-ramuan wewangian yang dicampur-campur antara wewangian ala Ignatian dan wewangian ala timur yang diakuinya cukup berhasil membantu orang-orang hehehe...

Jadi kondisi ini,
sebuah spritualis atau sebuah kontes hobby 'wewangian'? Ketawa

nb:
masing-masing men-demo-kan wangian kesukaan
Back to top
View user's profile Send private message
Kinasih
== BANNED ==




Joined: 28 Mar 2008
Posts: 1292
Location: Bali

PostPosted: Thu, 25-06-2009 12:52 pm    Post subject: Reply with quote

April wrote:
Romo ini bukanlah seorang "ahli intelektualis", beliau lebih "ahli spiritualis", so ada bagusnya dan juga ngga salah-salah amat, bagi kita umat (yang tentunya lebih "ahli intelektualis") utk membantu mengisi kekurangan ini heheh..


Saya kira menjadi seorang spiritualis bukan berarti menjadi lebih berkekurangan atau berkelebihan dibanding sebagai seorang intellectualist. Mereka hanya memilih jalannya sendiri-sendiri secara unik.

April wrote:
Analoginya,
seseorang yang meracik-racik ramuan-ramuan wewangian yang dicampur-campur antara wewangian ala Ignatian dan wewangian ala timur yang diakuinya cukup berhasil membantu orang-orang hehehe...

Jadi kondisi ini,
sebuah spritualis atau sebuah kontes hobby 'wewangian'? Ketawa

nb:
masing-masing men-demo-kan wangian kesukaan


Walaupun sepertinya april jago membuat anologi tapi yang ini rasanya rada berlebihan. Hmmm bolehlah berpendapat begitu, walau rada tertangkap ada nada meledek sedikit good Job Namun, intinya bisa ditangkap dengan baik bahwa: Romo sedang mengusahakan untuk bisa semakin "membantu orang" dengan cara sehalus dan selembut mungkin, lalu diharapkan orang itu melihat "something hidden behind it" yaitu keagunan ajaran tentang kebenaran dan sebuah jalan melalui Gereja Katolik.

Paragraph yang dikutip april tetang tulisan Rm. Sudrijanto sebelum di lock makin menguatkan saya untuk mengatakan, tidak perlu ada yang dikhawatirkan atas tulisan beliau. Beliau masih tetap seorang imam Jesuit.

Begitu dari saya...

Salam - Kin
_________________
Tyas Dalem Sang Kristus Ingkang Maha Suci... Nyuwun Kawelasan.
Back to top
View user's profile Send private message
paul7475
== BANNED ==




Joined: 12 Mar 2009
Posts: 1578

PostPosted: Thu, 25-06-2009 1:01 pm    Post subject: Reply with quote

@Kinasih dan April

Tulisan2 yang di-lock itu koq mirip2 dengan yang dikemukakan Rm Anthony de Mello, SJ ?!

Apakah ini memang 'jalan yang ditempuh' para Jesuit dalam 'mengatasi' stagnasi spritual dalam kontemplasi Ignatian ?

Kinasih wrote:
Paragraph yang dikutip april tetang tulisan Rm. Sudrijanto sebelum di lock makin menguatkan saya untuk mengatakan, tidak perlu ada yang dikhawatirkan atas tulisan beliau. Beliau masih tetap seorang imam Jesuit.

de Mello juga masih tetap seorang imam Jesuit hingga akhir hayatnya. Namun tulisan2nya, terutama yang muncul belakangan, mendapat 'pertentangan' dari Vatikan.
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10684
Location: Orange County California

PostPosted: Thu, 25-06-2009 1:11 pm    Post subject: Reply with quote

Kinasih wrote:
hmm.... spiritualist VS intellectualists...


Pembedaan seperti ini dasarnya apa? Mengapa yang satu "spiritualist" dan mengapa yang lain "intelectualist?"


Tapi rasanya "spiritualist" yang meremehkan kredibilitas iman atas otoritas Allah yang mewahyukan pastilah "spiritualist" yang dituntun oleh spirit of darkness.

Quote:

Orang spiritualis memang kadang-kadang membahayakan dogma dan penjaga ajaran iman.


Spiritualist yang dituntun the spirit of darkness?



Quote:
Saya tetap bisa melihat ada kebaikan dari tulisn Rm. Sudrijanta, saya masih bisa melihat cerah iman ajaran katolik disana. Terutama bagian ini.

Quote:
Kepercayaan sesungguhnya merintangi pemahaman akan kebenaran. Apa yang kita kenal hanyalah kata, simbol atau dogma tentang kebenaran. Tetapi dogma tentang kebenaran tidak identik dengan kebenaran. Kita mengenal dogma tentang kebenaran tetapi kebenaran yang sesungguhnya tidak ada dalam dogma manapun. Kebenaran dogmatis hanyalah kebenaran teori dan kebenaran teori bukan kebenaran sejati.

Dogma atau rumus kebenaran bukannya tidak berguna. Rumus kebenaran berguna sebagai penunjuk kepada kebenaran sejati. Tetapi untuk menemukan kebenaran sejati, kepercayaan sepenuhnya musti ditanggalkan. Tidak peduli itu kepercayaan tentang Tuhan, roh kudus, roh jahat, roh leluhur, kepercayaan pada ideologi, dogma atau berbagai bentuk kepercayaan lainnya. Roh-roh atau Tuhan-tuhan yang kita pikirkan atau kita kenal bukanlah Roh atau Tuhan yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin kebenaran sejati atau Yang Tak-Dikenal bisa kita pikirkan dan menjadi objek kepercayaan? Bukankah segala objek pikiran atau objek kepercayaan masih berada pada lingkup waktu?


Ini adalah salah satu bagian yang paling kacau dan sudah disinggung dengan ilustrasi Isaac Newton dan analisa penyakit oleh seorang dokter.

Quote:
Percaya itu tahap pertama, mengerti dan memahami akan apa yang dipercayai adalah tahap berikutnya.

Saya suka 4 tingkatan ini:

I talk, you listen.
You talk, I listen.
Neither talks, both listen.
Neither talks, neither listens: Silence

Kiranya Rm. Sudrijanto sedang menuju fase ke-4 itu.

Salam - Kin

Ini fase-nya De Mello SJ yang tulisannya dikutuk Gereja.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
njegadul_asli



Joined: 20 Jan 2006
Posts: 302
Location: Jakarta

PostPosted: Thu, 25-06-2009 1:42 pm    Post subject: Reply with quote

Jujur, saya belum membuka situs yang memuat tulisan itu, tapi saya heran, spiritualitas ala apa yang beliau anut ketika mendalami Ajaran GerejaNYA dan berhomili ketika memimpin Perayaan Ekaristi?

Sekali lagi, ini menunjukkan bahaya dari relativisme iman sebagaimana sudah dianathema oleh GerejaNYA dan diperkuat lagi oleh Bapa Suci Benedictus XVI ketika beliau baru saja dilantik menggantikan mendiang Bapa Suci Yohanes Paulus II.

Saya bersyukur dapat membaca keberatan atas tulisan Romo Sudrijanta itu dan semoga semakin banyak umat GerejaNYA yang bisa bersikap kritis untuk mencerna setiap tulisan yang membahayakan Iman yang Satu, Kudus, Katolik & Apostolik.
_________________
Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.
Konjuk ing Asma Dalem Allah Hyang Rama saha Hyang Putra tuwin Hyang Roh Suci. Amin.
In nomine Patris et Filii et Spiritus Sanctii. Amen.
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Yahoo Messenger
Kinasih
== BANNED ==




Joined: 28 Mar 2008
Posts: 1292
Location: Bali

PostPosted: Thu, 25-06-2009 2:02 pm    Post subject: Reply with quote

DV wrote:
Pembedaan seperti ini dasarnya apa? Mengapa yang satu "spiritualist" dan mengapa yang lain "intelectualist?"


Aha… inilah contoh pertanyaan seorang intellectualist. good Job Saya menggunakan pembeda begini, spiritualis itu lebih mendengar suara hati dan intellectualis lebih menggunakan otaknya dan kemampuan mereka berpikir. Mohon tidak gagabah menyimpulkan spiritualis tidak berpikir dan intelektualis tak mendegar suara hatinya. Kadar kecenderugan terbesar yang mereka pilih yang saya maksudkan digunakan sebagai pembeda.

DV wrote:
Tapi rasanya "spiritualist" yang meremehkan kredibilitas iman atas otoritas Allah yang mewahyukan pastilah "spiritualist" yang dituntun oleh spirit of darkness.


Ini saya setuju, tapi dalam hal tulisan Romo Sudrijanto saya kira bukan yang berasal dari spirit of darkness.

DV wrote:
Spiritualist yang dituntun the spirit of darkness?


Bukan, spiritualitas yang dituntun Roh Kuduspun sebelum diteliti lebih lanjut oleh "yang berwenang" bisa dianggap membahayakan dogma dan penjaga iman Gereja. Lebih tepat barangkali jika disebut merepotkan para pejabat yang bekerja di komisi dogma dan ajaran iman Gereja. Walaupun disisi lain pemikiran seperti ini menolong dan membantu para pejabat di komisi pastoral dan pewartaan. good Job

DV wrote:
Ini adalah salah satu bagian yang paling kacau dan sudah disinggung dengan ilustrasi Isaac Newton dan analisa penyakit oleh seorang dokter.


Ini juga ciri-ciri cara berpendapat seorang intelektualist. Gimana kalau saya sharingkan apa yang bisa saya tangkap dari maksud Romo Sudrijanto dalam tulisannya.

Quote:
Rumus kebenaran berguna sebagai penunjuk kepada kebenaran sejati. Tetapi untuk menemukan kebenaran sejati, kepercayaan sepenuhnya musti ditanggalkan.


Ini maksudnya adalah: mengetahui dan memegang sebuah kepercayaan itu sangat penting. Seperti Paulus berkata dalam kutipan Anda DV: "aku tidak malu [apalagi bingung atau sekedar lari dari kenyataan hidup]; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakanNya kepadaku [yaitu iman, yang diberikan Allah kepada kita] hingga pada hari Tuhan."

Seperti Anda, sayapun mengamini pernyataan itu. Akan tetapi tetap ada sebuah area dimana kita masih bergantung pada Sang Yang Agung itu. Kita tidak bisa bilang ini pasti begini dan saya pasti akan sampai kesana. Kita masih sebaiknya mengatakan, semoga Tuhan memberkati saya supaya saya layak untuk menuju dan sampai kepada-Nya, bukan begitu?

Sebuah area inilah yang kadang tidak terlihat seorang intellectualist walau mungkin tetap disadarinya, tapi mampu dirasakan bahkan dilihat dengan jernih para spiritualis.

DV wrote:
Ini fase-nya De Mello SJ yang tulisannya dikutuk Gereja.


Maaf DV, saya tidak memperpanjang soal The Prayer of The Frog, itu saya tahu sudah dibahas panjang lebar pada topic terdahulu. Sikap saya soal ini adalah, jika cerita-cerita dalam buku itu mampu membantu saya makin mencintai Gereja Katolik dan seluruh ajaran-Nya, kenapa tidak.

Plus, perlu dihighlight bawha Romo Sudrijanto tidak mengatakan ini dalam koridor bukan panduan meditasi menurut doktrin Katolik tetapi sebuah pencarian bersama yang ditulis dalam konteks multi-religius untuk membantu para pencari kebenaran dari berbagai agama, termasuk Katolik, para agnostik maupun para ateis dalam pencarian spiritual mereka.

Salam - Kin
_________________
Tyas Dalem Sang Kristus Ingkang Maha Suci... Nyuwun Kawelasan.
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10684
Location: Orange County California

PostPosted: Thu, 25-06-2009 5:06 pm    Post subject: Reply with quote

Kinasih wrote:
DV wrote:
Pembedaan seperti ini dasarnya apa? Mengapa yang satu "spiritualist" dan mengapa yang lain "intelectualist?"


Aha… inilah contoh pertanyaan seorang intellectualist. good Job Saya menggunakan pembeda begini, spiritualis itu lebih mendengar suara hati dan intellectualis lebih menggunakan otaknya dan kemampuan mereka berpikir. Mohon tidak gagabah menyimpulkan spiritualis tidak berpikir dan intelektualis tak mendegar suara hatinya. Kadar kecenderugan terbesar yang mereka pilih yang saya maksudkan digunakan sebagai pembeda.

Kalau spiritualist lebih mendengarkan hati mereka dan intelectualist lebih menggunakan intelek mereka, lalu mengapa tulisan Romo dianggap spiritualist? Apakah tulisan Romo menggunakan hati dan tidak menggunakan intelek? Lalu yang dimaksudkan menggunakan hati itu yang bagaimana? (supaya ketika kita membaca tulisan kita tahu "oh, ini lho yang menunjukkan penggunaan hati).


Begitu juga, mengapa tanggapan atas tulisan Romo itu intelectualist? Yang membuat tulisan itu intelectualist yang mana? mengapa demikian?


Harap dijelaskan sejelas-jelasnya sehingga seorang nelayan bisa mengerti (mengingat murid-murid pertama Yesus adalah nelayan).

Quote:
DV wrote:
Tapi rasanya "spiritualist" yang meremehkan kredibilitas iman atas otoritas Allah yang mewahyukan pastilah "spiritualist" yang dituntun oleh spirit of darkness.


Ini saya setuju, tapi dalam hal tulisan Romo Sudrijanto saya kira bukan yang berasal dari spirit of darkness.

Rasanya pasti juga bukan The Spirit of God juga kan? Karena Spirit of God, alias sang Roh Kudus, pastilah berkesaksian akan iman dan dogma-dogma Gereja kita yang kudus yang telah Dia jaga kebenaran.

Sementara yang dilakukan Romo adalah sebaliknya.

Quote:
DV wrote:
Spiritualist yang dituntun the spirit of darkness?


Bukan, spiritualitas yang dituntun Roh Kuduspun sebelum diteliti lebih lanjut oleh "yang berwenang" bisa dianggap membahayakan dogma dan penjaga iman Gereja. Lebih tepat barangkali jika disebut merepotkan para pejabat yang bekerja di komisi dogma dan ajaran iman Gereja. Walaupun disisi lain pemikiran seperti ini menolong dan membantu para pejabat di komisi pastoral dan pewartaan. good Job

Mana ada yang seperti itu? Ada contoh kasus?

Quote:
DV wrote:
Ini adalah salah satu bagian yang paling kacau dan sudah disinggung dengan ilustrasi Isaac Newton dan analisa penyakit oleh seorang dokter.


Ini juga ciri-ciri cara berpendapat seorang intelektualist. Gimana kalau saya sharingkan apa yang bisa saya tangkap dari maksud Romo Sudrijanto dalam tulisannya.

Sebaiknya dijelaskan juga bagaimana pendapat seperti itu adalah pendapat seorang intelektualist.

Quote:
Quote:
Rumus kebenaran berguna sebagai penunjuk kepada kebenaran sejati. Tetapi untuk menemukan kebenaran sejati, kepercayaan sepenuhnya musti ditanggalkan.


Ini maksudnya adalah: mengetahui dan memegang sebuah kepercayaan itu sangat penting. Seperti Paulus berkata dalam kutipan Anda DV: "aku tidak malu [apalagi bingung atau sekedar lari dari kenyataan hidup]; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakanNya kepadaku [yaitu iman, yang diberikan Allah kepada kita] hingga pada hari Tuhan."

Seperti Anda, sayapun mengamini pernyataan itu. Akan tetapi tetap ada sebuah area dimana kita masih bergantung pada Sang Yang Agung itu. Kita tidak bisa bilang ini pasti begini dan saya pasti akan sampai kesana. Kita masih sebaiknya mengatakan, semoga Tuhan memberkati saya supaya saya layak untuk menuju dan sampai kepada-Nya, bukan begitu?

Sebuah area inilah yang kadang tidak terlihat seorang intellectualist walau mungkin tetap disadarinya, tapi mampu dirasakan bahkan dilihat dengan jernih para spiritualis.

Kita tidak berbicara mengenai kepastian akan ke Surga (Protestant-lah yang merasa bahwa mereka pasti ke Surga).

Kita berbicara mengenai kepastian dari apa yang kita percaya.


And let me tell you bahwa kepastian-ku akan apa yang aku percayai, sebagaimana diwartakan oleh agama Katolik kita yang kudus, adalah lebih tinggi dari kepastianku bahwa besok matahari akan terbit dari timur, bahwa cahaya mempunyai sifat menyebar, bahwa panas yang diterima sama dengan panas yang dikeluarkan (hukum Kalor), bahwa dalam segitiga siku-siku kuadrat panjang sisi yang terpanjang adalah sama dengan jumlah kuadrat dua sisi lainnya.

Tiga hal yang pertama bergantung dari hukum alam yang didesain Allah. Namun Allah bisa membuat pengecualian, ie. bertindak diluar hukum, dalm kasus-kasus tertentu (terbelahnya laut merah, Yesus berjalan diatas air etc). Jadi kalau sang pen-desain merubah aturan-aturan main yang Dia gariskan dalam hukum itu, maka apa yang seharusnya terjadi, bisa jadi tidak terjadi (dan sebaliknya). Contoh yang terakhir berkenaan dengan daya rasio seseorang. Aku bisa jadi terlalu goblok untuk bisa memahami denga rasio-ku sendiri urutan-urutan pemikiran yang mendasari teorema Pythagoras tersebut. Oleh karena daya rasio-ku yang "ngaco" karena kebegoanku, maka aku bisa jadi keliru.

Namun dengan iman... tidak hanya kita memiliki kepastian karena yang mewartakan adalah Allah, kita juga mendapat kebajikan yang terinfusikan untuk memahami dengan terang apa yang kita imani.

Faith is the substance of things to be hoped for, the evidence of things that appear not. (Ibrani 11:1)

Iman itu real. Suatu substansi. Suatu substansi dari apa yang kita harapkan.

Quote:
DV wrote:
Ini fase-nya De Mello SJ yang tulisannya dikutuk Gereja.


Maaf DV, saya tidak memperpanjang soal The Prayer of The Frog, itu saya tahu sudah dibahas panjang lebar pada topic terdahulu. Sikap saya soal ini adalah, jika cerita-cerita dalam buku itu mampu membantu saya makin mencintai Gereja Katolik dan seluruh ajaran-Nya, kenapa tidak.

Kalaupun hal-hal keliru dari yang ditulis De Mello SJ membuat kamu mencintai Gereja, itu tidak membuat everything is fine and cozy.

Katakanlah Sinta menikahi Beni setelah diberitahu bahwa Beni-lah orang yang dulu menyelamatkannya. Tapi sebenarnya info itu keliru, karena yang menyelamatkan Sinta sebenarnya adalah Romi.


Loving for all the wrong reasons is not a good thing. It is a sad thing actually.

Quote:
Plus, perlu dihighlight bawha Romo Sudrijanto tidak mengatakan ini dalam koridor bukan panduan meditasi menurut doktrin Katolik tetapi sebuah pencarian bersama yang ditulis dalam konteks multi-religius untuk membantu para pencari kebenaran dari berbagai agama, termasuk Katolik, para agnostik maupun para ateis dalam pencarian spiritual mereka.

Salam - Kin

Tulisan Romo meremehkan iman Katolik. Apa yang dia tulis merupakan a great disservice to the cause of our most holy religion.

That is all there is to it.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Next
Page 1 of 22

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17