PAULUS USKUP
HAMBA PARA HAMBA ALLAH
BERSAMA BAPA-BAPA KONSILI SUCI
DEMI KENANGAN ABADI
DEKRIT TENTANG
KEGIATAN MISIONER GEREJA
- (Pendahuluan)
KEPADA PARA BANGSA Gereja diutus oleh Allah
untuk menjadi “sakramen universal keselamatan”[].
Untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hakiki
sifat katoliknya, menaati perintah Pendirinya (lih. Mrk 16:16), Gereja
sungguh-sungguh berusaha mewartakan Injil kepada semua orang. Sebab para Rasul
sendiri, yang menjadi dasar bagi Gereja, mengikuti jejak Kristus, “mewartakan
sabda kebenaran dan melahirkan Gereja-gereja”[].
Adalah tugas para pengganti mereka melestarikan karya itu, supaya “sabda Allah
terus maju dan dimuliakan” (2Tes 3:1), dan Kerajaan Allah diwartakan dan
dibangun di mana-mana.
Tetapi
dalam situasi zaman sekarang, yang menimbulkan keadaan umat manusia yang serba
baru, Gereja, garam dunia dan terang dunia (lih. Mat 5:13-14), dipanggil secara
lebih mendesak untuk menyelamatkan dan membaharui semua ciptaan, supaya segala
sesuatu dibaharui dalam Kristus, dan supaya dalam Dia orang-orang merupakan
satu keluarga dan satu Umat Allah.
Maka
Konsili suci bersyukur kepada Allah atas karya-karya gemilang, buah hasil
kegiatan serta kebesaran hati seluruh Gereja, dan ingin menggariskan azas-azas
kegiatan misioner serta menghimpun daya segenap kaum beriman. Maksudnya supaya
Allah yang menempuh jalan salib yang sempit, di mana-mana menyebarluaskan
kerajaan Kristus Tuhan, yang dengan pandangan-Nya merangkum segala abad (lih.
Sir 36:19), dan menyiapkan jalan bagi kedatangan-Nya.
BAB SATU
AZAS-AZAS AJARAN
- (Rencana
Bapa)
Pada hakekatnya Gereja peziarah bersifat
misioner, sebab berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut
rencana Allah Bapa[].
Adapun
rencana itu bersumber pada “cinta” atau “kasih asal” Allah Bapa. Dialah Asal
tanpa Asal; dari pada-Nyalah Putera lahir dan Roh Kudus berasal melalui Putera.
Karena kemurahan-Nya yang melimpah dan belaskasihan Bapa yang bebas menciptakan
kita serta penuh kasih memanggil kita, untuk bersama dengan-Nya ikut menikmati
kehidupan dan kemuliaan-Nya. Dengan murah hati Ia melimpahkan dan tiada
hentinya mencurahkan kebaikan
ilahi-Nya, sehingga Dia yang menciptakan segalanya, akhirnya menjadi
“semuanya dalam segalanya” (1Kor 15:28), dengan sekaligus mewujudkan kemulian-Nya
dan kebahagiaan kita. Tetapi Allah berkenan memanggil orang-orang bukan hanya
satu per satu, tanpa hubungan manapun satu dengan yang lain, untuk ikut serta
dalam kehidupan-Nya. Melainkan Ia berkenan menghimpun mereka menjadi Umat,
supaya di situ para Putera-Nya, yang semula tercerai-berai, dikumpulkan menjadi
satu (lih. Yoh 11:52).
- (Perutusan
Putera)
Rencana Allah untuk menyelamatkan seluruh
umat manusia itu terlaksana bukan saja seolah-olah secara tersembunyi dalam
jiwa manusia, ataupun melalui usaha-usaha mereka, juga yang bersifat keagamaan,
untuk mencari Allah dengan pelbagai cara, kalau-kalau mereka dapat menjamah
atau menemukan-Nya, meskipun Ia tidak jauh dari kita masing-masing (lih. Kis
12:27). Sebab usaha-usaha itu perlu diterangi dan disembuhkan, sungguh pun,
atas rencana atas semua rencana penyelenggaraan Allah yang murah hati, itu
semua akhirnya dapat dipandang sebagai pendidikan menuju Allah yang benar atau
sebagai persiapan Injili[].
Namun untuk membangun perdamaian atau persekutuan dengan diri-Nya dan untuk
menghimpun masyarakat persaudaraan antar manusia pendosa, Allah telah
memutuskan untuk secara baru dan definitif memasuki sejarah bangsa manusia
dengan mengutus Putera-Nya dalam daging kita. Allah bermaksud merebut manusia
dari kuasa kegelapan dan setan (lih. Kol 1:13; Kis 10:38) melalui Dia, dan
dalam Dia mendamaikan dunia dengan diri-Nya (lih. 2Kor 5:19). Maka Allah
menetapkan Putera-Nya, yakni Perantara-Nya dalam menciptakan alam semesta[],
menjadi ahli waris segala-sesuatu, untuk membaharui semuanya dalam Dia (lih. Ef
1:10).
Sebab
Kristus Yesus diutus ke dunia sebagai Perantara sejati antara Allah dan
manusia. Karena Ia Allah, maka dalam Dia berdiamlah seluruh kepenuhan keallahan
secara jasmani (Kol 2:9). Tetapi menurut kodrat manusiawinya Ia Adam baru, dan
ditetapkan menjadi gembala umat manusia yang diperbaharui, penuh rahmat dan
kebenaran (Yoh 1:14). Maka Putera Allah menempuh jalan penjelamaan yang sejati,
supaya manusia ikut serta memiliki hakekat ilahi. Demi kita Ia telah menjadi
miskin sedangkan Ia kaya, supaya karena kemiskinan-Nya kita menjadi kaya (2Kor
8:9). Putera manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan
menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang, yakni bagi semua orang
(lih. Mrk 10:45). Para Bapa suci selalu mewartakan, bahwa apa yang tidak
dikenakan oleh Kristus, juga tidak disembuhkan[].
Akan tetapi Ia mengenakan pada diri-Nya kodrat manusiawi seutuhnya, seperti
terdapat pada kita manusia yang malang
dan miskin, namun tanpa dosa (lih. Ibr 4:15; 9:28). Sebab tentang diri-nya
bersabdalah Kristus, yang dikuduskan oleh Bapa dan diutus-Nya ke dunia (lih.
Yoh 10:36): “Roh Tuhan ada diatas-Ku, karena Ia telah mengurapi Aku, untuk
menyampaikan Warta gembira kepada kaum miskin Ia telah mengutus-Ku, untuk
menyembuhkan mereka yang remuk-redam hatinya, untuk mewartakan pembebasan bagi
para tahanan dan penglihatan bagi orang-orang buta’ (Luk 4:18). Lagi pula:
“Putera Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan apa yang telah hilang”
(Luk 19:10).
Adapun
apa yang sesekali telah diwartakan oleh Tuhan, atau terlaksana dalam Dia demi
keselamatan bangsa manusia, itu harus diwartakan dan disebarluaskan sampai ke
ujung bumi (Kis 1:8), mulai dari Yerusalem (lih. Luk 24:47) sedemikian rupa,
sehingga apa yang sekali telah dilaksanakan demi keselamatan semua orang, di
sepanjang waktu memperbuahkan hasil pada mereka semua.
- (Perutusan
Roh Kudus)
Untuk melaksanakan itu Kristus mengutus Roh
Kudus dari Bapa, supaya Ia mengerjakan karya penyelamatan-Nya dalam jiwa
manusia, dan menggerakkan Gereja untuk memperluas diri. Pantang diragukan,
bahwa Roh Kudus dulu pun sudah berkarya di dunia, sebelum Kristus dimuliakan[].
Tetapi pada hari Pentekosta Roh turun atas para murid, untuk tinggal bersama
mereka selama-lamanya (lih. 14:16); tampillah Gereja secara resmi dihadapan
banyak orang; mulailah penyebaran Injil melalui pewartaan diantara para bangsa;
dan akhirnya dipralambangkan persatuan bangsa-bangsa dalam sifat katolik iman,
melalui Gereja perjanjian Baru, yang bersabda dengan semua bahasa, memahami dan
merangkul semua bahasa dalam cinta kasih, dan dengan demikian mengatasi
percerai-beraian Babel[].
Sebab dari Pentekosta mulailah “Kisah para Rasul”, seperti berkat turunnya Roh
Kudus atas Perawan Maria dikandunglah Kristus, dan berkat turunnya Roh Kudus
atas Kristus ketika sedang berdoa Ia didorong untuk memulai karya pelayanan-Nya[].
Adapun Tuhan Yesus sendiri, sebelum dengan suka rela menyerahkan hidup-Nya,
sedemikian rupa merekayasa pelayanan rasuli dan menjanjikan akan mengutus Roh
Kudus, sehingga keduanya terpadukan dalam menyuburkan karya penyelamatan
dimana-mana dan senantiasa[].
Disepanjang waktu Roh Kuduslah yang “menyatukan” segenap Gereja “dalam persekutuan
dan pelayanan, melengkapinya dengan pelbagai kurnia hirarkis dan karismatis”[],
dengan menghidupkan lembaga-lembaga gerejawi bagaikan jiwanya[],
dan dengan meresapkan semangat misioner, yang juga mendorong Kristus sendiri,
ke dalam hati Umat beriman. Ada kalanya pula Roh Kudus secara kelihatan mendahului
kegiatan merasul[],
seperti Ia tiada hentinya juga menyertai serta memimpinnya dengan pelbagai cara[]
- (Gereja
diutus oleh Kristus)
Sejak semula Tuhan Yesus “memanggil mereka yang
dikehendaki-Nya serta untuk diutus-Nya mewartakan Injil” (Mrk 3:13; lih. Mat
10:1-42). Begitulah para Rasul merupakan benih-benih Israel baru, pun sekaligus
awal mula Hirarki suci. Kemudian, sesudah sekali, dengan wafat serta
kebangkitan-Nya, Tuhan menyelesaikan dalam diri-Nya rahasia-rahasia keselamatan
kita serta pembaharuan segala sesuatu, menerima segala kuasa di sorga dan di
bumi (lih. Mat 28:18), sebelum Ia diangkat ke sorga (lih. Kis 1:11), Ia
mendirikan Gereja-Nya sebagai sakramen keselamatan. Ia mengutus para Rasul ke
seluruh dunia, seperti Ia sendiri telah diutus oleh Bapa (lih. Yoh 20:21),
perintah-Nya kepada mereka: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa
murid-Ku, dan babtislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus:
ajarlah mereka melakukan segala-sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat
28:19 dsl.). “pergilah ke seluruh dunia, dan wartakanlah Injil kepada semua makhluk.
Barang siapa percaya dan di babtis, akan selamat; tetapi siapa tidak percaya,
akan dihukum” (Mrk 16:15 dsl.). Maka dari itu Gereja mengemban tugas menyiarkan
iman serta keselamatan Kristus, baik atas perintah jelas, yang oleh para Rasul
telah diwariskan kepada Dewan para Uskup yang dibantu oleh para imam, bersama
dengan Pengganti Petrus serta Gembala Tertinggi Gereja, maupun atas
daya-kekuatan kehidupan, yang oleh Kristus disalurkan kepada para anggota-Nya;
“dari pada-Nyalah seluruh tubuh, - yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu
oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan setiap anggota, -
menerima pertumbuhan dan membangun dirinya dalam kasih” (Ef 4:16). Oleh karena
itu perutusan Gereja terlaksana dengan karya-kegiatannya. Demikianlah Gereja,
mematuhi perintah Kristus dan digerakkan oleh rahmat serta cinta kasih Roh
Kudus, hadir bagi semua orang dan bangsa dengan kenyataannya sepenuhnya, untuk
– dengan teladan hidup maupun pewartaannya, dengan sakramen-sakramen serta
upaya-upaya rahmat lainnya – menghantarkan mereka kepada iman, kebebasan dan
damai Kristus, sehingga bagi mereka terbukalah jalan yang bebas dan teguh,
untuk ikut serta sepenuhnya dalam misteri Kristus.
Perutusan
itu terus berlangsung, dan disepanjang sejarah menjabarkan perutusan Kristus
sendiri, yang diutus untuk mewartakan Kabar Gembira kepada kaum miskin. Atas
dorongan Roh Kristus Gereja harus menempuh jalan yang sama seperti yang dilalui
oleh Kristus sendiri, yakni jalan kemiskinan, ketaatan, pengabdian dan
pengorbanan diri sampai mati, dan dari kematian itu muncullah Ia melalui
kebangkitan-Nya sebagai Pemenang. Sebab demikianlah semua Rasul berjalan dalam
harapan. Dengan mengalami banyak kemalangan dan dukaderita mereka menggenapi
apa yang masih kurang pada penderitaan Kristus bagi Tubuh-Nya yakni Gereja
(lih. Kol 1:24). Sering pula darah orang-orang kristiani menjadi benih[].
- (Kegiatan
misioner)
Tugas itu harus dijalankan oleh Dewan para Uskup
yang diketuai Pengganti petrus, sementara seluruh Gereja berdoa dan bekerja
sama. Tugas itu satu dan tetap sama, dimanapun juga dalam segala situasi,
meskipun menurut kenyataan tidak dilaksanakan dengan cara yang sama. Maka dari
itu perbedaan-perbedaan, yang harus diakui adanya dalam kegiatan gereja itu,
bukannya muncul dari hakekat paling dalam perutusan itu sendiri, melainkan dari
pelbagai situasi tempat perutusan itu berlangsung.
Adapun
keadaan-keadaan itu tergantung atau dari Gereja, atau juga dari berbagai
masyarakat, golongan-golongan atau orang-orang, yang dilayani dalam perutusan
itu. Sebab meskipun Gereja pada hakekatnya merangkum keseluruhan atau kepenuhan
upaya-upaya keselamatan, namun tidak selalu atau segera bertindak atau dapat bertindak
memakai semua upaya itu, melainkan dalam kegiatannya mencoba melaksanakan
rencana Allah mengalami tahap-tahap awal dan langkah-langkah. Bahkan ada
kalanya, sesudah kemajuan awal yang menggembirakan, Gereja terpaksa menyesalkan
adanya kemunduran lagi, atau setidak-tidaknya tinggal dalam suatu keadaan
tanggung dan tidak mencukupi. Adapun mengenai orang-orang, golongan-golongan
dan bangsa-bangsa, Gereja hanya menyentuh serta merasuki mereka secara
berangsur-angsur, dan begitulah Gereja menampung mereka dalam kepenuhan
katolik. Tindakan-tindakan yang khas atau sarana-sarana yang baik harus sesuai
dengan setiap situasi atau keadaan.
Prakarsa-prakarsa
khusus, yang ditempuh oleh para pewarta Injil utusan Gereja dengan pergi
keseluruh dunia untuk menunaikan tugas menyiarkan Injil dan menanamkan Gereja
diantara para bangsa atau golongan-golongan yang belum beriman akan Kristus,
lazimnya disebut “misi”. Misi itu dilaksanakan melalui kegiatan misioner, dan
kebanyakan diselenggarakan di kawasan-kawasan tertentu yang diakui oleh Takhta
suci. Tujuan khas kegiatan misioner itu mewartakan Injil dan menanamkan Gereja
ditengah bangsa-bangsa atau golongan-golongan, tempat Gereja belum berakar[].
Demikianlah dari benih sabda Allah tumbuhlah di mana-mana Gereja-gereja khusus
pribumi yang cukup mantap, mempunyai daya-kekuatan mereka sendiri serta dewasa,
dilengkapi secukupnya dengan Hirarki mereka sendiri dalam persatuan dengan Umat
beriman, pun dengan upaya-upaya yang sesuai dengan watak-perangai mereka, untuk
sepenuhnya menghayati hidup kristiani, dan untuk menyumbangkan bagian mereka
demi manfaat seluruh Gereja. Upaya utama penanaman Gereja itu pewartaan Injil
Yesus Kristus; untuk menyiarkannya itulah Tuhan mengutus para murid-Nya ke
seluruh dunia, supaya orang-orang lahir kembali berkat sabda Allah (lih. 1Ptr
1:23), dan melalui babtis digabungkan pada Gereja, yang sebagai Tubuh Sabda
yang menjelma dikembangkan dan hidup dari sabda Allah dan roti Ekaristi (lih
Kis 2:42).
Dalam kegiatan misioner Gereja itu ada
kalanya berbagai situasi bercampur-baur: pertama situasi permulaan atau
penanaman, kemudian situasi kebaharuan atau keremajaan. Tetapi sesudah itu
kegiatan misioner Gereja tidak berhenti, melainkan Gereja-Gereja khusus yang
sudah terbentuk bertugas melanjutkannya, dan mewartakan Injil kepada semua dan
setiap orang, yang masih berada di luar.
Selain
itu tidak jarang golongan-golongan masyarakat, yang dihadapi Gereja, karena
pelbagai sebab mengalami perubahan yang
mendalam, sehingga dapat muncullah keadaan-keadaan yang sama sekali baru. Lalu
Gereja wajib mempertimbangkan, benarkah situasi-situasi itu memerlukan kegiatan
misioner lagi. Kecuali itu kadang-kadang keadaannya sedemikian rupa, sehingga
untuk sementara tidak ada kemungkinan untuk
secara langsung dan segera menyiarkan Injil: dalam situasi itu para
misionaris dapat dan harus dengan sabar dan bijaksana, sekaligus dengan
kepercayaan besar, sekurang-kurangnya memberi kesaksian akan cinta kasih dan
kemurahan hati Kristus, dan dengan demikian menyiapkan jalan bagi Tuhan serta
dengan cara tertentu menghadirkan-Nya.
Begitu
menjadi jelaslah, bahwa kegiatan misioner bersumber pada hakekat Gereja
sendiri. Kegiatan itu menyiarkan iman Gereja yang membawa keselamatan,
menyempurnakan kesatuan katoliknya dengan memperluasnya, serta didukung oleh
sifat kerasulannya. Kegiatan misioner memberi wujud nyata kepada semangat
kolegial Hirarki, memberi kesaksian akan kekudusan Gereja, menyebarkan dan memajukan. Demikianlah kegiatan misioner
di antara bangsa-bangsa berlainan dengan kegiatan pastoral terhadap Umat
beriman, maupun dengan usaha-usaha yang ditempuh untuk meningkatkan kesatuan
umat kristen. Tetapi dua hal terakhir itu berhubungan erat sekali dengan
kegiatan misioner Gereja[]:
sebab perpecahan Umat kristen merugikan kepentingan amat suci, yakni pewartaan
Injil kepada segala makhluk[],
dan bagi banyak orang menutup pintu untuk memasuki iman. Demikianlah karena
misi itu sangat perlu, maka semua orang yang telah di babtis dipanggil, untuk
berhimpun dalam satu kawanan, dan dengan demikian mampu serentak memberi
kesaksian akan Kristus Tuhan mereka dihadapan para bangsa. Bila mereka belum
mampu memberi kesaksian sepenuhnya tentang satu iman, sekurang-kurangnya mereka
harus dijiwai oleh sikap saling menghargai dan saling mencintai.
- (Alasan
dan perlunya kegiatan misioner)
Alasan bagi kegiatan misioner itu terletak
pada kehendak Allah, yang “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan
memperoleh pengetahuan tentang kebenaran. Sebab Allah itu esa, dan esa pula
Pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah
menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1Tim 2:4-5); “dan
keselamatan tidak ada dalam siapa pun juga selain dalam Dia” (Kis 4:12). Maka
perlulah semua orang bertobat kepada Kristus, yang dikenal melalui pewartaan
gereja, dan melalui Babtis disaturagakan ke dalam Dia dan Gereja, yakni
Tubuh-Nya. Sebab Kristus sendiri “dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman
dan babtis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5),
sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui Babtis
bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu,
bahwa Gereja katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai
upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya, ia tidak dapat
diselamatkan”[].
Oleh karena itu, meskipun Allah melalui jalan yang diketahui-Nya dapat
menghantar manusia, yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil, kepada iman yang
merupakan syarat mutlak untuk berkenan kepada-Nya (Ibr 11:6), namun Gereja
mempunyai keharusan (lih. 1Kor 9:16) sekaligus juga hak yang suci, untuk
mewartakan Injil. Maka dari itu kegiatan misioner sekarang ini seperti selalu
tetap sepenuhnya mempunyai daya-kekuatan dan sifat keharusannya.
Melalui
kegiatan itu Tubuh mistik Kristus tiada hentinya menghimpun dan menyusun tenaga-tenaganya demi
pertumbuhannya sendiri (lih. Ef 4:11-16). Untuk melaksanakan kegiatan itulah
para anggota Gereja didorong oleh cinta kasih. Dengan cinta itu mereka mengasihinya
Allah, dan ingin berbagi kekayaan rohani hidup sekarang maupun di masa
mendatang dengan semua orang.
Akhirnya
melalui kegiatan misioner itu Allah dimuliakan sepenuhnya, sementara
orang-orang dengan sadar dan seutuhnya
menerima karya penyelamatan-Nya, yang disempurnakan-Nya dalam kristus. Demikian
melalui kegiatan misioner terpenuhilah renacana Allah, yang dilayani oleh
Kristus dengan taat-patuh dan penuh kasih demi kemuliaan bapa yang mengutus-Nya[],
supaya segenap umat manusia mewujudkan satu Umat Allah, bersatu-padu menjadi
satu Tubuh Kristus, serta dibangun menjadi satu kenisah Roh Kudus. Pastilah itu
menjawab kerinduan yang terdalam pada semua orang, karena mencerminkan
kerukunan antar saudara. Begitulah akhirnya rencana Sang Pencipta, yang
menciptakan manusia menurut cita-kesamaan-Nya, sungguh-sungguh terlaksana, bila
semua saja yang mempunyai kodrat manusiawi dilahirkan kembali dalam kristus
melalui Roh Kudus, dan sementara serentak memandang kemuliaan Allah, akan dapat
berseru: “Bapa kami”[].
- (Kegiatan
misioner dalam hidup dan sejarah umat manusia)
Kegiatan misioner berhubungan erat juga
dengan kodrat manusia sendiri serta aspirasi-aspirasinya. Sebab dengan
memperlihatkan Kristus, gereja
sekaligus mengungkapkan kepada manusia kebenaran yang sesungguhnya tentang
keadaannya serta kepenuhan panggilannya. Karena Kristus itu merupakan merupakan
prinsip dan pola kodrat manusiawi yang diperbaharui, serta dijiwai kasih
persaudaraan, kejujuran dan semangat suka damai, yang diinginkan oleh semua
orang. Kristus, begitu pula Gereja yang memberi kesaksian tentang-Nya melalui
pewartaan Injil, mengatasi segala keistimewaan suku maupun bangsa. Maka Kristus
serta Gereja-Nya tidak dapat dianggap asing bagi siapa pun dan di mana pun[].
Kristus sendirilah kebenaran dan jalan, yang oleh penyiaran Injil dibuka bagi
semua orang, sementara pewartaan itu menyampaikan kepada mereka semua amanat
Kristus sendiri: “Bertobatlah dan berimanlah akan Injil” (Mrk 1:15). Karena
siapa tidak beriman sudah diadili (lih. Yoh 3:18), maka sabda Kristus itu
sekaligus amanat pengadilan dan rahmat, maut dan kehidupan. Sebab hanya dengan
mematikan apa yang sudah usang kita dapat mencapai kehidupan yang baru. Dan itu
pertama-tama berlaku bagi pribadi-pribadi, tetapi juga bagi pelbagai
harta-nilai dunia ini, yang ditandai sekaligus oleh dosa manusia dan berkat
Allah: “Sebab semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah”
(Rom 3:23). Tidak seorangpun mampu membebaskan diri dari dosa dan melampaui
dirinya atas kekuatannya sendiri. Tak seorangpun dibebaskan sama sekali dari
kelemahannya, atau keadaannya terlantar, atau perbudakannya[].
Tetapi semua orang membutuhkan Kristus sebagai pola-teladan, guru, pembebas,
juru selamat, Dia yang menghidupkan. Sesungguhnya dalam sejarah manusia, juga
dalam kurun waktu ini, Injil merupakan ragi kebebasan dan kemajuan, dan selalu
menyajikan diri sebagai ragi persaudaraan, kesatuan dan damai. Maka bukannya
tanpa alasan Kristus oleh kaum beriman dirayakan sebagai “harapan dan
Penyelamat para bangsa”[].
- (Sifat
eskatologis kegiatan misioner)
Maka dari itu masa kegiatan misioner
berlangsung antara kedatangan Tuhan yang pertama dan yang kedua, saatnya Gereja
bagaikan panenan akan dihimpun dari keempat penjuru angin ke dalam kerajaan
Allah[].
Sebab sebelum Tuhan akan datang , Injil harus diwartakan kepada semua bangsa
(lih. Mrk 13:10).
Kegiatan
misioner tidak lain dan tidak kurang dari pada penampakan rencana Allah atau
“Epiphania”, serta pelaksanaannya didunia dan dalam sejarahnya, saatnya Allah,
melalui perutusan, secara terbuka menyempurnakan sejarah keselamatan. Melalui
sabda pewartaan dan perayaan sakramen-sakramen, yang pusat dan puncaknya
Ekaristi suci, kegiatan itu menghadirkan Kristus Sang Penyelamat. Kebenaran
atau rahmat mana pun, yang sudah terdapat pada para bangsa sebagai kehadiran
Allah yang serba rahasia, dibebaskannya dari penularan jahat dan
dikembalikannya kepada Kristus Penyebabnya, yang menumbangkan pemerintahan
setan serta menangkal pelbagai kejahatan perbuatan-perbuatan durhaka. Oleh
karena itu apa pun baik, yang terdapat
tertaburkan dalam hati dan budi orang-orang, atau dalam adat-kebiasaan
serta kebudayaan-kebudayaan yang khas para bangsa, bukan hanya tidak hilang,
melainkan disembuhkan, diangkat dan disempurnakan demi kemuliaan Allah, untuk
mempermalukan setan dan demi kebahagiaan manusia[].
Begitulah kegiatan misioner menuju kepada kepenuhan pada akhir zaman[]:
sebab karenanya, sampai masa dan waktu yang ditetapkan Bapa sendiri menurut
kuasa-Nya (lih. Kis 1:7), diperluaslah Umat Allah, yang disapa oleh nabi:
“lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu!
Janganlah menghematnya!” (Yes 54:2)[],
berkembanglah Tubuh mistik sampai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan
kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:13); dan kenisah rohani, tempat Allah disembah dalam
roh dan kebenaran (lih. Yoh 4:23), berkembang dan dibangun di atas landasan
para Rasul dan nabi-nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru (Ef 2:20).
BAB
DUA
KARYA MISIONER SENDIRI
- (Pendahuluan)
Gereja, yang diutus oleh Kristus untuk memperlihatkan
dan menyalurkan cinta kasih Allah kepada semua orang dan segala bangsa,
menyadari bahwa karya misioner yang harus dilaksanakannya memang masih amat
berat. Sebab masih ada dua miliar manusia, yang jumlahnya makin bertambah, dan
yang berdasarkan hubungan-hubungan hidup budaya yang tetap, berdasarkan
tradisi-tradisi keagamaan yang kuno, berdasarkan pelbagai ikatan
kepentingan-kepentingan sosial yang kuat, terhimpun menjadi golongan-golongan
tertentu yang besar, yang belum atau hampir tidak mendengar Warta Injil. Di
kalangan mereka ada yang tetap asing terhadap pengertian akan Allah sendiri,
ada pula yang jelas-jelas mengingkari adanya Allah, bahkan ada kalanya
menentangnya. Untuk dapat menyajikan kepada semua orang misteri keselamatan
serta kehidupan yang disediakan oleh Allah, Gereja harus memasuki
golongan-golongan itu dengan gerak yang sama seperti Kristus sendiri, ketika Ia
dalam penjelmaan-Nya mengikatkan diri pada keadaan-keadaan sosial dan budaya
tertentu, pada situasi orang-orang yang sehari-hari dijumpai-Nya.
ARTIKEL SATU
KESAKSIAN KRISTIANI
- (Kesaksian
hidup dan dialog)
Gereja harus hadir di tengah golongan-golongan
manusia itu melalui putera-puteranya, yang diam di antara mereka atau diutus
kepada mereka. Sebab segenap umat beriman kristiani, dimana pun mereka hidup,
melalui teladan hidup serta kesaksian lisan mereka wajib menampilkan manusia
baru, yang telah mereka kenakan ketika
dibaptis, maupun kekuatan Roh Kudus, yang telah meneguhkan mereka melalui
sakramen Krisma. Dengan demikian sesama akan memandang perbuatan-perbuatan mereka dan memuliakan Bapa (lih. Mat 5:16),
dan akan lebih penuh menangkap makna sejati hidup manusia serta ikatan
persekutuan semesta umat manusia.
Supaya
kesaksian mereka akan Kristus itu dapat memperbuahkan hasil, hendaklah mereka
dengan penghargaan dan cinta kasih menggabungkan diri dengan sesama, menyadari
diri sebagai anggota masyarakat di lingkungan mereka, dan ikut serta dalam
kehidupan budaya dan sosial melalui aneka cara pergaulan hidup manusiawi dan
pelbagai kegiatan. Hendaknya mereka sungguh mengerti tradisi-tradisi kebangsaan
dan keagamaan mereka, dan dengan gembira serta penuh hormat menggali
benih-benih Sabda yang terpendam di situ. Tetapi sekaligus hendaknya mereka
memperhatikan proses perubahan mendalam, yang sedang berlangsung pada
bangsa-bangsa itu, dan ikut mengusahakan, supaya orang-orang zaman sekarang
jangan terlampau memperhatikan ilmu-pengetahuan serta teknologi dunia modern,
sehingga terasingkan dari nilai-nilai ilahi, bahkan supaya mereka dibangkitkan
untuk semakin intensif merindukan kebenaran dan cinta kasih yang diwahyukan
oleh Allah. Kristus sendiri menyelami hati sesama-Nya dan melalui percakapan
yang sungguh manusiawi menghantar mereka kepada terang ilahi. Begitu pula
hendaklah para murid-Nya, yang secara mendalam diresapi oleh Roh Kristus,
memahami sesama dilingkungan mereka dan bergaul dengan mereka, sehingga berkat
dialog yang jujur dan sabar itu mereka makin mengetahui, harta-kekayaan manakah
yang oleh Allah dalam kemurahan-Nya telah dibagikan kepada para bangsa. Serta
merta hendaklah mereka berusaha menilai kekayaan itu dalam cahaya Injil,
membebaskannya, dan mengembalikannya kepada kekuasaan Allah Penyelamat.
- (Kehadiran
cinta kasih)
Kehadiran Umat beriman kristiani di tengah golongan-golongan manusia hendaknya dijiwai
oleh cinta kasih Allah terhadap kita, sebab Allah menghendaki supaya kita
saling mengasihi dengan cinta kasih yang sama (lih. 1Yoh 4:11). Sesungguhnya
cinta kasih kristiani di tujukan kepada semua orang tanpa membeda-bedakan
suku-bangsa, keadaan sosial atau agama; cinta kasih tidak mengharapkan
keuntungan atau ungkapan terima kasih. Sebab seperti Allah telah mengasihi kita
dengan cinta yang suka rela, begitu pula hendaknya kaum beriman dengan kasih
mereka memperhatikan sepenuhnya manusia sendiri, dalam gerak yang sama seperti
Allah mencari manusia. Maka seperti Kristus berkeliling ke semua kota dan desa
sambil melenyapkan segala penyakit dan kelemahan sebagai tanda kedatangan
kerajaan Allah (lih. Mat 9:35 dsl; Kis 10:38), begitu juga Gereja melalui para
puteranya berhubungan dengan orang-orang dalam keadaan mana pun juga, tetapi
terutama dengan mereka yang miskin dan tertimpa kemalangan, dan dengan sukarela
mengorbankan diri untuk mereka (lih. 2Kor 12:15). Sebab Gereja ikut mengalami
kegembiraan serta kesedihan mereka, mengerti cita-cita serta teka-teki hidup
mereka, menderita bersama mereka dalam kegelisahan maut. Gereja ingin
menanggapi mereka yang mencari damai dengan wawancara persaudaraan, dan membawa
damai serta terang Injil kepada mereka.
Hendaklah
kaum beriman kristiani berusaha dan bekerja sama dengan semua orang lainnya
untuk mengatur bidang-bidang ekonomi dan sosial secara tepat hendaknya mereka
secara istimewa membaktikan diri bagi pendidikan anak-anak dan kaum muda
melalui pelbagai macam sekolah-sekolah, yang harus dipandang tidak hanya
sebagai upaya yang unggul untuk membina dan memajukan angkatan muda kristiani,
melainkan juga sebagai pengabdian yang bernilai amat tinggi kepada umat
manusia, terutama kepada bangsa-bangsa yang sedang berkembang, untuk mengangkat
martabat manusia dan menyiapkan kondisi-kondisi yang lebih manusiawi. Selain
itu hendaknya umat kristiani ikut serta dalam usaha-usaha para bangsa, yang
sedang memerangi kelaparan, kebodohan serta penyakit-penyakit, dan dengan
demikian berusaha menciptakan kondisi-kondisi hidup yang lebih baik dan
meneguhkan perdamaian di dunia. Dalam kegiatan itu hendaknya kaum beriman
memilih untuk dengan bijaksana menggabungkan usaha mereka dengan usaha-usaha,
yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga perorangan maupun umum, oleh
pemerintah-pemerintah, oleh lembaga-lembaga internasional, oleh pelbagai jemaat
kristiani maupun para penganut agama-agama bukan kristiani.
Akan
tetapi gereja sama sekali tidak bermaksud mencampuri pemerintahan masyarakat
duniawi. Gereja tidak menghendaki kewibawaan lain bagi dirinya kecuali untuk
dengan bantuan Allah, dengan cinta kasih dan dalam pengabdian yang setia,
melayani umat manusia (lih. Mat 20:26; 23:11)[]
Dalam
kehidupan dan kegiatan mereka para murid Kristus erat bersatu dengan sesama
manusia. Mereka berharap akan memberi kesaksian yang benar tentang Kristus, dan
berkarya demi keselamatan sesama, juga bila mereka tidak dapat sepenuhnya
mewartakan Kristus. Sebab mereka tidak mencari kemajuan dan kesejahteraan
manusia yang bersifat jasmani melulu, melainkan memajukan martabat serta
persatuan persaudaraan sesama. Itu mereka usahakan sambil mengajarkan
kebenaran-kebenaran keagamaan dan kesusilaan, yang oleh Kristus disinari dengan
cahaya-Nya. Dengan demikian mereka lambat laun semakin lebar membuka pintu
menuju Allah. Begitulah orang-orang dibantu untuk memperoleh keselamatan
melalui cinta kasih terhadap Allah dan terhadap sesama. Mulai bercahayalah
misteri kristus. Dalam Dia telah mulai tampillah manusia baru, yang diciptakan
menurut Allah (lih. Ef 4:24), dan yang mengungkapkan cinta kasih Allah.
ARTIKEL DUA
PEWARTAAN INJIL DAN PENGHIMPUNAN UMAT ALLAH
- (Pewartaan
Injil dan pertobatan)
Dimanapun Allah membuka pintu pewartaan tentang
misteri Kristus (lih. Kol 4:3), kepada semua orang (lih. Mrk 16:15) perlulah
diwartakan (lih. 1Kor 9:16; Rom 10:14) penuh kepercayaan dan tiada hentinya
(lih. Kis 4:13, 29, 31; 9:27-28; 13:46; 14:3; 19:8; 26:26; 28:31; 1Tes 2:2;
2Kor 3:12; 7:4; Plp 1:20; Ef 3:12; 6:19-20) Allah yang hidup, beserta Yesus
kristus yang diutus-Nya demi keselamatan semua orang (lih. 1Tes 1:9-10; 1Kor
1:18-21; Gal 1:31; Kis 14:15-17; 17:22-31). Maksudnya supaya mereka yang bukan
kristiani, berkat Roh Kudus yang membuka hati mereka (lih. Kis 16:14), menjadi
beriman dan dengan sukarela bertobat kepada Tuhan, serta dengan jujur berpegang
teguh pada Dia, yang merupakan “jalan, kebenaran dan kehidupan” (Yoh 14:6), dan
memenuhi - bahkan tiada hingganya melampaui – semua
harapan-harapan rohani mereka.
Itu
memang harus dimengerti sebagai pertobatan awal, tetapi bagi manusia sudah
mencakup untuk menangkap, bahkan ia telah dibebaskan dari dosa dan di antar
masuk ke dalam misteri cinta kasih Allah, yang memanggilnya untuk menjalin
hubungan pribadi dengan diri-Nya dalam kristus. Sebab berkat rahmat Allah orang
yang baru saja bertobat menempuh perjalanan rohani; di situ ia, yang karena
iman sudah ikut menghayati misteri wafat dan kebangkitan, beralih dari manusia
lama kepada manusia baru yang sempurna dalam Kristus (lih. Kol 3:5-10; Ef
4:20-24). Peralihan itu membawa serta perubahan mentalitas serta adat kebiasaan
secara berangsur-angsur, harus nampak beserta dampak-dampak sosialnya, dan
selama katekumenat berkembang sedikit demi sedikit. Tuhan yang diimani itu
tanda yang menimbulkan perbantahan (lih. Luk 2:34; mat 10:34-39). Maka manusia
yang bertobat tidak jarang mengalami perpecahan-perpecahan dan
pemisahan-pemisahan, tetapi juga kegembiraan yang dikurniakan oleh Allah tanpa
ukuran (lih. 1Tes 1:6).
Gereja
melarang keras, jangan sampai ada orang yang dipaksa atau dengan siasat yang
tidak pada tempatnya dibujuk atau dipikat untuk memeluk iman. Begitu pula
Gereja dengan teguh membela hak manusia untuk tidak dijauhkan dari iman melalui
ganguan-gangguan yang melanggar keadilan[].
Menurut
kebiasaan Gereja yang amat kuno, hendaknya alasan-alasan untuk bertobat
diselidiki, dan bila perlu dijernihkan.
- (Katekumenat
dan inisiasi kristiani)
Hendaknya mereka, yang telah menerima iman
akan Kristus dari Allah melalui gereja[],
diterima ke dalam katekumenat dengan upacara liturgis. Katekumenat itu bukan
melulu penjelasan ajaran-ajaran Gereja dan pemerintah-pemerintah, melainkan
pembinaan dalam seluruh hidup kristiani dan masa percobaan yang lamanya memadai,
yang membantu para murid untuk bersatu dengan Kristus Guru mereka. Maka
hendaknya para katekumen diantar sebagamana harusnya untuk memasuki rahasia
keselamatan, menghayati cara hidup menurut Injil, dan ikut serta dalam
upacara-upacara suci, yang harus dirayakan dari masa ke masa[].
Hendaknya mereka diajak memulai hidup dalam iman, merayakan liturgi dan
mengamalkan cinta kasih Umat Allah.
Kemudian
melalui sakramen-sakramen inisiasi kristiani mereka dibebaskan dari kuasa
kegelapan (lih. Kol 1:13)[];
mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama Kristus (lih. Rom 6:4-11; Kol
2:12-13; 1ptr 3:21-22; Mrk 16:16), menerima Roh (lih. 1tes 3:5-7; Kis 8:14-17)
pengangkatan menjadi putera, dan merayakan kenangan dan wafat kebangkitan Tuhan
bersama segenap Umat Allah.
Hendaknya
liturgi masa Pra Paska dan Paska
ditinjau kembali sedemikian rupa, sehingga menyiapkan hati para katekumen merayakan
misteri Paska; dalam perayaan itu mereka dilahirkan bagi Kristus melalui
baptis-baptis.
Tetapi
inisiasi kristisni dalam katekumenat itu jangan hanya diselenggarakan oleh para
katekis atau para imam, melainkan hendaknya di laksanakan oleh segenap jemaat
beriman, khususnya oleh bapak ibu baptis, sehingga para katekumen sejak semula
merasa termasuk anggota Umat Allah. Karena hidup Gereja itu bersifat kerasulan,
maka hendaknya para katekumen belajar juga dengan kesaksian hidup serta
pengikraran imam mereka secara aktif memberi sumbangan mereka bagi pewartaan
Injil dan pembangunan Gereja.
Akhirnya
status yuridis para katekumen hendaknya dalam Kitab Hukum Kanonik yang baru
ditetapkan dengan jelas. Sebab mereka sudah bersatu dengan Gereja[],
sudah termasuk rumah (keluarga) Kristus[],
dan tidak jarang sudah mengghayati kehidupan iman, harapan dan cinta kasih.
ARTIKEL
TIGA
PEMBINAAN JEMAAT KRISTIANI
- (Pembinaan
jemaat kristiani)
Roh Kudus memanggil semua orang kepada
Kristus melalui benih-benih Sabda serta pewartaan Injil, dan membangkitakan
iman dalam hati mereka. Bila ia dalam bejana Baptis melahirkan mereka yang beriman
akan Kristus bagi kehidupan baru, Ia menghimpun mereka jadi satu Umat Allah,
yakni “bangsa terpilih, imamat rajawi, bangsa yang kudus, umat milik Allah
sendiri” (1Ptr 2:9)[].
Maka
hendaknya para misionaris, yang bekerja sama dengan Allah (lih 1Kor 3:9),
membangun jemaat-jemaat beriman sedemikian rupa, sehingga hidup mereka sebagai
umat yang terpanggil berpadanan dengan panggilan itu (lih. Ef 4:1), dan mereka
dengan pantas menunaikan tugas-tugas imamat, kenabian dan rajawi, yang oleh
Allah dipercayakan pada mereka. Begitulah jemaat kristiani menjadi tanda
kehadiran Allah di dunia. Sebab jemaat itu berkat korban Ekaristi tiada
hentinya beralih kepada Bapa bersama Kristus[],
dengan tekun menerima santapan sabda Allah[],
memberi kesaksian tentang Kristus[],
akhirnya berjalan dalam cinta kasih, dan berkobar semangat kerasulannya[].
Jemaat
kristiani sejak semula harus dibina sedemikian rupa, sehingga sedapat mungkin
mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri.
Himpunan
umat beriman itu, yang mengemban kekayaan-kebudayaan bangsanya sendiri,
hendaknya dalam-dalam berakar di tengah rakyat: hendaknya keluarga-keluarga
berkembang, diresapi oleh semangat Injil[]
dan dibantu oleh sekolah-sekolah yang bermutu; hendaknya didirikan pelbagai
persekutuan dan kelompok untuk mendukung kerasulan awam, supaya mampu merasuki
seluruh masyarakat dengan semangat Injil. Akhirnya hendaknya antara Umat
katolik dari berbagai ritus cinta kasih bersinar cemerlang[].
Hendaknya
semangat ekumenis pun dikembangkan di antara mereka yang baru di baptis, supaya
mereka betul-betul menyadari, bahwa para saudara yang beriman akan Kristus itu
memang murid-murid Kristus, yang dilahirkan kembali dengan Baptis, dan ikut
memiliki kekayaan Umat Allah yang melimpah. Sejauh situasi keagamaan
mengizinkan, hendaknya kegiatan ekumenis dikembangkan sedemikian rupa, sehingga
enyahlah setiap kesan masa bodoh dan mencampur-adukkan maupun persaingan yang
tidak sehat, dan – sejauh mungkin – Umat katolik, menurut kaidah-kaidah Dekrit
tentang Ekumenisme, secara persaudaraan bekerja sama dengan saudara-saudara
yang terpisah, dalam pengikraran iman bersama akan Allah dan akan Yesus Kristus
dihadapan para bangsa, pun juga dalam kerja sama dibidang sosial dan tehnis
maupun dibidang kebudayaan dan keagamaan. Terutama hendaknya mereka menjalin
kerja sama demi Kristus, Tuhan mereka bersama: Nama-Nya mengikat mereka menjadi
satu! Kerja sama itu hendaknya diadakan bukan hanya diantara orang-orang
perorangan, melainkan juga – menurut kebijakan Uskup setempat – antara
Gereja-Gereja atau jemaat-jemaat gerejawi beserta karya-kegiatan mereka.
Umat
beriman kristiani, yang dihimpun dari segala bangsa dalam Gereja, “tidak
terbedakan dari orang-orang lain entah karena bentuk pemerintahan, entah karena
bahasa mereka, entah karena tatanan politik kehidupan”[].
Maka hendaklah mereka dalam adat kebiasaan hidup bangsa mereka yang pantas bagi
Allah dan Kristus. Sebagai warganegara yang baik hendaknya mereka dengan
sungguh-sungguh dan secara nyata memupuk cinta akan tanah air; tetapi hendaklah
mereka sama sekali menghindari sikap menghina terhadap suku-bangsa lain maupun
nasionalisme yang berlebihan, dan memajukan cinta kasih terhadap sesama, semua
dan siapa saja. Untuk mencapai itu semua kaum awam sangat penting dan selayaknya
mendapat perhatian istimewa, yakni: Umat beriman kristiani, yang melalui Baptis
disaturagakan dalam Kristus, dan tetap hidup ditengah masyarakat. Sebab
merupakan tugas merekalah, untuk dijiwai oleh Roh Kristus, ibarat ragi menjiwai
hal-hal yang fana dari dalam, dan mengaturnya supaya selalu terlaksana menurut
kehendak Kristus[].
Tetapi
tidak cukuplah, bahwa Umat kristiani hadir dan mendapat tempatnya ditengah
suatu bangsa; tidak cukup pula bahwa mereka mengamalkan kerasulan teladan. Umat
ditempatkan di situ, hadir disitu, untuk mewartakan Kristus kepada sesama warga
masyarakat yang bukan kristiani dengan sabda maupun kegiatan, dan untuk
membantu mereka menerima Kristus sepenuhnya.
Adapun
untuk menanamkan Gereja dan demi perkembangan jemaat kristiani diperlukan
pelbagai pelayanan, yang berkat panggilan ilahi tumbuh dari jemaat beriman
sendiri, dan oleh semua anggota harus dipupuk dan dipelihara dengan tekun. Di
antaranya terdapat tugas para imam, para diakon dan para katekis, lagi pula
Aksi Katolik. Begitu pula para religius pria maupun wanita menunaikan tugas
yang sangat perlu untuk mengakarkan dan
meneguhkan Kerajaan Kristus di hati orang-orang, dan untuk terus
menyebarluaskannya entah melalui doa, entah dengan karya-kegiatan yang aktif.
- (Pengadaan
klerus setempat)
Dengan sangat gembira Gereja bersyukur atas kurnia
tidak ternilai panggilan imamat, yang oleh Allah dianugerahkan kepada sekian
banyak pemuda di tengah bangsa-bangsa yang akhir-akhir ini bertobat kepada
kristus. Sebab Gereja berakar lebih kuat disetiap golongan manusia, bila
pelbagai jemaat beriman dari kalangan anggotanya mempunyai pelayanan-pelayan
keselamatannya sendiri pada tingkat Uskup, Imam dan Diakon, yang melayani para
saudara mereka, sehingga Gereja-Gereja muda lambat-laun memperoleh tata-susunan
keuskupan beserta klerusnya sendiri.
Apa
pun yang oleh Konsili ini telah ditetapkan tentang panggilan dan pembinaan
imam, hendaknya dipatuhi dengan khidmat sejak Gereja mulai ditanam maupun dalam
Gereja-Gereja muda. Hendaklah dianggap sangat penting apa yang dikatakan
tentang perpaduan erat antara pembinaan rohani dan pendidikan ilmiah serta
pastoral, tentang penghayatan hidup menurut pola Injil tanpa mempertimbangkan
keuntungan sendiri atau keluarga, tentang usaha memupuk cita-rasa misteri Gereja
yang mendalam. Di situ para calon imam secara mengagumkan akan belajar
membaktikan diri seutuhnya untuk mengabdi kepada Tubuh Kristus dan melaksanakan
karya Injil, mematuhi Uskup mereka sebagai rekan-rekan sekerja andal, dan
membantu rekan-rekan seimamat[].
Untuk
mencapai tujuan umum itu, seluruh pembinaan para siswa hendaknya disusun dalam
terang rahasia keselamatan seperti terungkap dalam Kitab suci. Hendaknya mereka
menemukan dan menghayati misteri Kristus serta keselamatan umat manusia dalam
Liturgi[].
Tuntutan-tuntutan
umum pembinaan imam itu, juga dibidang pastoral dan praktis, menurut kaidah
Konsili[],
hendaknya diserasikan dengan usaha menanggapi pola berpikir dan bertindak yang
serba khas pada bangsa yang bersangkutan. Maka hati dan budi para siswa
hendaknya dibuka dan diperhalus, sehingga mereka menyelami dan mampu menilai
kebudayaan bangsa mereka; dalam ilmu-ilmu filsafat dan teologi hendaknya mereka
memahami hubungan-hubungan antara tradisi-tradisi serta hidup keagamaan bangsa
mereka dan agama kristiani[].
Begitu pula hendaknya pembinaan imam mengindahkan kebutuhan-kebutuhan pastoral
daerah itu: para siswa hendaknya mempelajari sejarah, tujuan dan metode
kegiatan misioner Gereja, begitu pula kondisi-kondisi sosial, ekonomi, budaya,
yang khas bagi rakyat di situ. Hendaklah mereka dididik dalam semangat ekumenisme, dan disiapkan
semestinya untuk menjalin dialog
persaudaraan dengan umat bukan-kristiani[].
Itu semua menuntut, supaya studi imamat sedapat mungkin diselenggarakan dalam
hubungan dan hidup bersama yang terus-menerus dengan bangsa yang bersangkutan[].
Akhirnya hendaknya diperhatikan juga
dalam pendidikan administrasi kegerejaan yang teratur, bahkan juga dalam
administrasi ekonomi.
Selain
itu hendaknya di pilih imam-imam yang cakap, yang – sesudah sekedar praktik
pastoral – dapat menyelesaikan studi tingkat perguruan tinggi dengan baik, juga
diuniversitas-universitas di luar
negeri, terutama di Roma, dan di lembaga-lembaga ilmiah lainnya. Dengan
demikian bagi Gereja-Gereja muda tersedialah dari klerus setempat imam-imam,
yang berbekalkan ilmu serta kemahiran yang sesuai untuk menunaikan tugas-tugas
gerejawi yang lebih berat.
Bila
konferensi-konferensi Uskup memandangnya baik, hendaknya diadakan lagi tingkat
diakonat sebagai status hidup yang tetap, menurut kaidah Konstitusi “tentang
Gereja”[].
Sebab memang berguna bahwa ada orang-orang, yang sungguh-sungguh menjalankan
pelayanan diakon, entah dengan mewartakan sabda Allah sebagai katekis, entah
dengan memimpin jemaat-jemaat kristiani yang terpencil atas nama pastor paroki
dan Uskup, atau dengan mengamalkan cinta kasih dalam karya-kegiatan sosial atau amal-kasih. Hendaklah mereka itu
diteguhkan dengan penumpangan tangan yang diwaris dari para Rasul, dan
dihubungkan lebih erat dengan altar, sehingga mereka secara lebih tepat-guna
menunaikan pelayanan mereka berkat rahmat sakramental diakonat.
- (Pendidikan
para katekis)
Demikian pula pantas dipujilah barisan, yang berjasa
begitu besar dalam karya misioner diantara para bangsa, yakni barisan para
katekis baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat merasul, dengan banyak
jerih payah memberi bantuan yang istimewa dan sungguh-sungguh perlu demi
penyebarluasan iman dan Gereja.
Pada
zaman kita ini hanya sedikitlah jumlah klerus untuk mewartakan Injil kepada
masa yang begitu besar, dan untuk menjalankan pelayanan pastoral. Maka tugas
para katekis sangat penting. Oleh karena itu pendidikan mereka harus
dilaksanakan dan disesuaikan dengan kemajuan kebudayaan sedemikian rupa,
sehingga mereka menjadi rekan sekerja yang tangguh bagi para imam, dan mampu
menunaikan sebaik mungkin tugas mereka, yang makin bertambah sulit karena
beban-beban baru yang lebih berat.
Maka
dari itu hendaknya jumlah sekolah-sekolah tingkat keuskupan maupun regio diperbanyak,
untuk menampung para calon katekis, yang mendalami ajaran katolik, terutama
perihal Kitab Suci dan liturgi, maupun mengembangkan metode katekese dan
praktik pastoral; selain itu membina diri menurut adat-perilaku kristiani[],
dan tiada hentinya berusaha mengembangkan keutamaan serta kesucian hidup.
Kecuali itu hendaklah diselenggarakan pertemuan-pertemuan atau kursus-kursus,
untuk pada masa-masa tertentu membantu para katekis menyegarkan diri dalam
ilmu-ilmu dan ketrampilan-ketrampilan yang berguna bagi pelayanan mereka, serta
memupuk dan meneguhkan hidup rohani mereka. Selain itu, hendaknya mereka, yang
membaktikan diri sepenuhnya dalam kegiatan itu, diberi status hidup yang
sepantasnya dan jaminan sosial dalam bentuk balas jasa yang adil[].
Diharapkan,
agar bagi pendidikan dan rezeki hidup para katekis disediakan dana bantuan
khusus yang selayaknya oleh Kongregasi Penyebaran Iman. Bila akan nampak perlu
dan seyogyanya, hendaknya didirikan “Karya untuk para Katekis”[].
Kecuali
itu Gereja-Gereja dengan rasa syukur akan menghargai jerih-payah para katekis
bantu, yang berkarya dengan murah hati, dan yang pertolongannya akan tetap
dibutuhkan. Mereka dalam jemaat-jemaat mereka memimpin doa-doa dan memberi
pelajaran. Pendidikan mereka perihal ajaran dan hidup rohani hendaknya
diusahakan semestinya. Selain itu dihimbau , agar – bila dipandang cocok –
kepada para katekis, yang telah menempuh pendidikan sebagaimana seharusnya,
diberikan perutusan gerejani secara resmi, dalam suatu ibadat liturgis yang
dirayakan di muka umum, supaya dalam pengabdian kepada iman mereka lebih
berwibawa terhadap Umat.
- (Pengembangan
hidup religius)
Hendaknya sejak masa penanaman Gereja
sungguh-sungguh diusahakan pengembangan hidup religius, yang bukan hanya
memberi bantuan yang berharga dan sangat diperlukan bagi kegiatan misioner,
melainkan melalui pentakdisan yang lebih mendalam kepada Allah dalam Gereja
juga menunjukkan dan melambangkan dengan jelas inti hakekat panggilan kristiani[].
Hendaknya
lembaga-lembaga religius, yang ikut berjerih payah menanam Gereja, dan secara
mendalam diresapi kekayaan mistik, yang menandai tradisi religius Gereja,
berusaha mengungkapkan dan menurunkan
kekayaan itu sesuai dengan bakat-pembawaan dan watak perangai
masing-masing bangsa. Hendaknya dipertimbangkan dengan saksama, bagaimana
tradisi-tradisi ulah-tapa serta kontemplasi, yang benih-benihnya acap kali
sebelum pewartaan Injil sudah ditanam oleh Allah dalam kebudayaan-kebudayaan
kuno, dapat ditampung ke dalam hidup religius kristiani.
Dalam
Gereja-Gereja muda hendaknya dikembangkan pelbagai bentuk hidup religius, untuk
memperlihatkan pelbagai segi perutusan Kristus dan kehidupan Gereja, dan untuk
membaktikan diri melalui pelbagai bentuk karya pastoral serta menyiapkan para
anggotanya dengan baik untuk melaksanakan kegiatan itu. Akan tetapi para Uskup
dalam Konferensi hendaknya memperhatikan, jangan sampai jumlah Tarekat, yang
bertujuan kerasulan yang sama, diperbanyak sehingga merugikan hidup religius
maupun kerasulan.
Layak
disebutkan secara khusus pelbagai usaha untuk mengakarkan hidup kontemplatif.
Ada yang sementara mempertahankan unsur-unsur hakiki lembaga monastik berusaha
menanamkan tradisi Tarekat mereka yang amat kaya. Namun ada pula yang kembali
ke bentuk-bentuk lebih sederhana hidup monastik di jaman kuno. Akan tetapi
hendaknya semuanya berusaha mencari penyesuaian yang sesungguhnya dengan
kondisi-kondisi setempat. Karena hidup kontemplatif termasuk kehadiran Gereja
yang sepenuhnya, maka hendaknya diadakan di mana-mana dalam Gereja-Gereja muda.
BAB
TIGA
GEREJA-GEREJA KHUSUS
- (Kemajuan
Gereja-Gereja muda)
Dalam arti tertentu karya penanaman Gereja pada
golongan manusia tertentu mencapai sasarannya, bila jemaat beriman telah
berakar dalam hidup masyarakat, sudah agak menyesuaikan diri dengan kebudayaan
setempat, dan keadaannya sudah agak stabil dan kuat; artinya: mempunyai
sejumlah imam, religius maupun awam pribumi, meskipun belum mencukupi, dan
dilengkapi dengan pelayanan-pelayanan serta lembaga-lembaga, yang dibutuhkan
untuk hidup sebagai Umat Allah di bawah bimbingan Uskupnya sendiri dan
mengembangkan diri.
Dalam
Gereja-Gereja muda itu kehidupan Umat Allah harus menjadi dewasa di segala
bidang hidup kristiani yang perlu diperbaharui menurut kaidah-kaidah Konsili
ini: kelompok-kelompok Umat beragama semakin sadar menjadi jemaat-jemaat yang
hidup karena iman, ibadat dan cinta kasihnya; kaum awam melalui kegiatan
kemasyarakatan dan kerasulan berusaha menciptakan tatanan cinta kasih dan
keadilan dalam masyarakat; upaya-upaya komunikasi sosial digunakan secara tepat
dan bijaksana; keluarga-keluarga dengan hidup mereka yang sungguh kristiani
menjadi persemaian kerasulan awam maupun panggilan-panggilan imam dan religius.
Akhirnya iman diwartakan melalui katekese yang sesuai, dirayakan dalam liturgi
yang selaras dengan sifat perangai rakyat, serta dengan adanya perundangan
Gereja yang cocok memasuki lembaga-lembaga yang terpandang dan merasuki
adat-kebiasaan setempat.
Adapun
para Uskup, masing-masing dengan para imamnya, hendaknya makin diresapi oleh
cita-rasa Kristus dan Gereja, dan menjadi seperasaan dan sekehidupan dengan
Gereja semesta. Hendaklah Gereja-Gereja muda tetap memelihara persekutuan yang
erat dengan seluruh Gereja, yang unsur-unsur tradisinya hendaknya dipadukan dengan
kebudayaan sendiri, untuk mengembangkan kehidupan Tubuh Mistik dengan suatu
pertukaran timbal-balik[].
Oleh karena itu hendaknya dikelola unsur-unsur teologis, psikologis dan
manusiawi, yang dapat memberi sumbangan untuk memupuk semangat persekutuan
dengan Gereja semesta.
Tetapi
Gereja-Gereja muda itu, yang sering sekali terletak di kawasan-kawasan dunia
yang lebih miskin, kebanyakan masih sangat kekurangan imam dan upaya-upaya
jasmani. Maka kebutuhan mereka yang amat mendesak yakni: supaya kegiatan
misioner seluruh Gereja yang tiada hentinya menyampaikan bantuan-bantuan, yang
terutama akan mendukung perkembangan Gereja setempat dan pendewasaan hidup
kristiani. Kegiatan misioner itu hendaklah
membantu Gereja-Gereja yang sudah lama didirikan juga, tetapi sedang
mengalami suatu kemunduran atau kelemahan.
Akan
tetapi hendaklah Gereja-Gereja itu bersama-sama membaharui semangat pastoral
serta menyesuaikan kegiatan-kegiatan mereka, supaya dengan demikian
panggilan-panggilan imam diosesan dan hidup religius bertambah jumlahnya, dapat
dipertimbangkan dengan lebih cermat, dan di pupuk secara lebih tepat-guna[],
sehingga lambat-laun Gereja-Gereja mampu mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka
sendiri pun juga membantu Gereja-Gereja lain.
- (Kegiatan
misioner Gereja-Gereja khusus)
Gereja khusus wajib menghadirkan Gereja semesta
sesempurna mungkin. Maka hendaklah sungguh menyadari, bahwa ia juga diutus
kepada mereka yang belum beriman akan Kristus dan bersama dengannya menghuni
daerah yang sama, sehingga melalui kesaksian hidup masing-masing anggotanya
seluruh jemaatnya menjadi tanda yang menunjukkan Kristus kepada mereka.
Selain
itu diperlukan sabda, supaya Injil mencapai semua orang. Uskup pertama-tama
wajib menjadi pewarta iman, yang menghantarkan murid-murid baru kepada Kristus[].
Supaya ia menunaikan tugas mulia itu sebagaimana mestinya, hendaklah ia sungguh
menyelami baik situasi dan kondisi kawanannya, maupun pandangan-pandangan
tentang Allah yang sesungguhnya terdapat pada sesama warga masyarakat.
Hendaklah ia dengan seksama mempertimbangkan juga perubahan-perubahan, yang
disebabkan oleh apa yang disebut “urbanisasi”, perpindahan penduduk, dan sikap
tak acuh di bidang keagamaan.
Para
imam pribumi dalam Gereja-Gereja muda hendaknya penuh semangat menangani karya
pewartaan Injil, dengan menjalin kerja sama dengan para misionaris luar negeri,
yang bersama mereka merupakan satu himpunan imam, bersatu dibawah kewibawaan
Uskup, bukan saja untuk menggembalakan Umat beriman dan merayakan ibadat ilahi,
melainkan juga untuk mewartakan Injil kepada mereka yang berada di luar.
Hendaknya mereka siap sedia, dan bila ada kesempatan dengan gembira menawarkan
diri kepada Uskup mereka, untuk memulai karya misioner di daerah-daerah yang
terpencil dan terbelakang di keuskupan mereka sendiri atau di
keuskupan-keuskupan lain.
Hendaknya
para religius pria maupun wanita, begitu pula kaum awam, dijiwai oleh semangat
yang sama terhadap sesama warga masyarakat, terutama terhadap mereka yang lebih
miskin.
Hendaknya
Konferensi-Konferensi Uskup mengusahakan, supaya pada waktu-waktu tertentu
diselenggarakan kursus-kursus penyegaran di bidang Kitab suci, teologi, hidup
rohani dan pastoral, dengan maksud supaya ditengah kemajemukan dan
perubahan-perubahan situasi klerus memperoleh pengertian yang lebih penuh
tentang ilmu teologi dan metode-metode pastoral.
Pada
umumnya, hendaklah dipatuhi dengan saksama apa yang telah ditetapkan oleh Konsili ini, terutama dalam Dekrit tentang
Pelayanan dan Hidup para Imam.
Supaya
karya misioner Gereja khusus itu dapat terlaksana, diperlukan pelayan-pelayan
yang cakap, yang perlu disiapkan pada waktunya dengan cara yang sesuai dengan
situasi masing-masing Gereja. Tetapi karena orang-orang semakin mengelompok
membentuk golongan-golongan tertentu, maka adalah semestinya, bahwa
Konferensi-Konferensi Uskup mengadakan pertukaran pandangan tentang bagaimana
menjalin dialog dengan golongan-golongan itu. Akan tetapi bila diberbagai
wilayah terdapat kelompok-kelompok, yang terhalang untuk memeluk iman katolik,
karena mereka tidak mampu menyesuaikan diri dengan bentuk khusus, yang menandai
Gereja di situ, lalu diharapkan, supaya situasi yang istimewa itu ditanggapi
secara khusus[],
sampai semua orang kristiani dapat berhimpun menjadi satu jemaat. Adapun
masing-masing Uskup hendaknya mengundang para misionaris ke keuskupannya, -
bila Takhta suci menyediakan sejumlah mereka untuk maksud itu, - atau dengan
senang hati menerima mereka, dan secara tepat-guna ikut mengembangkan
usaha-usaha mereka.
Supaya
di antara saudara-saudara setanah air semangat misioner itu mulai mekar, sudah
sepantasnyalah bahwa Gereja-Gereja muda selekas mungkin ikut serta secara nyata
dalam perutusan Gereja semesta, dengan mengutus misionaris-misionaris mereka
sendiri untuk mewartakan Injil di mana-mana, meskipun mereka sendiri masih
kekurangan imam. Sebab persekutuan dengan Gereja semesta dengan cara tertentu
akan terlaksana, bila Gereja-Gereja muda itu pun secara aktif ikut menjalankan
kegiatan misioner di tengah bangsa-bangsa lain.
- (Pengembangan
kerasulan awam)
Gereja tidak sungguh-sungguh didirikan, tidak hidup
sepenuhnya, dan bukan tanda Kristus yang sempurna di tengah masyarakat, selama
bersama Hirarki tidak ada dan tidak berkarya kaum awam yang sejati. Sebab Injil
tidak dapat meresapi sifat-perangai, kehidupan dan jerih-payah suatu bangsa
secara mendalam tanpa kehadiran aktif kaum awam. Oleh karena itu sejak suatu
Gereja didirikan perhatian amat besar harus diberikan kepada pembentukan kaum
awam kristiani yang dewasa.
Sebab
Umat beriman awam sepenuhnya termasuk Umat Allah pun sekaligus masyarakat.
Mereka termasuk bangsa yang menjadi pangkuan kelahiran mereka. Melalui
pendidikan mereka mulai ikut menikmati kekayaan kebudayaannya. Mereka terikat
pada kehidupannya melalui aneka ikatan sosial. Atas usaha sendiri mereka ikut
menyumbang bagi kemajuannya melalui kejuruan mereka. Masalah-masalahnya mereka
rasakan sebagai persoalan mereka sendiri, dan mereka berusaha memecahkannya.
Tetapi mereka juga menjadi milik Kristus, karena dilahirkan kembali dalam
Gereja melalui iman dan Baptis, supaya berkat barunya hidup dan karya mereka,
mereka menjadi milik Kristus (lih. 1Kor 15:23), supaya dalam Kristus
segala-sesuatu tunduk kepada Allah, dan akhirnya Allah menjadi semuanya dalam
segalanya (lih. 1Kor 15:28).
Tugas
utama para awam baik pria maupun wanita yakni: memberi kesaksian akan Kristus.
Mereka wajib bersaksi dengan kehidupan dan kata-kata dalam keluarga, dikalangan
sosial mereka, dilingkungan profesi mereka. Sebab pada diri mereka harus nampak
manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan
kekudusan yang sejati (lih. Ef 4:24). Adapun sifat baru kehidupan itu wajib
mereka ungkapkan di lingkup masyrakat dan kebudayaan pribumi, menurut
adat-kebiasaan bangsa mereka. Mereka harus mengenal kebudayaan itu, menyehatkan
serta melestarikannya, mengembangkannya sesuai dengan kondisi-kondisi mutakhir,
dan akhirnya menyempurnakannya dalam Kristus, supaya iman akan Kristus dan
kehidupan Gereja jangan asing lagi bagi masyarakat di sekitar, melainkan mulai
meresapi dan mengubahnya. Hendaknya mereka bersatu dengan sesama anggota
masyarakat dalam cinta kasih yang tulus, supaya dalam pergaulan mereka
nampaklah ikatan baru kesatuan dan solidaritas semesta, yang bersumber pada
misteri Kristus. Hendaklah mereka juga menyiarkan iman akan Kristus diantara
sesama, yang sekehidupan dan seprofesi dengan mereka. Kewajiban itu semakin
mendesak, karena kebanyakan orang hanya dapat mendengarkan Injil dan mengenal
Kristus melalui para awam tetangga mereka. Bahkan bila mungkin hendaknya para
awam bersedia bekerja sama lebih langsung dengan Hirarki, melaksanakan
perutusan istimewa untuk mewartakan Injil serta menyalurkan ajaran kristiani,
supaya Gereja yang baru lahir dikukuhkan.
Adapun
para pelayan Gereja hendaknya sungguh menghargai kerasulan para awam yang cukup
berat. Hendaklah mereka membina para awam, supaya mereka selaku anggota-anggota
Kristus menyadari tanggung jawab mereka
atas semua orang. Hendaknya kaum awam menyampaikan rahasia Kristus secara mendalam
kepada mereka, dan memperkenalkan metode-metode praktis kepada mereka, serta
mendampingi mereka bila muncul kesulitan-kesulitan, sehaluan dengan Konstitusi
“Lumen Gentium” dan Dekrit tentang “ Kegiatan Merasul”.
Maka
dengan mempertahankan tugas-tugas maupun tanggung jawab khusus para gembala dan
kaum awam, hendaklah Gereja muda secara menyeluruh serentak memberi kesaksian
yang hidup dan teguh tentang Kristus, supaya menjadi lambang cemerlang
keselamatan, yang telah sampai kepada kita dalam kristus.
- (Kemacam-ragaman
dalam kesatuan)
Benih, yakni sabda Allah, yang tumbuh dari
tanah yang subur berkat percikan embun ilahi, menyerap zat-zat cair, mengubah
serta menghisapnya, sehingga akhirnya berbuah banyak. Memang menurut tata
penjelmaan (Sabda), Gereja-Gereja muda, yang berakar dalam Kristus dan dibangun
atas landasan para Rasul, menampung untuk suatu pertukaran yang mengagumkan
semua kekayaan para bangsa, yang telah diserahkan kepada Kristus menjadi warisan-Nya (lih. Mzm 2:8). Gereja-Gereja
itu meminjam dari adat-istiadat dan tradisi-tradisi para bangsanya, dari
kebijaksanaan dan ajaran mereka, dari kesenian dan ilmu-pengetahuan mereka,
segala sesuatu, yang dapat merupakan sumbangan untuk mengakui kemuliaan Sang
Pencipta, untuk memperjelas rahmat Sang Penebus, dan untuk mengatur hidup
kristiani dengan saksama[].
Untuk
mencapai maksud itu perlulah, bahwa disetiap kawasan sosio-budaya yang luas,
seperti dikatakan, didoronglah refleksi teologis, untuk – dalam terang Tradisi
Gereja semesta – meneliti secara baru peristiwa-peristiwa maupun amanat sabda
yang telah diwahyukan oleh Allah, dicantumkan dalam Kitab suci, dan diuraikan
oleh para Bapa serta Wewenang Mengajar Gereja. Demikianlah akan dimengerti
lebih jelas, bagaimana iman – dengan mengindahkan filsafah serta kebijaksanaan
para bangsa – dapat mencari pengertian, dan bagaimana adat kebiasaan, cita rasa
kehidupan dan tertib sosial dapat diserasikan dengan tata-susila yang kita
terima berkat perwahyuan ilahi. Begitulah akan terbuka jalan menuju penyesuaian
lebih mendalam diseluruh lingkup hidup kristiani. Dengan cara bertindak
demikian segala kesan sinkritisme (pencampuradukan) dan partikularisme yang
keliru akan dielakkan, hidup kristiani akan makin sesuai dengan watak perangai
serta sifat-sifat setiap kebudayaan[],
dan tradisi-tradisi khusus beserta
bakat-bawaan setiap keluarga bangsa-bangsa, berkat cahaya Injil, akan
ditampung dalam kesatuan katolik. Akhirnya Gereja-Gereja khusus baru,
disemarakkan dengan tradisi-tradisi mereka, akan mendapat tempat mereka dalam
persekutuan gerejawi, sementara tetap utuhlah tempat utama Takhta Petrus, yang
mengetahui segenap paguyuban cinta kasih[].
Maka
diharapkan, bahkan memang sepantasnyalah Konferensi-Konferensi Uskup dalam
batas-batas kawasan sosio-budaya mereka masing-masing berhimpun sedemikian
rupa, sehingga sehati sejiwa dan melalui pertukaran pandangan-pandangan mampu
mengusahakan terwujudnya rencana penyesuaian itu.
BAB
EMPAT
PARA MISIONARIS
- (Panggilan
misioner)
Meskipun setiap murid Kristus mengemban
beban untuk menyiarkan iman sekadar kemampuannya[],
Kristus Tuhan dari antara
murid-murid-Nya selalu memanggil mereka yang dikehendaki-Nya, untuk tinggal
bersama dengan-Nya, dan untuk diutus mewartakan Injil kepada para bangsa (lih.
Mrk 3:13 dsl.). Maka melalui Roh Kudus, yang membagikan kurnia-kurnia seperti yang dikehendaki-Nya demi manfaatnya
bagi jemaat (1Kor 12:11), Tuhan menumbuhkan panggilan misioner dihati
masing-masing, sekaligus juga membangkitkan Lembaga-Lembaga[]
dalam Gereja, yang menerima tugas mewartakan Injil, yang menjadi tanggung jawab
seluruh Gereja, sebagai tugas mereka sendiri.
Sebab
panggilan istimewa menandai mereka, yang sifat perangai alamiahnya memang
cocok, dan cakap berkat kurnia-kurnia serta bakat pembawaan mereka, lagi pula
siap sedia untuk mengemban karya misioner[],
entah mereka itu pribumi entah dari luar negeri: imam-imam, kaum religius,
awam. Mereka diutus oleh Wewenang yang sah, dan karena iman serta ketaatan
mengunjungi orang-orang yang jauh dari Kristus. Mereka dikhususkan untuk
melaksanakan karya yang telah ditetapkan bagi mereka (lih. Kis 13:2) sebagai
pelayan Injil, “supaya para bangsa bukan-Yahudi dapat diterima oleh Allah
sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, dan disucikan dalam Roh Kudus”
(Rom 15:16).
- (Spiritualitas
misioner)
Tetapi manusia harus menanggapi Allah sejati yang
memanggil sedemikian rupa, sehingga tanpa meminta pertimbangan daging maupun
darah (lih. Gal 1:16) ia mengikat diri sepenuhnya pada karya Injil. Jawaban itu
tidak dapat diberikan tanpa dorongan dan peneguhan oleh Roh Kudus. Sebab orang
yang diutus memasuki kehidupan dan perutusan Dia, yang “mengosongkan diri dan
mengenakan rupa seorang hamba” (Flp 2:7). Oleh karena itu ia harus bersedia
untuk seumur hidup bertahan dalam panggilannya, merelakan dirinya dan segala
sesuatu yang sampai kini dimilikinya, dan “menjadikan diri segala-galanya bagi
semua orang” (1Kor 9:22).
Sementara
mewartakan Injil kepada para bangsa, hendaklah ia dengan percaya memperkenalkan
rahasia Kristus yang dilayaninya sebagai utusan, sehingga dalam Dia ia berani
berbicara sebagaimana harusnya (lih. Ef 6:19 dsl; Kis 4:31), tanpa merasa malu
karena salib yang menjadi batu sandungan. Mengikuti jejak Gurunya, yang lemah
lembut dan rendah hati, hendaknya ia memperlihatkan bahwa kuk-Nya enak dan
beban-Nya ringan (Mat 11:29 dsl.). Dengan hidupnya yang sungguh bersifat Injili[],
dalam bertahan dengan penuh kesadaran dalam penderitaan, dalam kelapangan jiwa
dan kemurahan hati, dalam kasih yang tidak munafik (lih. 2Kor 6:4 dsl.),
hendaklah ia memberi kesaksian akan
Tuhannya, bila perlu hingga menumpahkan darahnya. Ia akan memperoleh keberanian
dan kekuatan dari Allah, dan untuk mengalami bahwa dalam pencobaan duka derita
yang berat serta kemelaratan yang amat mencekam terdapat kelimpahan
kegembiaraan (lih. 2Kor 8:2). Hendaklah ia menginsyafi, bahwa ketaatan
merupakan keutamaan istimewa pelayan Kristus, yang dengan ketaan-Nya telah
menebus umat manusia.
Supaya
para pewarta Injil jangan mengabaikan rahmat yang ada pada mereka, hendaknya
dari hari ke hari mereka dibaharui dalam roh dan budi (lih. 1Tim 4:14; Ef 4:23;
2Kor 4:16). Adapun para Uskup dan Pembesar hendaklah pada saat-saat yang telah
ditetapkan mengumpulkan para misionaris, supaya mereka diteguhkan dalam harapan
panggilan mereka serta diperbaharui dalam pelayanan kerasulan. Untuk maksud itu
dapat diatur pula rumah-rumah yang cocok.
- (Pembinaan
rohani dan moral)
Untuk menangani karya seluhur itu calon
misionaris perlu disiapkan dengan pembinaan rohani dan moral yang khusus[].
Sebab ia harus siap sedia untuk mengadakan prakarsa-prakarsa, dengan tekun
menjalankan karya-kegiatannya, dengan tabah menghadapi kesukaran-kesukaran. Ia
diharapkan dengan sabar dengan teguh menanggung kesunyian, rasa lelah, dan
jerih-payah yang tak berhasil. Ia akan menjumpai sesama dengan budi yang
terbuka dan hati yang lapang. Ia akan menerima dengan senang hati tugas-tugas
yang diserahkan kepadanya. Dengan murah hati juga ia akan menyesuaikan diri
dengan adat-kebiasaan para bangsa yang serba asing dan dengan situasi yang
berbeda-beda. Dengan bersehati dan dalam suasana saling mengasihi ia akan
menyumbangkan usahanya kepada rekan-rekan dan siapa saja yang berbakti dalam
karya yang sama, sehingga sementara menganut teladan jemaat pada zaman para Rasul,
ia sehati dan sejiwa dengan Umat beriman (lih. Kis 2:42; 4:32).
Sikap-sikap
batin itu hendaknya pada masa pembinaan sudah mulai diamalkan dan dikembangkan
dengan tekun, dan diangkat serta dipupuk dalam hidup rohani. Hendaklah
misionaris, diresapi oleh iman yang hidup dan harapan yang takkan memudar,
menjadi manusia doa. Hendaknya ia bernyala karena semangat yang tangguh dan
cinta kasih serta sifat ugaharinya (lih. 2Tim 1:7). Hendaklah ia belajar
mencukupi diri di segala keadaan (lih.
Flp 4:11). Hendaknya dengan semangat berkorban
ia mengemban kematian Yesus dalam dirinya, supaya kehidupan Yesus
berkarya pada mereka yang dilayaninya dalam perutusannya (lih. 2Kor 4:10 dsl.).
Karena semangat berjerih payah demi keselamatan sesama hendaknya ia sukarela mengorbankan
segalanya, bahkan mengorbankan diri sendiri demi jiwa-jiwa (lih. 2Kor 12:15
dsl.). Sehingga “dengan menunaikan tugas harian mereka, mereka berkembang dalam
cinta kasih akan Allah dan sesama”[].
Demikianlah, dalam kepatuhan terhadap kehendak Bapa bersama Kristus, ia akan
melangsungkan perutusan-Nya dibawah kewibawaan Hirarki Gereja, dan
menyumbangkan tenaganya kepada rahasia keselamatan.
- (Pembinaan
dalam ajaran kerasulan)
Adapun mereka yang akan diutus ke pelbagai bangsa,
hendaknya sebagai pelayan-pelayan Kristus yang baik menimba kekuatan dari
“sabda-sabda iman dan ajaran yang sehat” (1Tim 4:6), yang terutama mereka gali
dari Kitab suci, sambil menyelami Rahasia Kristus, yang akan mereka bawakan
dalam pewartaan dan kesaksian mereka.
Oleh
karena itu semua misionaris – imam, bruder, suster, awam – perlu disiapkan dan
dibina menurut keadaan masing-masing, supaya mereka jangan ternyata tidak
sanggup menghadapi tuntutan-tuntutan karya di kemudian hari[].
Hendaknya sudah sejak semula pembinaan mereka dalam ajaran diselenggarakan
sedemikian rupa, sehingga merangkum baik sifat universal Gereja maupun
kemacam-ragaman para bangsa. Itu berlaku bagi semua mata-pelajaran, yang
menyiapkan mereka untuk menunaikan pelayanan mereka, maupun bagi ilmu pengetahuan
lainnya, yang berguna untuk mereka pelajari, supaya mereka dibekali pengetahuan
umum tentang bangsa-bangsa, kebudayaan-kebudayaan, dan agama-agama; itu pun
bukan saja menyangkut masa silam, melainkan juga masa sekarang. Memang barang
siapa mau mengunjungi bangsa lain,
hendaknya sungguh menghargai pusaka warisannya, bahasa-bahasa serta
adat-istiadatnya. Bagi calon misionaris sangat perlulah menekuni studi
Misiologi; artinya memahami ajaran
maupun kaidah-kaidah Gereja mengenai kegiatan misioner, mengetahui
jalan-jalan manakah yang disepanjang masa telah ditempuh oleh para pewarta
Injil, begitu pula situasi misi-misi zaman sekarang, pun juga metode-metode,
yang sekarang dipandang lebih tepat-guna[].
Tetapi
meskipun pembinaan itu seluruhnya perlu dijiwai keprihatinan pastoral,
hendaklah diselenggarakan pembinaan kerasulan yang khusus dan teratur, melalui
kursus-kursus maupun latihan-latihan praktis[].
Hendaknya
sebanyak mungkin bruder dan suster sungguh-sungguh mempelajari seni
berkatekese, dan disiapkan supaya mereka mampu bekerja sama lebih erat lagi dalam kerasulan.
Juga
mereka, yang hanya untuk sementara berperan dalam kegiatan misioner, perlulah
mendapat pembinaan yang memadai bagi situasi mereka.
Tetapi
berbagai macam pembinaan itu hendaklah di daerah-daerah perutusan mereka
dilengkapi sedemikian rupa, sehingga para misionaris mendapat pengertian lebih
luas tentang sejarah, tata-susunan masyarakat serta adat istiadat para bangsa,
dan memahami tata-kesusilaan serta perintah-perintah keagamaan maupun
gagasan-gagasan mendalam, yang telah mereka bentuk menurut tradisi-tradisi suci
mereka tentang Allah, tentang dunia dan tentang manusia[].
Hendaknya mereka mempelajari bahasa-bahasa sedemikian baik, sehingga mampu
menggunakannya dengan lancar dan halus, dan dengan demikian lebih mudah menyapa
budi maupun hati orang-orang[].
Selain itu hendaklah mereka diperkenalkan dengan kebutuhan-kebutuhan pastoral
yang khusus sebagaimana mestinya.
Hendaknya
ada beberapa pula yang secara lebih mendalam di siapkan pada Lembaga-Lembaga
Misiologi atau di fakultas-fakultas atau universitas-universitas lain, supaya
lebih tepat guna menunaikan tugas-tugas yang khusus[],
dan dengan kemahiran mereka mampu yang terutama pada zaman kita sekarang
menimbulkan sekian banyak kesulitan dan membuka kesempatan-kesempatan baru.
Kecuali itu sangat diharapkan, agar bagi Konferensi-Konferensi Regional para
Uskup tersedialah sejumlah pakar-pakar semacam itu. Hendaklah konferensi secara
efektif memanfaatkan ilmu-pengetahuan serta pengalaman mereka untuk menanggapi
kebutuhan-kebutuhan tugas mereka. Hendaklah ada pula, yang betul-betul mampu
menggunakan upaya-upaya tehnis serta komunikasi sosial, yang hendaknya sangat
dihargai perlunya oleh semua.
- (Lembaga-Lembaga
yang berkarya di daerah-daerah misi)
Meskipun bagi setiap orang yang diutus kepada
bangsa-bangsa itu semua sungguh perlu, menurut kenyataannya hampir tidak
tercapai oleh orang perorangan. Lagi pula, karena menurut pengalaman karya
misioner sendiri tidak dapat dilaksanakan
oleh pribadi masing-masing, maka panggilan bersama menghimpun mereka
semua ke dalam Lembaga-Lembaga, supaya di situ, berkat kerja sama, mereka
menerima pembinaan yang memadai, dan melaksanakan karya itu atas nama Gereja
dan atas isyarat Hirarki yang berwibawa. Lembaga-Lembaga itu sudah berabad-abad
lamanya menanggung beban sehari-harian dan panas terik, entah mereka itu
membaktikan diri sepenuhnya kepada karya misioner, entah hanya sebagian saja.
Sering kali oleh Takhta suci mereka diserahi pewartaan Injil di daerah-daerah
yang luas. Disitulah mereka menghimpun Umat yang baru bagi Allah, yakni Gereja
setempat yang mematuhi para gembalanya sendiri. Gereja-Gereja yang telah
didirikan berkat cucuran keringat, bahkan dengan tumpahan darah akan mereka
layani dengan semangat maupun pengalaman, dengan kerja sama persaudaraan, entah
dengan menjalankan reksa jiwa-jiwa, ataupun dengan menunaikan tugas-tugas khusus
demi kesejahteraan umum.
Ada
kalanya untuk seluruh lingkup daerah tertentu mereka sanggup menanggung jerih
payah karya yang lebih mendesak; misalnya: pewartaan Injil kepada
golongan-golongan atau bangsa-bangsa, yang barangkali karena sebab-sebab yang
istimewa belum menerima pewartaan Injil atau sampai sekarang menolaknya[].
Bila
perlu, mereka yang sementara membaktikan diri kepada kegiatan misioner,
hendaknya siap sedia untuk memberi pembinaan dan bantuan berdasarkan pengalaman
mereka.
Oleh
karena itu, pun juga mengingat masih banyaknya bangsa-bangsa yang perlu
dihantar menuju Kristus, Lembaga-Lembaga tetap masih sangat perlu.
BAB
LIMA
PENGATURAN KEGIATAN MISIONER
28.
(Pendahuluan)
Karena Umat beriman kristiani mempunyai
kurnia-kurnia yang berbeda-beda (lih. Rom 12:6), mereka wajib menyumbangkan
tenaga bagi Injil, masing-masing menurut kesempatannya, upaya yang tersedia,
karisma dan pelayanannya (lih. 1Kor 3:10). Maka mereka semua harus bersatu
(lih. 1Kor 3:8), yang menabur dan yang menuai (lih. Yoh 4:37), yang menanam dan
yang mengairi, supaya, “sambil dengan bebas dan teratur bekerja sama untuk
mencapai tujuan yang sama”[],
mereka sejiwa sehati mencurahkan tenaga demi pembangunan Gereja.
Maka
dari itu jerih payah para pewarta Injil dan bantuan Umat kristiani lainnya
hendaklah diarahkan dan dipadukan sedemikian rupa, sehingga di segala bidang
kegiatan dan kerja sama misioner “segala sesuatu berlangsung secara teratur”
(1Kor 14:40).
- (Organisasi
umum)
Karena keprihatinan untuk mewartakan Injil
di mana-mana terutama termasuk tugas Dewan para Uskup[],
maka hendaknya Sinode para Uskup atau “Musyawarah tetap para Uskup untuk Gereja
semesta”[],
diantara urusan-urusan demi kepentingan umum[],
secara istimewa memperhatikan kegiatan misioner, tugas Gereja yang paling agung
dan suci[].
Untuk
semua (daerah) Misi dan untuk seluruh kegiatan misioner hanya boleh ada satu
Kongregasi yang berwewenang, yakni Kongregasi
untuk “Penyebaran Iman”, yang memimpin dan menyelaraskan di mana-mana
baik karya misioner sendiri maupun kerja sama misioner, sedangkan Gereja-Gereja
Timur tetap menganut hukum mereka[].
Dengan
pelbagai cara Roh Kudus membangkitkan semangat misioner dalam Gereja Allah, dan
tidak jarang mendahului tindakan mereka
yang wajib membimbing kehidupan Gereja. Namun dari pihaknya hendaklah
Kongregasi untuk “Penyebaran Iman” mengembangkan panggilan serta spiritualitas
(corak hidup rohani) misioner, memajukan semangat merasul dan doa untuk Misi,
dan mengenai itu semua menerbitkan berita-berita yang asli dan memadai.
Hendaknya oleh Kongregasi itu
disediakan misionaris-misionaris dan di bagi-bagikan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan
daerah-daerah yang lebih mendesak. Oleh Kongregasi itulah hendaknya disusun
rencana kerja yang teratur, ditetapkan kaidah-kaidah sebagai pedoman serta
azas-azas yang sesuai untuk mewartakan Injil, dan dilancarkan
dorongan-dorongan. Olehnya hendaknya disemangati dan dikoordinasikan
pengumpulan bantuan-bantuan yang tepat guna, yang dibagikan dengan
mempertimbangkan kebutuhan atau kegunaannya maupun luas daerah-daerah, jumlah
kaum beriman dan tak beriman, karya-karya dan lembaga-lembaga, para pelayan dan
misionaris.
Hendaknya
Kongregasi untuk “Penyebaran Iman” bersama Sekretariat untuk “Pengembangan
Persatuan Umat Kristiani” mencari jalan serta upaya-upaya untuk mengusahakan
dan mengatur kerja sama serta paguyuban persaudaraan dengan usaha-usaha
misioner jemaat-jemaat kristiani lainnya, supaya sedapat mungkin dihilangkan
sandungan akibat perpecahan.
Maka
dari itu perlulah bahwa Kongregasi itu menjadi sarana administratif maupun
badan pengarah yang dinamis, yang menggunakan metode-metode ilmiah dan
upaya-upaya yang sesuai dengan keadaan dewasa ini, yakni dengan mengindahkan
penyelidikan teologis, metodologis dan pastoral misioner zaman sekarang.
Dalam
kepengurusan Kongregasi itu hendaknya para wakil terpilih dari mereka semua
yang bekerja sama dalam karya misioner ikut serta secara aktif dan mempunyai
hak suara yang ikut menentukan : Uskup-Uskup dari seluruh dunia, atas
pertimbangan Konferensi-Konferensi Uskup, begitu pula para pemimpin
Lembaga-Lembaga serta Karya-Karya Kepausan, menurut cara-cara serta
pedoman-pedoman yang perlu ditetapkan oleh Paus. Hendaknya mereka semua pada
waktu-waktu tertentu bersidang, dan sebagai instansi tertinggi di bawah
kewibawaan Paus mengatur seluruh karya misioner.
Hendaknya
Kongregasi itu didampingi oleh Dewan Penasehat tetap, terdiri dari pakar-pakar
yang sudah teruji ilmu-pengetahuan maupun pengalamannya. Antara lain mereka
akan bertugas mengumpulkan informasi-informasi yang berguna tentang situasi
setempat, pelbagai golongan manusia, maupun tentang metode-metode pewartaan
Injil yang harus digunakan, begitu pula mengajukan kesimpulan-kesimpulan yang dipertanggungjawabkan secara ilmiah bagi karya dan kerja sama
misioner.
Hendaklah
Tarekat-tarekat para Suster, karya-karya regional untuk Misi dan oraganisasi-organisasi
awam, terutama yang bersifat internasional, diwakili sebagaimana layaknya.
- (Oraganisasi
setempat di daerah Misi)
Supaya dalam pelaksanaan karya misioner sendiri
tujuan-tujuan serta hasil-hasil dapat dicapai, hendaknya semua tenaga misioner
“sehati dan sejiwa” (Kis 4:32).
Uskup
selaku pemimpin dan pusat kesatuan dalam kerasulan keuskupan, bertugas
memajukan, memimpin dan mengkoordinasi kegiatan misioner, tetapi sedemikian
rupa, sehingga kegiatan spontan mereka
yang ikut berkarya tetap dipertahankan dan di dukung. Semua misionaris,
juga para religius yang eksem, wajib mematuhi kuasa yang sama di pelbagai
karya, yang menyangkut pelaksanaan kerasulan suci[].
Supaya koordinasi lebih baik, hendaklah Uskup sedapat mungkin mendirikan Dewan
pastoral. Dalam Dewan itu hendaknya para imam, religius dan awam berperan serta
melalui wakil-wakil yang terpilih. Kecuali itu hendaknya Uskup mengusahakan,
janganlah kegiatan merasul terbatas pada mereka yang termasuk anggota Gereja
melulu, melainkan hendaknya sebagaimana layaknya sebagian para tenaga dan
bantuan-bantuan diperuntukkan bagi pewartaan Injil di antara umat
bukan-kristiani.
- (Koordinasi
pada tingkat Regio)
Hendaknya Konferensi-Konferensi Uskup dalam
musyawarah bersama mebahasa soal-soal yang cukup berat dan masalah-masalah yang
mendesak, tetapi tanpa mengabaikan perbedaan-perbedaan setempat[].
Supaya jumlah tenaga maupun bantuan-bantuan yang sudah tidak mencukupi jangan
dihamburkan, dan prakarsa-prakarsa jangan diperbanyak tanpa perlu, di anjurkan
agar karya-karya yang mengabdi kesejahteraan semuanya diselenggarakan dengan berpadu tenaga, misalnya:
seminari-seminari, sekolah-sekolah tinggi dan sekolah-sekolah teknik,
pusat-pusat pastoral, katekese, liturgi serta media komunikasi sosial.
Bila
ada kesempatan, hendaknya kerja sama semacam itu diadakan juga antara berbagai
Konferensi Uskup.
- (Organisasi
kegiatan Lembaga-Lembaga)
Berguna pula mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang
diselenggarakan oleh lembaga-Lembaga atau Serikat-Serikat Gerejawi. Itu semua,
entah macam apa, dalam segalanya yang menyangkut kegiatan misioner sendiri,
hendaknya mematuhi Ordinarius setempat. Maka akan banyak berguna mengadakan
perjanjian-perjanjian khusus untuk mengatur hubungan-hubungan antara Ordinaris
setempat dan Pemimpin Lembaga.
Bila
Lembaga tertentu diserahi suatu daerah, Pemimpin Gerejawi maupun Lembaga itu
akan memperhatikan untuk mengarahkan segalanya kepada tujuan ini: supaya jemaat
kristiani yang baru bertumbuh menjadi Gereja setempat, yang pada waktunya akan
dibimbing oleh Gembalanya sendiri beserta para imamnya.
Bila
penyerahan daerah itu berakhir, muncullah situasi baru. Pada waktu itu
hendaknya Konferensi-Konferensi Uskup dan Lembaga-Lembaga melalui musyawarah
bersama menetapkan kaidah-kaidah, untuk mengatur hubungan-hubungan antar para
Ordinaris setempat dan Lembaga-Lembaga[].
Tetapi Takhta sucilah yang akan berwenang menggariskan azas-azas umum, untuk
menentukan cara-cara mengadakan perjanjian-perjanjian regional atau pun yang
bersifat khusus.
Meskipun
Lembaga-Lembaga akan siap sedia melanjutkan karya yang telah dimulai, dengan
menyumbangkan tenaga dalam pelayanan biasa berupa reksa jiwa-jiwa, namun dengan
bertambahnya klerus setempat, akan perlu diusahakan agar Lembaga-Lembaga,
sejauh cocok dengan tujuannya, tetap setia kepada keuskupan yang bersangkutan,
dengan bermurah hati menangani karya-karya istimewa atau melayani suatu daerah
di keuskupan itu.
- (Koordinasi
antara Lembaga-Lembaga)
Adapun Lembaga-Lembaga, yang menjalankan kegiatan
misioner di daerah yang sama, harus menemukan cara-cara mengkoordinasi
karya-karya mereka. Maka sangat besarlah manfaat Konferensi-Konferensi para
Religius pria dan Perserikatan-Perserikatan para Suster, yang beranggotakan
semua Lembaga di negeri atau kawasan yang sama. Konferensi-Konferensi itu
hendaknya menyelidiki, manakah usaha-usaha yang dapat dijalankan bersama, dan
menjalin hubungan yang erat dengan Konferensi-Konferensi Uskup.
Adalah
semestinya, bahwa berdasarkan pertimbangan yang sama itu semua dapat diperluas
ke arah kerja sama Lembaga-Lembaga misionaris di tanah-tanah asal mereka,
sehingga masalah-persoalan dan prakarsa-prakarsa bersama dapat diselesaikan
lebih mudah dan dengan biaya yang lebih ringan.; misalnya: pendidikan para
calon misionaris, hubungan-hubungan dengan pemerintah-pemerintah atau dengan
badan-badan internasional maupun supranasional.
- (Koordinasi
antara lembaga-lembaga ilmiah)
Pelaksanaan kegiatan misioner yang tepat dan teratur
menuntut, supaya para pewarta Injil disiapkan secara ilmiah untuk tugas-tugas
mereka, terutama untuk berdialog dengan agama-agama serta kebudayaan-kebudayaan
bukan kristiani, dan supaya mereka dibantu secara tepat guna dalam
pelaksanaannya sendiri. Maka diharapkan, supaya demi kepentingan daerah-daerah
Misi dijalin kerja sama secara persaudaraan dan leluasa antara Lembaga-Lembaga
ilmiah manapun juga. Yang mengembangkan misiologi dan bidang-bidang ilmu lain
atau ketrampilan-ketrampilan yang bermanfaat bagi daerah-daerah Misi, misalnya:
etnologi dan linguistik (ilmu bahasa), sejarah dan ilmu agama-agama, sosiologi,
ketrampilan-ketrampilan pastoral dan sebagainya.
BAB
ENAM
KERJA SAMA
- (Pendahuluan)
Seluruh gereja bersifat misioner , dan karya
mewartakan Injil merupakan tugas Umat Allah yang mendasar. Maka Konsili suci
mengundang semua anggota umat untuk mengadakan pembaharuan batin yang mendalam,
supaya mereka mempunyai kesadaran yang hidup tentang tanggung jawab mereka
dalam penyebaran Injil, dan menjalankan peran mereka dalam karya misioner di
antara bangsa-bangsa.
- (Kewajiban
misioner segenap Umat Allah)
Sebagai anggota Kristus yang hidup, semua orang
beriman, yang melalui Baptis, Penguatan serta Ekaristi disaturagakan dan
diserupakan dengan Dia, terikat kewajiban untuk menyumbangkan tenaga demi
perluasan dan pengembangan Tubuh-Nya, untuk menghantarkan selekas mungkin
kepada kepenuhan-Nya (Ef 4:13).
Maka
hendaknya semua putera Gereja mempunyai kesadaran yang hidup akan tanggung
jawab mereka terhadap dunia, memupuk semangat katolik sejati dalam diri mereka,
dan mencurahkan tenaga mereka demi karya mewartakan Injil. Akan tetapi
hendaknya semua memahami, bahwa kewajiban mereka yang pertama dan utama untuk
menyiarkan iman yakni: menghayati hidup kristiani secara mendalam. Sebab
semangat mereka dalam pengabdian kepada Allah dan cinta kasih mereka terhadap
sesama akan mendatangkan ilham dorongan rohani yang baru bagi seluruh Gereja,
yang akan tampil sebagai tanda yang menjulang di antara bangsa-bangsa (lih. Yes
11:12), “terang dunia” (Mat 5:14) dan “garam dunia” (Mat 5:13). Kesaksian
perihidup itu akan lebih mudah berhasil, bila dibawakan bersama dengan
kelompok-kelompok kristiani lainnya, menurut kaidah-kaidah Dekrit tentang
Ekumenisme[].
Dalam
semangat yang dibaharui itu doa-doa dan ulah pertobatan akan dengan sukarela
dipersembahkan kepada allah, supaya Ia menyuburkan karya para misionaris dengan
rahmat-Nya; panggilan-panggilan misioner akan tumbuh, dan bantuan-bantuan yang
diperlukan di daerah-daerah Misi akan mengalir.
Tetapi
supaya semua dan masing-masing orang beriman kristiani sungguh mengenal situasi
Gereja di dunia sekarang, dan mendengarkan suara rakyat banyak yang berseru:
“Tolonglah kami” (lih. Kis 16:9), hendaknya juga dengan menggunakan
sarana-sarana komunikasi sosial yang modern disajikan berita-berita tentang
Misi sedemikian rupa, sehingga mereka menyadari bahwa kegiatan misioner itu
kegiatan mereka, membuka hati bagi kebutuhan-kebutuhan sesama yang begitu besar
dan mendalam, dan mampu membantu mereka.
Perlulah
juga koordinasi pemberitaan dan kerja sama dengan badan-badan nasional dan
internasional.
37. (Kewajiban
misioner jemaat-jemaat kristiani)
Adapun Umat Allah hidup dalam jemaat-jemaat,
terutama dalam keuskupan-keuskupan dan paroki-paroki, serta dengan cara
tertentu kelihatan disitu. Maka jemaat-jemaat itu pun wajib memberi kesaksian
akan Kristus di hadapan para bangsa.
Di
jemaat-jemaat rahmat pembaharuan tidak dapat berkembang, bila jemaat
masing-masing tidak memperluas tidak memperluas gelanggang cinta kasihnya
sampai ke ujung-ujung bumi, dan menyatakan perhatian yang sama terhadap mereka
yang jauh dan mereka yang termasuk anggotanya sendiri.
Begitulah
seluruh jemaat berdoa, menyumbangkan tenaga dan melaksanakan kegiatan di antara
bangsa-bangsa melalui para puteranya, yang dipilih oleh Allah untuk tugas yang
amat luhur itu.
Asal saja
karya misioner di seluruh dunia tidak diabaikan, akan sangat berguna
melestarikan hubungan dengan para misionaris yang berasal dari jemaat sendiri,
atau dengan suatu paroki atau keuskupan di daerah Misi, supaya persekutuan
antar jemaat menjadi nyata, dan dengan demikian jemaat-jemaat saling membangun.
38. (Kewajiban
misioner para Uskup)
Semua Uskup, sebagai anggota badan para Uskup yang
menggantikan Dewan para Rasul, ditahbiskan bukan hanya bagi satu keuskupan,
melainkan demi keselamatan seluruh dunia. Perintah Kristus untuk mewartakan
Injil kepada segenap makluk (Mrk 16:15) pertama-tama dan secara langsung
menyangkut mereka, bersama Petrus dan di bawah Petrus. Dari situlah muncul
persekutuan dan kerja sama antar Gereja, yang sekarang ini begitu perlu untuk
melaksanakan karya mewartakan Injil. Berdasarkan persekutuan itu masing-masing
Gereja mengemban keprihatinan akan semua Gereja-Gereja lain. Mereka saling
menyatakan kebutuhan-kebutuhan mereka, dan saling memberitahukan hal-ikhwal mereka,
sebab perluasan Tubuh Kristus merupakan tugas seluruh Dewan para Uskup[].
Dalam
keuskupannya, yang menyatu dengannya, Uskup membangkitkan, memajukan dan
membimbing karya misioner. Demikianlah Ia menghadirkan dan bagaikan menampilkan
semangat misioner Umat Allah yang berkobar-kobar, sehingga seluruh keuskupan
menjadi misioner.
Adalah
tugas Uskup membangkitkan di tengah Umatnya, terutama diantara mereka yang
lemah dan tertimpa kemalangan, jiwa-jiwa yang mempersembahkan doa-doa dan amal
pertobatan kepada Allah dengan hati yang terbuka bagi pewartaan Injil di dunia.
Uskuplah yang semestinya dengan suka hati mengembangkan panggilan-panggilan
kaum muda dan klerus untuk Lembaga-Lembaga misioner, dan menerimanya dengan rasa
syukur, bila Allah memilih beberapa di antara mereka, untuk menggabungkan diri
pada kegiatan misioner Gereja. Uskuplah yang hendaknya mendorong
Kongregasi-Kongregasi diosesan dan membantu mereka, untuk ikut memainkan
perannya di daerah-daerah Misi. Uskup pula, yang seyogyanya memajukan karya-karya
Lembaga-Lembaga misioner dia antara Umat berimannya, terutama Karya-Karya Misioner Kepausan. Sebab sudah seharusnyalah
Karya-Karya itu di beri tempat utama,
karena merupakan upaya-upaya, baik untuk menanam pada Umat katolik sejak masih kecil semangat yang
sungguh universal dan misioner, maupun untuk menggairahkan pengumpulan
bantuan-bantuan yang tepat-guna demi kesejahteraan semua Misi menurut kebutuhan
masing-masing[].
Akan
tetapi karena semakin besarlah kebutuhan akan pekerja di kebun anggur Tuhan,
dan para imam diosesan pun ingin berperan serta semakin intensif dalam
evangelisasi dunia, Konsili suci menghimbau supaya para Uskup mempertimbangkan
kekurangan yang amat parah akan imam-imam, yang merintangi pewartaan Injil di
banyak daerah. Mereka dihimbau supaya mengutus kepada keuskupan-keuskupan, yang
miskin imam beberapa imam mereka yang tergolong lebih baik, dan telah
menawarkan diri untuk karya misioner, sudah mempersiapkan diri sebagaimana
mestinya. Di keuskupan-keuskupan itu sekurang-kurangnya untuk sementara para
imam itu akan melaksanakan pelayanan misioner dengan semangat pengabdian[].
Supaya
kegiatan misioner para Uskup dapat dilaksanakan secara lebih tepat-guna demi
kesejahteraan seluruh Gereja, seyogyanya Konferensi-Konferensi Uskup memimpin
urusan-urusan, yang menyangkut teraturnya kerja sama dikawasannya.
Hendaknya
dalam Konferensi-Konferensi mereka para Uskup berunding tentang imam diosesan
yang seyogyanya diperuntukkan bagi evangelisasi para bangsa; tentang iuran
tertentu, yang setiap keuskupan setiap tahun wajib menyumbang untuk karya Misi
serasi dengan pendapatannya[];
tentang tugas memimpin dan mengatur cara-cara serta upaya-upaya untuk secara
langsung membantu dan – bila perlu – mendirikan Lembaga-Lembaga misoner dan
seminari-seminari klerus diosesan untuk daerah-daerah Misi; tentang cara
mempererat hubungan-hubungan antara Lembaga-Lembaga itu dan
keuskupan-keuskupan. Begitu pula termasuk tugas Konferensi-Konferensi Uskup
untuk menyelenggarakan dan mamajukan karya-karya, yang maksudnya supaya mereka
yang karena pekerjaan dan studi berpindah masuk dari daerah-daerah Misi
ditampung secara persaudaraan dan dibantu dengan reksa pastoral yang memadai.
Sebab melalui mereka bangsa-bangsa yang jauh dengan cara tertentu menjadi
dekat, dan jemaat-jemaat kristiani yang sudah tua memperoleh kesempatan amat
baik, untuk berwawancara dengan bangsa-bangsa yang belum menerima pewartaan
Injil, dan menunjukkan kepada mereka wajah Kristus yang sejati melalui
pelayanan cinta kasih dan bantuan yang diberikan[].
39. (Kewajiban
misioner para imam)
Para imam membawakan pribadi Kristus dan menjadi
rekan-rekan sekerja bagi Dewan para Uskup dalam tugas suci rangkap tiga, yang
menurut hakekatnya menyangkut perutusan Gereja[].
Maka dari itu hendaklah mereka menyadari sedalam-dalamnya, bahwa hidup mereka
telah ditakdiskan demi pelayanan Misa juga. Melalui pelayanan mereka sendiri –
yang terutama terletak pada Ekaristi yang membentuk Gereja – mereka berada
dalam persekutuan dengan Kristus
Kepala, dan menghantar sesama kepada persekutuan itu. Maka tidak mungkin mereka
tidak menyadari, masih betapa jauh kepenuhan Tubuh belum tercapai, dan karena
itu betapa banyak masih harus dilakukan, supaya Tubuh itu semakin berkembang.
Oleh sebab itu hendaknya mereka mengatur reksa pastoral sedemikian rupa,
sehingga bermanfaat bagi penyebaran Injil di antara umat bukan kristiani.
Dalam
reksa pastoral para imam akan membangkitkan dan melestarikan semangat untuk
evangelisasi dunia di antara Umat beriman, dengan memperkenalkan kepada mereka
– melalui katekese dan pewartaan – tugas Gereja menyiarkan Kristus kepada
bangsa-bangsa; dengan mengajarkan kepada keluarga-keluarga kristiani, betapa
perlu dan mulianya memupuk panggilan-panggilan misioner pada putera-puteri mereka; dengan mengembangkan
semangat misioner pada kaum muda yang masih bersekolah dan termasuk
perserikatan-perserikatan katolik sedemikian rupa, sehingga dari antara mereka
muncul calon-calon pewarta Injil. Hendaknya para imam mengajak Umat beriman
untuk mendoakan Misi, dan janganlah mereka malu meminta derma dari mereka,
bagaikan pengemis bagi Kristus demi keselamatan jiwa-jiwa[].
Para
diosesan Seminari dan Universitas akan memperkenalkan kepada kaum muda situasi
dunia dan Gereja yang sesungguhnya, supaya perlunya pewartaan Injil yang lebih
intensif kepada umat bukan kristiani menjadi jelas bagi mereka dan menghidupkan
semangat misioner mereka. Dalam menyampaikan vak-vak dogma, Kitab suci, moral
dan sejarah hendaknya mereka jelaskan segi-segi misioner yang tercantum dalamnya
sedemikian rupa, sehingga dengan demikian kesadaran misioner dibina pada para
calon imam.
40. (Kewajiban
misioner tarekat-tarekat religius)
Tarekat-tarekat religius hidup kontemplatif maupun
aktif hingga sekarang telah dan tetap masih memainkan peran amat penting dalam
evangelisasi dunia. Dengan suka hati
Konsili suci mengakui jasa-jasa mereka dan bersyukur kepada Allah atas sekian
banyak pengorbanan yang ditanggung demi kemuliaan Allah dan pengabdian kepada
jiwa-jiwa. Konsili mengajak tarekat-tarekat, supaya tanpa kenal lelah
melanjutkan karya yang telah dimulai, atas kesadaran bahwa keutamaan cinta
kasih, yang berdasarkan panggilan mereka wajib mereka amalkan secara lebih
sempurna, mendorong serta mengikat mereka untuk mewujudkan semangat dan
menangani karya yang sungguh bersifat katolik[].
Tarekat-tarekat
hidup kontemplatif melalui doa-doa, ulah-pertobatan dan duka-derita mereka,
amat penting maknanya bagi pertobatan jiwa-jiwa, karena Allah-lah, yang bila
dimohon mengutus pekerja-pekerja ke dalam panenan-Nya (lih. Mat 9:38), membuka
hati umat bukan kristiani untuk mendengarkan Injil (lih. Kis 14:16), dan
menyuburkan sabda keselamatan dalam hati mereka (lih. 1Kor 3:7). Bahkan
tarekat-tarekat itu diminta mendirikan biara-biara di daerah-daerah Misi, seperti
memang cukup banyak yang telah menjalankannya. Maksudnya supaya di situ
tarekat-tarekat itu – dengan cara yang sesuai dengan tradisi-tradisi keagamaan
asli para bangsa – dengan menghayati hidup, memberi kesaksian sungguh mulia
ditengah umat bukan kristiani tentang kedaulatan dan cinta kasih Allah, dan
tentang persatuan dalam Kristus.
Adapun
tarekat-tarekat hidup aktif, entah bertujuan melalui misioner entah tidak,
hendaknya dengan jujur bertanya diri dihadapan Allah, dapatkah mereka
memperluas kegiatan mereka demi perluasan Kerajaan Allah di antara
bangsa-bangsa; dapatkah mereka menyerahkan beberapa pelayanan kepada
tarekat-tarekat lain, sehingga mampu mencurahkan daya-tenaga mereka untuk
daerah-daerah Misi; dapatkah mereka memulai kegiatan di daerah-daerah Misi,
bila perlu dengan menyesuaikan Konstitusi mereka, tetapi menurut maksud
Pendiri; benarkah para anggota mereka menurut kemampuan ikut serta dalam
kegiatan misioner; benarkah kebiasaan hidup mereka merupakan kesaksian akan
Injil yang disesuaikan dengan sifat perangai dan situasi bangsa.
Tetapi
karena atas dorongan Roh Kudus dalam Gereja Institut-Institut sekular makin
berkembang, karya-kegiatan mereka di daerah-daerah Misi, dibawah kewibawaan
Uskup, dengan pelbagai cara dapat menjadi subur, sebagai tanda penyerahan diri
sepenuhnya demi evangelisasi dunia.
41. (Kewajiban
misioner kaum awam)
Para awam menyumbangkan tenaga demi karya Gereja
mewartakan Injil, dan sebagai saksi-saksi pun sekaligus sarana-sarana hidup
ikut serta dalam perutusannya yang membawa keselamatan[],
terutama bila mereka dipanggil oleh
Allah dan oleh para Uskup diperuntukkan bagi karya itu.
Di
daerah-daerah yang sudah kristiani para awam menyumbangkan tenaga untuk karya
mewartakan Injil, dengan mengembangkan pengertian dan cinta kasih terhadap Misi
pada dirinya maupun pada sesama, dengan membangkitkan panggilan-panggilan dalam
keluarga mereka sendiri, dalam perserikatan-perserikatan katolik dan di
sekolah-sekolah, dengan menyumbangkan segala macam bantuan, supaya kurnia iman,
yang telah mereka terima dengan Cuma-Cuma, dapat disalurkan kepada sesama.
Sedangkan
di daerah-daerah Misi kaum awam, entah pendatang entah pribumi, hendaknya
mengajar di sekolah-sekolah, menangani urusan-urusan duniawi, ikut berperan
dalam kegiatan kegiatan paroki dan keuskupan, menyelenggarakan dan
mengembangkan pelbagai bentuk kerasulan awam, supaya umat beriman dalam
Gereja-Gereja muda selekas mungkin mampu memainkan peran mereka dalam kehidupan
Gereja[].
Akhirnya
hendaklah kaum awam dengan suka rela mengadakan kerja sama sosial ekonomi
dengan bangsa-bangsa yang sedang berkembang. Kerja sama itu semakin layak di
puji, semakin menyangkut usaha mendirikan lembaga-lembaga, yang menyentuh tata
susunan hidup kemasyarakatan yang mendasar, atau tertujukan kepada pendidikan
mereka, yang mengemban tanggung jawab atas masyarakat.
Yang
layak mendapat pujian istimewa yakni para awam, yang di Universitas-Universitas
atau Lembaga-Lembaga ilmiah mengembangkan pengetahuan tentang bangsa-bangsa dan
agama-agama melalui penelitian-penelitian mereka dibidang sejarah atau
ilmu-pengetahuan agama, sambil membantu para pewarta Injil dan menyiapkan
dialog dengan umat bukan kristiani.
Hendaklah
para awam dalam semangat persaudaraan bekerja sama dengan umat kristiani
lainnya, dengan umat bukan kristiani, khususnya dengan para anggota
perserikatan-perserikatan internasional, sementara selalu mengarah kepada
tujuan, supaya “pembangunan masyarakat duniawi selalu bertumpu pada Tuhan dan
diarahkan kepada-Nya”[].
Untuk
menunaikan semua tugas itu, para awam membutuhkan persiapan tehnis dan rohani
seperlunya, yang harus diberikan pada Lembaga-Lembaga yang dimaksudkan untuk
itu, supaya hidup mereka merupakan kesaksian tentang Kristus di tengah umat
bukan-kristiani, manurut amanat Rasul : “Janganlah kamu menimbulkan syak dalam
hati orang-orang Yahudi dan Yunani, maupun jemaat Allah. Sama seperti aku juga
berusaha menyenangkan semua orang dalam segalanya, bukan untuk kepentingan
diriku, melainkan untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka diselamatkan”
(1Kor 10:32-33).
PENUTUP
42.
Para Bapa Konsili bersama dengan Imam Agung di Roma, yang
menyadari bahwa tugas menyebarluaskan Kerajaan Allah di mana-mana itu
mahaberat, menyampaikan salam penuh kasih, kepada semua pewarta Injil, terutama
kepada mereka yang demi nama Kristus menanggung penganiayaan, dan menggabungkan
diri sebagai rekan dalam duka-derita mereka[].
Juga mereka berkobar karena
cinta yang sama, seperti Kristus bernyala kasih-Nya terhadap umat manusia.
Sementara menyadari, bahwa Allahlah yang berkarya supaya Kerajaan-Nya datang di
dunia, mereka memanjatkan doa-doa bersama segenap Umat beriman kristiani,
supaya berkat perantaraan Perawan Maria Ratu para Rasul, para bangsa selekas
mungkin dihantar untuk mengenali kebenaran (1Tim 2:4), dan cahaya Allah, yang
bersinar pada wajah Kristus Yesus, melalui Roh Kudus menerangi semua orang
(2Kor 4:6).
Semua dan masing-masing pokok, yang telah
diuraikan dalam Dekrit ini, berkenan kepada para Bapa Konsili suci. Dan Kami,
atas kuasa Rasuli yang oleh kristus diserahkan kepada Kami, dalam Roh Kudus
menyetujui, memutuskan dan menetapkan itu semua bersama dengan para Bapa yang
terhormat, lagi pula memerintahkan, agar segala sesuatu yang dengan demikian telah ditetapkan dalam
Konsili, dimaklumkan secara resmi demi kemuliaan Allah.
Roma, di gereja Santo Petrus, tanggal 7 bulan
Desember tahun 1965.
Saya PAULUS
Uskup Gereja katolik
(Menyusul tanda
tangan para Bapa Konsili)