Bible Study - Les Kitab Suci - Les Alkitab
 
 
 
 

Y. Samiran. SCJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Bible Study 1 Korintus 7: 1 - 39

Kirim Ke Printer Undang teman untuk Bible Study


1Kor 7:1 Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin,

1Kor 7:2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.

1Kor 7:3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.

1Kor 7:4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.

1Kor 7:5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.

1Kor 7:6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.

1Kor 7:7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.

1Kor 7:8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.

1Kor 7:9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.

1Kor 7:10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku--tidak, bukan aku, tetapi Tuhan--perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.

1Kor 7:11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.

1Kor 7:12 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.

1Kor 7:13 Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.

1Kor 7:14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.

1Kor 7:15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.

1Kor 7:16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?

1Kor 7:17 Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.

1Kor 7:18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat.

1Kor 7:19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.

1Kor 7:20 Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.

1Kor 7:21 Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu.

1Kor 7:22 Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya.

1Kor 7:23 Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.

1Kor 7:24 Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.

1Kor 7:25 Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah.

1Kor 7:26 Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya.

1Kor 7:27 Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang!

1Kor 7:28 Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu.

1Kor 7:29 Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri;

1Kor 7:30 dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli;

1Kor 7:31 pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.

1Kor 7:32 Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya.

1Kor 7:33 Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya,

1Kor 7:34 dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.

1Kor 7:35 Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.

1Kor 7:36 Tetapi jikalau seorang menyangka, bahwa ia tidak berlaku wajar terhadap gadisnya, jika gadisnya itu telah bertambah tua dan ia benar-benar merasa, bahwa mereka harus kawin, baiklah mereka kawin, kalau ia menghendakinya. Hal itu bukan dosa.

1Kor 7:37 Tetapi kalau ada seorang, yang tidak dipaksa untuk berbuat demikian, benar-benar yakin dalam hatinya dan benar-benar menguasai kemauannya, telah mengambil keputusan untuk tidak kawin dengan gadisnya, ia berbuat baik.

1Kor 7:38 Jadi orang yang kawin dengan gadisnya berbuat baik, dan orang yang tidak kawin dengan gadisnya berbuat lebih baik.

1Kor 7:39 Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.

Seperti biasa, ditunggu pertanyaan dan komentarnya
Salam dan Doa,
Rm Yohanes Samiran SCJ
Dikirim Tgl 7 30 Jul 2007 oleh Rm Y Samiran SCJ

  Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda



Respon dari anselmus pada 31 Aug 2007 05:00 pm

Salam damai,

romo, kalau membaca dari 1 Korintus 7: 1 - 39, secara umum hendak dikatakan bahwa orang sebaiknya tidak kawin jika ingin melayani Allah, lalu bagaimana dengan saudara kita yg protestan, dimana pendetanya boleh berkeluarga, apakah mereka benar-benar melayani Allah atau hanya sebagai profesi u/ mencari makan dengan kedok melayani Allah. Pertanyaan ke dua bagaimana jika awam yg sudah berkeluarga hendak membaktikan dirinya melayani Allah sementara dia masih terikat dengan perkawinan, jadi mana yg harus didahulukan menghidupi keluarga atau melayani Allah. sad

Respon dari Tony pada 31 Aug 2007 05:25 pm

Halo Anselmus,

Ayat yg kamu kutip menunjukan disiplin selibat dimana contoh Yesus Imam Agung juga selibat. St. Paulus menjelaskan bagi yg ingin melayani Tuhan Allah dapat sepenuhnya melayani tanpa gangguan duniawi yaitu kewajiban berkeluarga. Bisa dilihat ayat berikutnya bahwa yg berkeluarga akan terbagi perhatian dan karyanya. Bagaimana dapat seorang romo membagi waktu antara umat (anak2 rohaniahnya) dengan keluarganya? Sedangkan bagi pendeta Protestan, tentu mereka sah saja kawin karena mereka sebenarnya bukan Imam. Sebab hanya terdapat satu Imam Agung yaitu Yesus dan Imam/ romo adalah In Persona Kristi yaitu dalam diri Kristus yaitu wakil nyata Yesus didunia untuk semua sakramen. Karena pendeta tidak memiliki tahbisan yg sah. Sedangkan Imam ritus timur dalam gereja Katolikpun banyak yg beristri. Hanya saja selibat merupakan disiplin ritus barat/ Latin/ Roma. Selibat adalah disiplin yg agung dan membawakan kekuatan iman dan rohaniah bagi Imam. Lihat Yesus yg selibat juga Paulus, Yohanes, Tomas dan banyak lagi dari jaman Yesus.

Sedangkan pertanyaan kamu yg kedua mengenai pengabdian kamu tentu kamu harus berbakti kepada Tuhan diatas segalanya dan menjadi kepala keluarga, suami yg baik adalah bukti nyata dari bakti kamu kepada Tuhan Allah. Dimana kamu dalam posisi ini tidak kontradiktif atau harus memilih yg satu diatas yg lain. Karena itu dedikasikan keluargamu kepada Tuhan Allah dalam segalanya. Contohnya adalah jadilah suami dan bapa yg baik yg membawakan keluarganya kehadapan Tuhan Allah dalam semua sakramen dan wajib Katolik. Tentu kamu sudah membaktikan diri sebaiknya. Selain itu bila kamu memiliki waktu atau energi lainnya silahkan kamu mengikuti kerasulan awam dalam segala aspek di parokimu untuk membaktikan dirimu asalkan kamu tidak lalai kewajiban utamamu yaitu wajib Katolik, suami, kepala keluarga dan penduduk yg baik.
Silahkan kamu membaca Katekismus mengenai wajib Katolik dalam hal ini bagi seorang suami dan kepala keluarga, semua yg kamu pertanyakan akan terjawab disana.

Semoga membantu dan dapat dimengerti dengan baik.

Respon dari estjandra pada 08 Sep 2007 01:57 pm

Halo Anselmus,
Saya mau menyampaikan sedikit respons dari sdr Tony. Sepengetahuan saya, hidup selibat para imam Katolik itu berdasarkan keputusan Paus entah yang siapa dan kapan mungkin ada yang tahu. Jadi, ada kemungkinan suatu hari Paus memperbolehkan imam untuk berkeluarga karena saya sempat dengar adanya sekelompok orang yang ingin mengusahakan supaya para imam-imam projo boleh menikah tetapi tidak untuk imam kongregasi.

Namun, saya melihat baik adanya bila seorang romo itu hidup selibat. Menjadi suami atau istri yang baik juga merupakan bentuk pelayanan nyata kepada dunia. Setidaknya bisa menjadi contoh kepada dunia bagaimana menjalani hidup berkeluarga dalam ajaran Katolik.

Salam.
Edwin

Respon dari anselmus pada 05 Oct 2007 01:31 pm

mengenai sekelompok orang yg ingin mengusahakan agar imam-imam projo boleh menikah. saya punya pengalaman dimana ada seorang teman saya yg katanya pernah melihat tempat penampungan anak-anak hasil hubungan gelap dari romo atau frater, tempatnya ada di jogjakarta. pertanyaan saya apakah issu tsb benar adanya. karena akibat dia melihat hal tsb imannya menjadi goyah dan akhirnya dia meninggalkan katolik. jika benar bagaimana meyakinkan teman-teman saya agar imannya tidak goyah. crying

Respon dari keysa pada 18 Nov 2007 05:15 am

syalom,
romo saya baru bergabung dalam studi ini. Saya tinggal di san francisco dan tidak mengerti akan 1 kor 7:11. Pertanyaan saya, apakah kalau suami tidak mencintai dan menyakiti istri.sang istri tidak boleh menceraikan suaminya? Haruskah mereka hidup serumah? terima kasih romo.

Respon dari Rudy Sutanto G pada 13 Dec 2007 08:22 am

Romo,
saya mau nanya apakah beda antara diakon dan pastur? Apakah diakon harus selibat?
Thanks,
RSG

Respon dari tsubaryanidhs pada 25 Dec 2007 10:42 pm

kalau dilihat dari bacaan, komentar saya (harap dikoreksi kalau salah): kita seharusnya memandang setiap panggilan kita (baik selibat maupun berkeluarga) sebagai suatu anugrah Allah, Allah yang mendorong kita untuk mengambil keputusan tersebut.walaupun pada akhirnya, karena kita yang memutuskan, kita harus bertanggung jawab atas pilihan hidup yang kita ambil. kenapa Paulus menulis demikian, karena setau saya, pada jaman itu wanita adalah pihak yang lemah/ kelas dua. jadi tulisan ini juga mungkin untuk mengangkat derajat wanita pada masa itu (emansipasi wanita).

untuk anselmus: saya juga pernah ke tempat penampungan yang menampung anak-anak hasil hubungan gelap tersebut, tetapi bukan di jogjakarta. saya kira yang bisa dikatakan adalah, romo atau frater itu toh juga manusia. mereka tetap bisa melakukan kesalahan meskipun mereka sudah berkaul selibat. tetapi apakah kita mau mengampuni mereka? sya yakin mereka juga menyadari kesalahannya dan mereka bertobat.

Respon dari anselmus pada 12 Jan 2008 03:00 pm

menanggapi pertanyaan dari sdr. Rudy perbedaan antara diakon dengan pastur, kalau diakon belum mendapatkan tabisan imamat sedangkan pastur sudah mendapatkan tabisan imamat, sedangkan konsep utk hidup selibat ya.. kedua-duanya harus melakukan hidup selibat.

Respon dari mbambang pada 26 Jan 2008 02:00 am

Pastur .....
saya umat baru ........
terima kasih untuk kesempatannya .....
yang mau saya tanyakan ........
di dalam 1 Kor 7 : 28 .......
ada kata-2 kesusahan badani .....
apa maksud kata-2 itu Pastur .........
dan hal bagaimana kesusahan badani tsb .....
Syalom .

Respon dari mbambang pada 26 Jan 2008 02:01 am

Pastur .....
saya umat baru ........
terima kasih untuk kesempatannya .....
yang mau saya tanyakan ........
di dalam 1 Kor 7 : 28 .......
ada kata-2 kesusahan badani .....
apa maksud kata-2 itu Pastur .........
dan hal bagaimana kesusahan badani tsb .....
Syalom .

Respon dari Angelo Benedictus Aryanto pada 14 Feb 2008 05:56 pm

wink
Yha... pada intinya kembali pada ajaran Kristus yaitu kasih karena kalo kita dapat menerapkan ajaran itu... kita dapat memahami segala sesuatu yang ada didunia...

Respon dari ALOYSIUS FREDDY pada 19 Feb 2008 07:54 am

Romo ytk, saya mohon petunjuk dan penjelasan untuk maksud ayat2 sbb:
1. 1Korintus 7:26
2. 1Korintus 7:28 - 30
3. 1Korintus 7:36-38
mohon bantuan Romo. Terimakasih banyak.
Salam dalam kasih Yesus Kristus, fm: Freddy

Respon dari Kinasih pada 08 Apr 2008 08:11 am

Mohon maaf rada keluar topik KS. Saya baru tahu ada penampungan untuk anak-anak hasil hubungan gelap seperti itu. Miris juga membayangkannya, bagaimana memberi tahu anak ini kelak jika dewasa bahwa ayahnya adalah seorang Romo. Saya rasa tempat seperti ini memang selayaknya ada karena bagaimanapun anak-anak itu harus ada yang merawat dan membesarkan, tapi kenapa bukan romo-nya saja yang lepas jubah trus jadi awam untuk membesarkan anaknya. Kalau kebetulan affairnya sama gadis ya nikah saja, pake cara apa kek dispensasi dulu. Mungkin terpaksa harus menjalani status "terhukum" dulu daripada dia tetap pake jubah kotbah sana-sini tapi tentu tidak mudah melupakan anak yang jauh dari pelukan dan pandangan. Di paroki saya pernah ada romo yang punya anak dengan istri umat, anak itu memiliki wajah yang persis mirip sama sang romo jadi hampir semua orang yang mengenal keduanya bisa mengenali. Anak yang ini masih cukup beruntung karena punya bapak dan ibu yang utuh dalam keluarga, meski kelak ada masalah juga jika harus memberi tahu ayah biologis anak ini. Mohon tanggapan.

Respon dari Kinasih pada 08 Apr 2008 08:14 am

Mohon maaf rada keluar topik KS. Saya baru tahu ada penampungan untuk anak-anak hasil hubungan gelap seperti itu. Miris juga membayangkannya, bagaimana memberi tahu anak ini kelak jika dewasa bahwa ayahnya adalah seorang Romo. Saya rasa tempat seperti ini memang selayaknya ada karena bagaimanapun anak-anak itu harus ada yang merawat dan membesarkan, tapi kenapa bukan romo-nya saja yang lepas jubah trus jadi awam untuk membesarkan anaknya. Kalau kebetulan affairnya sama gadis ya nikah saja, pake cara apa kek dispensasi dulu. Mungkin terpaksa harus menjalani status "terhukum" dulu daripada dia tetap pake jubah kotbah sana-sini tapi tentu tidak mudah melupakan anak yang jauh dari pelukan dan pandangan. Di paroki saya pernah ada romo yang punya anak dengan istri umat, anak itu memiliki wajah yang persis mirip sama sang romo jadi hampir semua orang yang mengenal keduanya bisa mengenali. Anak yang ini masih cukup beruntung karena punya bapak dan ibu yang utuh dalam keluarga, meski kelak ada masalah juga jika harus memberi tahu ayah biologis anak ini. Mohon tanggapan.

Respon dari janto chandra pada 19 Apr 2008 03:53 pm

nuwun sewu
ini pertama kali sy ikutan
ttg perkawinan Katolik yg dipersatukan oleh Allah tdk dapat dipisahkan oleh manusia, krn keluarga adalah gereja kecil dalam masyarakat.
kawin secara Katolik tdk gampang, perlu ikut kursus perkawinan, diceramahi oleh pastor dulu, buat pengumuman 3 minggu di gereja. Ini supaya pasangan bener2 siap.
dalam perkawinan pasti pernah selisih [aham atau pertengkaran biasanya dimulai dr hal kecil.
kalau tdk diselesaikan ya bisa membesar.
pengalaman sy sih kita hrs menerima pasangan kita apa adanya.dan saling menghormati. tdk ada yg sempurna di dunia ini selain Yesus dan Maria.
semoga bemanfaat
salam

Respon dari hendra72 pada 18 Nov 2008 09:32 am

Bila kita mempunyai perkara atau masalah atau perselisihan dengan orang lain, sebaiknya kita melihat ke dalam diri kita sendiri. Kita harus bisa mengendalikan diri bukannya emosi karena emosi bisa membuat lupa diri. Akan lebih baik bila kita meminta nasehat kepada anggota gereja yang bijak. Boleh saja kita meminta pendapat dari pihak di luar gereja, tapi kita harus mengkaji apakah pendapat mereka itu sesuai dengan iman kita atau tidak, terutama bila pendapat mereka seolah-olah mendukung atau menguntungkan kita (pada dasarnya kita tidak mau dirugikan).

Tubuh kita adalah Bait Roh Kudus, Bait Allah.
Allah itu Kudus, maka bila menginginkan Allah selalu tinggal dalam diri kita jagalah tubuh kita agar tetap kudus.
Tetapi bagi mereka yang kawin, tidak bisa menjaga tubuh mereka tetap kudus. Ketika suami istri menyalurkan nafsu berahinya, tubuh mereka menjadi tercemar maka mereka harus segera menguduskan tubuh mereka. Janganlah dengan sengaja kita mencemarkan dan menajiskan tubuh kita dengan sesuatu yang tidak patut kita perbuat.

Bila ada kata yang tidak sesuai dengan Iman Katolik mohon dikoreksi.
GBU

Respon dari mutiara pada 24 Jun 2009 02:53 am

crying Aduuuh, Mo-mo... jadi orang Katolik itu susah banget ya ?? untuk meyakinkan bahwa Katolik is the best sama saudara-saudaraku yang non katolik aja berat banget padahal mereka pakai alkitab yang sama, bagaimana menjelaskan soal hidup selibat ? pusing deh... Apalagi aku punya pengalaman pribadi soal perkawinan yang disahkan begitu saja oleh lembaga katolik padahal jelas-jelas perkawinan incest... kok bisa ? terus nasib perkawinan saya bagaimana ? saya pengen kejelasan aja kok perkawinan di lembaga katolik sering hanya sebatas administrasi saja yang bisa dibuat-buat... padahal hukumnya ngeri loh... Hati-hati ya buat para romo dalam menikahkan, dosanya juga ditanggung loh.. btw selamat berjuang aja be the best Chatolik for everyone...

Respon dari dio pada 29 Aug 2009 09:08 am

hore jadi orang katolik itu asyik ya aku seneng deh puji tuhan aleluya

Respon dari yanto pada 08 Feb 2010 01:26 am

Slmt pak Bpk anselmus, perkawinansaya sdh 9 thn , sampai sekarang belum dikarunia anak, tolong saya diinformasikan tempat penampungan anak anak hasil hubungan gelap para romo dan suster, saya berminat mengadopsi salah satu diantaranya tongue smile

Respon dari Rafael ws pada 11 May 2010 06:27 am

Saya baru di sini dan ingin menanyakan beberapa hal yg berkaitan dengan hidup selibat.
pertanyaan saya :
1. seperti apa hidup yg selibat?
2. apakah hidup selibat hanya untuk imam saja, sedangkan orang Katolik yg berkeluarga tidak dapat hidup selibat?
3. apakah selibat = tidak menikah?

mohon bimbingannya.

Salam damai.

Respon dari natalie pada 10 Jun 2010 04:52 am

Dear romo,

1Kor 7:18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat.

Yg ingin sy tanyakan: bayi yg blm disunat tp sdh dibaptis, boleh tdk disunat bila ia sdh besar dg alasan u kesehatan? Terima kasih. smile

Respon dari Dee pada 07 Jun 2011 05:49 am

Siang Romo, mhn pendapat Romo untuk pasangan yang menikah secara katolik kemudian mereka bercerai (annulment) dari gereja. Setelah sekian lama, salah satu dari mereka kemudian menikah dengan oranglain secara katolik juga. Apakah itu berdosa/zinah?

Respon dari trio pada 21 Jul 2011 12:20 pm

menanggapi sdr natalie..mnurut pendapat saya( mohon dikoreksi jika tjd kesalahan) setiap laki laki kristiani adalah wajib disunat dan harus..spt tertulis "Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. (Kejadian 17:10-12)

kemudian ada juga tertulis" Pada waktu itu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Buatlah pisau dari batu dan sunatlah lagi orang Israel itu, untuk kedua kalinya." (Yosua 5:2)

yesus sendiri di sunat ketika umur 8 hari bukan?? jadi sebgai pengikut kristus haruslah disunat.. terima kasih
damai Kristus

Respon dari hendrawan pada 18 Aug 2011 05:56 am

Siang Romo
saya baru bergabung dan saya ingin tanya maksud dari 1kor 7:24 apanya terimakasih

dan saya mohon maaf apabila ada penulisan kata-kata yang salah
terima kasih



Nama:
E-mail: (perlu diisi)
Smile: smile wink wassat tongue laughing sad angry crying 

| lupakan