PAULUS USKUP
HAMBA PARA HAMBA ALLAH
BERSAMA BAPA-BAPA KONSILI SUCI
DEMI KENANGAN ABADI
DEKRIT TENTANG
KERASULAN AWAM
PENDAHULUAN
1. Dengan maksud memacu KEGIATAN MERASUL Umat
Allah[],
Konsili suci penuh keprihatinan menyapa Umat beriman awam, yang perannya yang
khas dan sungguh perlu dalam perutusan Gereja sudah diuraikan dilain tempat[].
Sebab kerasulan awam, yang bersumber pada panggilan kristiani mereka sendiri,
tak pernah dapat tidak ada dalam Gereja. Betapa sukarela sifat gerakan semacam itu pada awal mula Gereja, dan
betapa suburnya, dipaparkan dengan jelas oleh Kitab suci sendiri (lih. Kis
11:19-21; 18:26; Rom 16:1-16; Fip 4:3).
Adapun zaman kita menuntut semangat merasul kaum awam yang
tidak kalah besar. Bahkan situasi sekarang ini jelas memerlukan kerasulan
mereka yang lebih intensif dan lebih luas. Sebab makin bertambahnya jumlah
manusia, kemajuan ilmu-pengetahuan dan teknologi, hubungan-hubungan antar
manusia yang lebih erat, bukan saja memperluas tanpa batas gelanggang kerasulan awam, yang sebagian besar hanya
terbuka bagi mereka, melainkan juga menimbulkan masalah-masalah baru, yang
menuntut perhatian serta usaha mereka yang cekatan. Kerasulan itu semakin
mendesak, karena otonomi banyak dibidang kehidupan manusiawi, sebagaimana wajarnya,
amat banyak bertambah, ada kalanya disertai suatu penyimpangan dari tata
kesusilaan dan keagamaan, serta bahaya besar bagi hidup kristiani. Selain itu
dibanyak daerah, yang jumlah imamnya sangat sedikit, atau – seperti ada kalanya
terjadi – direbut kebebasan mereka yang sewajarnya untuk menunaikan pelayanan
mereka, tanpa karya-kegiatan kaum awam Gereja nyaris tidak dapat hadir dan
aktif.
Suatu tanda mendesaknya kebutuhan yang bermacam-ragam yakni
karya Roh Kudus, yang dewasa ini menjadikan kaum awam semakin sadar akan
tanggung jawab mereka, dan di mana-mana mendorong mereka untuk membaktikan diri
kepada Kristus dan Gereja[].
Dalam Dekrit ini Konsili bermaksud menjelaskan hakekat,
sifat-sifat serta keanekaan kerasulan awam, dan menguraikan asas-asas dasarnya,
pun juga menyampaikan petunjuk-petunjuk pastoral untuk melaksanakannya secara
lebih tepat guna. Hendaknya itu semua dipandang sebagai kaidah-kaidah dalam
meninjau kembali hukum kanonik sejauh menyangkut kerasulan awam.
BAB
SATU
PANGGILAN KAUM AWAM UNTUK MERASUL
2.
(Keikut-sertaan
awam dalam perutusan Gereja)
Gereja diciptakan untuk menyebarluaskan
kerajaan kristus di mana-mana demi kemuliaan Allah Bapa, dan dengan demikian
mengikut-sertakan semua orang dalam penebusan yang membawa keselamatan[],
dan supaya melalui mereka seluruh dunia sungguh-sungguh diarahkan kepada
Kristus. Semua kegiatan Tubuh Mistik, yang mengarah kepada tujuan itu, disebut
kerasulan. Kerasulan itu dilaksanakan oleh Gereja melalui semua anggotanya,
dengan pelbagai cara.
Sebab
panggilan kristiani menurut hakikatnya merupakan panggilan untuk merasul juga.
Seperti dalam tata-susunan tubuh yang
hidup tidak satu pun anggota berifat pasif melulu, melainkan juga beserta
kehidupan tubuh juga ikut menjalankan kegiatannya, begitu pula dalam Tubuh
Kristus, yakni Gereja, seluruh tubuh “menurut kadar pekerjaan masing-masing
anggotanya mengembangkan tubuh” (Ef 4:16). Bahkan sedemikan rupalah dalam tubuh
itu susunan serta penggabungan anggota-anggotanya (lih. Ef 4:16), sehingga
anggota, yang tidak berperan menurut kadarnya demi pertumbuhan tubuh, juga
harus dipandang tidak berguna bagi Gereja atau bagi dirinya sendiri.
Dalam
Gereja terdapat keanekaan pelayanan, tetapi kesatuan perutusan. Para Rasul
serta para pengganti mereka oleh Kristus diserahi tugas mengajar, menyucikan
dan memimpin atas nama dan kuasa-Nya. Sedangkan kaum awam ikut serta mengemban
tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, menunaikan bagian mereka dalam
perutusan segenap Umat Allah dalam gereja dan di dunia [].
Sesungguhnya mereka menjalankan kerasulan awam dengan kegiatan mereka untuk
mewartakan Injil dan demi penyucian sesama, pun untuk meresapi dan
menyempurnakan tata-dunia dengan semangat Injil, sehingga dalam tata-hidup itu
kegiatan mereka merupakan kesaksian akan Kristus yang jelas, dan mengabdi
kepada keselamatan umat manusia. Karena ciri khas status hidup awam yakni:
hidup ditengah masyarakat dan urusan-urusan duniawi, maka mereka dipanggil oleh
Allah, untuk dijiwai semangat kristiani, ibarat ragi, menunaikan kerasulan
mereka di dunia.
3.
(Azas-azas
kerasulan awam)
Kaum awam menerima tugas serta haknya untuk
merasul berdasarkan persatuan mereka dengan Kristus Kepala. Sebab melalui
Baptis mereka disaturagakan dalam tubuh mistik Kristus, melalui Penguatan
mereka diteguhkan oleh kekuatan Roh Kudus, dan demikian oleh Tuhan sendiri
ditetapkan untuk merasul. Mereka ditakdiskan menjadi imamat rajawi dan bangsa
yang kudus (lih. 1Ptr 2:4-10), untuk melalui segala kegiatan mereka
mempersembahkan korban rohani, dan dimana pun juga memberi kesaksian akan
Kristus. Melalui sakramen-sakramen, terutama Ekaristi suci, disalurkan dan
dipupuklah cinta kasih, yakni bagaikan jiwa seluruh kerasulan[].
Kerasulan
dijalankan dalam iman, harapan dan cinta kasih, yang dicurahkan oleh Roh Kudus
dalam hati semua anggota Gereja. Bahkan karena perintah cinta kasih, perintah
Tuhan yang utama, segenap umat beriman kristiani didesak untuk mengusahakan
kemuliaan Allah melalui kedatangan kerajaan-Nya dan mengikhtiarkan kehidupan
kekal bagi semua orang, supaya mereka mengenal satu-satunya Allah yang sejati
dan Yesus Kristus yang diutus-Nya (lih. Yoh 17:3).
Maka
semua orang beriman kristiani mengemban beban mulia, yakni berjerih-payah,
supaya Warta keselamatan ilahi dikenal dan diterima oleh semua orang di
mana-mana.
Untuk
melaksanakan kerasulan itu Roh Kudus, yang mengerjakan penyucian Umat Allah
melalui pelayanan dan sakramen-sakramen, menganugerahkan kurnia-kurnia khusus
juga kepada Umat beriman (lih. 1Kor 12:7), dan “membagikannya kepada
masing-masing menurut kehendak-Nya” (1Kor 12:11), supaya “setiap orang menurut
rahmat yang diterimanya, melayani sesama”, sehingga mereka pun menjadi
“bagaikan pengurus yang baik bagi rahmat Allah yang beraneka” (1Ptr 4:10), demi
pembangunan seluruh tubuh dalam cinta kasih (lih. Ef 4:16). Berdasarkan
penerimaan karisma-karisma itu, juga yang bersifat lebih sederhana, setiap
orang beriman mendapat hak dan tugas untuk mengamalkannya demi kesejahteraan
sesama dan pembangunan Gereja, dalam gereja dan masyarakat, dalam kebebasan Roh
Kudus, yang bertiup “seperti dikehendakinya” (Yoh 3:8), dan sekaligus dalam
persekutuan dengan sesama saudara dalam Kristus, terutama dengan para gembala
mereka, yang tugasnya yakni memberi penilaian tentang tulennya karisma-karisma
itu dan tentang teraturnya pengamalannya, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan
untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12, 19,
21)[].
4.
(Spiritualitas
awam dan tata-kerasulan)
Kristus yang diutus oleh Bapa menjadi sumber
dan asal seluruh kerasulan Gereja. Maka jelaslah kesuburan kerasulan awam
tergantung dari persatuan mereka dengan Kristus yang memang perlu untuk hidup,
menurut sabda Tuhan: “Barang siapa tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia, ia
menghasilkan buah banyak, sebab tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”
(Yoh 15:5). Kehidupan dalam persatuan mesra dengan Kristus itu dalam Gereja
dipupuk dengan bantuan-bantuan rohani, yang diperuntukkan bagi semua orang
beriman, terutama dengan keikut-sertaan aktif dalam liturgi suci[].
Upaya-upaya itu hendaknya digunakan oleh para awam sedemikian rupa, sehingga
mereka sementara menunaikan dengan saksama tugas-tugas duniawi dalam keadaan
hidup yang serba biasa, - tidak menceraikan persatuan dengan Kristus dari hidup
mereka, melainkan sambil melaksanakan tugas menurut kehendak Allah, tetap
berkembang dalam persatuan itu. Melalui jalan itu kaum awam harus maju dalam
kesucian dengan hati riang gembira, sementara mereka berusaha mengatasi
kesulitan-kesulitan dengan bijaksana dan sabar[].
Baik tugas-pekerjaan dalam keluarga maupun urusan-urusan keduniaan lainnya jangan sampai menjadi
asing terhadap cara hidup rohani, menurut amanat Rasul: “Apa pun yang kamu
lakukan dalam kata-kata maupun perbuatan, itu semua harus kamu jalankan atas
nama Tuhan Yesus Kristus, sambil bersyukur kepada Allah dan Bapa kita melalui
Dia” (Kol 3:17). Hidup seperti itu menuntut perwujudan iman, harapan dan cinta
kasih, yang tiada hentinya.
Hanya
dalam cahaya iman dan berkat renungan sabda Allah manusia dapat selalu dan di mana-mana
mengenal Allah, - “kita hidup dan bergerak dan berada” dalam Dia (Kis 17:28), -
dalam segala peristiwa mencari kehendak-Nya, memandang Kristus dalam semua
orang, entah mereka termasuk kaum kerabat entah tidak, mempertimbangkan dengan
cermat makna serta nilai hal-hal duniawi yang sesungguhnya, dalam dirinya
maupun sehubungan dengan tujuan manusia.
Barang
siapa mempunyai iman itu, hidup dalam harapan akan penampakan putera-putera
Allah, sambil mengenangkan salib dan kebangkitan Tuhan.
Dalam
perantauan hidup ini, tersembunyi bersama Kristus dalam Allah dan dibebaskan
dari perbudakan kekayaan, sementara mencari harta yang kekal abadi, mereka
dengan kebesaran jiwa membaktikan diri seutuhnya untuk meluaskan kerajaan Allah
dan untuk merasuki dan menyempurnakan tata-dunia ini dengan semangat kristiani.
Ditengah kemalangan hidup ini mereka menemukan kekuatan dalam harapan,
sementara berpandangan bahwa “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat
dibandingkan dengan kemuliaan di masa mendatang yang akan dinyatakan dalam diri
kita” (Rom 8:18).
Di
dorong oleh cinta kasih yang berasal dari Allah, mereka mengamalkan kebaikan
terhadap semua orang, terutama terhadap rekan-rekan seiman (lih. Gal 6:10),
sementara mereka menanggalkan “segala kejahatan, segala tipu muslihat dan
segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah” (1Ptr 2:1), dan dengan
demikian menarik sesama kepada Kristus. Sebab cinta kasih Allah, yang
“dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus yang dikurniakan kepada kita”
(Rom 5:5), menjadikan kaum awam mampu untuk sungguh-sungguh mewujudkan semangat
Sabda Bahagia dalam hidup mereka. Sementara mengikuti Yesus yang miskin, mereka
tidak merasa hancur karena kekurangan harta duniawi, tetapi juga tidak menjadi
sombong karena kelimpahan. Sambil mengikuti Kristus yang rendah hati, mereka
tidak gila hormat (lih. Gal 5:26), melainkan berusaha berkenan kepada Allah
lebih daripada kepada manusia, serta selalu siap sedia untuk meninggalkan
segalanya demi Kristus (lih. Luk 14:26) dan menanggung penganiayaan demi
keadilan (lih. Mat 5:10), sementara mengenangkan sabda Tuhan: “Barang siapa mau
mengikuti Aku, hendaklah ia mengingkari dirinya dan memikul salibnya dan
mengikuti Aku” (Mat 16:24). Mereka saling bersahabat secara kristiani dan
saling membantu dalam kebutuhan manapun juga.
Corak
hidup rohani kaum awam itu harus memperoleh ciri khusus berdasarkan status
pernikahan dan hidup berkeluarga, selibat atau hidup menjanda, dari keadaan
sakit, kegiatan profesi dan sosial. Oleh karena itu janganlah mereka berhenti
memupuk dengan tekun sifat-sifat dan keutamaan-keutamaan sesuai dengan
keadaan-keadaan itu yang telah mereka terima, dan mengamalkan kurnia-kurnia
yang telah mereka terima dari Roh Kudus.
Selain
itu para awam, yang mengikuti panggilan mereka telah masuk anggota salah satu
perserikatan atau lembaga yang telah disahkan oleh Gereja, begitu pula berusaha
mengenakan dengan setia corak hidup rohaninya yang istimewa.
Hendaknya
mereka menjunjung tinggi juga kemahiran kejuruan, citarasa kekeluargaan dan
kewarganegaraan, maupun keutamaan-keutamaan yang termasuk hidup kemasyarakatan
sehari-hari, yakni: kejujuran, semangat keadilan, ketulusan hati,
peri-kemanusiaan, keteguhan jiwa, yang memang amat perlu juga bagi hidup kristiani
yang sejati.
Suri
teladan yang sempurna bagi hidup rohani dan hidup merasul itu ialah Santa
Perawan Maria, Ratu para Rasul. Selama di dunia ia menjalani hidup kebanyakan
orang, penuh kesibukan keluarga, dan jerih payah, tetapi selalu mesra bersatu
dengan Putera-Nya dan dengan cara yang sangat istimewa ia bekerja sama dengan
karya Sang Penyelamat. Tetapi sekarang ia telah diangkat ke sorga, dan “dengan
cinta kasih keibuannya ia memperhatikan saudara-saudara Puteranya, yang masih
dalam peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai
mereka mencapai tanah air yang penuh kebahagiaan”[].
Hendaknya semua saja penuh khidmat berbakti kepadanya, dan menyerahkan hidup
serta kerasulan mereka kepada perhatiannya yang penuh rasa keibuan.
BAB DUA
TUJUAN-TUJUAN YANG HARUS
DICAPAI
5.
(Pendahuluan)
Karya penebusan Kristus pada hakikatnya
menyangkut penyelamatan umat manusia, tetapi merangkum pembaharuan seluruh tata
dunia juga. Maka dari itu Gereja bukan hanya diutus untuk menyampaikam warta
tentang Kristus dan menyalurkan rahmat-Nya kepada umat manusia, melainkan juga
untuk merasuki dan menyempurnakan tata dunia dengan semangat Injil. Jadi dalam melaksanakan perutusan
Gereja itu kaum awam menunaikan kerasulan mereka baik dalam bidang rohani
maupun di bidang duniawi. Meskipun bidang-bidang itu dibedakan, namun dalam
satu-satunya rencana Allah keduanya begitu berhubungan, sehingga Allah sendiri
bermaksud mengangkat seluruh dunia menjadi ciptaan baru dalam Kristus, pada
tahap awal di dunia ini, sepenuhnya pada hari terakhir. Di kedua bidang itu
awam, yang sekaligus orang beriman dan warga masyarakat, wajib terus-menerus
menganut bimbingan satu suara hati kristiani.
6.
(Kerasulan
dimaksudkan untuk mewartakan Injil dan menyucikan umat manusia)
Perutusan Gereja menyangkut keselamatan umat
manusia, yang harus diperoleh berkat iman akan Kristus dan rahmat-Nya. Maka
kerasulan Gereja serta semua anggotanya pertama-tama ditujukan untuk memaparkan
warta tentang Kristus kepada dunia dengan kata-kata maupun perbuatan, dan untuk
menyalurkan rahmat-Nya. Itu terutama terjadi melalui pelayanan sabda dan
sakramen-sakramen, yang secara khas diserahkan kepada para imam. Dalm pelayanan
itu kaum awam pun herus memainkan perannya yang sangat penting, yakni sebagai
“rekan pekerja demi kebenaran” (3Yoh 8). Terutama dibidang itu kerasulan awam
dan pelayanan pastoral saling melengkapi.
Bagi
kaum awam terbukalah amat banyak kesempatan untuk melaksanakan kerasulan
pewartaan Injil dan pengudusan. Kesaksian hidup kristiani sendiri beserta amal
baik yang dijalankan dengan semangat adikodrati, mempunyai daya-kekuatan untuk
menarik orang-orang kepada iman dan kepada Allah. Sebab Tuhan bersabda:
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat
perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di sorga” (Mat 5:16).
Akan
tetapi kerasulan semacam itu tidak hanya terdiri dari kesaksian hidup saja.
Rasul yang sejati mencari kesempatan-kesempatan untuk mewartakan Kristus dengan
kata-kata, baik kepada mereka yang tidak beriman untuk menghantar mereka kepada
iman, baik kepada kaum beriman untuk mengajar serta meneguhkan mereka, dan
mengajak mereka hidup dengan semangat lebih besar. “Sebab cinta kasih Kristus
mendesak kita” (2Kor 5:14). Dan dihati setiap orang harus menggema kata-kata
Rasul: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16)[].
Tetapi
pada zaman kita sekarang muncullah masalah-masalah baru, dan beredarlah
kesesatan-kesesatan amat gawat, yang berusaha menghancurkan sama sekali agama,
tata-kesusilaan dan masyarakat manusia sendiri. Maka Konsili suci ini dengan
tulus hati mengajak kaum awam, masing-masing menurut bakat-pembawaan dan
pendidikan pengetahuannya, supaya mereka – menurut maksud Gereja – lebih
bersungguh-sungguh lagi menjalankan peran mereka dalam menggali dan membela
azas-azas kristiani, serta dalam menerapkannya dengan cermat pada soal-soal
zaman sekarang.
7.
(Pembaharuan
tata-dunia secara kristiani)
Adapun rencana Allah mengenai dunia yakni:
supaya umat manusia seia-sekata membaharui dan terus-menerus menyempurnakan
tata-dunia.
Segala
sesuatu yang mewujudkan tata-dunia, yakni nilai-nilai hidup dan keluarga,
kebudayaan, urusan ekonomi, kesenian dan profesi, lembaga-lembaga negara,
hubungan-hubungan internasional dan lain sebagainya, beserta perkembangan dan
kemajuannya, bukan hanya merupakan bantuan untuk mencapai tujuan akhir manusia,
melainkan mempunyai nilainya sendiri juga, yang ditanam oleh Allah didalamnya,
baik dipandang secara tersendiri, maupun sebagai unsur-unsur seluruh tata
dunia: “Dan Allah melihat segala sesuatu yang diciptakan-Nya, dan itu semua
sangat baik” (Kej 1:31). Kebaikan alamiah itu menerima martabat khusus karena
hubungannya dengan pribadi manusia, sebab semuanya memang diciptakan untuk
mengabdi kepadanya. Akhirnya Allah berkenan menghimpun segalanya, baik yang
kodrati maupun yang adikodrati, menjadi satu dalam Kristus Yesus, “supaya dalam
segala sesuatu Dialah yang terutama” (Kol 1:18). Tetapi arah-tujuan itu bukan
hanya tidak menyebabkan tata dunia kehilangan otonominya, tujuan atau sasarannya,
hukum-hukumnya, upaya-upayanya sendiri, makna dan nilainya bagi kesejahteraan
manusia, justru malahan menyempurnakannya dalam daya kekuatan serta
keunggulannya, sekaligus mengangkatnya sehingga setaraf dengan panggilan
manusia seutuhnya di dunia ini.
Disepanjang
sejarah penggunaan hal-hal duniawi dicemarkan
oleh cacat cela yang berat, karena manusia tertimpa oleh dosa asal, dan
sering jatuh ke dalam amat banyak kesesatan tentang Allah sejati, kodrat
manusia dan azas-azas hukum moral. Maka tingkah laku dan lembaga-lembaga
manusia mengalami kemerosotan, dan pribadi manusia sendiri tidak jarang
diinjak-injak. Juga pada zaman sekarang ini tidak sedikitlah, yang secara
berlebihan mengandalkan kemajuan ilmu-pengetahuan dan teknologi, dan bagaikan
cenderung ke arah pemujaan hal-hal duniawi, serta lebih menjadi budaknya dari
pada menjadi tuannya.
Tugas
seluruh Gerejalah mengusahakan, supaya manusia menjadi mampu menyusun seluruh
tata dunia dengan saksama dan mengarahkannya kepada Allah melalui Kristus. Para
gembala bertugas mencanangkan dengan jelas azas-azas tentang tujuan penciptaan
dan penggunaan dunia, menyajikan bantuan-bantuan moral dan rohani, supaya tata
dunia dibaharui dalam Kristus.
Adapun
kaum awam wajib menerima pembaharuan tata dunia sebagai tugasnya yang khusus,
dan dibimbing oleh cahaya Injil dan maksud-maksud Gereja serta didorong oleh
cinta kasih kristiani bertindak secara langsung dan terarah dalam tugas itu.
Sebagai warga masyarakat mereka wajib bekerja sama dengan sesama warga dengan kemahiran
khusus dan tanggung jawab mereka sendiri. Dimana-mana dan dalam segalanya
mereka harus mencari keadilan kerajaan Allah. Tata dunia harus diperbaharui
sedemikian rupa, sehingga – dengan tetap menjaga keutuhan hukum-hukumnya
sendiri – tata dunia diselaraskan dengan azas-azas hidup kristiani yang lebih
luhur, dan disesuaikan dengan pelbagai kondisi kondisi tempat, masa dan bangsa.
Diantara usaha-usaha kerasulan itu yang mendapat tempat istimewa ialah kegiatan
sosial umat kristiani. Konsili suci menginginkan, supaya kegiatan itu sekarang
meliputi segenap bidang duniawi, termasuk kebudayaan[].
8.
(Amal
kasih, meterai kerasulan kristiani)
Semua pelaksanaan kerasulan harus bersumber
pada cinta kasih dan menimba kekuatan dari padanya. Tetapi beberapa kegiatan menurut
hakikatnya memang sesuai untuk diubah menjadi ungkapan cinta kasih sendiri yang
mempesonakan. Kristus Tuhan menghendakinya sebagai tanda perutusan-Nya sebagai
Al-Masih (lih. Mat 11:4-5).
Perintah
utama menurut hukum ialah mengasihi Allah dengan segenap hati dan mencintai
sesama seperti dirinya sendiri (lih. Mat 22:37-40). Kristus menjadikan perintah
cinta kasih terhadap sesama itu menjadi hukumnya sendiri, dan memperkayanya
dengan makna yang baru, ketika Ia menghendaki diri-Nya sendiri seperti juga
saudara-saudara-Nya sebagai pribadi yang harus dicintai, dan bersabda: “Segala
sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang diantara saudara-Ku yang paling
hina ini, kamu lakukan untuk Aku” (Mat 25:40). Sebab dengan mengenakan kodrat
manusia Ia telah menghimpun segenap umat manusia dalam suatu kesetiakawanan
adikodrati menjadi keluarga-Nya. Dan Ia menetapkan cinta kasih menjadi tanda
para murid-Nya dengan sabda-Nya: “Semua orang akan tahu, bahwa kamu
murid-muridKu, bila kamu saling mengasihi” (Yoh 13:35).
Adapun
Gereja suci pada awal mula menggabungkan “agape”[]
pada Perjamuan Ekaristi, dan dengan demikian menampilkan, bahwa dirinya
seluruhnya dipersatukan oleh ikatan cinta kasih di sekitar Kristus. Begitu pula
disepanjang masa Gereja di kenal dengan tanda cinta kasih itu, dan – sambil
bergembira tentang usaha pihak-pihak lain – Gereja memandang amal cinta kasih
sebagai tugas serta haknya, yang tidak dapat direbut dari padanya. Oleh karena
itu belas kasihan terhadap mereka yang miskin dan lemah, maupun apa yang
disebut kegiatan karitatif dan kegiatan saling membantu untuk meringankan
segala macam kebutuhan manusia, amat dijunjung tinggi oleh Gereja[].
Karena
– berkat lebih lancarnya upaya-upaya komunikasi – jarak antara orang-orang
dalam arti tertentu sudah diatasi dan
penduduk seluruh dunia seperti sudah menjadi anggota satu keluarga, maka
kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha itu sekarang ini menjadi jauh lebih mendesak
dan lebih universal. Dewasa ini amal cinta kasih dapat dan harus merangkum
semua orang dan menanggapi semua kebutuhan. Orang-orang yang tidak mempunyai
makanan dan minuman, pakaian, rumah, obat-obatan, pekerjaan, pendidikan,
sarana-sarana yang sungguh perlu untuk hidup secara layak manusiawi, mereka
yang tersiksa karena kemalangan dan kondisi badan yang lemah, mereka yang
menderita dalam pembuangan atau penjara, di manapun mereka berada, cinta kasih
kristiani harus mencari dan menemukan mereka, dengan mengerahkan usaha-usaha
meringankan penderitaan mereka, dan dengan bantuan yang diberikan mengangkat
mereka. Kewajiban itu pertama-tama
dibebankan atas orang-orang perorangan dan bangsa-bangsa yang hidupnya
sejahtera[].
Supaya
pengalaman cinta kasih itu selalu terluputkan dari segala kecaman dan menjadi
nyata sebagai amal kasih, hendaklah pada diri sesama dilihat citra Allah yang
menjadi pola penciptaannya, dan Kristus Tuhan – sungguh dipersembahkan
kepada-Nya, apa pun yang diberikan kepada orang miskin. Hendaknya diindahkan
dengan penuh perikemanusiaan kebebasan dan martabat pribadi yang menerima bantuan. Jangan sampai
kejernihan maksud dicemarkan oleh nafsu mencari keuntungan pribadi atau keinginan untuk berkuasa[].
Pertama-tama hendaknya tuntutan-tuntutan keadilan dipenuhi, supaya apa yang
sudah harus diserahkan berdasarkan keadilan jangan diberikan sebagai hadiah
cinta kasih. Hendaknya yang ditiadakan jangan hanya akibat-akibat kemalangan,
melainkan juga sabab-musababnya. Hendaklah bantuan diatur sedemikian rupa,
sehingga mereka yang menerimanya lambat-laun makin bebas dari ketergantungan lahiriah
dan mampu mencukupi kebutuhan mereka sendiri.
Maka
dari itu hendaknya kaum awam sungguh menghargai dan sekadar kemampuan menunjang
amal cinta kasih serta usaha-usaha bantuan sosial yang bersifat swasta maupun
umum, juga yang bersifat internasional. Sebab dengan kegiatan-kegiatan itu
diberikan pertolongan yang tepat guna kepada orang-orang perorangan dan
bangsa-bangsa yang menanggung penderitaan. Dalam hal itu hendaknya mereka
bekerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik[].
BAB TIGA
PELBAGAI BIDANG
KERASULAN
9.
(Pendahuluan)
Kaum awam menunaikan kerasulan mereka yang
bermacam-ragam dalam Gereja maupun masyarakat. Dalam kedua tata hidup itu
terbukalah pelbagai bidang kegiatan merasul. Yang lebih penting diantaranya
akan kami uraikan di sini, yakni: jemaat-jemaat gerejawi, keluarga, kaum muda,
lingkungan sosial, tata nasional dan internasional. Karena zaman sekarang ini
kaum wanita semakin berperan aktif
dalam seluruh hidup masyarakat, maka sangat pentinglah bahwa keikut-sertaan
mereka diperluas, juga dipelbagai bidang kerasulan Gereja.
10.
(Jemaat-jemaat
gerejawi)
Karena berperan-serta dalam tugas Kristus
sebagai Imam, Nabi dan Raja, kaum awam berperan aktif dalam kehidupan dan
kegiatan Gereja. Di dalam jemaat-jemaat gerejawi kegiatan mereka sedemikian
perlu, sehingga tanpa kegiatan itu
kerasulan para gembala sendiri kebanyakan tidak dapat memperbuahkan hasil yang
sepenuhnya. Sebab seperti kaum pria dan wanita, yang membantu Paulus dalam
pewartaan Injil (lih. Kis 18:18-26; Rom 16:3), begitu pula para awam, yang
berjiwa kerasulan sejati, melengkapi apa yang kurang pada saudara-saudara
mereka, dan menyegarkan semangat para gembala maupun Umat beriman lainnya (lih.
1Kor 16:17-18). Sebab diteguhkan karena
ikut serta secara aktif dalam kehidupan liturgis jemaat mereka, para awam itu
penuh perhatian memainkan peran dalam kegiatan kerasulan jemaat. Orang-orang
yang barang kali sedang menjauh mereka hantar kembali ke Gereja. Secara
intensif mereka menyumbangkan tenaga dengan menyampaikan sabda Allah, terutama
melalui katekese. Berkat sumbangan kemahiran mereka –mereka menjadi reksa
jiwa-jiwa dan juga tata-usaha harta-milik Gereja lebih tepat guna.
Paroki
memberi teladan kerasulan jemaat yang jelas, dengan menghimpun semua anggota
menjadi satu , entah bagaimanapun mereka itu diwarnai perbedaan-perbedaan
manusiawi, dan menyaturagakan mereka ke dalam Gereja semesta[].
Hendaklah kaum awam membiasakan diri untuk erat bersatu dan bekerja sama dengan
para imam di paroki[].
Hendaknya mereka menyampaikan kepada jemaat gerejawi soal-soal mereka sendiri,
problim-problim masyarakat dan masalah-masalah yang menyangkut keselamatan
manusia, yang harus diselidiki dipecahkan melalui musyawarah. Hendaknya sekadar
kemampuan mereka menyumbangkan jasa-bantuan kepada segala usaha kerasulan dan misioner keluarga gerejawi mereka.
Hendaklah
mereka selalu penuh perhatian terhadap keuskupan, - paroki mereka bagaikan
selnya – dan senantiasa bersedia untuk memenuhi undangan Gembala mereka, serta
menyumbangkan tenaga mereka kepada usaha-usaha keuskupan. Bahkan untuk
menanggapi kebutuhan-kebutuhan kota-kota dan daerah-daerah pedesaan[],
hendaknya mereka jangan membatasi sumbangan tenaga mereka dalam batas-batas
paroki atau keuskupan, melainkan berusaha memperluas ke bidang-bidang
antar-paroki, antar-keuskupan, nasional atau internasional, apa lagi karena
semakin meningkatnya perpindahan bangsa-bangsa, bertambahnya hubungan-hubungan
timbal-balik dan kemudahan komunikasi sudah tidak lagi membiarkan sebagian
masyarakat pun tetap terkungkung dalam dirinya. Begitulah hendaknya mereka
penuh perhatian terhadap kebutuhan-kebutuhan Umat Allah yang tersebar diseluruh
dunia. Terutama hendaknya mereka sendiri ikut serta dalam
kegiatan-kegiatan misioner dengan
menyumbangkan bantuan-bantuan materiil ataupun tenaga. Sebab merupakan tugas
dan kehormatan bagi Umat kristiani untuk mengembalikan kepada Allah bagian
harta kekayaan, yang mereka terima dari pada-Nya.
11.
(Keluarga)
Pencipta alam semesta telah menetapkan
persekutuan suami-isteri menjadi asal-mula dan dasar masyarakat manusia, dan
berkat rahmat-Nya menjadikannya sakramen agung dalam Kristus dan dalam Gereja
(lih. Ef 5:32). Maka kerasulan antara para suami-isteri dan keluarga-keluarga
mempunyai makna yang istimewa bagi Gereja maupun bagi masyarakat.
Para
suami-isteri kristiani bekerja sama dengan rahmat dan menjadi saksi iman satu
bagi yang lain. Bagi anak-anak mereka dan kaum kerabat lainnya. Bagi anak-anak
mereka, mereka itulah pewarta iman dan pendidik yang pertama. Dengan kata-kata
maupun teladan suami-isteri membina anak-anak untuk menghayati hidup kristiani
dan kerasulan. Dengan bijaksanaan suami-isteri membantu mereka dalam memilih
panggilan mereka, dan – sekiranya barangkali terdapat panggilan suci pada
mereka, - memupuk itu dengan perhatian sepenuhnya.
Selalu
merupakan tugas suami-isteri, tetapi sekarang ini merupakan segi amat penting
kerasulan mereka: dengan peri-kehidupan mereka menunjukkan dan membuktikan
bahwa ikatan pernikahan tidak terceraikan dan suci. Adalah tugas mereka dengan
tegas menyatakan bahwa hak dan tugas mendidik anak secara kristiani diserahkan
kepada orang tua dan para pendidik. Tugas mereka pula membela martabat dan
otonomi keluarga yang sewajarnya. Maka dari itu hendaknya mereka dan Umat
beriman kristiani lainnya bekerja sama dengan mereka yang berkehendak baik,
supaya dalam perundangan sipil hak-hak itu dipertahankan utuh-utuh; supaya
dalam pemerintahan masyarakat diindahkan kebutuhan-kebutuhan keluarga-keluarga
mengenai perumahan, pendidikan anak-anak, persyaratan kerja, keamanan sosial
dan perpajakan; supaya dalam mengatur perpindahan-perpindahan hidup bersama
dalam keluarga sungguh-sungguh dijamin[].
Keluarga
sendiri menerima perutusan dari Allah, untuk menjadi sel pertama dan sangat
penting bagi masyarakat. Perutusan itu akan dilaksanakannya, bila melalui cinta
kasih timbal balik para anggotanya dan doa mereka bersama kepada Allah,
keluarga membawakan diri bagaikan ruang ibadat liturgis Gereja; akhirnya, bila
keluarga secara nyata menunjukkan kerelaannya untuk menjamu, dan memajukan
keadilan dan amal-perbuatan baik lainnya untuk melayani semua saudara yang
sedang menderita kekurangan. Diantara pelbagai karya kerasulan keluarga baiklah
disebutkan yang berikut ini: memungut kanak-kanak terlantar menjadi anaknya,
dengan murah hati menerima para pendatang, membantu menyelenggarakan
sekolah-sekolah, mendampingi kaum muda dengan nasehat dan bantuan lainnya,
membantu para calon mempelai untuk menyiapkan diri lebih baik bagi pernikahan
mereka, ikut berkatekese, membantu para suami-isteri dan keluarga-keluarga yang
sedang mengalami kesukaran material maupun moral, bukan saja mencukupi
kebutuhan orang-orang tua, melainkan juga secara wajar menyediakan buah-buah ekonomi bagi mereka.
Selalu
dan di mana-mana, tetapi secara istimewa di daerah-daerah, yang baru saja
menerima taburan benih Injil yang pertama, atau bila Gereja baru mengalami
tahap-tahap awalnya, atau sedang mengalami suatu krisis yang gawat,
keluarga-keluarga kristiani, yang hidupnya selaras semata-mata dengan Injil dan
memberi teladan pernikahan kristiani yang baik, menyampaikan kesaksian yang
sangat berharga tentang Kristus kepada masyarakat[].
Supaya
keluarga-keluarga dapat lebih mudah mencapai sasaran-sasaran kerasulan mereka,
dapat berguna bila mereka berhimpun dalam kelompok-kelompok[].
12.
(Kaum
muda)
Kaum muda merupakan kekuatan amat penting
dalam masyarakat zaman sekarang[].
Situasi hidup, sikap-sikap batin serta hubungan-hubungan mereka dengan keluarga
mereka sendiri telah amat banyak berubah. Seringkali mereka terlalu cepat
beralih kepada kondisi sosial ekonomis yang baru. Dari hari ke hari peran
mereka di bidang sosial dan juga politik semakin penting. Padahal agaknya
mereka kurang mampu menanggung beban-beban baru dengan baik.
Bertambah
pentingnya peran mereka dalam masyarakat itu menuntut dari mereka kegiatan
merasul yang sepadan. Sifat-sifat alamiah merekapun memang sesuai untuk
menjalankan kegiatan itu. Sementara kesadaran akan kepribadian mereka bertambah
masak, terdorong oleh gairah hidup dan semangat kerja yang meluap, mereka
sanggup memikul tanggung jawab sendiri, dan ingin memainkan peran mereka dalam kehidupan
sosial dan budaya. Bila gairah itu diresapi oleh semangat Kristus dan dijiwai
sikap patuh dan cinta kasih terhadap para Gembala Gereja, maka boleh diharapkan
akan memperbuahkan hasil yang melimpah. Mereka sendiri harus menjadi
rasul-rasul pertama dan langsung bagi kaum muda, dengan menjalankan sendiri
kerasulan dikalangan mereka, sambil mengindahkan lingkungan sosial kediaman mereka[].
Hendaknya
kaum dewasa dalam suasana persahabatan berusaha menjalin dialog dengan kaum
muda, sehingga dengan mengatasi jarak umur mungkinlah kedua pihak saling
mengenal, dan saling bertukar kekayaan masing-masing. Hendaknya kaum dewasa
terutama dengan teladan, dan bila ada kesempatan dengan nasehat yang bijaksana
serta bantuan yang tepat guna, mendorong kaum muda untuk merasul. Dipihak lain
hendaknya kaum muda memupuk sikap hormat dan kepercayaan terhadap kaum dewasa.
Dan meskipun secara alamiah mereka cenderung ke arah hal-hal baru, hendaknya
mereka menghargai tradisi-tradisi yang terpuji sebagaimana harusnya.
Anak-anak
pun mempunyai kegiatan merasul mereka sendiri. Menurut kemampuan mereka, mereka
sungguh menjadi saksi-saksi Kristus yang hidup diantara teman-teman.
13.
(Lingkungan
sosial)
Kerasulan di lingkungan sosial merupakan
usaha menjiwai mentalitas dan adat kebiasaan, hukum-hukum serta tata-susunan
masyarakat disekitar, dengan semangat kristiani. Kerasulan itu merupakan tugas
dan beban kaum awam sedemikian rupa, sehingga tak pernah dapat dijalankan oleh
orang-orang lain sebagaimana mestinya. Disitulah mereka melengkapi kesaksian
hidup dengan kesaksian lisan[].
Dan disitulah mereka paling cakap untuk membantu sesama saudara, dibidang
pekerjaan, kejuruan, studi, perumahan, rekreasi, atau paguyuban setempat. Kaum
awam menunaikan perutusan Gereja di dunia itu terutama dengan kesesuaian hidup
dengan iman, yang menjadikan mereka terang dunia; dengan ketangguhan mereka
dalam urusan manapun juga, sehingga mereka menarik semua orang kepada cinta
akan kebenaran dan kebaikan, dan akhirnya kepada Kristus dan Gereja; dengan
kasih persaudaraan mereka, sehingga mereka ikut menanggung kondisi-kondisi
kehidupan, jerih-payah, duka-derita serta aspirasi-aspirasi sesama saudara, dan
dengan demikian lambat laun menyiapkan hati semua orang bagi karya rahmat yang
menyelamatkan; dengan penuhnya kesadaran akan peran-serta mereka dalam
membangun masyarakat, sehingga mereka berusaha menjalankan kewajiban-kewajiban
mereka dalam hidup berkeluarga, dalam masyarakat dan dibidang kejuruan mereka
dengan kebesaran jiwa kristiani. Demikianlah cara bertindak mereka lambat-laun
merasuki lingkungan hidup dan kerja.
Kerasulan
itu harus ditujukan kepada semua orang, siapa pun yang berada di lingkungan
itu, dan tidak boleh mengecualikan jasa rohani maupun jasmani mana pun juga,
yang dapat diberikan kepada mereka. Tetapi rasul-rasul yang sejati tidak puas
dengan kegiatan itu saja. Mereka sungguh bermaksud juga untuk mewartakan
kristus secara lisan kepada sesama. Sebab banyak orang hanya dapat mendengarkan
Injil dan mengenal Kristus melalui para awam tetangga mereka.
14.
(Bidang-bidang
nasional dan internasional)
Terbukalah gelanggang kerasulan yang tak
terduga luasnya ditingkat nasional maupun internasional, terutama bagi kaum
awam, untuk mengabdikan diri kepada kebijaksanaan kristiani. Dalam berbakti
kepada bangsa dan dalam menunaikan tugas-tugas kewarganegaraan dengan setia,
Umat katolik hendaknya menyadari kewajibannya untuk memajukan kesejahteraan
umum yang sejati. Hendaknya mereka berusaha berpengaruh dengan bobot pandangan
mereka, sehingga pemerintahan dijalankan dengan adil, dan hukum-hukum selaras
dengan tuntutan-tuntutan moral serta menunjang kesejahteraan umum. Hendaknya
orang-orang katolik, yang mahir dibidang politik, dan sebagaimana wajarnya
berdiri teguh dalam iman serta ajaran kristiani, jangan menolak untuk
menjalankan urusan-urusan umum. Sebab dengan jasa-jasa mereka yang pantas
dihargai itu mereka dapat mendukung kesejahteraan umum, dan sekaligus merintis
jalan bagi Injil.
Hendaknya
Umat katolik berusaha bekerja sama dengan semua orang yang beritikad baik,
untuk memajukan apa pun yang benar, apa pun yang adil, apa pun yang suci, apa
pun yang manis (Flp 4:8). Hendaklah Umat katolik berdialog dengan mereka, serta
mendekati mereka dengan bijaksana dan penuh pengertian, lagi pula menyelidiki,
bagaimana menyempurnakan lembaga-lembaga sosial dan umum menurut semangat
Injil.
Di
antara tanda-tanda zaman kita yang layak mendapat perhatian istimewa yakni:
semangat setia kawan antara semua bangsa, yang makin meluas dan tak terelakkan.
Tugas kerasulan awamlah penuh kesungguhan memajukan solidaritas itu, dan
mengubahnya menjadi kasih persaudaraan yang tulus dan sejati. Selain itu kaum
awam perlu menyadari kenyataan bidang internasional serta masalah-masalah dan
pemecahan-pemecahannya yang bersifat ajaran maupun langkah-langkah praktis pada
taraf itu, terutama yang menyangkut bangsa-bangsa yang sedang berkembang[].
Hendaknya
mereka semua, yang bekerja ditengah bangsa-bangsa lain atau menyelenggarakan
bantuan kepada mereka, mengingat bahwa hubungan-hubungan antar bangsa harus
merupakan pertukaran jasa yang sungguh bersifat persaudaraan, sehingga kedua
pihak sekaligus memberi dan menerima. Adapun mereka yang menempuh perjalanan
untuk karya-kegiatan internasional, untuk menyelesaikan urusan atau untuk
berlibur, hendaklah mengingat, bahwa dimanapun juga mereka serta-merta menjadi
pewarta-pewarta Kristus yang sedang berkeliling, dan sungguh bertingkah laku
menurut kenyataan itu.
BAB EMPAT
BERBAGAI CARA MERASUL
15.
(Pendahuluan)
Kaum awam dapat menjalankan kerasulan mereka
secara perorangan atau tergabung dalam berbagai paguyuban atau perserikatan.
16.
(Pentingnya aneka
bentuk kerasulan perorangan)
Kerasulan, yang harus dijalankan oleh setiap
orang secara pribadi dan secara melimpah mengalir dari sumber hidup kristiani
yang sejati (lih. Yoh. 4:14), merupakan landasan dan syarat bagi semua
kerasulan awam, juga yang bersifat kolektif, dan tidak dapat digantikan oleh
apa pun juga.
Meskipun
mereka tidak ada kesempatan atau kemungkinan untuk bekerja sama dalam
perserikatan, namun semua awam dalam keadaan mana pun juga dipanggil dan wajib
menjalankan kerasulan. Kerasulan itu selalu dan di mana-mana memang berharga,
tetapi dalam situasi-situasi tertentu merupakan satu-satunya yang sesuai dan
mungkin.
Terdapat
banyak bentuk kerasulan, yang bagi kaum awam merupakan jalan untuk membangun
Gereja, dan menguduskan mereka dunia serta menjiwainya dalam Kristus.
Bentuk
khusus kerasulan perorangan lagi pula tanda paling sesuai bagi zaman kita, yang
menampilkan bahwa Kristus hidup dalam Umatnya yang beriman, ialah kesaksian
seluruh hidup sebagai awam, yang bersumber pada iman, harapan dan cinta kasih.
Namun melalui kerasulan secara lisan,
yang dalam situasi-situasi tertentu memang sungguh perlu, para awam mewartakan
Kristus, menguraikan ajaran-Nya, menyebarluaskannya menurut kondisi serta
kemampuan masing-masing, dan mengakuinya dengan setia.
Kecuali
itu, dengan menyumbangkan tenaga sebagai warga dunia ini dalam upaya-upaya
untuk membangun dan mengurus tata dunia sekarang, haruslah kaum awam dalam
hidup berkeluarga, dibidang kejuruan, kebudayaan dan kemasyarakatan, dalam
terang iman mencari motivasi-motivasi yang lebih luhur, dan bila ada kesempatan
mengungkapkannya kepada sesama, karena menyadari bahwa dengan demikian mereka
bekerja sama dengan Allah pencipta, Penebus dan Pengudus, serta memuliakan-Nya.
Akhirnya
hendaklah para awam menjiwai hidup mereka dengan cinta kasih, dan sejauh mampu
mengungkapkannya dengan tindakan nyata.
Hendaklah
segenap umat mengingat, bahwa dengan ibadat resmi dan doa, dengan bertobat dan
secara suka rela menerima jerih-payah serta kesukaran-kesukaran hidup, yang
menjadikan mereka serupa dengan Kristus yang menderita sengsara (lih. 2Kor
4:10; Kol 1:24), mereka dapat menjangkau semua orang, dan membawa sumbangan
bagi keselamatan seluruh dunia.
17.
(Kerasulan
awam dalam situasi-situasi tertentu)
Kerasulan perorangan itu sangat perlu dan
mendesak di daerah-daerah, tempat kebebasan Gereja menghadapi
rintangan-rintangan yang berat. Dalam situasi yang amat sulit itu kaum awam
sejauh mereka mampu menggantikan para imam, dengan menanggung resiko bagi
kebebasan mereka sendiri dan acap kali juga bagi hidup mereka. Kepada
orang-orang disekitar mereka menyampaikan ajaran kristiani; mereka membina
sesama dalam hidup keagamaan dan semangat katolik; mereka mengajak sesama untuk
sering menerima sakramen-sakramen, dan terutama untuk berbakti kepada Ekaristi
suci[].
Konsili suci dengan setulus hati bersyukur kepada Allah, yang juga pada zaman
kita sekarang tidak berhenti membangkitkan para awam yang berjiwa teguh
bagaikan pahlawan ditengah penganiayaan, dan menyambut mereka penuh kasih
kebapaan serta rasa syukur.
Kerasulan
perorangan menemukan gelanggang yang istimewa di mana Umat katolik hanya
sedikit jumlahnya dan hidup terpencar. Di situ para awam, yang hanya merasul
secara perorangan entah karena sebab-sebab tersebut diatas, entah karena
alasan-alasan khas yang muncul dari kegiatan profesional mereka sendiri,
seyogyanya toh mengadakan pertemuan-pertemuan dalam kelompok-kelompok kecil,
tanpa bentuk kelembagaan atau organisasi yang ketat, sehingga selalu nampaklah
tanda persekutuan Gereja bagi orang-orang lain, sebagai kesaksian cinta kasih
yang sejati. Demikianlah, melalui persahabatan dan pertukaran pengalaman,
dengan saling memberi bantuan rohani, mereka diteguhkan untuk mengatasi
kendala-kendala hidup serta kegiatan yang serba terpencil, dan untuk memperbuahkan
hasil kerasulan yang lebih banyak.
18.
(Pentingnya
kerasulan yang terpadu)
Umat beriman kristiani sebagai perorangan
dipanggil untuk merasul di pelbagai situasi hidup mereka. Tetapi hendaknya
mereka mengingat, bahwa manusia menurut kodratnya bersifat sosial, dan bahwa
Allah (lih. 1Ptr 2:5-10) dan menjadi satu tubuh (lih. 1Kor 12:12). Dan oleh
karena itu kerasulan yang terpadu memang sungguh menanggapi tuntutan Umat
kristiani baik sebagai manusia maupun sebagai orang kristiani, dan sekaligus
menyajikan tanda persekutuan dan kesatuan Gereja dalam kristus yang bersabda:
“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitu Aku hadir di
tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).
Maka
dari itu hendaklah Umat beriman serentak mengarahkan kerasulan mereka kepada
tujuan yang sama[].
Hendaknya mereka menjadi rasul di lingkungan keluarga mereka sendiri, di paroki
maupun di keuskupan, yang semuanya mengungkapkan sifat kebersamaan kerasulan,
begitu pula dalam kelompok-kelompok sukarela yang mereka bentuk atas pilihan
sendiri.
Kerasulan
yang terpadu amat penting juga, karena dalam jemaat-jemaat Gereja maupun di
pelbagai lingkungan kerasulan sering perlu dilaksanakan dalam kegiatan bersama.
Sebab perserikatan-perserikatan, yang didirikan untuk kegiatan-kegiatan merasul
secara bersama, mendukung para anggotanya dan membina mereka untuk merasul,
lagi pula dengan cermat menyiapkan serta mengatur usaha-usaha kerasulan mereka,
sehingga dari padanya boleh diharapkan hasil-hasil yang jauh lebih melimpah,
daripada bila masing-masing menjalankan kegiatannya sendiri.
Adapun
dalam situasi sekarang sangat perlulah, bahwa dalam lingkup kegiatan kaum awam
bentuk kolektif kerasulan dalam suatu organisasi dimantapkan. Sebab hanya
perpaduan erat usaha-usahalah yang mampu mencapai sepenuhnya semua tujuan
kerasulan zaman sekarang, dan melindungi buah-hasilnya secara tepat guna[].
Dalam perspektif itu sungguh sangat pentinglah, bahwa kerasulan juga menjangkau
alam pandangan umum dan kondisi-kondisi sosial mereka, yang mau dilayani. Sebab
kalau tidak, mereka itu sering tidak akan mampu menghadapi tekanan pandangan
umum atau lembaga-lembaga.
19.
(Aneka
bentuk kerasulan terpadu)
Perserikatan kerasulan amat beraneka-ragam[]:
ada yang mempunyai tujuan umum kerasulan Gereja; ada yang secara khusus
bertujuan pewartaan Injil dan pengudusan; ada yang tujuannya merasuki tata
dunia ini dengan semangat kristiani; ada pula yang secara khas memberi
kesaksian akan Kristus melalui amal belas kasihan dan cinta kasih.
Diantara
persekutuan-persekutuan itu yang pertama-tama layak diperhatikan ialah: yang
memupuk dan menjunjung tinggi perpaduan yang lebih erat antara hidup praktis
dan iman para anggotanya. Himpunan-himpunan itu bukan merupakan tujuan dalam
dirinya sendiri, melainkan harus mengabdi pelaksanaan perutusan Gereja terhadap
dunia. Daya kerasulannya tergantung dari kesesuaiannya dengan tujuan-tujuan
Gereja dan dari kesaksian kristiani serta semangat Injil masing-masing
anggotanya maupun seluruh perserikatan.
Namun
bila dipertimbangkan struktur-struktur dan gerak perkembangan masyarakat zaman
sekarang, tugas perutusan universal Gereja menuntut, supaya usaha-usaha
kerasulan Umat katolik semakin menyempurnakan bentuk-bentuk organisasi pada
tingkat internasional. Organisasi-organisasi katolik internasional akan lebih
penuh mencapai tujuannya, bila kelompok-kelompok yang tergabung di dalamnya
serta para anggotanya semakin erat bersatu dengannya.
Dengan
tetap memelihara hubungan dengan Pimpinan Gereja sebagaimana mestinya[],
kaum awam berhak mendirikan[]
dan memimpin perserikatan, dan masuk anggota perserikatan yang sudah ada.
Tetapi hendaknya dihindari penghamburan tenaga; itu terjadi bila tanpa alasan
yang cukup dipropagandakan himpunan-himpunan dan karya-karya yang baru, atau
bila tetap dipertahankan perserikatan-perserikatan yang sudah tidak berguna
lagi atau metode-metode yang sudah usang. Dan tidak selalu cocok, bahwa
bentuk-bentuk kerasulan, yang dijalankan ditengah bangsa tertentu, begitu saja
dialihkan kepada bangsa-bangsa lain[].
20.
(“Aksi
Katolik”)
Sejak beberapa dasawarsa di pelbagai negeri
kaum awam semakin banyak membaktikan diri dalam kerasulan. Mereka berhimpun
dalam pelbagai bentuk kegiatan dan perserikatan, yang sambil memelihara
hubungan cukup erat dengan Hirarki telah dan tetap masih mengejar tujuan-tujuan
kerasulan yang sejati. Diantara yayasan-yayasan itu atau himpunan-himpunan
serupa yang sudah lebih tua, terutama layak disebutkan
perserikatan-perserikatan, yang memang menganut bermacam-macam cara berkarya,
namun telah memperbuahkan hasil-hasil yang amat melimpah bagi kerajaan Kristus.
Persekutuan-persekutuan itu oleh para Paus dan banyak Uskup sudah selayaknya
dianjurkan dan didukung perkembangannya, mereka sebut “Aksi Katolik”, dan
sering sekali dilukiskan sebagai kerja
sama kaum awam dalam kerasulan Hirarki[].
Bentuk-bentuk
kerasulan itu, - entah disebut “Aksi Katolik” entah tidak, - zaman sekarang ini
menjalankan kerasulan yang sungguh berharga, dan mencantum perpaduan serta
keseluruhan ciri-ciri berikut:
a)
Tujuan
langsung organisasi-organisasi semacam itu ialah tujuan kerasulan Gereja,
yakni: untuk mewartakan Injil kepada sesama dan menguduskan mereka, serta untuk
membina suara hati mereka secara kristiani sedemikian rupa, sehingga mereka
mampu merasuki pelbagai jemaat serta berbagai lingkungan dengan semangat Injil.
b)
Para awam
bekerja sama dengan Hirarki dengan cara mereka sendiri, dan menyumbangkan
pengalaman mereka serta memikul tanggung jawab dalam memimpin
organisasi-organisasi itu, dalam mempertimbangkan situasi-situasi kegiatan
pastoral Gereja, dan dalam menjabarkanta melaksanakan program
kegiatan-kegiatan.
c)
Para awam
bertindak secara terpadu bagaikan tubuh organis, sehingga persekutuan Gereja
dilambangkan secara lebih mengena, dan kerasulan menjadi lebih subur.
d)
Para awam,
entah mereka menyediakan diri secara sukarela, atau diundang untuk menjalankan
kegiatan dan menjalin kerjasama langsung dengan kerasulan Hirarki, bertindak
dibawah kepemimpinan lebih tinggi Hirarki, yang dapat mengesahkan kerja sama
itu juga dengan suatu ketetapan eksplisit.
Organisasi-organisasi, yang menurut penilaian Hirarki memang
ditandai oleh keseluruhan ciri-ciri itu, harus dipandang sebagai “Aksi
Katolik”, meskipun karena tuntutan berbagai tempat maupun suku bangsa
bentuk-bentuk serta namanya berbeda-beda.
Konsili suci sangat menganjurkan lembaga-lembaga itu, yang
dibanyak negeri sungguh menanggapi kebutuhan-kebutuhan kerasulan Gereja.
Konsili mengajak para imam maupun awam, yang terlibat di dalamnya, untuk
semakin mewujudkan ciri-ciri tersebut di atas, dan untuk selalu bekerja sama
dengan semua bentuk kerasulan lainnya dalam Gereja dalam suasana persaudaraan.
21.
(Penghargaan
terhadap organisasi-organisasi)
Semua perserikatan kerasulan hendaknya
dihargai sebagaimana layaknya. Tetapi persekutuan-persekutuan, yang oleh
Hirarki, menurut kebutuhan-kebutuhan masa dan daerah-daerah, dipuji atau
dianjurkan, atau ditetapkan untuk didirikan karena lebih mendesak, harus paling
diutamakan oleh para imam, para religius dan kaum awam, serta dikembangkan
menurut cara mereka masing-masing. Tetapi yang sekarang ini termasuk
diantaranya terutama organisasi-organisasi atau himpunan-himpunan internasional
Umat katolik.
22.
(Kaum
awam secara istimewa berbakti kepada Gereja)
Yang dalam Gereja layak mendapat pujian dan
penghargaan istimewa yakni para awam, entah berkeluarga entah tidak, yang untuk
selamanya atau untuk sementara membaktikan diri beserta kemahiran
profesionalnya guna melayani lembaga-lembaga karya-karyanya. Bagi Gereja sangat
menggembirakan, bahwa semakin bertambahlah jumlah para awam, yang menyumbangkan
pelayanan mereka kepada perserikatan-perserikatan dan karya-karya kerasulan,
entah di negeri sendiri entah pada tingkat internasional, entah terutama di
jemaat-jemaat katolik di daerah misi dan dalam Gereja-Gereja muda.
Hendaknya
para gembala Gereja dengan senang hati dan rasa syukur menyambut para awam itu,
dan berusaha supaya kondisi-kondisi hidup mereka sedapat mungkin memenuhi
tuntutan-tuntutan keadilan, kelayakan dan cinta kasih, terutama mengenai nafkah
yang sepantasnya bagi mereka beserta keluarga mereka, pun juga supaya mereka
menerima pembinaan, dukungan rohani serta dorongan.
BAB LIMA
TATA-TERTIB YANG HARUS
DIINDAHKAN
23.
(Pendahuluan)
Kerasulan awam, yang dijalankan oleh Umat
beriman baik secara perorangan maupun secara kolektif, harus disaturagakan
dengan tepat dalam kerasulan seluruh Gereja. Bahkan hubungan dengan mereka ,
yang oleh Roh Kudus ditetapkan untuk membimbing Gereja Allah (lih. Kis 20:28),
merupakan unsur hakiki kerasulan kristiani. Tidak kurang perlulah kerja sama
antara pelbagai usaha kerasulan, yang harus diatur oleh Hirarki secara selaras.
Sebab
semangat persatuan perlu ditingkatkan, supaya diseluruh kerasulan Gereja
bersinarlah cinta kasih persaudaraan, agar tujuan-tujuan umum tercapai, dan
persaingan-persaingan yang berbahaya dihindarkan. Untuk maksud itu antara semua
bentuk kerasulan dalam gereja diperlukan sikap saling menghargai, dan – tanpa
mengurangi sifat khas masing-masing – perpaduan yang serasi[].
Itu
terutama diperlukan, bila suatu kegiatan istimewa dalam Gereja membutuhkan
keselarasan dan kerja sama kerasulan antara kedua golongan klerus, para
religius dan kaum awam.
24.
(Hubungan-hubungan
dengan Hirarki)
Hirarki wajib mendukung kerasulan awam,
menggariskan prinsip-prinsipnya dan menyediakan bantuan-bantuan rohani,
mengatur pelaksanaan kerasulan demi kesejahteraan Gereja, dan menjaga supaya
ajaran serta tata-tertib Gereja tetap di patuhi.
Adapun
kerasulan awam mengenal pelbagai cara berhubungan dengan Hirarki, sesuai dengan
pelbagai bentuk serta sasaran kerasulan itu.
Sebab
dalam gereja terdapat amat banyak usaha kerasulan, yang terwujudkan atas
pilihan bebas kaum awam, dan yang kepemimpinannya berlangsung atas
kebijaksanaan serta kearifan mereka. Berkat usaha-usaha itu perutusan Gereja di
berbagai situasi dapat terlaksana dengan lebih baik; maka tidak jarang
usaha-usaha itu di puji dan dianjurkan oleh Hirarki[].
Tetapi suatu usaha hanya boleh menggunakan nama “katolik”, bila mendapat
persetujuan pimpinan Gereja yang sah.
Berbagai
bentuk kerasulan awam dengan berbagai cara pula diakui secara eksplisit oleh
Hirarki.
Selain
itu, untuk menanggapi tuntutan-tuntutan kesejahteraan Gereja, Pimpinan Gereja
dapat memilih beberapa diantara persekutuan-persekutuan dan usaha-usaha
kerasulan yang secara langsung bertujuan rohani, secara istimewa
mengembangkannya, dan mengambil tanggung jawab khusus terhadapnya. Begitulah Hirarki dengan aneka cara mengatur
kerasulan untuk menanggapi berbagai keadaan. Bentuk-bentuk kerasulan tertentu
dihubungkannya secara lebih erat dengan tugas kerasulannya sendiri. Tetapi
hakekat kerasulan masing-masing serta perbedaan antara keduanya dipertahankan,
dan karena itu kesempatan yang diperlukan oleh kaum awam untuk bergerak secara
suka rela tidak ditiadakan. Tindakan hirarki itu dalam berbagai dokumen gereja
disebut “mandat”.
Kemudian
Hirarki juga mempercayakan kepada kaum awam berbagai tugas, yang lebih erat
berhubungan dengan tugas-tugas para
gembala, misalnya dibidang pengajaran kristiani, dalam berbagai upacara
liturgi, dalam reksa pastoral. Berdasarkan perutusan itu dalam pelaksanaan
tugas mereka para awam wajib mematuhi sepenuhnya Pimpinan Gereja yang lebih
tinggi.
Berkenaan
dengan usaha-usaha dan lembaga-lembaga yang menyelenggarakan urusan-urusan
duniawi, tugas Hirarki Gereja yakni
mengajarkan dan menafsirkan secara otentik
kaidah-kaidah moral mengenai pelaksanaan hal-hal keduniawian itu.
Merupakan wewenang Hirarki juga: dengan mempertimbangkan segalanya masak-masak
dan memanfaatkan bantuan para pakar, menilai seberapa jauh usaha-usaha dan
lembaga-lembaga semacam itu sesuai dengan kaidah-kaidah moral, serta menetapkan
mengenai semua apa yang diperlukan, untuk menjaga dan mengembangkan
harta-kekayaan adikodrati.
25.
(Bantuan
para imam bagi kerasulan awam)
Hendaklah para Uskup, pastor-pastor paroki
dan para imam lainnya, baik diosesan maupun religius, bahwa hak serta tugas
merasul sama-sama ada pada semua orang beriman baik klerus maupun awam, dan
bahwa dalam pembangunan Gereja para awam pun menjalankan peran mereka sendiri[].
Maka dari itu hendaknya mereka dalam Gereja dan demi Gereja bekerja sama secara
persaudaraan dengan kaum awam, dan secara istimewa menaruh perhatian terhadap
para awam dalam karya-karya kerasulan mereka[].
Hendaknya
dipilih dengan cermat imam-imam, yang cakap dan telah disiapkan secukupnya
untuk memberi bantuan dalam bentuk-bentuk khusus kerasulan awam[].
Adapun mereka, yang atas perutusan
yang diterima dari Hirarki menunaikan pelayanan itu, mewakilinya dalam
kegiatan pastoral mereka. Hendaklah mereka memupuk keserasian hubungan-hubungan para awam dengan Hirarki,
sambil selalu dengan setia mematuhi semangat serta ajaran Gereja. Hendaknya
mereka membaktikan diri dengan memupuk hidup rohani serta semangat merasul pada
persekutuan-persekutuan katolik yang dipercayakan kepada mereka. Hendaknya
mereka mendampingi kegiatan kerasulan himpunan-himpunan itu dengan nasehat
mereka yang bijaksana, serta mendukung usaha-usahanya. Hendaklah mereka terus
menerus bertemu wicara dengan kaum awam, dan penuh perhatian menyelidiki
manakah cara-cara, yang dapat makin menyuburkan kegiatan merasul. Hendaknya
mereka meningkatkan semangat persatuan di dalam perserikatan itu sendiri,
begitu pula antara persekutuan itu dengan persekutuan-persekutuan lainnya.
Akhirnya
hendaklah para religius, para bruder maupun suster, menghargai karya-karya
kerasulan kaum awam. Hendaknya mereka dengan senang hati membaktikan diri untuk
ikut mengembangkan kegiatan-kegiatan kaum awam menurut semangat dan
kaidah-kaidah tarekat mereka[].
Hendaknya mereka berusaha mendukung, membantu dan melengkapi tugas-tugas para
imam.
26.
(Upaya-upaya
yang berguna bagi kerja sama)
Di keuskupan-keuskupan sedapat mungkin
hendaklah terdapat panitia-panitia, untuk membantu karya kerasulan Gereja, baik
dibidang pewartaan Injil dan pengudusan, maupun bidang amal kasih, sosial dan
lain-lain; di situ para imam dan religius hendaknya dengan cara yang tepat
bekerja sama dengan para awam. Panitia-panitia itu akan dapat memantapkan
koordinasi antara pelbagai persekutuan-persekutuan serta usaha-usaha para awam,
tanpa mengurangi sifat-sifat serta otonomi masing-masing[].
Bila
mungkin panitia-panitia semacam itu hendaknya diadakan juga dilingkup paroki
atau antar-paroki, antar keuskupan, di tingkat nasional atau internasional[].
Kecuali
itu pada Takhta suci hendaknya didirikan suatu Sekretariat khusus guna melayani
dan mendorong kerasulan awam, bagaikan suatu pusat, untuk dengan upaya-upaya
yang sesuai menyajikan informasi-informasi tentang pelbagai usaha kerasulan
awam, untuk mempelajari penelitian-penelitian tentang masalah-masalah aktual
yang muncul dibidang itu, dan untuk dengan nasehat-nasehatnya mendampingi
Hirarki serta kaum awam dalam karya-karya kerasulan. Dalam sekretariat itu
hendaknya pelbagai gerakan serta usaha kerasulan awam diseluruh dunia
berperan-serta, dan para imam serta religius pun bekerja sama dengan kaum awam.
27.
(Kerja
sama dengan Umat kristen dan umat beragama lain)
Pusaka-warisan Injil bersama, dan
berdasarkan itu tugas bersama memberi kesaksian kristiani menganjurkan dan
sering pula menuntut kerja sama Umat katolik dengan Umat kristen lainnya. Kerja
sama itu harus dijalankan oleh orang-perorangan maupun oleh jemaat-jemaat,
dalam kegiatan-kegiatan pun juga dalam persekutuan-persekutuan, ditingkat
nasional maupun internasional[].
Nilai-nilai
manusiawi bersama pun tidak jarang menuntut kerja sama yang serupa antara Umat
kristiani yang mengejar tujuan-tujuan kerasulan mereka, yang tidak menyandang
nama kristiani, namun mengakui nilai-nilai itu juga.
Melalui
kerja sama yang dinamis dan bijaksana itu[],
yang besar maknanya dalam kegiatan-kegiatan duniawi, kaum awam memberi
kesaksian akan Kristus Penyelamat dunia, dan akan kesatuan keluarga manusia.
BAB ENAM
PEMBINAAN UNTUK MERASUL
28.
(Perlunya
pembinaan untuk merasul)
Kerasulan hanya dapat mencapai kesuburan
yang sepenuhnya, bila ada pembinaan yang bersifat aneka dan lengkap. Pembinaan
itu dituntut bukan saja supaya awam sendiri tetap harus berkembang dalam hidup
rohani dan pengetahuan ajaran, melainkan juga karena usaha-usahanya harus
disesuaikan dengan bermacam-macam situasi, orang-orang, dan tugas-tugas.
Pembinaan untuk kerasulan itu harus dilandasi dasar-dasar, yang oleh Konsili
suci ini telah dinyatakan dan diuraikan dalam dokumen-dokumen lain[].
Selain itu pembinaan yang diperuntukkan bagi semua orang kristiani, karena
keaneka-ragaman orang-orang dan keadaan-keadaan maka tidak sedikitlah
bentuk-bentuk kerasulan, yang memerlukan pembinaan yang khusus juga.
29.
(Dasar-dasar
pembinaan awam untuk kerasulan)
Kaum awam ikut serta menunaikan perutusan
Gereja dengan cara mereka sendiri. Maka pembinaan mereka untuk kerasulan juga
mendapat cirinya yang istimewa dari sifat sekuler (keduniaan) serta corak hidup
rohani yang khas bagi status awam.
Pembinaan
itu kerasulan mengandaikan suatu pembinaan manusiawi yang utuh dan sesuai
dengan watak-perangai serta situasi-situasi masing-masing. Sebab seorang awam,
yang mengenal dunia zaman sekarang dengan baik, harus menjadi anggota yang
sungguh berintegrasi dalam masyarakat serta kebudayaan sendiri.
Akan
tetapi seorang awam hendaknya pertama-tama belajar menjalankan perutusan
Kristus dan Gereja, dengan hidup dari iman akan misteri ilahi penciptaan dan
penebusan, lagi pula digerakkan oleh
Roh Kudus yang menghidupkan Umat Allah, dan yang mendorong semua orang untuk
mencintai Allah Bapa dan dunia serta orang-orang dalam Dia. Pembinaan itu harus
dipandang sebagai dasar dan syarat setiap kerasulan yang subur.
Kecuali
pembinaan rohani diperlukan pendidikan pengetahuan yang tangguh, yakni dibidang
teologi, etika dan filsafat, sesuai dengan usia, situasi hidup dan
bakat-kemampuan yang bermacam-macam. Lagi pula janganlah diabaikan pentingnya
tingkat hidup budaya yang umum beserta pendidikan praktis dan teknis.
Untuk
memelihara hubungan-hubungan antar-manusia yang baik perlulah nilai-nilai
sungguh manusiawi dikembangkan, terutama seni bergaul dan bekerja sama secara
persaudaraan, dan mengadakan dialog.
Tetapi,
karena pembinaan untuk kerasulan tidak dapat hanya terdiri dari pengajaran
teoritis melulu, hendaknya awam setapak demi setapak dan dengan bijaksana,
sejak awal pembinaannya, belajar memandang, menilai serta menjalankan segalanya
dalam cahaya iman, melalui kegiatannya membina serta menyempurnakan diri
bersama orang-orang lain, dan dengan demikian secara aktif memulai
pengabdiannya kepada Gereja[].
Pembinaan itu selalu disempurnakan, karena pribadi manusia semakin menjadi
dewasa dan karena perkembangan masalah-persoalan, dan menuntut mutu pengetahuan
yang semakin tinggi serta kegiatan yang menanggapi situasi. Dalam memenuhi
semua persyaratan untuk pembinaan kesatuan dan keutuhan pribadi manusia harus
selalu diperhatikan, sehingga keselarasan dan keseimbangannya tetap terjamin
dan ditingkatkan.
Demikianlah
awam secara mendalam dan penuh semangat mengintegrasikan diri ke dalam
kenyataan dunia sekarang, dan dengan tepat guna menerima perannya dalam
mengurusi perkara-perkaranya, pun sekaligus sebagai anggota yang hidup serta
saksi Gereja menghadirkan serta mengaktifkannya di pangkuan kenyataan-kenyataan
dunia ini[].
30.
(Mereka
yang wajib membina sesama untuk kerasulan)
Pembinaan untuk kerasulan harus mulai sejak
awal anak-anak. Tetapi secara istimewa hendaknya para remaja dan kaum muda
diperkenalkan dengan kerasulan, dan diresapi semangatnya. Selama hidup
pembinaan itu harus disempurnakan, sejauh tugas-tugas baru yang diterima
menuntutnya. Maka jelaslah bahwa mereka yang bertugas dalam pendidikan
kristiani juga terikat oleh kewajiban untuk memberi pembinaan bagi kerasulan.
Merupakan
tugas orang tua dalam keluarga: menyiapkan hati anak-anak mereka sejak kecil
untuk mengenali cinta kasih Allah terhadap semua orang, serta mengajar mereka
demi sedikit, terutama dengan teladan, untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan
jasmani maupun rohani sesama. Jadi seluruh keluarga dan kebersamaan hidupnya
menjadi bagaikan masa persiapan untuk kerasulan.
Disamping
itu anak-anak hendaknya dididik, supaya melampaui lingkup keluarga, dan membuka
hati bagi jemaat-jemaat gerejawi maupun masyarakat duniawi. Hendaknya mereka
ditampung dalam jemaat setempat paroki sedemikian rupa, sehingga disitu mereka
memperoleh kesadaran, bahwa mereka merupakan anggota yang hidup dan aktif Umat
Allah. Hendaklah para imam dalam katekese dan pelayanan sabda, dalam bimbingan
rohani, dan dalam pelayanan-pelayanan pastoral lainnya memperhatikan pembinaan
untuk kerasulan.
Begitu
pula merupakan tugas mereka yang berkecimpung dalam bidang pendidikan di
sekolah-sekolah, di kolese-kolese dan lembaga-lembaga katolik lainnya: memupuk
semangat katolik dan kegiatan merasul di kalangan kaum muda. Bila pembinaan itu
tidak ada, entah karena kaum muda tidak mengunjungi sekolah-sekolah itu, atau
karena sebab-sebab lain, para orangtua dan gembala jiwa, begitu pula
persekutuan-persekutuan kerasulan, hendaknya semakin mengusahakan pembinaan
itu. Adapun para guru dan para pendidik, yang karena panggilan serta tugas
mereka menjalankan bentuk kerasulan awam yang luhur, hendaknya berbekalkan
pengetahuan yang diperlukan dan kecakapan untuk mendidik, sehingga mampu
memberi pembinaan itu dengan tepat-guna.
Begitu
juga kelompok-kelompok dan persekutuan-persekutuan awam, yang mengejar tujuan
kerasulan atau tujuan-tujuan adikodrati lainnya, harus dengan sungguh-sungguh
dan terus-menerus mengembangkan pembinaan untuk kerasulan sesuai dengan tujuan
dan coraknya sendiri[].
Himpunan-himpunan itu sering merupakan jalan yang biasa untuk pembinaan yang
cocok bagi kerasulan. Sebab disitu diberi pembinaan pengetahuan, rohani dan
praktis. Para anggotanya bersama dengan teman-teman dan sahabat-sahabat mereka
dalam kelompok-kelompok kecil mempertimbangkan cara-cara dan buah hasil
usaha-usaha kerasulan mereka, dan membandingkan cara hidup mereka sehari-hari
dengan Injil.
Pembinaan semacam itu harus di atur
sedemikian rupa, sehingga seluruh kerasulan awam ikut dipertimbangkan.
Kerasulan itu harus dijalankan bukan saja diantara kelompok-kelompok dalam
persekutuan-persekutuan sendiri, tetapi juga dalam segala situasi selama hidup,
terutama dalam hidup profesional dan sosial. Bahkan setiap anggota harus dengan
tekun menyiapkan diri untuk kerasulan, dan itu lebih mendesak pada usia dewasa.
Sebab sementara umur bertambah, jiwa manusia menjadi lebih terbuka, dan dengan
demikian setiap orang dapat lebih cermat mengenali bakat-bakat, yang oleh Allah
dilimpahkan atas jiwanya; ia dapat dengan lebih subur mengamalkan
karisma-karisma, yang oleh Roh Kudus dikurniakan kepadanya demi kesejahteraan
saudara-saudaranya.
31.
(Penyesuaian
pembinaan dengan pelbagai bentuk kerasulan)
Pelbagai bentuk kerasulan secara khusus pula
menuntut pembinaan yang sesuai.
a)
Mengenai
kerasulan untuk mewartakan Injil kepada sesama dan menguduskan mereka, para
awam perlu menerima pembinaan khusus untuk mengadakan wawancara dengan
orang-orang lain, entah beriman atau tidak, untuk mengungkapkan amanat kristus
kepada semua orang[].
Adapun zaman sekarang ini materialisme dalam aneka coraknya
tersebar luas dimana-mana, juga dikalangan katolik, khususnya pokok-pokok yang
sedang diperdebatkan . Selain itu, menghadapi bentuk materialisme mana pun juga
hendaknya mereka menampilkan kesaksian hidup menurut Injil.
b)
Mengenai
pembaharuan tata-dunia sekarang ini secara kristiani, hendaknya kaum awam
diberi penyuluhan tentang makna yang sesungguhnya dan nilai-nilai duniawi, baik
dalam dirinya sendiri, maupun sehubungan dengan semua tujuan pribadi manusia.
Hendaklah mereka dilatih dalam menggunakan hal-hal itu dengan tepat, dan dalam
mengatur lembaga-lembaga, sambil selalu mengindahkan kesejahteraan umum menurut
prinsip-prinsip ajaran moral dan sosial Gereja. Terutama azas-azas ajaran
sosial serta kesimpulan-kesimpulannya hendaknya oleh awam dipelajari sedemikian
rupa, sehingga mereka menjadi cakap, baik untuk memberikan sumbangan mereka
sendiri demi pengembangan ajaran itu, maupun untuk dengan cermat menerapkannya
pada masing-masing kejadian[].
c)
Karena amal
cinta kasih dan belaskasihan menampilkan kesaksian hidup kristiani yang
cemerlang, pembinaan kerasulan juga harus mendorong untuk menjalankan amal
kasih itu. Dengan demikian Umat beriman kristiani sejak kecil belajar berbagi
duka derita dengan sesama, dan dengan kebesaran jiwa meringankan beban mereka
yang menderita kekurangan[].
32.
(Upaya-upaya
yang digunakan)
Bagi para awam yang
membaktikan diri dalam kerasulan sudah tersedia banyak upaya-upaya, yakni:
sidang-sidang, kongres-kongres, rekoleksi, latihan rohani, pertemuan yang
sering diadakan , konferensi-konferensi, buku-buku, komentar-komentar, untuk
memperdalam pengetahuan Kitab suci dan ajaran katolik, untuk memupuk hidup
rohani dan memahami situasi dunia, begitu pula untuk menemukan dan
mengembangkan metode-metode yang sesuai[].
Upaya-upaya pembinaan itu
memperhitungkan pelbagai bentuk kerasulan di lingkungan-lingkungan, tempat
kerasulan itu dijalankan.
Untuk tujuan itu telah didirikan
pusat-pusat atau lembaga-lembaga pendidikan tinggi, yang telah memperbuahkan
hasil-hasil yang amat baik.
Konsili suci ini bergembira atas
usaha-usaha semacam itu, yang dibeberapa daerah telah berkembang dengan subur,
dan menghimbau, supaya juga di tempat-tempat lain usaha-usaha dikembangkan
menurut kebutuhan.
Kecuali itu segala bidang kerasulan
hendaklah didirikan pusat-pusat dokumentasi dan studi bukan hanya di bidang
teologi, melainkan juga di bidang antropologi, psikologi, sosiologi, dan
metodologi, supaya lebih ditingkatkan lagi bakat-kemampuan kaum awam, pria
maupun wanita, kaum muda maupun kaum dewasa.
AJAKAN
33.
Maka
kepada segenap kaum awam Konsili suci dalam Tuhan menyerukan dengan sangat,
supaya mereka dengan suka rela, dengan jiwa besar, dengan hati yang siap-sedia
menanggapi sapaan Kristus, yang justru sekarang ini dengan lebih mendesak
mengundang mereka, dan supaya mereka mengikuti dorongan Roh Kudus. Hendaknya
kaum muda menyadari, bahwa panggilan itu secara istimewa ditujukan kepada
mereka, dan menyambutnya penuh kegembiraan dan dengan kebesaran jiwa. Sebab
Tuhan sendiri melalui Konsili suci ini sekali lagi mengundang semua para awam,
supaya mereka semakin erat bergabung dengan Diri-Nya, dan seraya mengenakan
pada diri mereka sendiri cita rasa yang ada pada-Nya (lih. Flp 2:5), ikut serta
menjalankan perutusan-Nya yang membawa keselamatan. Sekali lagi Tuhan mengutus
mereka ke semua kota dan tempat yang akan dikunjungi-Nya sendiri (lih. Luk
10:1). Mereka diajak untuk – melalui bermacam-macam bentuk dan cara dalam satu
kerasulan Gereja, yang tiada hentinya harus disesuaikan dengan
kebutuhan-kebutuhan zaman yang baru, - membawakan diri sebagai rekan-rekan
sekerja-Nya, selalu giat dalam karya Tuhan (lih. 1Kor 15:58).
Semua dan masing-masing
pokok, yang telah diuraikan dalam Dekrit ini, berkenan kepada para Bapa Konsili
suci. Dan Kami, atas kuasa Rasuli yang oleh Kristus diserahkan kepada kami,
dalam Roh Kudus menyetujui, memutuskan dan menetapkan itu semua bersama dengan
para Bapa yang terhormat, lagipula memerintahkan, agar segala sesuatu yang
dengan demikian telah ditetapkan dalam Konsili, dimaklumkan secara resmi demi
kemuliaan Allah.
Roma, di
gereja Santo Petrus, tanggal 18 bulan November tahun 1965.
Saya PAULUS
Uskup Gereja Katolik
(Menyusul tanda tangan para Bapa Konsili)