PAULUS USKUP
HAMBA
PARA HAMBA ALLAH
BERSAMA-BAPA-BAPA
KONSILI SUCI
DEMI
KENANGAN ABADI
KONSTITUSI
DOGMATIS TENTANG GEREJA
BAB SATU
MISTERI GEREJA
1. (Pendahuluan)
TERANG PARA BANGSALAH
Kristus itu. Maka Konsili suci ini, yang terhimpun dalam Roh Kudus, ingin
sekali menerangi semua orang dalam cahaya Kristus, yang bersinar pada wajah
Gereja, dengan mewartakan Injil kepada semua makhluk (Lih. Mrk 16:15). Namun
Gereja itu dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan
mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Maka dari itu menganut
ajaran Konsili-konsili sebelum ini, Gereja bermaksud menyatakan dengan lebih
cermat kepada umatnya yang beriman dan kepada seluruh dunia, manakah hakekat
dan perutusannya bagi semua orang. Keadaan zaman sekarang lebih mendesak Gereja
untuk menunaikan tugas secara lebih erat berkat pelbagai hubungan sosial,
teknis dan budaya, memperoleh kesatuan sepenuhnya dalam Kristus.
2. (Rencana
Bapa yang bermaksud menyelamatkan semua orang)
Atas
keputusan kebijaksanaan serta kebaikan-Nya yang sama sekali bebas dan rahasia,
Bapa yang kekal menciptakan dunia semesta. Ia menetapkan, bahwa Ia akan
mengangkat manusia untuk ikut serta menghayati hidup Ilahi. Ketika dalam diri
Adam umat manusia jatuh, Ia tidak meninggalkan mereka, melainkan selalu
membantu mereka supaya selamat, demi Kristus Penenbus, “citra Allah yang tak
kelihatan, yang sulung dari segala makluk” (Kol 1:15). Adapun semua orang, yang
sebelum segala zaman telah dipilih oleh Bapa, telah dikenal-Nya dan ditentukan-Nya
sejak semula, untuk menyerupai citra putera-Nya, supaya Dialah yang menjadi
sulung diantara banyak saudara (Rom 8:29). Bapa menetapkan untuk menghimpun
mereka yang beriman akan Kristus dalam Gereja kudus. Gereja itu sejak awal
dunia telah dipralambangkan, serta disiapkan dalam sejarah bangsa Israel dan
dalam perjanjian lama().
Gereja didirikan pada zaman terakhir, ditampilkan berkat pencurahan Roh, dan
akan disempurnakan pada akhir zaman. Dan pada saat itu seperti tercantum dalam
karya tulis para Bapa yang suci, semua orang yang benar sejar Adam, “dari Abil
yang saleh hingga orang terpilih yang terakhir”(),
akan dipersatukan dalam Gereja semesta dihadirat Bapa.
3. (Perutusan
Putera)
Maka datanglah Putera. Ia
diutus oleh Bapa, yang sebelum dunia terjadi telah memilih kita dalam Dia, dan
menentukan, bahwa kita akan diangkat-Nya menjadi putera-putera-Nya. Sebab Bapa
berkenan membaharui segala sesuatu dalam Kristus (lih Ef 1:4-5 dan 10).
Demikianlah untuk memenuhi kehendak Bapa Kristus memulai Kerajaan sorga
didunia, dan mewahyukan rahasia-Nya kepada kita, serta dengan ketaatan-Nya Ia
melaksanakan penebusan kita. Gereja, atau kerajaan Kristus yang sudah hadir
dalam misteri, atas kekuatan Allah berkembang secara nampak didunia. Permulaan
dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari
lambung Yesus yang terluka dikayu salib (lih Yoh 19:34). Itulah pula yang
diwartakan sebelumnya ketika Tuhan bersabda tentang wafat-Nya disalib: “Dan
apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku” (Yoh
12:32 yun). Setiap kali dialtar dirayakan korban salib, tempat “Anak Domba
Paska kita, yakni Kristus, telah dikorbankan” (1Kor 5:7), dilaksanakanlah karya
penebusan kita. Dengan sakramen roti Ekaristi itu sekaligus dilambangkan dan
dilaksanakan kesatuan umat beriman, yang merupakan satu tubuh dalam Kristus
(lih 1Kor 10:17). Semua orang dipanggil kearah persatuan dengan Kristus itu.
Dialah terang dunia. Kita berasal daripada-Nya, hidup karena-Nya, menuju
kepada-Nya.
4. (Roh
Kudus yang menguduskan Gereja)
Ketika
sudah selesailah karya, yang oleh Bapa dipercayakan kepada Putera untuk
dilaksanakan didunia (lih Yoh 17:4), diutuslah Roh Kudus pada hari Pentekosta,
untuk tiada hentinya menguduskan Gereja. Dengan demikian umat beriman akan
dapat mendekati Bapa melalui Kristus dalam satu Roh (lih Ef 2:18). Dialah Roh
kehidupan atau sumber air yang memancar untuk hidup kekal (lih Yoh 4:14;
7:38-39). Melalui Dia Bapa menghidupkan orang-orang yang mati karena dosa,
sampai Ia membangkitakan tubuh mereka yang fana dalam Kristus (lih Rom
8:10-11). Roh itu tinggal dalam Gereja dan dalam hati umat beriman bagaikan
dalam kenisah (lih 1Kor 3:16; 6:19). Dalam diri mereka Ia berdoa dan memberi
kesaksian tentang pengangkatan mereka menjadi putera (lih Gal 4:6; Rom 8:15-16
dan 26). Oleh Roh Gereja diantar kepada segala kebenaran (lih Yoh 16:13),
dipersatukan dalam persekutuan serta pelayanan, diperlengkapi dan dibimbing
dengan aneka kurnia hirarkis dan karismatis, serta disemarakkan dengan buah-buah-Nya
(lih Ef 4:11-12; 1Kor 12:4; Gal 5:22). Dengan kekuatan Injil Roh meremajakan
Gereja dan tiada hentinya membaharuinya, serta mengantarkannya kepada persatuan
sempurna dengan Mempelainya().
Sebab Roh dan Mepelai berkata kepada Tuhan Yesus: “Datanglah!” (lihat Why
22:17).
Demikianlah seluruh Gereja nampak sebagai
“umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus”().
5. (Kerajaan
Allah)
Misteri Gereja Kudus itu
diperlihatkan ketika didirikan. Sebab Tuhan Yesus mengawali Gereja-Nya dengan
mewartakan kabar bahagia, yakni kedatangan Kerajaan Allah yang sudah
berabad-abad lamanya dijanjikan dalam Alkitab: “Waktunya telah genap, dan
Kerajaan Allah sudah dekat” (Mrk 1:15; lih Mat 4:17). Kerajaan itu menampakkan
diri kepada orang-orang dalam sabda, karya dan kehadiran Kristus. Memang, sabda
Tuhan diibaratkan benih, yang ditaburkan diladang (lih Mrk 4:14), mereka yang
mendengarkan sabda itu dengan iman dan termasuk kawanan kecil Kristus (lih Luk
12:32), telah menerima kerajaan itu sendiri. Kemudian benih itu bertunas dan
bertumbuh atas kekuatannya sendiri hingga waktu panen (lih Mrk 4:26-29).
Mukjizat-mukjizat Yesus pun menguatkan, bahwa Kerajaan itu sudah tiba di dunia:
“Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah
sudah datang kepadamu” (Luk 11:20; lih Mat 12:28). Tetapi terutama Kerajaan itu
tampil dalam Pribadi Kristus sendiri, Putera Allah dan Putera manusia, yang
datang “untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak
orang” (Mrk 10:45).
Adapaun sesudah menanggung maut dikayu salib demi umat manusia,
kemudian bangkit, Yesus nampak ditetapkan sebagai Tuhan dan Kristus serta Iman
untuk selamanya (lih Kis 2:36; Ibr 5:6; 7:17-21). Ia mencurahkan Roh yang
dijanjikan oleh Bapa ke dalam hati para murid-Nya (lih Kis 2:33). Oleh karena
itu Gereja, yang diperlengkapi dengan kurnia-kurnia Pendirinya, dan yang dengan
setia mematuhi perintah-perintah-Nya tentang cinta kasih, kerendahan hati dan
ingkar diri, menerima perutusan untuk mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan
Allah, dan mendirikannya ditengah semua Bangsa. Gereja merupakan benih dan awal
mula Kerajaan itu didunia. Sementara itu Gereja lambat-laun berkembang,
mendambakan Kerajaan yang sempurna, dan dengan sekuat tenaga berharap dan menginginkan,
agar kelak dipersatukan dengan Rajanya dalam kemuliaan.
6. (Aneka
Gambaran Gereja)
Seperti dalam Perjanjian
Lama wahyu tentang Kerajaan sering disampaikan dalam lambang-lambang, begitu
pula sekarang makna Gereja yang mendalam, kita tangkap melalui pelbagai
gambaran. Gambaran-gambaran itu diambil entah dari alam gembala atau petani,
entah dari pembangunan ataupun dari hidup keluarga dan perkawinan. Semua itu
telah disiapkan dalam kitab-kitab para nabi.
Adapun Gereja itu kandang, dan satu-satunya pintu yang
harus dilalui ialah Kristus (lih Yoh 10:1-10). Gereja juga kawanan, yang
seperti dulu telah difirmankan akan digembalakan oleh Allah sendiri (lih Yes
40:11; Yeh 34:11 dst). Domba-dombanya, meskipun dipimpin oleh gembala-gembala
manusiawi, namun tiada hentinya dibimbing dan dipelihara oleh Kristus sendiri,
Sang Gembala Baik dan Pemimpin para gembala (bdk Yoh 10:11; 1Ptr 5:4), yang
telah merelakan hidup-Nya demi domba-domba (lih Yoh 10:11-15).
Gereja itu tanaman atau ladang Allah (lih 1Kor 3:9). Diladang
itu tumbuhlah pohon zaitun bahari, yang akar Kudusnya ialah para Bapa bangsa.
Disitu telah terlaksana dan akan terlaksanalah perdamaian antara bangsa Yahudi
dan kaum kafir (lih Rom 11:13-26). Gereja ditanam oleh Petani Sorgawi sebagai
kebun anggur terpilih (lih Mat 21:33-43 par.; Yes 5:1 dst.). Kristuslah pokok
anggur yang sejati. Dialah yang memberi hidup dan kesuburan kepada
cabang-cabang, yakni kita, yang karena Gereja tinggal dalam Dia, dan yang tidak
mampu berbuat apa pun tanpa Dia (lih Yoh 15:1-15).
Sering pula Gereja disebut bangunan Allah (lih 1Kor 3:9).
Tuhan sendiri mengibaratkan diri-Nya sebagai batu, yang dibuang oleh para
pembangun, tetapi malahan menjadi batu sendi (lih Mat 21:42 par.; Kis 4:11;
1Ptr 2:7; Mzm 117:22). Diatas dasar itulah Gereja dibangun oleh para Rasul (lih
1Kor 3:11), dan memperoleh kekuatan dan kekompakan dari pada-Nya. Bangunan itu
diberi pelbagai nama; rumah Allah (lih 1Tim 3:15), tempat tinggal keluarga-Nya;
kediaman Allah dalam Roh (lih Ef 2:19-22), kemah Allah ditengah manusia (Why
21:3), dan terutama Kenisah Kudus. Kenisah itu diperagakan sebagai
gedung-gedung ibadat dan dipuji-puji oleh para Bapa suci, Yerusalem baru().
Sebab disitulah kita bagaikan batu-batu yang hidup dibangun didunia ini (lih
1Ptr 2:5). Yohanes memandang kota suci itu, ketika pembaharuan bumi turun dari
Allah di sorga, siap sedia ibarat mempelai yang berhias bagi suaminya (Why 21:1
dsl.).
Gereja juga digelari “Yerusalem yang turun dari atas” dan “bunda
kita” (Gal 4:26; lih Why 12:17), dan dilukiskan sebagai mempelai nirmala
bagi Anak Domba yang tak bernoda (lih Why 19:7; 21:2 dan 9:22:17). Kristus
“mengasihinya dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya” (Ef
5:29). Ia memurnikan dan menghendakinya bersatu dengan diri-Nya serta patuh
kepada-Nya dalam cinta kasih dan kesetiaan (lih Ef 5:24). Akhirnya Kristus
melimpahinya dengan kurnia-kurnia sorgawi untuk selamanya, supaya kita memahami
cinta Allah dan Kristus terhadap kita, yang melampaui segala pengetahuan (lih
Ef 3:19). Adapun selama mengembara didunia ini jauh dari tuhan (lih 2Kor 5:6),
Gereja merasa diri sebagai buangan, sehingga ia mencari dan memikirkan
perkara-perkara yang diatas, tempat Kristus duduk disisi kanan Allah. Disitulah
hidup Gereja tersembunyi bersama Kristus dalam Allah, sehingga saatnya tampil
dalam kemuliaan bersama dengan Mempelainya (lih Kol 3:1-4).
7. (Gereja,
Tubuh mistik Kristus)
Dalam kodrat manusiawi
yang disatukan dengan diri-Nya Putera Allah telah mengalahkan maut dengan wafat
dan kebangkitan-Nya. Demikianlah Ia telah menebus manusia dan mengubahnya
menjadi ciptaan baru (lih Gal 6:15; 2Kor 5:17). Sebab Ia telah mengumpulkan
saudara-saudara-Nya dari sagala bangsa, dan dengan mengaruniakan Roh-Nya Ia
secara gaib membentuk mereka menjadi Tubuh-Nya.
Dalam Tubuh itu hidup Kristus dicurahkan kedalam umat beriman.
Melalui sakramen-sakramen mereka itu secara rahasia namun nyata dipersatukan
dengan Kristus yang telah menderita dan dimuliakan[].
Sebab berkat Babtis kita menjadi serupa dengan Kristus : “karena dalam satu Roh
kita semua telah dibabtis menjadi satu Tubuh” (1Kor 12:13). Dengan upacara suci
itu dilambangkan dan diwujudkan persekutuan dengan wafat dan Kebangkitan
Kristus : “Sebab oleh babtis kita telah dikuburkan bersama dengan Dia ke dalam
kematian”; tetapi bila “kita telah dijadikan satu dengan apa yang serupa dengan
wafat-Nya, kita juga akan disatukan dengan apa yang serupa dengan
kebangkitan-Nya” (Rom 6:4-5). Dalam pemecahan roti ekaristis kita secara nyata
ikut serta dalam Tubuh Tuhan; maka kita diangkat untuk bersatu dengan Dia dan
bersatu antara kita. “Karena roti adalah satu, maka kita yang banyak ini
merupakan satu Tubuh; sebab kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu
itu” (1Kor 10:17). Demikianlah kita semua dijadikan anggota Tubuh itu (lih 1Kor
12:27), “sedangkan masing-masing menjadi anggota yang seorang terhadap yang
lain” (Rom 12:5).
Adapun semua anggota tubuh manusia, biarpun banyak jumlahnya,
membentuk hanya satu Tubuh, begitu pula para beriman dalam Kristus (lih 1Kor
12:12). Juga dalam pembangunan Tubuh Kristus terhadap aneka ragam anggota dan
jabatan. Satulah Roh, yang membagikan aneka anugrah-Nya sekedar kekayaan-Nya
dan menurut kebutuhan pelayanan, supaya bermanfaat bagi Gereja (lih 1Kor
12:1-11). Diantara karunia-karunia itu rahmat para Rasul mendapat tempat
istimewa. Sebab Roh sendiri menaruh juga para pengemban karisma dibawah
kewibawaan mereka (lih 1Kor 14). Roh itu juga secara langsung menyatukan Tubuh
dengan daya-kekuatan-Nya dan melalui hubungan batin antara para anggota. Ia
menumbuhkan cinta kasih diantara umat beriman dan mendorong mereka untuk
mencintai. Maka, bila ada satu anggota yang menderita, semua anggota ikut
menderita; atau bila satu anggota dihormati, semua anggota ikut bergembira (lih
1Kor 12:26).
Kepala Tubuh itu Kristus. Ia citra Allah yang tak kelihatan, dan
dalam Dia segala-sesuatu telah diciptakan. Ia mendahului semua orang, dan
segala-galanya berada dalam Dia. Ialah Kepala Tubuh yakni Gereja. Ia pula pokok
pangkal, yang sulung dari orang mati, supaya dalam segala-sesuatu Dialah yang
utama (lih Kor 1:15-18). Dengan kekuatan-Nya yang agung Ia berdaulat atas
langit dan bumi; dan dengan kesempurnaan serta karya-Nya yang amat luhur Ia
memenuhi seluruh Tubuh dengan kekayaan kemuliaan-Nya (lih Ef 1:18-23).[]
Semua anggota harus menyerupai Kristus, sampai Ia terbentuk
dalam mereka (lih Gal 4:19). Maka dari itu kita diperkenankan memasuki
misteri-misteri hidup-Nya, disamakan dengan-Nya, ikut mati dan bangkit bersama
dengan-Nya, hingga kita ikut memerintah bersama dengan-Nya (lih Flp 3:21; 2Tim
2:11; Ef 2:6; Kol 2:12; dan lain-lain). Selama masih mengembara didunia, dan
mengikut-jejak-Nya dalam kesusahan dan penganiyaan, kita digabungkan dengan
kesengsaraan-Nya sebagai Tubuh dan Kepala; kita menderita bersama dengan-Nya,
supaya kelak ikut dimuliakan bersama dengan-Nya pula (lih Rom 8:17).
Dari Kristus “seluruh Tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi
satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya” (Kol 2:19).
Senantiasa Ia membagi-bagikan karunia-karunia pelayanan dalam Tubuh-Nya, yakni
Gereja. Berkat kekuatan-Nya, kita saling melayani dengan karunia-karunia itu
agar selamat. Demikianlah, sementara mengamalkan kebenaran dalam cinta kasih,
kita bertumbuh melalui segalanya menjadi Dia, yang menjadi Kepala kita (lih Ef
4:11-16 yun).
Supaya kita tiada hentinya diperbaharui dalam Kristus (lih Ef
4:23), Ia mengaruniakan Roh-Nya kepada kita. Roh itu satu dan sama dalam Kepala
maupun dalam para anggota-Nya dan menghidupkan, menyatukan serta menggerakkan
seluruh Tubuh sedemikian rupa, sehingga peran-Nya oleh para Bapa suci dapat
dibandingkan dengan fungsi, yang dijalankan oleh azas kehidupan atau jiwa dalam
tubuh manusia[].
Adapun Kristus mencintai Gereja sebagai Mempelai-Nya. Ia menjdi
teladan bagi suami yang mengasihi isterinya sebagai TubuhNya sendiri (lih Ef
5:25-28). Sedangkan Gereja patuh kepada Kepalanya (Ay. 23-24). “Sebab dalam Dia
tinggallah seluruh kepenuhan Allah secara badaniah” (Kol 2:9). Ia memenuhi
Gereja, yang merupakan Tubuh dan kepenuhan-Nya, dengan karunia-karunia
ilahi-Nya (lih Ef 1:22-23), supaya Gereja menuju dan mencapai segenap kepenuhan
Allah (lih Ef 3:19).
8. (Gereja
yang kelihatan dan sekaligus rohani)
Kristus, satu-satunya
Pengantara, didunia ini telah membentuk Gereja-Nya yang kudus, persekutuan
iman, harapan dan cinta kasih, sebagai himpunan yang kelihatan. Ia tiada
hentinya memelihara Gereja[].
Melalui Gereja Ia melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang. Adapun
serikat yang dilengkapi dengan jabatan hirarkis dan Tubuh mistik Kristus,
kelompok yang nampak dan persekutuan rohani, Gereja didunia dan Gereja yang
diperkaya dengan karunia-karunia sorgawi janganlah dipandang sebagai dua hal;
melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena
perpaduan unsur manusiawi dan ilahi[].
Maka berdasarkan analogi yang cukup tepat Gereja dibandingkan dengan misteri
Sabda yang menjelma. Sebab seperti kodrat yang dikenakan oleh Sabda ilahi
melayani-Nya sebagai upaya keselamatan yang hidup, satu dengan-Nya dan tak
terceraikan daripada-Nya, begitu pula himpunan sosial Gereja melayani Roh
Kristus, yang menghimpunkannya demi pertumbuhan Tubuh-Nya (lih Ef 4:16)[].
Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita
akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik[].
Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk
digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul
lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan
mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran”
(lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai
serikat, berada dalam Gereja katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan
para Uskup dalam persekutuan dengannya[],
walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan
kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan
mendorong ke arah kesatuan katolik.
Seperti Kristus melaksanakan karya penebusan dalam kemiskinan
dan penganiayaan, begitu pula Gere dipanggil untuk menempuh jalan yang sama,
supaya menyalurkan buah-buah keselamatan kepada manusia. Kristus Yesus
“walaupun dalam rupa Allah, … telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa
seorang hamba” (Flp 2:6-7). Dan demi kita Ia “menjadi miskin, meskipun Ia kaya”
(2Kor 8:9). Demikianlah Gereja, kendati memerlukan upaya-upaya manusiawi
untuk menunaikan perutusan-Nya,
didirikan bukan untuk mengejar kemuliaan duniawi, melainkan untuk
menyebarluaskan kerendahan hati dan pengikraran diri juga melalui tedanNya.
Kristus diutus oleh Bapa untuk “menyampaikan kabar baik kepada orang-orang
miskin, … untuk menyembuhkan mereka yang putus asa” (Luk 4:18), untuk “mencari
dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 19:10). Begitu pula Gereja melimpahkan
cinta kasihnya kepada semua orang yang terkena oleh kelemahan manusiawi. Bahkan
dalam mereka yang miskin dan menderita Gereja mengenali citra Pendirinya yang
miskin dan menderita, berusaha meringankan kemelaratan mereka dan bermaksud
melayani Kristus dalam diri mereka. Namun sedangkan Kristus, yang “suci, tanpa
kesalahan, tanpa noda” (Ibr 7:26), tidak mengenal dosa (lih Ibr 2:17), Gereja
merangkum pendosa-pendosa dalam pengakuannya sendiri. Gereja itu suci, dan
sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus menerus menjalankan pertobatan
dan pembaharuan.
“Dengan mengembara diantara penganiayaan dunia dan hiburan yang
diterimanya dari Allah Gereja maju”[].
Gereja mewartakan salib dan wafat Tuhan, hingga Ia datang (lih 1Kor 11:26).
Sementara itu Gereja diteguhkan oleh daya Tuhan yang telah bangkit, untuk dapat
mengatasi sengsara dan kesulitannya, baik dari dalam maupun dari luar, dengan
kesabaran dan cinta kasih, dan untuk dengan setia mewahyukan misteri Tuhan di
dunia, kendati dalam kegelapan, sampai ditampakkan pada akhir Zaman dalam
cahaya yang penuh.
BAB DUA
UMAT ALLAH
9. (Perjanjian
Baru dan Umat Baru)
Disegala zaman dan pada
semua bangsa Allah berkenan akan siapa saja yang menyegani-Nya dan mengamalkan
kebenaran (lih. Kis 10:35). Namun Allah bermaksud menguduskan dan menyelatkan
orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan yang lainnya.
Tetapi Ia hendak membentuk mereka menjadi umat, yang mengakui-Nya dalam
kebenaran dan mengabdi kepada-Nya dengan suci. Maka Ia memilih bangsa Israel
sebagai umat-Nya, mengadakan perjanjian dengan mereka, dan mendidik mereka
langkah demi langkah, dengan menampakkan diri-Nya serta rencana kehendak-Nya
dalam sejarah, dan dengan menguduskan mereka bagi diri-Nya. Tetapi itu semua
telah terjadi untuk menyiapkan dan melambangkan perjanjian baru dan sempurna,
yang akan diadakan dalam Kristus, dan demi perwahyuan lebih penuh yang akan
disampaikan melalui sabda Allah sendiri yang menjadi daging. “Sesungguhnya akan
tiba saatnya – demikianlah firman Tuhan, - Aku akan mengikat perjanjian baru
dengan keluarga Israel dan keluarga Yuda … Aku menaruh Taurat-Ku dalam batin
mereka, dan akan menulisnya dalam hati mereka, dan Aku akan menjadi Allah
mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku … Sebab semua akan mengenal aku, mulai
dari yang terkecil hingga yang terbesar – itulah firman Tuhan” (Yer 31:31-34).
Perjanjian baru itu diadakan oleh Kristus, yakni wasiat baru dalam darah-Nya
(lih. 1Kor 11:25). Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir Ia memanggil suatu
bangsa, yang akan bersatu padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh, dan
akan menjadi umat Allah yang baru. Sebab mereka yang beriman akan Kristus, yang
dilahirkan kembali bukan dari benih yang punah, melainkan dari yang tak dapat
punah karena sabda Allah yang hidup (lih. 1Ptr 1:23), bukan dari daging,
melainkan dari air dan Roh kudus (lih. Yoh 3:5-6), akhirnya dihimpun menjadi
“keturunan terpilih, imamat rajawi, bangsa suci, umat pusaka … yang dulu bukan
umat, tetapi sekarang umat Allah” (1Ptr 2:9-10).
Kepala umat masehi itu Kristus, “yang telah diserahkan karena
pelanggaran kita dan dibangkitkan demi pembenaran kita” (Rom 4:25), dan
sekarang setelah memperoleh nama – berdaulat dengan mulia di sorga. Kedudukan
umat itu ialah martabat dan kebebasan anak-anak Allah. Roh kudus diam di hati
mereka bagaikan dalam kenisah. Hukumnya perintah baru itu mencintai, seperti
Kristus sendiri telah mencintai kita (lih. Yoh 13:34). Tujuannya Kerajaan
Allah, yang oleh Allah sendiri telah dimulai di dunia, untuk selanjutnya
disebarluaskan, hingga pada akhir zaman diselesaikan oleh-Nya juga, bila
Kristus, hidup kita, menampakkan diri (lih. Kol 3:4), dan bila “makhluk sendiri
akan di merdekakan dari perbudakan kebinasaan dan memasuki kemerdekaan
kemuliaan anak-anak Allah” (Rom 8:21). Oleh karena itu umat masehi, meskipun
kenyataannya tidak merangkum semua orang, dan tak jarang nampak sebagai kawanan
kecil, namun bagi seluruh bangsa manusia merupakan benih kesatuan, harapan dan
keselamatan yang kuat. Terbentuk oleh Kristus sebagai persekutuan hidup, cinta
kasih dan kebenaran, umat itu oleh-Nya diangkat juga menjadi upaya penebusan
bagi semua orang, dan diutus keseluruh bumi sebagai cahaya dan garam dunia
(lih. Mat 5:13-16).
Adapun seperti Israel menurut daging, yang mengembara di padang
gurun, sudah di sebut Gereja (jemaat) Allah (lih. Neh 13:1; Bil 20:4; Ul 23:1
dst), begitu pula Israel baru, yang berjalan dalam masa sekarang dan mencari
kota yang tetap dimasa mendatang (lih. Ibr 13:14), juga disebut Gereja Kristus
(lih. Mat 16:18). Sebab Ia sendiri telah memperolehnya dengan darah-Nya (lih.
Kis 20:28), memenuhinya dengan Roh-Nya, dan melengkapinya dengan sarana-sarana
yang tepat untuk mewujudkan persatuan yang nampak dan bersifat sosial. Allah
memanggil untuk berhimpum mereka, yang penuh iman mengarahkan pandangan kepada
Yesus, pencipta keselamatan serta dasar kesatuan dan perdamaian. Ia membentuk
mereka menjadi Gereja, supaya bagi semua dan setiap orang menjadi sakramen
kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu().
Gereja, yang harus diperluas ke segala daerah, memasuki sejarah umat manusia,
tetapi sekaligus melampaui masa dan batas-batas para bangsa. Dalam perjalannya
menghadapi cobaan-cobaan dan kesulitan-kesulitan Gereja diteguhkan oleh daya
rahmat Allah, yang dijanjikan oleh Tuhan kepadanya. Maksudnya supaya jangan
menyimpang dari kesetiaan sempurna akibat kelemahan daging, melainkan tetap
menjadi mempelai yang pantas bai Tuhannya, dan tiada hentinya membaharui diri
dibawah gerakan Roh Kudus, sehingga kelak melalui salib mencapai cahaya yang
tak kunjung terbenam.
10. (Imamat umum)
Kristus Tuhan, Imam Agung yang dipilih
dari antara manusia (lih. Ibr 5:1-5),
menjadikan umat baru “kerajaan dan imam-imam bagi Allah dan Bapa-Nya” (Why 1:6;
lih. 5:9-10). Sebab mereka yang di babtis karena kelahiran kembali dan
pengurapan Roh Kudus disucikan menjadi kediaman rohani dan imamat suci, untuk
sebagai orang kristiani, dengan segala perbuatan mereka, mempersembahkan korban
rohani, dan untuk mewartakan daya-kekuatan Dia, yang telah memanggil mereka
dari kegelapan kedalam cahaya-Nya yang mengagumkan(lih. 1Ptr 2:4-10). Maka
hendaknya seluruh murid Kristus, yang bertekun dalam doa dan memuji Allah (lih.
Kis 2:42-47), mempersembahkan diri sebagai korban yang hidup, suci, berkenan
kepada Allah (lih. Rom 11:1). Hendaknya mereka diseluruh bumi memberi kesaksian
tentang Kristus, dan kepada mereka yang memintanya memberi pertanggung-jawaban
tentang harapan akan hidup kekal, yang ada pada mereka (lih. 1Ptr 3:15).
Adapun
imamat umum kaum beriman dan imamat jabatan atau hirarkis, kendati berbeda
hakekatnya dan bukan hanya tingkatnya, saling terarahkan. Sebab keduanya dengan
cara khasnyamasing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus).
Dengan kekuasaan kudus yang ada padanya imam pejabat membentuk dan memimpin
umat keimaman. Ia menyelenggarakan korban Ekaristi atas nama Kristus, dan
mempersembahkannya kepada Allah atas nama segenap umat. Sedangkan umat beriman
berkat imamat rajawi mereka ikut serta dalam persembahan Ekaristi).
Imamat itu mereka laksanakan dalam menyambut sakramen-sakramen, dalam berdoa
dan bersyukur, dengan memberi kesaksian hidup suci, dengan pengingkaran diri
serta cinta kasih yang aktif.
11. (Pelaksanaan imamat umum dalam
sakramen-sakramen)
Sifat suci persekutuan keimanan yang
tersusun secara organis itu diwujudkan baik dengan menerima sakramen-sakramen
maupun dengan mengamalkan keutamaan-keutamaan. Dengan babtis kaum beriman
dimasukkan ke dalam tubuh Gereja; dengan menerima meterai mereka ditugaskan untuk
menyelenggarakan ibadat agama kristiani; karena sudah dilahirkan kembali
menjadi anak-anak Allah, mereka wajib mengakui dimuka orang-orang iman, yang
telah mereka terima dari Allah melalui Gereja().
Berkat sakramen penguatan mereka terikat pada Gereja secara lebih sempurna, dan
diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa; dengan demikian mereka
semakin diwajibkan untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus
yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan().
Dengan ikut serta dalam korban Ekaristi, sumber dan puncak seluruh hidup
kristiani, mereka mempersembahkan Anak Domba ilahi dan diri sendiri bersama
dengan-Nya kepada Allah();
demikianlah semua menjalankan peranannya sendiri dalam perayaan liturgis, baik
dalam persembahan maupun dalam komuni suci, bukan dengan campur baur, melainkan
masing-masing dengan caranya sendiri. Kemudian, sesudah memperoleh kekuatan
dari Tubuh Kristus dalam perjamuan suci, mereka secara konkrit menampilkan
kesatuan Umat Allah, yang oleh sakramen mahaluhur itu dilambangkan dengan tepat
dan diwujudkan secara mengagumkan.
Mereka
yang menerima sakramen tobat memperoleh pengampunan dari belas-kasihan Allah
atas penghinaan mereka terhadap-Nya; sekaligus mereka didamaikan oleh gereja,
yang telah mereka lukai dengan berdosa, dan yang membantu pertobatan mereka
dengan cinta kasih, teladan serta doa-doanya. Melalui perminyakan suci orang
sakit dan doa para imam seluruh Gereja menyerahkan mereka yang sakit kepada
Tuhan yang bersengsara dan telah dimuliakan, supa Ia menyembuhkan dan
menyelamatkan mereka (lih. Yak 5:14-16); bahkan Gereja mendorong mereka untuk
secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus (lih. Rom
8:17; Kol 1:24; 2Tim 2:11-12; 1Ptr 4:13), dan dengan demikian mereka memberi
sumbangan bagi kesejahteraan Umat Allah. Lagi pula, mereka diantara umat
beriman yang ditandai dengan tahbisan suci, diangkat untuk atas nama Kristus
menggembalakan Gereja dengan sabda dan rahmat Allah. Akhirnya para suami-isteri
Kristiani dengan sakramen perkawinan menandakan misteri kesatuan dan cinta
kasih yang subur antara Kristus dan gereja, dan ikut serta menghayati misteri
itu (lih. Ef 5:32); atas kekuatan sakramen mereka itu dalam hidup berkeluarga
maupun dalam menerima serta mendidik anak saling membantu untuk menjadi suci;
dengan demikian dalam status hidup dan kedudukannya mereka mempunyai kurnia
yang khas ditengah Umat Allah (lih. 1Kor 7:7)().
Sebab dari persatuan suami-isteri itu tumbuhlah keluarga, tempat lahirnya
warga-warga baru masyarakat manusia, yang berkat rahmat Roh Kudus karena babtis
diangkat menjadi anak-anak Allah dari abda ke abad. Dalam Gereja-keluarga itu
hendaknya orang tua dengan perkataan maupun teladan menjadi pewarta iman
pertama bagi anak-anak mereka; orang tua wajib memelihara panggilan mereka
masing-masing, secara istimewa panggilan rohani.
Diteguhkan
dengan upaya-upaya keselamatan sebanyak dan sebesar itu, semua orang beriman,
dalam keadaan dan status manapun juga, dipanggil oleh Tuhan untuk menuju
kesucian yang sempurna seperti Bapa sendiri sempurna, masing-masing melalui
jalannya sendiri.
12. (Perasaan iman dan karisma-karisma umat
kristiani)
Umat Allah
yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus, dengan
menyebarluaskan kesaksian hidup tentang-Nya terutama melalui hidup iman dan cinta kasih, pun pula dengan
mempersembahkan kepada Allah korban pujian, buah hasil bibir yang mengakui
nama-Nya(lih. Ibr 13:15). Keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi oleh
Yang Kudus (lih 1Yoh 2:20 dan 27), tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat
mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman adikodrati
segenap umat, bila dari Uskup hingga para awam beriman yang terkecil”().
Mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara
iman dan kesusilaan. Sebab dibawah bimbingan wewenang mengajar yang suci, yang
dipatuhi dengan setia, Umat Allah sudah tidak menerima perkataan manusia lagi,
melainkan sesungguhnya menerima sabda Allah (lih 1Tes 2:13). Dengan perasaan
iman yang dibangkitkan dan dipelihara oleh Roh Kebenaran, umat tanpa menyimpang
berpegang teguh pada iman, yang sekali telah diserahkan kepada para kudus (Yud
3); dengan pengertian yang tepat semakin mendalam menyelaminya, dan semakin
penuh menerapkannya dalam hidup mereka.
Selain itu
Roh Kudus juga tidak hanya menyucikan dan membimbing Umat Allah melalui
sakramen-sakramen sarta pelayanan-pelayanan, dan menghiasnya dengan
keutamaan-keutamaan saja. Melainkan Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya
“kepada masing-masing menurut kehendak-Nya” (1Kor 12:11). Dikalangan umat dari
segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka
cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk
membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut :
“Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama”
(1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat menyolok, entah yang lebih
sederhana dan tersebar lebih luas, sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi
kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaknya diterima dengan rasa syukur dan
gembira. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu
saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk
karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu
pula tentang pengalamannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang
bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan
untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa
yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).
13. (Sifat umum dan katolik Umat Allah yang
satu)
Semua orang
dipanggil kepada Umat Allah yang baru. Maka umat itu, yang tetap satu dan
tunggal, harus disebarluaskan keseluruh dunia dan melalui segala abad, supaya
terpenuhilah rencana kehendak Allah, yang pada awal mula menciptakan satu
kodrat manusia, dan menetapkan untuk akhirnya menghimpun dan mempersatukan lagi
anak-anak-Nya yang tersebar (lih. Yoh 11:52). Sebab demi tujuan itulah Allah mengutus
Putera-Nya, yang dijadikan-Nya ahli waris alam semesta (lih. Ibr 1:2), agar Ia
menjadi Guru, Raja dan Imam bagi semua orang, Kepala umat anak-anak Allah yang
baru dan universal. Demi tujuan itu pulalah Allah mengutus Roh Putera-Nya,
Tuhan yang menghidupkan, yang bagi seluruh Gereja dan masing-masing serta
segenap orang beriman menjadi azas penghimpun dan pemersatu dalam ajaran para
rasul dan persekutuan, dalam pemecahan roti, dan doa-doa (lih. Kis 1:42 yun.).
Jadi satu
Umat Allah itu hidup ditengah segala bangsa dunia, warga Kerajaan yang tidak
bersifat duniawi melainkan sorgawi. Sebab semua orang beriman, yang tersebar
diseluruh dunia, dalam Roh Kudus berhubungan dengan anggota-anggota lain.
Demikianlah “dia yang tinggal di Roma mengakui orang-orang India sebagai
saudaranya”().
Namun karena Kerajaan Kristus bukan dari dunia ini (lih. Yoh 18:36), maka
Gereja dan Umat Allah, dengan membawa masuk Kerajaan itu, tidak mengurangi
sedikitpun kesejahteraan materiil bangsa manapun juga. Malahan sebaliknya, Gereja
memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan dan adat-istiadat
bangsa-bangsa sejauh itu baik; tetapi dengan menampungnya juga memurnikan,
menguatkan serta mengangkatnya. Sebab Gereja tetap ingat, bahwa harus ikut
mengumpulkan bersama dengan Sang Raja, yang diserahi segala bangsa sebagai
warisan (lih. Mzm 2:8), untuk mengantarkan persembahan dan upeti kedalam
kota-Nya (lih. Mzm 71/72:10; Yes 60:4-7; Why 21:24). Sifat universal, yang
menyemarakkan Umat Allah itu, merupakan kurnia Tuhan sendiri. Karenanya Gereja
yang katolik secara tepat-guna dan tiada hentinya berusaha merangkum segenap
umat manusia beserta segala harta kekayaannya dibawah kristus Kepala, dalam
kesatuan Roh-Nya().
Berkat ciri
katolik itu setiap bagian Gereja menyumbangkan kepunyaannya sendiri kepada
bagian-bagian lainnya dan kepada seluruh Gereja. Dengan demikian Gereja semesta
dan masing-masing bagiannya berkembang, karena semuanya saling berbagi dan
serentak menuju kepenuhannya dalam kesatuan. Maka dari itu umat Allah bukan
hanya dihimpun dari pelbagai bangsa, melainkan dalam dirinya sendiri pun
tersusun dari aneka golongan. Sebab diantara para anggotanya terdapat
kemacam-ragaman, entah karena jabatan, sebab ada beberapa yang menjalankan
pelayanan suci demi kesejahteraan saudara-saudara mereka, entah karena corak
dan tata-tertib kehidupan, sebab cukup banyaklah yang dalam status hidup bakti
(religius) menuju kesucian melalui jalan yang lebih sempit, yang mendorong
saudara-saudara dengan teladan mereka. Maka dalam persekutuan Gereja selayaknya
pula terdapat Gereja-Gereja khusus, yang memiliki tradisi mereka sendiri,
sedangkan tetap utuhlah primat takhta Petrus, yang mengetuai segenap
persekutuan cinta kasih(),
melindungi keanekaragam yang wajar, dan sekaligus menjaga, agar hal-hal yang
khusus jangan merugikan kesatuan, melainkan justru menguntungkannya. Maka
antara pelbagai bagian Gereja perlu ada ikatan persekutuan yang mesra mengenai
kekayaan rohani, para pekerja dalam kerasulan dan bantuan materiil. Sebab para
anggota umat Allah dipanggil untuk saling berbagi harta-benda, dan bagi
masing-masing Gereja pun berlaku amnat Rasul: “Layanilah seorang akan yang
lain, sesuai dengan kurnia yang telah diperoleh setiap orang, sebabgia pengurus
aneka rahmat Allah yang bai” (1Ptr 4:10).
Jadi kepada
kesatuan katolik Umat Allah itulah, yang melambangkan dan memajukan perdamaian
semesta, semua orang dipanggil. Mereka termasuk kesatuan itu atau terarahkan
kepadanya dengan aneka cara, baik kaum beriman katolik, umat lainnya yang
beriman akan Kristus, maupun semua orang tanpa kecuali, yang karena rahmat
Allah dipanggil kepada keselamatan.
14. (Umat beriman katolik)
Maka terutama kepada umat beriman
katoliklah Konsili suci mengarahkan perhatiannya. Berdasarkan Kitab suci dan
Tradisi konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu
untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni
Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas
menegaskan perlunya iman dan babtis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus
sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui babtis
bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu,
bahwa Gereja katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai
upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di
dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.
Dimasukkan
sepenuhnya kedalam sertifikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus,
menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang
diadakan didalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabunggkan dengan
Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para uskup, dengan
ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, sakramen-sakramen dan kepemimpinan
gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun
termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalm cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam
pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”().
Pun hendaklah semua Putera Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan
yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat
rahmat Kristus yang istimewa pula. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu
dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan,
malahan akan diadili lebih keras().
Para
calon babtis, yang karena dorongan Roh Kudus dengan jelas meminta supaya
dimasukkan kedalam Gereja, karena kemauan itu sendiri sudah tergabung padanya.
Bunda Gereja sudah memeluk mereka sebagai putera-puteranya dengan cinta kasih
dan perhatiannya.
15. (Hubungan gereja dengan orang kristen bukan
katolik)
Gereja tahu, bahwa karena banyak alasan
ia berhubungan dengan mereka, yang karena dibabtis mengemban nama kristen,
tetapi tidak mengakui ajaran iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan
persekutuan dibawah Pengganti Petrus().
Sebab memang banyaklah yang menghormati Kitab suci sebagai tolak ukur iman dan
kehidupan, menunjukkan semangat keagamaan yang sejati, penuh kasih beriman akan
Allah Bapa yang mahakuasa dan akan Kristus, Putera Allah dan Penyelamat(),
ditandai oleh babtis yang menghubungkan mereka dengan Kristus, bahkan mengakui
dan menerima sakramen-sakramen lainnya juga di Gereja-Gereja atau jemaat-jemaat
gerejani mereka sendiri. Banyak pula diantara mereka yang mempunyai
Uskup-uskup, merayakan Ekaristi suci, dan memelihara hormat bakti kepada Santa
Perawan Bunda Allah().
Selain itu ada persekutuan doa-doa dan kurnia-kurnia rohani lainnya; bahkan ada
suatu hubungan sejati dalam Roh Kudus, yang memang dengan daya pengudusan-Nya
juga berkarya diantara mereka dengan melimpahkan anugerah-anugerah serta
rahmat-rahmat-Nya, dan menguatkan beberapa dikalangan mereka hingga menumpahkan
darahnya. Demikianlah Roh membangkitkan pada semua murid Kristus keinginan dan
kegiatan, supaya semua saja dengan cara yang ditetapkan oleh Kristus secara
damai dipersatukan dalam satu kawanan dibawah satu Gembala()..
Untuk mencapai tujuan itu Bunda Gereja tiada hentinya berdoa, berharap dan
berusaha, serta mendorong para puteranya untuk memurnikan dan membaharui diri,
supaya tanda Kristus dengan lebih cemerlang bersinar pada wajah Gereja.
16. (Umat bukan-kristiani)
Akhirnya mereka yang belum menerima
Injil dengan berbagai alasan diarahkan kepada Umat Allah().
Terutama bangsa yang telah dianugerahi perjanjian dan janji-janji, serta
merupakan asal kelahiran Kristus menurut daging (lih. Rom 9:4-5), bangsa
terpilih yang amat disayangi karena para leluhur; sebab Allah tidak menyesali
kurnia-kurnia serta panggilan-Nya (lih. Rom 11:28-29). Namun rencana
keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; diantara mereka
terdapat terutama kaum muslimin, yang menyatakan bahwa mereka berpegang pada
iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan
maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat. Pun dari umat lain,
yang mencari Allah yang tak mereka kenal dalam bayangan dan gambaran, tidak
jauhlah Allah, karena Ia memberi semua kehidupan dan nafas dan segalanya (lih.
Kis 17:25-28), dan sebagai Penyelamat menhendaki keselamatan semua orang (lih.
1Tim 2:4). Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta
Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat
berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan
perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal().
Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk
keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan
yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup
yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, Gereja
dipandang sebagai persiapan Injil(),
dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh
kehidupan. Tetapi sering orang-orang, karena ditipu oleh si Jahat, jatuh ke
dalam pikiran-pikiran yang sesat, yang mengubah kebenaran Allah menjadi dusta,
dengan lebih mengabdi kepada ciptaan daripada Sang Pencipta (lih. Rom 1:21 dan
25). Atau mereka hidup dan mati tanpa Allah di dunia ini dan menghadapi bahaya
putus asa yang amat berat. Maka dari itu, dengan mengingat perintah Tuhan:
“Wartakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15), Gereja dengan
sungguh-sungguh berusaha mendukung misi-misi, untuk memajukan kemuliaan Allah
dan keselamatan semua orang itu.
17. (Sifat misioner Gereja)
Sebab seperti Putera diutus oleh Bapa,
begitu pula Ia sendiri mengutus para Rasul (lih. Yoh 20:21), sabda-Nya:
“Pergilah, ajarilah semua bangsa, dan babtislah mereka atas nama Bapa dan
Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka menaati segala-sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai
akhir zaman” (Mat 28:19-20). Perintah resmi Kristus itu mewartakan kebenaran
yang menyelamatkan itu oleh Gereja diterima dari para Rasul, dan harus
dilaksanakan sampai ujung bumi (lih. Kis 1:8). Maka Gereja mengambil alih sabda
Rasul: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” (1Kor 9:16). Maka
dari itu gereja terus-menerus mengutus para pewarta, sampai Gereja-Gereja baru
terbentuk sepenuhnya, dan mereka sendiripun melanjutkan karya pewartaan Injil.
Sebab Gereja didorong oleh Roh Kudus untuk ikut mengusahakan, agar rencana
Allah, yang menetapkan Kristus sebagai azas keselamatan bagi seluruh dunia,
terlaksana secara efektif. Dengan mewartakan Injil Gereja mengundang mereka
yang mendengarnya kepada iman dan pengakuan iman, menyiapkan mereka untuk
menerima babtis, membebaskan mereka dari perbudakan kesesatan, dan menyaturagakan
mereka kedalam Kristus, supaya karena cinta kasih mereka bertumbuh ke arah Dia
hingga kepenuhannya. Dengan usaha-usahanya Gereja menyebabkan, bahwa segala
kebaikan yang tertaburkan dalam hati serta budi orang-orang, atau dalam
upacara-upacara dan kebudayaan para bangsa sendiri, bukan saja tidak hilang,
melainkan disehatkan, diangkat dan disempurnakan demi kemuliaan Allah, demi
tersipu-sipunya setan dan kebahagiaan manusia. Setiap murid Kristus mengemban
beban untuk menyiarkan iman sekadar kemampuannya().
Setiap orang dapat membabtis orang beriman. Tetapi tugas imamlah melaksanakan
pembangunan Tubuh Kristus dengan mempersembahkan korban Ekaristi. Dengan
demikian terpenuhilah sabda Allah melalui nabi: “Dari terbitnya matahari sampai
terbenamnya besarlah nama-Ku diantara para bangsa, dan disetiap tempat
dikorbankan dan dipersembahkanlah persembahan murni kepada nama-Ku” (Mal 1:11)().
Begitulah Gereja sekaligus berdoa dan berkarya, agar kepenuhan dunia seluruhnya
beralih menjadi Umat Allah, Tubuh Tuhan dan Kenisah Roh Kudus, dan supaya dalam
Kristus, Kepala semua orang, di persembahkan kepada Sang Pencipta dan Bapa
semesta alam segala hormat dan kemuliaan.
BAB
TIGA
SUSUNAN
HIRARKIS GEREJA, KHUSUSNYA EPISKOPAT
18. (Pendahuluan)
Untuk menggembalakan dan
senantiasa mengembangkan umat Allah, Kristus Tuhan mengadakan dalam Gereja-Nya
aneka pelayanan, yang tujuannya kesejahteraan seluruh Tubuh. Sebab para
pelayan, yang mempunyai kekuasaan kudus, melayani saudara-saudara mereka,
supaya semua yang termasuk Umat Allah, dan karena itu mempunyai martabat
kristiani sejati, dengan bebas dan teratur bekerja sama untuk mencapai tujuan
tadi, dan dengan demikian mencapai keselamatan.
Mengikuti
jejak Konsili Vatikan I, Konsili suci ini mengajarkan dan menyatakan, bahwa Yesus
Kristus Gembala kekal telah mendirikan Gereja Kudus, dengan mengutus para Rasul
seperti Ia sendiri di utus oleh bapa (lih. Yoh 20:21). Para pengganti mereka
yakni para Uskup, dikehendaki-Nya untuk menjadi gembala dalam gereja-Nya hingga
akhir zaman. Namun supaya episkopat itu sendiri tetap satu dan tak terbagi, Ia
mengankat santo Petrus menjadi ketua para Rasul lainnya. Dan dalam diri Petrus
itu Ia menetapkan adanya azas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang
tetap dan kelihatan().
Ajaran tentang penetapan, kelestarian, kuasa dan arti Primat Kudus Imam Agung
di Roma maupun tentang Wewenag Mengajarnya yang tak dapat sesat, oleh Konsili
suci sekali lagi dikemukakan kepada semua orang beriman untuk diimani dengan
teguh. Dan melanjutkan apa yang sudah dimulai itu Konsili memutuskan, untuk
menyatakan dan memaklumkan dihadapan mereka semua ajaran tentangpara uskup,
pengganti para Rasul, yang beserta pengganti petrus, Wakil Kristus()
dan Kepala gereja semesta yang kelihatan, memimpin rumah Allah yang hidup.
19. (Dewan para Rasul didirikan oleh Kristus)
Setelah berdoa kepada
Bapa, Tuhan Yesus memanggil kepada-Nya mereka yang dikendaki-Nya sendiri.
Diangkat-Nya duabelas orang, untuk ikut serta dengan-Nya, dan untuk diutus
mewartakan Kerajaan Allah (lih. Mark 3:13-19; Mat 10:1-42). Para Rasul itu
(lih. Luk 6:13) di bentuk-Nya menjadi semacam dewan atau badan yang tetap.
Sebagai ketua dewan diangkat-Nya Petrus, yang dipilih dari antara mereka (lih.
Yoh 21:15-17). Ia mengutus mereka pertama-tama kepada umat Israel, kemudian
kepada semua bangsa (lih. Rom 1:16), supaya mereka, dengan mengambil bagian
dalam kekuasaan-Nya, menjadikan semua bangsa murid-murid-Nya, serta menguduskan
dan memimpin mereka (lih. Mat 28:16-20; Mrk 16:15; Luk 24:45-48; Yoh 20:21-23).
Demikianlah mereka akan menyebarluaskan Gereja, dan di bawah bimbingan Tuhan
menggembalakannya dalam pelayanan, di sepanjang masa hingga akhir jaman (lih.
Mat 28:20). Pada hari Pentekosta mereka diteguhkan sepenuhnya dalam perutusan
itu (lih. Kis 2:1-36) sesuai dengan janji Tuhan: Kamu akan menerima kuasa,
kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem
dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8). Adapun
para Rasul dimana-mana mewartakan Injil (lih. Mrk 16:20), yang berkat karya Roh
kudus diterima baik oleh mereka dan diatas Santo petrus, ketua mereka,
sedangkan Yesus Kristus sendiri menjadi batu sendinya (lih. Why 21:14; Mat
16:18; Ef 2:20)().
20. (Para Uskup pengganti para Rasul)
Perutusan ilahi, yang dipercayakan
kristus kepada para rasul itu, akan berlangsung sampai akhir zaman (lih. Mat
28:20). Sebab Injil, yang harus mereka wartakan, bagi Gereja merupakan azas
seluruh kehidupan untuk selamanya. Maka dari itu dalam himpunan yang tersusun
secara hirarkis iotu para Rasul telah berusha mengangkat para pengganti mereka.
Mereka tidak hanya mempunyai berbagai macam pembantu dalam
pelayanan().
Melainkan supaya perutusan yang dipercayakan kepada para Rasul dapat
dilanjutkan sesudah mereka meninggal, mereka menyerahkan kepada para pembantu
mereka yang terdekat – seakan-akan sebagai wasiat – tugas untuk menyempurnakan
dan meneguhkan karya yang telah mereka mulai().
Kepada mereka itu pra Rasul berpesan,
agar mereka menjaga seluruh kawanan, tempat Roh Kudus mengangkat mereka untuk
menggembalakan jemaat Allah (lih. Kis 20:28). Jadi para Rasul mengangkat
orang-orang seperti itu; dan kemudian memberi perintah, supaya bila mereka
sendiri meninggal, orang-orang lain yang terbukti baik mengambil alih pelayanan
mereka().
Diantara pelbagai pelayanan, yang sejak awal mula dijalankan dalam Gereja itu,
menurut tradisi yang mendapat tempat utama ialah tugas mereka yang diangkat
menjadi Uskup, dan yang karena pergantian yang berlangsung sejak permulaan()
membawa ranting benih rasuli().
Demikianlah menurut kesaksian S. Ireneus, melalui mereka yang oleh para Rasul
diangkat menjadi uskup serta para pengganti mereka sampai akhir zaman kita,
tradisi rasuli dinyatakan()
dan dipelihara()
diseluruh dunia.
Jadi para Uskup menerima tugas melayani jemaat bersama dengan
para pembantu mereka, yakni para imam dan diakon().
Sebagai wakil Allah mereka memimpin kawanan()
yang mereka gembalakan, sebagai guru dalam ajaran, imam dalam ibadat suci,
pelayanan dalam bimbingan().
Seperti tugas, yang oleh Tuhan secara khasdiserahkan kepada Petrus ketua para
rasul, dan harus diteruskan kepada para penggantinya, tetaplah adanya, begitu
pula tetaplah tugas para rasul menggembalakan Gereja, yang tiada hentinya harus
dilaksanakan oleh pangkat suci para Uskup().
Maka dari itu Konsili suci mengajarakan, bahwa atas penetapan ilahi para Uskup
menggantikan para Rasul()
sebagai gembala Gereja. Barang siapa mendengarkan mereka, mendengarkan Kristus;
tetapi barang siapa menolak mereka, menolak Kristus dan Dia yang mengutus
Kristus (lih. Luk 10:16)().
21. (Sakramen imamat)
Jadi dalam diri para
Uskup, yang dibantu oleh para imam, hadirlah ditengah umat beriman Tuhan Yesus
kristus, Imam Agung tertinggi. Sebab meskipun Ia duduk di sisi kanan Allah
Bapa, Ia tidak terpisahklan dari himpunan para imam agung-Nya().
Melainkan terutama melalui pengabdian mereka yang mulia Ia mewartakan sabda
Allah kepada semua bangsa, dan tiada hentinya Ia menerima sakramen-sakramen
iman kepada umat beriman. Melalui tugas kebapaan mereka (lih. 1Kor 4:15) Yesus
menyaturagakan anggota-anggota baru ke dalam tubuh-Nya karena kelahiran kembali
dari atas. Akhirnya melalui kebijaksanaan dan kearifan mereka ia membimbing dan
mengarahkan Umat Perjanjian baru dalam perjalanannya menuju kebahagiaan kekal.
Para gembala yang dipilih untuk menggembalakan kawanan Tuhan itu
pelayan-pelayan Kristus dan pembagi rahasia-rahasia Allah (lih. 1Kor 4:1).
Kepada mereka dipercayakan kesaksian akan Injil tentang rahmat Allah (lih. Rom
15:16; Kis 20:24) serta pelayanan Roh dan kebenaran dalam kemuliaan (lih. 2Kor
3:8-9).
Untuk menunaikan tugas-tugas yang semulia itu para rasul
diperkaya dengan pencurahan istimewa Roh Kudus, yang turun dari Kristus atas
diri mereka (lih. Kis 1:8; 2:4; Yoh 20:22-23). Dengan penumpangan tangan mereka
sendiri meneruskan kurnia rohani itu kepada para pembantu mereka (lih. 1Tim
4:14; 2Tim 1:6-7). Kurnia itu sampai sekarang disampaikan melalui tahbisan
Uskup().
Adapun Konsili suci mengajarkan bahwa dengan tahbisan Uskup diterimakan kepenuhan
sakramen Imamat, yakni yang dalam kebiasaan liturgi Gereja maupun melalui suara
para Bapa suci disebubt imamat tertinggi, keseluruhan pelayan suci().
Adapun dengan tahbisan (konsekrasi) Uskup diberikan tugas menyucikan, selain
itu juga tugas mengajar dan membimbing. Namun menurut hakekatnya tugas-tugas
itu hanya dapat dilaksanakan dalam persekutuan hirarkis dengan Kepala serta
para anggota Dewan. Sebab menurut tradisi, yang dinyatakan terutama dalam
upacara-upacara liturgis dan kebiasaan Gereja Timur maupun barat, cukup
jelaslah, bahwa dengan penumpangan tangan dan kata-kata tahbisan diberikan
rahmat Roh Kudus()
serta meterai suci()
sedemikian rupa, sehingga para Uskup secara mulia dqan kelihatan mengemban
peran Kristus sebagai Guru, Gembala, dan Imam Agung, dan bertindak atas
nama-Nya().
Adalah wewenang para Uskup untuk dengan sakramen tahbisan mengangkat para
terpilih baru ke dalam Dewan para Uskup.
22. (Kolegialitas Dewan para Uskup)
Seperti Santo Petrus dan
para Rasul lainnya atas penetapan Tuhan merupakan satu Dewan para Rasul, begitu
pula Imam Agung di Roma, pengganti Petrus, bersama para Rasul, merupakan
himpunan yang serupa. Adanya kebiasaan amat kuno, bahwa para Uskup di seluruh
dunia berhubungan satu dengan lainnya serta dengan Uskup di Roma dalam ikatan
kesatuan, cinta kasih dan damai(),
begitu pula adanya Konsili-konsili yang dihimpun()
untuk mengambil keputusan-keputusan bersama yang amat penting(),
sesudah ketetapan dipertimbangkan dalam musyawarah banyak orang(),
semua itu memperlihatkan sifat dan hakekat kolegial pangkat Uskup. Sifat itu
dengan jelas sekali terbukti dari Konsili-konsili Ekumenis, yang
diselenggarakan disepanjang abad-abad yang lampau. Sifat itu tercermin pula
pada kebiasaan yang berlaku sejak zaman kuno, yakni mengundang Uskup-Uskup
untuk ikut berperan dalam mengangkat orang terpilih baru bagi pelayanan imamat
agung. Seseorang menjadi anggota Dewan para Uskup dengan menerima tahbisan
sakramental dan berdasarkan persekutuan hirarkis dengan Kepala maupun para anggota
Dewan.
Adapun Dewan atau Badan para Uskup hanyalah berwibawa bila
bersatu dengan Imam Agung di Roma, pengganti Petrus, sebagai Kepalanya, dan
selama kekuasaan Primatnya terhadap semua, baik para Gembala maupun para
beriman, tetap berlaku seutuhnya. Sebab Imam Agung di Roma berdasarkan
tugasnya, yakni sebagai Wakil Kristus dan Gembala Gereja semesta, mempunyai
kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja; dan kuasa itu selalu
dapat dijalankannya dengan bebas. Sedangkan Badan para Uskup, yang menggantikan
Dewan para Rasul dan tugas mengajar dan bimbingan pastoral, bahkan yang
melestarikan Badan para Rasul, bersama dengan Imam Agung di Roma selaku
Kepalanya, dan tidak pernah tanpa Kepala itu, merupakan subjek kuasa tertinggi
dan penuh juga terhadap Gereja();
tetapi kuasa itu hanyalah dapat dijalankan dengan persetujuan Imam Agung di
Roma. Hanya Simonlah yang oleh Tuhan ditempatkan sebagai batu karang dan juru
kunci Gereja (lih. Mat 16:18-19), dan diangkat menjadi Gembala seluruh
kawanan-Nya (lih. Yoh 21:15 dsl.). Tetapi tugas mengikat dan melepaskan, yang
diserahkan kepada Petrus (lih. Mat 16:19), ternyata diberikan juga kepada Dewan
para Rasul dalam persekutuan dengan Kepalanya (lih. Mat 18:18; 28:16-20)().
Sejauh terdiri dari banyak orang, Dewan itu mengungkapkan kemacam-ragaman dan
sifat universal Umat Allah; tetapi sejauh terhimpun dibawah satu kepala,
mengungkapkan kesatuan kawanan Kristus. Dalam Dewan itu para Uskup, sementara
mengakui dengan setia kedudukan utama dan tertinggi Kepalanya, melaksanakan
kuasanya sendiri demi kesejahteraan umat beriman mereka, bahkan demi
kesejahteraan Gereja semesta; dan Roh Kudus tiada hentinya meneguhkan
tata-susunan organis serta kerukunannya. Kuasa tertinggi terhadap Gereja
seluruhnya, yang ada pada dewan itu, secara meriah dijalankan dalam Konsili
Ekumenis. Tidak pernah ada Konsili Ekumenis, yang tidak disahkan atau
sekurang-kurangnya diterima baik oleh pengganti Petrus. Adalah hak khusus Imam
Agung di Roma untuk mengundang Konsili itu, dan memimpin serta mengesahkannya().
Kuasa kolegial itu dapat juga dijalankan oleh para Uskup bersama Paus, kalau
mereka tersebar diseluruh dunia, asal saja Kepala Dewan mengundang mereka untuk
melaksanakan tindakan kolegial, atau setidak-tidaknya menyetujui atau dengan
bebas menerima kegiatan bersama para Uskup yang terpencar, sehingga
sungguh-sungguh terjadi tindakan kolegial.
23. (Uskup setempat dan Gereja universal)
Persatuan kolegial nampak
juga dalam hubungan timbal-balik antara masing-masing Uskup dan Gereja-Gereja
khusus serta Gereja semesta. Imam Agung di Roma, sebagai pengganti Petrus,
menjadi azas dan dasar yang kekal dan kelihatan bagi kesatuan para Uskup maupun
segenap kaum beriman().
Sedangkan masing-masing Uskup menjadi azas dan dasar kelihatan bagi kesatuan
dalam Gereja khususnya(),
yang terbentuk menurut citra Gereja semesta. Gereja katolik yang satu dan
tunggal berada dalam Gereja-Gereja khusus dan terhimpun daripadanya().
Maka dari itu masing-masing Uskup mewakili Gerejanya sendiri, sedangkan semua
Uskup bersama Paus mewakili seluruh Gereja dalam ikatan damai, cinta kasih dan
kesatuan.
Masing-masing Uskup, yang mengetuai Gereja khusus, menjalankan
kepemimpinan pastoralnya terhadap bagian Umat Allah yang dipercayakan
kepadanya, bukan terhadap Gereja-Gereja lain atau Gereja semesta. Tetapi
sebagai anggota Dewan para Uskup dan pengganti para Rasul yang sah mereka
masing-masing – atas penetapan dan perintah Kristus – wajib menaruh perhatian
terhadap seluruh Gereja().
Meskipun perhatian itu tidak diwujudkan melalui tindakan menurut wewenang
hukumnya, namun sangat bermanfaat bagi seluruh Gereja. Sebab semua Uskup wajib
memajukan dan melindungi kesatuan iman dan tata-tertib yang berlaku umum bagi
segenap Gereja, mendidik umat beriman untuk mencintai seluruh Tubuh Kristus
yang mistik, terutama para anggotanya yang miskin serta bersedih hati, dan
mereka yang menanggung penganiayaan demi kebenaran (lih. Mat 5:10); akhirnya
memajukan segala kegiatan, yang umum bagi seluruh Gereja, terutama agar supaya
iman berkembang dan cahaya kebenaran yang penuh terbit bagi semua orang. Memang
sudah pastilah bahwa, bila mereka membimbing dengan baik Gereja mereka sendiri
sebagai bagian Gereja semesta, mereka memberi sumbangan yang nyata bagi
kesejahteraan seluruh Tubuh mistik, yang merupakan badan Gereja-Gereja itu().
Penyelenggaraan pewartaan Injil di seluruh dunia merupakan
kewajiban badan para Gembala, yang kesemuanya bersama-sama menerima perintah
Kristus, dan dengan demikian juga mendapat tugas bersama, seperti telah
ditegaskan oleh Paus Coelestinus kepada para bapa Konsili di Efesus().
Maka masing-masing Uskup, sejauh pelaksanaan tugas mereka
sendirimengizinkannya, wajib ikut serta dalam kerja sama antara mereka sendiri
dan dengan pengganti Petrus, yang secara istimewa diserahi tugas menyiarkan
iman kristiani().
Maka untuk daerah-daerah misi mereka wajib sedapat mungkin menyediakan
pekerja-pekerja panenan, maupun bantuan-bantuan rohani dan jasmani, bukan hanya
langsung dari mereka sendiri, melainkan juga dengan membangkitkan semangat
kerjasama yang berkobar diantara umat beriman. Akhirnya hendaklah para Uskup,
dalam persekutuan semesta cinta kasih, dengan sukarela memberi bantuan
persaudaraan kepada Gereja-Gereja lain, terutama yang lebih dekat dan miskin,
menurut teladan mulia Gereja kuno.
Berkat penyelenggaraan ilahi terjadilah, bahwa pelbagai Gereja,
yang didirikan di pelbagai tempat oleh para Rasul serta para pengganti mereka,
sesudah waktu tertentu bergabung menjadi berbagai kelompok yang tersusun secara
organis. Dengan tetap mempertahankan kesatuan iman serta susunan satu-satunya
yang berasal dari Allah bagi seluruh Gereja, kelompok-kelompok itu mempunyai
tata-tertib mereka sendiri, tata-cara liturgi mereka sendiri, dan warisan
teologis serta rohani mereka sendiri().
Diantaranya ada beberapa, khususnya Gereja-Gereja patriarkal kuno, yang ibarat
ibu dalam iman, melahirkan Gereja-Gereja lain sebagai anak-anaknya.
Gereja-Gereja kuno itu sampai sekarang tetap berhubungan dengan Gereja-gereja
cabang mereka karena ikatan cinta kasih yang lebih erat dalam hidup sakramental
dan dengan saling menghormati hak-hak serta kewajiban mereka().
Keanekaragaman Gereja-Gereja setempat yang menuju kesatuan itu dengan cemerlang
memperlihatkan sifat katolik Gereja yang tak terbagi. Begitu pula konferensi-konferensi
Uskup sekarang ini dapat memberi sumbangan bermacam-macam yang berfaedah,
supaya semangat kolegial mencapai penerapannya yang kongkret.
24. (Tugas para Uskup pada umumnya)
Dari Tuhan, yang diserahi
segala kuasa di langit dan di bumui, para Uskup selaku pengganti para Rasul
menerima perutusan untuk mengajar semua suku bangsa dan mewartakan Injil kepada
segenap makhluk, supaya semua orang, karena iman, babtis dan pelaksanaan
perintah-perintah memperoleh keselamatan (lih. Mat 28:18-20; Mrk 16:15-16; Kis
26:17 dsl.). Untuk menunaikan perutusan itu, Kristus Tuhan menjanjikan Roh
Kudus kepada para Rasul, dan pada hari Pantekosta mengutus-Nya dari sorga,
supaya mereka karena kekuatan Roh menjadi saksi-saksi-Nya hingga ke ujung bumi,
dihadapan kaum kafir, para bangsa dan raja-raja (lih. Kis 1:8; 2:1; dsl; 9:15).
Adapun tugas yang oleh Tuhan diserahkan kepada para gembala umat-Nya itu,
sungguh-sungguh merupakan pengabdian, yang dalam Kitab suci dengan tepat di
sebut diakonia atau pelayanan (lih. Kis 1:17 dan 25; 21:19; Rom 11:13;
1Tim 1:12).
Para Uskup dapat menerima misi kanonik menurut
adat-kebiasaan yang sah, yang tidak di cabut oleh kuasa tertinggi dan universal
Gereja, atau sesuai dengan hukum yang oleh kewibawaan itu juga ditetapkan atau
diakui, atau secara langsung oleh pengganti Petrus sendiri. Bila beliau tidak
setuju atau tidak menerima mereka ke dalam persekutuan apostolis, para Uskup
tidak dapat diterima dalam jabatan itu().
25. (Tugas mengajar)
Diantara tugas-tugas para
Uskup pewartaan Injillah yang terpenting().
Sebab para Uskup itu pewarta iman, yang mengantarkan murid-murid baru kepada
Kristus.Mereka mengajar yang otentik, atau mengemban kewibawaan Kristus,
artinya: mewartakan kepada Umat yang
diserahkan kepada mereka iman yang harus dipercayai dan diterapkan pada
perilaku manusia. Dibawah cahaya Roh Kudus mereka menjelaskan iman dengan
mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaan Perwahyuan (lih.
Mat 13:52). Mereka membuat iman itu berubah, dan dengan waspada menanggulangi
kesesatan-kesesatan yang mengancam kawanan mereka (lih. 2Tim 4:1-4). Bila para
Uskup mengajar dalam persekutuan dengan Imam Agung di Roma, mereka harus
dihormati oleh semua sebagai saksi kebenaran ilahi dan katolik. Kaum beriman
wajib menyambut dengan baik ajaran Uskup mereka tentang iman dan kesusilaan,
yang disampaikan atas nama Kristus, dan mematuhinya dengan ketaatan hati yang
suci. Kepatuhan kehendak dan akalbudi yang suci itu secara istimewa harus
ditunjukkan terhadap wewenang mengajar otentik Imam Agung di Roma, juga bila
beliau tidak beramanat ex cathedra; yakni sedemikian rupa, sehingga
wewenang beliau yang tertinggi untuk mengajar diakui penuh hormat, dan ajaran
yang beliau kemukakan diterima setulus hati, sesuai dengan maksud dan kehendak
beliau yang nyata, yang dapat diketahui terutama atau dari sifat
dokumen-dokumen, atau karena ajaran tertentu sering beliau kemukakan, atau juga
dari cara beliau berbicara.
Biarpun Uskup masing-masing tidak mempunyai kurnia istimewa tidak
dapat sesat, namun kalau mereka – juga bila tersebar diseluruh dunia,
tetapi tetap berada dalam persekutuan antar mereka dan dengan pengganti Petrus
– dalam ajaran otentik tentang perkara iman dan kesusialaan sepakat bahwa suatu
ajaran tertentu harus diterima secara definitif, merekapun memaklumkan ajaran
Kristus tanpa dapat sesat().
Dan itu terjadi dengan lebih jelas lagi, bila mereka bersidang dalam Konsili
Ekumenis, serta bertindak sebagai guru dan hakim iman serta kesusilaan terhadap
Gereja semesta; keputusan-keputusan mereka harus diterima dengan kepatuhan iman().
Adapaun ciri tidak dapat sesat itu, yang atas kehendak
Penebus ilahi dimiliki Gereja-Nya dalam menetapkan ajaran tentang iman atau
kesusilaan, meliputi seluruh perbendaharaan Wahyu ilahi, yang harus dijagai
dengan cermat dan diuraikan dengan setia. Ciri tidak dapat sesat itu ada
pada Imam Agung di Roma, Kepala Dewan para Uskup, berdasarkan tugas beliau,
bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap Umat beriman, yang meneguhkan
saudara-saudara beliau dalam iman (lih. Luk 22:32), menetapkan ajaran tentang
iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif().
Oleh karena itu sepantasnyalah dikatakan, bahwa ketetapan-ketetapan ajaran
beliau tidak mungkin diubah dari dirinya sendiri, dan bukan karena persetujuan
Gereja. Sebab ketetapan-ketetapan itu dikemukakan dengan bantuan Roh Kudus,
yang dijanjikan kepada Gereja dalam diri Santo Petrus. Oleh karena itu tidak
membutuhkan persetujuan orang-orang lain, lagi pula tidak ada kemungkinan naik
banding kepada keputusan yang lain. Sebab disitulah Imam Agung di Roma
mengemukakan ajaran beliau bukan sebagai perorangan prive; melainkan selaku
guru tertinggi Gereja semesta, yang secara istimewa mengemban kurnia tidak
dapat sesat Gereja sendiri, beliau menjelaskan atau menjaga ajaran iman
katolik().
Sifat tidak dapat sesat yang dijanjikan kepada Gereja, ada pula pada
badan para Uskup, bila melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama
dengan pengganti Petrus. Ketetapan-ketetapan ajaran itu tidak akan pernah tidak
disetujui oleh Gereja berkat karya Roh Kudus itu juga, yang memelihara dan
memajukan seluruh kawanan Kristus dalam kesatuan iman().
Tetapi bila Imam Agung di Roma atau badan para Uskup bersama
dengan beliau menetapkan ajaran, itu mereka kemukakan sesuai dengan Wahyu
sendiri, yang harus dipegang teguh oleh semua orang yang menjadi pedoman hidup
mereka. Wahyu itu secara tertulis atau melalui tradisi secara utuh diteruskan
melalui pergantian para Uskup yang sah, dan terutama berkat usaha Imam Agung di
Roma sendiri. Berkat cahaya Roh kebenaran wahyu itu dalam Gereja dijaga dengan
cermat dan diuraikan dengan setia().
Untuk mendalaminya dengan seksama dan menyatakannya dengan tepat, Imam Agung di
Roma dan para Uskup, sesuai dengan jabatan mereka dan pentingnya perkaranya,
harus memberi perhatian sepenuhnya dan menggunakan upaya-upaya yang serasi().
Tetapi mereka tidak menerima adanya wahyu umum yang baru, yang termasuk
perbendaharaan ilahi iman().
26. (Tugas menguduskan)
Uskup
mempunyai kepenuhan sakramen Tahbisan, maka ia menjadi “pengurus rahmat imamat
tertinggi”(),
terutama dalam Ekaristi, yang dipersembahkannya sendiri atau yang
dipersembahkan atas kehendaknya(),
dan yang tiada hentinya menjadi sumber kehidupan dan pertumbuhan Gereja. Gereja
Kristus itu sungguh hadir dalam semua jemaat beriman setempat yang sah, yang
mematuhi para gembala mereka, dan dalam Perjanjian Baru disebut Gereja().
Gereja-Gereja itu ditempatnya masing-masing merupakan umat baru yang dipanggil
oleh Allah, dalam Roh Kudus dan dengan sepenuh-penuhnya (lih 1Tes 1:5). Disitu
umat beriman berhimpun karena pewartaan Injil Kristus, dan dirayakan misteri
Perjamuan Tuhan, “supaya karena Tubuh dan Darah Tuhan semua saudara perhimpunan
dihubungkan erta-erat”().
Disetiap himpunan disekitar altar, dengan pelayanan suci Uskup(),
tampillah lambang cinta kasih dan “kesatuan tubuh mistik itu, syarat mutlak
untuk keselamatan”().
Di jemaat-jemaat itu, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau tinggal
tersebar, hiduplah Kristus; dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah Gereja yang
satu, kudus, katolik dan apostolik().
Sebab “keikut-sertaan dalam tubuh dan darah Kristus tidak lain berarti berubah
menjadi apa yang kita sambut”().
Adapun semua perayaan Ekaristi yang sah
dipimpin oleh Uskup. Ia diserahi tugas mempersembahkan ibadat agama kristiani
kepada Allah yang maha agung, dan mengaturnya menurut perintah Tuhan dan hukum
Gereja, yang untuk keuskupan masih perlu diperinci menurut pandangan Uskup
sendiri.
Demikianlah para Uskup, dengan berdoa dan
bekerja bagi Umat, membagikan kepenuhan kesucian Kristus dengan pelbagai cara
dan secara melimpah. Dengan pelayanan sabda mereka menyampaikan kekuatan Allah
kepada Umat beriman demi keselamatannya (lih. Rom 1:16). Dengan
sakramen-sakramen, yang pembagiannya mereka urus dengan kewibawaan mereka
supaya teratur dan bermanfaat(),
mereka menguduskan umat beriman. Mereka mengatur penerimaan babtis, yang
memperoleh keikut-sertaan dalam imamat rajawi Kristus. Merekalah pelayan
sesungguhnya sakramen penguatan, mereka pula yang menerima tahbisan-tahbisan
suci dan mengatur dan mengurus tata-tertib pertobatan. Dengan saksama mereka
mendorong dan mendidik Umat, supaya dengan iman dan hormat menunaikan perannya
dalam liturgi, dan terutama dalam korban kudus misa. Akhirnya mereka wajib
membantu umat yang mereka pimpin dengan teladan hidup mereka, yakni dengan
mengendalikan perilaku mereka dan menjauhkan dari segala cela, dan – sedapat
mungkin, dengan pertolongan Tuhan – mengubahnya menjadi baik. Dengan demikian
mereka akan mencapai hidup kekal, bersama dengan kawanan yang dipercayakan
kepada mereka().
27.(Tugas
menggembalakan)
Para
Uskup membimbing Gereja-Gereja khusus yang dipercayakan kepada mereka sebagai
wakil dan utusan Kristus(),
dengan petunjuk-petunjuk, nasehat-nasehat dan teladan mereka, tetapi juga
dengan kewibawaan dan kuasa suci. Kuasa itu hanyalah mereka gunakan untuk
membangun kawanan mereka dalam kebenaran dan kesucian, dengan mengingat bahwa
yang terbesar hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai
pelayan (lih. Luk 22:26-27). Kuasa, yang mereka jalankan sendiri atas nama
Kristus itu, bersifat pribadi, biasa dan langsung, walaupun penggunaannya
akhirnya diatur oleh kewibawaan tertinggi Gereja, dan dapat diketahui
batasan-batasan tertentu, demi faedahnya bagi Gereja atau Umat beriman. Berkat
kuasa itu para Uskup mempunyai hak suci dan kewajiban dihadapan Tuhan untuk
menyusun undang-undang bagi bawahan mereka, untuk bertindak sebagai hakim, dan
untuk mengatur segala-sesuatu, yang termasuk ibadat dan kerasulan.
Secara penuh mereka diserahi tugas
kegembalaan, atau pemeliharaan biasa dan sehari-hari terhadap kawanan mereka.
Mereka itu jangan dianggap sebagai wakil Imam Agung di Roma, sebab mereka
mengemban kuasa mereka sendiri, dan dalam arti yang sesungguhnya disebut
pembesar umat yang mereka bimbing().
Maka kuasa mereka tidak dihapus oleh kuasa tertinggi dan universal, melainkan
justru ditegaskan, diteguhkan dan dipertahankan().
Sebab Roh Kudus memelihara secara utuh bentuk pemerintahan yang ditetapkan oleh
Kristus Tuhan dalam Gereja-Nya.
Uskup diutus oleh Bapa-keluarga untuk
memimp[in keluarga-Nya. Maka hendaknya ia mengingat teladan Gembala Baik, yang
datang tidak untuk dilayani melainkan untuk melayani (lih. Mat 20:28; Mrk
10:45), dan menyerahkan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya (lih. Yoh 10:11). Ia
diambil dari manusia dan merasa lemah sendiri. Maka ia dapat memahami mereka
yang tidak tahu dan sesat (lih. Ibr 5:1-2). Hendaklah ia selalu bersedia
mendengarkan bawahannya, yang dikasihinya sebagai anak-anaknya sendiri dan
diajaknya untuk dengan gembira bekerja sama dengannya. Ia kelak akan memberikan
pertanggunjawaban atas jiwa-jiwa mereka dihadapan Allah (lih. Ibr 13:17). Maka
hendaklah ia dalam doa, pewartaan dan segala macam amal cinta kasih memperhatikan
mereka maupun orang-orang, yang telah dipercayakan kepadanya dalam Tuhan.
Seperti Rasul Paulus ia berhutang kepada semua. Maka hendaklah ia bersedia
mewartakan Injil kepada semua orang (lih. Rom 1:14-15), dan mendorong Umatnya
yang beriman untuk ikut serta dalam kegiatan kerasulan dan misi. Adapun kaum
beriman wajib patuh terhadap uskup, seperti Gereja terhadap Yesus Kristus, dan
seperti Yesus Kristus terhadap Bapa. Demikianlah semua akan sehati karena
bersatu(), dan
melimpah rasa syukurnya demi kemuliaan Allah (lih. 2Kor 4:15).
28. (Para imam biasa)
Kristus,
yang dikuduskan oleh Bapa dan diutus ke dunia (lih. Yoh 10:36), melalui para
Rasul-Nya mengikut-sertakan para pengganti mereka, yakni Uskup-Uskup, dalam
kekudusan dan perutusan-Nya().
Para Uskup yang sah menyerahkan tugas pelayanan mereka kepada pelbagai orang
dalam Gereja dalam tingkat yang berbeda-beda. Demikianlah pelayanan gerejani
yang di tetapkan oleh Allah dijalankan dalam berbagai pangkat oleh mereka, yang
sejak kuno di sebut Uskup, Iman dan Diakon().
Para imam tidak menerima puncak imamat, dan dalam melaksanakan kuasa mereka
tergantung dari para Uskup. Namun mereka sama-sama imam seperti para Uskup(),
dan berdasarkan sakramen Tahbisan()
mereka ditahbiskan menurut citra Kristus, Imam Agung yang abadi (lih. Ibr
5:1-10; 7:24; 9:11-28), untuk mewartakan Injil serta menggembalakan Umat
beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi, sebagai imam sejati Perjanjian Baru().
Mereka ikut serta dalam tugas Kristus Pengantara tunggal (lih 1Tim 2:5) pada
tingkat pelayanan mereka, dan mewartakan sabda ilahi pada semua orang. Tetapi
tugas suci mereka terutama mereka laksanakan dalam ibadat Ekaristi atau synaxys.
Di situ mereka bertindak atas nama Kristus(),
dan dengan memaklumkan misteri-Nya mereka menggabungkan doa-doa Umat beriman
dengan korban Kepala mereka. Dalam korban Misa mereka menghadirkan serta
menerapkan()
satu-satunya korban Perjanjian Baru, yakni korban Kristus, yang satu kali
mempersembahkan diri kepada Bapa sebagai korban tak bernoda (lih. Ibr 9:11-28),
hingga kedatangan Tuhan (lih. 1Kor 11:26). Bagi kaum beriman yang bertobat atau
sedang sakit mereka menjalankan pelayanan amat penting, yakni pelayanan
pendamaian dan peringatan, serta mereka mengantarkan kebutuhan-kebutuhan dan
doa kaum beriman kepada Allah Bapa (lih. Ibr 5:1-3). Dengan menunaikan tugas
Kristus selaku Gembala dan Kepala menurut tingkat kewibawaan mereka(),
mereka menghimpun keluarga Allah sebagai rukun persaudaraan yang berjiwa
kesatuan(),
dan dalam Roh menghantarkannya kepada Allah Bapa melalui Kristus. Ditengah
kawanan mereka bersujud kepada-Nya dalam Roh dan kebenaran (lih. Yoh 4:24).
Akhirnya, mereka berjerih-payah dalam pewartaan sabda dan pengajaran (lih. 1Tim
5:17), sambil mengimani apa yang dalam renungan mereka baca dalam hukum Tuhan;
sambil mengajarkan apa yang mereka imani, dan menghayati apa yang mereka
ajarkan().
Sebagai
pembantu yang arif badan para Uskup(),
sebagai penolong dan organ mereka, para imam dipanggil untuk melayani Umat
Allah. Bersama uskup mereka imam-imam merupakan satu presbiterium (dewan
imam)(),
NAMUN DIBEBANI PELBAGAI TUGAS. Dimasing-masing jemaat setempat, mereka dalam
arti tertentu menghadirkan Uskup, yang mereka dukung dengan semangat percaya
dan kebesaran hati. Sesuai dengan bagian mereka, mereka ikut mengemban tugas
serta keprihatinan Uskup dan ikut menunaikannya dengan ketekunan setiap hari.
Dibawah kewibawaan Uskup para imam menguduskan dan membimbing bagian kawanan
Tuhan yang di serahkan kepada mereka. Mereka menampilkan Gereja semesta di
tempat mereka, dan mereka memberi sumbangan sungguh berarti dalam membangun
seluruh tubuh Kristus (lih. Ef 4:12). Sambil selalu memperhatikan kesejahteraan
anak-anak Allah, mereka hendaknya mendukung karya pastoral seluruh keuskupan,
bahkan seluruh Gereja. Karena keterlibatan mereka dalam imamat dan perutusan
itu hendaklah para imam memandang Uskup sebagai bapa mereka, dan mematuhinya
penuh hormat. Sedangkan Uskup hendaknya memandang para imam, rekan-rekan
sekerjanya, sebagai putera dan sahabat, seperti Kristus sudah tidak menyebut
para murid-Nya hamba lagi, melainkan sahabat (lih. Yoh 15:15). Jadi berdasarkan
Tahbisan dan pelayanan, semua imam, baik diosesan maupun religius, digabungkan
dengan badan para Uskup, dan sesuai dengan panggilan serta rahmat yang mereka
terima mengabdi kepada kesejahteraan segenap Gereja.
Oleh karena tahbisan suci dan perutusan
bersama, semua imam saling berhubungan dalam persaudaraan yang akrab.
Persaudaraan itu dengan iklas dan rela hati akan tampil dalam saling memberi bantuan,
baik rohani maupun jasmani, di bidang pastoral maupun pribadi, dalam
pertemuan-pertemuan maupun dalam persekutuan hidup, karya dan cinta kasih.
Hendaklah mereka sebagai bapa dalam Kristus
memelihara kaum beriman, yang mereka lahirkan secara rohani dengan Babtis dan
pengajaran (lih. 1Kor 4:15; 1Ptr 1:23). Hendaklah mereka penuh semangat menjadi
teladan bagi kawanan mereka (lih. 1Ptr 5:3), dan mengetuai serta melayani
jemaat setempat mereka sedemikian rupa, sehingga jemaat itu layak dapat di
sebut dengan nama, yang menjadi lambang kehormatan bagi satu Umat Allah
seluruhnya, yakni Gereja Allah (lih. 1Kor 1:2; 2Kor 1:1; dan di tempat-tempat
lain). Hendaklah mereka menyadari, bahwa dengan perilaku serta
kesibukan-kesibukan mereka sehari-hari mereka harus memperlihatkan citra
pelayanan imam dan pastoral yang sejati, kepada kaum beriman maupun tak
beriman, kepada Umat katolik maupun bukan katolik, dan wjib memberikan
kesaksian kebenaran dan hidup kepada semua orang. Hendaklah mereka sebagai
gembala baik juga mencari mereka (lih. Luk 15:4-7), yang memang di babtis dalam
Gereja katolik, tetapi tidak lagi menerima sakramen-sakramen, bahkan telah
meninggalkan iman.
Karena sekarang ini umat manusia semakin
merupakan kesatuan dibidang kenegaraan, ekonomi dan sosial, maka semakin perlu
pulalah para imam bersatu padu dalam segala usaha dan karya dibawah bimbingan
para Uskup dan Imam Agung Tertinggi. Hendaklah mereka menyingkirkan apa saja
yang menimbulkan perpecahan, supaya segenap umat manusia dibawa ke dalam kesatuan
keluarga Allah.
29. (Para diakon)
Pada
tingkat hirarki yang lebih rendah terdapat para Diakon, yang ditumpangi tangan
“bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan”().
Sebab dengan diteguhkan rahmat sakramental mereka mengabdikan diri kepada Umat
Allah dalam perayaan liturgi, sabda dan amal kasih, dalam persekutuan dengan
Uskup dan para imamnya. Adapun tugas diakon, sejauh dipercayakan kepadanya oleh
kewibawaan yang berwenang, yakni: menerimakan Babtis secara meriah, menyimpan dan membagikan Ekaristi, atas nama
Gereja menjadi saksi perkawinan dan memberkatinya, mengantarkan Komuni suci terakhir kepada orang yang
mendekati ajalnya, membacakan Kitab suci kepada kaum beriman, mengajar dan
menasehati Umat, memimpin ibadat dan doa kaum beriman, menerimakan
sakramen-sakramentali, memimpin upacara jenazah dan pemakaman. Sambil
membaktikan diri kepada tugas-tugas cinta kasih dan administrasi, hendaklah
para diakon mengingat nasehat Santo Polikarpus: “Hendaknya mereka selalu
bertindak penuh belaskasihan dan rajin, sesuai dengan kebenaran Tuhan, yang
telah menjadi hamba semua orang”().
Namun karena tugas-tugas yang bagi
kehidupan Gereja sangat penting itu menurut tata-tertib yang sekarang berlaku
di Gereja latin di pelbagai daerah sulit dapat dijalankan, maka dimasa
mendatang Diakonat dapat diadakan lagi sebagai tingkat hirarki tersendiri dan
tetap. Adalah tugas berbagai macam konferensi Uskup setempat yang berwewenang,
untuk menetapkan dengan persetujuan Imam Agung Tertinggi sendiri, apakah dan
dimanakah sebaiknya diangkat diakon-diakon seperti itu demi pemeliharaan
jiwa.jiwa. Dengan ijin Imam Agung di Roma diakonat itu dapat diterimakan kepada
pria yang sudah lebih masak usianya, juga yang berkeluarga; pun juga kepada
pemuda yang cakap tetapi bagi mereka ini hukum selibat harus dipertahankan.
BAB EMPAT
PARA AWAM
30.(Prakata)
Seusai
menguraikan tugas hirarki, Konsili suci dengan rela mengarahkan
perhatiannyakepada status kaum beriman kristiani yang disebut awam. Segala
sesuatu, yang telah dikatakan tentang Umat Allah, sama-sama dimaksudkan bagi
kaum awam, pria maupun wanita, mengingat kedudukan dan perutusan mereka. Karena
situasi khas seperti zaman kita sekarang hal-hal itu perlu diselidiki
azas-azasnya secara lebih mendalam. Sebab para Gembala Gereja betul-betul
memahami, betapa besar sumbangan kaum awam bagi kesejahteraan seluruh Gereja.
Para Gembala mengetahui bahwa mereka diangkat oleh Kristus bukan untuk
mengemban sendiri seluruh misi penyelamatan Gereja di dunia. Melainkan tugas
mereka yang mulia yakni: menggembalakan Umat beriman dan mengakui
pelayanan-pelayanan serta kurnia-kurnia (karisma) mereka sedemikian rupa
sehingga semua saja dengan cara mereka sendiri sehati-sejiwa bekerja sama untuk
mendukung karya bersama. Sebab mereka semua wajib “menjalankan kebenaran dalam
cinta kasih, dan dalam segalanya bertumbuh dalam Kristus, yakni Kepala kita:
dari pada-Nya bertumbuhlah seluruh tubuh, guna membangun diri dalam cinta
kasih, dipersatukan dan di hubungkan dengan segala macam sendi-sendi, yang
harus melayani keseluruhannya sekedar pekerjaan yang sesuai dengan tenaga
masing-masing anggota” (Ef 4:15-16).
31.(Apa
yang dimaksud dengan istilah “awam”)
Yang
dimaksud dengan istilah awam disini ialah semua orang beriman kristiani kecuali
mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam
Gereja. Jadi kaum beriman kristiani, yang berkat Babtis telah menjadi anggota
Tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut
mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, dan dengan demikian sesuai
dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap Umat kristiani dalam
Gereja dan di dunia.
Ciri khas dan istimewa kaum awam yakni
sifat keduniaannya.Sebab mereka yang termasuk golongan imam, meskipun
kadang-kadang memang dapat berkecimpung dalam urusan-urusan keduniaan, juga
dengan mengamalakan profesi keduniaan, berdasarkan panggilan khusus dan tugas
mereka terutama diperuntukkan bagi pelayanan suci. Sedangkan para religius
dengan status hidup mereka memberi kesaksian yang cemerlang dan luhur, bahwa
dunia tidak dapat diubah dan
dipersembahkan kepada Allah, tanpa semangat Sabda bahagia. Berdasarkan
panggilan mereka yang khas, kaum awam wajib mencari kerajaan Allah, dengan
mengurusi hal-hal yang fana dan mengaturnya seturut kehendak Allah. Mereka
hidup dalam dunia, artinya: menjalankan segala macam tugas dan pekerjaan
duniawi, dan berada ditengah kenyataan biasa hidup berkeluarga dan sosial.
Hidup mereka kurang lebih terjalin dengan itu semua. Di situlah mereka
dipanggil oleh Allah, untuk menunaikan tugas mereka sendiri dengan dijiwai
semangat Injil, dan dengan demikian ibarat ragi membawa sumbangan mereka demi
pengudusan dunia bagaikan dari dalam. Begitulah mereka memancarkan iman,
harapan dan cinta kasih terutama dengan kesaksian hidup mereka, serta
menampakkan Kristus kepada sesama. Jadi tugas mereka yang istimewa yakni:
menyinari dan mengatur semua hal-hal fana, yang erat-erat melibatkan mereka,
sedemikian rupa, sehingga itu semua selalu terlaksana dan berkembang menurut
kehendak Kristus, demi kemiliaan Sang Pencipta dan Penebus.
32.(Martabat
kaum awam sebagai anggota Umat Allah)
Atas
penetapan ilahi Gereja kudus diatur dan dipimpin dengan keanekaragaman yang
mengagumkan. “Sebab seperti kita dalam satu tubuh mempunyai banyak anggota, tetapi
tidak semua anggota mempunyai tugas yang sama: begitu pula kita yang banyak ini
merupakan satu tubuh dalam Kristus, sedangkan kita masing-masing merupakan
anggota yang seorang terhadap yang lain” (Rom 12:4-5).
Jadi satulah Umat Allah yang terpilih: satu
Tuhan, “satu iman, satu Babtis” (Ef 4:5). Samalah martabat para anggota karena
kelahiran mereka kembali dalam Kristus; sama rahmat para putera; sama pula
panggilan kepada kesempurnaan; satu keselamatan, satu harapan dan tak
terbagilah cinta kasih. Jadi dalam kristus dan dalam Gereja tidak ada perbedaan
karena suku atau bangsa, karena kondisi sosial atau jenis kelamin. Sebab “tidak
ada Yahudi atau Yunani: tidak ada budak atau orang merdeka: tidak ada pria atau
wanita. Sebab kamu semua itu ‘satu’ dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28 yun; lih.
Kol 3:11).
Maka kendati dalam Gereja tidak semua
menempuh jalan yang semua jalan yang sama, namun semua dipanggil dalam
kesucian, dan menerima iman yang sama dalam kebenaran Allah (lih 2Ptr 1:1).
Meskipuan ada yang atas kehendak Kristus diangkat menjadi guru, pembagi
misteri-misteri dan gembala bagi sesam, namun semua toh sungguh-sungguh
sederajat martabatnya, sederajat pula kegiatan yang umum bagi semua orang
beriman dalam membangun Tubuh Kristus. Sebab pembedaan yang diadakan Tuhan
antara lain para pelayan yang ditahbiskan dan para anggota Umat Allah yang
lain, membawa serta suatu hubungan, sebab para gembala dan orang-orang beriman
lainnya saling terikat karena kebutuhan mereka bersama. Dengan menganut teladan
Tuhan, para Gembala Gereja saling mengabdi dan melayani Umat beriman lainnya.
Sedangkan kaum beriman dengan suka hati bekerja sama dengan para Gembala dan
guru mereka. Begitulah dengan aneka cara semua memberi kesaksian tentang
kesatuan yang mengagumkan dalam Tubuh Kristus: sebab keanekaan rahmat,
pelayanan dan kegiatan manghimpun para anak Allah menjadi satu, sebab “semua
itu dikerjakan oleh Roh yang satu dan sama” (1Kor 12:11).
Berkat kerahiman Allah para awam
bersaudarakan Kristus, yang sungguhpun Ia Tuhan segala sesuatu – telah datang
tidak untuk dilayani melainkan untuk melayani (lih Mat 20:28). Begitu pula kaum
awam bersaudarakan mereka, yang diangkat kedalam pelayanan suci, dan dengan
mengajar, menguduskan serta membimbing dengan kewibawaan Kristus menggembalakan
keluarga Allah sedemikian rupa, sehingga perintah baru tentang cinta kasih
dilaksanakan oleh semua.Perihal itu bagus sekali dikatakan oleh S. Agustinus :
“Bila saya merasa takut karena saya ini untuk kamu, saya merasa terhibur karena
saya bersama kamu. Sebab bagi kamu saya ini uskup, bersama kamu saya orang krisstiani. Uskup itu nama jabatan,
kristiani nama rahmat; yang pertama merupakan resiko, yang lain keselamatan”().
33. (Hidup kaum awam berhubung dengan
keselamatan dan kerasulan)
Semua
para awam, yang terhimpun dalam Umat Allah dan berada dalam satu Tubuh Kristus
di bawah satu kepala, tanpa kecuali dipanggil untuk sebagai anggota yang hidup
menyumbangkan segenap tenaga, yang mereka terima berkat kebaikan Sang Pencipta
dan rahmat Sang Penebus demi perkembangan Gereja serta pengudusannya terus
menerus.
Adapun kerasulan kaum awam itu
keikut-sertaan dalam perutusan keselamatan Gereja sendiri. Dengan babtis dan
penguatan semua ditugaskan oleh Tuhan sendiri untuk kerasulan itu. Dengan
sakramen-sakramen, terutama Ekaristi suci, diberikan dan dipelihara cinta kasih
terhadap Allah dan manusia, yang menjiwai seluruh kerasulan. Tetapi kaum awam
khususnya dipanggil untuk menghadirkan dan mengaktifkan Gereja di daerah-daerah
dan keadaan-keadaan, tempat Gereja tidak dapat menggarami dunia selain berkat
jasa mereka().
Demikianlah setiap orang awam, karena kurnia-kurnia yang diterimanya, menjadi
saksi dan sarana hidup perutusan Gereja sendiri “menurut ukuran anugerah
Kristus” (Ef 4:7).
Selain kerasulan yang merupakan kewajiban
semua orang beriman kristiani tanpa
kecuali itu, kaum awam juga dapat dipanggil dengan aneka cara untuk bekerja
sama secara lebih langsung dengan kerasulan Hirarki(),
menyerupai pria-pria dan wanita-wanita, yang membantu Rasul paulus dalam
pewartaan Injil dengan banyak berjerih-payah dalam Tuhan (lih. Flp 4:3; Rom
16:3 dsl.). Disamping itu mereka cakap juga untuk diangkat oleh Hirarki, guna
menunaikan berbagai tugas gerejani demi tujuan rohani.
Jadi semua orang awam mengemban kewajiban
mulia untuk berusaha, supaya rencana keselamatan ilahi semakin mencapai semua
orang di segala zaman dan dimana-mana. Oleh karena itu hendaklah dengan cara
manapun juga terbuka jalan bagi mereka, supaya mereka sendiri sekadar kemampuan
mereka dan sesuai dengan kebutuhan zaman – dengan giat ikut serta melaksanakan
karya keselamatan Gereja.
34.(Keikut-sertaan
kaum awam dalam imamat umum dan ibadat)
Imam
Tertinggi dan Abadi Kristus Yesus bermaksud melangsungkan kesaksian dan
palayanan-Nya melalui kaum awam juga. Maka oleh Roh-Nya Ia tiada hentinya
menghidupkan dan mendorong mereka untuk menjalankan segala karya yang baik dan
sempurna.
Sebab mereka, yang erat-erat disatukan-Nya
dengan hidup dan perutusan-Nya, juga diikutsertakan-Nya dalam tugas imamat-Nya
untuk melaksanakan ibadat rohani, supaya Allah dimuliakan dan umat manusia
diselamatkan. Oleh karena itu para awam, sebagai orang yang menyerahkan diri
kepada Kristus dan diurapi dengan Roh Kudus, secara ajaib dipanggil dan
disiapkan, supaya secara makin melimpah menghasilkan buah-buah Roh dalam diri
mereka. Sebab semua karya, doa-doa dan usaha kerasulan mereka, hidup mereka selaku suami-isteri dan dalam
keluarga, jerih-payah mereka sehari-hari, istirahat bagi jiwa dan badan mereka,
bila dijalankan dalam Roh, bahkan beban-beban hidup bila ditanggung dengan
sabar, menjadi korban rohani, yang dengan perantaraan Yesus Kristus berkenan
kepada Allah (lih. 1Ptr 2:5). Korban itu dalam perayaan Ekaristi, bersama
dengan persembahan Tubuh Tuhan, penuh khidmat dipersembahkan kepada Bapa.
Demikianlah para awam pun juga sebagai penyembah Allah, yang dimana-mana hidup
dengan uci, membaktikan dunia kepada Allah.
35. (Keikut-sertaan kaum awam dalam tugas
kenabian Kristus)
Kristus
Nabi Agung telah memaklumkan Kerajaan Bapa dengan kesaksian hidup maupun
kekuatan sabda-Nya. Ia menunaikan tugas kenabian-Nya hingga penampakan
kemuliaan sepenuhnya bukan saja melalui Hirarki yang mengajar atas nama dan
dengan kewibawaan-Nya, malainkan juga melalui para awam. Karena itulah awam
diangkat-Nya menjadi saksi dan dibekali-Nya
dengan perasaan iman dan rahmat sabda (lih. Kis 2:17-18; Why 19:10),
supaya kekuatan Injil bersinar dalam hidup sehari-hari, dalam keluarga maupun
masyarakat. Mereka membawakan diri sebagai pengemban janji-janji, bila dengan keteguhan
iman dan harapan menggunakan waktu sekarang dengan tepat (lih. Ef 5:16; Kol
4:5), dan mendambakan dengan dengan sabar kemuliaan yang akan datang (lih. Rom
8:25). Namun harapan itu janganlah mereka sembunyikan dilubuk hati. Hendaklah
itu mereka ungkapkan dengan pertobatan tiada hentinya dan dengan perjuangan
“melawan para penguasa dunia kegelapan, menentang roh-roh jahat” (Ef 6:12),
juga melalui struktur-struktur hidup duniawi.
Sakramen-sakramen Hukum Baru, yang
memelihara hidup dan kerasulan kaum beriman, melambangkan sorga baru dan dunia
baru (lih. Why 21:1). Begitu pula para awam menjadi bentara yang tangguh,
pewarta iman akan hal-hal yang diharapkan (lih. Ibr 11:1), bila mereka tanpa
ragu-ragu memadukan pengakuan iman dengan penghayatan iman. Penyiaran Injil
itu, yakni pewartaan Kristus, yang disampaikan dengan kesaksian hidup dan
kata-kata, memperoleh ciri yang khas dan daya-guna yang istimewa justru karena
dijalankan dalam keadaan-keadaan biasa dunia ini.
Dalam
tugas itu nampak sangat berharga status kehidupan yang dikuduskan dengan sakramen khusus, yakni hidup
perkawinan dan berkeluarga. Di sini terdapat latihan dan pendidikan yang sangat
baik bagi kerasulan awam, bila agama kristiani merasuki dan makin mengubah
seluruh tata-susunan kehidupan. Di situ suami-isteri mempunyai panggilan mereka
sendiri, yakni: memberi kesaksian iman dan cinta akan Kristus seorang terhadap
yang lain, dan kepada anak-anak mereka. Keluarga kristiani dengan lantang
mewartakan baik kekuatan Kerajaan Allah sekarang maupun harapan akan hidup
bahagia. Demikianlah keluarga dengan teladan maupun kesaksiannya menunjukkan
dosa dunia, dan menerangi mereka yang mencari kebenaran.
Maka dari itu para awam, juga kalau mereka
sibuk dengan urusan keduniaan, dapat dan harus menjalankan kegiatan yang
berharga untuk mewartakan Injil kepada dunia. Memang, karena tidak ada
imam-imam atau mereka dihang-halangi dalam penganiayaan, beberapa awam sekedar
kemampuan mereka mengambil alih
beberapa tugas suci. Banyaklah sudah yang membaktikan segenap tenaga mereka
dalam karya kerasulan. Akan tetapi semua wajib bekerja sama demi penyebarluasan
dan perkembangan Kerajaan Kristus di dunia. Oleh karena itu hendaklah para awam
dengan tekun berusaha makin mendalami arti kebenaran yang di wahyukan, dan
sepenuh hati memohon kurnia kebijaksanaan dari Allah.
36. (Keikut-sertaan kaum awam dalam pengabdian
rajawi Kristus)
Kristus,
yang taat sampai mati dan karena itu dimuliakan oleh Bapa (lih. Flp 2:8-9),
telah memasuki kemuliaan kerajaan-Nya. Segala-sesuatu ditaklukkan kepada-Nya,
sampai Ia menaklukkan diri dan segenap alam tercipta kepada Bapa, supaya Allah
menjadi semua dalam segalanya (lih. 1Kor 15:27-28). Kuasa itu disalurkan-Nya
kepada para murid, supaya merekapun diangkatke dalam kebebasan rajawi, dan
dengan mengingkari diri serta hidup suci mengalahkan kerajaan dosa dalam diri
mereka sendiri (lih. Rom 6:12); bahkan supaya mereka melayani Kristus juga
dalam sesama, dan dengan demikian dengan rendah hati dan kesabaran mengantarkan
saudara-saudaranya kepada Sang Raja: mengabdi kepada-Nya berarti memerintah.
Sebab Tuhan ingin memperluas kerajaan-Nya juga melalui kaum beriman awam, yakni
kerajaan kebenaran dan kehidupan, kerajaan kesucian dan rahmat, kerajaan
keadilan, cinta kasih dan damai().
Dalam kerajaan itu makhluk akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan, dan
memasuki kebebasan kemuliaan anak-anak Allah (lih. Rom 8:21). Sungguh agunglah
janiji, agung pula perintah yang di
berikan kepada para murid : “Sebab segala-sesuatu itu milikmu, tetapi kamu milik
Kristus, dan Kristus milik Allah” (1Kor 3:23).
Jadi kaum beriman wajib mengakui makna
sedalam-dalamnya, nilai serta tujuan segenap alam tercipta, yakni : demi kemuliaan Allah. Lagi pula mereka wajib
saling membantu juga melalui kegiatan duniawi untuk hidup dengan lebih suci,
supaya dunia diresapi semangat Kristus, dan dengan lebih tepat mencapai
tujuannya dalam keadilan, cinta kasih dan damai. Dalam menunaikan tugas umum itu para awam memainkan peran utama.
Maka dengan kompetisinya di bidang profan serta dengan kegiatannya, yang dari
dalam diangkat oleh rahmat Kristus, hendaklah mereka memberi sumbangan yang
andal, supaya hal-hal tercipta dikelola dengan kerja manusia, keahlian teknis,
serta kebudayaan yang bermutu, menurut penetapan Sang Pencipta dan dalam cahaya
Sabda-Nya, sehingga bermanfaat bagi semua orang tanpa kecuali, dan dengan
caranya sendiri mengantar kepada kemajuan umum dalam kebebasan manusiawi dan
kristiani. Demikianlah Kristus melalui para anggota Gereja akan semakin
menyinari segenap masyarakat manusia dengan cahaya-Nya yang menyelamatkan.
Selain itu hendaklah kaum awam dengan kerja
sama yang erta menyehatkan lembaga-lembaga dan kondisi-kondisi masyarakat, bila
ada yang merangsang untuk berdosa. Maksudnya yakni supaya itu semua disesuaikan
dengan norma-norma keadilan, dan menunjang pengamalan keutamaan-keutamaan,
bukan malahan merintanginya. Dengan demikian mereka meresapi kebudayaan dan
kegiatan manusia dengan nilai moral. Begitu pula ladang dunia disiapkan lebih
baik untuk menampung benih sabda ilahi; pun pintu gerbang Gereja terbuka lebih
lebar, supaya pewartaan perdamaian dapat memasuki dunia.
Demi terlaksananya tata-keselamatan
hendaklah kaum beriman belajar membedakan dengan cermat antara hak-hak dan
kewajiban-kewajiban mereka selaku anggota Gereja, dan hak-hak serta
kewajiban-kewajiban mereka sebagai anggota masyarakat manusia. Hendaklah mereka
berusaha memperpadukan keduanya secara selaras, dengan mengingat bahwa dalam
perkara duniawi manapun mereka wajib menganut suara hati kristiani. Sebab
tindakan manusia satu pun, juga dalam urusan-urusan duniawi, yang dapat
dilepaskan dari kedaulatan Allah. Tetapi pada zaman kita sekarang sangat perlu
bahwa dalam cara bertindak kaum beriman pembedaan dan sekaligus keselarasanitu
menjadi sejelas mungkin, supaya perutusan Gereja dapat lebih penuh menanggapi
situasi-situasi khas dunia masa kini. Sebab memang harus diakui bahwa
masyarakat duniawi, yang dengan tepat menyelenggarakan urusan-urusan duniawi,
mempunyai azas-azasnya sendiri. Begitu pula sudah sepantasnya ditolak ajaran
sesat, yang memperjuangkan pembangunan masyarakat tanpa mengindahkan agama
sedikitpun, dan bermaksud memerangi serta menghapus kebebasan beragama para
warga negara.)
37.(Hubungan
kaum awam dengan Hirarki)
Dari
harta-kekayaan rohani Gereja kaum awam, seperti semua orang beriman kristiani,
berhak menerima secara melimpah melalui pelayanan para Gembala hirarkis,
terutama bantuan sabda Allah dan sakramen-sakramen().
Hendaklah para awam mengemukakan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan
mereka kepada para imam, dengan kebebasan dan kepercayaan, seperti layaknya
bagi anak-anak Allah dan saudara-saudara dalam Kristus. Sekadar
ilmu-pengetahuan, kompetensi dan kecakapan mereka para awam mempunyai
kesempatan, bahkan kadang-kadang juga kewajiban, untuk menyatakan pandangan
mereka tentang hal-hal yang menyangkut kesejahteraan Gereja(*).
Bila itu terjadi, hendaklah itu dijalankan melalui lembaga-lembaga yang
didirikan gereja untuk itu, dan selalu dengan jujur, tegas dan bijaksana, dengan
hormat dan cinta kasih terhadap mereka, yang karena tugas suci bertindak atas
nama Kristus.
Hendaklah para awam, seperti semua orang
beriman kristiani, mengikuti teladan Kristus, yang dengan ketaatan-Nya sampai
mati, membuka jalan yang membahagiakan bagi semua orang, jalan kebebasan
anak-anak Allah. Hendaklah mereka dengan ketaatan kristiani bersedia menerima
apa yang ditetapkan oleh para Gembala hirarkis sejauh menghadirkan Kristus,
sebagai guru dan pemimpin dalam Gereja. Dan janganlah mereka lupa mendoakan di
hadirat Allah para Pemimpin mereka, - sebab para Pemimpin itu berjaga karena
akan memberi pertanggungjawaban atas jiwa-jiwa kita, - supaya itu mereka
jalankan dengan gembira tanpa keluh-kesah (lih. Ibr 13:1).
Sebaliknya hendaklah para Gembala hirarkis
mengakui dan memajukan martabat serta tanggung jawab kaum awam dalam gereja.
Dan hendaklah mereka diberi kebebasan dan keleluasaan untuk bertindak; bahkan
mereka pantas diberi hati, supaya secara spontan memulai kegiatan-kegiatan
juga. Hendaklah para Gembala dengan kasih kebapaan, penuh perhatian dalam
Kristus, mempertimbangkan prakarsa-prakarsa , usul-usul serta
keinginan-keinginan yang diajukan oleh kaum awam().
Hendaklah para Gembala dengan saksama mengakui kebebasan sewajarnya, yang ada
pada semua warga masyarakat duniawi.
Dari pergaulan persaudaraan antara kaum
awam dan para Gembala itu boleh diharapkan banyak manfaat bagi Gereja. Sebab
dengan demikian dalam para awam diteguhkan kesadaran bertanggungjawab dan
ditingkatkan semangat. Lagi pula tenaga kaum awam lebih mudah digabungkan
dengan karya para Gembala. Sebaliknya, dibantu oleh pengalaman para awam, para
Gembala dapat mengadakan penegasan yang lebih jelas dan tepat dalam
perkara-perkara rohani maupun jasmani. Dengan demikian seluruh Gereja,
dikukuhkan oleh semua anggotanya akan menunaikan secara lebih tepat guna
perutusannya demi kehidupan dunia.
38.(Penutup)
Setiap
orang awam wajib menjadi saksi kebangkitan dan kehidupan Tuhan Yesus serta
menjadi tanda Allah yang hidup dihadapan dunia. Semua serentak dan
masing-masing untuk bagiannya sendiri wajib memperkaya dunia dengan buah-buah
rohani (lih. Gal 5:22), dan menyebarkan di dalamnya semangat, yang menjiwai
mereka yang miskin, lemah lembut dan cinta damai, yang dalam Injil dinyatakan
bahagia oleh Tuhan (lih. Mat 5:3-9). Pendek kata: “Seperti jiwa dalam tubuh,
begitulah umat kristiani dalam dunia”().
BAB LIMA
PANGGILAN UMUM UNTUK KESUCIAN DALAM GEREJA
39.(prakata)
Kita
mengimani bahwa gereja, yang misterinya diuraikan oleh Konsili suci, tidak
dapat kehilangan kesuciannya. Sebab Kristus, Putera Allah, yang bersama bapa
dan Roh dipuji bahwa “hanya Dialah Kudus”(),
mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya. Kristus menyerahkan diri baginya, untuk
menguduskannya (lih. Ef 5:25-26), dan menyatukannya dengan diri-Nya sebagai
tubuh-Nya. Ia melimpahinya dengan kurnia Roh Kudus, demi kemuliaan Allah. Maka
dalam Gereja semua anggota, entah termasuk Hirarki entah digembalakan olehnya,
dipanggil untuk kesucian, menurut amanat rasul: “Sebab inilah kehendak Allah:
pengudusanmu” (1Tes 4:3; lih. Ef 1:4). Adapun kesucian gereja itu tiada
hentinya tampil dan harus nampak pada buah-buah rahmat, yang dihasilkan oleh
Roh dalam kaum beriman. Kekudusan itu dengan aneka cara terungkapkan pada
masing-masing orang, yang dalam corak hidupnya menuju kesempurnaan cinta kasih
dengan memberi teladan baik kepada sesama. Secara khas pula nampak dalam
penghayatan nasehat-nasehat, yang lazim disebut “nasehat Inji8l”. Penghayatan
nasehat-nasehat itu atas dorongan Roh Kudus ditempuh oleh orang banyak
kristiani, entah secara perorangan, eantah dalam corak atau status hidup yang
disahkan oleh Gereja, serta menyajikan dan harus menyajikan di dunia ini
kesaksian dan teladan yang ulung tentang kesucian itu.
40.(Panggilan
umum kepada kesucian)
Tuhan
Yesuslah Guru dan Teladan ilahi segala kesempurnaan. Dengan kesucian hidup,
yang dikerjakan dan dipenuhi-Nya sendiri, Ia mewartakan kepada semua dan
masing-masing murid-Nya, bagaimanapun juga corak hidup mereka: “Kamu harus
sempurna, seperti Bapamu yang di sorga sempurna adanya” (Mat 5:48)().
Sebab kepada semua diutus-Nya Roh Kudus, untuk menggerakkan mereka dari dalam,
supaya mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap
akal budi dan dengan segenap tenaga mereka (lih. Mrk 12:30), dan saling
mencintai seperti Kristus telah mencintai mereka (lih. Yoh 13:34; 15:12). Para
pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka,
melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam tuhan
Yesus, dan dalam babtis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut
serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah
mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang
telah mereka terima. Oleh rasul mereka dinasehati, supaya hidup “sebagaimana
layak bagi orang-orang kudus” (Ef 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah,
sebagai orang-orang Kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas kasihan,
kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kol 3:12); dan
supaya menghasilakn buah-buah Roh yang membawa kepada kesucian (lih. Gal 5:22;
Rom 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua bersalah (lih. Yak
3:2), kita terus-menerus mebutuhkan belaskasihan Allah dan wajib berdoa setiap
hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Mat 6:12)().
Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang
kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk
mencapai kepenuhan hidupkristiani dan kesempurnaan cinta kasih().
Dengan kesian itu juga dalam masyarakat di dunia in cara hidup menjadi lebih
manusiawi. Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan
tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya
dengan mengikuti jejak-Nya dan merupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak
Bpa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada
kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian Umat Allah
akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja
telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus.
41.(Bentuk
pelaksanaan kesucian)
Dalam
aneka bentuk kehidupan serta tugas satu kesucian yang sama diamalkan oleh
semua, yang digerakkan oleh Roh Allah, dan yang dengan mematuhi suara Bapa
serta bersujud kepada Allah Bapa dalam roh dan kebenaran, mengikuti Kristus
yang miskin, rendah hati dan memanggul salib-Nya, agar mereka pantas ikut
menikmati kemuliaany-Nya. Adapun masing-masing menurut kurnia dan tugasnya
sendiri wajib melangkah tanpa ragu-ragu menempuh jalan iman yang hidup, yang
membangkitkan harapan dan mewujudkan diri melalui cinta kasih.
Terutama para Gembala kawanan Kristuslah
yang wajib menjalankan pelayanan mereka dengan suci dan gembira, dengan rendah
hati dan tegas, menurut citra Imam Agung dan Abadi, Gembala dan Pengawas jiwa
kita. Dengan demikian pelayanan yang mereka lakukan juga bagi mereka sendiri
akan menjadi upaya penyucian yang ulung. Mereka dipilih untuk mengemban
kepenuhan imamat, dan dikurniai rahmat sakramental, supaya dengan berdoa,
mempersembahkan korban dan mewartakan sabda, melalui segala macam perhatian dan
pengabdian Uskup, melaksanakan tugas sempurna cinta kasih kegembalaan(),
dan supaya jangan takut menyerahkan jiwa demi domba-domba, dan dengan menjadi
teladan bagi kawanan (lih. 1Ptr 5:3), lagi pula dengan contohnya memajukan
Gereja menuju tingkat kesucian yang kian hari makin tinggi.
Hendaklah para imam, serupa dengan para
Uskup yang mempunyai mereka sebagai mahkota rohani(),
dan dengan ikut-serta mengemban rahmat tugas para Uskup, melalui Kristus
satu-satunya Pengantara abadi, dengan menunaikan tugas harian mereka,
berkembang dalam cinta kasih akan Allah dan sesama. Hendaklah mereka melayani
ikatan persekutuan para imam, melimpah dalam segala kebaikan rohani, dan
memberi kesaksian hidup tentang Allah kepada semua orang().
Semoga mereka meneladan para imam, yang dalam peredaran masa meninggalkan
contoh kesucian yang gemilang, dengan pengabdian mereka yang sering amat
sederhana dan tersembunyi. Pujian terhadap mereka menggema dalam gereja Allah.
Hendaklah mereka berdasarkan jabatan berdoa dan mempersembahkan korban bagi
jemaat mereka dan segenap Umat Allah, menyadari apa yang mereka jalankan dan
berusaha menghayati apa yang mereka lakukan().
Jangan hendaknya mereka dihambat oleh kesibukan-kesibukan, bahaya-bahaya dan
kesukaran-kesukaran dalam kerasulan, melainkan hendaklah justru karena itu
semua mereka mencapai taraf kesucian yang lebih tinggi; sebab mereka menguatkan
serta memupuk kegiatan mereka dengan kelimpahan hasil kontemplasi, sehingga
menggembirakan seluruh Gereja Allah. Hendaklah semua imam, dan terutama mereka
yang karena alasan khas tahbisan mereka disebut imam diosesan (projo),
mengingat betapa pentingnya bagi kesucian mereka hubungan yang setia dan
kerjasama yang ikhlas dengan Uskup mereka.
Dalam perutusan dan rahmat Imam tertinggi
secara khusus ikut serta pula para pelayan tingkat lebih rendah, terutama para
Diakon, yang melayani misteri-misteri Kristus dan Gereja(),
dan karena itu wajib mempertahankan kemurniannya dari segala cacat dan berkenan
kepada Allah, serta menyediakan segala macam kebaikan dihadapan orang-orang
(lih. 1Tim 3:8-10 dan 12-13). Para rohaniwan, yang dipanggil oleh Tuhan dan di
khususkan bagi-Nya, menyiapkan diri untuk tugas-tugas pelayanan dibawah
pengawasan para Gembala. Mereka wajib menyesuaikan budi dan hati mereka dengan
pilihan seluhur itu, bertekun dalam doa, berkobar cinta kasihnya,
mencita-citakan apa saja yang benar, adil dan pantas dipuji, dan menjalankan
semuanya demi kemuliaan dan keluhuran Allah. Menyusul para awam yang terpilih
oleh Allah, dan – untuk membaktikan diri sepenuhnya kepada karya kerasulan –
dipanggil oleh Uskup, serta bekerja diladang Tuhan dengan menghasilkan banyak
buah().
Para suami-isteri dan orang tua kristiani
wajib, menurut cara hidup mereka, dengan cinta yang setia seumur hidup saling
mendukung dalam rahmat, dan meresapkan ajarn kristiani maupun
keutamaan-keutamaan Injil dihati keturunan, yang penuh kasih mereka terima dari
Allah. Sebab dengan demikian mereka memberi teladan cinta kasih yang tak kenal lelah dan penuh kerelaan kepada semua
orang, memberi contoh kepada persaudaraan kasih, dan menjadi saksi serta
pendukung kesuburan Buda Gereja. Mereka menjadi tanda pun sekaligus ikut serta
dalam cinta kasih Kristus terhadap Mempelai-Nya, sehingga Ia menyerahkan diri
untuknya().
Teladan serupa disajikan dengan cara lain oleh para janda dan mereka yang tidak
menikah, yang juga dapat menyumbang banyak sekali bagi kesucian dan kegiatan
Gereja. Adapun mereka yang sering menanggung beban kerja berat hendaknya
menyempurnakan diri melalui pekerjaan manusia, membantu sesama warga, dan
mengangkat segenap masyarakat serta alam tercipta kepada keadaan yang lebih
baik. Selain itu hendaklah mereka dengan cinta kasih yang aktif meneladan
Kristus, yang dulu menjalankan pekerjaan tangan, dan selalu berkarya bersama
Bapa demi keselamatan semua orang. Hendaklah mereka berharap dan gembira,
saling menanggung beban, dan melalui pekerjaan mereka sehari-hari mencapai
kesucian yang lebih tinggi dan bersifat apostolis.
Khususnya hendaklah mereka yang ditimpa
oleh kemiskinan, kelemahan, penyakit dan pelbagai kesukaran, atau menanggung
penganiayaan demi kebenaran – merekalah, yang dalam Injil dinyatakan bahagia
oleh Tuhan, dan yang “Allah, sumber segala rahmat, yang dalam Kristus Yesus
telah memanggil kita ke dalam kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi,
meneguhkan dan mengokohkan, sesudah mereka menderita seketika lamanya” (1Ptr
5:10), - hendaklah mereka semua mengetahui, bahwa mereka dipersatukan dengan
Kristus yang menderita sengsara demi keselamatan dunia.
Jadi semua orang beriman kristiani dalam
kondisi-kondisi hidup mereka, dalam tugas-tugas serta keadaan mereka, dan
melalui itu semua, dari hari ke hari akan makin dikuduskan, bila mereka dalam
iman menerima segala-sesuatu dari tangan Bpa di sorga, dan bekerja sama dengan
kehendak ilahi, dengan menampakkan dalam tugas sehari-hari kepada semua orang
cinta kasih Allah terhadap dunia.
42. (Jalan dan upaya kesucian)
“Allah
itu kasih, dan barang siapa tetap berada dalam kasih, ia tinggal dalam Allah
dan Allah dalam dia” (1Yoh 4:16). Adapun Allah mencurahkan cinta kasih-Nya ke
dalam hati kita melalui Roh Kudus yang dikurniakan kepada kita (lih. Rom 5:5).
Maka dari itu kurnia yang pertama dan paling perlu yakni cinta kasih, yang
membuat kita mencintai Allah melampaui segalanya dan mengasihi sesama demi Dia.
Akan tetapi, Supaya cinta kasih bagaikan benih yang baik bertunas dalam jiwa
dan menghasilkan buah, setiap orang beriman wajib mendengarkan sabda Allah
dengan suka hati, dan dengan bantuan rahmat-Nya, dengan tindakan nyata
melaksanakan kehendak-Nya. Ia wajib sering menerima sakramen-sakramen, terutama
Ekaristi, dan ikut serta dalam perayaan liturgi, pun juga dengan tabah berdoa,
mengingkari diri, melayani sesama secara aktif, dan mengamalakan segala
keutamaan. Sebab cinta kasih, sebagai pengikat kesempurnaan dan kepenuhan hukum
(lih. Kol 3:14); Rom 13:10), mengarahkan dan menjiwai semua upaya kesucian, dan
membawanya sampai ke tujuannya().
Maka cinta kasih akan Allah maupun akan sesama merupakan ciri murid Kristus
yang sejati.
Yesus, Putera Allah, telah menyatakan cinta
kasih-Nya dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Maka tidak seoarng pun
mempunyai cinta kasih yang lebih besar dari pada dia yang merelakan nyawanya
untuk Dia dan saudara-saudaranya (lih. 1Yoh 3:16; Yoh 15:13). Sudah sejak masa
permulaan ada orang-orang kristiani yang telah dipanggil, dan selalu masih ada
yang akan dipanggil, untuk memberi kesaksian cinta kasih yang tertinggi itu
dihadapan semua orang, khususnya di muka penganiaya. Maka Gereja memandang
sebagai kurnia luar biasa dan bukti cinta kasih tertinggi kematian sebagai
martir, yang menjadikan murid serupa dengan Guru yang dengan rela menerima
wafat-Nya demi keselamatn dunia, serupa dengan Dia dalam menumpahkan darah.
Meskipun hanya sedikit yang diberi, namun semua harus siap-sedia mengakui
Kritus di muka orang-orang, dan mengikuti-Nya menempuh jalan salib di tengah
penganiayaan, yang selalu saja menimpa Gereja.
Kesucian Gereja secara istimewa dipupuk
pula dengan aneka macam nasehat, yang oleh Tuhan dalam Injil disampaikan kepada
para murid-Nya untuk dilaksanakan[].
Di antaranya sangat menonjol kurnia luhur rahmat ilahi, yang oleh Bapa dianugerahkan
kepada beberapa orang (Lih. Mat 19:11; 1Kor 7:7), yakni supaya dalam
keperawanan atau selibat mereka lebih mudah membaktikan diri seutuhnya kepada
Allah, dengan hati tak terbagi (lih. 1Kor 7:32-34)[].
Tarak sempurna demi Kerajaan sorga itu dalam gereja selalu dihargai secara
istimewa, sebagai tanda dan dorongan cinta kasih, dan sebagai suatu sumber
kesuburan rohani yang luar biasa di dunia.
Gereja juga tetap mengingatkan anjuran
Rasul, yang mengundang kaum beriman untuk mengamalkan cinta kasih, dan
mendorong mereka supaya menaruh perasaan yang terdapat juga dalam Kristus
Yesus, “yang telah mengosongkan Diri-Nya dan mengenakan rupa seorang hamba, …
dan menjadi taat sampai mati” (Flp 2:7-8), lagi pula demi kita “menjadi miskin,
meskipun Ia kaya” (2Kor 8:9). Perlulah bahwa cinta kasih dan kerendahan hati
Kristus itu senantiasa ditealadan dan diberi kesaksian oleh para murid. Maka
Bunda Gereja bergembira, bahwa dalam pangkuannya terdapat banyak pria dan
wanita, yang mengikuti dari dekat dan memperlihatkan lebih jelas pengosongan
Diri Sang Pneyelamat, dengan menerima kemiskinan dalam kebebasan anak-anak
Allah serta mengingkari keinginan-keinginan mereka senri. Mereka itulah yang
demi Allah tunduk kepada seorang manusia dalam mengejar kesempurnaan melampaui
apa yang diwajibkan, untuk lebih menyerupai Kristus yang taat[].
Maka semua orang beriman kristiani diajak
dan memang wajib mengejar kesucian dan kesempurnaan status hidup mereka. Oleh
karena itu hendaklah semua memperhatikan, agar mereka mengarahkan
keinginan-keinginan hati dengan tepat, supaya mereka dalam mengejar cinta kasih
yang sempurna jangan dirintangi karena menggunakan hal-hal duniawi dan melekat
pada kekayaan melawan semangat kemiskinan menurut Injil. Itulah maksud nasehat
Rasul: orang yang menggunakan barang dunia ini jangan samapi berhenti di situ:
sebab berlalulah dunia seperti yang kita kenal sekarang (lih. 1Kor 7:31 yun.)[].
BAB
ENAM
PARA RELIGIUS
43.
(Pengikraran
nasehat-nasehat Injil dalam Gereja)
Nasehat-nasehat Injil tentang kemurnian yang
dibaktikan kepada Allah, kemiskinan dan ketaatan, didasarkan pada sabda dan
teladan Tuhan, dan dianjurkan oleh para Rasul, para Bapa, para guru serta para
gembala Gereja. Maka nasehat-nasehat itu merupakan kurnia ilahi, yang oleh
Gereja diterima dari Tuhannya dan selalu dipelihara dengan bantuan rahmat-Nya.
Adapun pimpinan Gereja sendiri, di bawah bimbingan Roh Kudus, telah
memperhatikan penafsirannya, pengaturan pelaksanaannya, pun juga penetapan
bentuk-bentuk penghayatan yang tetap. Dengan demikian berkembanglah pelbagai
bentuk kehidupan menyendiri maupun bersama, dan pelbagai keluarga, bagaikan
pada pohon yang tumbuh di ladang Tuhan dari benih ilahi, dan yang secara ajaib
telag banyak bercabang-cabang. Itu semua menambah jasa sumbangan baik bagi
kemajuan para anggotanya maupun bagi kesejahteraan seluruh Tubuh Kristus[]. Sebab keluarga-keluarga itu
menyediakan upaya-upaya bagi para anggotanya berupa cara hidup yang lebih tetap
dan teguh, ajaran yang tanggunh untuk mengejar kesempurnaan, persekutuan antar
saudara dalam perjuangan untuk Kristus, kebebasan yang diteguhkan oleh
ketaatan. Dengan demikian para anggota mampu menepati ikrar religius mereka
dengan aman dan mengamalkannya dengan setia, dan melangkah maju di jalan cinta
kasih dengan hati gembira].
Ditinjau
dari sudut susunan ilahi dan hirarkis Gereja, status religius itu bukan jalan
tengah antara perihidup para imam dan kaum awam. Tetapi dari kedua golongan itu
ada sejumlah orang beriman kristiani, yang dipanggil oleh Allah untuk menerima
kurnia istimewa dalam kehidupan Gereja, dan untuk dengan cara masing-masing
menyumbangkan jasa mereka bagi misi keselamatan Gereja [].
44.
(Makna
dan arti hidup religius)
Dengan kaul-kaul atau ikatan suci lainnya
yang dengan caranya yang khas menyerupai kaul, orang beriman kristiani
mewajibkan diri untuk hidup menurut tiga nasehat Injil tersebut. Ia mengabdikan
diri seutuhnya kepada Allah yang dicintainya mengatasi segala sesuatu. Dengan
demikian ia terikat untuk mengabdi Allah serta meluhurkan-Nya karena alasan
yang baru dan istimewa. Karena babtis ia telah mati bagi dosa dan dikuduskan
kepada Allah. Tetapi supaya dapat memperoleh buah-buah rahmat babtis yang lebih
melimpah, ia menghendaki untuk dengan mengikrarkan nasehat-nasehat Injil dalam
Gereja dibebaskan dari rintangan-rintangan, yang mungkin menjauhkannya dari
cinta kasih yang berkobar dan dari kesempurnaan bakti kepada Allah, dan secara
lebih erat ia disucikan untuk mengabdi Allah []. Adapun pentakdisan akan makin
sempurna, bila dengan ikatan yang lebih kuat dan tetap makin jelas dilambangkan
Kristus, yang dengan ikatan tak terputuskan bersatu dengan Gereja mempelai-Nya.
Nasehat-nasehat
Injil, karena mendorong mereka yang mengikrarkannya kepada cinta kasih [], secara istimewa menghubungkan
mereka itu dengan Gereja dan misterinya. Maka dari itu hidup rohani mereka juga
harus dibaktikan kepada kesejahteraan seluruh Gereja. Dari situ muncullah
tugas, untuk – sekadar tenaga dan menurut bentuk khas panggilannya- entah
dengan doa atau dengan karya-kegiatan, berjerih-payah guna mengakarkan dan
mengukugkan Kerajaan kristus di hati orang-orang, dan untuk memperluasnya ke
segala penjuru dunia. Oleh karena itu Gereja melindungi dan memajukan corak
khas pelbagai tarekat religius.
Maka
pengikraran nasehat-nasehat Injil merupakan tanda, yang dapat dan harus menarik
secara efektif semua anggota Gereja, untuk menunaikan tugas-tugas panggilan
kristiani dengan tekun. Sebab umat Allah tidak mempunyai kediaman tetap disini,
melainkan mencari kediaman yang akan datang. Maka status religius, yang lebih
membebaskan para anggotanya dari keprihatinan-keprihatinan duniawi, juga lebih
jelas memperlihatkan kepada semua orang beriman harta sorgawi yang sudah hadir
di dunia ini, memberi kesaksian akan hidup baru dan kekal yang diperoleh berkat
penebusan Kristus, dan mewartakan kebangkitan yang akan datang serta kemuliaan
Kerajaan sorgawi. Corak hidup, yang dikenakan oleh Putera Allah ketika Ia
memasuki dunia ini untuk melaksanakan kehendak Bapa, dan yang dikemukakan-Nya
kepada para murid yang mengikuti-Nya, yang diteladan dari lebih dekat oleh
status religius, dan senantiasa dihadirkan dalam Gereja. Akhirnya status itu
juga secara istimewa menampilkan keunggulan Kerajaan Allah melampaui segalanya
yang serba duniawi, dan menampakkan betapa pentingnya Kerajaan itu. Selain itu
juga memperlihatkan kepada semua orang keagungan mahabesar kekuatan Kristus
yang meraja dan daya Roh Kudus yang tak terbatas, yang berkarya secara
mengagumkan dalam Gereja.
Jadi
meskipun status yang terwujudkan dengan pengikraran nasehat-nasehat Injil itu
tidak termasuk susunan hirarkis Gereja, namun tidak dapat diceraikan dari
kehidupan dan kesucian Gereja.
45.
(Hubungan
para religius dengan Hirarki)
Tugas Hirarki Gereja yakni menggembalakan
umat Allah dan membimbingnya ke ladang yang berumput lebat (Lih. Ye 34:14).
Maka Hirarki juga harus secara bijaksana mengatur dengan undang-undangnya
pelaksanaan nasehat-nasehat Injil, yang secara istimewa mendukung penyempurnaan
cinta kasih akan Allah dan terhadap sesama []. Dengan penuh perhatian
mengikuti doronganh Roh Kudus, Hirarki menerima pedoman-pedoman hidup, yang
diajukan oleh tokoh-tokoh religius pria maupun wanita, dan setelah dibubuhi
ketentuan-ketentuan lebih rinci, mengesahkannya dengan resmi. Tarekat-tarekat
yang telah didirikan di mana-mana untuk membangun Tubuh Kristus, didampingi
dengan pengawasan dan perlindungan kewibawaannya, supaya berkembang dan subur
berbuah menurut semangat pera pendirinya.
Namun
supaya kebutuhan-kebutuhan seluruh kawanan Tuhan ditanggapi secara lebuh baik,
Imam Agung, berdasarkan kedudukannya sebagai kepala seluruh Gereja, demi
kepentingan bersama dapat menarik setiap lembaga kesempurnaan untuk
masing-masing anggotanya dari lingkup kuasa para Uskup setempat, dan membawahkan
mereka hanya kepada dirinya [].
Begitu juga mereka dapat dibiarkan atau diserahkan dibawah kewenangan
patriarkat mereka sendiri. Dalam menunaikan tugas terhadap Gereja menurut corak
khas hidup mereka, para anggota tarekat wajib menunjukkan sikap hormat dan taat
menurut hukum Gereja kepada para Uskup, demi kewibawaan pastoral mereka di
Gereja-Gereja khusus, serta demi kesatuan dan kerukunan yang diperlukan dalam
karya kerasulan [].
Adapun
dengan pengesahannya Gereja tidak hanya mengangkat ikrar religius kepada
martabat status kanonik, melainkan juga menampilkannya sebagai status yang
ditakdiskan kepada Allah dalam upacara Liturgi. Sebab dengan kewibawaan yang
oleh Allah diserahkan kepadanya Gereja menerima kaul-kaul yang diikrarkan,
dengan doanya yang resmi memohonkan bantuan dan rahmat Allah bagi mereka yang
mengikrarkannya, mempercayakan mereka kepada Allah, dan memberi mereka berkat
rohani, sambil menyatukan persembahan diri mereka dengan korban Ekaristi.
46.
(Penghargaan
terhadap hidup religius)
Hemdaklah para religius sungguh-sungguh
berusaha, supaya melalui mereka Gereja benar-benar makin hari makin jelas
menampilkan Kristus kepada kaum beriman maupun tidak beriman, entah bila ia
sedang berdoa diatas bukit, entah bila sedang mewartaakan Kerajaan Allah kepada
rakyat, entah bila Ia sedang menyembuhkan mereka yang sakit dan terluka, serta
mempertobatkan kaum pendosa kepada hidup yang baik, atau sedang memberkati
kanak-kanak dan berbuat baik terhadap semua orang, senantiasa dalam kepatuhan
kepada kehendak bapa yang mengutus-Nya [].
Akhirnya
hendaklah semua orang menginsyafi, bahwa mengikrarkan nasehat-nasehat Injil
memang berarti mengorbankan hal-hal yang pantas dinilai tinggi, namun tidak
merintangi kemajuan pribadi manusia yang sejati, melainkan pada hakekatnya
sangan mendukungnya. Sebab seperti nampak jelas pada teladansekian banyak
pendiri yang kudus – nasehat-nasehat itu, bila diterima secara sukarela menurut
panggilan pribadi masing-masing, sangat mendukung pemurnian hati dan kebebasan
rohani, tiada hentinya membangkitkan semangat cinta kasih, dan terutama mampu
menjadikan hidup orang kristenlebih serupa dengan corak hidup dalam keperawanan
dan kemiskinan, yang telah dipilih oleh Kristus Tuhan sendiri, dan yang telah
dihayati penuh semangat oleh Bunda-Nya yang tetap perawan. Jangan pula orang
mengira, bahwa para religius karena serah diri mereka atau terasingkan dari
orang-orang, atau tidak berguna lagi bagi masyarakat duniawi. Sebab meskipun
ada kalanya mereka itu tidak langsung berhubungan dengan sesama, namun secara
lebih mendalam mereka mengenangkan sesama dalam kasih mesra Kristus, dan secara
rohani bekerja sama dengan sesama, supaya pembangunan masyarakat duniawi selalu
bertumpu pada Tuhan dan diarahkan kepada-Nya, sehingga para pembangunnya jangan
bekerja dengan sia-sia [].
Oleh
sebab itu Konsili suci akhirnya meneguhkan dan memuji semua pria dan wanita,
para Bruder dan Suster, yang dalam biara-biara, atau disekolah-sekolah dan
rumahsakit, atau di daerah-daerah misi, dengan kesetiaan yang andal dan
kerendahan hati, ikut merias Mempelai Kristus dalam serah diri kepada Allah
seperti telah diuraikan, dan berbakti kepada semua orang dengan kebesaran hati,
dalam pengabdian yang bermacam ragam.
47.
(Penutup)
Maka dari itu hendaklah setiap orang yang dipanggil
untuk mengikrarkan nasehat-nasehat Injil sungguh-sungguh berusaha, supaya ia
bertahan dan semakin maju dalam panggilan yang diterimanya dari Allah, demi
makin suburnya kesudian Gereja, supaya makin dimuliakanlah Tritunggal yang satu
tak terbagi, yang dalam Kristus dan dengan perantaraan Kristus menjadi sumber
dan asal segala kesucian.
BAB
TUJUH
SIFAT ESKATOLOGIS GEREJA MUSAFIR
DAN PERSATUANNYA DENGAN GEREJA DI SORGA
48.
(Pendahuluan)
Dalam Yesus Kristus kita semua dipanggil kepada
Gereja, dan disitu kita memperoleh kesucian berkat rahmat Allah. Gereja itu
baru mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di sorga, bila akan tiba saatnya
segala-sesuatu diperbaharui (Kis 3:21), dan bila bersama dengan umat manusia
dunia semesta pun, yang berhubungan erat secara dengan manusia dan bergerak ke arah tujuannya melalui manusia,
akan diperbaharui secara sempurna dalam Kristus (lih. Ef 1:10; Kol 1:20; 2Ptr
3:10-13).
Adapun
Kristus, yang ditinggikan dari bumi, menarik semua orang kepada diri-Nya (lih.
Yoh. 12:32 yun). Sesudah bangkit dari kematian (lih. Rom 6:9) Ia mengutus
Roh-Nya yang menghidupkan ke dalam hati para murid-Nya, dan melalui Roh itu Ia
menjadikan Tubuh-Nya, yakni Gereja, sakramen keselamatan bagi semua orang. Ia
duduk di sisi kanan Bapa, namun tiada hentinya berkarya di dunia, untuk
mengantar orang-orang kepada Gereja, dan melalui Gereja menyatukan mereka lebih
erat dengan diri-Nya; lagipula untuk memberi mereka santapan Tubuh dan
Darah-Nya sendiri, serta dengan demikian mengikut-sertakan mereka dalam
kehidupan-Nya yang mulia. Jadi pembaharuan, janji yang kita dambakan, telah
mulai dalam kristus, digerakkan dengan perutusan Roh Kudus, dan karena Roh itu
berlangsung terus dalam Gereja. Berkat iman kita disitu menerima pengertian
tentang makna hidup kita yang fana, sementara karya yang oleh Bapa dipercayakan
kepada kita di dunia kita selesaikan dengan baik dalam harapan akan kebahagiaan
di masa mendatang, dan kita mengerjakan keselamatan kita (lih. Flp 2:12).
Jadi
sudah tibalah bagi kita akhir zaman (lih. 1Kor 10:11). Pembaharuan dunia telah
ditetapkan, tak dapat dibatalkan, dan secara nyata mulai terlaksana di dunia
ini. Sebab sejak di dunia ini Gereja ditandai kesucian yang sesungguhnya
meskipun tidak sempurna. Tetapi sampai nanti terwujudkan langit baru dan bumi
baru, yang diwarnai keadilan (lih. 2Ptr 3:13), Gereja yang tengah mengembara,
dalam sakramen-sakramen serta lembaga-lembaganya yang termasuk zaman ini,
mengemban citra zaman sekarang yang akan lalu. Gereja berada di tengah alam
tercipta, yang hingga kini berkeluh-kesah dan menanggung sakit bersalin, serta
merindukan saat anak-anak Allah dinyatakan (lih. Rom 8:19-22).
Jadi
kita, yang bersatu dengan kristus dalam Gereja, dan ditandai dengan Roh Kudus
yakni “jaminan warisan kita” (Ef 1:14), disebut anak-anak Allah dan memang
demikian adanya (lih. 1Yoh 3:2). Namun kita belum tampil bersama Kristus dalam kemulian (lih. Kol
3:4), saatnya kita akan menyerupai Allah, karena kita akan memandang Dia
sebagaimana adanya (lih. 1Yoh 3:2). Maka “selama mediami tubuh ini, kita masih
jauh dari Tuhan” (2Kor 5:6); dan kita, yang membawa kurnia-sulung Roh,
berkeluh-kesah dalam hati (lih. Rom 8:23) serta ingin bersama dengan kristus
(lih. Flp 1:23). Namun oleh cinta itu juga kita di desak, untuk lebih penuh hidup
bagi Dia, yang telah wafat dan bangkit bagi kita (lih. 2Kor 5:15). Maka kita
berusaha untuk dalam segalanya berkenan kepada Tuhan (lih. 2Kor 5:9). Dan kita
kenakan perlengkapan senjata Allah, supaya kita mampu bertahan menentang tipu
muslihat iblis serta mengadakan perlawanan pada hari yang jahat (lih. Ef
6:11-13). Tetapi karena kita tidak mengetahui hari maupun jamnya, atas anjuran
Tuhan kita wajib berjaga terus-menerus, agar setelah mengakhiri perjalanan
hidup kita di dunia hanya satu kali saja (lih. Ibr 9:27), kita bersama
dengan-Nya memasuki pesta pernikahan, dan pantas digolongkan pada mereka yang
diberkati (lih. Mat 25: 31-46), dan supaya janganlah kita seperti hamba yang
jahat dan malas (lih. Mat 25:26) diperintahkan enyah ke dalam api yang kekal (lih.
Mat 25:41), ke dalam kegelapan di luar, di temapat “ratapan dan kertakan gigi”
(Mat 22:13 dan 25:30). Sebab, sebelum memerintah bersama Kristus dalam
kemuliaan-Nya, kita semua akan menghadapi “takhta pengadilan Kristus, supaya
masing-masing menerima ganjaran bagi apa yang dijalankannya dalam hidup ini,
entah itu baik atau jahat” (2Kor 5:10). Dan pada akhir zaman “mereka yang telah
berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk kehidupan kekal, sedangkan mereka
yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh 5:29); lih. Mat
25:46). Maka dari itu, mengingat bahwa “penderitaan zaman sekarang ini tidak
dapat dibandingkan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita kelak” (Rom 8:18;
lih. 2Tim 2:11-12), dalam keteguhan iman kita mendambakan “pengharapan yang
membahagiakan serta pernyataan kemuliaan Allah dan Penyelamat kita yang
mahaagung, Yesus Kristus” (Tit 2:13), “yang akan mengubah tubuh kita yang hina
ini, sehingga menyerupai Tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:21), dan yang akan datang
“untuk dimuliakan di antara para kudus-Nya, dan untuk dikagumi oleh semua orang
yang beriman” (2Tes 1:10).
49.
(Persekutuan
antara Gereja di sorga dan Gereja di dunia)
Jadi hingga saat ini Tuhan datang dalam
keagungan-Nya beserta semua malaikat (lih Mat 25:31), dan saatnya segala sesuatu
takhluk kepada-Nya sesudah maut dihancurkan (lih. 1Kor 15:26-27), ada diantara
para murid-Nya yang masih mengembara di dunia, dan ada yang telah meninggal dan
mengalami penyucian, ada pula yang menikmati kemuliaan sambil memandang “dengan
jelas Allah Tritunggal sendiri sebagaimana ada-Nya” []. Tetapi kita semua, kendati
pada taraf dan dengan cara yang berbeda, saling berhubungan dalam cinta kasih
yang sama terhadap Allah dan sesama, dan melambungkan madah pujian yang sama
kehadirat Allah kita. Sebab semua orang, yang menjadi milik Kristus dan didiami
oleh Roh-Nya, berpadu menjadi satu Gereja, dan saling erat berhubungan dalam
Dia (lih. Ef 4:16). Jadi persatuan mereka yang sedang dalam perjalanan dengan
para saudara yang sudah beristirahat dalam damai kristus, sama sekali tidak
terputus. Bahkan menurut iman Gereja yang abadi diteguhkan karena saling
berbagi harta rohani [].
Sebab karena para penghuni sorga bersatu lebih erat dengan kristus, mereka
lebih meneguhkan seluruh Gereja dalam kesuciannya; mereka menambah keagungan
ibadat kepada Allah, yang dilaksanakan oleh Gereja di dunia; dan dengan
pelabagi cara mereka membawa sumbangan bagi penyempurnaan pembangunannya (lih.
1Kor 12:12-27) [].
Sebab mereka, yang telah ditampung di tanah air dan menetap pada Tuhan (lih.
2Kor 5:8), karena Dia, bersama Dia dan dalam Dia tidak pernah berhenti menjadi
pengantara kita di hadirat Bapa [],
sambil mempersembahkan pahala-pahala, yang telah mereka peroleh di dunia,
melalui pengantara tunggal antara Allah dan manusia, yakni kristus Yesus (lih.
1Tim 2:5), sambil melayani Tuhan dalam
segalanya, dan melengkapi Tubuh-Nya, yakni Gereja (lih. Kol 1:24) []. Demikianlah kelemahan kita
amat banyak dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara.
50.
(Hubungan
antara Gereja di dunia dan gereja di sorga)
Gereja kaum musafir menyadari sepenuhnya
persekutuan dalam Tubuh mistik Kristus itu. Sejak masa pertama agama kristiani
Gereja dengan sangat khidmat merayakan kenangan mereka yang telah meninggal []. Dan karena “inilah suatu
pikiran yang murshid dan saleh: mendoakan mereka yang meninggal supaya
dilepaskan dari dosa-dosa mereka” (2Mak 12:46), maka Gereja juga
mempersembahkan korban-korban silih bagi mereka. Adapun Gereja selalu percaya,
bahwa Rasul-Rasul dan para martir kristus, yang dengan menumpahkan darah
memberi kesaksian iman dan cinta kasih yang amat luhur, dalam Kristus
berhubungan lebih erat dengan kita. Dengan bakti yang istimewa Gereja
menghormati mereka bersama dengan Santa Perawan Maria dan para Malaikat kudus [], serta dengan khidmat memohon
bantuan perantaraan mereka. Pada golongan mereka segera bergabunglah
orang-orang lain, yang lebih dari dekat meneladan keperawanan dan kemiskinan
Kristus [];
lalu akhirnya kelompok lain lagi, yang – karena mereka dengan cemerlang
mengamalkan keutuamaan-keutamaan kristiani [] serta menampilkan
kurnia-kurnia ilahi – mengundang kaum beriman untuk berbakti dengan takzim dan
meneladan mereka [].
Sebab
sementara merenungkan hidup mereka yang dengan setia mengikuti Kristus, kita
mendapat dorongan baru untuk mencari kota yang akan datang (lih. Ibr 13:14 dan
11:10). Sekaligus kita ditunjukkan jalan yang sangat aman, untuk ditengah
situasi dunia yang silih berganti, sesuai dengan kedudukan dan kondisi
masing-masing, dan dapat mencapai persatuan yang sempurna dengan Kristus atau
kesucian [].
Dalam hidup mereka yang sama-sama manusia seperti kita, tetapi secara lebih
sempurna diubah menjadi serupa dengan citra Kristus (lih. 2Kor 3:18), Allah
secara hidup-hidup menampakkan kehadiran serta wajah-Nya. Dalam diri mereka Ia
menyapa kita, dan menyampaikan kepada kita tanda Kerajaan-Nya []. Kita yang mempunyai banyak
saksi ibarat awan yang meliputi kita (lih. Ibr 12:1), dan yang menghadapi
kesaksian sejelas itu tentang kebenaran Injil, kuat-kuat tertarik kepadanya.
Namun
kita merayakan kenangan para penghuni sorga bukan hanya karena teladan mereka.
Melainkan lebih supaya persatuan segenap Gereja dalam Roh diteguhkan dengan
mengamalkan cinta kasih persaudaraan (lih. Ef 4:1-6). Sebab seperti persekutuan
kristiani antara para musafir mengantarkan kita untuk mendekati Kristus, begitu
pula untuk keikutsertaan dengan para Kudus menghubungkan kita dengan kristus,
yang bagaikan Sumber dan Kepala mengalirkan segala rahmat dan kehidupan Umat
Allah sendiri [].
Jadi memang sungguh sepantasnya, bahwa kita mengasihi para sahabat serta sesama
ahli waris Yesus Kristus itu, serta-merta saudara-saudara dan penderma-penderma
kita yang ulung. Sudah selayaknya pula kita bersyukur kepada Allah atas mereka []. Sepantasnya juga “kita dengan
rendah hati berseru kepada mereka, dan mempercayakan diri kepada doa-doa,
bantuan serta pertolongan mereka, untuk memperoleh kurnia-kurnia Allah dengan
perantaraan Putera-Nya Yesus Kristus Tuhan kita, satu-satunya Penebus dan
Penyelamat kita” [].
Sebab segala kesaksian cinta kasih kita yang sejati terhadap para penghuni
sorga pada hakekatnya tertujukan kepda Kristus dan bermuara pada Dia, “mahkota
semua para Kudus” [],
serta dengan perantaraan-Nya mencapai Allah, yang mengagumkan dalam para
Kudus-Nya, dan diagungkan dalam diri mereka [].
Akan
tetapi terutama dalam Liturgi suci secara paling luhur persatuan kita dengan
Gereja di sorga diwujudkan dengan nyata. Di situlah kekuatan Roh Kudus melalui
perlambangan sakramen berkarya pada diri kita. Dalam Liturgi kita bersama
bergembira merayakan dan memuji keagungan Allah []. Kita semua, yang dalam darah
Kristus di tebus dari setiap suku dan bahasa dan kaum bangsa (lih. Why 5:9),
serta dihimpun ke dalam satu Gereja, dengan satu madah pujian meluhurkan Allah
Tritunggal. Jadi sambil merayakan korban Ekaristi kita seerat mungkin
digabungkan dengan ibadat Gereja di sorga, sementara kita berada dalam satu
persekutuan, dan merayakan kenangan terutama S. Maria yang mulia dan tetap
Perawan, pun pula S. Josef, para Rasul serta para martir yang suci, dan semua
para Kudus [].
51.
(Beberapa
pedoman pastoral)
Itulah iman yang layak kita hormati, pusaka
para leluhur kita: iman akan persekutuan hidup dengan para saudara yang sudah
mulai di sorga, atau sesudah meninggal masih mengalami pentahiran. Konsili suci
ini penuh khidmat menerima iman itu, dan menyajikan lagi ketetapan-ketetapan
Konsili-konsili suci Nisea II [],
Florensia []
dan Trente [].
Namun sekaligus Konsili dalam keprihatinan pastoralnya mendorong semua pihak
yang bersangkutan, supaya di sana-sini bila terjadi penyalahgunaan,
penyelewengan atau penyimpangan, mereka berusaha menyangkal atau
membetulkannya, dan membaharui segalanya demi pujian yang lebih penuh kepada
Kristus dan Allah. Maka hendaklah mereka mengajarkan kepada Umat beriman, bahwa
ibadat yang sejati kepada para kudus bukan pertama-tama diwujudkan dalam
banyaknya perbuatan lahiriah, melainkan terutama dalam besarnya cinta kasih
kita yang disertai tindakan nyata. Demikianlah, supaya kita dan gereja
bertambah sejahtera, kita mencari “teladan melalui pergaulan dengan para Kudus,
kebahagiaan yang sama melalui persekutuan dengan mereka, dan bantuan melalui
pengantaraan mereka” [].
Di lain pihak hendaklah mereka ajarkan kepada kaum beriman, bahwa hubungan kita
dengan penghuni sorga itu – asal ditinjau dalam terang iman yang lebih penuh –
sama sekali tidak melemahkan ibadat sujud, yang dalam Roh kita persembahkan
kepada Allah Bapa melalui Kristus, melainkan justru memperkaya secara limpah [].
Sebab
kita semua anak-anak Allah, dan merupakan satu keluarga dalam Kristus (lih. Ibr
3:6). Sementara kita saling mencintai dan serentak memuji Tritunggal Mahakudus,
dan dengan demikian berhubungan seoarng dengan yang lain, kita memenuhi
panggilan Gereja yang terdalam, dan sekarang pun sudah mulai menikmati Liturgi
dalam kemuliaan yang sempurna [].
Bila Kristus kelak menampakkan Diri, dan mereka yang mati akan bangkit mulia,
kemuliaan Allah akan menyinari Kota Surgawi, dan Anak Dombalah lampunya (lih.
Why 21:24). Pada saat itulah seluruh gereja para Kudus dalam kebahagiaan cinta
kasih yang terluhur akan bersujud menyembah Allah dan “Anak Domba yang telah di
sembelih” (Why 5:12). Mereka akan serentak berseru: “Bagi Dia yang duduk di
takhta dan bagi Anak Domba: puji-pujian, dan hormat, dan kemuliaan, dan kuasa
sampai selama-lamanya” (Why 5:13-14).
BAB
DELAPAN
SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH
DALAM MISTERI KRISTUS DAN GEREJA
I.
PENDAHULUAN
52.
(Santa
Perawan dalam misteri kristus)
Ketika Allah yang mahabaik dan mahabijkasana
hendak melaksanakan penebusan dunia, “setelah genap waktunya, Ia mengutus
Putera-Nya, yang lahir dari seorang wanita … supaya kita diterima menjadi anak”
(Gal 4:4-5). “Untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita Ia turun dari
sorga, dan Ia menjadi Daging oleh Roh Kudus dari perawan Maria []. Misteri ilahi keselamatan itu
diwahyukan kepada kita dan tetap berlangsung dalam Gereja, yang oleh Tuhan
dijadikan Tubuh-Nya. Di situ kaum beriman, dalam persatuan dengan Kristus
Kepala, dan dalam persekutuan dalam semua para Kudus-Nya, wajib pula merayakan
kenangan “pertama-tama Maria yang mulia dan tetap Perawan, Bunda Allah serta
Tuhan kita Yesus Kristus” [].
53.
(Santa
Perawan dan Gereja)
Sebab perawan Maria, yang sesudah warta
Malaikat menerima Sabda Allah dalam
hati maupun tubuhnya, serta memberikan Hidup kepada dunia, diakui dan dihormati
sebagai Bunda Allah dan penebus yang sesungguhnya. Karena pahala putera-Nya ia
ditebus secara lebih unggul, serta dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang
erat dan tidak terputuskan. Ia dianugerahi kernia serta martabat yang amat
luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang
terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu
ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi.
Namun sebagai keturunan Adam Ia termasuk golongan semua orang yang harus
diselamatkan. Bahkan “ia memang Bunda para anggota (Kristus), …. Karena dengan
cinta kasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam gereja lahirlah kaum
beriman, yang menjadi anggota Kepala itu” [].
Oleh karena itu ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan
sangat istimewa, pun juga sebagai pola-teladannya yang mengagumkan dalam iman
dan cinta kasih. Menganut bimbingan Roh Kudus Gereja katolik menghadapinya
penuh rasa kasih-sayang sebagai bundanya yang tercinta.
54.
(Maksud
Konsili)
Maka sementara meguraikan ajaran tentang
Gereja, tempat Penebus ilahi melaksanakan penyelamatan, Konsili suci hendak
menjelaskan dengan cermat baik peran Santa Perawan dalam misteri Sabda yang
menjelma serta Tubuh mistik_Nya, maupun tugas kewajiban mereka yang sudah
ditebus terhadap Bunda Allah, Bunda kristus dan Bunda orang-orang, terutama
yang beriman. Namun Konsili tidak bermaksud menyajikan ajaran yang lengkap
tentang Maria, atau memutuskan soal-soalyang kendati jerih payah para teolog
belum sepenuhnya menjadi jelas. Oleh karena itu tetap berlakulah
pandangan-pandangan, yang dalam aliran-aliran katolik dikemukakan secara bebas
tentang Maria, yang dalam Gereja kudus menduduki tempat paling luhur sesudah
Kristus dan paling dekat dengan kita [].
II.
PERAN SERTA PERAWAN DALAM TATA KESELAMATAN
55.
(Bunda
Almasih dalam Perjanjian Lama)
Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru, begitu pula
Tradisi yang terhormat, memperlihatkan peran Bunda Penyelamat dalam tata
keselamatan dengan cara yang semakin jelas, dan seperti menyajikannya untuk
kita renungkan. Ada pun Kitab-kitab Perjanjian Lama melukiskan sejarah
keselamatan, yang lambat-laun menyiapkan kedatangan Kristus di dunia.
Naskah-naskah kuno itu, sebagaimana dibaca dalam Gereja dan dimengerti dalam
terang perwahyuan lebih lanjut yang penuh, langkah-demi langkah makin jelas
mengutarakan citra seorang wanita, Bunda Penebus. Dalam terang itu ia sudah
dibayangkan secara profetis dalam janji yang diberikan kepada leluhur pertama
yang jatuh berdosa, yang akan diberi nama Imanuel (lih. Yes 7:14; bdk. Mi
5:2-3; Mat 1:22-23). Dialah yang unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan
miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari
pada-Nya. Akhirnya ketika muncullah ia, Puteri Sion yang amat mulia, sesudah
pemenuhan janji lama dinanti-nantikan, genaplah masanya. Mulailah tata
keselamatan yang baru, ketika Putera Allah mengenakan kodrat manusia dari
padanya, untuk membebaskan manusia dari dosa melalui rahasia-rahasia hidup-Nya
dalam daging.
56.
(Maria
menerima warta gembira)
Adapun Bapa yang penuh belaskasihan
menghendaki, supaya penjelmaan Sabda di dahului oleh persetujuan dari pihak
dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu
wanita mendatangkan maut, sekarang pun wanitalah yang mendatangkan kehidupan.
Itu secara amat istimewa berlaku tentang Bunda Yesus, yang telah melimpahkan
kepada dunia Hidu sendiri yang membaharui segalanya, dan yang oleh Allah
danugerahkan kurnia-kurnia yang layak bagi tugas seluhur itu. Maka mengherankan
juga, bahwa di antara para Bapa suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah
suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga, bagaikan makhluk
yang diciptakan dan dibentuk baru oleh roh Kudus []. Perawan dari Nazaret itu sejak saat pertama dalam rahim dikurniai
dengan semarak kesucian yang istimewa. Atas titah Allah ia diberi salam oleh
Malaikat pembawa Warta dan disebut “penuh rahmat” (Luk 1:38). Demikianlah Maria
Puteri Adam menyetujui sabda ilahi, dan menjadi Bunda Yesus. Dengan sepenuh
hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia memeluk kehendak Allah yang
menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada
pribadi serta karya Putera-Nya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat
rahmat Allah yang mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan. Maka
memang tepatlah pandangan para Bapa suci, bahwa Maria tidak secara pasif belaka
digunakan oleh Allah, melainkan bekerja sama dengan penyelamatan umat manusia
dengan iman serta kepatuhannya yang bebas. Sebab, seperti dikatakan oleh S.
Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi
segenap umat manusia” [].
Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan
rela hati meyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh
ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaan Maria; apa yang diikat oleh
perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria
karena imannya” [].
Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang
hidup” []. Sering pula
mereka menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria” [].
57.
(Santa
Perawan dan masa kanak-kanak Yesus)
Adapun persatuan Bunda dengan Puteranya
dalam karya penyelamatan itu terungkapkan sejak saat kristus dikandung oleh
Santa perawan hingga wafat-Nya. Pertama-tama, ketika Maria berangkat dan
bergegas-gegas mengunjungi Elisabet, dan diberi ucapan salam bahagia olehnya
karena Maria beiman akan keselamatan yang dijanjikan, dan ketika pendahulu
melonjak gembira dalam rahim ibunya (lih. Luk 1:41-45). Kemudian pada hari
kelahiran yesus, ketika Bunda Allah penuh kegembiraan menunjukkan kepada para
Gembala dan para Majus Puteranya yang sulung, yang tidak mengurangi keutuhan
keperawanannya, melainkan justru menyucikannya []. Ketika ia dikenisah, sesudah
menyerahkan persembahan kaum miskin, menghadapkan-Nya kepada Tuhan, ia
mendengarkan Simeon sekaligus menyatakan, bahwa Puteranya akan menjadi tanda
yang akan menimbulkan perbantahan dan bahwa suatu pedang akan menembus jiwa
Bunda-Nya, supaya pikiran hati banyak orang menjadi nyata (lih. Luk 2:34-35).
Ketika orang tua Yesus dengan sedih Hati mencari Putera mereka yang hilang,
mereka menemukan-Nya di kenisah sedang berada dalam perkara-perkara Bapa-Nya,
dan mereka tidak memahami apa yang dikatakan oleh Putera mereka. Tetapi
Bundanya menyimpan itu semua dalam hatinya dan merenungkannya (lih. Luk
2:41-51).
58.
(Santa
Perawan dan hidup Yesus di muka umum)
Dalam hidup Yesus di muka umum tampillah
Bunda-Nya dengan penuh makna, pada permulaan, ketika pada pesta pernikahan di
Kana yang di Galilea ia tergerak oleh belaskasihan, dan dengan perantaraannya
mendorong Yesus Almasih untuk mengerjakan tanda-Nya yang pertama (lih. Yoh
2:1-11). Dalam pewartaan Yesus ia menerima sabda-Nya, ketika Puteranya
mengagungkan Kerajaan diatas pemikiran dan ikatan daging serta darah, dan
meyatakan bahagia mereka yang mendengar dan melakukan sabda Allah (lih. Mrk
3:35 dan pararel; Luk 11:27-28), seperti dijalankannya sendiri dengan setia
(lih. Luk 2:19 dan 51). Demikianlah Santa Perawan juga melangkah maju dalam
peziarahan iman. Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya
hingga di salib, ketika ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya
(lih. Yoh 19:25). Disitulah ia menanggung penderitaan yang dasyat bersama
dengan puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkandiri
dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang
dilahirkannya. Dan akhirnya Yesus Kristus juga, menjelang wafat-Nya di kayu
salib, ia dikurniakan kepada murid menjadi Bundanya dengan kata-kata ini:
“Wanita, inilah anakmu” (lih. Yoh 19:26-27) [].
59.
(Santa
Perawan sesudah Yesus naik ke sorga)
Allah tidak berkenan mewahyukan misteri
keselamatan umat manusia secara resmi, sebelum mencurahkan Roh yang dijanjikan
oleh kristus. Maka kita saksikan para Rasul sebelum hari pentekosta “bertekun
sehati sejiwa dalam doa bersama beberapa wanita, dan Maria Bunda Yesus serat
saudara-saudari-Nya” (Kis 1:14). Kita lihat Maria juga dengan doa-doanya
memohon kurnia Roh, yang pada saat Warta Gembira dulu sudah menaunginya.
Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa
asal [], sesudah
menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di
sorga beserta badan dan jiwanya [].
Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih
penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang
telah mengalahkan dosa dan maut [].
III. SANTA PERAWAN DAN GEREJA
60.
(Maria
hamba Tuhan)
Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul:
“Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni
manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi
semua orang” (1Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia
sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kritus yang tunggal
itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa
Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif,
melainkan dari kebaikan ilahi, pun dari kelimpahan pahala Kristus. Pengaruh itu
bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan
menimba segala kekuatannya dari padanya.
Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum
beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya.
61. Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi
Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah.
Berdasarkan rencana penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus
ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan
menjadi Hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus,
melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta
dengan ikut menderita bengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara
sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya,
iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup
adikodrtai jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita.
62.
Ada pun dalam tata
rahmat itu peran Maria sebagai Bunda tiada hentinya terus berlangsung, sejak
persetujuan yang dengan setia diberikannya pada saat Warta Gembira, dan yang
tanpa ragu-ragu dipertahankan di bawah salib, hingga penyempurnaan kekal semua
para terpilih. Sebab sesudah diangkat ke sorga ia tidak meninggalkan peran yang
membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus-menerus
memperolehkan bagi kita kurnia-kurnia yang menghantar kepada keselamatan kekal []. Dengan cinta kasih keibuannya
ia meperhatikan saudara-saudara Puteranya, yang masih dalam peziarahan dan
menghadapi bahaya-bahaya serta
kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air yang penuh kebahagiaan.
Oleh karena itu dalam gereja Santa Perawan disapa dengan gelar Pembela,
Pmebantu, Penolong, Perantara [].
Akan tetapi itu diartikan sedemikian rupa, sehingga tidak mengurangi pun tidak
menambah martabat serta dayaguna Kristus satu-satunya Pengantara [].
Sebab
tiada makhluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang
menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda
ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh Umat beriman, dan untuk satu
kebaikan Allah dengan cara yang berbeda-beda pula terpancarkan secara nyata dalam
makhluk-makhluk, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak
meniadakan, melainkan membangkitkan pada makhluk-makhluk aneka bentuk kerja
sama yang berasal dari satu-satunya sumber.
Adapun
Gereja tanpa ragu-ragu mengakui, bahwa Maria memainkan peran yang terbawah
kepada Kristus seperti itu. Gereja tiada hentinya mengalaminya, dan
menganjurkan kepada kaum beriman, supaya mereka ditopang oleh perlindungan
Bunda itu lebih erat menyatukan diri dengan Sang pengantara dan penyelamat.
63.
(Maria
pola Gereja)
Karena kurnia serta peran keibuannya yang
ilahi, yang menyatukannya dengan Puternya Sang penenbus, pun pula karena segala
rahmat serta tugas-tugasnya, Santa Perawan juga erat berhubungan dengan gereja.
Seperti telah diajarkan oleh S. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni
dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus []. Sebab dalam misteri Gereja,
yang tepat juga disebut Bunda dan perawan, Santa Perawan Maria mempunyai tempat
utama, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu []. Sebab dalam iman dan ketaatan
ia melahirkan Putera Bapa sendiri di dunia, dan itu tanpa mengenal pria, dalam
naungan Roh Kudus, sebagai Hawa yang baru, bukan karena mempercayai ular yang
kuno itu, melainkan karena percaya akan utusan Allah, dengan iman yang tak
tercemar oleh kebimbangan. Ia telah melahirkan Putera, yang oleh Allah
dijadikan ynag sulung di antara banyak saudara (Rom 8:29), yakni Umat beriman.
Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik
mereka.
64.
Adapun Gereja
sendiri – dengan merenungkan kesucian Santa Perawan yang penuh rahasia serta
meneladan cinta kasihnya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dengan patuh,
dengan menerima sabda Allah dengan setia pula – menjadi ibu juga. Sebab melalui
pewartaan dan babtis, Gereja melahirkan bagi hidup baru yang kekal-abadi
putera-puteri yang dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah. Gereja pun
perawan, yang dengan utuh murni menjaga kesetiaan yang dijanjikannya kepada
Sang Mmepelai. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh
Kudus secara perawan mempertahankan keutuhan imannya, keteguhan harapannya, dan
ketulusan cinta kasihnya [].
65.
(Keutamaan-keutamaan
Maria, pola bagi Gereja)
Namun sementara dalam diri Santa perawan Gereja telah mencapai
kesempurnaannya yang tanpa cacat atau kerut (lih. Ef 5:27), kaum beriman
kristisni sedang berusaha mengalahkan dosa dan mengembangkan kesuciannya. Maka
mereka mengangkat pandangannya ke arah Maria, yang bercahaya sebagai pola kutamaan,
menyinari segenap jemaat para terpilih. Penuh khidmat Gereja mengenangkan
Maria, serta merenungkannya dalam terang Sabda yang menjadi manusia, dan dengan
demikian ia penuh hormat makin mendalam memasuki sejarah keselamatan, dan
dengan cara tertentu merangkum serta memantulakn pokok-pokok iman yang terluhur
dalam dirinya. Sementara ia diwartakan dan dihormati, ia mengundang Umat
beriman untuk mendekati Puteranya serta korban-Nya, pun cinta kasih Bapa.
Sedangkan Gereja sambil mencari
kemuliaan kristus makin menyerupai Polanya yang amat mulia. Gereja terus
menerus maju dalam iman, harapan dan cinta kasih, serta dalam segalanya mencari
dan melaksanakan kehendak Allah. Maka tepatlah, bahwa juga dalam karya
kerasulannya Gereja memandang Maria yang melahirkan Kristus; Dia yang dikandung
dari Roh Kudus serta lahir dari Perawan, supaya melalui Gereja lahir dan
berkembang juga dalam hati kaum beriman. Dalam hidupnya Santa Perawan menjadi
teladan cinta kasih keibuan, yang juga harus menjiwai siapa saja yang tergabung
dalam misi kerasulan Gereja demi kelahiran baru sesama mereka.
IV.
KEBAKTIAN KEPADA SANTA PERAWAN DALAM GEREJA
66.
(Makna
dan dasar bakti kepada Santa Perawan)
Berkat rahmat Allah Maria diangkat di bawah
Puteranya, diatas semua malaikat dan manusia, sebagai Bunda Allah yang tersuci,
yang hadir pada misteri-misteri Kristus; dan tepatlah bahwa ia dihormati oleh
Gereja dengan kebaktian yang istimewa. Memang sejak zaman kuno Santa Perawan
dihormati dengan gelar “Bunda Allah”; dan dalam segala bahaya serta kebutuhan
mereka Umat beriman sambil berdoa mencari perlindungannya []. Terutama sejak Konsili di
Efesus kebaktian Umat Allah terhadap Maria meningkat secara mengagumkan, dalam
penghormatan serta cinta kasih, dengan menyerukan namanya dan mencontoh
teladannya, menurut ungkapan profetisnya sendiri: “Segala keturunan akan
menyebutku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan karya-karya besar
padaku” (Luk 1:48). Meskipun kebaktian
itu, seperti selalu dijalankan dalam Gereja, memang bersifat istimewa, namun
secara hakiki berbeda dengan bakti sembah sujud, yang dipersembahkan kepada
Sabda yang menjelma seperti juga kepada Bapa dan Roh Kudus, lagi pula sangat
mendukungnya. Sebab ada pelbagai ungkapan sikap bakti terhadap Bunda Allah,
yang dalam batas-batas ajaran yang sehat serta benar, menurut situasi semasa
dan setempat serta sesuai dengan tabiat dan watak-perangai kaum beriman, telah
disetujui oleh Gereja. Dengan ungkapan-ungkapan itu, bila Bunda dihormati,
Puteranya pun – segala sesuatu diciptakan untuk Dia (lih. Kol 1:15-16), dan
Bapa yang kekal menghendaki agar seluruh kepenuhan-Nya diam dalam Dia (Kol
:19), - dikenal, dicintai dan dimuliakan sebagaimana harusnya, serta
perintah-perintah-Nya dilaksanakan.
67.
(Semangat
mewartakan sabda dan kebangkitan kepada S. Perawan)
Ajaran Katolik itu oleh Konsili suci
disampaikan sungguh-sungguh. Serta-merta Konsili suci mendorong semua putera
Gereja, supaya mereka dengan rela hati mendukung kebaktian kepada Anta perawan,
terutama yang bersifat liturgis. Juga supaya mereka sungguh menghargai
praktik-praktik dan pengamalan bakti kepadanya, yang disepanjang zaman oleh
dianjurkan oleh wewenang mengajar Gereja; pun juga supaya mereka dengan khidmat
mempertahankan apa yang di masa lampau telah ditetapkan mengenai penghormatan
patung-patung Kristus, Santa Perawan dan para Kudus []. Kepada para teolog serta
pewarta sabda Allah Gereja menganjurkan dengan sangat, supaya dalam memandang
martabat Bunda Allah yang istimewa mereka pun, dengan sungguh-sungguh mencegah
segala ungkapan berlebihan yang palsu seperti juga kepicikan sikap batin []. Hendaklah mereka mempelajari
Kitab suci, ajaran para Bapa dan Pujangga suci serta liturgi-liturgi Gereja di bawah bimbingan Wewenang mengajar
Gereja, , dan dengan cermat menjelaskan
tugas-tugas serta kurnia-kurnia istimewa Santa Perawan, yang senantiasa
tertujukan pada Kristus, sumber segala kebenaran, kesucian dan kesalehan.
Hendaknya mereka dengan sungguh-sungguh mencegah apa-apa saja, yang dalam
kata-kata atu perbuatan dapat menyesatkan para saudara terpisah atau siapa saja
selain mereka mengenai ajaran Gereja yang benar. Selanjutnya hendaklah kaum
beriman mengingat, bahwa bakti yang sejati
tidak terdiri dari perasaan yang mandul dan bersifat sementara, tidak
pula dalam sikap mudah percaya tanpa dasar. Bakti itu bersumber pada iman yang
sejati, yang mengajak kita untuk mengakui keunggulan Bunda Allah, dan mendorong
kita untuk sebagai putera-puteranya mencintai Bunda kita dan meneladan
keutamaan-keutamaannya.
V.
MARIA, TANDA HARAPAN
YANG PASTI DAN
PENGHIBURAN BAGI UMAT ALLAH YANG MENGEMBARA
DI DUNIA
68. Sementara itu Bunda Yesus telah di muliakan
di sorga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang
harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini
ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti
dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan (lih. 2Ptr 3:10).
69.
Bagi Konsili suci
ini merupakan kegembiraan dan penghiburan yang besar, bahwa juga dikalangan
para saudara yang terpisah ada yang menghormati Bunda Tuhan dan Penyelamat
sebagaimana harusnya, khususnya dalam Gereja-Gereja Timur, yang dengan semangat
berkobar dan jiwa bakti yang tulus merayakan ibadat kepada Bunda Allah yang
tetap Perawan [].
Hendaklah segenap Umat kristiani sepenuh hati menyampaikan doa-permohonan
kepada Bunda Allah dan Bunda umat manusia, supaya dia, yang dengan doa-doanya
menyertai Gereja pada awal-mula, sekarang pun di sorga – dalam kemuliaannya
melampaui semua para suci dan para malaikat, dalam persekutuan para kudus –
menjadi pengantara pada Puteranya, sampai semua keluarga bangsa-bangsa, entah
yang ditandai nama kristiani, entah yang belum mengenal Penyelamat mereka,
dalam damai dan kerukunan di himpun dalam kebahagiaan menjadi satu Umat Allah,
demi kemuliaan Tritunggal yang Mahakudus dan Esa tak terbagi.
Semua dan
masing-masing pokok yang telah diuraikan dalam Konstitusi dogmatis ini berkenan
kepada para Bapa. Dan Kami, atas kuasa Rasuli yang oleh Kristus diserahkan
kepada Kami, dalam Roh Kudus menyetujui, memutuskan dan menetapkan itu semua
bersama dengan para Bapa yang terhormat, lagi pula memerintahkan, agar segala
sesuatu yang dengan demikian telah ditetapkan dalam Konsili, di maklumkan
secara resmi demi kemuliaan Allah.
Roma, di
gereja Santo Petrus, tanggal 21 bulan November tahun 1964.
Saya PAULUS
Uskup Gereja Katolik
(Menyusul tanda tangan para Bapa Konsili)
DARI RISALAH
KONSILI EKUMENIS VATIKAN II
PENGUMUMAN
Oleh Sekretaris Jendral Konsili
Pada Sidang Umum ke-125, tanggal 16 November
1964.[]
(1.
Kadar
teologis Konstitusi “De Ecclesia”)
Ditanyakan manakah seharusnya kualifikasi
teologis ajaran, yang dipaparkan dalam Skema “de Ecclesia” dan yang
diajukan untuk pemungutan suara.
Komisi untuk Ajaran menjawab
pertanyaan itu dalam membahas “Modi” (amandemen-amandemen) mengenai bab
III Skema “De Ecclesia”, sebagai berikut:
“Dengan sendirinya sudah
jelaslah, bahwa teks Konsili selalu harus ditafsirkan menurut
peraturan-peraturan umum, yang diketahui oleh siapa pun”.
Pada kesempatan itu Konstitusi
untuk Ajaran mengacu kepada Pernyataan pada tgl. 6 maret 1964, yang
teksnya kami kutib di sini:
“Mengingat kebiasaan
Konsili-Konsili serta tujuan pastoral
Konsili sekarang ini, Konsili ini hanyalah mendefinisikan perkara-perkara iman
dan kesusilaan yang harus dipegang teguh oleh Gereja, dan yang oleh Konsili
sendiri secara eksplisit dinyatakan sebagai perkara iman dan kesusilaan”.
“Sedangkan hal-hal lain, yang
dikemukakan oleh Konsili sebagai ajaran Magisterium Tertinggi Gereja, harus
diterima dan dimengerti oleh semua dan stiap orang beriman, menurut maksud
Konsili sendiri, yang menjadi nyata baik dari bahan yang diuraikan, maupun dari
cara merumuskannya, menurut norma-norma penafsiran teologis”.
(2.
Arti kolegialitas).[]
Oleh kewibawaan tertinggi
kemudian telah disampaikan kepada para Bapa Konsili Catatan penjelasan
Pnedahuluan pada “Modi” []
tenatng bab III Skema “de Ecclesia”. Ajaran, yang diuraikan dalam bab
III itu harus dijelaskan dan dimengerti menurut maksud catatan itu.
CATATAN PENJELASAN PENDAHULUAN
“Komisi
memutuskan untuk mengawali pembahasan amandemen-amandemen dengan
catatan-catatan umum berikut:
1.
“Collegium” (“Dewan”) tidak diartikan secara yuridis melulu,
yakni dalam arti kelompok yang terdiri dari anggota-anggota yang sederajat,
seolah-olah mereka mendelegasikan kekuasaan mereka kepada ketua, melainkan
dalam arti kelompok yang tetap, yang struktur maupun kewibawaannya harus
dijabarkan dari Perwahyuan. Oleh karena itu dari Jawaban terhadap Modus 12
secara eksplisit dikatakan tentang “Dua belas”, bahwa Tuhan menetapkan mereka
“bagaikan Dewan atau kelompok yang tetap” (ad modum collegii seu coetus
stabilis []).
Bdk. Juga Modus 53, c. – berdasarkan itu pula, tentang Dewan para
Uskup acap kali dipakai juga istilah “Ordo” (Tingkat) atau “Corpus” (Badan).
Kesejajaran antara Petrus serta para Rasul lainnya di satu pihak, dan Imam
Agung Tertinggi serta para Uskup di lain pihak, tidak berarti penerusan
kekuasaan luar biasa para Rasul kepada para pengganti mereka; jadi juga tidak
berarti – seperti sudah jelas – kesetaraan (“aequalitas”) antara Kepala
dan anggota Dewan, melainkan melulu keserupaan, kemiripan (“proportionalitas”)
antara relasi pertama (Petrus – para Rasul) dan relasi kedua (Paus – para
Uskup). Maka Komisi memutuskan untuk menulis dalam artikel 22: bukan “eadem”
melainkan “pari ratione”. Bdk. Modus 57.
2. Seseorang menjadi anggota Dewan berdasarkan
pentakdisan menjadi Uskup dan persekutuan hirarkis dengan Kepala maupun para
anggota Dewan. Bdk. Art 22, pada akhir §
1.
Dalam
pentakdisan diberikan partisipasi antologis dalam tugas-tugas
(“munera”) kudus, seperti jelas sekali ternyata dari Tradisi, juga Tradisi Liturgi. Dengan sengaja
digunakan istilah “munerum” (tugas-tugas), bukan “potestatu” (kekuasaan),
karena istilah terakhir itu dapat dimengerti sebagai kekuasaan yang langsung
siap untuk bertindak. Tetapi supaya ada kekuasaan yang sia langsung bertindak
itu, masih juga diperlukan penentuan kanonik atau yuridis oleh
kewibawaan hirarkis. Penentuan kekuasaan itu dapat berupa penyerahan fungsi
khusus atau pengangkatan bawahan untuk suatu fungsi, dan diberikan menurut norma-norma
yang disetujui oleh Kewibawaan tertinggi. Norma lebih lanjut seperti itu pada
hakekatnya diperlukan, karena yang dimaksudkan ialah fungsi-fungsi yang
harus dijalankan oleh pelbagai subjek, yang atas kehendak Kristus
bekerja sama dengan hirarkis. Sudah jelaslah, bahwa “persekutuan” itu
berlangsung dalam kehidupan Gereja menurut situasi zaman, sebelum
bagaikan “dibikukan” dalam hukum.
Oleh
karena itu dikatakan secara eksplisit, bahwa diperlukan persekutuan Hirarkis
dengan Kepala serta anggota Gereja. Persekutuan ialah
pengertian, yang dalam Gereja kuno (seperti sekarang pula, terutama di Timur)
dianggap sangat penting. Yang dimaksudkan bukanlah suatu perasaan yang
kabur, melainkan suatu kenyataan organis, yang memerlukan bentuk yuridis
pun sekaligus dijiwai oleh cinta kasih. Maka Komisi, praktis dengan kesepakatan
bulat, memutuskan: harus ditulis “dalam persekutuan hirarkis”. Bdk.
Modus 40, pun juga apa yang dikatakan tentang “misi kanonik”, dalam art. 24.
Dokumen-dokumen
para paus pada masa akhir ini tentang yurisdiksi para Uskup harus ditafsirkan
dalam arti penentuan kekuasaan yang masih perlu itu.
3. Tentang Dewan (“Collegium”), yang tidak
dapat tanpa Kepala, dikatakan: “merupakan subyek kuasa tertinggi dan penuh
terhadap seluruh Gereja”. Hal itu perlu disetujui, supaya kepenuhan kekuasaan
paus jangan dipertanyakan. Sebab Dewan harus selalu mencakup Kepalanya, yang
di dalam Dewan itu tetap menjalankan tugasnya seutuhnya selaku Wakil Kristus
dan Gembala Gereja semesta. Dengan kata lain pembedaan bukan antara Paus
(di satu pihak) dan para Uskup secara kolektif (di pihak lainnya), melainkan
antara Paus dipandang tersendiri dan paus bersama para Uskup. Karena Paus ialah
Kepala Dewan, maka dia seorang diri dapat menjalankan berbagai tindakan,
yang sama sekali tidak dapat dijalankan oleh para Uskup; misalnya: mengundang
Dewan untuk berkumpul dan memimpinnya, menyetujui norma-norma untuk bertindak,
dan lain-lain. Bdk. Modus 81. Terserah kepada kebijakan Paus, yang diserahi
reksa pastoral terhadap seluruh kawanan kristus, untuk – sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhan gereja yang silih silih-berganti di sepanjang sejarah, -
menentukan cara reksa pastoral itu seyogyanya dijalankan, entah secara pribadi,
entah secara kolegial. Paus mengambil langkah untuk mengatur, mendorong,
menyetutujui pelaksanaan kolegial, demi kesejahteraan Gereja, menurut
kebijaksanaannya.
4. Sebagai Gembala Tertinggi Gereja paus setiap
saat dapat menjalankan kekuasaannya, kapan saja berkenan kepadanya, bila itu
diperlukan oleh tugasnya. Sedangkan Dewan para Uskup, walaupun senantiasa ada,
tidak dengan sendirinya terus menerus bertindak secara kolegial dalam arti
yang sempit, sebagaimana ternyata juga dari Tradisi Gereja. Dengan kata
lain, Dewan tidak selalu “dalam keadaan bertindak sepenuhnya”, bahkan hanya
saat-saat tertentu saja menjalankan tindakan kolegial dalam arti yang sempit,
itu pun hanya atas persetujuan Kepala. Di katakan “atas persetujuan
Kepala”, supaya jangan ada yang berfikir tentang sifat tergantung
bagaikan dari seseorang yang berada di luar Dewan. Istilah “persetujuan”
justru menunjukkan adanya persekutuan antara Kepada dan para anggota,
dan mencakup perlunya tindakan yang termasuk kompetensi kepala. Hal itu
secara eksplisit ditegaskan dalam artikel 22 § 2, dan di sana dijelaskan juga,
menjelang akhir artikel. Rumus negatif
“hanya” mencakup semua kasus. Maka jelaslah, bahwa norma-norma
yang telah disetujui oleh Kewibawaan tertinggi selalu harus diindahkan. Bdk.
Modus 84.
Semuanya
itu menyatakan, bahwa yang menjadi pokok yakni: hubungan para Uskup dengan
Kepala mereka, dan tidak pernah dimaksudkan: kegiatan para Uskup tanpa
tergantung dari Paus. Dalam kasus terakhir ini, karena Kepala tidak
mengadakan tindakan, para Uskup juga tidak dapat bertindak sebagai Dewan,
seperti jelas pula dari pengertian “Dewan” (“Collegium”). Persekutuan hirarkis
semua para Uskup dengan Paus dalam Tradisi jelas sudah lazim.
NB.
Tanpa persekutuan hirarkis itu mustahil dijalankan tugas
sakramental-ontologis, yang harus dibedakan dari aspek kanonik-yuridis. Akan
tetapi Komisi untuk Ajaran berpandangan: bahwa soal-soal sekitar “liseitas” (halalnya)
atau “validitas” (sahnya) tindakan disini tidak usah di bahas, melainkan
diserahkan kepada perdebatan para teolog, khususnya melalui kekuasaan, yang di
facto dijalankan dalam Gereja-Gereja Timur yang terpisah; mengenai penjelasan
hal terakhir itu terdapat pelbagai pendapat.
+
PERICLES FELICI
Uskup Agung tituler Samosata,
Sekretaris Jendaral,
Konsili Ekumenis Vatikan II.