FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

"The Closing of the Muslim Mind"    
Goto page: Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Thu, 02-06-2011 6:50 pm    Post subject: "The Closing of the Muslim Mind" Reply with quote



Sebuah buku dari Robert R. Reilly yang sangat bagus!!

Aku tahu mengenai buku ini dari jihadwatch.org dahulu. Tapi tadi aku melihat video presentasi dan tanya jawab sang pengarang yang di-host oleh Heritage club. Videonya panjang sekitar 1.5 jam. Tapi sangat mind-opening.

Kisahnya seperti ini. Pada awalnya komunitas Islam adalah komunitas yang eksklusif dan homogen. Namun kemudian Islam mulai meng-aneksasi keKristenan [Timur]. Dan pada tahap inilah Islam bertemu dengan budaya filosofi Yunani yang mengakar di Ke-Kristenan.

Terpesona oleh budaya Hellenistik (ie. Yunani) tersebut, Kalifah saat itu memerintahkan untuk menerjemahkan banyak tulisan Yunani ke bahasa Arab (bahkan pembelajaran St. Thomas Aquinas dan para skolastik akan Aristoteles etc berasal dari terjemahan Arab tersebut yang diterjemahkan ke bahasa Latin, bukan dari karya asli Yunani yang diterjemahkan ke Latin). Karya-karya itu disimpan dalam tempat yang disebut Baitul Hikmat (artinya Rumah Kebijaksanaan).

Budaya Hellenistik yang membuat si Kalifah terpesona adalah filosofi Yunani mengenai nalar (ratio [latin]; reason [Inggris]). Muncul-lah aliran yang disebut Mu'tazelite di kalangan Islam yang mencoba memadukan nalar/rasio dengan Islam (sebagaimana para putra-putri Gereja, terutamanya.

Namun aliran ini mendapat tantangan dari aliran lain yang lebih tradisional, yaitu aliran Ash'arites. Sebegitu antinya aliran Ash'arites dengan pikiran-pikiran Mu'tazelite sampai-sampai satu rumah yang kedapatan menyimpan buku Al-Kindi (seorang Mu'tazelite) akan dihukum bersama dengan 40 rumah yang berdekatan dengan rumah dimana buku itu ditemukan.

Aliran Ash'arite berkeyakinan bahwa Tuhan adalah "pure will." Sama sekali tidak rasional. Sesuatu itu jahat bukan karena hal tersebut intrinsically jahat, tapi karena Tuhan berkata bahwa itu jahat. Apel jatuh dari pohon bukan karena ada hukum gravitasinya Newton, tapi karena Allah yang membuatnya jatuh (jadi tidak ada hukum alam, tapi Tuhan-lah yang menyebabkannya). Untuk gampang memahami, maka bisa dikatakan bahwa yang membuat 1+2=3 adalah Allah. Kalau Allah membuat 1+2=4, maka terjadilah itu.

Nah, di jaman sekarang ini aliran terbesar Islam adalah Sunni (termasuk Indonesia), dan mayoritas Sunni menganut aliran Ash'arite. Gerakan Wahabi yang terkenal itu adalah penganut keras pemikiran Ash'arite.

Implikasi dari penolakan mayoritas Islam terhadap nalar sangat banyak sekali.

Buku Rilley bercerita tentang sejarah pertemuan Islam dengan rasionalitas (melalui filosofi Yunani dari umat Kristen di daerah kekuasaan mereka) dan bagaimana kemudian rasionalitas terkalahkan di Islam dan hal ini menimbulkan kemunduran Islam dan kesulitan, kalau tidak mau dikatakan "ketidakmungkinan," untuk berdialog dengan Islam (disatu sisi kita tidak bisa menggunakan wahyu Kristen dalam berdialog karena mereka tidak menerimanya sementara disisi lain wahyu Islam juga tidak bisa karena kita tidak menerimanya, satu-satunya sisi netral seharusnya adalah nalar/rasio, tapi ini pun tidak diterima Islam).


Sangat meng-inspirasi apa yang dikatakan Rilley di video itu.

Mungkin akan aku terjemahkan dalam bahasa Indonesia apa yang dkatakan Rilley di video itu. Tapi juga mungkin tidak karena terlalu membebani Smile.

Mungkin artikel pendek ini saja yang aku terjemahkan. Mungkin Smile.


PS
Terus terang di tulisanku diatas aku kurang menjelaskan contoh-contoh kasus yang diakibatkan perceraian Islam dan nalar/rasio. Tapi percayalah bahwa perceraian tersebut sangat far-reaching dan membentuk Islam sebagaimana apa yang kita temui sekarang. Mungkin lain kali. Sudah lelah melihat video itu, tapi sangat mencerahkan.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
Penonton



Joined: 24 Jul 2007
Posts: 951
Location: Sodom & Gomora

PostPosted: Thu, 02-06-2011 7:58 pm    Post subject: Reply with quote

Di Gramedia ada gak yah? Mau dong om beli bukunya, tapi dimana? good Job
_________________
5 30 19 I call heaven and earth to witness this day, that I have set before you life and death, blessing and cursing. Choose therefore life, that both thou and thy seed may live:
Back to top
View user's profile Send private message
X



Joined: 22 Sep 2007
Posts: 387
Location: Di Hati Netter Ekaristi :P

PostPosted: Thu, 02-06-2011 8:11 pm    Post subject: Reply with quote

kebiasaan online di facebook, cari-cari tulisan "LIKE" untuk post DV ngga ada ehh ternyata saya online di sini Ketawa Ngakak Ketawa Ngakak

di Indonesia pasti diban ini buku? Sedih
Back to top
View user's profile Send private message
maria kolbe



Joined: 08 Jan 2008
Posts: 247
Location: Serpong, Tangerang

PostPosted: Thu, 02-06-2011 8:56 pm    Post subject: Reply with quote

mungkin di luar negri atau toko buku asing seperti periplus dan times bisa diperoleh buku tersebut...
beberapa buku yang menyinggung islam memang sulit didapat di Indonesia...
buku "clash of civilization" karangan Samuel P Huntington sekarang pun sudah sulit didapat.

Pax Cristi
Back to top
View user's profile Send private message
SanctusDominus



Joined: 05 Oct 2006
Posts: 328
Location: Surabaya

PostPosted: Fri, 03-06-2011 5:37 am    Post subject: Re: "The Closing of the Muslim Mind" Reply with quote

DeusVult wrote:

...
kalau tidak mau dikatakan "ketidakmungkinan," untuk berdialog dengan Islam (disatu sisi kita tidak bisa menggunakan wahyu Kristen dalam berdialog karena mereka tidak menerimanya sementara disisi lain wahyu Islam juga tidak bisa karena kita tidak menerimanya, satu-satunya sisi netral seharusnya adalah nalar/rasio, tapi ini pun tidak diterima Islam).
...


Waduh ... berarti bagi Islam, Allah bisa melakukan perbuatan dosa (berbohong, menipu, membunuh) ... wah kalo begini memang susah

Karena Allah mereka melakukan "perbuatan sekehendak hatiNya" ... tidak heran muslim menjadi seperti sekarang ... "Karepe dewe"

Pertanyaan kritisnya adalah ...

Kalo segala jurusan sudah ditutup, lalu dialog bisa dilakukan lewat mana?
Berarti hanya Tuhan sendiri dong yang bisa menembus kepungan itu !?
Apa yang bisa kita lakukan sekarang ?
Rosario seperti peristiwa di Lepanto dulu ?
_________________
Sanctus Sanctus Sanctus Dominus Deus Sabaoth
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Fri, 03-06-2011 8:11 pm    Post subject: Re: "The Closing of the Muslim Mind" Reply with quote

DeusVult wrote:
Mungkin artikel pendek ini saja yang aku terjemahkan. Mungkin Smile.


    Apa yang terjadi pada peradaban Islam? Bagaimana dari Ali Sina dan Cordoba [catatan DeusVult: Cordoba adalah daerah Spanyol yang sempat dikuasai Islam. Dan pada saat dikuasai Islam daerah ini relatif toleran, meskipun tidak setoleran yang di-klaim para apologist moslem] kita beranjak ke Osama Ben Laden dan al-Qaeda? Di buku terbarunya, Penutupan Pemikiran Moslem: Bagaimana Bunuh Diri Intelek Menciptakan Islamist Modern, Robert R. Reilly [catatan DeusVult: seorang Katolik] melacak [jawaban] dari permasalahan tersebut ke sebuah perdebatan teologis berusia seribu tahun mengenai nalar dan kodrat [sang] Allah.


    Editor InsideCatholic Brian Saint-Paul berbicara dengannya:


    Brian Saint-Paul: Islam meledak dari Arabia sebagai sejenis agama nomadik. Pada generasi-generasi awal Islam tidak begitu tertarik dengan issu-issu filosofis tapi lebih tertarik dengan ekspansi dan suksesi. Tapi kemudian terjadi perubahan. Bagaimana terjadinya?

    Robert R. Reilly: Empat kalifah pertama tidak beranjak dari peninsula Arabia. Pada awalnya mereka menempatkan pasukan mereka dioluar kota-kota yang telah mereka kuasai sehingga kaum moslem tidak teracuni oleh budaya dan keyakinan asing. Setelah berdirinya Kalifah Umayyad sekitar tahun 660, pusat dari kekaisaran baru [Islam] berpindah ke Damaskus, dan kemudian [pada jaman kalifah] Abbasids berpindah ke Baghdad. [Kaum moslem] tidak dapat [lagi] meng-karantina [diri mereka sendiri], dan mereka bertemu dengan orang-orang yang [menganggap] berfilosofi bagai makan sehari-hari [catatan DeusVult: terjemahan bebas dari "second nature"], [dimana filosofi itu sendiri] dirasuki oleh [semangat] apologetik Kristen pada masa itu.

    Jadi dalam perbincangan mereka dengan umat Kristen, kaum moslem merasa perlu untuk mengembangkan suatu alat filosofis untuk memajukan dan mempertahankan iman Moslem. Mereka memerlukan apologetik tersendiri. Lalu muncullah pertanyaan: Apakah sah bagi kami untuk menggunakan sarana-sarana tersebut, yaitu logik dan filosofis, dan apa saja yang kita boleh [bisa] ketahui melalui sarana-sarana tersebut?

    BSP: [Bukannya] perubahan ini [ie. munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut] berpusat pada sebuah aliran pemikiran Islam tertentu? Yaitu aliran Mu'tazilites?


    RRR: Ya. Kaum Mu'tazilites menjunjung keutamaan nalar, dan [mengajarkan] bahwa tugas utama seseorang adalah ber-nalar dan, melaluinya, dia menemukan Allah.. Mereka juga berpendapat bahwa merupakan tugas mereka [ie. kaum Mu'tazilites] untuk memahami wahyu [Islam] dengan cara yang sesuai dengan nalar. Jadi kalau ada bagian dalam Quran yang tampaknya tidak sesuai dengan nalar, maka bagian itu tidak seharusnya dibaca secara harafiah. Bagian-bagian [seperti itu] harus dianggap sebagai sebuah metafora atau analogi.

    Kaum Mu'tazilites berkeyakinan bahwa Allah sendiri adalah Nalar, dan nalar manusia adalah karunia dariNya sehingga manusia bisa tiba pada pengetahuan akan Dia melalui tatanan ciptaan-Nya. Abd al-Jabbar, salah satu teolog besar, membuat pernyataan, "adalah suatu kewajiban bagimu untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan nalar."

    Ini dikarenakan kaum Mu'tazilites berpegang bahwa nalar bisa [membuat kita] tiba pada pengetahuan akan baik dan buruk, adil dan tak-adil. Pengetahuan ini tersedia bagi semua orang, tidak hanya Moslem. Karenanya, adalah sangat perlu bagi semua orang untuk ber-nalar, untuk tiba pada pengetahuan akan baik dan buruk, dan untuk berperilaku sesuai dengan [apa yang telah mereka ketahui melalui ber-nalar tersebut]. [Bila nalar tidak mampu digunakan untuk memahami moralitas, lalu bagaimana mungkin Allah mengharap manusia berperilaku secara moral?]

    Kaum Mu'tazilites didukung oleh Kalifaf al-Ma'mun, yang [dia sendirinya] adalah pendukung besar pemikiran-pemikiran Yunani dalam sejarah ke-Islam-an. Dikisahkan bahwa dia pernah bermimpi, [dimana dalam mimpinya] Aristoteles muncul dihadapannya. Dia bertanya kepada sang filsuf, "apakah yang baik itu?" dan Aristoteles menhawab, "[Yang baik itu] adalah apa yang secara nalar baik." Dan oleh karenanya al-Ma'mun memeluk aliran teologi nalar kaum Mu'tazilites dan juga men-sponsor al-Kindi, sang filsuf Arab pertama.

    BSP: Pada paparan yang luas diatas, pandangan akan Allah tersebut cukup cocok dengan yang diyakini ke-Kristenan, bukankah begitu?

    RRR: Kedengarannya memang sangat familiar bagi kita. Dan ketika [kita] membaca [tulisan-tulisan] Abd al-Jabbar, kita bisa terkaget oleh bagaimana miripnya [tulisan-tulisan tersebut] dengan apologetik Kristen, atau apa yang kita sebut Teologi Kodrati [natural theology]. Bahkan, argumen-argumennya mengenai eksistensi Allah amat sama dengan yang kita temukan di Teologi Kodrati Kristen. Hal ini tidak seharusnya mengagetkan kita karena [tulisan-tulisan tersebut] juga dipengaruhi oleh sumber-sumber Yunani yang sama.

    BSP: Tapi ini benar-benar tidak sama dengan kesan kita terhadap teologi Moslem modern. Apa yang terjadi?

    RRR: Semua ini [ie. pertemuan Islam dengan filosofi Yunani yang membawa mereka kepada pemahaman kan nalar dan kemudian memunculkan aliran Mu'tazilites] tidak selaras dengan kelompok Moslem yang lebih tradisional. Dari perlawanan terhadap kaum Mu'tazilites muncul sebuah aliran teologi yang dikenal dengan nama Ash'arites, sesuai pendirinya al-Ash'ari. Aliran ini menolak, point demi point, semua yang dikatakan kaum Mu'tazilites. Mereka meng-klaim bahwa Allah bukanlah nalar tapi kehendak dan kuasa murni. Allah bisa melakukan apapun yang diinginkanNya — Dia tidak dikekang atau dibatasi oleh apapun, termasuk kata-kataNya sendiri. Tidak ada satupun cara untuk mengetahui apa yang baik dan jahat melalui nalar, [untuk mengetahui apa yang baik dan jahat] hanya bisa melalui wahyu.

    Al-Ghazali, sang teolog Ash'arites besar, mengatakan bahwa "tidak ada kewajiban-kewajiban yang bersumber dari nalar, tapi [kewajiban-kewajiban] bersumber dari Sharia." Jadi tidak ada apapun yang bisa engkau ketahui melalui nalarmu yang bisa menuntunmu dalam kehidupanmu mengenai apa yang baik atau adil. Tidak ada filosofi moral.

    BSP: Itu sebuah konsekuensi yang berat bila mengingat moralitas obyektif atas [perkara-perkara/tindakan-tindakan].

    RRR: Kuncinya disini adalah Allah tidak melarang membunuh [murder] karena membunuh [murder] itu buruk; namun, membunuh itu buruk karena Dia melarangnya. Allah bisa mengubah pikiranNya besok dan menuntut suatu ritual pembunuhan, dan tidak seorangpun bisa mengkontradiksiNya, karena [perkara-perkara/tindakan-tindakan] pada hakekatnya tidaklah baik ataupun buruk, namun [perkara-perkara/tindakan-tindakan] [menjadi baik atau buruk] karena perintah Allah. Karenanya, untuk selamat, engkau harus mengetahui perintah-perintahNya, dan engkau tidak dapat mengetahui [perintah-perintahNya] melalui nalar.

    Dalam menafsirkan hukum-hukum Allah, ada prinsip dalam Yurispondensi Islam yang menyatakan, "Nalar bukan legislator." Dengan kata lain, satu-satunya hukum yang berlaku adalah [hukum] yang diberikan Allah kepadamu. Nalar tidak punya otoritas atau posisi dalam membuat hukum-hukum, ataupun bahkan dalam menafsirkan [hukum-hukum].

    Konsekuensi politis dari pandangan seperti itu dengan mudah dapat dilihat [yaitu]: Bilanalar bukan legislator, lalu mengapa punya legislatur [ie. pembuat undang-undang, seperti DPR]? Mereka tidak punya wewenang, karena nalar tidak punya wewenang.

    BSP: Kalau begitu, tanpa nalar kita tidak bisa memiliki demokrasi terwakilkan [ie. semacam DPR/MPR].

    RRR: Benar, yang bisa engkau dapatkan nantinya hanyalah sebuah demokrasi sebagai alasan bagi pemerintahan si kuat. Demokrasi hanya akan menjadi sebuah penekanan kekuasaan melalui kekuatan — dalam hal ini, kekuasaan mayoritas.

    Jadi aliran Ash'arites menolak keutamaan nalar dan sebagai gantinya memilih keutamaan kehendak dan kekuasaan murni., dan inilah alasan mengapa pemerintahan demokratik yang konstitusional tidak berkembang secara alami di dunia Islam [ie. harus dipaksakan oleh kekuatan diluar pemerintahan Islam]

    BSP: Itu suatu peralihan yang besar, karena dengan memisahkan nalar dari Allah, orang akan mengabaikan kausalitas (prinsip sebab-akibat), dan dengannya [terabaikan juga] alam semesta yang [kita] tahu.

    RRR: Ya, itulah produk-sampingan dari hilangnya nalar. Allah bertindak tanpa nalar sama sekali. Karenanya, apa yang Dia lakukan tak-terpahami. Sementara itu salah satu tindakan Allah adalah menciptakan alam semesta, [dan oleh karena Dia bertindak tanpa nalar] sehingga alam semesta menjadi tak-terpahami

    Dan juga, bagi kaum Ash'arites, kemaha-kuasaan Allah mempersyaratkan bahwa hanya Dia-lah penyebab segala hal. Jadi Penyebab Pertama menjadi satu-satunya penyebab, ini mengingkari adanya penyebab-penyebab sekunder di alam kodrati [catatan DeusVult: kalau kalian familiar dengan filosofis Aristoteles yang digunakan secara kental oleh St. Thomas kalian mungkin lebih memahami point penting ini] . Api tidak membakar kapas; Allahlah yang melakukanya. Gravitasi tidak membuat batu jatuh ke tanah; Allahlah yang melakukannya secara langsung. Tidak ada hukum kodrati. Pengingkaran terhadap sebab dan akibat ini sangat menggemparkan. [Pengingkaran ini] membantu menjelaskan sifat disfungsional yang banyak terjadi di dunia Islam saat ini.

    BSP: Karena Allah bisa melakukan satu hal, atau Dia bisa melakukan hal yang lainnya — maka tidak bisa diprediksikan. Dengan satu ayunan kita telah menghilangkan ilmu pengetahuan.

    RRR: Sangatlah sulit untuk memahami fenomena-fenomena di alam kodrati kalau fenomena-fenomena tersebut tidak dihubungkan dalam suatu narasi sebab dan akibat. [Tanpa dihubungkan oleh narasi sebab-akibat] fenomnea-fenomena di dunia kodrati [bagaikan] sejumlah keajaiban-keajaiban [catatan DeusVult: keajaiban adalah suatu peristiwa dimana terjadi hal-hal yang bertentangan dengan hukum kodrati, misalnya berjalan diatas air. Dengan tidak adanya prinsip sebab-akibat sebagai landasan maka hukum kodrati tidak ada sehingga setiap hal adalah keajaiban bukannya sesuatu yang berjalan dalam tatanan hukum kodrati]. Dan karenanya, fenomena-fenomena tesebut menjadi tak bisa dipahami. Ini adalah penekanan yang konsisten dilakukan di aliran Ash'arites, [yaitu] tidak ada suatu tatanan yang permanen di alam kodrati, [yang ada hanyalah] perwujudan kehendak Allah detik demi detik.

    Allah tidak tertata secara teleologis [ie. tidak tertata dengan suatu tujuan]. Allah tak bisa diketahui. Apa yang dilakukan Allah dengan Quran yang diberikanNya bukanlah mewahyukan Dirinya sendiri, tapi membuat aturan-aturan yang Dia tuntut bagi kita untuk mematuhinya. Tapi jangan mengira bahwa engkau bisa mengetahui Allah atau menginterogasiNya untuk mengetahui alasan-alasan Dia bertindak, karena engkau tidak dapat.

    BSP: Tentu saja, kaum Ash'arite memenangi debat mereka dengan kaum Mu'tazilites mengenai peran dari nalar, dan kita [sekarang] hidup dalam dunia Islam al-Ghazali. Namun dia kemudian berkecimpung dalam mistisme — kalau seseorang menghilangkan nalar dan teologi kodrati, maka satu-satunya titik pertemuan orang tersebut dengan Allah adalah pengalaman langsung [ie. mistisme]. Lalu kenapa penganut Islam lainnya tidak mengikuti jejak al-Ghazali?

    RRR: Al-Ghazali memerangkap dirinya sendiri kedalam mistisme; dalam menutup diri dari nalar, dia tidak punya cara lain utnuk maju kedepan. Dia menjalani transisi sedemikian rupa sehingga transisi yang seperti itu lebih bisa diterima oleh dunia Islam Sunni, dan dia dianggap telah membangkitkan Islam melalui tindakannya yang memeluk mistisme. Namun mistisme ini sendiri sifatnya irrasional, dan hanya menguatkan serangan-serangan kepada nalar yang dilakukan oleh al-Ghazali di karyanya yang tersohor, Ketidakjelasan Para Filsuf. [Tindakan al-Ggazali yang melangkah ke mistisme] bagai sudah jatuh tertimpa tangga.

    Sufisme memang menyebar namun sealu dicurigai oleh kaum Sunni yang ortodoks, karena para mistik biasanya tidak mengikuti ritual-ritual Islam yang diperintahkan. Kadangkala kaum Sufi juga membuat klaim yang heboh berkenaan dengan bersatu dengan Allah, dimana ini adalah sesuatu gagasan yang sangat dilarang dalam pandangan Sunni yang ortodoks. Sebagai akibatnya, Sufisme, meskipun populer, berada diujung tanduk.

    BSP: Moslem modern tidaklah mistis, tapi mereka mengikuti pemikiran-pemikiran lain al-Ghazali. Apakah ada hubungan antara anti-rasionalisme dari teologi kaum Ash'arite dengan kekerasan yang banyak ditemukan di dunia Islam kontemporer?

    RRR: Benediktus XVI menekankan hal ini di pidatonya di Regensburg [catatan DeusVult: pidato dimana Paus mengutip perkataan Kaisar Byzantine, Manuel II Paleologus [atau Palaiologos], bahwa Islam menyebar berkat pedang. Pidato tersebut sebenarnya bertemakan iman dan nalar. Tapi bagian kecil tersebut membuat para moslem kalap di banyak tempat dan melakukan kekerasan sampai pembunuhan-pembunuhan], yaitu bahwa tidak hanya kekerasan dalam menyebarkan iman adalah sesuatu yang tidak bernalar, namun gagasan mengenai Allah yang tanpa nalar menuntun kepada tindakan-tindakan kekerasan tersebut.

    BSP: Bagaimana bisa?

    RRR: Karena pandangan akan Allah yang seperti itu bagaikan pernyataan Thrasymachus kepada Socrates bahwa "Yang benar adalah [apa yang menjadi] aturan dari si kuat," yang kemudian diangkat ke ranah teologis. Aturan/perintah Allah adalah baik karena Dia, per definisi, adalah yang terkuat. Apapun yang Dia katakan adalah benar — ini bagaikan sebuah bentuk positivisme ilahi.

    Tapi kalau Allah itu benar karena kekuasaanNya dan kehendakNya yang murni, maka tidak ada penghalang teologis antara pemahaman Allah yang seperti itu dengan penganjuran kekerasan dalam menyebarluaskan iman. Dan kita tahu bahwa hal ini [ie. kekerasan] adalah cara utama Islam menyebar dalam sejarah.

    Salah satu pembimbing spirital Osama Ben Laden adalah Abdullah Azzam, yang membuat pernyataan tersohor bahwa "Terorisme adalah kewajiban dalam agama Allah." Ben Laden mengulangi ucapan ini dalam salah satu video yang dibuatnya pasca 9/11. Hal ini hanya akan menjadi benar — yaitu bahwa kekerasan dalam menyebarkan iman adalah sebuah kewajiban — bila Allah itu tanpa nalar, dan karenanya bertindak tanpa nalar tidaklah bertentangan dengan kodratNya.

    Nah, memang ada dasar-dasar dalam yurisprudensi Islam utnuk melarang pembunuhan para wanita dan anak-anak yang tidak bersenjata. Namun para Islamist hari ini menolak yurisprudensi Moslem abad pertengahan dan ingin menghapuskan semua aturan-aturan tersebut. Dan mereka telah melakukannya.

    BSP: Dalam membaca bukumu, dua pemkiran terngiang dalam diriku. Pertama, kau menyajikan argumenmu dengan sanga baik, sampai-sampai aku merevisi posisiku sendiri karena hal-hal yang aku pelajari dari dirimu. Dan yang kedua, masalah-masalah dengan Islam mungkin lebih sulit dikendalikan dari yang ktia pikir, dan hanya akan dihapuskan melalui peralihan yang menyeluruh atas pandangan Moslem terhadap dunia.

    [Jadi] bagaimana kita bisa mengubah pemahaman akan realitas dari agama Islam yang merupakan agama rival [agama Kristen]?

    RRR: Masalahnya terutamanya adalah teologis, dan solusi apapun perlu dicarikan pada tingkatan itu [ie. pad tingkatan teologis]. Karena itulah pendekatan-pendekatan ekonomi dan politik tidak akan berjalan.

    Salah satu temanku adalah seorang intelektual Moslem pro-reformasi di Eropa. Aku bertanya kepada dia: Kalau aku bisa memberimu semua dana dan kekuasaan yang kau perlukan selama sepuluh tahun untuk memerangi perang gagasan di kalangan Islam, apa yang akan kau lakukan? Jawabannya sangat menarik. Dia berkata bahwa dia akan melakukan re-Hellenisasi dunia Moslem [catatan DeusVult: Maksudnya mengembalikan pengaruh kebudayaan Yunani kedalam Islam, yaitu pengaruh filosofinya. Lawan "re-Hellenisasi" adalah "de-Hellenisasi"]. Sebagaimana ditekankan Benediktus XVI masalah dalam Islam sekarang ini datang karena de-Hellenisasi [dunia Moslem], yang ingin dikatakan [Benediktus XVI] adalah bahwa solusinya adalah untuk membalik prosesnya [ie. dari de-Hellenisasi oleh kaum Ash'arites ke re-Hellenisasi].

    BSP: Tapi bagaimana kita melakukan hal tersebut, secara praktis? Pemikiran filosofi dan Yunani sudah sangat diasosiasikan dengan Barat dalam pikiran kaum Moslem, sehingga [pemikiran filosofi dan Yunani] bagaikan taboo. Bagaimana kita mengatasinya?

    RRR: Well, hal-hal ini adalah bagian dari sejarah Moslem. Islam telah menolak sejarah itu, namun sejarah itu ada. Itulah yang harus ditinjau kembali oleh para Moslem, dan [peninjauan kembali ini] termasuk mengenai pertanyaan fundamental mengenai siapakah Allah itu. Mereka perlu menemukan kembali beberapa gagasan-gagasan yang ditutup oleh pemikiran Ash'arites.

    Itu termasuk gagasan bahwa Quran diciptakan pada suatu waktu dan tempat. Kebanyakan Moslem meyakini bahwa Quran telah ada abadi bersama Allah — bahwa Quran telah dituliskan pada sebuah tablet di surga selamanya, tepat sebagaimana Quran ada sekarang ini dalam bahasa Arab. Ini adalah posisi aliran Ash'arites, dan posisi ini bertahan. Dengan kata lain, Quran sifatnya ahistoris [catatan DeusVult: tidak berkenaan dengan sejarah. Tentunya karena klaim bahwa Quran abadi bersama Allah tersebut]

    Kaum Mu'tazilites memandang Quran cukup sama dengan umat Kristen memandang Kitab mereka sendiri. Ya, [Quran] adalah firman Allah, tapi [Quran] dibuat dalam satu kerangka waktu dan perlu di-interpretasikan dalam terang keadaan saat pembuatannya. Oleh karena itu, timbullah perlunya suatu interpretasi [akan Quran].

    Tanpa membuka kembali pertanyaan ini di dunia Moslem, sangatlah sulit untuk menanti keberhasilan suatu reformasi dalam bentuk apapun.

    BSP: Apakah pemerintah Amerika mempunyai sebuah peran yang perlu dimainkan dalam re-Hellenisasi teologi Islam? Atau, kalau mau lebih berani, haruskah pemerintah Amerika terlibat dalam suatu perdebatan teologi?

    RRR: Mengingat Amerika serikat adalah sebuah produk pemikiran Hellenik [ie. Yunani], aku rasa kita harus terlibat. Jelas-jelas kita tidak akan didengar kalau kita mencoba menyisipkan diri diantara perdebatan-perdebatan teologis Moslem kecuali keutamaan nalar dikembalikan [kedalam pemikiran moslem], dan baru pada saat itu semua orang yang ber-nalar bisa berpartisipasi.

    Ada sejumlah pemikir Moslem yang memahami masalah dalam kaitannya dengan hal-hal ini [ie. hilangnya keutamaan nalar dalam teologi Islam], dan [mereka] mencoba melakukan sesuatu. Mereka membutuhkan bantuan dan perlindungan. Intelektual moslem yang aku sebut-sebut pada awal-awal memerlukan perlindungan polisi Jerman dan mobil Mercedes yang dperkuat ketahanannya selama lima tahun karena ancaman-ancaman terhadap jiwanya. Dan tenu saja, di kebanyakan dunia Moslem, kalau kamu berkata bahwa Quran diciptakan dalam kerangka waktu, kamu akan berada dalam bahaya besar.

    Karena ledakan dalam berkomunikasi — ratusan saluran satelit yang dipancarkan dari seluruh dunia ke rumah-rumah mereka setiap hari — kaum Moslem dapat melihat bahwa situasi mereka sendiri tidaklah bagus. Jadi bagaimana mereka menyikapi bagaimana peradaban Islam besar di dunia Arab pada jaman dahulu sekarang berakhir di dasar tumpukan?

    Sangat sulit bagi Moslem untuk sadar bahwa mereka mengambil belokan yang salah 800 thu yang lalu dan perlu meninjau kembali beberapa pertanyaan fundamental mengenai teologi mereka. Hal ini memerlukan kerja, pembelajaran introspeksi dan pemkiran kritis yang amat berat.

    Jawaban mudahnya — yang disebarkan di merata dunia Moslem — adalah jawaban para Islamist, yaitu bahwa kaum Moslem berada dalam posisi seperti ini sekarang karena mereka telah meninggalkan jalan Tuhan. Menurut pandangan yang populer ini, kalau Islam kembali ke jalan Tuhan, mereka akan melihat bagaimana kejayaan masa lalu dikembalikan.

    Sayangnya, apa yang seharusnya dilakukan adalah kerja keras intelektual dan spiritual. Tidaklah mengejutkan bahwa orang-orang yang mengusahakan [kerja keras tersebut] mengalami kesulitan dihadapan gagasan Osama Ben Laden untuk pemulihan kembali Islam.

    Dan tentunya, kita di dunia Barat tidak membantu orang-orang yang berusaha me-re-Helenisasi [Islam]. Mereka berdiri sendiri — kita tidak memberi mereka perlindungan, atau alat percetakan atau stasiun radio.

    BSP: Tapi bukankah mereka akan men-diskualifikasi peserta sah dalam debat Islam kalau [peserta tersebut] dipandang sebagai kepanjangan tangan pihak Barat?

    RRR: Kalau dukungan [pihak Barat terhadap moslem yang ingin me-re-Hellenisasi Islam] diketahui terbuka, maka memang muncul bahaya tersebut. Ada cara untuk mendukung dengan tiga atau empat langkah dihilangkan, tapi kita tidak cukup pandai untuk melakukannya. Dan juga, orang-orang ini [ie. moslem yang ingin me-re-Hellenisasi Islam] telah dituduh mendapat bayaran pihak Barat, jadi biar saja [Barat benar-benar membayar mereka] kalau begitu. [Sayangnya] mereka dituduh [mendapat bayaran pihak Barat] tapi mereka tidak mendapatkan keuntungan [ie. benar-benar dibayar pihak Barat].

    Sebagaimana yang terjadi sekarang ini, kita telah memperbolehkan bagi para Islamist sebuah ruang aman teologis, dan ruang semacam ini jauh lebih berbahaya daripada ruang aman fisik yang mereka nikmati di daerah-daerah di Pakistan dan tempat-tempat lain.

    Ada perlombaan bagi jiwa Islam. Kalau kita tidak menolong pihak yang ingin kita lihat berjaya, maka kita sebaiknya bersiap-siap untuk yang lebih buruk daripada 9/11.

_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
Yolie



Joined: 10 Mar 2007
Posts: 1932

PostPosted: Sat, 04-06-2011 2:29 pm    Post subject: Reply with quote

Quote:
Terus terang di tulisanku diatas aku kurang menjelaskan contoh-contoh kasus yang diakibatkan perceraian Islam dan nalar/rasio.


Apakah yang aku bold itu, diambil dari pengertian:

Quote:
The Muslim divorce from reason also leads to irrational behaviour.

I concluded that the Islamism we see today is a spiritual pathology based on a deformed theology that has produced a dysfunctional culture.

..... dehellenization – meaning the loss of reason, the gift of the Greeks — as one of the West’s main problems. Less well-known is the dehellenization that has afflicted Islam — its denigration of and divorce from reason.

......... It was then, toward the end of this period, that the Muslim world took a decisive turn in the wrong direction

http://www.catholicnewsagency.com/column.php?n=1328


Yang saat ini aku ambil konklusi, sbb. :

Pergeseran fungsi spiritual yang berdasar teologi yang cacat telah menghasilkan ketidakmampuan peradaban / sopan santun / budaya; kehilangan akal budi sebagai manusia; hal ini telah mengakibatkan fitnah - persekongkolan dan putusnya dengan akal budi; kenapa Muslim mengarah pada hal yang di luar nalar / tingkah laku manusiawi. CMIIW.

Yolie
_________________
Don't you know, that I love you so much.
Back to top
View user's profile Send private message
regis



Joined: 05 Sep 2010
Posts: 137

PostPosted: Sat, 04-06-2011 4:58 pm    Post subject: Re: "The Closing of the Muslim Mind" Reply with quote

Quote:


Waduh ... berarti bagi Islam, Allah bisa melakukan perbuatan dosa (berbohong, menipu, membunuh) ... wah kalo begini memang susah

Karena Allah mereka melakukan "perbuatan sekehendak hatiNya" ... tidak heran muslim menjadi seperti sekarang ... "Karepe dewe"



Itulah yang membedakan prinsip Katolik dan Muslim. Prinsip Katolik, seperti diajarkan oleh St. Thomas Aquinas adalah "Praeceptum quia bonum". Artinya kira-kira "Tuhan memerintahkan suatu hal karena hal itu memang baik pada dirinya".

Sedangkan prinsip muslim menyerupai prinsip yang diajarkan William Ockham, guru Martin Luther ketika belajar di Universitas Erfurt Jerman, yaitu "Bonum quia Praeceptum". Artinya kira-kira "Perintah Tuhanlah yang menyebabkan sesuatu baik". Jadi walaupun sesuatu itu, menurut pandangan manusia, perbuatan jahat tapi kalau yang memerintahkan Tuhan, maka itu baik. Misalnya, kalau Tuhan memerintahkan manusia untuk membunuh dan merampok, maka membunuh dan merampok itu baik karena Tuhan yang memerintahkannya.
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Sat, 04-06-2011 5:14 pm    Post subject: Reply with quote

Yolie wrote:
Quote:
Terus terang di tulisanku diatas aku kurang menjelaskan contoh-contoh kasus yang diakibatkan perceraian Islam dan nalar/rasio.


Apakah yang aku bold itu, diambil dari pengertian:

Quote:
The Muslim divorce from reason also leads to irrational behaviour.

I concluded that the Islamism we see today is a spiritual pathology based on a deformed theology that has produced a dysfunctional culture.

..... dehellenization – meaning the loss of reason, the gift of the Greeks — as one of the West’s main problems. Less well-known is the dehellenization that has afflicted Islam — its denigration of and divorce from reason.

......... It was then, toward the end of this period, that the Muslim world took a decisive turn in the wrong direction

http://www.catholicnewsagency.com/column.php?n=1328


Yang saat ini aku ambil konklusi, sbb. :

Pergeseran fungsi spiritual yang berdasar teologi yang cacat telah menghasilkan ketidakmampuan peradaban / sopan santun / budaya; kehilangan akal budi sebagai manusia; hal ini telah mengakibatkan fitnah - persekongkolan dan putusnya dengan akal budi; kenapa Muslim mengarah pada hal yang di luar nalar / tingkah laku manusiawi. CMIIW.

Yolie


Ketidakmampuan peradaban, ya.

Ketidakmampuan sopan santun, tidak.

Ketidakmampuan budaya, ya.

Akal budi manusia sebenarnya tidak bisa dihilangkan, cuma karena arah pemikiran Islam sekarang ini mengikut prinsipnya aliran Ash'arties, mak akal budi itu ditutup ("The Closing of th Moslem Mind")

Fitnah, rasanya tidak.

Persekongkolan, ya. Karena nalar tidak dipakai maka moslem cenderung gampang terpengaruh oleh conspiracy theory (ditambah fakta bahwa Quran menyajikan suatu teori konspirasi mutakhir sebagai dasar pembenarannya, yaitu konspirasi Yahudi dan Kristen dalam menutup-nutupi kebenaran Islam).

Berlaku di luar nalar, ya. Karena memang mereka tidak mempercayai nalar (sesuai prinsip aliran Ash'arite yang merupakan diyakini mayoritas moslem).
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Sat, 04-06-2011 5:39 pm    Post subject: Re: "The Closing of the Muslim Mind" Reply with quote

regis wrote:

Itulah yang membedakan prinsip Katolik dan Muslim. Prinsip Katolik, seperti diajarkan oleh St. Thomas Aquinas adalah "Praeceptum quia bonum". Artinya kira-kira "Tuhan memerintahkan suatu hal karena hal itu memang baik pada dirinya".


Exactly!

Sementara prinsip moslem (paling tidak prinsip Ash'arite yang merupakan prinsip mayoritas moslem sekarang) adalah "karena Tuhan memerintahkannya, maka yang diperintahkannya itu baik."

Quote:
Sedangkan prinsip muslim menyerupai prinsip yang diajarkan William Ockham, guru Martin Luther ketika belajar di Universitas Erfurt Jerman, yaitu "Bonum quia Praeceptum". Artinya kira-kira "Perintah Tuhanlah yang menyebabkan sesuatu baik". Jadi walaupun sesuatu itu, menurut pandangan manusia, perbuatan jahat tapi kalau yang memerintahkan Tuhan, maka itu baik. Misalnya, kalau Tuhan memerintahkan manusia untuk membunuh dan merampok, maka membunuh dan merampok itu baik karena Tuhan yang memerintahkannya.


Sebenarnya tidak dapat disangkal (dan inipun diakui oleh Robert R. Reilly) bahwa kecenderungan untuk tidak mempercayai nalar juga muncul di kalangan Kristen sejak dulu-dulu bahkan sampai sekarang. Tidak hanya Ockham saja yang terjerumus ke kekeliruan itu.

Jadi memang ada dua ekstrim yang harus kita hindari. Di satu sisi kita tidak bisa berpikiran bahwa Allah itu sama sekali tidak rasional [ie. tidak bernalar] ataupun bahwa nalar kita telah begitu hancur sehingga tidak bisa digunakan, sebagaimana di postulasikan aliran Ash'arite dan juga oleh banyak umat Kristen. Namun di sisi lain kita juga tidak bisa jatuh ke dalam rasionalisme (yang mengajarkan bahwa hanya hal yang bisa diketahui nalar-lah yang bisa dianggap benar) ataupun menganggap bahwa Allah menciptakan dunia dengan segala aturan-aturannya lalu Dia meninggalkan dunia itu begitu saja (bertentangan dengan Yoh 5:17).



Lalu mengenai membunuh dan merampok. Di Perjanjian Lama memang terdapat ayat (malas nyari) dimana Allah memerintahkan untuk membunuh dan bahkan para wanita dan anak-anak. Lalu apakah hal ini tidak bertentangan dengan nalar? Memang pada permukaan tampaknya memang demikian. Namun kita harus menelusuri lebih lanjut. Kita harus tahu bahwa hidup adalah milik Allah, bukan milik manusia. Jadi tindakan Allah yang mencabut nyawa wanita dan anak-anak melalui tangan bangsa Israel merupakan tindakan yang sama rasionalnya dengan tindakan pemilik mobil yang mendorong mobilnya ke jurang.

Sementara itu penjelasan aliran Ash'arite ketika dihadapkan pada ayat-ayat dimana Allah memerintahkan untuk membunuh jauh lebih sederhana. Yaitu bahwa "karena Allah memerintahkannya, maka itu adalah perbuatan baik." Jadi orang tidak perlu mencari penjelasan rasional (karena bagi mereka tidak ada yang namanya nalar/rasio).


PS
Begitu pula dengan merampok. Secara rasional dapat dijelaskan bahwa karena segala apa yang ada di dunia ini milik Allah, maka kalau Allah mengambil barang dari si A dan Dia berikan kepada si B, maka itu bukan merampok.

Tapi moslem yang dipengaruhi Ash'arite akan menjelaskan denga sederhana bahwa "merampok itu sah, karena Allah memerintahkanya."
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Next
Page 1 of 5

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17